Tampilkan postingan dengan label Homili Hari Raya dan Pesta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Homili Hari Raya dan Pesta. Tampilkan semua postingan

Natal dan Ekaristi

Renungan berdasarkan bacaan misa pagi Hari Raya Natal
oleh Pastor Tony Blikon, SS.CC

Bacaan Misa Pagi
Yes 52:7-10 Ibrani 1:1-6 Yoh 1:1-18

Saudara dan saudariku
Setelah menjalani masa persiapan selama 4 minggu dengan berbagai bacam kesibukan: pendalaman iman advent, latihan koor, rapat-rapat panitia natal, pada akhirnya kita kini merayakan natal di gereja paroki kita.

Hari-hari ini kalau kita jalan ke mall, banyak toko menawarkan discount. Kalau kita nonton TV, juga pasti menyajikan acara-acara natal. Semuanya itu mencoba untuk memberikan kegembiraan natal kepada kita. Atau saya yakin bahwa ada dari antara kalian yang siang tadi mungkin makan bersama keluarga untuk merayakan kegembiraan natal. Semua itu baik! Saya harap bahwa semua kalian mengalami kebahagiaan pada natal kali ini. Tetapi ada suatu kebahagiaan yang jauh lebih dalam yang hendaknya kita rasakan juga pada natal kali ini. Apa itu? Bahwa Allah mencintai kita dengan cara yang sangat khusus dan Ia juga menghendaki agar kita membalas kasih-Nya itu dengan cara yang khusus pula. Cinta Allah yang khusus dan istimewa itu nampak dalam pengutusan Sabda-Nya ke bumi untuk tinggal bersama dengan kita. Sabda Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.

Saudara dan saudariku.
Berdasarkan bacaan Injil hari ini saya coba membangun homili ini dengan tema Natal dan Ekaristi. Dalam konteks perayaan Ekaristi saya membayangkan begini: Saat ini – mulai dari awal ekaristi sampai dengan liturgy sabda - kita seakan berada bersama Maria dan Yosep di dalam gereja ini dan beberapa saat lagi yaitu dalam komuni kudus nanti, Yesus Putera Allah akan datang kepada kita. Ia lahir kembali bagi kita.

Kalau dulu Yesus Putera Allah datang kepada kita melalui seorang wanita Yahudi. Bapa pengasuhnya adalah seorang tukang kayu. Ia lahir di dalam kandang Bethlehen dan para gembala serta kambing domba adalah saksi dari peristiwa agung itu. Dalam bayi mungil Bethlehem, Allah datang dengan cara yang tersembunyi di dalam malam yang sepi di pada Ephrata. Tetapi hari ini di dalam ekaristi, jauh di dalam lubuk hati dan jiwa kita, Yesus datang sekali lagi kepada kita, tersamar dalam rupa roti dan anggur.

Saudara dan saudariku
Cara Allah mendatangi manusia selalu terselubung oleh misteri. Kalau dulu, Allah mendatangi umat manusia – terselubung dalam misteri penjelmaan Putera-Nya yang lahir dalam kandang Bethlehem, dan saat ini sekali lagi dalam cara yang tersembunyi Allah ingin memberikan dirinya kepada kita – terselubung dalam rupa roti dan anggur. Dan sudah selama 2000 tahun lebih Allah terus mendatangi kita dengan cara seperti ini. Dalam setiap perayaan ekaristi, Allah berulangkali datang kepada kita dengan cara yang sederhana. O…betapa menakjubkan misteri yang akan kita rayakan nanti.

Saudara dan saudariku
Kedatangan Yesus telah mengubah segalanya. Kedatangan Yesus mengubah hidup manusia menjadi hidup ilahi. Allah menyatakan diri dan cinta-Nya di dalam kemanusiaan kita. Dalam ekaristi nanti, dalam roti dan anggur yang telah disucikan oleh Roh Kudus – dalam apa yang kelihatan, Allah kembali masuk ke dalam kita ciptaan-Nya.

Sebelum kelahiran dan kematian Yesus, kehidupan manusia ini adalah suatu kehampaan. Yang ada hanyalah kegelapan akibat dosa. Dalam Injil tadi dikatakan: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunai tidak mengenal-Nya” Bagi Yohanes, kata ‘dunia’ mengacu pada tempat beradanya kekuatan-kekuatan gelap yang melawan kehadiran Ilahi. Ke tempat seperti inilah terang ilahi tadi bersinar dan terangnya tak dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan gelap.

Namun berkat kelahiran dan kematian Yesus, hidup manusia mendapat jaminan keselamatan kekal. Sebelum kelahiran Yesus, orang melihat Allah sebagai Dia yang jauh dan menggetarkan tetapi sekarang setelah kelahiran Yesus, Allah menjadi dekat dan menjadi bagian dari diri kita. Inilah suatu kabar sukacita yang pantas kita renungkan selalu.

Saudara dan saudariku
Hal menarik lainnya yang patut kita renungkan pada peristiwa ini adalah dengan kedatangan Yesus, kekudusan bukanlah menjadi sebuah ide yang jauh, menggetarkan dan sekaligus menakutkan tetapi kekudusan itu kini berada di dalam hati kita. Allah memberkati kita dengan daya ilahi-Nya. Nah…tugas kita adalah menjaga agar keilahian itu tidak dinodai. Tugas kita adalah terus membersihkan diri dari noda dosa supaya jati diri kita yang sebenarnya itu dapat terungkap dengan jelas. Jati diri sebagaimana Allah lihat di dalam diri kita, jati diri dalam mana Allah memanggil kita secara pribadi dengan nama kita sendiri. Dan hal ini tidak bisa kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri melainkan kita harus bekerja sama dengan rahmat Allah.

Saudara dan saudariku
Pada bagian awal tadi saya mengatakan: Allah telah mencintai kita dengan cara yang unik dan khusus serta mengharapkan agar kita pun membalas cinta-Nya dengan cara yang khusus pula. Pilihan ini – entah kita mau membalas kasih Allah itu atau tidak - mempunyai konsekuensi. Konsekuensi ini bukan hanya untuk hidup sekarang ini, tetapi berdampak pada kehidupan yang kekal. Allah telah menawarkan diri-Nya dan sekarang kita harus menanggapi pemberian diri Allah ini. Semuanya itu tergantung pada kualitas tanggapan kita terhadap rahmat Allah yang kita lakukan dari hari ke hari.



