Homili Minggu Biasa XVIII - Tahun C - 2010

Bacaan
Pengkotbah 1:2; 2:21-23 Kol 3:1-5, 9-11 Luk 12:13-21

Homili
Salah satu penyataaan Martin Luther yang popular dan salah dimengerti oleh kaum reformis adalah: “God does not save people who are only fictitious sinners. Be a sinner and sin boldly, but believe and rejoice in Christ even more boldly.” Ungkapan ini terdapat dalam suratnya kepada Phillip Melacnhthon pada tahun 1521. (dikutip dari buku Karya Martin Luther, weimars, ed 2 hl.371.) Artinya: ‘Allah tidak menyelamatkan orang yang melakukan dosa asal-asalan, karena itu jadilah seorang pendosa yang sungguh, tetapi harus lebih sungguh percaya dan bersukacita di dalam Kristus.’ Aneh ya? Sebenarnya Martin Luther mau menunjukkan betapa berkuasanya Darah Kristus sehingga bisa menebus dosa manusia sebesar dan sebanyak apapun dosa manusia itu. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, pernyataan ini disalah tafsirkan sehingga orang berpikir bahwa “apa yang kita lakukan secara fisik, tidak akan mempengarahi keadaan jiwa kita di hadapan Allah, asalkan kita percaya kepada-Nya”. Doktrin sola fide (hanya iman saja) mengambil bentuk ekstrim dari pernyataan Luther ini.

Dalam bacaan 2 hari ini, St. Paulus melawan pemahaman iman yang demikian yang hidup di dalam jemaat di Kolose: “Saudara-saudara, kamu telah dibangkitkan bersama Kristus. Maka carilah yang di atas, di mana Kristus berada dan duduk di sisi kanan Allah. Pikirkanlah perkaraya yang di atas, bukan yang di bumi.’

Umat di Kolose memang percaya sungguh bahwa melalui pembaptisan mereka telah mati terhadap dosa dan telah dibangkitkan untuk menerima hidup baru bersama Kristus. Memang itu benar. Tetapi nampaknya dalam kehidupan sehari-hari mereka gagal untuk mengenakan manusia baru itu. Mereka bangga sebagai orang kristiani. Mereka bangga bahwa melalui pembaptisan mereka adalah anggota tubuh mistik Kristus tetapi dalam kehidupan nyata, mereka sama saja dengan orang-orang yang tidak beriman. Jadi ada dikotomi (keterpisahan) antara iman dan perbuatan. St. Paulus mengatakan dalam bacaan II hari ini: jika demikian, maka mereka bukanlah sungguh orang kristiani. Manusia baru yang kita terima melalui pembaptisan itu harusnya nampak dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu jika perhatikan bacaan II tadi, Paulus menggunakan 4 kata atau kalimat yang tegas sebagai sebuah perintah tentang apa yang harus mereka usahakan berkaitan dengan iman kepada Kristus itu. 4 kata perintah itu adalah: carilah… pikirkanlah… matikanlah… dan ‘jangan lagi kamu saling mendustai…”

Saya mengajak kita untuk melihat 4 hal itu. Dua perintah yang pertama: ”carilah yang di atas, di mana Kristus berada … (Kol 3:1) dan “pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi” (Kol 3:2). Dua perintah ini sebenarnya ingin menyampaikan satu hal yang sama dengan cara yang berbeda. Dua perintah ini tidak menunjuk pada suatu tindakan konkret tertentu tetapi lebih menyangkut cara berpikir dan disposisi hati dan pikiran.

Iman bukanlah sebuah pernyataan bahwa kita telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat kita. Tetapi iman adalah sesuatu yang hidup di dalam kita....terus berkembang dan mengubah hidup kita dari dalam agar memperoleh pengetahuan yang benar tentang Allah.

Dua perintah yang terakhir “Matikanlah….dan janganlah mendustai…” menunjuk pada tindakan konkret.

Dalam versi Vulgata, kata Latin yang dipakai untuk menerjemahkan ’matikanlah’ adalah ’mortificate’ berasal dari kata mortifacare yang berarti matiraga. Jadi kata: ”matikanlah di dalam dirimu”…lebih berbicara mengenai penyangkalan diri. Di sini Paulus menegaskan bahwa kecendrungan-kecendrungan manusiawi kita dapat menyebabkan kita jatuh ke dalam dosa. Paulus menyebutkan apa saja yang harus dimatikan atau disangkal, ditolak di dalam diri kita: “percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala”

Menarik bahwa Paulus menyebutkan bahwa keserakahan itu sama dengan penyembahan berhala. Hal ini nampak jelas dalam kisah tentang orang muda yang kaya dalam Injil Lukas 18:18 dst. Keserakahan atau keterikatan batin kepada kekayaan akan membuat seseorang sulit untuk mendengar dan memperhatikan sabda Allah di dalam hidup ini.

Sebuah contoh kisah: ada seorang pengkotbah yang ketika mewartakan sabda Allah, melihat bahwa ada seorang ibu setengah baya menangis. Pengkotbah itu merasa bahwa kotbahnya telah membuat ibu itu tersentuh maka dia pun makin bersemangat. Semakin lama, ibu tadi tidak bisa lagi menyembunyikan tangisannya. Pada akhir kotbah, biasanya ada kesaksian. Pengkotbah tadi mendekati ibu tadi dan berkata: ”ibu..tadi ketika sedang berkotbah saya melihat bahwa ibu meneteskan air mata, boleh jadi ibu merasa tersentuh oleh sabda Allah tadi. Bolehkan sekarang ibu memberikan kesaksian untuk kami semua ayat manakah yang membuat ibu tergerak hati? Ibu itu agak ragu-ragu dan malu tetapi karena pengkotbah itu agak memaksanya sehingga akhirnya dia pun tampil ke depan. Dia memegang mike dan mulai menangis lagi.... akhirnya dengan suara terbata-bata dia mulai memberi kesaksian. Dia bilang: ”tahun lalu, saya kehilangan anjing kesayangan. Anjing itu adalah satu-satunya milik yang berharga bagi saya. Saya menangis ketika ia mati...tetapi lama saya sudah melupakan hal itu.... tetapi tadi ketika melihat anda mulai berkotbah, saya melihat janggutmu...dan itu mengingatkan saya akan anjing kesayangan saya. Setiap kali mengingat dia, saya menangis”..... ibu tadi ternyata tidak ingat akan satu kata pun dari firman Allah yang disampaikan...ia hanya ingat akan anjing miliknya yang berharga baginya.

Saudara dan saudariku
Harta milik itu penting untuk hidup. Akan tetapi harta milik seringkali mengambil tempat begitu penting dalam hidup seseorang. Ketika kita menjadi begitu terikat dengan harta milik maka kita sulit untuk mendengar panggilan yang mendesak dan penting dari Allah. Orang semacam itu nampak dalam bacaan Injil hari ini yang meminta Yesus supaya memohon saudaranya untuk membagikan harta warisan keluarga.

Yesus tidak keberatan kalau orang itu memiliki harta benda, Yesus juga memang menghendaki keadilan di dalam hidup ini, tetapi nampaknya Yesus sangat kecewa dengan orang itu.

Kita bisa membayangkan seperti ini. Yesus sedang memberikan pengajaran khusus kepada para muridnya tentang janganlah kuatir akan hidup… bahwa Bapa di surga tahu akan semua yang kamu perlukan…tentang bagaimana harus percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi…eh…tiba-tiba muncul seseorang dengan persoalan seperti ini. Nampaknya…orang itu tidak peduli dengan apa yang disampaikan oleh Yesus. Fokus perhatiannya hanya kepada harta warisan. Sama seperti wanita dalam kisah di atas tadi..tidak mengingat satu kata pun dari firman Allah karena dia hanya memikirkan anjingnya.

Dalam kisah injil tadi, Yesus nampaknya menduga bahwa boleh jadi ada beberapa yang demikian di antara orang banyak itu, sehingga Ia berpaling dan berkata: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.”

‘Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan.’ Ketamakan? Apa itu ketamakan? Orang dalam Injil tadi tamak nda? Orang tadi kan hanya minta keadilan. Bukankah itu sesuatu yang baik? Yesus mengingatkan kita bahwa ketamakan itu dapat menyamar dalam berbagai bentuk. Bahkan dengan kedok keadilan, orang itu menyatakan bahwa sebenarnya ia rakus dan tamak terhadap harta benda.

Untuk menjelaskan hal ini, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Ketika kita membaca teks ini bertanya dimanakah letak kesalahan orang itu? Coba pikirkan. Orang kaya itu kerja keras dan jujur. Tanahnya memberikan banyak hasil akhirnya orang itu memutuskan untuk membangun lumbung yang lebih besar supaya bisa menyimpan semua hasil tanahnya sehingga ia bisa hidup tenang. Sayang…orang kaya itu tidak tahu bahwa hidupnya hanya tinggal kurang dari 24 jam.

