Tubuh dan Darah Kristus


PENGAJARAN TENTANG EKARISTI

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Mengapa ada hari khusus untuk menghormati Tubuh dan Darah Kristus? Bukankah setiap kali kita merayakan ekaristi, kita juga merayakan misteri Tubuh dan Darah Kristus?

Sekilas tentang sejarah dari HR Tubuh dan Darah Kristus
Hari Raya ini dikehendaki oleh Yesus sendiri melalui St. Yuliana. Ia masuk biara pada tahun 1206 pada usia 13 tahun. Pada usia 16 tahun dia mulai mendapat anugerah penglihatan.

”Ia melihat bulan di langit; dan walau bulan bersinar terang gemilang, namun terdapat suatu noda hitam padanya!”

Ia tidak terbiasa dengan penglihatan semacam itu jadi ia pikir itu hanya imaginasi. Tetapi penglihatan itu datang lagi dan terus datang lagi. Akhirnya ia merasa bahwa penglihatan itu datang dari Tuhan.

Yesus sendiri yang menjelaskan penglihatan itu
“Engkau gelisah karena penglihatan itu. Sesungguhnya, Aku menghendaki agar ditetapkan suatu hari raya istimewa bagi Gereja Pejuang, sebab perayaan ini teramat penting, yaitu Hari Raya Sakramen dari Altar yang Mahamulia dan Mahakudus. Pada masa sekarang, perayaan akan Misteri ini hanya dilakukan pada hari Kamis Putih. Tetapi, pada hari itu, teristimewa Sengsara dan Wafat-Ku yang direnungkan. Sebab itu, Aku menghendaki suatu hari lain dikhususkan, di mana Sakramen Mahakudus dari Altar akan dirayakan oleh segenap umat Kristiani!

Yesus sendiri menyebutkan 3 alasan mengapa dirayakan hari khusus untuk menghormati Tubuh dan Darah-Nya. Pertama, agar iman akan Sakramen Mahakudus diperteguh, terutama apabila orang-orang jahat menyerang misteri ini di kemudian hari. Kedua, agar umat beriman diperkuat dalam mencapai kesempurnaan melalui kasih mendalam dan sembah sujud kepada Sakramen Mahakudus. Ketiga, agar supaya dengan hari raya ini dan dengan cinta kasih yang ditujukan kepada Sakramen dari Altar, silih dilakukan bagi penghinaan dan kurangnya rasa hormat terhadap Sakramen Mahakudus.”

Paus Urbanus IV menerbitkan Bulla Transiturus pada tanggal 8 September 1264, di mana setelah mengagungkan kasih Juruselamat kita dalam Ekaristi Kudus, ia memaklumkan agar Hari Raya Corpus Christi dirayakan setiap tahun pada hari Kamis sesudah Hari Raya Tritunggal Mahakudus.

Sejak tahun 1970, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dirayakan pada hari Minggu sesudah Hari Raya Tritunggal Mahakudus.

Saudara dan saudariku
Berkaitan dengan pesta yang kita rayakan hari ini, hal yang patut kita renungkan adalah bagaimana sikapku terhadap Sakramen Ekaristi?

Kan 898 – Umat beriman kristiani hendaknya menaruh hormat yang sebesar-besarnya terhadap Ekaristi mahakudus, dengan mengambil bagian aktif dalam perayaan Kurban mahaluhur itu, menerima sakramen itu dengan penuh bakti dan kerap kali, serta menyembah-sujud setingggi-tingginya; ….

Nah…berkaitan dengan anjuran tersebut di atas, muncul beberapa keprihatinan berikut ini:
• Berkaitan dengan sikap sejumlah umat dalam mengikuti ekaristi: datang terlambat pulang lebih cepat.
• Fenomena lain terlihat pada waktu liturgi sabda: umat tidak menerima pewartaan sabda secara utuh karena asyik ngobrol, aktivasi hp secara diam-diam, beri makan anak, dll.
• Fenomena lain terlihat dari cara orang berpakaian ke gereja.
• Banyak orang tidak memahami Ekaristi. Mereka beranggapan bahwa ekaristi adalah suatu peristiwa biasa yang duaniawi. Ingat ekaristi yang dirayakan dengan secara dingin akan menghalangi orang untuk mengalami kehadiran Allah.
• Padahal Secara hakiki, Misa Kudus merupakan liturgi resmi Gereja di mana perayaan misteri Paskah Kristus - yakni penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya dihadirkan kembali dalam rasa syukur dan sekaligus mendatangkan penebusan, pengudusan dan keselamatan secara nyata.

Saudara dan saudariku
Hari ini saya tidak bicara tentang teologi Ekaristi, tetapi saya hanya ingin menceritrakan sebuah kisah tentang Misteri Ekaristi sebagaimana yang dialami oleh Catalina, seorang stigmatis dan visioner. Semoga kisah ini juga membuat kita untuk semakin bersikap hormat dan menghargai ekaristi.

Sekilas tentang Catalina
Katya (Catalina), tidak sampai tamat dari sekolah menengah atas, dan tidak pernah studi kitab suci. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan teologis, tetapi ia menuliskan dengan lancar, tanpa adanya kesalahan teologis, beratus-ratus halaman berisikan ajaran-ajaran teologis dan komentar biblis yang mendalam, yang menurutnya didiktekan kepadanya oleh Kristus.

Tulisan-tulisan ini didiktekan kepada Katya dalam bahasa Spanyol (meski terkadang juga dalam bahasa-bahasa lain seperti Latin, Polandia, Italia dan Yunani; bahasa-bahasa yang tidak dimengerti Katya).

Terlebih lagi mencengangkan betapa indah tata bahasa dan ritme dalam bahasa aslinya, Spanyol, dan betapa kebenaran-kebenaran teologis yang mendalam diungkapkan dengan kesederhanaan yang tepat.

Terkadang, pesan yang disampaikan singkat dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk menuliskannya. Di lain waktu, pesan-pesannya jauh lebih panjang, kadang kala dibutuhkan hingga nyaris satu jam untuk menuliskannya. Ia menulis tanpa berhenti, tanpa mengubah satu kata pun, terkadang hingga 14 halaman sekaligus.

Pesan-pesan yang didiktekan oleh Yesus disusun menjadi delapan buku. Pada tanggal 2 April 1998, kedelapan buku tersebut mendapatkan Imprimatur dari Uskup Agung Cochabamba, Mgr René Fernández Apaza, yang adalah salah seorang dari banyak saksi yang ikut menyaksikan secara langsung bagaimana Katya menulis tanpa referensi dari material apapun.

Salah satu pesan Yesus kepada Catlina adalah: “Apa yang ditulis tanganmu yang dibimbing oleh tangan-Ku akan tetap, diulang dan diperkuat oleh suara-suara lain hingga memenuhi Bumi…” [“The Great Crusade of Love”, Pesan 22]

Buku-buku tulisan Catalina itu dipersembahkan, pertama kepada alm Paus Yohanes Paulus II, sebagai rasul Evangelisasi baru. Catalina mengatakan, dari teladan hidup beliaulah, kami umat awam, belajar mengenai iman, keberanian dan kesalehan. Juga dipersembahkan kepada para imam. Catalina menulis, para imam sebagai tali pusat antara Tuhan dan manusia, yang menyampaikan rahmat Ilahi melalui pengampunan dan konsekrasi Ekaristi.

Saudara dan saudariku.
Peristiwa yang dialami oleh Catalina terjadi pada tanggal 25 Maret. (ada yang tahu, hari raya apa pada saat itu)

Pada malam sebelumnya ia menerima sakramen tobat sebagai persiapan perayaan ekaristi pada keesokan harinya.

Keesokan harinya ia datang agak terlambat. Iringan arak-arakan petugas liturgi sudah keluar dari sakristi.

Bunda Maria menampakan diri kepadanya dan mengatakan: “hari ini adalah hari pelajaran bagimu; dan aku ingin engkau memperhatikan dengan saksama sebab semua yang engkau saksikan hari ini, semua yang engkau alami pada hari ini, harus engkau bagikan kepada segenap umat manusia”

Hal pertama yang ia saksikan adalah suatu paduan suara yang sangat indah dan merdu yang bernyanyi seakan dari kejauhan. Terkadang musik datang mendekat dan kemudian menjauh seperti suara angin.

Ritus Tobat
Pada waktu ritus tobat, santa Maria mengatakan: “dari lubuk hatimu, mohonlah pengampunan Tuhan atas segala kesalahanmu karena telah menyakiti-Nya. Dengan demikian, engkau akan dapat berpartisipasi dengan pantas dalam hak istimewa ini, yakni ikut ambil bagian dalam misa kudus”

Terlintas dalam pikiran Cataliana: ”saya kan dalam keadaan berahmat. Saya kan baru mengaku dosa semalam.’

Bunda Maria menjawab: ”Apakah engkau pikir bahwa engkau tidak menyakiti Tuhan sejak tadi malam? Mari, aku ingatkan engkau beberapa hal....

Lintani kesalahannya…..
Pagi, tadi ketika pembantumu meminta sesuatu dari Anda, dan karena anda sudah terlambat, anda menjawab dengan tergesa-gesa dan tidak dengan cara yang baik”

“Engkau tiba pada menit-menit terakir ketika prosesi selebran menuju altar telah dimulai…dan engkau akan ikut ambil bagian dalam misa tanpa persiapan terlebih dahulu….?

Catalina: “Ya Bundaku…engkau tak perlu lagi mengingatkan aku akan lebih banyak hal lagi, sebab saya bisa mati karena sedih dan malu.

Bunda Maria: ”“mengapa kalian semua harus tiba di saat-saat terakhir? Kalian seharusnya tiba lebih awal agar kalian dapat berdoa dan memohon Tuhan mengutus Roh Kudus-Nya agar Roh Kudus menganugerahi kamu roh damai dan membersihkan kalian dari roh duniawi, kekuatiran, masalah, distraksi agar kalian dapat mengalami saat yang begitu sakral. Tetapi engkau tiba nyaris perayaan hendak dimulai, dan ikut ambil bagian dalam misa seolah misa adalah peristiwa yang biasa, tanpa ada persiapan rohani. Misa adalah anugerah teragung. Engkau akan mengalami saat ketika Allah yang mahatinggi memberikan anugerah-Nya yang teragung, dan engkau tidak menghargainya.”

Gloria
Ketika saat Gloria dinyanyikan, Bunda Maria mengatakan:
“Muliakanlah dan luhurkanlah Allah Tritungal Mahakudus dengan segenap kasihmu, dalam kesadaran diri sebagai makhluk ciptaan Tritunggal” …….

Saat liturgi sabda, Santa Maria mendiktekan sebuah doa dan memintanya mengulangi doa ini: “Tuhan, pada hari ini aku hendak mendengarkan sabda-Mu dan menghasilkan buah berlimpah. Kiranya Roh Kudus-Mu mempersiapkan ladang hatiku agar sabda-Mu dapat tumbuh dan berkembang di dalamnya. Tuhan, murnikanlah hatiku agar tertuju kepada-Mu”

Lebih lanjut santa Maria mengatakan: “Aku ingin engakau mendengarkan dengan saksama bacaan-bacaan dan seluruh homili imam. Ingatlah bahwa Kitab Suci mengatakan bahwa Sabda Allah tidak akan kembali tanpa menghasilkan buah. Apabila engkau mendengarkan dengan saksama, sesuatu dari semua yang telah engkau dengarkan akan tinggal padamu …….