Saudara dan saudariku.
Setiap kita ini penting dan berharga bagi Allah. Sebelum anda dan saya lahir ke dalam dunia ini, masing-masing kita telah ada di dalam pikiran Allah. Firman Allah dalam Yer 1:5 “ Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau kelaur dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau….” – Firman Allah ini berlaku bagi setiap kita.

Menurut ilmu kedokteran, setiap orang punya DNA yang berbeda dengan orang lain. Berarti setiap orang itu unik. Tidak pernah seseorang mempunyai DNA yang sama dengan nenek moyangnya atau siapa pun. Berarti bahwa anda dan saya itu unik.

Karena Anda itu unik maka Allah pun ingin dicintai oleh anda secara pribadi. Hanya Anda yang dapat mencintai Allah sebagaimana dirimu sendiri. Anda penting dan berharga di hadapan Allah. Anda adalah obyek cinta Allah yang unik dan special. Allah menciptakan anda untuk dicintai sebagaimana adanya dirimu. Sebelum kita kita dilahirkan, kita telah dicintai oleh Allah dan sekarang pun kita tetap dicintai oleh Allah.

Inti perayaan natal adalah: Allah mengutus Yesus Kristus Putera-Nya yang terlahir dari perawan Maria untuk mencintaimu yang juga terlahir dari seorang ibu. Kelahiranmu menjadi sangat penting karena kelahiran Yesus. Maka ketika Anda melihat gambar atau patung Maria yang mengendong bayi Yesus, haruslah mengingatkan anda akan ibumu yang telah melahirkan dan mengendong kita. Ada pesan Allah yang ingin disampaikan tentang siapakan anda sebenarnya melalui gambar atau patung itu.

Santo Yohanes dalam Injilnya berbicara tentang Sabda Allah yang telah menjadi daging – menjadi manusia sama seperti anda dan saya. Lebih lanjut ia mengatakan: “segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” – artinya bahwa anda dan saya menjadi manusia – menjadi daging karena Sabda Allah. Lebih lanjut Yohanes pun berbicara tentang manusia yang menolak dan menerima Sabda Allah yang menjadi manusia itu. Yohanes mengatakan: “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keingnan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.”

Saudara dan saudariku.
Dari kutipan Injil hari ini, hendaknya kita renungkan bahwa Anda dan saya terlahir ke dalam dunia ini karena cinta Allah. Anda dan saya hidup di dunia ini karena keputusan dan kehendak Allah. Dan setelah kita lahir, Allah malahan memberikan kita hidup Ilahi Putera-Nya. Dan dalam ekaristi nanti, Allah sekali lagi ingin memberikan hidup dan daya Ilahi Puteranya kepada kita. Inilah kebahagiaan natal yang jauh lebih besar daripada penawaran discount natal yang diberikan diberbagai pusat perbelajaan. Dan ini harus mendatangkan sukacita bagi kita.

Saudara dan saudariku
Setiap perayaan ekaristi adalah sebuah natal yang lain. Setiap Ekaristi merupakan suatu kesempatan bagi kita untuk menjadi seperti para gembala yang mendengar nyanyian para malaikat. Setiap ekaristi merupakan kesempatan bagi kita untuk menjadi seperti para majus…. Setiap kita dipanggil untuk mengikuti jejak mereka untuk menemukan bunda Maria dan Yesus Puteranya – yang dikandung oleh kuasa Roh Kudus. Setiap ekaristi adalah saat di mana kita datang untuk menerima hadiah terbesar dari Allah. Hadiah itu adalah Yesus Kristus. Dialah Allah sekaligus manusia seperti kita.

Saudara dan saudariku
Nanti dalam komuni kudus, Yesus Putera Allah sekali lagi datang memasuki hidup kita. Jangan katakan bahwa anda tidak punya apa-apa yang dapat anda berikan kepada-Nya, jangan katakan bahwa anda tidak berarti karena hidupmu bergelimangan dosa. Betapa panjang dan lebarnya kasih Allah itu. Ia datang kepadamu untuk mencari balasan cintamu kepada-Nya.

Saya hanya membayangkan Yesus menyapa setiap kita yang ada di sini seperti ini:
AKU mencintaimu sebagaimana adanya engkau. Setiap kali kau gagal dalam hidup ini, gagal hidup menurut perintah-Ku, mengapa kau lalu mengira bahwa AKU kurang mencintaimu?
AKU mencintaimu sebagaimana adanya engkau…dengan segala kelebihan dan kekuranganmu.

Aku mengenal kerapuhanmu….pergumulanmu…kekurangan dan kelebihanmu. Sekalipun demikian AKU tetap mencintai engkau. Karena itu, CINTAILAH AKU SEBAGAIMANA ADANYA ENGKAU. Demikianlah AKU menghendakimu. Jangan engkau minder dan takut karena merasa tidak pantas. Kalau engkau menunggu sampai engkau merasa sempurna lalu berusaha mencintai AKU, maka engkau tidak akan pernah mencintai AKU. Sekali lagi Kuminta: CINTAILAH AKU SEBAGAIMANA ADANYA ENGKAU.


Saudara dan saudariku
Tidak ada hadiah terbesar yang dapat anda berikan kepada Allah yang hadir dalam diri bayi mungil Bethlehem selain balasan cintamu kepada-Nya.

Kutipan lagu natal:

O come let us adore Him (3X)
Christ the Lord.


Datanglah dan sembahlah Dia. Nanti sesudah misa kita bisa berdoa di depan kadang natal ini, mungkin hanya dengan terus mengulangi doa seperti ini: Yesus, aku mencintaimu. Tambahkanlah cintaku kepada-Mu. Amin.

Juruselamat telah lahir bagi kita

Renungan Malam Natal_2011
by Tonny Blikon, SS.CC

”Bangsa yang berjalan dalam telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.”