Yesus menggunakan ilustrasi ini untuk menunjukkan ketamakan orang kaya tadi. Ketamakannya tidak terletak pada ia mencuri, atau melakukan kesalahan, tetapi ketamakannya terletak pada hidup santai dan bermalas-malasan. Seorang politikus Inggris Sir Fred Catherwood mencoba mendefenisikan ketamakan itu sebagai berikut: "keyakinan bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Kita mencoba mengambil apa yang dapat kita ambil, tetapi kemudian kita sendiri sulit untuk menggenggam semuanya itu”. Hal ini nampak jelas dalam bacaan I tadi. Pada waktu itu, orang-orang Israel tidak yakin bahwa ada kehidupan yang akan datang atau tidak. akhirnya mereka berusaha untuk meraih segala sesuatu yang bisa di dapat dalam hidup ini. Terhadap sikap hidup yang demikian, sang pengkotbah mengatakan bahwa 'segalanya adalah sia-sia"

Itulah Yesus bersikap sangat tegas terhadap segala bentuk ketamakan. Dalam bacaan II hari rasul Paulus mengatakan ketamakan atau keserakahan itu sama dengan menyembah berhala.

Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk percaya bahwa hanyalah Yesus lah yang dapat memberikan kehidupan kekal dan bukannya harta benda.

Kita kembali pada bacaan II, pada perintah ke-4 rasul Paulus kepada jemaat di Kolose. ’Jangan lagi kamu saling mendustai,…’ Umat di Kolose nampaknya saling mengajar satu sama lain, bahwa yang penting kita telah dibaptis…peduli amat dengan perilaku hidup kita. Dosa yang kita lakukan tidak mempengaruhi keadaan jiwa kita asalkan kita tetap percaya kepada Yesus.’ Ini adalah ajaran yang sesat. Ajaran sesat adalah suatu kebohongan dan Paulus menghendaki agar umat berhenti dari kebiasaan ini.

Pertanyaan refleksi untuk kita: apakah kita pun seringkali mengatakan hal yang sama, membohongi diri kita hanya untuk membenarkan suatu tindakan dosa? Misalnya: “Allah kan Maharahim dan Mahakasih, pasti Dia akan mengampuni saya’. Sementara itu kita tetap mau mengakui bahwa kita adalah murid Yesus? Pesannya jelas dan tegas bagi kita: Stop it. Berhentilah membohongi diri sendiri. Rasul Yakobus berkata: “Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:26).

Homili Minggu Biasa XVII - Tahun C - 2010


Bacaan:
Kej 18:20-32
Kol 2:12-14
Luk 11:1-13

Homili

Saudara dan saudariku
Dalam bacaan-bacaan hari ini, paling tidak dalam bacaan I dan Injil, kita dapat belajar sesuatu mengenai doa dan bagaimana kita harus bertekun dalam permohonan yang kita anggap benar dan sesuai dengan kehendak Allah. Dalam bacaan I tadi kita mendengar sebuah kisah yang bagi saya sangat menarik karena nampaknya Abraham sebagai manusia ternyata lebih benar dan berbelaskasih dari pada Allah sendiri. Kisah ini bagi saya berbicara mengenai sesuatu yang terdalam di dalam diri kita.

Seringkali di dalam kehidupan ini, kita tidak melibatkan Allah dalam segala hal karena kita merasa dapat mengatasi beberapa situasi hidup kita dengan kekuatan sendiri. Akibat dari sikap yang demikian, maka akan sulit bagi kita untuk menerima kegagalan atau penderitaan yang tak beralasan. Singkatnya, jika mengharapkan sesuatu yang baik terjadi, maka itu harus terjadi.

Tetapi seringkali kita mengharapkan bahwa apa yang baik yang kita harapkan itu tidak mesti akan terjadi. Terkadang kita harus belajar untuk memahami kehendak Allah....bahwa Allah terkadang membiarkan sesuatu yang buruk terjadi atas diri kita supaya kita belajar rendah hati.

Dalam bacaan I tadi kita mendengar bahwa Abraham sangat yakin dengan apa yang ia mohonkan kepada Allah. Ia memohon supaya Allah tidak menjatuhkan hukuman kepada atas orang yang benar bersamaan dengan orang yang jahat. Ia katakan: ”Jauhilah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang yang benar bersama-sama dengan orang gasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Masakan Hakin segenap bumi tidak menghukum dengan adil? Akhirnya Tuhan mendengarkan permohonan Abraham.

Saudara dan saudariku
Keyakinan iman Abraham ini hendaknya juga kita miliki dalam doa-doa harian kita. Terkadang kita terus bertekun dalam doa-doa yang nampaknya mustahil. Apa yang kita mohonkan itu benar.... tetapi memang kita harus bertekun. Dalam bacaan I tadi juga Nampak bahwa Abraham terus bertekun dengan mengadakan penawaran kepada Allah. Ia yakin bahwa apa yang Ia minta itu baik di hadapan Allah.

Bagaimana dengan kita? Seringkali kita mudah putus asa. Kita merasa Allah seakan tidak menjawab doa kita. Akibatnya kita berhenti memohon. Terkadang kita butuh ketekunan, artinya tawar menawar dengan Allah agar situasi hidup kita berubah. Dengan kata lain, kita harus ’mendesak’ atau mendorong’ agar Allah mengabulkan permohonan kita. Ada suatu singkatan yang menarik dalam bahasa Inggris.

Mendorong: PUSH : Pray until something happen.

Dalam bacaan Injil hari ini, penginjil Lukas mengajarkan untuk tetap bertekun dalam doa-doa kita dan jangan mudah putus asa. Allah menghendaki agar kita terus meminta dengan sikap rendah hati atas apa yang butuhkan. Dari bacaan I tadi kita tahu intensi doa yang nampaknya tidak akan ditolak oleh Allah adalah momohon kasih dan pengampunan. Nah...memohon kasih dan pengampunan inilah yang menjadi inti doa Bapa Kami, sebagaimana kita dengar dalam bacaan Injil hari ini.

Berkaitan dengan itu, pertanyaannya adalah sikap doa seperti apakah yang paling pas ketika mendoakan Bapa Kami? Ada yang merentangkan tangan dan ada yang terkatub. Mana yang kiranya paling pas?

Semua sikap itu bisa dibenarkan tetapi coba kita lihat inti dari doa Bapa Kami itu. Intinya adalah permohonan atas belaskasih dan pengampunan dari Allah. Dan sikap batin yang paling tepat adalah menyadari kehinaan kita, dkl sikap rendah hati. Karena itu, sikap doa yang pas adalah seperti Bunda Maria, dengan tangan terkatub di dada. ”Ungkapan fiat Maria yang terkenal: ”Aku ini hamba Tuhan, terjadilah pada-Ku menurut perkataan-Mu itu?”.

Pertanyaannya mengapa imam kok merentangkan tangan? Dasarnya itu ada dalam kitab Kel 17 dalam kisah tentang orang Israel yang berperang melawan orang Amalek. Dalam ayat 11 dikatakan: “dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.” Nah...imam merentangkan tangan karena ia adalah pemimpin umat yang pada saat itu bertindak seperti Musa yang berdoa bagi kebutuhan umat. Tetapi sebagai umat, hendaklah kita menyampaikan permohonan itu dengan sikap doa seperti Bunda Maria.; dengan tangan terkatub di depan dada seperti bunda Maria.

Saudara dan saudariku...
Marilah di dalam perayaan ekaristi ini kita memohon apa saja yang kita butuhkan...memohon dengan penuh iman. Marilah kita memohon dengan tekun sampai kita mendapatkan. Semoga Roh Kudus menganugerahkan kita iman dan ketekunan.

Minggu Biasa XV-Tahun C-2010



Bacaan
Ul 30:10-14 Kol 1;15-20 Luk 10:25-37

Saudara dan saudariku
Dalam kisah tentang penciptaan dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. ‘Menurut gambar dan rupa-Nya’ bukan soal tampang luar, tetapi secara rohani-apa yang ada dalam diri kita. Itu berarti bahwa Allah telah menanamkan dalam diri kita Cinta dan belaskasihan-Nya. Ingat, rasul Yohanes mengatakan Allah adalah kasih. Juga dalam diri kita, Allah menempatkan hukum-Nya. Hukum Allah itu berkaitan dengan yang baik dan yang jahat.

Boleh jadi kita tidak terlalu menyadari akan rahmat pengetahuan ini karena kita adalah orang yang beriman. Tetapi seringkali seorang Atheist pun mampu menangkap kehadiran Ilahi dalam suatu tindakan kasih yang sederhana. Misalnya kesaksian hidup Mother Teresa, membuat banyak orang termasuk orang atheis menyadari kehadiran Ilahi dalam suatu tindakan sederhana.

Dalam bacaan I hari ini, yang diambil dari kitab Ulangan menunjukkan bahwa telah menempatkan pengetahuan ini dalam diri setiap orang dan bukan hanya kepada bangsa terpilih. Pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu bukanlah sesuatu yang berada di luar diri kita, tetapi dikatakan tertulis di dalam hati kita. Hal ini tidak berarti kita tidak perlu berusaha untuk memahami pengetahuan yang telah diberikan oleh Allah dalam hati kita itu. Akan tetapi kita justru harus berjuang keras untuk memahami kehendak Allah di dalam hati kita. Untuk memahami kehendak Allah itu, biasanya kita harus merenung melalui meditasi dan juga menggunakan akal sehat untuk memahami apa yang ada di dalam hati kita. Kita harus berusaha keras untuk memahami suara-suara yang ada di dalam hati kita karena ternyata ada banyak suara yang ada di sana.

Salah satu hasil dari usaha manusia untuk memahami apa yang benar dan apa yang salah adalah: hendaknya kita memperlakukan sesama kita sebagaimana kita harapkan orang lain berbuat kepada kita. Saya kira ini suatu kebenaran umum yang juga diakui oleh orang yang tak beragama sekalipun. Dengan kata lain, jika kita tidak ingin orang melakukan suatu tindakan tertentu kepada kita, maka janganlah lakukan itu kepada orang lain.

