Tampilkan postingan dengan label Alukusio buat Legioner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alukusio buat Legioner. Tampilkan semua postingan

Kardinal Suenens: Saya mencintai Legio Mariae karena keberaniannya


Selasa Pekan 23 Tahun A

Bacaan:
Kol 2: 6-15 + Mzm 145 + Luk 6: 12-19


Homily:

Para legioner yang terkasih.
Kita merayakan ekaristi ini sebagai perayaan syukur. Ada banyak hal yang membuat kita bersyukur kepada Tuhan. Kita dapat bersyukur kepada Tuhan karena pengalaman kebaikan Tuhan yang kita alami baik secara pribadi maupun secara kolektif / bersama. Hari ini kita ingin bersyukur kepada Tuhan karena pengalaman bersama ini: bimbingan Tuhan selama 90 tahun atas karya kerasulan legio Mariae di seluruh dunia.

Ketika merenungkan perayaan 90 tahun ini dan bagaimana karya kerasulan Legio Mariae yang tersebar hampir ke seluruh dunia, saya teringat akan peristiwa yang dikisahkan di dalam Kisah Para Rasul 5 dimana para rasul dihadapkan kepada Mahkama Agama dan Imam Besar mengatakan: "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami." Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.....” Setelah itu terjadi keributan besar. Tetapi Gamaliel seorang Farisi yang sangat dihormati di dalam Mahkama Agama itu, meminta supaya para rasul di keluarkan sebentar dari ruang sidang." Dan setelah itu dia berkata kepada sidang: "Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya seorang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan cerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu pendaftaran penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah.”

Saya ingin mengarisbawahi perkataan Gamaliel tersebut: ”Kalau maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah.”

Saya berani mengatakan bahwa Legio Mariae merupakan suatu gerakan kerasulan awam yang berasal dari Allah sendiri. Toh kenyataannya adalah Legio Mariae merupakan suatu buah dari devosi yang sangat mendalam kepada Bunda Maria dan ekaristi oleh Frank Duff.

Karena devosi yang mendalam inilah maka, Allah mengilhami dia sebuah pengertian yang mendalam tentang misteri gereja sebagai Tubuh Kristus dan peranan Maria dalam misteri Kristus dan gereja.

Sebelum konsili Vatican II, gereja identik dengan kaum berjubah. Tetapi pendiri kita Frank Duff mendapat pengertian yang lain tentang misteri gereja ini. Dia ingin membagi-bagikan pengertian itu kepada orang lain bahwa gereja bukanlah kaum berjubah, tetapi gereja adalah seluruh kaum beriman. Karena itulah ia mendirikan Legio Mariae sebagai tanda cinta kasih Bunda Maria bagi dunia dan sebagai sarana untuk melibatkan semua orang yang telah dibaptis dalam tugas gereja mewartakan Injil.

Konsili Vatican II baru terjadi pada tahun 1960-an. Salah satu dekrit konsili Vatican II adalah dekrit tentang Kerasulan Kaum Awam. Konsili ini baru terjadi pada tahun 1960-an, tetapi sudah sejak tahun 1921 atau bahkan sebelumnya, Bapak Frank Duff telah mendapat pengertian bawah gereja bukanlah identik dengan kaum berjubah, tetapi gereja adalah semua murid Kristus. Karena itu kaum awam pun harus terlibat dalam kehidupan menggereja.

Saudara dan saudariku
Merenungkan tentang keterlibatan kaum awam, terutama Legio Mariae di dalam hidup menggereja, saya kira bacaan-bacaan hari ini menyodorkan kepada kita beberapa point menarik untuk kita renungkan bersama.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang Yesus yang memanggil murid-murid-Nya dan memilih dari antara mereka 12 rasul. Nampaknya pemilihan 12 orang itu tanpa kualifikasi atau test terlebih dahulu: ada Simon Petrus yang menyangkal sang Guru, ada Yakobus dan Yohanes yang meminta kedudukan yang mapan dalam kerajaan surga, ada Thomas yang meminta bukti kebangkitan-Nya dan juga ada Yudas Iskariot yang menjadi pengkhianat.