Saudara dan saudarku…
Natal berarti merayakan anugerah Allah. Anugerah apa itu? Yakni Yesus Kristus, Juruselamat kita. Dialah anugerah allah. Dia telah menyerahkan diri-Nya untuk membebaskan kita dari segala kejahatan. Bukan itu saja. Yesus datang untuk membentuk kita menjadi satu umat, satu persaudaraan di dalam Dia. Dia datang menyelamatkan umat manusia.

Lantas, apa artinya anugerah ini bagi kita yang percaya? Berarti anugerah Allah yang kita rayakan pada malam hari ini harus mendidik kita untuk hidup bijaksana, adil, dan peduli terhadap dunia ini.

Tema natal kali ini adalah: “Bangsa yang berjalan dalam kegelapan, telah melihat terang yang besar” – kegelapan yang dimaksudkan adalah kegelapan nurani, yang mengakibatkan kerusakan masyarakat dan dunia. Dalam hal ini, kerusakan bumi adalah salah satu tanda dari kegelapan bangsa itu.

Bumi sudah rusak. Karena kegelapan nurani manusia. Perintah kepada manusia untuk ‘menguasai’ alam dirafsirkan berlebihan, karena lupa untuk menjada dan memeliharanya. Hutan rusak, sungai kotor, bumi yang panas dan lubang ozon yang bolong mengancam manusia sendiri, adalah contoh dari tanda-tanda kegelapan itu.

Ketidakpedulian pada lingkungan adalah dosa ekologis. Karena itu, sangat bisa dimengerti kalau kedatangan Yesus kecil pun membawa terang untuk memperbaiki sikap manusia juga terhadap alam ini. Dengan kata lain, Yesus pun mengajak untuk melakukan pertobatan ekologis, melalui kepedulian kecil yang kita lakukan terhadap alam pula. Yesus datang bukan hanya untuk kebaikan umat manusia, melainkan juga alam seluruhnya, yang nota-bene adalah ciptaan Bapa-Nya. Dulu, semua diciptakan ‘baik adanya,’ tetapi, sekarang ini dunia sudah tidak seindah warna aslinya. Kita diajak untuk kembali menciptakan kebaikan alam itu.

Saudara dan saudariku
Kalau kita lihat, kandang natal tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kandang ini sangat sederhana terbuat dari sampah. Kelahiran Yesus di tengah bumi yang penuh dengan sampah ini merupakan kesadaran ekosistem dari Allah.

Dengan kata lain, Yesus pun mengajak untuk melakukan pertobatan ekologis, melalui kepedulian kecil yang kita lakukan terhadap alam pula. Yesus datang bukan hanya untuk kebaikan umat manusia, melainkan juga alam seluruhnya, yang nota-bene adalah ciptaan Bapa-Nya. Dulu, semua diciptakan ‘baik adanya,’ tetapi, sekarang ini dunia sudah tidak seindah warna aslinya. Kita diajak untuk kembali menciptakan kebaikan alam itu.

Saudara dan saudariku
Saya teringat akan sebuah puisi yang ditulis ketika masih di seminari menengah, pada menjelang suatu perayaan Natal:

TITIPAN DI HARI NATAL

Gerimis panjang menghalau kemarau
Tunas-tunas tumbuh di bulan Desember
Bersama kedamaian awal musim yang merayapi bumi
Ingin kutitipkan: Salam Damai Natal untukmu

Sepi berbunga di bumi
Alam berpesta
Langit mengubah pujian
Atas nama keadilan Tuhan
Malam-malam gerimis pun memberkah
Melipur bumi yang dahaga

Damai bertahta di hati insani
Atas nama kasih sayang
Menyibak keraguan di pucuk kemarau yang lelah
Mengertilah bumi....
Allah itu kasih
Istana sejuta pengertian

Niatkan lagi sulur rindumu ke langit
Alirkan sungai iman
Tinggalkan kemarau musim kemarin
Alpahkan tunas-tunas yang kandas menjenguk langit
Lepaskan rindu yang meranggas patah

Ulurkanlah hatimu sahabat
Nyanyikan kembali kidung penyerahan
Tuangkan harapan
Untuk satu kelahiran baru
Karena Ia telah datang
Menabur hujan berkah
Untukmu yang tengadah rindu
Di bumi pengharapan.


Nah, hari-hari ini, ketika merenungkan teman natal dan anjuran Bapak uskup tahun ini tentang membangun kesadaran ekosistem, saya teringat kembali coretan itu. Saya coba membaca lagi dan bertanya dalam hati: masih relevankah kalimat-kalimat itu? Misalnya kalimat awal dari puisi tadi:

Gerimis panjang menghalau kemarau
Tunas-tunas tumbuh di bulan Desember
Bersama kedamaian awal musim yang merayapi bumi
Ingin kutitipkan: Salam Damai Natal untukmu
Sepi berbunga di bumi
Alam berpesta....


Kalau sekarang, mungkin kalimat itu harus berbunyi:
“Gerimis panjang mendatangkan kekuatiran
sebab banjir bakal terjadi di mana-mana.
Orang-orang Jakarta kuatir jika datang musim hujan.
Tidak ada lagi kedamaian
Saat ini, alam pun menangis karena kekeringan.


Saudara dan saudariku
Perayaan natal hendaknya memberikan kepada kita kesadaran baru akan kasih Allah. Kesadaran ini mencapai suatu tingkatanan yang sangat tinggi dalam diri Santo Paulus sebagaimana ia tulis dalam Rm 8:31-37 :

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”

Kasih Allah itu sudah nyata dalam diri Tuhan kita Yesus Kristu yang menyerahkan diri-Nya untuk menyelamatkan semua manusia dan segenap ciptaan ini.

Pertanyaannya: percayakah anda sungguh-sungguh akan kasih Allah ini? Jika kita sungguh percaya, maka kita harus menyerahkan diri bagi sesama dan terdorong untuk meninggalkan keinginan-keinginan duniawi kita. Jika kita sungguh percaya, maka kita harus meninggalkan manusia lama kita dan mulai hidup secara baru. Cara hidup baru bisa kita mulai dengan hal yang kecil misalnya menghargai alam. Taruhlah sampah, jadikan berkah.