Ini adalah suatu kebenaran umum yang seringkali sulit sekali kita lakukan. Kita lihat dalam bacaan Injil hari ini: Seorang ahli Taurat berusaha membenarkan diri di hadapan Yesus dengan bertanya: ‘Siapakah sesamaku manusia?”. Yesus memberikan jawaban yang jelas. Inti dari jawaban Yesus adalah: Setiap orang yang pernah hadir dalam hidupku adalah sesamaku. Setiap orang yang membutuhkan bantuan adalah sesamaku. Setiap orang yang kita jumpai adalah sesama kita. Setiap orang yang peduli dan mencintaiku adalah sesamaku.

Yesus tidak berbicara tentang orang yang tinggal bersebelahan dengan kita atau tetangga kita tetapi semua orang.

Dalam bacaan II tadi dikatakan: “Kristus adalah gambar Allah, yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu yang ada …” Jika merenungkan kutipan ini, kita akan mudah melihat bahwa ternyata Kristus hadir dalam setiap ciptaan tetapi pertama dan terutama Ia hadir dalam setiap manusia. Dalam kisah tentang Pengadilan Terakhir, Yesus mengatakan: “apapun yang kau lakukan bagi sesamamu, itu kau lakukan untuk Aku” (Mat 25:40). Artinya, jika kita melakukan sesuatu yang jahat kepada sesama kita, maka itu kita lakukan bagi Kristus. Jika kita melakukan sesuatu yang baik kepada sesama berarti itu kita lakukan bagi Kristus. Pada tataran pengetahuan, kita semua pasti tahu akan hal ini, tetapi sayang bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita justru gagal melakukan hal ini.

Oleh karena itu, saya mengajak kita untuk melihat secara lebih detail bacaan Injil hari ini. Ketika seorang ahli taurat bertanya kepada Yesus, Ia menjawab dalam sebuah perumpamaan:

Ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yeriko. Yesus tidak menyebut orang itu dari golongan mana, apakah ia seorang Farisi, ahli Taurat atau rakyat jelata. Atau dia dari suku apa tidak dikatakan. Hal yang pasti bahwa orang itu adalah orang Yahudi. Apakah orang itu baik atau tidak, punya kedudukan penting atau bukan? Hal itu tidak penting bagi Yesus. Yang penting adalah bahwa dia seorang manusia.

Ia jatuh ke tangan penyamun. Kasihan banget orang itu. Beberapa minggu yang lalu saya ke Oasis dan di sana saya ketemu dengan salah seorang umat kita yang keluarganya meninggal karena mutilasi. Penyamun dalam dunia sekarang dapat kita bayangkan sebagai aktor mutilasi tersebut. Di sini Yesus berbicara tentang sesuatu yang nyata karena Ia pun hidup di dunia ini. Yesus tahu bahwa ada orang-orang semacam itu.

Kebetulan ada seorang imam dan kemudian juga seorang Levi melewati jalan yang sama. Dalam Taurat Musa, yang berhak menjadi imam adalah kaum keturunan Levi. Jadi imam dan Levi itu adalah orang-orang beragama. Tetapi aneh bahwa hati mereka tidak tergerak oleh belaskasihan oleh peristiwa itu. Berkaitan dengan ini saya mau mengatakan bahwa beriman dan berbelaskasih adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Jika hati kita tidak merasa iba atau berbelaskasih karena suatu peristiwa sedih maka kita tidak dapat menyebut diri kita sebagai manusia sejati betapapun kita rajin berdoa.

Lalu datanglah seorang Samaria. Ketika melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belaskasihan dan segera menolong korban itu. Dia tidak peduli tentang masalah yang mungkin akan mengacam dia karena boleh jadi para penyamun itu masih berada di sekitar situ. Ia juga tidak peduli bahwa ternyata korban itu adalah orang Yahudi. Pada saat itu, Orang Yahudi dan Orang Samaria saling bermusuhan karena perpedaan dalam hal keagamaan.

Saudara dan saudariku
Kisah ini tidak menyebutkan siapakah Imam, levi atau orang Samaria itu tetapi paling tidak sedikit mengungkapan kepada kita orang seperti apakah mereka. Imam dan Levi tadi adalah orang yang egositik. Ketika bahaya mengancam, yang diutamakan adalah keselamatan diri sendiri. Sedangkan orang Samaria adalah orang yang peduli. Dia selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.

Pertanyaan: Imam dan Levi itu berdosa atau tidak? Melakukan dosa kelalaian. Lalai adalah kegagalan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan.

Pandangan moral katolik mengatakan: ”Kelalaian adalah pelanggaran melawan hukum moral karena seseorang tidak bertindak dalam situasi yang sebenarnya ia dapat dan harus bertindak.” Menurut St. Thomas Aquinas, kelalaian yang dilakukan secara sengaja adalah dosa. Misalnya, jika kita melihat seorang buta yang ingin menyeberang tapi kita pura-pura berjalan terus, atau jika kita melihat suatu kecelakaan dan kita pura-pura berjalan terus. Mungkin karena prinsip yang kita anggap terbaik adalah: sebisa mungkin menghindari masalah atau kalau bisa sebanyak mungkin menghindari tanggung jawab.

Saudara dan saudariku
Dosa kelalaian ini boleh jadi merupakan dosa yang seringkali kita lakukan. Kita berpikir yang penting saya tidak melakukan apapun yang menyakiti orang. Kisah Yesus tentang orang Yahudi yang dirampok habis-habisan dan terkapar setengah mati di tepi jalan, adalah kisah bagi zaman ini. Kisah ironis yang mempertemukan kita dengan sikap menghindari yang berlebihan. Memang kisah Yesus ini sebenarnya bicara tentang sebuah "kebetulan". Sekurang-kurangnya ada beberapa kebetulan di sana. Kebetulan seorang imam melalui jalan itu. Kebetulan seorang Lewi melaluinya juga. Namun, 'kebetulan' inilah yang sekarang menjadi sebuah teguran bagi kita. Mungkin kita agak meremehkan keadaan-keadaan yang juga kebetulan kita alami. Padahal dalam keadaan-keadaan yang sangat situasional itu, ditunggu sebuah tanggapan dan tindakan yang tepat dari diri kita.

Mungkin kita ingat saja pengalaman kita kalau sedang bepergian. Apalagi kalau kita sedang berjalan atau berkendaraan, untuk hadir di sebuah acara atau datang tepat waktu di kantor. Di kepala kita hanya ada tempat yang kita tuju itu.

Dalam hati, kita berkata, "saya tidak mau diganggu", atau "saya tidak mengharapkan kejutan di tengah jalan". Sama persis dengan imam dan orang Lewi itu, punya tujuan sendiri, tak mau diganggu siapapun. Kita berdoa supaya jangan terjadi sesuatu pun di jalan, sekalipun sesuatu itu adalah orang tak dikenal yang sedang celaka dan menderita! (Jangan-jangan anggota keluarga sendiri yang sedang menderita pun bisa dianggap gangguan?).

Itulah keadaan ketika kita tidak mengenali siapa sesama itu. Itulah keadaan ketika kita tidak memperhitungkan sesosok manusia di depan mata sebagai sesama. Waktu itu, kita tidak suka bertemu apa atau siapapun secara kebetulan. Padahal Yesus mengatakan, sesama kita adalah mereka yang 'kebetulan' kita jumpai! Jadi, karena takut dengan segala sesuatu yang kebetulan itu, kita pun menjadi buta dan berbuat sesuatu keliru di mata Yesus. Tanggapan kita jadi keliru karena juga keliru mengira 'siapa' sesama itu. Bagi Yesus, sesama itu justru mereka yang tidak kita kenal, tidak kita harapkan, barangkali juga musuh kita, tapi yang sedang celaka dan keadaannya mengganggu hati kecil kita. Siapapun yang tidak kita kenal akan menjadi 'sesama' karena kondisinya menuntut jawaban yang segera dari diri kita. Dan hanya orang Samaria itu, yang juga sedang dalam perjalanan, yang berani melepaskan tujuannya sendiri, berhenti, dan mau terlibat dengan kesusahan orang tak dikenal itu!

Mungkin tujuan kita akan gagal, atau kita terlambat sampai ke tujuan jika kita menuruti kata hati kita, jika kita berhenti dan terlibat dengan penderitaan seseorang yang kebetulan kita temui. Akan tetapi, yang kita lakukan demi orang itu akan sangat mulia di mata Tuhan. Tuhan akan banyak berbicara melalui hati kecil kita. Ia akan bicara dengan sangat perlahan dan begitu lembut. Kalau tak diperhatikan sungguh-sungguh, kita akan mudah mengabaikannya.

Percayalah, tidak ada kebetulan yang sungguh-sungguh hanya kebetulan. Kalau suatu kali, perjalanan kita seolah-olah 'terganggu' oleh sebuah kebetulan (seseorang yang mengalami kesulitan), mari kita justru berhenti, lupakan tujuan kita sendiri, dan ikuti kata hati kita saat itu. Amin.

Renungan Minggu biasa XIII-Tahun C-2010

Bacaan
1Raj 19:16b. 19-21
Gal 5:1. 13-15
Luk 9:51-62

Renungan

Saudara dan saudari
Hidup kita ini senantiasa dalam perjalanan. Kisah injil hari ini menggambarnya dengan sangat jelas. Kalau kita membaca Injil Lukas, kita dapat melihat bahwa Yesus senantiasa berada dalam perjalanan. Dia tidak pernah kembali ke tempat saya untuk kedua kalinya Ini adalah salah satu perbedaan antara Injil Lukas dan dua lainnya injil sinoptik.