Apa makna Injil bagi kita hari ini, terutama bagi para legioner. Pertama, sebagai Legioner, anda terpilih dan terpanggil bukan karena kehebatanmu, tetapi semata karena kasih Tuhan. Tuhan mau supaya anda berkembang dalam rahmat kekudusan melalui kelompok kerasulan awam ini. Tujuan Legio adalah kemuliaan Allah melalui pengudusan anggotanya yang dikembangkan dengan doa dan kerjasama yang aktif. Legio menawarkan kepada kita suatu sistem, yang bila diikuti dan dihayati dalam maka sistem itu akan membentuk kepribadian kita. Yesus memilih 12 rasul untuk dibimbing dan melalui merekalah pewartaan Kerajaan Allah itu berkembang ke seluruh dunia. demikian pun Legioner adalah orang-orang yang sering berkumpul bersama pastor paroki sebagai pembimbing rohani. Legioner harus terbuka terhadap bimbimbingan dan arahan pembimbing rohani agar karya cinta kasih Allah semakin berkembang.

Kedua, Yesus memilih para rasul, bukan sebagai pengawal, preman atau bodyguard, yang siap membentengi Yesus kalau terjadi masalah> Legio Mariae bukanlah bodyguard dari pastor paroki walaupun beberapa dari kalian sudah lulus ujian tarung derajat. Kebaikan Petrus untuk melindungi Yesus pun ditolak. Legioner adalah orang-orang yang terpanggil dan terpilih untuk menjadi ’tangan kanan’ pastor paroki dalam mengembangkan tugasnya di suatu paroki. Tanpa Legio Mariae, karya kerasulan di sebuah paroki tidak akan berhasil karena hanya mengandalkan pastor paroki.

Ketiga, dalam Injil tadi dikatakan bahwa Yesus pergi ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Sebagai seorang manusia, layak dan wajarlah kalau Yesus berdoa dan terus berdoa. Akan terasa aneh kalau seorang manusia tidak pernah berdoa. Manusia yang tidak pernah berdoa tidak jauh berbeda dengan binatang. Karena binatang tidak pernah menyadari penciptanya sedangkan manusia menyadarinya. Apalagi kalau kita sudah beriman kepada Yesus, kebangetan kalau kita tidak pernah berdoa.

Nah....legio Mariae menawarkan kepada kita suatu spiritualitas hidup yang memadukan doa dan karya.

Legioner yang tercinta
Kardinal Suenens dari Belgia adalah orang yang gigih dalam hierarki yang memberikan dukungan kepada Legio Maria. Dia menulis buku ’Theologi Kerasulan Legio Mariae, kehidupan Edel Quinn – seorang utusan Legio yang berkarya di Afrika, dan atas desakannya Konsili Vatican II mengajukan Perawan Maria sebagai model kerasulan.

Ketika ditanyai: Apa yang membuat anda begitu mencintai Legio Maria? Dia menjawab: "Saya harus mengatakan dengan jujur bahwa hal yang membuat saya mencintai Legio Mariae adalah keberanian mereka." Para legioner menunjukkan keberanian ketika setiap minggu mereka dengan sederhana menawarkan diri untuk menjadi alat/ instrument rahmat dan membuat sesuatu menjadi mungkin bagi Tuhan untuk melakukan karya ajaib-Nya.

Sebagai Legioner, anda tidak hanya berbicara tetapi anda berharap dan mempunyai iman yang kuat untuk pergi keluar dan “berjalan di atas air”. Itulah keajaiban Legio Maria, semangat imannya dan keberaniannya, tugas apostoliknya dan ketekunannya.

Para Legioner yang terkasih
Dalam Instruksi tetap ketiga yang dibacakan setiap awal bulan: “Agar ia melakukan sejumlah kegiatan pekerjaan Legio dalam semangat iman dan dalam persatuan dengan Maria, sedemikian rupa sehingga mereka yang tersangkut dalam pekerjaan itu dan dalam para legioner sendiri dapat melihat kepribadian Kristus lagi sebagai yang diabdi”

Haruslah kita ingat bahwa Bapak Frank Duff menulis kalimat ini dengan penuh perhatian, kata demi kata sehingga membentuk suatu kalimat yang menjadi prinsip legio.