Nah, selamat Natal. Tuhan sungguh mencintai Anda, maka mari kita tebarkan juga cinta ini pada sesama dan dunia sekitar kita, termasuk hewan, tanaman, udara, air, tanah, dan, juga sampah! Mereka layak mendapatkan limpahan rahmat penebusan melalui tangan-tangan kita!

Dekat Salib berdiri ibu-Nya



Peringatan Maria Bunda Dukacita
15 September

Kutipan dari kotbah Santa Bernardus, abas

Kemartiran Santa Perawan maria terkandung dalam nubuat Simeon, maupun dalam kisah sengsara Tuhan kita. Orang suci yang sudah lanjut usia itu berkata tentang kanak-kanak Yesus, “Anak ini ditentukan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.” Kemudian ia berkata kepada Maria. “dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.”

Sungguh, Ibu tersuci, suatu pedang menembus hatimu. Sebab tidak ada pedang dapat menusuk tubuh Puteramu tanpa menembus hatimu. Setelah Puteramu menyerahkan hidup-Nya, tombak kejam yang tidak menyayangkan tubuh-Nya yang sudah tak bernyawa, membuka lambung-Nya. Meskipun tombak itu tidak dapat menyakiti Dia, dan tidak juga dapat menyentuh jiwa-Nya, namun sungguh menembus jiwamu. Jiwa Yesus sudah tidak ada lagi, tetapi jiwamu tidak dapat dicabut. Maka pedang dukacita menembus jiwamu, sehingga dengan tepat kami menyebut engkau lebih dari seorang martir, karena rasa pilu yang engkau derita melebihi semua penderitaan fisik.

Ataukah kata-kata ini, “Ibu, inilah anakmu,” lebih menyakitkan daripada tusukan pedang? Sebab kata-kata ini menembusi jiwamu, dan menusuk sampai ke inti, di mana jiwa mulai terpisah dari roh. Pertukaran yang luar biasa! Yohanes diberikan kepadamu untuk menggantikan Yesus, seorang pelayan menggantikan Tuhan, murid ganti Guru, putera Zebedeus ganti Putera Allah, manusia biasa ganti Allah yang benar. Kata-kata ini tentu menembusi jiwamu yang penuh cinta, sebab mengenangkan itu saja sudah menghancurkan hati kami, meskipun keras seperti batu.

Salib Yesus: Sumber keselamatan kita

Bacaan
Bil 21:4-9
Yoh 3:13-17

Renungan
oleh Pastor Tonny Blikon, SS.CC

Saudara dan saudariku…..
Hari ini (14 September) kita merayakan Pesta Salib Suci. Perayaan ini dimaksudkan untuk mengenang kembali peristiwa bersejarah penemuan Salib Yesus pada tahun 326. Penemuan ini menjadi bukti kuat bahwa iman Kristiani bukanlah suatu dongeng belaka tetapi suatu peristiwa yang sungguh pernah terjadi.

Menurut St. Yohanes Crysostomus, St. Helena, ibu dari Kaiser Konstantinus ingin sekali menemukan salib yang dipakai untuk penyaliban Yesus. Untuk alasan ini maka dia melakukan perjalanan jauh ke Yerusalem. Dia juga membawa orang-orang yang ditugaskan untuk menggali bukit kalvari. Para penggali menemukan ada 3 salib kayu. Mereka tidak bisa membedakan manakah salib Yesus dan mana yang dipakai untuk menghukum kedua orang penjahat yang dihukum bersama Yesus. Akhirnya mereka membawa seorang wanita yang sedang sakit keras dan seorang yang telah meninggal…dimana mayatnya sedang diusung ke pemakaman. Mereka mulai mencoba salib temuan tadi satu per satu. Salib-salib itu diletakan pada orang yang sakit dan yang sudah meninggal itu. dua salib yang pertama tidak membawa efek apa-apa. Sampailah pada salib yang ketiga. Apa yang terjadi? Wanita yang sakit tadi langsung sembuh dan orang mati tadi pun langsung hidup.

Sejak saat itu berita tentang hal itu tersebar. Banyak orang beriman datang untuk melihat dan menyembah salib itu. Lantas Patriarc Yerusalem waktu itu yang bernama Makarios, mendirikan suatu tiang dan menempatkan salib itu di sana supaya semua orang bisa melihatnya. Ketika melihat salib itu, semua orang berlutuh, menyembah dan berkata: “Tuhan kasihanilah kami”. St. Helena lalu memerintahkan untuk mendirikan sebuah gereja pada tempat di temukan salib itu. Gereja itu diberkati pada tanggal 13 September 335. Pesta Penemuan Salib Suci ditetapkan untuk dirayakan setiap tahun pada hari berikutnya yaitu pada tanggal 14 September.

Saudara dan saudariku….
Itulah sedikit tentang latar belakang sejarah pesta yang kita rayakan pada hari ini.

Bacaan-bacaan hari ini menarik perhatian kita pada suatu peristiwa sejarah keselamatan itu datang kepada kita karena Yesus telah menderita sengsara di atas salib.

Bacaan I hari ini berbicara tentang umat Israel yang berkesal hati karena segala kesulitan yang mereka alami selama perjalanan menuju tanah terjanji. Mereka telah lupa akan masa lalu mereka, tentang bagaimana Allah telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir dan menuntun mereka keluar dari negri berbudakan itu. Mereka tidak lagi percaya bahwa Allah yang menyelenggarakan hidup mereka. Mereka kesel dan menggerutu terhadap Allah dan terhadap Musa. Dalam situasi seperti itu tiba-tiba saja banyak ular berapi bermunculan di mana-mana dan memagut mereka. Banyak orang mati. Setelah itu Allah menyuruh Musa untuk membuat patung ular perunggu dan menempatkan-nya pada suatu tiang. Patung ular perunggu itu mengingatkan umat akan dosa ketidakpercayaan. Setiap orang yang terpagut, akan tetap hidup, bila memandang patung ular perunggu itu. Suatu gambaran tentang salib Kristus… orang yang memandang kepada salib Yesus akan tetap diselamatkan.