Dalam Injil tadi dikatakan: ”menjelang hari pengangkatan-Nya Yesus berteguh hati untk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia

Ini adalah suatu peristiwa yang biasa. Misalnya jika kita ingin pergi ke suatu tempat, kita pasti juga telah membooking hotel atau tempat penginapan sebagai persiapan kedatangan kita. Yesus juga melakukan hal ini, ketika ia mengutus para murid untuk mendahului Dia ke Yerusalem sebagai persiapan perjamuan malam.

Jadi peristiwanya sangat biasa namun memiliki makna yang sangat penting. Peristiwa ini memiliki makna eskatologis, artinya berkatian dengan realitas dunia yang akan datang. ”Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem.” Yerusalem adalah simbol kota surgawi” Dalam wahyu 21: 2: ”Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya

Saudara dan saudari dalam Kristus.
Berjalan menuju Yerusalem berarti Yesus berjalan menuju kemuliaan-Nya. Ketika Ia hidup di dunia ini pun, Yesus senantiasa mewartakan tentang hari kemuliaan-Nya pada akhir zaman. Karena itu Yesus mengutus para murid untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya.

Para murid datang kepada kota-kota di Samaria agar bersiap untuk menyambut Yesus, teetapi mereka menolak-Nya karena tujuan Yesus adalah Yerusalem. Tujuannya sudah pasti yaitu Yerusalem. Jalan yang ditapaki pun sudah jelas.... tetapi dalam perjalanan itu sesatu saja ada hambatan.

Di sini penginjil Lukas mau menunjukkan kepada kita bahwa hal yang sama pun bisa terjadi dengan kita. Kita semua mungkin tahu bahwa tujuan peziarahan hidup kita adalah Yerusalem surgawi, persatuan dengan Allah. Boleh jadi kita pun telah mengarahkan pandangan kita kepada kota suci surgawi, tetapi di tengah jalan kita menemukan banyak sekali perangkap dan jerat atau tantangan yang mencoba membelokan orientasi hidup kita.

Saudara dan saudariku
Dikatakan bahwa ketika Yesus dalam perjalanan itu, ada 3 orang yang datang dan bertanya apakah mereka diperkenankan untuk mengikuti Dia? Orang yang pertama berkata: ”Aku akan mengikuti Engkau ke mana saja Engkau pergi” tetapi Yesus berkata kepadanya: ”Serigala mempunyai liang dan burung mempunya sarang, tetapi Putera Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala-Nya!” Perkataan Yesus ini berkaitan dengan kenyamanan pribadi.

Jika anda masuk dalam rombongan mentri atau presiden yang sedang melakukan suatu kunjungan ke daerah, maka pasti anda akan tinggal di sebuah hotel yang mewah. Tetapi hal itu tidak berlaku kalau anda mengikuti Yesus. Yesus ingin mengatakan bahwa kerajaan Allah harus diutamakan di atas kenyaman pribadi. Jika ingin mengikuti Yesus maka persiapkan untuk mendapat perlakuan yang kasar atau bahkan penolakan. Jika ingin mengikuti Yesus dan menjadi anak-anak kerajaan Allah, maka jalan hidupmu pastilah penuh dengan tantangan.

Dalam perjalanan itu, Yesus berjumpa dengan orang lain dan berkata kepadanya: ”Ikutilah Aku” Orang itu berkata: ”Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku” Tetapi Yesus berkata: ”biarlah ornag mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah kerjaan Allah di mana-mana

Hal ini berkaitan dengan prioritas hidup. Yesus ingin mengatakan bahwa betapa pun kita peduli dengan keluarga kita, tetapi Kerajaan Allah haruslah diutamakan di atas kewajiban kita terhadap keluarga.

Memang tidak mudah. Hal ini merupakan suatu tuntutan yang tidak mudah. Tidak peduli seberapa baik niat kita...bahkan untuk alasan untuk menguburkan ayah pun, tidak bisa dijadikan sebagai alasan.

Yah...saya kira tuntutan Yesus ini sangat berat. Jika ayah saya meninggal, saya pasti akan kembali paling tidak untuk menghadiri upacara pemakamannya. Di zaman Yesus, jika seorang anak tidak menghadiri upacara pemakaman ayahnya, berarti tanda penghinaan yang besar dengan cara itu dia memutuskan relasi kekekuargaan. Dan dia tidak akan mendapat warisan apapun.

Di sini Yesus sebetulnya mau mengatakan bahwa jika kita memang setia kepada keluarga, entah apapun alasannya, maka kesetiaan yang sama pun harus kita berikan demi Kerajaan Allah. Komitmen dan kesetiaan kepada Kerajaan Allah harus melebihi kesetiaan kepada yang lain.

Orang yang ketiga berkata kepada Yesus: ”Aku akan mengikuti Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku”. Tetapi Yesus berkata: ”Setiap orang yang siap untuk membajak dan menoleh ke belakang tidak layak untuk Kerajaan Allah”

Di sini, Yesus sekali lagi menegaskan bahwa Kerajaan Allah hendaknya diutamakan di atas kepentingan yang lain. Untuk mencapai Kerajaan Allah, orang memerlukan konsentrasi. Kalau suka menoleh ke kiri dan kanan, maka jalan kita tidak akan lurus.

Jika kita memang telah mengarahakan hidup kita kepada Kerajaan Allah maka kita harus benar-benar memperhatikan...hal ini butuh konsentrasi. Artinya harus serius. Kita harus berkomitmen.

Saudara dan saudariku
Merenungkan bacaan Injil hari ini memang sangat keras. Tetapi memang kita harus bertekun.

Saudara dan saudari dalam Kristus.
Ada dua cara pandang terhadap perkataan-perkataan Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Cara pandang yang pertama adalah dari sudut manusia yang memerlukan ketekunan. Jika kita memang ingin mencari Allah, maka carilah Allah. Jika anda ingin bekerja di ladang Tuhan, maka lakukanlah”. Berikanlah yang terbaik bagi Kerajaan Allah. Berharaplah kepada Allah, percayalah kepada-Nya dan bertekunlah. Inilah yang dapat kita lakukan dari pihak kita.

Cara pandang yang kedua terhadap perkataan-perkataaan Yesus di atas adalah dari sudut rahmat.

Perspektif Rahmat:
Artinya, jika Allah telah memanggil kita, maka dia pasti akan memberikan kita rahmat agar kita dapat melakukan pekerjaan yang akan dipercayakan kepada kita. Tetapi untuk itu kita harus terbuka dan mengesampingkan segala bentuk kenyamanan pribadi.

Saudara dan saudariku
Dari permenungan ini muncullah 2 pertanyaan refleksi bagi kita
1. Apa motivasi kita untuk mengikuti Yesus? Seberapa jauh saya mau pergi bersama dengan Yesus? Apakah saya hanya mencari kenyamanan pribadi?
2. Bagaimana saya bersikpa ketika menghadapi kesulitan dalam perjalanan iman saya? Apakah saya menyerah kalah? Apakah saya lalu meninggalkan Yesus?

Mari kita hening sejenak untuk pertama tama bersyukur kepada rahmat Allah yang telah memperkuat kita hingga saat ini. Bersyukurlah kepada Allah atas rahmat-Nya yang senantiasa berlimpah di dalam hidup kita.

Tubuh dan Darah Kristus


PENGAJARAN TENTANG EKARISTI

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Mengapa ada hari khusus untuk menghormati Tubuh dan Darah Kristus? Bukankah setiap kali kita merayakan ekaristi, kita juga merayakan misteri Tubuh dan Darah Kristus?

Sekilas tentang sejarah dari HR Tubuh dan Darah Kristus
Hari Raya ini dikehendaki oleh Yesus sendiri melalui St. Yuliana. Ia masuk biara pada tahun 1206 pada usia 13 tahun. Pada usia 16 tahun dia mulai mendapat anugerah penglihatan.

”Ia melihat bulan di langit; dan walau bulan bersinar terang gemilang, namun terdapat suatu noda hitam padanya!”

Ia tidak terbiasa dengan penglihatan semacam itu jadi ia pikir itu hanya imaginasi. Tetapi penglihatan itu datang lagi dan terus datang lagi. Akhirnya ia merasa bahwa penglihatan itu datang dari Tuhan.

Yesus sendiri yang menjelaskan penglihatan itu
“Engkau gelisah karena penglihatan itu. Sesungguhnya, Aku menghendaki agar ditetapkan suatu hari raya istimewa bagi Gereja Pejuang, sebab perayaan ini teramat penting, yaitu Hari Raya Sakramen dari Altar yang Mahamulia dan Mahakudus. Pada masa sekarang, perayaan akan Misteri ini hanya dilakukan pada hari Kamis Putih. Tetapi, pada hari itu, teristimewa Sengsara dan Wafat-Ku yang direnungkan. Sebab itu, Aku menghendaki suatu hari lain dikhususkan, di mana Sakramen Mahakudus dari Altar akan dirayakan oleh segenap umat Kristiani!