Berusahalah untuk mengingat sepanjang hari, sabda yang berkesan bagimu. Terkadang, itu dapat berarti dua ayat, terkadang bacaa dari seluruh Injil, atau mungkin hanya satu kata saja. Resapkanlah sabda itu sepanjang hari maka ia akan menjadi bagian darimu, sebab dengan demikianlah caranya untuk mengubah hidup seseorang, dengan membiarkan Sabda Tuhan mengubahmu”

Katakan kepada Tuhan, bahwa engkau ada di sini untuk mendengarkan sabda-Nya, bahwa engkau rindu ia berbicara kepada hatimu pada hari ini”

Setelah itu, Catalina lalu mengucapkan doa syukur kepada Tuhan karena telah memberikan kesempatan kepadanya untuk mendengarkan sabda-Nya.

Dia juga memohon ampun atas sikap keras hati selama bertahun-tahun dan karena mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa mereka harus pergi ke gereja pada hari minggu karena demikianlah diperintahkan oleh gereja.

Ia juga memohon ampun karena selama itu ia menghadiri misa hanya karena memenuhi kewajiban, dan dia percaya bahwa dengan itu dia sudah bisa diselamatkan. Dia tidak pernah memberi perhatian pada bacaan-bacaan Kitab Suci atau homili imam.

Persembahan
Ketika tiba saat untuk persembahan, Santa Maria mengatakan: “berdoalah seperti ini (dan ia mengulanginya) ‘Allah, aku persembahkan segala keberadaanku, segala milikku, segala kemampuanku. Aku letakan semuanya ke dalam tangan-tangan-Mu ubalah aku, ya Allah yang Mahakudus, malalui jasa-jasa Putera-Mu…..

Aku berdoa bagi keluargaku, bagi para penderma, bagi setiap anggota apostolate kami, bagi semua orang yang menentang kami, bagi mereka yang mempercayakan diri mereka kepada doa-doaku yang miskin…ajarilah aku untuk meletakan hatiku di atas tanah di hadapan mereka, agar jalan mereka berkurang beratnya…..”

Tiba-tiba dia melihat beberapa figur yang tidak ia lihat sebelumnya, mulai berdiri. Seolah dari sisi setiap orang yang hadir di gereja saat itu, muncullah seorang yang lain. Segera gereja itu di penuhi oleh makhluk-makhluk muda yang menawan. Mereka mengenakan jubah yang sangat putih dan bersih; mereka mulai bergerak di lorong tengah gereja menuju ke altar

Bunda Maria mengatakan: “lihatlah, mereka adalah malaikat pelindung dari setiap orang yang ada di sini. Inilah saat di mana para malaikan pelindung kalian menyampaikan persembahan dan doa-doa kalian di hadapan altar Tuhan”

Perarakan itu begitu indah. Kaki mereka yang telanjang tidak menyentuh lantai, tetapi seakan meluncur.

Sebagian dari malaikat pelindung itu membawa sesuatu serupa mangkok emas dengan sesuatu di dalamnya, yang tampak bersinar cemerlang dengan cahaya putih keemasan.

Santa Maria mengatakan: “lihatlah mereka adalah para malaikat pelindung dari orang-orang yang mempersembahkan misa dengan banyak intensi, mereka yang sadar akan makna perayaan ini, mereka yang mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

Lebih lanjut Bunda Maria mengatakan: “persembahkanlah penderitaan, sakit, harapan, kesediahan, sukacita kalian. Haturkanlah permohonan-permohonan kalian. Ingatlah bahwa misa mengandung nilai yang tak terhingga. Sebab itu, bermurah hatilah dalam persembahan dan dalam permohonan”

Selanjutnya di belakang para malaikat yang pertama, datanglah malaikat-malaikat lain tanpa sesuatu pun di tangan mereka. Mereka datang dengan tangan kosong.

Santa Maria mengatakan: “mereka adalah para malaikat dari orang-orang yang meski hadir di sii, tetapi tidak pernah mempersembahkan apapun. Mereka tidak mempunyai minat untuk mengalami setiap saat liturgis dalam misa, sehingga para malaikat mereka tidak mempunyai persembahan untuk dihaturkan di hadapan altar Allah”

Di akhir prosesi, datang pula malaikat-malaikat lain yang tampaknya sedih, dengan tangan mereka terkatub dalam doa, tetapi mata mereka terarah ke bawah.

Maria: “mereka ini adalah para malaikat pelindung dari orang-orang yang ada di sini, namun tidak menghendakinya. Yakni orang-orang yang merasa terpaksa datang, yang datang kemari karena kewaiban, tanpa kerinduan untuk ikut ambil bagian dalam Misa Kudus. Malaikat mereka maju dengan sedih hati sebab mereka tidak mempunya sesuatu yang dihaturkan di hadapan altar, selain doa-doa mereka (para malaikat) sendiri.

Lebih lanjut Bunda Maria mengatakan: “janganlah mendukakan Malaikat Pelindungmu…mohonlah banyak-banyak. Mohonlah demi pertobatan orang berdosa, demi perdamaian dunia, demi sanak saudaramu, demi sesama, demi mereka yang meminta doamu. Mohonlah banyak-banyak, tidak hanya untuk dirimu sendiri, melainkan juga untuk semua orang.

“ingatlah persembahan yang paling menyenangkan Tuhan adalah ketika kalian mempersembahkan diri kalian sendiri sebagai korban bakaran agar Yesus, dengan turun-Nya ke dunia, dapat mengubah kalian melalui jasa-jasa-Nya sendiri…”

Prefasi
Ketika saat akhir dari prefasi, ketika semua umat menyanyikan “kudus, kudus, kuduslah Tuhan…..tampaklah beribu-ribu malaikat dalam suatu garis diagonal: ada yang kecil dan ada yg besar, ada yang bersayap lebar dan bersayap kecil….mereka semua mengenakan jubah putih seperti alba para imam atau misdinar.

Semuanya berlutut dengan tangan terkatub dalam doa dan menundukan kepala dalam suatu sikap yang hormat
Terdengar suara musik yang merdu, seolah ada begitu banyak paduan suara yang berpadu dalam harmoni dalam beragam suara. Semuanya bermadah sesuara dengan umat: “kudus, kudus, kudulah Tuhan….

Tibalah saat konsekrasi. Ini adalah saat yang paling mengagumkan dari semua mukjiat yang di alami oleh Catalina.

Apa yang dilihat oleh Catalina?

Di belakang uskup agung, tanpak suatu himpunan besar orang, juga dalam suatu garis diagonal. Mereka mengenakan jubah serupa dengan jubah para malaikat pelindung, tetap penuh warna warni yang amat lembut. Mereka semua berlutut juga dan bernyanyi: “kudus-kudus, kudus….

Bunda Maria mengatakan: ‘mereka adalah santo-santa, beato dan beata di surga. di antara mereka terdapat juga jiwa dari sanak saudara dan anggota keluarga kalian yang telah menikmati hadirat Tuhan.

Setelah itu, Catalina melihat Bunda Maria. Ia ada di sana, tepat di sebelah kanan Uskup… posisinya agak setapak ke belakang. Ia sedikit melayang di atas lantai, berlutut di atas suatu bantalan yang amat indah, transparan sekaligus bercahaya seperti kristal.

Santa Maria dengan tanganya terkatub dalam doa, memandang dengan penuh perhatian dan hormat kepada selebran. Maria berbicara dari sana kepada Catalina, tetapi tanpa suara, langsung ke hatinya, tanpa memandangnya”

Bunda Maria lalu berkata: “mengapa kamu merasa aneh bahwa saya berdiri agak ke belakang? demikianlah seharusnya… sekalipun begitu besar kasih Puteraku kepadaku, tetapi Ia tidak memberiku martabat seperti yang Ia berikan kepada seorang imam, yakni dapat mendatangkan Puteraku dalang tangan-tanganku setiap hari, seperti yang dilakukan oleh tangan-tangan imamat-Nya. Karena itu, aku merasakan hormat mendalam bagi seorang imam dan bagi segala mukjizat yang Tuhan selenggarakan melalui imam. Hal itu membuat aku berlutut di sini.

Pada saat itu, Catalina hanya bisa mengatakan: “ya Tuhanku, betapa tingginya martabat imamat yang Engkau limpahkan atas jiwa-jiwa imamat. Dan kita, bahkan mungkin sebagian dari mereka tidak menyadarinya”

Lalu, di depan altar tampaklah bayang-bayang manusia berwarna abu-abu dengan tangan terikat.

Santa Maria mengatakan: “mereka adalah jiwa-jiwa di api penyucian yang menantikan doa-doa kalian agar dibebaskan. Janganlah berhenti berdoa bagi mereka. Mereka berdoa bagi kalian, tetapi mereka tidak dapat berdoa bagi diri mereka sendiri.

Lebih lanjut Maria mengatakan: “banyak orang pergi mencariku ke mana-mana, di tempat-tempat ziarah di mana aku menampakan diri. Itu baik, sebab segala rahmat yang mereka terima dari sana. Tetapi tidak dalam penampakan manapun, juga tidak di tempat manapun aku hadir lebih lama (sepanjang waktu) dari pada di dalam misa kudus. Kalian akan mendapatiku di kaki altar di mana ekaristi dirayakan. Di kaki tabernakel, …..

Pada saat konsekrasi, Catalina melihat bahwa celebran diliputi oleh suatu cahaya adikodrati antara putih dan emas melingkupinya. Cahaya itu semakin bertambah kuat seputar wajahnya, sehingga Catalina tidak dapat melihat wajahnya.

Ketika celebran menunjukkan hosti, catalina melihat ada tangan yang ditandai bekas paku..dari tangan itu memancar cahaya yang berlimpah. Itu adalah Yesus. Dialah yang merenugkuh tubuh-Nya di sekelilin celebran.

Hosti semakin bertambah besar…dan di atasnya tampak wajah Yesus yang mengagumkan, memandang umat-Nya.

Secara naluri, catalina hendak menundukkan kepala, tetapi bunda Maria mengatakan: “janganlah menunduk, tegakan kepalamu untuk memandang dan mengkontemplasikan Dia.

Tataplah mata-Nya dan ulangi doa ini: “Tuhan, aku percaya, aku menyembah, aku berharap, dan aku mengasihi Engkau. Aku memohon pengampunan bagi mereka yang tidak percaya, yang tidak menyembah, yang tidak berharap dan yang tidak mengasihi Engkau.

Setelah itu, catalina menyaksikan peristiwa golgota terjadi di atas altar”.

Dan Santa Maria mengatakan: “Inilah mukjizat dari segala mukjizat. Inilah yang kukatakan kepadamu bahwa Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Pada saat konsekrasi, setiap umat dibawa ke kaki kalvari, pada saat penyaliban Yesus terjadi”

Dapatkah seorang membayangkan hal ini? Mata kita memang tidak dapat melihatnya, tetapi kita semua ada di sana tepat pada saat Yesus disalibkan. Dan Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, tidak hanya bagi mereka yang hendak telah menyalibkan-Nya tetapi bagi kita semua: ‘Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”

Bapa Kami
Bapa saat hendak mendaraskan Bapa Kami, Yesus berbicara untuk pertama kalinya sepanjang perayaan itu. Ia mengatakan: “Tungguh, Aku menghendaki kalian mendoakannya dengan hikmat. Pada saat ini, Aku menghendaki kalian memikirkan seseorang atau orang-orang yang telah melakukan kesalahah terbesar dalam hidupmu, agar engkau dapat memeluk mereka erat-erat dan mengatakan kepada mereka dari lubuk hatimu ‘dalam nama Yesus, aku mengampunimu dan memberikan damaiku kepadamu’

Salam Damai
Pada saat salam damai, catalina melihat di antara sebagian (tidak semua) orang yang saling memeluk satu sama lain, suatu cahaya yang amat kuat menempatkan diri di antara mereka.