Saudara dan saudariku.
Bacaan Injil hari ini hendaknya menjadi suatu suatu hiburan kita. Walaupun kita telah jatuh ke dalam dosa dan berulangkali melakukan dosa dan kesalahan yang sama, kita mungkin ingat akan dosa-dosa berat yang kita lakukan… tetapi dalam Injil tadi dikatakan: “Demikian besar cinta kasih Allah kepada dunia, sehingga Ia menyerahkan Putera-Nya yang tunggal, agar setiap orang yang percaya akan Dia tidak binasa melainkan memiliki hidup abadi." Karena Allah mengutus Putera-Nya ke dunia bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan dunia. jatuh ke dalam dosa…

Yesus sendiri bersabda bahwa Allah sedemikian mencintai kita dan menghendaki agar kita hidup selama-lamanya. Melalui misteri yang kita rayakan hari ini, kita diajak untuk memuji dan memuliakan Allah yang telah menyelamatkan kita melalui Yesus Kristus… Luangkan waktu hari ini untuk memandang salib Yesus. Memandang dengan cinta…. Dari sánalah keselamatan kita.

Happy Birthday to our Lady

Bacaan
Roma 8:28-30
Matius 1:1-16,18-23

Renungan
oleh Pastor Tonny Blikon, SS.CC

Dalam bacaan pertama hari ini, apa yang dikatakan rasul Paulus kepada jemaat di Roma, juga dikatakan kepada kita semua: “orang-orang yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya”

Jika kita coba menempatkan kalimat ini dalam konteks bacaan Injil hari ini, kita melihat bahwa silsilah Yesus Kristus itu berawal dari Abraham, Ishak dan Yakub. Dari keturunan merekalah Mesias akan dilahirkan. Allah tahu dari suka manakah akan terlahir seorang yang akan melahirkan juruselamat.

Merayakan hari kelahiran bunda Maria, mengingatkan kita akan apa yang dikatakan oleh Paulus kepada jemaat di Galatia: ”setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan....” (Gal 4:4).

Kutipan dari ini saya kira penting untuk kita renungkan bahwa bahwa Allah sejak keabadian, telah menerencakan penciptaan kita masing-masing, menempatkan kita pada suatu tempat tertentu untuk maksud dan tujuan tertentu sesuai dengan kehendak Allah. Kehadiran kita di dunia ini bukanlah merupakan suatu kebetulan. Juga bukan atas kehendak orang tua kita masing-masing. Hari dan jam kelahiran kita telah diketahui oleh Allah. Demikian pun kelahiran bunda Maria. Sekali lagi saya membaca kutipan dari surat rasul Paulus di atas: “setelah genap waktunya maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang wanita….” Kebenaran yang berlaku bagi Yesus dan Maria, juga berlaku bagi kita semua.

Karena itu, merayakan ulang tahun Bunda Maria adalah satu kegembiraan karena hanya dialah satu-satunya manusia yang hidup sesuai dengan maksud dan rencana Allah. Kita bergembira karena dengan kelahiran Bunda Maria maka telah dekatlah keselamatan yang datang dari Allah itu.

Saya membayangkan begini. Ketika bunda Maria dilahirkan, semua malaikat bersukacita karena dekatnya keselamatan bagi umat manusia.

Hadiah apakah yang pantas kita berikan kepada Maria pada perayaan ulang tahunnya ini? Kita bisa membayangkan begini: jika seorang anak bertanya kepada ibunya yang merayakan ulang tahun: ‘mama…mau hadiah apa? Mama itu menjawab: “Yang penting adalah kamu jadi anak yang baik.”

Hari ini ketika kita merayakan ulang tahun bunda Maria, kita boleh bertanya: “bunda mau hadiah apa? Maka Maria pasti akan menjawab: yang terpenting adalah kamu menjadi anakku yang baik. Karena itu, marilah kita berusaha untuk hidup sebagai anak Maria yang baik, meneladani bunda Maria yang dikandung tanpa noda dosa dengan menjauhkan segala perbuatan dosa.

Saya ingin menyanyikan lagu ini untuk bunda Maria

On this day o beautiful Mother
On this day we give thee our love
Near the madona fondly we hover
Trusting thy gentle care to prove.

On this day we ask to share
Dearest mother thy sweet care
Aid us ere our feet astray
Wander from thy guiding way

Queen of angels, deign to hear
Lisping children’s humble prayer
Youg heart gain, o virgin pure
Sweetly to thyself allure.

Maria Diangkat ke surga

HARI RAYA MARIA DIANGKAT KE SURGA

Why 11:19a; 12:1, 3-6a 1Kor 15:20-26 Luk 1:39-56

Saudara dan saudariku.

Pada hari ini, kita merayakan peristiwa iman: “Maria diangkat ke Surga”. Kita diajak untuk merenungkan perbuatan besar yang dikerjakan Allah bagi Maria, Bunda Kristus dan Bunda seluruh umat beriman. Kita percaya bahwa Maria telah dipilih Allah sejak awal mula untuk menjadi Bunda PuteraNya, Yesus Kristus. Untuk itu Allah menghindarkannya dari noda dosa asal dan mengangkatnya jauh di atas para malaikat dan orang kudus.

Gereja Katolik percaya bahwa Allah mengangkat Maria ke surga dengan jiwa dan badan, karena peranannya yang luar biasa dalam karya penyelamatan dan penebusan Kristus. Kebenaran iman ini dimaklumkan sebagai dogma dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus oleh Sri Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950.

Saudara dan saudariku
Memang, Maria “Diangkat ke Surga” tidak ada dalam Kitab Suci. Sebab itu, banyak kaum fundamentalis yang menafsirkan Kitab Suci secara harafiah akan mengalami kesulitan dalam memahami keyakinan ini. Nah…untuk bisa percaya akan hal ini, kita harus berdiam diri dan merenungkan peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan. Akan tetapi ada yang mengatakan: ’itukan kebetulan bahwa Allah memilih Maria. Allah bisa memilih siapa saja untuk melahirkan Yesus. Dalam hati saya menjawab: ’emang nenek loe yang dipilih.’ Dari kekal hingga kekal, Allah hanya menemukan seorang yang pantas dan layak untuk melahirkan Yesus yaitu Maria. Dalam bacaan Injil tadi, Maria mengagungkan karya keselamatan Allah yang dikerjakan melalui dia dengan mengatakan: ’Segala keturunan akan menyebut aku bahagia?