Ini harus menjadi tugas legioner, yang diserahkan kepada presidium untuk mengaturnya. Jadi bukan melakukan pekerjaan sendiri. Dalam intruksi ketiga itu terungkap suatu perasaan bahwa legioner harus senantiasa bertugas dan didorong untuk melakukan karya apostolik kapan saja dan di mana saja.

Dalam kalimat itu juga terungkap bahwa tujuan utama Legio adalah membentuk dalam diri mereka dan sesama suatu kekudusan, tetapi karakter spesifik kekudusan legioner adalah karakter apostoliknya.

Legioner bukan hanya sekeder bertemu tiap minggu berdoa bersama untuk membentuk kesucian pribadi atau untuk membangun sebuah etalase rohani: 'o ini etalase Cermin Kekudusan, o ini etalase Penghibur Orang yang Berduka cita, O ini etalase Pintu Surga, O ini etalase Ratu Para Malaikat. Bukan untuk itu. Kalau hanya sekeder datang doa bersama, maka tidak perlu menjadi legioner. Doa hendaknya tidak terpisahkan dari kehidupan apostolik. Devosi kita kepada Maria hanya akan menjadi rangkaian kata-kata di bibir saja apabila kita tidak melakukan karya kerasulan bagi keselamatan jiwa-jiwa.

Karena itu adalah tugas presidium untuk bertanya paling tidak sebulan sekali: apakah kita sungguh-sungguh melakukan tugas-tugas untuk keselaatan jiwa-jiwa? Dapatkan kita melakukannya dengan lebih baik lagi tugas luhur ini?

Karya harus jelas: dua jam seminggu dan dilakukan dalam persatuan dengan Maria. Tugas-tugas Legio adalah suatu karya yang mendalam dan suatu praktek dari Bakti Sejati Kepada Maria.

Saya ingin menggarisbawahi kalimat terakhir: ”...dalam persatuan dengan Maria, sedemikian rupa sehingga mereka yang tersangkut dalam pekerjaan itu dalam dalam para legioner sendiri dapat melihat kepribadian Kristus lagi sebagai yang diabdi.”

Ini berarti, memberikan seluruh kehidupan kita kepada Maria sehingga ia dapat mencintai Yesus melallui kita dan melayani Kristus dalam diri Legioner dan kepada siapa saja yang kita jumpai dalam karya kerasulan kita.

Buku pegangan justru mengatakan bahwa anggota aktif yang tidak menjalankan karya kerasulan, tidak pantas untuk menyandang nama sebagai legioner. Latihan-latihan rohani, seperti doa rosario, offisi, adorasi, jumad pertama, tidak cukup untuk memenuhi kewajiban legioner sebagai anggota aktif. Tentu sana sini kita merasa gagal. Misalnya, saya mau hanya hadiri rapat aja, tetapi nda bisa kalau soal kunjungan..... bagi orang semacam itu, baiklah ia berdoa untuk menohon rahmat menemukan spirit legio yang benar.

Saya berharap agar legioner di paroki santa Odilia menyambut dengan sukacita suatu karya aktif yang jelas dna mendasar setiap minggu dengan semangat apostolik yang khas, karena di dalam karya-karya itulah terdapat sumber rahmat dan hadiah terbaik yang akan Allah anugerahkan kepada kalian semua.

Santo Paulus dalam bacaan I hari ini mengajak kita untuk bersyukur karena kita telah diselamatkan. Ia mengatakan: ”Kamu telah menerima Kristus Yesus, tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam dia.” Hidup di dalam Yesus berarti juga terlibat di dalam karya perutsannya. Legio Maria dipanggil bukan saja menjadi sekolah untuk menjadi orang kudus, tetapi juga menjadi orang yang hebat dalam karya kerasulan.

Ave Maria

Legio Mariae

Bila mengikuti Maria
Engkau takkan tersesat.

Bila memanggil Maria
Engkau takkan putus asa.

Bila memikirkan Maria
Engkau takkan keliru.

Bila dibantu Maria
Engkau takkan jatuh.

Bila dilindungi Maria
Engkau takkan takut.

Bila dibimbing Maria
Engkau takkan jemu.