Ketika Celebran menyantap komuni kudus, Santa Maria mengatakan: “inilah saatnya untuk berdoa bagi celebran dan para imam.

Bunda Maria lalu mendiktekan sebuah doa: “Tuhan, berkatilah mereka, kuduskanlah mereka, tolonglah mereka, murnikanlah mereka, kasihilah mereka, peliharalah mereka dan topanglah mereka dengan kasih-Mu.

Bunda Maria menghendaki agar kita mendoakan semua imam di seluruh dunia pada saat itu.

Catalina merasa sedih begitu banyak umat menuntut dari para imam, tetapi tidak pernah berdoa bagi mereka.

Catalina menulis: ”Tuhan menghendaki umat dalam kawanan, yang dipercayakan Tuhan kepada imam, berdoa bagi imam mereka dan membantu dalam pengudusannya. Suatu hari, apabila kita telah berada di dunia yang lain, kita akan mengerti betapa mengagumkan yang telah Tuhan lakukan dengan memberikan bagi kita, imam-imam untuk membantu menyelamatkan jiwa kita…

Saat komuni, ketika Catalina hendak maju, Yesus berkata kepadanya: “tunggu sebentar, Aku ingin engkau mengamati sesuatu..
Tiba-tiba dia merasakan dorongan batin untuk melihat seseorang yang menyambut komuni di lidah dari tangan imam… muncullah bagi satu kilasan cahaya yang amat putih keemasan, menembusi pertama-tama pungung orang itu dan lalu melingkupi punggungnya, pundaknya dan kepalanya.

Orang itu adalah orang yang sebelum misa pagi itu, membuat pengakuan atas dosa-dosanya....dia datang ke kamar pengakuan dulu.

Yesus mengatakan: “begitulah sukacitaku memeluk suatu jiwa yang datang dengan hati yang bersih menyambut-Ku”

Nah…betapa kita kehilangan kesempatan ini karena menyambut komuni dalam keadaan berdosa baik kecil maupun besar.

Janganlah kita memiliki keberanian untuk menyambut Yesus setiap saat dengan hati yang kotor.

Berkat Penutup
Kalau di paroki kita, sebelum berkat penutup banyak umat yang sudah keluar.... tanda salib juga dibuat dengan tidak hormat karena pingin cepat-cepat selesai.

Dalam penglihatan Catalina, Bunda Maria mengatakan: “perhatikanlah…berhati-hatilah… banyak dari kalian membuat tanda kuno dan bukannya Tanda Salib. Ingatlah bahwa berkat ini dapat menjadi berkat yang terakhir yang kalian terima dari tangan seorang imam. Kalian tidak tahu apakah setelah meninggalkan tempat ini, kalian akan meninggal atau tidak. Kalian tidak tahu apakah kalian beroleh kesempatan untuk menerima berkat dari imam lain.

Tangan-tangan yang telah dikonsekrasikan itu memberikan kalian berkat dalam nama Tritunggal Mahakudus. Sebab itu, buatlah Tada Salib dengan hormat, seolah itulah yang terakhir dalam hidupmu.”

Saudara dan saudariku
Betapa banyak kita kehilangan kesempatan yang berharga untuk mengalami kasih Allah karena tidak mengikuti Ekaristi dengan baik.

Banyak orang juga menghindari misa pada hari Minggu dan Hari Raya karena alasan yang remeh.

Kita punya banyak waktu untuk belajar, bekerja, bermain, beristirahat tetapi tidak punya waktu setidaknya pada hari Minggu untuk ikut misa.

Setelah Berkat Penutup, Yesus meminta Catalina untuk tinggal sedikit lebih lama sesudah misa. Yesus berkata: “Janganlah bergegas pergi begitu Misa selesai, tinggallah beberapa saat bersama-Ku. Nikmatilah dan biarkanlah Aku menikmati kebersama denganmu.

Yesus: “Aku rindu menyelamatkan ciptaan-Ku, sebab saat pembukaan pintu surga telah diserapi dengan begitu banyak sakit…..Ingatlah bahwa bahkan tak seorang ibu pun pernah memberi makan anaknya dengan dagingnya sendiri. Aku telah melampaui tindakan kasih yang ekstrim itu demi menganugetahi jasa-jasa-Ku kepada kalian semua”

Minggu Paskah IV_Tahun C_2010

Pastor Tonny Blikon, SS.CC

Saudara dan saudariku
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata bahwa: “domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan mereka mengikuti Aku”. Saya mengajak kita untuk hening sejenak dan merenungkan tentang sikap mau mendengarkan ini….pertanyaannya adalah apakah kita sungguh rela mendengarkan suara Tuhan?” Pada masa ini, mendengarkan suara Tuhan menjadi sesuatu yang sangat sulit karena di sekitar kita ada begitu banyak suara yang mencoba mengganggu konsentrasi kita. Bahkan ada yang lebih parah bahwa ada begitu banyak suara yang berusaha untuk menjadi ‘gembala kita”. Dalam kotbah saya 2 tahun yang lalu, pada hari Minggu Paskah ke-4 ini saya membuat Mzm untuk orang zaman ini tentang TV adalah gembalaku. Ada yang masih ingat?

TV itu adalah gembalaku, aku tak akan berkekurangan Ia membaringkan aku di sofa yang empuk dan membimbing aku untuk jauh dari Tuhan, Ia menghancurkan jiwa-ku.

Ia menuntun aku di jalan seks dan kekerasan atas nama iklan dan sensasi. Sekalipun berada dalam bayangan tugas dan tanggung jawab iman tidak akan ada yang mengganggu sebab TV selalu bersamaku.

Remote control itulah yang menghibur aku. Ia menuntun aku kepada acara kesukaanku. Ia mengurapi kepalaku sekularisme dan consumerisme. Dan ketamakanku semakin bertambah

Rasa tidak peduli dan kemalasan akan mengiringi aku sepajang hidupku. Aku akan tinggal di kamarku dengan TV bersamaku.

Saudara dan saudariku
Acara-acara di Televisi, terutama sinetron, Radio, HP, Facebook, Twiter dll… adalah suara-suara yang berusaha untuk menjadi gembala atau yang menuntun hidup kita pada zaman ini.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata bahwa domba-domba-Nya mendengarkan suara-Nya dan mengikuti Dia. Kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri: apakah kita sungguh mengikuti Yesus. Pertanyaan ini bukan hanya soal apakah kita selalu datang ke gereja pada hari minggu, tetapi lebih menyangkut hidup kita sehari-hari. Apakah kita mengikuti Yesus setiap hari? Apakah kita mencoba untuk mendengarkan suara-Nya melalui bacaan-bacaan rohani dan merenungkan apa yang Tuhan kehendaki dari diri kita? Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan seberapa banyaknya waktu yang kita gunakan setiap hari untuk hening dan mau mendengarkan suara Tuhan? Di dalam gereja ketika perayaan ekaristi sedang berlangsung, kita bahkan tidak bisa hening…apalagi dalam kehidupan kita sehari-hari? Adakah waktu bagi kita untuk merenungkan firman Tuhan?

Ada sebuah lagu yang syairnya kira-kira begini:

Adakah waktu di hidupmu untuk firman kehidupan..
rahmat dan kasih Tuhan bagimu sudikah kau terima.....

Sangat disayangkan bahwa hidup kita selalu dihiruk pikuki dengan berbagai macam hal dan persoalan, sehingga hampir tidak ada sempat untuk menyisihkan sedikit waktu untuk hening di hadapan Tuhan. Juga kalau kita minta untuk diam dan hening…kita mulai merasa tidak tenang karena kita tidak terbiasa. Dengan demikian kita tidak akan mampu mendengar suara Tuhan yang lembut menggema di dalam hati kita.

Saudara dan saudariku
Dalam hidup ini, kita membutuhkan saat-saat hening untuk mendengarkan suara Tuhan karena Tuhan berbicara kepada kita di dalam keheningan batin.

Selain itu, Tuhan juga memberikan kita para gembala (para pastor, para uskup dan Paus) yang bertugas untuk mewartakan kebenaran iman yang harus diikuti oleh kaum beriman melalui homily dan pengajaran-pengajaran. Tetapi seberapa jauh kita mau mendengarkan dan meresapkan pesan-pesan Injil yang dijabarkan di dalam homili? Yang ada terkadang hanyalah keluhan: kotbahnya lama, membosankan?

Keluhan-keluhan itu muncul boleh jadi karena orang tidak terbiasa untuk diam dan hening. Sehingga akhirnya orang menyibukan diri dengan HP bahkan di dalam gereja.

Saudara dan saudariku
Ada banyak suara yang berusaha menjadi ’gembala’ kita. Sudah saya sebutkan di atas tadi. Tanyakanlah pada dirimu sendiri: apakah suara-suara itu membimbingmu untuk semakin dekat dengan Yesus atau semakin jauh dengan Yesus? Saya yakin kita semua tahu jawabannya.

Saudara dan saudariku….
Ada banyak hal pernah saya katakan dalam homily-homily saya. Terkadang memang keras tetapi memang kebenaran itu harus diwartakan. ”Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun” (Ibr 4:12). Saya sendiri tidak takut kalau memang ada yang membenci saya karena homili-homili saya terkesan keras. Dalam bacaan I hari ini, Paulus dan Barnabas pun melakukan hal yang sama. Mereka mewartakan kebenaran dan mereka tidak gentar oleh siapapun.

Hal yang seringkali saya kritik adalah soal judi dan rentenir. Namun yang menjadi pergulatan saya adalah sejauh mana umat mau mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah dengan meninggalkan segala praktek pemiskinan terhadapan keluarga dan sesama itu?

Saya yakin bahwa Yesus tidak pernah diam melihat segala macam praktek itu? Yesus justru mau mengatakan apa yang terjadi dengan orang-orang semacam itu jika mereka tidak mau bertobat.

Beberapa hari yang lalu, Pak Karsono bertanya kepada saya, Rm ada yang telp tanya ”kalau kita katolik, boleh nda ya untuk menjalankan uang”. Yang bertanya itu saya harap hadir di sini dan inilah jawabannya. Saya menjawab dengan mengutip KS:

Yes 33: 14-15 berbunyi: "Siapakah di antara kita yang dapat tinggal dalam api yang membasmi? Siapakah di antara kita yang dapat tinggal di perapian yang abadi ?" Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, artinya yang tidak menjalankan rentenir.

Saudara dan saudariku
Hal lain yang juga seringkali saya singgung adalah sikap kita di dalam gereja ini, ketika Perayaan Ekaristi sedang berlangsung.

Saya mau tanya: pernah nonton Film ‘the passion of the Christ? Bagaimana perasaanmu? Apakah anda menghargai pengorbanan diri Yesus itu?

Nah...ekaristi adalah saat di mana kita menghadirkan kembali peristiwa pengurbanan diri Yesus yang Ia laksanakan di atas puncak gunung kalvari. Artinya peristiwa itu kembali terjadi sekali lagi hanya dengan cara yang berbeda itu melalui simbol dan tanda. Tapi bagaimanakah sikap kita? Kalau kita sungguh menghargai pengorbanan diri Yesus, maka kita pasti diam dan bersikap hormat ketika ekaristi sedang berlangsung.