Saudara dan saudariku
Peran Maria dalam misteri keselamatan inilah yang menjadi dasar dari keyakinan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Saudara dan saudariku
Perlu kita ketahui bahwa Bunda Maria ‘diangkat’ ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga. ‘Diangkat’ berarti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus ‘naik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri.

Bagi kita orang Katolik, peristiwa Bunda Maria diangkat ke surga adalah peringatan akan pengharapan kita akan kebangkitan badan di akhir zaman, di mana kita sebagai orang beriman, jika hidup setia dan taat kepada Allah sampai akhir, maka kitapun akan mengalami kebangkitan jiwa dan raga ke dalam kemuliaan surgawi.

Maka, Dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk menghormati Maria, tetapi doktrin itu mau menunjukkan bahwa Maria adalah anggota Gereja yang pertama yang diangkat ke surga. Jika kita hidup setia melakukan perintah Allah dan bersatu dengan Kristus, seperti Bunda Maria, kitapun pada saat akhir jaman nanti akan diangkat ke surga, jiwa dan badan, seperti dia.

Saya yakin kita semua di sini ingin masuk surga. Masuk surga itu ’gampang-gampang susah.’ Yesus sendiri menegaskan: ”Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada seorang kaya masuk surga.”

Tadi saya katakan ’gampang-gampang susah’ artinya, walaupun sulit tetapi ada juga cara yang mudah. Ada yang tahu cara mudah untuk masuk surga? Saya akan menunjukkan cara yang paling mudah itu yaitu melalui persatuan dengan Maria dan membiarkan diri kita dibentuk oleh Maria.

Saya akan menjelaskan kebenaran iman ini melalui pandangan Maria sebagai Forma Dei. Tetapi sebelum itu, saya ingin bercerita tentang pengalaman saya.

Saya pernah mengunjungi sebuah tempat pembuatan patung di milik Bapak Alamsyah. Di sana saya melihat ada beberapa patung yang terpahat dari batu. Saya pernah bertanya: untuk apa patung-patung ini? Dia menjelaskan bahwa dulu ada beberapa pemahat yang melamar bekerja dan kepada masing-masing saya memberikan sebuah batu marmer yang besar untuk test. Mereka boleh memahat bentuk apapun yang mereka mau. ‘Dari 10 pemahat yang melamar saya hanya memilih satu orang, demikianlah penjelasannya.’

Saudara dan saudariku.
Ada dua cara jika seorang ingin membuat patung. Cara pertama adalah: pemahat dengan keahliannya, ketangkasnya, pengalamannya dan perkakas yang baik dapat memahat patung dari bahan yang keras tak berbentuk menjadi sebuah sosok. Cara yang ini tentu sangat sulit dan memakan waktu yang cukup lama. Sekali salah memahat, dapat merusak seluruh karyanya.

Sedangkan cara yang kedua adalah membuat formanya atau cetak ulangnya. Proses pembuatan forma ini sangat lama, tetapi setelah formanya sudah jadi dan sempurna maka bahan-bahan mudah melentur dituangkan ke dalamnya dan siap dibentuk sesuai dengan formanya itu.

Saudara dan saudariku.
Santo Agustinus mengatakan Maria adalah Forma Dei – cetak tuang Allah yang hidup. Santo Luis Marie de Monfort mengatakan: “Maria adalah ’cetakan Allah yang tak bernoda.”

Mengapa Maria disebut sebagai ’Forma Dei?’ Karena di dalam rahimnya Allah yang menjelma telah terbentuk sebagaimana mestinya tanpa kehilangan sedikit pun dari ke-allahan-Nya. Dan juga hanya dalam Maria, seorang manusia dapat dibentuk dalam Allah sebagaimana mestinya berkat rahmat Yesus Kristus.

Karena itu, tidak ada cara lain yang lebih mudah untuk masuk surga kalau kita sungguh bersatu dengan Maria.

Saudara dan saudariku.
Maria adalah ‘Forma Dei – Cetakan Allah, yang diciptakan oleh Roh Kudus untuk memberi bentuk alamiah kepada Sang Manusia Ilahi Yesus Kristus – dan juga Forma Dei yang memberi bentuk Ilahi kepada manusia lewat rahmat Allah. Maria adalah penuh rahmat.

Saya tertarik dengan doa untuk para imam yang seringkali kita pakai dalam novena Maria Pembantu Abadi: “Semoga Ibu-Mu, Maria, yang dahulu telah menjadi hadiah bagi murid yang Engkau kasihi, kini menjadi hadiah pula bagi setiap imam. Anugerahkanlah supaya dia yang telah membentuk Engkau menjadi wujud manusia, kiranya dapat membentuk mereka pula menjadi wujud Ilahi, oleh kuasa Roh-Mu, menuju kemuliaan Allah Bapa. Amin.”

Doa yang sama dapat kita pakai untuk diri kita sendiri: “Semoga Ibu-Mu, Maria, yang dahulu telah menjadi hadiah bagi murid yang Engkau kasihi, kini menjadi hadiah pula bagi setiap kami. Anugerahkanlah supaya dia yang telah membentuk Engkau menjadi wujud manusia, kiranya dapat membentuk mereka pula menjadi wujud Ilahi, oleh kuasa Roh-Mu, menuju kemuliaan Allah Bapa. Amin.”

Maria adalah ‘cetakan Allah yang sempurna. . Cetakan ini tidak mempunyai kekurangan apapun dari segi Ilahi. Apa saya yang dituangkan ke dalamnya dan mau dibentuk akan menerima ciri-ciri khas Yesus Kristus. Dan semuanya proses itu berjalan dengan lembut dengan memperhitungkan kelemahan manusiawi kita.

Ini adalah cara yang paling aman tanpa resiko menyimpang, karena setan tak pernah dan tak akan pernah menyentuh Maria. Maria adalah suci dan tak bernoda, tanpa cela dosa sedikit pun.

Jadi sekali lagi, agar dapat masuk dalam kemuliaan bersama Maria, kita harus bersatu dengan Maria dan membiarkan diri dibentuk oleh Maria.