Bila dikaruniai Maria
Engkau mencapai tujuanmu.


"Berkat perantaanmu, O Maria, kami dengan pasti memiliki janji kebangkitan kami."


(St.Ephraem)

Kerendahan hati adalah dasar dari semua kegiatan legio

Bacaan Rohani Mrk 9: 30-37

Legioner yang terkasih.
Saya akan mengawali alukusio ini dengan sebuah kisah nyata tentang seorang tokoh dunia yang terkenal: Nelson Mandela. Ketika dia masih sebagai mahasiswa hukum di kota Johannesburg, dia mempunyai seorang teman yanga bernama Paul Mahabane. Paul Mahabane ini adalah seorang anggota Konggres National Africa yang terkenal sebagai orang yang sangat radikal menentang segala macam bentuk penindasan terhadap orang kulit hitam.

Pada suatu hari keduanya sedang berdiri di depan sebuah kantor pos, dan tiba-tiba datanglah seorang hakim, seorang berkulit putih yang berumur kira-kira 60-an. Hakim itu mendekatai Paul Mahabane dan meminta dia untuk masuk ke dalam kantor pos membelikan beberapa perangko. Pada waktu itu adalah hal yang biasa pada waktu kalau orang kulit putih minta orang kulit hitam untuk melakukan apa yang ia inginkan.... (misalnya... ketemu...terus bilang push up....). Pada peristiwa itu, Paul Mahabane menolak untuk membelikan perangko. Dan hakim itu sangat marah.

Dengan marah dia berteriak: “engkau tahu siapakah saya ini?

Mahabane menjawab: “tidak perlu saya tahu siapakah engkau, tetapi saya tahu orang macam apakah anda”.

Hakim tadi menjadi sangat marah...dan mengatakan.... ”Engkau akan membayar perkataanmu ini...engkau akan diseret ke dalam pengadilan” setelah itu dia pergi.

Orang kulit putih tadi yakin bahwa dia adalah bos... hanya karena dia adalah seorang hakim.... dan sudah menjadi keyakinan dia bahwa orang kulit hitam harus menjadi budak untuk melayani dia.

Kita cendrung menilai orang berdasarkan pekerjaan yang mereka lakukan. Kalau dia adalah seorang profesor atau dokter....kita memberikan penilaian yang tinggi kepada dia, tetapi berhadapan dengan seorang kuli bangunan atau tukang sapu, penilaian kita terhadap pribadinya pun tidak seberapa. Ini tentu tidak adil karena ada sesuatu yang lebih penting daripada hanya sekedar pekerjaan. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh pekerjaannya tetapi orang seperti apakah yang ada di balik pekerjaan itu...

Beberapa hari ini media massa diramaikan dengan kasus yang menyerang beberapa anggota KPK. Pada awalnya kita mungkin menilai bahwa sebagai anggota KPK, integritas pribadi orang itu tentu sangat matang dan kuat. Mereka adalah orang yang tidak mudah dipengahuri oleh pihak manapun.... nah...kita memberikan penilaian yang tinggi kepada mereka..... tetapi setelah muncul banyak kasus akhir-akhir ini, kita baru mengerti. Sekali lagi, yang menentukan nilai seseorang adalah bukan pekerjaannya tetapi pribadi macam apakah yang ada di balik pekerjaan itu.

Kesalahan yang dilakukan oleh para murid adalah menempatkan pekerjaan atau posisi mereka sebagai yang utama... dalam pandangan mereka yang menjadi terbesar di antara mereka adalah yang mendapat kedudukan tertinggi.

Tetapi Yesus mengatakan bahwa Kerajaan-Nya bukan soal mencari penghormatan dan kedudukan pribadi tetapi soal melayani orang lain. Jika mereka siap untuk melayani orang lain, maka dengan cara demikian mereka akan mendapat kedudukan tertinggi di dalam Kerajaan-Nya. Mendapat kedudukan tertinggi di dalam Kerajaan Allah tidak berarti duduk di atas sebuah tahta atau sofa yang empuk tetapi akan direndahkan...duduk di atas lantai seakan dengan sebuah ember berisi air di tangan yang satu dan di tangan yang lain memegang sebuah handuk...mereka harus membasuh kaki dari orang-orang yang mereka layani.