Dalam perayaan ekaristi ini, Yesus sekali lagi mengobankan diri-Nya bagi kita agar kita memperoleh hidup yang kekal.

Karena itu pentinglah kita mempersiapkan diri dalam perayaan ekaristi. Jika ada dosa dan kesalahan yang berat maka baiklah kita datang kepada Yesus dalam sakramen rekonsiliasi. Janganlah kita berani menyambut komuni jika kita merasa ada dosa yang masih kita sembunyikan.

“Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (699).”

“Sungguh amat menyakitkan hati-Ku apabila jiwa-jiwa religius menerima Sakramen Cinta Kasih hanya karena kebiasaan belaka, seolah mereka tak mengenali santapan ini. Aku tak mendapati baik iman maupun kasih dalam hati mereka. Aku datang ke dalam jiwa-jiwa demikian dengan keengganan besar. Akan lebih baik seandainya mereka tak menerima Aku (1258)….”

Saudara dan saudariku
Dalam bacaan II hari ini, kita mendengar bahwa Anak Domba yang duduk di tengah-tengah tahta kemuliaan dan akan menuntun orang-orang kepada mata air kehidupan. Karena itu, kita perlu untuk mencari waktu untuk mendengarkan suara-Nya dan mengikuti-Nya. Suara Allah itu sudah tertulis di dalam KS dan dimaksudkan agar kita menjalankannya. Jangan pernah mengatakan bahwa anda tidak pernah tahu akan suatu perintah atau nasihat yang harus dijalankan. Dalam pengadilan terakhir, anda tidak bisa membela diri dengan mengatakan: ”oh..Rm kami nda pernah kotbah tentang hal itu” Yesus telah memberikan kita masing-masing Roh Kudus yang membimbing kita kepada kebenaran.

Karena itu pentinglah bahwa dalam hidup ini ada saat-saat dimana kita duduk hening untuk mendengarkan suara Tuhan yang menggema lembut di dalam hati kita. Bacaan-bacaan KS dapat membantu kita untuk masuk dalam keheningan dan berdialog dengan Tuhan. Dan setelah itu, kita harus mengikuti apa kata Tuhan untuk memastikan bahwa kita adalah domba-domba pengembalaan-Nya, sebagaimana dalam Injil hari ini, jelas dikatakan bahwa: “domba-domba-Ku mendengar-kan suara-Ku dan mereka mengikuti Aku”.

Pastor Tonny Blikon, SS.CC

Pesta Kerahiman Ilahi



Pengantar
Saudara dan saudariku
Hari ini adalah minggu II Paskah yang juga dikenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. “Yesus, engkaulah andalanku,” Jesus, I trust in you” suatu ungkapan yang menyatakan sikap penyerahan diri yang hendaknya kita ungkapkan secara bersama kepada Yesus penyelamat kita karena kita menyadari kedosaan diri kita serta keinginan untuk mengalami pengampunan. Kita merayakan pesta Kerahiman ini, bukan saja karena permintaan Yesus sendiri melalui Sta. Maria Faustina, tetapi juga mengungkapkan kerinduan kita untuk mengalami Kerahiman Ilahi dan pengampunan Allah. Karena itu, baiklah pada awal perayaan ini kita mengungkapkan segala dosa dan kesalahan kita, sambil verharap dan percaya akan Kerahiman Ilahi.

Homily:

Saudara dan saudariku
Sebagaimana telah saya singgung pada pengantar tadi bahwa hari ini adalah Hari Minggu Kerahiman. Akan tetapi sebelum membicarakan hal ini, saya ingin mengajak kita untuk melihat sekilas tentang tradisi tentang hari minggu paskah kedua ini. Secara tradisional, hari ini dikenal dengan beberapa nama. Misalnya, Hari Minggu Kedua Paskah, Hari Minggu dalam oktaf paskah, Hari Minggu Thomas, Hari Minggu Putih, sekarang lebih dikenal sebagai hari minggu Kerahiman Ilahi. Setiap nama yang saya sebutkan tadi memfokuskan salah satu aspek dari perayaan kita hari ini.

Disebut sebagai hari minggu II paskah, dapat dengan mudah dipahami karena hari raya paskah kemarin adalah hari diangkap sebagai hari pertama paskah.

Disebut sebagai hari Minggu dalam oktaf paskah juga dapat dengan mudah dipahami kalau kita menghitung sejak hari minggu kemarin sampai hari ini yaitu hari ke delapan. Oktaf artinya ke delapan.

Disebut sebagai Hari Minggu Thomas karena bacaan Injil hari ini, berceritra tentang ketidakpercayaan rasul Thomas akan kebangkitan Yesus, sebelum ia mencucukan jari tangan ke dalam bekas paku pada lambung dan tangan Yesus. Kisah ingin mengatakan kepada kita bahwa kita pun seringkali mengalami keragu-raguan dalam iman dan kepercayaan kita, tetapi cinta Allah senantiasa memanggil kita untuk kembali kepada-Nya. Terberkatilah mereka yang sekalipun tidka melihat namun percaya. Kisah St. Thomas ini menawarkan kepada kita cara beriman yang lain. Bukan melihat baru percaya tetapi percaya sekalipun tidak melihat.

Disebut sebagai hari Minggu Putih, karena pada zaman dulu, orang-orang yang dibaptis pada malam paskah, selalu mengenakan pakaian putih sepanjang minggu ini, dan baru pada hari ini, mereka menanggalkan pakaian putih itu dalam perayaan ini. Tradisi ini tidak lagi dikenal pada zaman sekarang.

Untuk saat ini, hari ini lebih dikenal sebagai Hari Minggu Kerahiman. Ini merupakan pesta yang agak baru dan sangat menarik bagi saya, karena ini merupakan satu-satunya pesta yang didasarkan pada pewahyuan pribadi kepada St. Faustina. Yesus sendiri yang menghendaki agar hari ini dirayakan hari pesta Kerahiman Ilahi-Nya. Yesus sendiri menentukan bahwa Hari Minggu sesudah paskah, dirayakan sebagai Hari Minggu Kerahiman.

Saya mau Tanya: berapa dari umat yang mengadakan novena Kerahiman Ilahi yang dimulai pada hari Jumad Agung yang lalu?

Mungkin ada yang belum pernah dengar atau dengar hanya sekilas tentang Devosi Kerahiman Ilahi ini. Memang devosi ini relative agak baru. Adalah Paus Yohanes Paulus II-lah yang menetapkan bahwa Hari ini adalah Hari Minggu Kerahiman ini berdasarkan kehendak Yesus sendiri. Sebelum itu, devosi Kerahiman Ilahi ini dilarang oleh gereja terutama oleh uskup setempat di mana Sta. Faustina hidup. Tetapi setelah Kardinal Karol Wojtyla terpilih, dia merasa terpanggil untuk memperkenalkan devosi ini. Dan setelah terpilih menjadi Paus, ia justru memperkenalkan devosi ini kepada seluruh gereja. Tergerak oleh permenungan akan Allah sebagai Bapa yang Maharahim, maka beliau menghendaki agar sejak saat ditetapkannya, Minggu Paskah II secara resmi dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi oleh segenap Gereja semesta. Hal ini dimaklumkan beliau pada tanggal 30 April 2000, tepat pada hari kanonisasi St Faustina Kowalska.

Saudara dan saudariku
Terdorong oleh semangat yang berkobar untuk menggairahkan semaksimal mungkin praktek Devosi Kerahiman Ilahi dalam diri umat Kristiani dengan harapan mendatangkan buah-buah rohani yang berguna bagi kaum beriman, maka pada tanggal 13 Juni 2002, Almarhum Yohanes Paulus II memaklumkan bahwa Gereja memberikan indulgensi, baik indulgensi penuh maupun sebagian, kepada mereka yang mempraktekkan Devosi Kerahiman Ilahi dengan syarat-syarat seperti yang ditetapkan Gereja.

Saudara dan saudariku
Tentang Pesta yang kita rayakan hari ini, Yesus sendiri mengatakan:

“Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasih-Ku yang paling lemah lembut (420)…. Adalah kehendak-Ku agar pesta ini dirayakan dengan khidmad pada hari Minggu pertama sesudah Paskah.… Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku (699)”

Saudara dan saudariku
Dari permintaan Yesus di atas, kita bisa meliht bahwa inilah hari di mana Kasih Allah dilimpahkan ke dalam hati kita dengan cara yang lebih istimewa. Yesus berjanji untuk menganugerahkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman pada Pesta Kerahiman Ilahi, seperti dicatat sebanyak 3 kali dalam Buku Catatan Harian Sta. Faustina. Setiap kali dengan cara berbeda.

“Aku akan menganugerahkan pengampunan penuh kepada jiwa-jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus pada Pesta Kerahiman Ilahi (1109).”

“Jiwa yang menghampiri Sumber Hidup pada hari ini akan dianugerahi pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (300).”

“Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (699).”

Lebih lanjut Yesus mengatakan:
Yesus sendiri memberikan janji itu. Dia katakan: “Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku. Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman. Pada hari itu seluruh pintu-pintu rahmat Ilahi dari mana rahmat-rahmat mengalir akan dibuka (699).”

Saudara dan saudariku.
Dari kutipan-kutipan dari catatan harian Sta. Faustina di atas, Nampak bahwa Tuhan kita menunjukkan dengan jelas apa yang Ia tawarkan kepada kita dalam Komuni Kudus dan betapa amat melukai hati-Nya apabila kita acuh tak acuh terhadap kehadiran-Nya. Tentang hal ini, Yesus katakan dalam beberapa kutipan berikut ini:

“Sukacita-Ku yang besar adalah mempersatukan DiriKu dengan jiwa-jiwa. Apabila Aku datang ke dalam hati manusia dalam Komuni Kudus, tangan-tangan-Ku penuh dengan segala macam rahmat yang ingin Aku limpahkan atas jiwa. Namun, jiwa-jiwa bahkan tak mengindahkan Aku; mereka mengacuhkan DiriKu dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Oh, betapa sedih Aku sebab jiwa-jiwa tak mengenali Kasih! Mereka memperlakukan-Ku bagaikan suatu benda mati (1385)….”

“Sungguh amat menyakitkan hati-Ku apabila jiwa-jiwa religius menerima Sakramen Cinta Kasih hanya karena kebiasaan belaka, seolah mereka tak mengenali santapan ini. Aku tak mendapati baik iman maupun kasih dalam hati mereka. Aku datang ke dalam jiwa-jiwa demikian dengan keengganan besar. Akan lebih baik seandainya mereka tak menerima Aku (1258)….”

“Betapa menyakitkan Aku bahwa jiwa-jiwa begitu jarang mempersatukan dirinya dengan-Ku dalam Komuni Kudus. Aku menanti jiwa-jiwa, dan mereka acuh tak acuh terhadap-Ku. Aku ingin mencurahkan rahmat-rahmat-Ku atas mereka, tetapi mereka tak hendak menerimanya. Mereka memperlakukan-Ku bagaikan suatu benda mati, padahal Hati-Ku penuh cinta dan belas kasih. Agar engkau dapat memahami setidak-tidaknya sedikit rasa sakit-Ku, bayangkanlah seorang ibu yang paling lembut hati, yang amat mengasihi anak-anaknya, namun anak-anaknya itu menolak kasihnya. Bayangkan betapa pilu hatinya. Tak seorang pun akan mampu menghibur hatinya. Begitulah, gambaran akan kasih-Ku (1447).”