Nah...cara untuk bersatu dengan Maria adalah merenungkan peristiwa-peristiwa keselamatan di dalam doa rosario. Doa Rosario adalah doa yang sangat sederhana. Tetapi mungkin karena terlalu sederhana inilah maka kita seringkali mengabaikannya.

Beato Yohanes Paulus II adalah orang yang sangat mencintai Bunda Maria. Dia pernah berkata: Rosary is my favourite prayer. Dalam ensikliknya: Rosarium Virginis Mariae, beliau mengatakan: Rosario adalah sekolah Maria. Melalui rosario, kita membiarkan diri kita dibentuk oleh Maria melalui misteri-misteri Yesus yang kita renungkan.

Saudara dan saudariku
Biasanya kalau kita doa rosario, setelah selesai peristiwa kelima, kita langsung tutup. Ok...sah-sah saja, tetapi di sini saya mau mengatakan bahwa ada sebuah doa yang seringkali tidak kita doakan setelah selesai mendaraskan doa rosario: “Ya Allah, Putera-Mu tunggal telah memperoleh bahagia kekal bagi kami dengan hidup, kematian, serta kebangkitan-Nya; semoga kami dalam merenungkan peristiwa-peristiwa itu dalam doa Rosario Suci Santa Perawan Maria, dapat meneladan isinya dan menerima yang dijanjikan-Nya, Dialah Kristus Tuhan kami.” – Doa ini menjadi bagian integral dari Doa Tesera Legio Mariae.

Saya ingin menggarisbawahi: “semoga kami dalam merenungkan peristiwa-peristiwa itu dalam doa Rosario Suci Santa Perawan Maria, dapat meneladan isinya dan menerima yang dijanjikan-Nya...” Kita berdoa rosario, bukan karena rosario adalah doa yang paling mudah, tetapi karena kita mau meneladan isinya. Hanya dengan cara inilah, kita akan menerima apa yang dijanjikan Tuhan. Melalui Rosario, kita membiarkan diri kita membiarkan diri kita dibentuk oleh Bunda Maria, agar kita pun mendapat kodrat Ilahi berkat rahmat Allah.

Saudara dan saudariku.
“Lihatlah Bundamu” Maria diangkat ke surga lebih merupakan suatu pengingat bagi Gereja bahwa Tuhan kita menghendaki agar mereka semua yang telah diberikan Bapa kepada-Nya dibangkitkan bersama-Nya. Dalam Maria yang diangkat ke surga, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.”

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga memberikan kepada masing-masing kita pengharapan besar akan masa depan kita bahwa kelak pun akan diangkat ke surga, asalkan selama hidup ini, kita mau membiarkan diri kita dibentuk oleh Bunda Maria.

Ketika merenungkan tentang kebenaran iman ini, saya tiba-tiba teringat akan sebuah lagu Maria. Lagu ini dalam bahasa Inggris. Beberapa katanya dalam Inggris klasik, tetapi artinya kira-kira begini:

Ya Ratu Surgawi yang suci
Di hadapanmu kami bersujud dan memohon
Buatlah kami mencintaimu.
Buatlah kami menjadi milikmu.

Ajarilah kami yang Bunda Suci.
Bagaimana seharusnya melawan godaan dosa.
Bagaimana seharusnya mencintai dan menolong sesama.
Bagaimana memenangkan kehidupan ini.

Kepadamu telah dianugerahkan seorang Putera
Dia lebih besar dari semua anak manusia.
Dia datang dari surga
Untuk menciptakan kembali dunia ini.

Lagu:

Holy Queen, we bend before thee,
Queen of purity divine.
Make us love thee, we implore thee
Make us truly to be thine.

Teach, O teach us, Holy Mother
How to conquer every sin,
How to love and help each other
How the price of life to win.

Thou to whom a child was given
Greater than the sons of men
Coming down from highest heaven
To create the world again.

Pertobatan St. Paulus


Bacaan
Kis 22:3-16.
Injil Mark 16:15-18

Dalam bacaan I kita mendengar kisah yang sangat terkenal tentang pertobatan St. Paulus. Ia sedang dalam perjalanan ke kota Damaskus dan tiba-tiba saja, dia melihat cahaya dan mendengar suara Tuhan yang berkata-kata kepadanya. Dari kisah ini, kita bisa mempelajari beberapa hal. Pertama, pertobatan sejati merupakan rahmat dan inisiati dari Allah dan bukannya usaha dan karya kita. Kedua, pertobatan yang sejati adalah hasil dari perjumpaan yang sungguh dengan Allah.

Seringkali orang mengatakan begini: ”Romo....saya pingin sekali anak-anak saya itu bertobat. Atau saya ingin sekali pasangan saya itu bertobat. Tapi kok tiap kali dia melakukan kesalahan yang sama. Mengapa Allah kok tidak mau melakukan sesuatu seperti yang Ia lakukan kepada St. Paulus supaya pasanganku atau anak-anakku bertobat? Mengapa Allah tidak melakukan sesuatu yang luar biasa jika ingin mengatakan kehendak-Nya kepada kita?"

Saudara dan saudariku
Suatu hal yang mesti kita ingat adalah jika Allah ingin Allah mengungkapkan sesuatu secara lebih jelas kepada kita, maka Allah pun menuntut dari kita suatu ’salib’ atau penderitaan. Kita justru berusaha untuk menghindari penderitaan itu sehingga jika Allah ingin menungkapkan sesuatu kepada kita, Dia akan melakukannya secara tersamar atau membutuhkan proses yang cukup lama. Ada seorang suami yang bersumpah dihadapan Istrinya, meletakan tangan di atas KS dan mengatakan ’biar saya disambar petir, kalau memang saya tidak setia kepadamu’. Seminggu kemudian apa yang terjadi? Bukan dia yang disambar petir tetapi tambak (empang) ikannya yang tersambar petir. Semua ikannya mati. Allah memang tidak mau menghukum orang itu. Allah tidak menghendaki kematian orang berdosa tetapi supaya ia bertobat (Bdk Yez 33:9)

Saya tidak mau memperpanjang kisah ini, tetapi sekali lagi, hal yang mesti kita ingat adalah jika Allah ingin melakukan sesuatu secara jelas kepada kita supaya kita bertobat, maka Allah pun menuntut dari kita suatu salib hidup yang cukup berat setelah proses pertobatan itu. Paulus mengalami penderitaan yang sangat berat setelah proses pertobatannya itu.