Yang terpenting itu bukan apa yang kita lakukan (pekerjaan) tetapi orang seperti apakah kita. Harga diri seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ia kerjakan.

Maria menyebut dirinya sebagai hamba Allah. Dalam kata aslinya doulas artinya seorang hamba perempuan. (perempuan dalam kebudayaan Yahudi ditempatkan sebagai orang yang tidak punya hak apa-apa). Maria menyadari bahwa segala rahmat yang ia peroleh adalah semata-mata karena kasih karunia Tuhan.

Dala buku pegangan Bab 6 point 2 dikatakan bahwa meniru kerendahan hati Maria adalah akar maupun instrumen kegiatan legioner. Api yang berkobar dalam hati legioner sejati hanay timbul dari sikap hidup sederhana yang bernilai luhur. Yang paling utama di antaranya adalah kerendahan hati. Kerendahan hati adalah sarana penting dalam kerasulan legioner. Legio sangat bertumpu kepada karya yang memerlukan pekerjaan kepribadian lembut dan sedrhana yang berasal dari kerendahan hati sejati. Kerendahan hati adalah dasar dari semua semua kegiatan legioner. Tanpa ini tidak ada kegiatan legioner yang efektif.

Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik yang disegani oleh dunia, menyebut dirinya sebagai ”servus servorum Dei” (Hamba dan semua hamba Allah).

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi mengajak umat untuk ”dengan rendah hati yang seorang mengganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (Flp 2:5)

Kidung Hamba Allah dalam Flp 2:5-8 kiranya memberikan inspirasi bagi kita untuk saling menjadi pelayan satu sama lain. ”Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”

Kita bisa merenungkan dalam hati: bagaimana saya dengan pekerjaan sekarang ini bisa melayani orang lain? Semoga Tuhan memberkati karya pelayanan kita.

St. Perawan Maria - Ratu



Renungan ini ditulis pada pesta St. Perawan Maria Ratu. Pesta ini diperingati pada hari ke 7 sesudah Hari Raya Maria diangkat ke surga karena masih berkaitan dengannya. Pesta St. Perawan Maria ratu menekankan soal martabat Maria sebagai ratu yang ditandai dengan pemahkotaannya di surga setelah ia ia diangkat ke sana. Di surga ia dihormati melebihi para malaikat. Maria bahkan dikatakan sebagai ratu para malaikat, ratu para kudus, dan ratu kita semua.

Hal terpenting yang mesti kita sadari adalah bahwa Maria mengikutisertakan kita dalam kemuliaannya itu. seorang ibu yang mengadakan suatu perayaan tanpa kehadiran salah seorang anaknya tentu akan merasa bahwa perayaan itu tidaklah sempurna. Sebagai ibu dari kita semua, Maria tentu ingin agar kita pun diikutsertakan dalam kemuliaannya. Maria memahkotai kita semua sebagai saudara dan saudari dari Putera Sulungnya yaitu Yesus Kristus. Peran setiap anak di dalam suatu keluarga tentu sangat penting dan tidak bisa digantikan oleh orang lain. Jika salah seorang anak Maria tidak hadir dalam kemuliaannya itu maka pemahkotaan Maria itu belumlah selesai.

Setiap kita diberkati. Setiap kita adalah unik sebagai anak-anak Allah. dalam hal-hal tertentu saya berani mengatakan bahwa setiap kita dipanggil untuk menjadi ‘raja’ atau ‘ratu’. Tentunya gelar ini harus dimengerti secara baik, bukan dalam arti dipanggil untuk memperlihatkan kemegahan diri tetapi dipanggil untuk melayani.

Kita mungkin merasa pas dengan gelar di atas, karena seringkali kita menilai diri kita tidak layak untuk itu.iman kita juga tidak cukup untuk percaya akan betapa luhurnya martabat dan panggilan kita di hadapan Allah. seringkali kita merasa ‘gagal’ dalam banyak hal. Merasa diri hina….. sering membandingkan diri dengan orang lain dan merasa bahwa orang lain itu lebih dari kita. Dengan demikian iri hati dan kebencian mulai merasuki relasi kita satu sama lain.