Saudara dan saudariku
Janji Yesus akan pengampunan penuh merupakan suatu peringatan sekaligus panggilan. Suatu peringatan bahwa Ia nyata hadir dan nyata hidup dalam Ekaristi, berlimpah kasih bagi kita, menanti kita datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan. Suatu panggilan bagi kita semua untuk dibasuh bersih dalam Kasih-Nya melalui Sakramen Tobat dan Komuni Kudus - dan kita memulai hidup baru kembali. Yesus menawarkan kepada kita suatu permulaan yang baru, suatu lembaran yang bersih.

Kita renungkan pesan-pesan Yesus ini dan bertanya dalam diri kita sendiri, bagaimana kita mempersiapkan diri untuk perayaan ekaristi dan bagaimana kita bersikap selama ekaristi sedang berlangsung?

Minggu III Prapaskah - Tahun C - 2010


Tonny Blikon, SS.CC

Kel 3:1-8, 13-15 I Kor 10:1-6, 10-12 Luk 13:1-9

Saudara dan saudariku
Tema minggu pengajaran pada bulan Maret ini adalah Sakramen Rekonsiliasi. Akan tetapi sebelum berbicara mengenai hal itu, saya ingin mengajak kita untuk melihat bacaan pertama hari ini; tentang penampakan Allah kepada Musa. Dalam permenungan saya, ada 2 hal menarik yang kiranya perlu mendapat perhatian kita bersama.

Pertama, penampakan itu terjadi bukan dalam Bait Allah atau di suatu tempat ibadat tertentu, tetapi di padang gurun – salah satu tempat yang sangat profan – kalau kita mau membedakan antara ‘yang kudus’ dan ‘yang profan’.

Kedua, penampakan itu terjadi bukan pada saat Musa berdoa tetapi ketika ia sedang melakukan pekerjaannya sehari-hari; menggembalakan kawanan domba milik Yitro, mertuanya.

Jadi, Allah menampakan diri-Nya kepada Musa di tempat yang sangat biasa – profan dan ketika ia sedang sibuk melakukan tugas kesehariannya.

Saudara dan saudariku.
Manusia zaman ini semakin kehilangan cita rasa akan kekudusan dan kehadiran Allah dalam dunia. Dunia telah menjadi tempat yang sangat profan. Di dalam gereja saja, yang notabene sebagai tempat kudus, yang dikhususkan bagi doa dan ibadat orang ribut dan lari ke sana ke mari. Atau sesudah misa, orang menjadikan tempat ini sebagai tempat ngobrol, bergossip ria …. apalagi kalau di luar gereja atau tempat ibadat lainnya. Singkatnya manusia mulai kehilangan cita rasa akan kekudusan dan kehadiran Allah dalam dunia.

Dengan ilmu pengetahuan, manusia merasa bisa menjelaskan segala sesuatu yang terjadi tanpa mau mengakui peranan Allah di balik setiap peristiwa yang terjadi. Untuk orang zaman ini, istilah ‘misteri’ itu tidak terlalu dipandang karena sesuatu yang belum bisa terungkap itu hanya tinggal menunggu waktu saja. Manusia merasa bahwa semua peristiwa alam maupun sosial bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Hal ini berakibat bahwa manusia sudah sangat sulit untuk mengenal kehadiran Allah dalam setiap peristiwa alam atau peristiwa hidupnya setiap hari. Orang tidak lagi mengakui kehadiran Allah dalam kesibukannya setiap hari atau orang tidak lagi mengikutsertakan Allah dalam kesibukannya setiap hari.

Namun dalam bacaan I hari ini kita mendengar bahwa Allah justru membuat diri-Nya dikenal dalam dunia yang sangat profan dan ketika Musa sibuk dengan ruthinitas hariannya. Perbedaan antara ’yang profan’ dan ’yang kudus’ itu hanyalah kategori manusia tetapi bagi Allah semua tempat adalah kudus. Allah tidak hanya hadir di gereja dan pada hari minggu atau ketika kita sedang berdoa saja tetapi Allah dapat membuat diri-Nya hadir dan dikenal dalam situasi yang sangat biasa. Bacaan pertama hari ini mengajak kita untuk mengenal Allah dalam ruthinitas harian kita. Kita diajak untuk mengenal gerakan roh Kudus yang membimbing kita dalam setiap tindakan harian.

Saudara dan saudariku
Tadi dikatakan bahwa ketika Musa diliputi oleh kekaguman akan semak berduri yang bernyala tetapi tidak terbakar itu, ia ingin mendekat dan melihat apa yang terjadi. Tetapi Allah berfirman kepadanya: ”Musa! Musa! Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkan kasutmu dari kakimu, sebab tempat, dimana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus.”

Allah mengatakan bahwa tanah di mana Musa berdiri adalah tanah yang kudus. Suatu pertanyaan untuk kita: Mengapa sejengkal tanah di mana Musa berdiri itu adalah tanah yang kudus? Apa yang membuat tanah itu menjadi tanah yang kudus?

Karena Kehadiran Allah. Kehadiran Allah-lah yang membuat tanah di mana Musa berdiri itu adalah tanah yang kudus.

Kita semua yang hadir sekarang ini sedang berdiri di atas tanah yang kudus karena kehadirian Allah yang memenuhi tempat ini. Kalau orang tidak lagi menyadari bahwa gereja ini adalah tempat yang kudus, itu berarti ia tidak lagi menyadari kehadiran Allah di dalam gereja ini.

Saudara dan saudariku
Kalau tempat di mana kita berdiri atau duduk sekarang ini adalah tempat yang kudus, lantas apa yang harus kita lakukan? Kita memang tidak perlu menanggalkan kasut seperti Musa dalam bacaan I tadi atau seperti orang muslim yang mau masuk Masjid, tetapi satu hal yang harus kita miliki sebelum masuk ke dalam gereja atau selama berada di dalam gereja adalah rasa hormat. Rasa hormat karena kehadiran Allah yang memenuhi tempat ini. Allah sungguh hadir di tempat ini... tetapi hendaknya kita juga ingat – seperti dalam bacaan I tadi – bahwa Allah hadir tidak hanya di tempat ini, tetapi Allah bisa dijumpai di mana saja. Artinya bahwa di mana pun kita berada, kita berdiri di atas tanah yang kudus karena bagi Allah seluruh dunia ini adalah tempat yang kudus.

Saudara dan saudariku
Hari ini Allah menyapa setiap kita dengan mengatakan: ”....tempat di mana engkau berdiri adalah kudus”. Seluruh dunia yang telah Allah berikan kepada kita adalah tanah yang kudus. Hal ini berarti bahwa kita harus memperlakukan lingkungan di mana kita tinggal sebagai tempat di mana kita bisa berjumpa dengan Allah.

Saudara dan saudariku
Berbicara tentang ’tanah yang kudus’ bukanlah sesuatu yang berada di luar diri kita tetapi pertama dan terutama adalah sesuatu yang ada di dalam diri kita.

Pertama adalah Tubuh. Tubuh kita adalah ’tanah’ yang kudus karena tubuh adalah karya Allah. Oleh karena itu, kita harus menghormati dan menjaga tubuh kita. St. Paulus memberikan alasan mengapa kita harus menghargai tubuh kita dengan mengatakan: ”tubuhmu adalah kenisah Roh Kudus yang telah diberikan Allah” (1 Kor 6:19)

Kedua adalah pikiran. Pikiran kita adalah ’tanah yang kudus.’ Banyak orang suka mengisi pikiran mereka setiap hari dengan hal-hal yang kotor yang diterima dari televisi, radio, majalah, internet dll. Setiap hari pikiran kita dicecokin dengan berita-berita tentang kejahatan, ketidakadilan, gossip, pornografi dll. Acara TV yang paling diminati oleh kaum ibu adalah gossip, silet, kabar-kabari.... St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi mengatakan: ”Pikirkanlah selalu tentang segala yang benar, kudus, adil, murni, yang indah dan luhur. Perhatikanlah segala yang patut dipuji dan dikagumi” (Flp 4:8). Sekali lagi, pikiran kita adalah ’tanah yang kudus; oleh karena itu baiklah kita mengikuti nasihat St. Paulus di atas.

Ketiga adalah hati. Hati merupakan tanah yang paling kudus yang terdapat di dalam diri kita. Manusia zaman ini lebih mementingkan penampilan luar. Mereka lebih memperhatikan kebersihan luar yang bisa dilihat tetapi mengabaikan kebersihan dan kemurnian dari dalam yaitu kemurnian hati. Yesus pernah berkata: ”tidak ada sesuatu pun dari luar yang masuk ke dalam manusia dapat menajikannya. Apa yang yang keluar dari manusia, itulah menajikan. Sebab pikiran jahat keluar dari hati” (Mrk 7: 15, 21).

Segala pikiran, perkataan dan perbuatan kita berasal dari hati. Hati merupakan inti kepribadian seseorang. Hati itu bagaikan sumber mata air tersembunyi yang mengalirkan hasrat, keinginan, perkatan dan tindakan kita. Jika sumber itu bersih maka semua yang berasal dari padanya akan bersih pula.

Karena itu saudara dan saudariku marilah kita berusaha untuk menjaga hati kita agar tetap bersih dan murni supaya kita bisa berjumpa dan mengalami Allah. Yesus pernah berkata: ”berbahagialah orang yang murni hatinya karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8)

Nah bagaimana menjaga hati kita agar tetap bersih dan murni? Yaitu melalui sakramen rekonsiliasi; sakramen yang paling tidak populer di kalangan orang katolik sendiri.

Saya akan mengajak kita untuk melihat tradisi pertobatan ini dalam sejarah gereja Katolik. Konsili Nicea I tahun 325 menegaskan bahwa ”Orang Kristen yang berdosa berat tetap diterima sebagai warga gereja walaupun mereka dilarang menerima Komuni dalam perayaan Ekaristi. Mereka baru di ijinkan mererima Komuni lagi setelah menjalani suatu proses pertobatan yang cukup lama dan berat.”

Saya kira ajaran klasik ini perlu ditekankan kembali. Kenyataan banyak umat menerima komuni suci dalam keadaan tidak berahmat. Hal ini disebabkan karena hilangnya cita rasa akan kekudusan dan cita rasa akan dosa.

Konsili Toledo III (tahun 589) mempertahankan tradisi lama dalam hal pertobatan ini dimana seorang pendosa berat harus menjalani masa penitensi yang cukup lama dan berat. Selama masa penitensi, ia dilarang menerima Komuni dalam perayaan ekaristi, baru setelah ia mendapat ABOLUSI didepan seluruh umat, dan diijinkan menerima komuni lagi sebagai lambang bahwa ia diterima kembali menjadi warga penuh dalam jemaat.

Konsili Lateran IV mengajarkan bahwa setiap orang Kristen yang sudah menggunakan akal wajib melaksanakan pertobatan dan menerima pengampunan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.

Pertobatan tersebut harus dilakukan secara rahasia di hadapan pastornya masing-masing.... Dalam Konsili tersebut, juga ditegaskan bahwa imam punya kewajiban berat untuk merahasiakan apapun yang ia ketahui dari pengakuan dosa yang dilayaninya. Imam yang membocorkan rahasia pengakuan dosa akan mendapat sanksi berat dari pimpinan gereja, yakni di jebloskan ke biara tertutup untuk melakukan penitensi seumur hidup.