Kita kembali kepada pertanyaan di atas: ”mengapa Allah tidak melakukan sesuatu yang yang luar biasa jika ingin mengatakan kehendaknya kepada kita? Saya harap kita tidak berkutat pada pertanyaan itu, tetapi baiklah kita mencoba merenungkan berkat-berkat yang telah Allah berikan kepada kita. Dari semua berkat itu, kita bisa melihat bahwa ternyata Allah pun telah melakukan sesuatu kepada kita.

Mengapa hal pertobatan yang radikal semacam itu terjadi atas diri Paulus? Alasannya adalah karena Allah telah memilih dia untuk menjadi rasul bagi bangsa-bangsa kafir. Dan untuk itu butuh sesuatu peristiwa yang luar biasa terjadi atas dirinya supaya ia percaya dan dan bertobat dan tidak akan kembali lagi.

Untuk mengerti hal ini, kita harus melihat latar belakang St. Paulus. Paulus menyebut dirinya sebagai murid Gamaliel, seorang rabi Yahudi yang sangat terkenal bahkan sampai kepada orang-orang Yahudi yang berada di luar Israe. Itu berarti Gamaliel mempunyai reputasi sebagai rabbi yang berstandar international pada waktu itu. Paulus (sebelumnya adalah Saulus) adalah murid terbaik yang dimiliki oleh Gamaliel. Itu berarti dia tahu persis semua ajaran agama Yahudi dan ia mengatakan bahwa ia adalah orang yang paling tekun dalam mentaati semua ajaran Yahudi. Salah satu ajaran Yahudi adalah bangsa-bangsa di luar Yahudi adalah kafir. Paulus tentu tidak mudah untuk mengubah pandangan ini. Apa yang Allah minta dari Paulus adalah melakukan hal yang sebenarnya sangat bertentangan dengan apa ia lakukan dan apa yang ia pikirkan selama ini. Orang yang sebenarnya ingin memusnakan Injil, malah dipanggil untuk mewartakan Injil. Orang yang selama ini berpikir bahwa bangsa-bangsa lain adalah bangsa kafir, malah dipanggil untuk menjadi rasul bangsa kafir. Karena alasan inilah maka panggilan atau peristiwa pertobatannya terjadi secara ‘menggemparkan’ atau luar biasa.

Saudara dan saudariku
Mungkin ada yang berpikir begini: “wah…kalau saya pintar…tahu benar tentang Injil serta bertekun dalam mentaati perintah Tuhan seperti Paulus maka pasti hal yang ‘luar biasa’ itu bisa donk terjadi atas diri saya

Saya kira kita tidak usah mengharapkan hal semacam itu, entah hal yang biasa atau luar biasa terjadi atas diri kita atau tidak, itu tidak penting. Yang pasti bahwa kita semua ini dipanggil untuk melayani Allah. Dan hal yang terpenting adalah kita tetap mengarahkan pandangan hati kita kepada Yesus

St. Paulus memiliki pengalaman yang luar bisa, dan kita memiliki Ekaristi. Setiap hari kita datang kepada Yesus. St. Paulus dalam bacaan hari ini mendengar Suara Yesus dan melihat cahaya-Nya. Sedangkan kita menerima Tubuh dan Darah Yesus. Dan saya kira ini merupakan pengalaman yang lebih menggetarkan daripada pengalaman St. Paulus dalam perjalanan ke Damaskus itu. Apa yang Paulus alami bersifat eksternal atau terjadi di luar dirinya, sedangkan apa yang kita alami bersifat internal atau terjadi di dalam diri kita. Pengalaman St. Paulus membuahkan pertobatan di dalam dirinya. Pertobatan Paulus tidak berhenti pada peristiwa itu saja. Selanjutnya, Paulus harus belajar tentang kebenaran Injil dan harus hidup menurut kebenaran itu. Setelah dia mengerti tentan kebenaran Injil, peristiwa Damaskus itu tidak lagi begitu penting bagi dia tetapi yang terpenting adalah pribadi Yesus Kristus sendiri.

Saudara dan saudariku.
Setiap hari kita datang kepada Ekaristi. Saya kira kita tidak lagi membutuhkan pengalaman ‘luar biasa’ sebagaimana yang dialami oleh Paulus karena kita mengalami peristiwa yang lebih luar biasa dari pengalaman Paulus. Peristiwa itu justru terjadi di tengah kita di atas altar ini. Tettapi peristiwa yang luar biasa itu telah menjadi peristiwa yang biasa bagi kita karena kita cendrung tidak memperhatikan atau tidak menyadari hal itu. Jika anda ingin mengalami suatu mujizat, jika anda ingin mengalami suatu tanda, jika anda ingin tahu betapa Tuhan sungguh mencintaimu, maka ketika anda nanti menerima Komuni Kudus, atau ketika anda memandang Yesus yang ada di dalam tabernakel, bukalah hatimu kepada Yesus – maka hal yang luar biasa akan terjadi dalam diri anda – bukan suara, bukan juga cahaya yang anda lihat, tetapi anda akan mengalami suatu perubahan hidup. Dan jika kita telah mengalami suatu perubahan hidup maka kita akan mengalami suatu pertobatan yang sejati dan kita akan semakin mencintai Allah. Inilah mujizat terbesar yang akan terjadi dan yang bisa kita alami. Allah bisa mengubah hati kita yang jahat menjadi hati yang mencintai Dia, sama seperti pengalaman St. Paulus.

Karena itu, saudara dan saudariku….tidak perlulah kita mencari peristiwa luar biasa yang terjadi di luar diri kita, karena dalam perayaan ekaristi ini, kita akan mengalami sesuatu yang lebih dasyat lagi. Mari kita siapkan hati kita, masuk ke dalam keheningan batin dan biarlah Tuhan berbicara kepada kita saat ini. Jika kita bersedia mendengarnya dan mau taat kepada kehendak Allah maka mujizat itu akan terjadi justru di dalam hati kita.