Legioner yang terkasih!
Dalam hidup ini, penerimaan diri adalah dasar bagi pertumbuhan kepribadian. Orang yang tidak menerima dirinya tidak akan bisa berkembang dengan baik. Penerimaan diri akan membuka jalan bagi kita untuk mencintai orang lain dan mencintai Allah.

Setiap kita ini bisa menjalani suatu kehidupan yang utuh di hadapan Allah. Tidak peduli bagaimana temperament kita atau apakah kita punya cacat fisik atau tidak. Tahukan kalian semua bahwa orang yang menulis syair antifon Maria “Salam ya Ratu (Salve Regina) yang indah dan terkenal itu adalah seorang rahib yang terlahir sebagai anak lumpuh? Dia juga menulis syair lagu: “Bunda Penebus yang berbelaskasih (Alma Redemptoris Mater) Namanya Hermann Contractus atau orang sering menyebutnya sebagai Hermann si lumpuh. Dalam hidupnya selama 41 tahun ia lalui dengan penuh penderitaan. Dia tidak bisa berdiri atau berjalan sedikit pun. Dia hanya bisa duduk di sebuah kursi yang dirancang khusus untuk menopang tulang belakangnya. Tangannya tidak kuat untuk mengangkat. Kata-katanya tidak jelas.

Kedua orang tuanya (keduanya termasuk bangsawan di Jerman) memutuskan bahwa tidak ada tempat lain bagi Putera mereka selain di biara. Tidak ada tempat lain yang terbuka bagi putera mereka jika ingin mendapatkan perawatan yang intensif. Bagi Hermann tidak ada pilihan lain selain menerima diri dengan kelumpuhan yang ia bawa sejak lahir.

Sekalipun demikian....di sana, di biara di Reichnau, tempat dimana dia dibawa sejak kecil, Hermaan bertumbuh dalam kepribadian yang matang dan menjadi suci. Cacat fisik seringkali membuat orang menolak diri, menjadi tertutup, tetapi tidak untuk rahib kecil si Hermann ini. Dia menerima dirinya apa adanya....tanpa ada pemberotakan dari dalam diri: mengapa saya terlahir seperti ini?

Dalam otobiografinya dia dikenal sebagai orang yang ramah dan bersahabat....selalu tertawa, selalu membawa sukacita bagi orang lain. Dia tidak menjadi beban bagi komunitasnya, malah semua orang mencintai dia.

Dia melatih tangannya yang lemah itu untuk melakukan sesuatu. Dia membetulkan jam atau alat musik yang rusak. Dia mengarang beberapa lagu. Dua syair lagunya yang terkenal sampai saat ini adalah “Salam ya Ratu” dan “Bunda penebus yang berbelaskasih”.

Kalau kita simak syair “Salam ya Ratu” yang juga adalah bagian doa terpenting dari tesera legioner, kita bisa melihat iman dan kepercayaan yang mendalam dari Hermann. Dalam kelumpuhannya, dia melihat Maria sebagai: “bunda yang rahim, kehidupan, penghiburan dan pengharapannya. Bukankah itu doa yang sangat indah? Doa yang mengungkapkan sebuah keluh kesah penderitaan yang amat mendalam.

Legioner yang terkasih!
Tidak ada satu pun dari antara kita yang lumpuh total sehingga Allah tidak bisa melakukan sesuatu melalui kita. Tidak ada satu pun dari antara kita yang terabaikan dari cinta dan perhatian Bunda Maria. Maria mencintai kita semua yang adalah anak-anaknya. Kembali pada kisah Hermann tadi, dia bisa saja mengutuk dan mengeluh karena tidak bisa berbicara dengan jelas atau pada kelumpuhannya. Tetapi itu tidak pernah terjadi. Dia malah dikenang karena kekudusannya yang melalui kedua syair lagunya di atas, membuat pemahkotaan Maria itu menjadi lebih bercahaya bagi kita semua.

Semoga kita bisa belajar dari Hermaan ini ya. Pertama, terima diri apa adanya. Kedua, membuka diri bagi karya rahmat Allah yang bekerja melalui kita. Hiduplah Legioner! Tota Pulchra est Mariae = segala yang indah pada pada Maria.