Saudara dan saudariku.
Ada yang pernah mempersoalkan: ”mengapa kita harus mengaku dosa ke pastor? Bukankah pastor juga adalah manusia?

Saudara dan saudariku
Setiap sakramen baru sah dan berdaya guna atau berbuah kalau mempunyai dua unsur yang penting di dalamnya yaitu Forma dan Materi. Misalnya sakramen baptis: Materi: air; sedangkan Forma: Aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

Atau sakramen perkawinan, materi: seorang pria dan seorang wanita yang belum pernah menikah atau tidak terhalang oleh hukum gereja. Sedangkan Forma: di hadapan imam dan dua orang saksi.

Demikian pun sakramen rekonsiliasi. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita bisa langsung mengaku begitu saja kepada Allah seperti kaum protestan. Sekali lagi setiap sakramen itu baru punya daya kalau memiliki dua unsur di dalamnya yaitu Forma dan Materi.

Apakah yang menjadi Forma dan Materi dari sakramen rekonsiliasi?

Dalam konsili Florence tahun 1439 ditegaskan bahwa quasi-materia dari sakramen tersebut adalah hal-hal yang dilakukan penitent, yakni : Contritio (sesal sempurna atas dosa-dosa dan niat untuk tidak berdosa lagi), Confessio (pengakuan dosa secara utuh di depan seorang imam), Satisfactio (perbuatan-perbuatan silih yang sesuai dengan beratnya dosa, seperti disarankan imam pelayan sakramen ini dan biasanya terdiri dari doa, puasa dan derma). Sedangkan Formanya adalah kata-kata absolusi: ”Yesus telah memberikan kuasa kepada para murid-Nya untuk mengampuni dosa dengan mengatakan: ”apa yang kamu ikat di bumi akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di bumi akan terlepas di surga. Melalui kuasa Roh Kudus dalam urapan imamat, saya mewarisi kuasa tersebut, maka kini atas nama gereja saya melepaskan engkau dari belenggu dosa-dosamu itu.......

Jika demikian maka buah dari sakramen itu adalah pengampunan atas dosa-dosa yang diakui tadi.


Saudara dan saudariku
Tadi sudah saya singgung soal pandangan orang protestan tentang tidak perlunya mengakui dosa kepada para imam. Mereka mengatakan pengampunan dosa, bukanlah sebuah sakramen. Hal ini muncul pada abad 16.

Untuk menanggapi pandangan itu, para uskup berkumpul dalam Konsili Trente tahun 1551 dan menegaskan kembali soal ajaran tradisional tentang sakramen tobat. Mereka mengatakan: Sakramen tobat sungguh sungguh perlu bagi semua ornag yang telah melakukan dosa berat agar ia kembali memperoleh rahmat dan pembenaran. Jadi bukan sekali baptis dan beres karena sudah dibenarkan dalam iman.

Hal lain yang dikatakan oleh para uskup pada saat itu adalah: pada saat Tuhan Yesus masih hidup di dunia, pertobatan memang belum menjadi sakramen, tetapi setelah kebangkitan-Nya, Ia menciptakan sakramen tobat dengan cara menghembusi para rasul dengan bersabda: ”Terimalah Roh Kudus, Jika kamu mengampuni dosa seseorang, ia diampuni, Jika kamu tidak mengampuni dosa seseorang, iapun tidak diampuni.” Yoh 20:22-23.

Saudara dan saudariku
Sudah beberapa kali saya sampaikan apa yang dikatakan oleh Yesus dalam suatu penampakan-Nya kepada Sta. Maria Faustina: Yesus bahkan mendesak St. Faustina untuk mengatakan hal ini: “Katakanlah kepada jira-jiwa yang Madang untuk datang kepada kerahiman-Ku. Datanglah kepada-Ku di kamar pengakuan. Untukmu telah Ku-dirikan tahkta kerahiman-Ku di dunia ini – yaitu sakramen rekonsiliasi. Yang kamu jumpai di sana bukanlah seorang manusia, tetapi Aku sendirilah yang akan bertindak. Aku akan mencurahkan kerahiman-Ku selebar-lebarnya bagi jira yang datang kepada kerahiman-Ku dengan penuh kepercayaan”

Saudara dan saudariku.
Masa prapaskah ini merupakan masa penuh rahmat di mana kita semua diajak untuk bertobat dan membarui relasi kita dengan Allah dan sesama.

Dalam dekrit Misericordiam Suam (Introduksi tata ibadat tobat) dikatakan bahwa waktu terbaik untuk pelayanan sakramen ini adalah masa Pra-Paskah. Karena itu marilah kita gunakan saat penuh rahmat ini dengan baik. Untuk itu mulai minggu ini, satu jam sebelum misa, kami para imam stand by di kamar pengakuan. Umat bisa datang untuk boleh mengalami kasih dan Kerahiman Yesus yang mengalir dari sana.

Minggu Prapaskah I - Tahun C - 2010

Bacaan
Ulangan 26:4-10
Roma 10:8-13
Lukas 4:1-13

Pengantar
Saudara dan saudariku
Bacaan injil hari ini berbicara tentang cobaan yang dialami oleh Yesus. Dikatakan bahwa: ”setelah setan tidak berhasil menggoda Yesus, ia mengundurkan diri menunggu waktu yang tepat”. Hal ini mengingatkan bahwa hidup kita merupakan suatu perjuangan tanpa henti melawan kejahatan. Dengan rahmat Allah, kita tentu berharap dapat mengalahkan kejahatan. Yesus yang dapat mengalahkan kejahatan memberikan kita kekuatan bahwa kita pun dapat mengalahkan kejahatan itu, terutama kejahatan di dalam diri kita.

Renungan

Saya akan mengawali permenungan kali ini dengan sebuah kisah imajinatif: ada seorang rahib yang amat suci dan terkenal. Dia ingin sekali mengetahui apa yang ada di dalam hati orang dan mencoba melakukan test sejauh mana orang-orang itu itu mengenal diri sendiri. Dia berdiri di depan pintu biara dan ada beberapa orang yang lewat di depannya. Orang pertama yang lewat, dia panggil dan mengundang masuk ke dalam pondoknya. Kemudian rabbi itu bertanya: “Seandainya anda menemukan sebuah dompet dengan jumlah uang yang banyak, kira-kira 2 juta rupiah. Apa yang akan anda lakukan?"

Orang pertama itu menjawab: “Saya pasti akan segera mengembalikan dompet beserta isinya itu kepada pemiliknya. Saya pasti akan bisa menemukan pemilik dompet tersebut karena di dalam dompet itu pasti ada kartu identitas dan alamatnya. Saya pasti akan mencarinya.

Bodoh, kamu”, kata rabbi itu.

Kemudian datanglah orang yang lain. Dengan cara yang sama, Rabbi itu mengundang dia masuk ke dalam pondoknya. Pertanyaan yang sama diajukan: “Seandainya anda menemukan sebuah dompet dengan jumlah uang yang banyak, kira-kira 2 juta rupiah. Apa yang akan anda lakukan?"

Orang kedua itu menjawab: “Saya tidak akan mengembalikan dompet dan uang itu. Saya tidak bodoh untuk membiarkan rejeki yang datang itu berlalu begitu saja”.

Mendengar jawaban orang kedua tadi, rabbi itu menjawab: “bajingan, kamu”.

Kemudian lewatlah orang yang ketiga. Sekali lagi Rabbi itu mengundang dia untuk masuk ke dalam pondoknya. Pertanyaan yang sama diajukan: “Seandainya anda menemukan sebuah dompet dengan jumlah uang yang banyak, kira-kira 2 juta rupiah. Apa yang akan anda lakukan?

Orang ketiga itu menjawab: “Saya bingung tentang apa yang harus saya lakukan dalam situasi seperti itu. Yang pasti, setan pasti akan menggoda saya untuk tidak mengembalikan dompet tersebut. Dapatkah saya mengalahkan godaan si jahat itu? Saya tidak tahu. Tetapi jika Allah memberikan saya rahmat kekuatan untuk mengalahkan bujukan dosa itu, maka saya pasti akan mengembalikan dompet beserta isinya kepada pemiliknya.”

Mendengar jawaban orang ketiga itu, sang Rabbi menjawab: “Kata-katamu sangat indah. Kamu sungguh orang yang bijaksana

Saudara dan saudariku
Rabbi tadi menyebut orang yang pertama: “Bodoh” mengapa? Karena orang itu nampaknya tidak mengenal dirinya sendiri. Orang pertama tadi merasa bahwa dengan kekuatannya sendiri dia dapat mengalahkan godaan atau kejahatan yang ada di dalam dirinya. Setiap kita dapat jatuh ke dalam dosa. Manusia jatuh ke dalam dosa, bukan karena dia lemah, tetapi karena ia merasa bahwa ia kuat.

Lantas, terhadap orang kedua tadi, sang Rabbi berkata: ”Bajingan, kamu” karena orang itu tidak lagi punya kesadaran akan moralitas yang benar. Dia mempersiapkan diri untuk mengambil atau mencuri sesuatu yang bukan dari dirinya. Dan nampaknya hal itu telah ia lakukan selama itu. untuk orang semacam itu, godaan dilihat sebagai kesempatan untuk memperkaya diri sendiri. Ia hidup dari keringat orang lain. Kalau di paroki kita, bukan orang menemukan uang sebanyak itu, tetapi masuk kamar pastor dan mencurinya. Nah itu lebih kurang ajar lagi.

Sedangkan kepada orang yang ketika sang Rabbi memujinya sebagai orang yang baik dan bijaksana. Mengapa? Karena orang ketiga tadi nampaknya sangat mengenal kelemahan yang ada di dalam dirinya. Dia berharap bahwa ketiga mengalami godaan, dia bisa mengatasi godaan tersebut dengan melakukan hal yang benar. Dan dia tahu, bahwa untuk melakukan hal yang benar, dia tidak bisa mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi dia berharap akan rahmat Allah. Dan karena itu, orang ketiga tadi nampkanya senantiasa mendekatkan dirinya pada Allah untuk memohonkan kekuatan ketika mengalami godaan.

Saudara dan saudariku.
Setiap kita ini lemah dan sangat rentan akan kejahatan. Tidak ada orang yang kuat terhadap godaan atau kejahatan. Ini adalah suatu kebenaran yang mungkin selalu menggusik kita. Saya kira persoalan terbesar orang zaman ini adalah gagal mengenal diri sendiri untuk mengakui kejahatan yang ada di dalam dirinya dan bagaimana menyikapi hal itu.

Kita memang harus melawan kejahatan. Pertama, kejahatan yang ada dalam masyarakat. Kedua, kejahatan yang ada di dalam diri kita sendiri; dan ini adalah usaha yang paling sulit.

Pertama, soal kejahatan yang ada di dalam masyarakat. Salah satu kejahatan yang ada di dalam masyarakat yang menjadi sorotan kita tahun ini adalah kemiskinan. Tema APP kita adalah: ”Mari bekerja sama melawan kemiskinan

Paus Benediktus XVI dalam ensikliknya yang kedua ”Caritas in Veritate” mengatakan bahwa ”semua usaha di bidang ekonomi dan keuangan tidak bisa tidak harus juga mempertimbangkan untuk kebaikan banyak orang, dan tidak untuk diri sendiri.