Yesus sendiri menyebutkan 3 alasan mengapa dirayakan hari khusus untuk menghormati Tubuh dan Darah-Nya. Pertama, agar iman akan Sakramen Mahakudus diperteguh, terutama apabila orang-orang jahat menyerang misteri ini di kemudian hari. Kedua, agar umat beriman diperkuat dalam mencapai kesempurnaan melalui kasih mendalam dan sembah sujud kepada Sakramen Mahakudus. Ketiga, agar supaya dengan hari raya ini dan dengan cinta kasih yang ditujukan kepada Sakramen dari Altar, silih dilakukan bagi penghinaan dan kurangnya rasa hormat terhadap Sakramen Mahakudus.”

Paus Urbanus IV menerbitkan Bulla Transiturus pada tanggal 8 September 1264, di mana setelah mengagungkan kasih Juruselamat kita dalam Ekaristi Kudus, ia memaklumkan agar Hari Raya Corpus Christi dirayakan setiap tahun pada hari Kamis sesudah Hari Raya Tritunggal Mahakudus.

Sejak tahun 1970, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dirayakan pada hari Minggu sesudah Hari Raya Tritunggal Mahakudus.

Saudara dan saudariku
Berkaitan dengan pesta yang kita rayakan hari ini, hal yang patut kita renungkan adalah bagaimana sikapku terhadap Sakramen Ekaristi?

Kan 898 – Umat beriman kristiani hendaknya menaruh hormat yang sebesar-besarnya terhadap Ekaristi mahakudus, dengan mengambil bagian aktif dalam perayaan Kurban mahaluhur itu, menerima sakramen itu dengan penuh bakti dan kerap kali, serta menyembah-sujud setingggi-tingginya; ….

Nah…berkaitan dengan anjuran tersebut di atas, muncul beberapa keprihatinan berikut ini:
• Berkaitan dengan sikap sejumlah umat dalam mengikuti ekaristi: datang terlambat pulang lebih cepat.
• Fenomena lain terlihat pada waktu liturgi sabda: umat tidak menerima pewartaan sabda secara utuh karena asyik ngobrol, aktivasi hp secara diam-diam, beri makan anak, dll.
• Fenomena lain terlihat dari cara orang berpakaian ke gereja.
• Banyak orang tidak memahami Ekaristi. Mereka beranggapan bahwa ekaristi adalah suatu peristiwa biasa yang duaniawi. Ingat ekaristi yang dirayakan dengan secara dingin akan menghalangi orang untuk mengalami kehadiran Allah.
• Padahal Secara hakiki, Misa Kudus merupakan liturgi resmi Gereja di mana perayaan misteri Paskah Kristus - yakni penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya dihadirkan kembali dalam rasa syukur dan sekaligus mendatangkan penebusan, pengudusan dan keselamatan secara nyata.

Saudara dan saudariku
Hari ini saya tidak bicara tentang teologi Ekaristi, tetapi saya hanya ingin menceritrakan sebuah kisah tentang Misteri Ekaristi sebagaimana yang dialami oleh Catalina, seorang stigmatis dan visioner. Semoga kisah ini juga membuat kita untuk semakin bersikap hormat dan menghargai ekaristi.

Sekilas tentang Catalina
Katya (Catalina), tidak sampai tamat dari sekolah menengah atas, dan tidak pernah studi kitab suci. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan teologis, tetapi ia menuliskan dengan lancar, tanpa adanya kesalahan teologis, beratus-ratus halaman berisikan ajaran-ajaran teologis dan komentar biblis yang mendalam, yang menurutnya didiktekan kepadanya oleh Kristus.

Tulisan-tulisan ini didiktekan kepada Katya dalam bahasa Spanyol (meski terkadang juga dalam bahasa-bahasa lain seperti Latin, Polandia, Italia dan Yunani; bahasa-bahasa yang tidak dimengerti Katya).

Terlebih lagi mencengangkan betapa indah tata bahasa dan ritme dalam bahasa aslinya, Spanyol, dan betapa kebenaran-kebenaran teologis yang mendalam diungkapkan dengan kesederhanaan yang tepat.

Terkadang, pesan yang disampaikan singkat dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk menuliskannya. Di lain waktu, pesan-pesannya jauh lebih panjang, kadang kala dibutuhkan hingga nyaris satu jam untuk menuliskannya. Ia menulis tanpa berhenti, tanpa mengubah satu kata pun, terkadang hingga 14 halaman sekaligus.

Pesan-pesan yang didiktekan oleh Yesus disusun menjadi delapan buku. Pada tanggal 2 April 1998, kedelapan buku tersebut mendapatkan Imprimatur dari Uskup Agung Cochabamba, Mgr René Fernández Apaza, yang adalah salah seorang dari banyak saksi yang ikut menyaksikan secara langsung bagaimana Katya menulis tanpa referensi dari material apapun.

Salah satu pesan Yesus kepada Catlina adalah: “Apa yang ditulis tanganmu yang dibimbing oleh tangan-Ku akan tetap, diulang dan diperkuat oleh suara-suara lain hingga memenuhi Bumi…” [“The Great Crusade of Love”, Pesan 22]

Buku-buku tulisan Catalina itu dipersembahkan, pertama kepada alm Paus Yohanes Paulus II, sebagai rasul Evangelisasi baru. Catalina mengatakan, dari teladan hidup beliaulah, kami umat awam, belajar mengenai iman, keberanian dan kesalehan. Juga dipersembahkan kepada para imam. Catalina menulis, para imam sebagai tali pusat antara Tuhan dan manusia, yang menyampaikan rahmat Ilahi melalui pengampunan dan konsekrasi Ekaristi.

Saudara dan saudariku.
Peristiwa yang dialami oleh Catalina terjadi pada tanggal 25 Maret. (ada yang tahu, hari raya apa pada saat itu)

Pada malam sebelumnya ia menerima sakramen tobat sebagai persiapan perayaan ekaristi pada keesokan harinya.

Keesokan harinya ia datang agak terlambat. Iringan arak-arakan petugas liturgi sudah keluar dari sakristi.

Bunda Maria menampakan diri kepadanya dan mengatakan: “hari ini adalah hari pelajaran bagimu; dan aku ingin engkau memperhatikan dengan saksama sebab semua yang engkau saksikan hari ini, semua yang engkau alami pada hari ini, harus engkau bagikan kepada segenap umat manusia”

Hal pertama yang ia saksikan adalah suatu paduan suara yang sangat indah dan merdu yang bernyanyi seakan dari kejauhan. Terkadang musik datang mendekat dan kemudian menjauh seperti suara angin.

Ritus Tobat
Pada waktu ritus tobat, santa Maria mengatakan: “dari lubuk hatimu, mohonlah pengampunan Tuhan atas segala kesalahanmu karena telah menyakiti-Nya. Dengan demikian, engkau akan dapat berpartisipasi dengan pantas dalam hak istimewa ini, yakni ikut ambil bagian dalam misa kudus”

Terlintas dalam pikiran Cataliana: ”saya kan dalam keadaan berahmat. Saya kan baru mengaku dosa semalam.’

Bunda Maria menjawab: ”Apakah engkau pikir bahwa engkau tidak menyakiti Tuhan sejak tadi malam? Mari, aku ingatkan engkau beberapa hal....

Lintani kesalahannya…..
Pagi, tadi ketika pembantumu meminta sesuatu dari Anda, dan karena anda sudah terlambat, anda menjawab dengan tergesa-gesa dan tidak dengan cara yang baik”

“Engkau tiba pada menit-menit terakir ketika prosesi selebran menuju altar telah dimulai…dan engkau akan ikut ambil bagian dalam misa tanpa persiapan terlebih dahulu….?

Catalina: “Ya Bundaku…engkau tak perlu lagi mengingatkan aku akan lebih banyak hal lagi, sebab saya bisa mati karena sedih dan malu.

Bunda Maria: ”“mengapa kalian semua harus tiba di saat-saat terakhir? Kalian seharusnya tiba lebih awal agar kalian dapat berdoa dan memohon Tuhan mengutus Roh Kudus-Nya agar Roh Kudus menganugerahi kamu roh damai dan membersihkan kalian dari roh duniawi, kekuatiran, masalah, distraksi agar kalian dapat mengalami saat yang begitu sakral. Tetapi engkau tiba nyaris perayaan hendak dimulai, dan ikut ambil bagian dalam misa seolah misa adalah peristiwa yang biasa, tanpa ada persiapan rohani. Misa adalah anugerah teragung. Engkau akan mengalami saat ketika Allah yang mahatinggi memberikan anugerah-Nya yang teragung, dan engkau tidak menghargainya.”

Gloria
Ketika saat Gloria dinyanyikan, Bunda Maria mengatakan:
“Muliakanlah dan luhurkanlah Allah Tritungal Mahakudus dengan segenap kasihmu, dalam kesadaran diri sebagai makhluk ciptaan Tritunggal” …….

Saat liturgi sabda, Santa Maria mendiktekan sebuah doa dan memintanya mengulangi doa ini: “Tuhan, pada hari ini aku hendak mendengarkan sabda-Mu dan menghasilkan buah berlimpah. Kiranya Roh Kudus-Mu mempersiapkan ladang hatiku agar sabda-Mu dapat tumbuh dan berkembang di dalamnya. Tuhan, murnikanlah hatiku agar tertuju kepada-Mu”

Lebih lanjut santa Maria mengatakan: “Aku ingin engakau mendengarkan dengan saksama bacaan-bacaan dan seluruh homili imam. Ingatlah bahwa Kitab Suci mengatakan bahwa Sabda Allah tidak akan kembali tanpa menghasilkan buah. Apabila engkau mendengarkan dengan saksama, sesuatu dari semua yang telah engkau dengarkan akan tinggal padamu …….