Selama masa prapaskah ini kita diajak untuk menyangkal diri, berarti kita tidak boleh hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga memikirkan kesejahteraan orang lain. Kesejahteraan itu tidak berarti terpenuhinya segala kebutuhan kita. Tetapi Paus menegaskan bahwa tidak ada kesejahteraan yang sejati jika masih ada orang lain di sekitar kita yang tidak sejahtera! Karena itu, Bapak Uskup kita tahun ini mengajak kita semua: ”Mari bekerja sama melawan kemiskinan”. Melalui bahan-bahan pendalaman APP, semoga iman kita bertumbuh dalam suatu tindakan yang nyata.

Salah satu tindakan melawan kemiskinan yaitu bermatiraga dengan menyisihkan sebagian dana dari kebutuhan harian kita dengan memasukan untuk kebutuhan orang miskin. Itu kita lakukan melalui amplop Paskah. Akan tetapi umat selalu mengisih amplop paskah itu pada akhir masa prapaskah jika ketua lingkungan mulai mengumpulkannya. Nah ini bukan maksudnya, tetapi dana itu harus disisihkan setiap hari.

Kedua, soal kejahatan yang ada di dalam diri kita sendiri. Setiap kita terlahir dalam keadaan berdosa. Mzm 51: 7 ”Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” sehingga melakukan sesuatu yang baik dan benar adalah hal yang tidak mudah. Hal yang paling sulit adalah mengalahkan diri sendiri.

Bacaan Injil hari ini menampilkan kisah tentang godaan yang dialami oleh Yesus. Godaan yang dialami oleh Yesus adalah godaan setiap umat Kristiani sepanjang zaman: yaitu godaan untuk hidup dengan mengandalkan barang-barang materi, godaan untuk mencari kemuliaan sendiri daripada kemuliaan Allah dan godaan untuk tidak beribadah kepada Allah tetapi menyembah kepada kekuatan-kekuatan duniawi atau bahkan kekuatan-kekuatan jahat.

Dalam Injil tadi dikatakan bahwa setelah tidak berhasil menggoda Yesus, setan mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang tepat.

Rasul Petrus mengingakan kita: ”Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh..." (1 Pet 5: 8-9).

Nah...bagaimana kita dapat mimiliki iman yang teguh kalau kita tidak pernah berdoa? Orang ketiga dalam kisah imajinatif tadi, dipuji oleh Rabbi sebagai orang yang bijaksana karena dia tahu kelemahannya dan karena itu dia senantiasa berusaha untuk dekat dengan Tuhan agar diberi kekuatan. Demikianpun hendaknya kita. Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan kita sendiri.

Saudara dan saudariku
Allah senantiasa ada bersama dengan kita dalam perjuangan dan pergulatan kita melawan kejahatan. Dia akan mau membantu kita jika kita mohon kepadanya. Semoga bersama St. Paulus, kita pun dapat berkata: ”Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:13). Amin.


Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Paroki Sta. Odilia - Citra Raya - Tangerang

Minggu Biasa V - Tahun C - 2010

Bacaan
Yes 6:1-2,3-8 1 Kor 15:1-11 Luk 5:1-11

Renungan:
Saya akan mengawali permenungan saya atas bacaan-bacaan hari ini dengan sebuah kisah imajinatif. Tetapi sebelum bercerita, saya ingin bertanya: bagaimana perasaanmu kalau saat ini, juga Yesus menampakan diri-Nya kepadamu?

Ada seorang yang bergabung dalam sebuah kelompok koor dalam sebuah paroki. Orang itu memang tidak bisa menyanyi sama sekali. Setiap kali dia menyanyi pasti mengundang orang tertawa karena suaranya memang out of tune. Pada suatu ketika, pemimpin koor mendekati orang itu dan mengatakan “anda lebih baik tidak bergabung dengan koor ini karena anda tidak bisa membaca not dengan tepat”. Tetapi ada beberapa anggota mengusulkan agar orang itu diberi kesempatan lagi untuk berlatih lebih banyak. Jadi ada pro dan kontra di dalam koor itu. Akhirnya pemimpin koor itu datang kepada pastor kepala untuk mengeluh. Dia bahkan mengatakan: “Tolong pastor…minta orang itu supaya jangan bergabung dengan koor kami soalnya suaranya seperti kaleng pecah. Saya akan (mutung) berhenti melatih koor kalau masih ada dia”. Akhirnya pastor itu datang kepada orang tadi dan mengatakan: ”Saudariku yang baik. Saya kira mungkin lebih baik anda tidak lagi bergabung dalam koor ini.” Orang itu kaget mendengar perkataan sang pastor tadi dan balik bertanya: ”mengapa saya harus meninggalkan koor?” Sang Pastor menjawab: ”ada cukup banyak orang mengatakan bahwa anda tidak bisa menyanyi dengan baik. Suaramu cempreng dan sangat mengganggu”. Lantas orang itu menjawab: “Oh…itu tidak apa-apa pastor dibandingkan dengan hal yang satu ini. Ada cukup banyak umat yang mengatakan bahwa “anda tidak bisa berkotbah dengan baik. Setiap kali misa, anda selalu membawa buku kotbah orang lain dan membacanya”. [Kisah ini tidak terjadi di paroki kita, meskipun ada pastor kita yang selalu baca buku kotbah orang lain].

Saudara dan saudariku
Bacaan-bacaan hari ini menunjukkan bahwa Allah bisa menggunakan siapa saja untuk melaksanakan kehendak Ilahi-Nya. Dalam bacaan pertama tadi kita mendengar kisah tentang panggilan nabi Yesaya. Dalam bacaan kedua, tentang panggilan Paulus dan dalam bacaan Injil kita mendengar kisah tentang panggilan Petrus dan rasul-rasul yang lain. Kita lihat bagaimana reaksi orang-orang ini ketika menyadari bahwa mereka tengah berada dalam kemuliaan Allah? Semuanya merasa sebagai orang yang tidak mampu dan pantas di hadapan Allah.

Dalam Yes 6:5, kita baca reaksi Yesaya ketika ia melihat kemuliaan Allah: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."

Rasul Paulus mengakui dalam 1 Kor 15: 9: “….aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” Sedangkan Petrus dalam bacaan injil tadi mengatakan: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." (Luk 5:8) (komentar atas perasaan orang)

Saudara dan saudariku
Perasaan tidak pantas di hadapan Allah boleh jadi merupakan suatu tanda jiwa seseorang telah merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Atau perasaan tidak pantas merupakan tanda bahwa jiwa seseorang telah menyadari akan panggilan Tuhan di dalam dirinya. Itulah sebabnya, kerendahan hati merupakan kebajikan utama yang penting dalam menjalankan sebuah panggilan rohani. Kerendahan hati itu tidak sama dengan rendah diri. Orang yang selalu merasa rendah diri, boleh jadi merupakan tanda bahwa orang itu tidak pernah mengalami kehadiran Allah di dalam hidupnya. Atau tidak pernah menyadari panggilan Tuhan di dalam dirinya.

Saudara dan saudariku.
Suatu hal yang pasti adalah ketika kita mengakui keberdosaan dan ketidakpantasan di hadapan Allah, maka Allah akan mengulurkan kasih-Nya, menjamah kita serta memampukan kita untuk menjalankan kehendak Sabda-Nya.

Dalam peristiwa panggilan Yesaya dikatakan bahwa setelah Yesaya mengakui ketidakpantasan dan keberdosaannya di hadapan Allah, Allah justru mengambil inisiatif. Dikatakan bahwa “seorang Serafim terbang mendapatkan dia. Di tangan Serafim itu ada bara api dan menyentuhkan pada mulut Yesaya serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni." (Yes 6:6-7).

Dalam peristiwa panggilan Petrus dan para murid yang lain, Yesus mengatakan: “Jangan takut, sebab mulai sekarang engkau akan menjala manusia”. Jadi kita bisa melihat bahwa baik Yesaya maupun Petrus dipanggil untuk suatu tugas pelayanan yang suci bukan karena kemampuan yang ada pada diri mereka, melainkan semata karena rahmat dari Allah. Itulah sebabnya, rasul Paulus dapat berkata: “karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang,” (1 Kor 15:10).

Saudara dan saudariku.
Selain kerendahan hati sebagai kebajikan yang utama dalam menjalankan suatu panggilan rohani, dalam ketiga bacaan hari ini, kita bisa melihat adanya kesamaan di antara Yesaya, St. Paulus dan Rasul Petrus dipanggil untuk suatu tugas yang suci, yaitu kesediaan untuk menjalankan tugas itu dan juga bersedia dibimbing oleh Yesus. Dalam panggilan Yesaya, setelah ia mendengar suara yang mengatakan: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka jawab Yesaya: "Ini aku, utuslah aku!" (Yes 6:8).

Dalam panggilan rasul Petrus dan murid-murid yang lain, dikatakan bahwa “mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus” (Luk 5:11). Mereka tidak lagi menoleh ke belakang. Sedangkan rasul Paulus, yang banyak berjerih lelah demi injil, melebihi rasul-rasul yang lain yang telah dipanggil lebih dahulu, mengatakan dengan jujur: “…. bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (1 Kor 10:15).

Jadi saudara dan saudariku, perasaan tidak pantas dan tidak layak tidak cukup membuat seseorang dapat menjalankan sebuah tugas perutusan. Tetapi perasaan tidak pantas itu harus diikuti dengan kesediaan diri untuk diutus. Nah…yang sering terjadi di paroki kita, terutama dalam hal pemilihan ketua lingkungan atau seksi-seksi, orang seringkali hanya berhenti pada rasa tidak layak dan pantas. Hanya sampai di situ saja. Mereka tidak mau berlangkah pada tahap yang berikut adalah menyediakan diri. Kalau soal pantas dan tidak pantas, siapa sih yang pantas di hadapan Allah? Tidak ada orang. Yesaya, Paulus dan Petrus mengakui hal itu. Tetapi mereka mau memberi diri bagi tugas perutusan yang dipercayakan kepada mereka. Mereka mau membiarkan diri dibimbing oleh Sabda Tuhan. Dan kita tahu hasilnya: Luar biasa.

Hal ini dapat kita lihat dalam bacaan Injil tadi. Petrus dan rasul-rasul yang lain telah bekerja sepanjang malam tetapi tidak mendapatkan seekor ikan pun. Mereka bekerja keras dengan mengandalkan kemampuan dan kemahiran mereka. Tetapi ternyata tidak sesekor pun yang mereka tangkap. Seakan-akan tidak ada sesekor ikan pun yang hidup di dalam danau itu. Lantas, pada pagi hari mereka berjumpa dengan Yesus. Yesus menyuruh Petrus untuk melemparkan jalanya. Sesuatu yang aneh sebetulnya.

Bagi yang suka mancing di laut pasti tahu bahwa waktu yang tepat untuk mancing adalah pada malam hari. ini. Sebagai seorang nelayan, Petrus pasti tahu bahwa pagi atau siang hari merupakan saat yang tidak tepat untuk menebarkan jala. Tetapi Petrus tetap saya melakukan apa yang Yesus perintahkan. Ia berkata: ”...tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga". Ini adalah suatu lompatan iman. Petrus berani melakukan apa yang berada di luar pemikiran manusia. Dan memang hasilnya luar biasa.

Saudara dan saudariku…
Hari-hari ini dalam paroki kita, ketika masa kepengurusan Dewan Harian dan seksi-seksinya hampir berakhir, Allah terus bertanya kepada setiap kita: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”. Tuhan masih terus membutuhkan orang-orang yang bersedia diutus seperti Yesaya untuk mewartakan Sabda Allah di kalangan sendiri. Atau seperti Paulus, yang diutus untuk mewartakan kabar sukacita kepada segala bangsa. Atau seperti Petrus, yang memberi kesaksian tentang Yesus di tempat ia berkarya, kepada rekan-rekan kerjanya agar mereka pun mengenal dan mengikuti Yesus.

Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”. Jika anda merasa pantas, maka ketahuilah bahwa Allah dapat menggunakan anda. Hanya saja, anda harus mengambil konseskuensi dari tugas perutusan itu dengan menjawab: ”Ini aku, utuslah aku”. Tuhan memang tahu bahwa anda dan saya tidak mampu dan tidak pantas, tetapi dia akan memberikan kita kemampuan untuk menjalankan tugas perutusan kita sebagaimana ia lakukan kepada Yesaya, St. Paulus dan St. Petrus. Amin.

Jumad Pertama Februari 2010

Bacaan:
Sirach 47:2-11.
Injil Mark 6:14-29

RENUNGAN
Dalam bacaan-bacaan hari ini, kita lihat ada 3 cara manusia bersikap atas dosa. Cara pertama, kita lihat dalam pribadi dan cara Herodias. Herodias terlibat dalam perselingkuhan dengan Herodes. Dia tahu bahwa itu salah, tetapi dia tidak mau bertobat. Ada orang yang menegur dia tentang dosa dan kesalahan yang telah ia lakukan, yaitu Yohanes Pembaptis. Akan tetapi Herodias malah berusaha untuk menyingkirkan Yohanes Pembaptis, supaya hati kecilnya tidak selalu diganggu. Dengan demikian dia mau menunjukkan bahwa apa yang ia lakukan itu benar. Herodias seakan berkata: “saya akan menyngkirkan Yohanes Pembaptis maka tidak ada orang yang akan mengatakan bahwa apa yang saya lakukan ini adalah salah”.

Cara kedua, dapat kita lihat dalam pribadi Herodes. Dia tahu bahwa apa yang ia lakukan itu salah, tetapi ia tidak suka bahwa Yohanes Pembaptis menegur dia. Dia tahu bahwa apa yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis itu benar, tetapi ia tidak mau kalau kebenaran itu mengganggu dia. Ia sungguh menikmati perselingkuhan itu, maka dia tidak mau menggubah cara hidupnya. Hatinya terjebak di antara cinta diri dan kenikmatan.

Saya yakin bahwa di dalam hati dan pikiran Herodes ada pergulatan seperti ini: “apakah saya harus melakukan apa yang benar? Atau saya terus melanjutkan apa yang telah salah saya lakukan selama ini? Saya tahu bahwa sebetulnya saya ingin melakukan apa yang benar.....tetapi saya sungguh menikmati kesalahan yang telah saya lakukan.......”

Dari pergulatan itu, Herodes akhirnya mengambil jalan untuk tetap melakukan dosa sekalipun hal itu tetap mengganggu kesadaran dan suara hatinya. Dan apa yang terjadi di kemudian hari? Kesadaran dan suara hatiya menjadi tumpul sehingga ia tidak lagi peduli dengan apa yang disebut sebagai kebenaran.

Cara ketiga, kita dengar dalam bacaan I tadi yaitu tentang Daud. Daud ingin sekali melayani Tuhan. Kita tahu bahwa Daud telah melakukan banyak kesalahan dan dosa di hadapan Tuhan.

Dalam bacaan hari rabu kemarin dari 2 Sam 24: 2, 9-17; di katakan bahwa Daud mulai menunjukan sikap kurang percaya kepada Allah. Ia tidak percaya bahwa Allah akan memberikan bantuan dalam hal apapun yang ia perlukan termasuk bisa penyediakan pasukan bagi Daud. Daud memerintahkan untuk menghitung berapa jumlah orang yang layak menjadi tentara. Hal ini sebenarnya dilarang oleh Allah karena melakukan hal itu berarti tidak lagi percaya kepada Allah. Akibat dari dosa Daud ini dirasakan oleh seluruh rakyat. Dosa Daud yang sangat memalukan adalah mengambil Betsheba, Istri Uria, untuk dijadikan selirnya.

Tetapi dalam bacaan I tadi kita mendengar bahwa semua dosa dan kesalahan Daud itu diampuni oleh Tuhan? Mengapa? Karena Daud bertobat. Dan setelah bertobat, Daud lebih sungguh-sungguh lagi ingin melayani Tuhan.

Saudara dan saudariku….
Tiga cara bersikap atas dosa yang saya jelaskan tadi, bisa merupakan 3 kemungkinan cara kita pun bersikap atas dosa.

Pertama, ketika kita berdosa, kita bisa saja berkata: “Saya memang telah berdosa, tetapi peduli amat. Malah kita berusaha untuk mencari pembenaran atas dosa itu. Ada banyak orang yang setelah melakukan kesalahan dan dosa, berusaha untuk melakukan pembenaran atas tindakan dosa mereka itu. Sama seperti Herodias tadi.

Kedua, ketika kita berdosa dan ada orang menegur kita, tetapi kita berkata: “anda benar…apa yang saya lakukan ini salah…” Kita mengakui bahwa kita salah tetapi tidak mau berhenti berdosa. Hal ini nampak dalam sikap Herodes.

Ketiga, ketika kita berdosa…ada yang memperingati kita, dan kita pun dengan menyesal berkata: “Anda benar….saya telah berdosa, saya perlu bertobat. Inilah yang dilakukan oleh Daud.

Inilah 3 kemungkinan cara kita dapat bersikap atas dosa. Mau pilih yang mana? Kita mungkin akan menjawab, yang ketiga. Tetapi kalau jujur terhadap diri kita sendiri, maka kita dapat menemukan bahwa ketiga cara bersikap atas dosa ini, juga kita lakukan dalam hidup kita.

Kalau kita lihat tentang dosa yang dilakukan oleh Daud adalah sangat memalukan. Seorang raja berselingkuh. Hari jumad kemarin saya memberi retret kepada anak-anak SMK St. Maria Mediatrix, dan banyak dari mereka adalah non Kristen. Dan kebetulan bacaan I adalah kisah tentang Daud dan Bersyeba. Ketika bacaan I dibawakan, dalam hati, saya merasa malu. Pikiran saya, aduh...bisa-bisa yang non Kristen akan berkata....masa sih KS orang Kristen berisi tentang perselingkuhan? Sekali lagi, sangat memalukan, tetapi semuanya itu diampuni.

Saudara dan saudariku
Jika dosa Daud itu bisa diampuni karena ia jujur mengungkapkannya dan bertobat maka dosa kita pun pasti bisa diampuni, asalkan kita mengungkapkannya dengan jujur dan setelah itu bertobat. Di sinilah pentingnya sakramen rekonsiliasi – yang tidak sangat popular bagi orang Katolik.

Sudah seringkali saya mengatakan dari mimbar sini, apa yang saya kutip dari catatan harian St. Maria Faustina. Dalam suatu penampakan-Nya, Yesus mendesak St. Faustina untuk mengatakan hal ini kepada kita semua: ”Hai pendosa, janganlah engkau takut pada Penyelamatmu. Akulah yang pertama berinisiatif datang kepadamu karena Aku tahu bahwa dengan kekuatanmu sendiri, engkau tak dapat datang kepada-Ku. Anakku...janganlah menjauhkan dirimu dari Bapamu. Jujurlah berbicara dengan Aku. Aku ingin berbicara denganmu tentang pengampunan. Aku ingin mencurahkan rahmat-Nya atas dirimu. Betapa Aku mengasihi jiwamu. Aku telah menuliskan engkau pada telapak tangan-Ku. Namamu terpahat dalam pada luka Hati-Ku. .... Anak-Ku...apakah engkau takut pada Allahmu yang Maharahim? Kekudusan-Ku tidak menghalangi Aku menunjukkan kerahiman-Ku kepadamu. Lihatlah...untukmu Aku telah mendirikan suatu tahta kerahiman di dunia ini – Sakramen Rekonsiliasi – dari sana Aku rindu memasuki hatimu. Engkau bisa datang kepada-Ku setiap saat dan kapanpun engkau mau. Aku ingin berbicara kepadamu. Aku rindu mencurahkan rahmat pengampunan kepadamu....”

Saudara dan saudariku.
Jika kita tidak peduli atas dosa-dosa kita atau mencoba untuk menutupi dosa-dosa itu, maka tidak akan ada pengampunan karena kita belum bertobat. Dosa yang tidak dapat diampuni adalah dosa sikap keras hati yang tidak mau bertobat. Kita menolak untuk menerima kerahiman Allah, maka itu adalah dosa melawan Roh Kudus, dan kita tidak akan diampuni jika kita tidak mau bertobat. Saya kira, tidak begitu banyak orang datang kepada sakramen rekonsiliasi karena kurangnya kesadaran orang untuk bertobat.

Saudara dan saudariku.
Kembali kepada bacaan-bacaan hari ini. Kita bisa bertanya kepada diri sendiri: seberapa dalamkah kita rindu untuk melayani Allah? Apakah hati kita terjebak dalam kenikmatan dosa, sehingga tidak mau bertobat? Atau apakah kita memang tidak mau peduli sama sekali dengan dosa dan salah kita?

Ada begitu banyak orang Katolik yang menggunakan alat kontrasepsi dan tidak mau mengakui bahwa itu adalah dosa. Mereka berusaha untuk mencari pembenaran melalui ilmu pengetahuan dengan mengatakan gereja harus berubah dalam ajaran moralnya. Mereka seperti Herodias yang berusaha untuk mencari pembenaran diri. Atau ada orang yang berusaha mencari pembenaran diri dengan mengatakan ini: ”Pastor juga kan manusia?” Benar itu. Saya mengakui bahwa kami adalah manusia dan tetap manusia. Kami seperti bejana tanah liat yang rapuh yang mudah pecah, tetapi di dalam diri kami terkandung sebuah harta surgawi. St. Yohanes Maria Vianney, pada suatu kesempatan menunjuk kepada Bapa pengakuannya dan mengatakan ini: ”itulah dia, orang yang membukakan pintu surga bagi saya”

Yesus sendiri dalam penampakan kepada St. Maria Faustina, mengatakan: ”yang kamu hadapi di sana bukanlah seorang manusia, tetapi Aku sendirilah yang akan bertindak melalui imam-Ku. Aku akan mencurahkan pintu kerahiman-Ku selebar-lebarnya bagi jiwa yang datang kepada-Ku dengan penuh kepercayaan”. Jadi, jangan berusaha untuk mencari pembenaran diri atas dosa.

Atau ada yang seperti Herodes. Kita tahu bahwa kita telah melakukan dosa, tetapi kita mengakuinya dengan sikap setengah-setengah karena kita sebenarnya tidak mau bertobat.

Ada yang seperti Daud. Dia tahu bahwa dia telah berdosa, tetapi dia bertobat dan dengan sungguh mengarahkan hatinya kepada Allah.

Saudara dan saudariku.
Tak peduli seberapa besarnya dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan, tetapi jika ingin bertobat dan ingin melayani Tuhan dengan sepenuh hati, maka dosa kita pun akan diampuni. Dengan demikian, kita akan semakin mampu memuji dan memuliakan Allah. Kita akhirnya dapat mengakui bahwa hidup kita ini semata-mata karena kasih dan kerahiman dari Allah sehingga kita semakin dapat mencintai-Nya dengan segenap hati, dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi kita. Amin.