Berusahalah untuk mengingat sepanjang hari, sabda yang berkesan bagimu. Terkadang, itu dapat berarti dua ayat, terkadang bacaa dari seluruh Injil, atau mungkin hanya satu kata saja. Resapkanlah sabda itu sepanjang hari maka ia akan menjadi bagian darimu, sebab dengan demikianlah caranya untuk mengubah hidup seseorang, dengan membiarkan Sabda Tuhan mengubahmu”

Katakan kepada Tuhan, bahwa engkau ada di sini untuk mendengarkan sabda-Nya, bahwa engkau rindu ia berbicara kepada hatimu pada hari ini”

Setelah itu, Catalina lalu mengucapkan doa syukur kepada Tuhan karena telah memberikan kesempatan kepadanya untuk mendengarkan sabda-Nya.

Dia juga memohon ampun atas sikap keras hati selama bertahun-tahun dan karena mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa mereka harus pergi ke gereja pada hari minggu karena demikianlah diperintahkan oleh gereja.

Ia juga memohon ampun karena selama itu ia menghadiri misa hanya karena memenuhi kewajiban, dan dia percaya bahwa dengan itu dia sudah bisa diselamatkan. Dia tidak pernah memberi perhatian pada bacaan-bacaan Kitab Suci atau homili imam.

Persembahan
Ketika tiba saat untuk persembahan, Santa Maria mengatakan: “berdoalah seperti ini (dan ia mengulanginya) ‘Allah, aku persembahkan segala keberadaanku, segala milikku, segala kemampuanku. Aku letakan semuanya ke dalam tangan-tangan-Mu ubalah aku, ya Allah yang Mahakudus, malalui jasa-jasa Putera-Mu…..

Aku berdoa bagi keluargaku, bagi para penderma, bagi setiap anggota apostolate kami, bagi semua orang yang menentang kami, bagi mereka yang mempercayakan diri mereka kepada doa-doaku yang miskin…ajarilah aku untuk meletakan hatiku di atas tanah di hadapan mereka, agar jalan mereka berkurang beratnya…..”

Tiba-tiba dia melihat beberapa figur yang tidak ia lihat sebelumnya, mulai berdiri. Seolah dari sisi setiap orang yang hadir di gereja saat itu, muncullah seorang yang lain. Segera gereja itu di penuhi oleh makhluk-makhluk muda yang menawan. Mereka mengenakan jubah yang sangat putih dan bersih; mereka mulai bergerak di lorong tengah gereja menuju ke altar

Bunda Maria mengatakan: “lihatlah, mereka adalah malaikat pelindung dari setiap orang yang ada di sini. Inilah saat di mana para malaikan pelindung kalian menyampaikan persembahan dan doa-doa kalian di hadapan altar Tuhan”

Perarakan itu begitu indah. Kaki mereka yang telanjang tidak menyentuh lantai, tetapi seakan meluncur.

Sebagian dari malaikat pelindung itu membawa sesuatu serupa mangkok emas dengan sesuatu di dalamnya, yang tampak bersinar cemerlang dengan cahaya putih keemasan.

Santa Maria mengatakan: “lihatlah mereka adalah para malaikat pelindung dari orang-orang yang mempersembahkan misa dengan banyak intensi, mereka yang sadar akan makna perayaan ini, mereka yang mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

Lebih lanjut Bunda Maria mengatakan: “persembahkanlah penderitaan, sakit, harapan, kesediahan, sukacita kalian. Haturkanlah permohonan-permohonan kalian. Ingatlah bahwa misa mengandung nilai yang tak terhingga. Sebab itu, bermurah hatilah dalam persembahan dan dalam permohonan”

Selanjutnya di belakang para malaikat yang pertama, datanglah malaikat-malaikat lain tanpa sesuatu pun di tangan mereka. Mereka datang dengan tangan kosong.

Santa Maria mengatakan: “mereka adalah para malaikat dari orang-orang yang meski hadir di sii, tetapi tidak pernah mempersembahkan apapun. Mereka tidak mempunyai minat untuk mengalami setiap saat liturgis dalam misa, sehingga para malaikat mereka tidak mempunyai persembahan untuk dihaturkan di hadapan altar Allah”

Di akhir prosesi, datang pula malaikat-malaikat lain yang tampaknya sedih, dengan tangan mereka terkatub dalam doa, tetapi mata mereka terarah ke bawah.

Maria: “mereka ini adalah para malaikat pelindung dari orang-orang yang ada di sini, namun tidak menghendakinya. Yakni orang-orang yang merasa terpaksa datang, yang datang kemari karena kewaiban, tanpa kerinduan untuk ikut ambil bagian dalam Misa Kudus. Malaikat mereka maju dengan sedih hati sebab mereka tidak mempunya sesuatu yang dihaturkan di hadapan altar, selain doa-doa mereka (para malaikat) sendiri.

Lebih lanjut Bunda Maria mengatakan: “janganlah mendukakan Malaikat Pelindungmu…mohonlah banyak-banyak. Mohonlah demi pertobatan orang berdosa, demi perdamaian dunia, demi sanak saudaramu, demi sesama, demi mereka yang meminta doamu. Mohonlah banyak-banyak, tidak hanya untuk dirimu sendiri, melainkan juga untuk semua orang.

“ingatlah persembahan yang paling menyenangkan Tuhan adalah ketika kalian mempersembahkan diri kalian sendiri sebagai korban bakaran agar Yesus, dengan turun-Nya ke dunia, dapat mengubah kalian melalui jasa-jasa-Nya sendiri…”

Prefasi
Ketika saat akhir dari prefasi, ketika semua umat menyanyikan “kudus, kudus, kuduslah Tuhan…..tampaklah beribu-ribu malaikat dalam suatu garis diagonal: ada yang kecil dan ada yg besar, ada yang bersayap lebar dan bersayap kecil….mereka semua mengenakan jubah putih seperti alba para imam atau misdinar.

Semuanya berlutut dengan tangan terkatub dalam doa dan menundukan kepala dalam suatu sikap yang hormat
Terdengar suara musik yang merdu, seolah ada begitu banyak paduan suara yang berpadu dalam harmoni dalam beragam suara. Semuanya bermadah sesuara dengan umat: “kudus, kudus, kudulah Tuhan….

Tibalah saat konsekrasi. Ini adalah saat yang paling mengagumkan dari semua mukjiat yang di alami oleh Catalina.

Apa yang dilihat oleh Catalina?

Di belakang uskup agung, tanpak suatu himpunan besar orang, juga dalam suatu garis diagonal. Mereka mengenakan jubah serupa dengan jubah para malaikat pelindung, tetap penuh warna warni yang amat lembut. Mereka semua berlutut juga dan bernyanyi: “kudus-kudus, kudus….

Bunda Maria mengatakan: ‘mereka adalah santo-santa, beato dan beata di surga. di antara mereka terdapat juga jiwa dari sanak saudara dan anggota keluarga kalian yang telah menikmati hadirat Tuhan.

Setelah itu, Catalina melihat Bunda Maria. Ia ada di sana, tepat di sebelah kanan Uskup… posisinya agak setapak ke belakang. Ia sedikit melayang di atas lantai, berlutut di atas suatu bantalan yang amat indah, transparan sekaligus bercahaya seperti kristal.

Santa Maria dengan tanganya terkatub dalam doa, memandang dengan penuh perhatian dan hormat kepada selebran. Maria berbicara dari sana kepada Catalina, tetapi tanpa suara, langsung ke hatinya, tanpa memandangnya”

Bunda Maria lalu berkata: “mengapa kamu merasa aneh bahwa saya berdiri agak ke belakang? demikianlah seharusnya… sekalipun begitu besar kasih Puteraku kepadaku, tetapi Ia tidak memberiku martabat seperti yang Ia berikan kepada seorang imam, yakni dapat mendatangkan Puteraku dalang tangan-tanganku setiap hari, seperti yang dilakukan oleh tangan-tangan imamat-Nya. Karena itu, aku merasakan hormat mendalam bagi seorang imam dan bagi segala mukjizat yang Tuhan selenggarakan melalui imam. Hal itu membuat aku berlutut di sini.

Pada saat itu, Catalina hanya bisa mengatakan: “ya Tuhanku, betapa tingginya martabat imamat yang Engkau limpahkan atas jiwa-jiwa imamat. Dan kita, bahkan mungkin sebagian dari mereka tidak menyadarinya”

Lalu, di depan altar tampaklah bayang-bayang manusia berwarna abu-abu dengan tangan terikat.

Santa Maria mengatakan: “mereka adalah jiwa-jiwa di api penyucian yang menantikan doa-doa kalian agar dibebaskan. Janganlah berhenti berdoa bagi mereka. Mereka berdoa bagi kalian, tetapi mereka tidak dapat berdoa bagi diri mereka sendiri.

Lebih lanjut Maria mengatakan: “banyak orang pergi mencariku ke mana-mana, di tempat-tempat ziarah di mana aku menampakan diri. Itu baik, sebab segala rahmat yang mereka terima dari sana. Tetapi tidak dalam penampakan manapun, juga tidak di tempat manapun aku hadir lebih lama (sepanjang waktu) dari pada di dalam misa kudus. Kalian akan mendapatiku di kaki altar di mana ekaristi dirayakan. Di kaki tabernakel, …..

Pada saat konsekrasi, Catalina melihat bahwa celebran diliputi oleh suatu cahaya adikodrati antara putih dan emas melingkupinya. Cahaya itu semakin bertambah kuat seputar wajahnya, sehingga Catalina tidak dapat melihat wajahnya.

Ketika celebran menunjukkan hosti, catalina melihat ada tangan yang ditandai bekas paku..dari tangan itu memancar cahaya yang berlimpah. Itu adalah Yesus. Dialah yang merenugkuh tubuh-Nya di sekelilin celebran.

Hosti semakin bertambah besar…dan di atasnya tampak wajah Yesus yang mengagumkan, memandang umat-Nya.

Secara naluri, catalina hendak menundukkan kepala, tetapi bunda Maria mengatakan: “janganlah menunduk, tegakan kepalamu untuk memandang dan mengkontemplasikan Dia.

Tataplah mata-Nya dan ulangi doa ini: “Tuhan, aku percaya, aku menyembah, aku berharap, dan aku mengasihi Engkau. Aku memohon pengampunan bagi mereka yang tidak percaya, yang tidak menyembah, yang tidak berharap dan yang tidak mengasihi Engkau.

Setelah itu, catalina menyaksikan peristiwa golgota terjadi di atas altar”.

Dan Santa Maria mengatakan: “Inilah mukjizat dari segala mukjizat. Inilah yang kukatakan kepadamu bahwa Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Pada saat konsekrasi, setiap umat dibawa ke kaki kalvari, pada saat penyaliban Yesus terjadi”

Dapatkah seorang membayangkan hal ini? Mata kita memang tidak dapat melihatnya, tetapi kita semua ada di sana tepat pada saat Yesus disalibkan. Dan Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, tidak hanya bagi mereka yang hendak telah menyalibkan-Nya tetapi bagi kita semua: ‘Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”

Bapa Kami
Bapa saat hendak mendaraskan Bapa Kami, Yesus berbicara untuk pertama kalinya sepanjang perayaan itu. Ia mengatakan: “Tungguh, Aku menghendaki kalian mendoakannya dengan hikmat. Pada saat ini, Aku menghendaki kalian memikirkan seseorang atau orang-orang yang telah melakukan kesalahah terbesar dalam hidupmu, agar engkau dapat memeluk mereka erat-erat dan mengatakan kepada mereka dari lubuk hatimu ‘dalam nama Yesus, aku mengampunimu dan memberikan damaiku kepadamu’

Salam Damai
Pada saat salam damai, catalina melihat di antara sebagian (tidak semua) orang yang saling memeluk satu sama lain, suatu cahaya yang amat kuat menempatkan diri di antara mereka.

Ketika Celebran menyantap komuni kudus, Santa Maria mengatakan: “inilah saatnya untuk berdoa bagi celebran dan para imam.

Bunda Maria lalu mendiktekan sebuah doa: “Tuhan, berkatilah mereka, kuduskanlah mereka, tolonglah mereka, murnikanlah mereka, kasihilah mereka, peliharalah mereka dan topanglah mereka dengan kasih-Mu.

Bunda Maria menghendaki agar kita mendoakan semua imam di seluruh dunia pada saat itu.

Catalina merasa sedih begitu banyak umat menuntut dari para imam, tetapi tidak pernah berdoa bagi mereka.

Catalina menulis: ”Tuhan menghendaki umat dalam kawanan, yang dipercayakan Tuhan kepada imam, berdoa bagi imam mereka dan membantu dalam pengudusannya. Suatu hari, apabila kita telah berada di dunia yang lain, kita akan mengerti betapa mengagumkan yang telah Tuhan lakukan dengan memberikan bagi kita, imam-imam untuk membantu menyelamatkan jiwa kita…

Saat komuni, ketika Catalina hendak maju, Yesus berkata kepadanya: “tunggu sebentar, Aku ingin engkau mengamati sesuatu..
Tiba-tiba dia merasakan dorongan batin untuk melihat seseorang yang menyambut komuni di lidah dari tangan imam… muncullah bagi satu kilasan cahaya yang amat putih keemasan, menembusi pertama-tama pungung orang itu dan lalu melingkupi punggungnya, pundaknya dan kepalanya.

Orang itu adalah orang yang sebelum misa pagi itu, membuat pengakuan atas dosa-dosanya....dia datang ke kamar pengakuan dulu.

Yesus mengatakan: “begitulah sukacitaku memeluk suatu jiwa yang datang dengan hati yang bersih menyambut-Ku”

Nah…betapa kita kehilangan kesempatan ini karena menyambut komuni dalam keadaan berdosa baik kecil maupun besar.

Janganlah kita memiliki keberanian untuk menyambut Yesus setiap saat dengan hati yang kotor.

Berkat Penutup
Kalau di paroki kita, sebelum berkat penutup banyak umat yang sudah keluar.... tanda salib juga dibuat dengan tidak hormat karena pingin cepat-cepat selesai.

Dalam penglihatan Catalina, Bunda Maria mengatakan: “perhatikanlah…berhati-hatilah… banyak dari kalian membuat tanda kuno dan bukannya Tanda Salib. Ingatlah bahwa berkat ini dapat menjadi berkat yang terakhir yang kalian terima dari tangan seorang imam. Kalian tidak tahu apakah setelah meninggalkan tempat ini, kalian akan meninggal atau tidak. Kalian tidak tahu apakah kalian beroleh kesempatan untuk menerima berkat dari imam lain.

Tangan-tangan yang telah dikonsekrasikan itu memberikan kalian berkat dalam nama Tritunggal Mahakudus. Sebab itu, buatlah Tada Salib dengan hormat, seolah itulah yang terakhir dalam hidupmu.”

Saudara dan saudariku
Betapa banyak kita kehilangan kesempatan yang berharga untuk mengalami kasih Allah karena tidak mengikuti Ekaristi dengan baik.

Banyak orang juga menghindari misa pada hari Minggu dan Hari Raya karena alasan yang remeh.

Kita punya banyak waktu untuk belajar, bekerja, bermain, beristirahat tetapi tidak punya waktu setidaknya pada hari Minggu untuk ikut misa.

Setelah Berkat Penutup, Yesus meminta Catalina untuk tinggal sedikit lebih lama sesudah misa. Yesus berkata: “Janganlah bergegas pergi begitu Misa selesai, tinggallah beberapa saat bersama-Ku. Nikmatilah dan biarkanlah Aku menikmati kebersama denganmu.

Yesus: “Aku rindu menyelamatkan ciptaan-Ku, sebab saat pembukaan pintu surga telah diserapi dengan begitu banyak sakit…..Ingatlah bahwa bahkan tak seorang ibu pun pernah memberi makan anaknya dengan dagingnya sendiri. Aku telah melampaui tindakan kasih yang ekstrim itu demi menganugetahi jasa-jasa-Ku kepada kalian semua”

Minggu Paskah IV_Tahun C_2010

Pastor Tonny Blikon, SS.CC

Saudara dan saudariku
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata bahwa: “domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan mereka mengikuti Aku”. Saya mengajak kita untuk hening sejenak dan merenungkan tentang sikap mau mendengarkan ini….pertanyaannya adalah apakah kita sungguh rela mendengarkan suara Tuhan?” Pada masa ini, mendengarkan suara Tuhan menjadi sesuatu yang sangat sulit karena di sekitar kita ada begitu banyak suara yang mencoba mengganggu konsentrasi kita. Bahkan ada yang lebih parah bahwa ada begitu banyak suara yang berusaha untuk menjadi ‘gembala kita”. Dalam kotbah saya 2 tahun yang lalu, pada hari Minggu Paskah ke-4 ini saya membuat Mzm untuk orang zaman ini tentang TV adalah gembalaku. Ada yang masih ingat?

TV itu adalah gembalaku, aku tak akan berkekurangan Ia membaringkan aku di sofa yang empuk dan membimbing aku untuk jauh dari Tuhan, Ia menghancurkan jiwa-ku.

Ia menuntun aku di jalan seks dan kekerasan atas nama iklan dan sensasi. Sekalipun berada dalam bayangan tugas dan tanggung jawab iman tidak akan ada yang mengganggu sebab TV selalu bersamaku.

Remote control itulah yang menghibur aku. Ia menuntun aku kepada acara kesukaanku. Ia mengurapi kepalaku sekularisme dan consumerisme. Dan ketamakanku semakin bertambah

Rasa tidak peduli dan kemalasan akan mengiringi aku sepajang hidupku. Aku akan tinggal di kamarku dengan TV bersamaku.

Saudara dan saudariku
Acara-acara di Televisi, terutama sinetron, Radio, HP, Facebook, Twiter dll… adalah suara-suara yang berusaha untuk menjadi gembala atau yang menuntun hidup kita pada zaman ini.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata bahwa domba-domba-Nya mendengarkan suara-Nya dan mengikuti Dia. Kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri: apakah kita sungguh mengikuti Yesus. Pertanyaan ini bukan hanya soal apakah kita selalu datang ke gereja pada hari minggu, tetapi lebih menyangkut hidup kita sehari-hari. Apakah kita mengikuti Yesus setiap hari? Apakah kita mencoba untuk mendengarkan suara-Nya melalui bacaan-bacaan rohani dan merenungkan apa yang Tuhan kehendaki dari diri kita? Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan seberapa banyaknya waktu yang kita gunakan setiap hari untuk hening dan mau mendengarkan suara Tuhan? Di dalam gereja ketika perayaan ekaristi sedang berlangsung, kita bahkan tidak bisa hening…apalagi dalam kehidupan kita sehari-hari? Adakah waktu bagi kita untuk merenungkan firman Tuhan?

Ada sebuah lagu yang syairnya kira-kira begini:

Adakah waktu di hidupmu untuk firman kehidupan..
rahmat dan kasih Tuhan bagimu sudikah kau terima.....

Sangat disayangkan bahwa hidup kita selalu dihiruk pikuki dengan berbagai macam hal dan persoalan, sehingga hampir tidak ada sempat untuk menyisihkan sedikit waktu untuk hening di hadapan Tuhan. Juga kalau kita minta untuk diam dan hening…kita mulai merasa tidak tenang karena kita tidak terbiasa. Dengan demikian kita tidak akan mampu mendengar suara Tuhan yang lembut menggema di dalam hati kita.

Saudara dan saudariku
Dalam hidup ini, kita membutuhkan saat-saat hening untuk mendengarkan suara Tuhan karena Tuhan berbicara kepada kita di dalam keheningan batin.

Selain itu, Tuhan juga memberikan kita para gembala (para pastor, para uskup dan Paus) yang bertugas untuk mewartakan kebenaran iman yang harus diikuti oleh kaum beriman melalui homily dan pengajaran-pengajaran. Tetapi seberapa jauh kita mau mendengarkan dan meresapkan pesan-pesan Injil yang dijabarkan di dalam homili? Yang ada terkadang hanyalah keluhan: kotbahnya lama, membosankan?

Keluhan-keluhan itu muncul boleh jadi karena orang tidak terbiasa untuk diam dan hening. Sehingga akhirnya orang menyibukan diri dengan HP bahkan di dalam gereja.

Saudara dan saudariku
Ada banyak suara yang berusaha menjadi ’gembala’ kita. Sudah saya sebutkan di atas tadi. Tanyakanlah pada dirimu sendiri: apakah suara-suara itu membimbingmu untuk semakin dekat dengan Yesus atau semakin jauh dengan Yesus? Saya yakin kita semua tahu jawabannya.

Saudara dan saudariku….
Ada banyak hal pernah saya katakan dalam homily-homily saya. Terkadang memang keras tetapi memang kebenaran itu harus diwartakan. ”Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun” (Ibr 4:12). Saya sendiri tidak takut kalau memang ada yang membenci saya karena homili-homili saya terkesan keras. Dalam bacaan I hari ini, Paulus dan Barnabas pun melakukan hal yang sama. Mereka mewartakan kebenaran dan mereka tidak gentar oleh siapapun.

Hal yang seringkali saya kritik adalah soal judi dan rentenir. Namun yang menjadi pergulatan saya adalah sejauh mana umat mau mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah dengan meninggalkan segala praktek pemiskinan terhadapan keluarga dan sesama itu?

Saya yakin bahwa Yesus tidak pernah diam melihat segala macam praktek itu? Yesus justru mau mengatakan apa yang terjadi dengan orang-orang semacam itu jika mereka tidak mau bertobat.

Beberapa hari yang lalu, Pak Karsono bertanya kepada saya, Rm ada yang telp tanya ”kalau kita katolik, boleh nda ya untuk menjalankan uang”. Yang bertanya itu saya harap hadir di sini dan inilah jawabannya. Saya menjawab dengan mengutip KS:

Yes 33: 14-15 berbunyi: "Siapakah di antara kita yang dapat tinggal dalam api yang membasmi? Siapakah di antara kita yang dapat tinggal di perapian yang abadi ?" Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, artinya yang tidak menjalankan rentenir.

Saudara dan saudariku
Hal lain yang juga seringkali saya singgung adalah sikap kita di dalam gereja ini, ketika Perayaan Ekaristi sedang berlangsung.

Saya mau tanya: pernah nonton Film ‘the passion of the Christ? Bagaimana perasaanmu? Apakah anda menghargai pengorbanan diri Yesus itu?

Nah...ekaristi adalah saat di mana kita menghadirkan kembali peristiwa pengurbanan diri Yesus yang Ia laksanakan di atas puncak gunung kalvari. Artinya peristiwa itu kembali terjadi sekali lagi hanya dengan cara yang berbeda itu melalui simbol dan tanda. Tapi bagaimanakah sikap kita? Kalau kita sungguh menghargai pengorbanan diri Yesus, maka kita pasti diam dan bersikap hormat ketika ekaristi sedang berlangsung.

Dalam perayaan ekaristi ini, Yesus sekali lagi mengobankan diri-Nya bagi kita agar kita memperoleh hidup yang kekal.

Karena itu pentinglah kita mempersiapkan diri dalam perayaan ekaristi. Jika ada dosa dan kesalahan yang berat maka baiklah kita datang kepada Yesus dalam sakramen rekonsiliasi. Janganlah kita berani menyambut komuni jika kita merasa ada dosa yang masih kita sembunyikan.

“Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (699).”

“Sungguh amat menyakitkan hati-Ku apabila jiwa-jiwa religius menerima Sakramen Cinta Kasih hanya karena kebiasaan belaka, seolah mereka tak mengenali santapan ini. Aku tak mendapati baik iman maupun kasih dalam hati mereka. Aku datang ke dalam jiwa-jiwa demikian dengan keengganan besar. Akan lebih baik seandainya mereka tak menerima Aku (1258)….”

Saudara dan saudariku
Dalam bacaan II hari ini, kita mendengar bahwa Anak Domba yang duduk di tengah-tengah tahta kemuliaan dan akan menuntun orang-orang kepada mata air kehidupan. Karena itu, kita perlu untuk mencari waktu untuk mendengarkan suara-Nya dan mengikuti-Nya. Suara Allah itu sudah tertulis di dalam KS dan dimaksudkan agar kita menjalankannya. Jangan pernah mengatakan bahwa anda tidak pernah tahu akan suatu perintah atau nasihat yang harus dijalankan. Dalam pengadilan terakhir, anda tidak bisa membela diri dengan mengatakan: ”oh..Rm kami nda pernah kotbah tentang hal itu” Yesus telah memberikan kita masing-masing Roh Kudus yang membimbing kita kepada kebenaran.

Karena itu pentinglah bahwa dalam hidup ini ada saat-saat dimana kita duduk hening untuk mendengarkan suara Tuhan yang menggema lembut di dalam hati kita. Bacaan-bacaan KS dapat membantu kita untuk masuk dalam keheningan dan berdialog dengan Tuhan. Dan setelah itu, kita harus mengikuti apa kata Tuhan untuk memastikan bahwa kita adalah domba-domba pengembalaan-Nya, sebagaimana dalam Injil hari ini, jelas dikatakan bahwa: “domba-domba-Ku mendengar-kan suara-Ku dan mereka mengikuti Aku”.

Pastor Tonny Blikon, SS.CC

Pesta Kerahiman Ilahi



Pengantar
Saudara dan saudariku
Hari ini adalah minggu II Paskah yang juga dikenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. “Yesus, engkaulah andalanku,” Jesus, I trust in you” suatu ungkapan yang menyatakan sikap penyerahan diri yang hendaknya kita ungkapkan secara bersama kepada Yesus penyelamat kita karena kita menyadari kedosaan diri kita serta keinginan untuk mengalami pengampunan. Kita merayakan pesta Kerahiman ini, bukan saja karena permintaan Yesus sendiri melalui Sta. Maria Faustina, tetapi juga mengungkapkan kerinduan kita untuk mengalami Kerahiman Ilahi dan pengampunan Allah. Karena itu, baiklah pada awal perayaan ini kita mengungkapkan segala dosa dan kesalahan kita, sambil verharap dan percaya akan Kerahiman Ilahi.

Homily:

Saudara dan saudariku
Sebagaimana telah saya singgung pada pengantar tadi bahwa hari ini adalah Hari Minggu Kerahiman. Akan tetapi sebelum membicarakan hal ini, saya ingin mengajak kita untuk melihat sekilas tentang tradisi tentang hari minggu paskah kedua ini. Secara tradisional, hari ini dikenal dengan beberapa nama. Misalnya, Hari Minggu Kedua Paskah, Hari Minggu dalam oktaf paskah, Hari Minggu Thomas, Hari Minggu Putih, sekarang lebih dikenal sebagai hari minggu Kerahiman Ilahi. Setiap nama yang saya sebutkan tadi memfokuskan salah satu aspek dari perayaan kita hari ini.

Disebut sebagai hari minggu II paskah, dapat dengan mudah dipahami karena hari raya paskah kemarin adalah hari diangkap sebagai hari pertama paskah.

Disebut sebagai hari Minggu dalam oktaf paskah juga dapat dengan mudah dipahami kalau kita menghitung sejak hari minggu kemarin sampai hari ini yaitu hari ke delapan. Oktaf artinya ke delapan.

Disebut sebagai Hari Minggu Thomas karena bacaan Injil hari ini, berceritra tentang ketidakpercayaan rasul Thomas akan kebangkitan Yesus, sebelum ia mencucukan jari tangan ke dalam bekas paku pada lambung dan tangan Yesus. Kisah ingin mengatakan kepada kita bahwa kita pun seringkali mengalami keragu-raguan dalam iman dan kepercayaan kita, tetapi cinta Allah senantiasa memanggil kita untuk kembali kepada-Nya. Terberkatilah mereka yang sekalipun tidka melihat namun percaya. Kisah St. Thomas ini menawarkan kepada kita cara beriman yang lain. Bukan melihat baru percaya tetapi percaya sekalipun tidak melihat.

Disebut sebagai hari Minggu Putih, karena pada zaman dulu, orang-orang yang dibaptis pada malam paskah, selalu mengenakan pakaian putih sepanjang minggu ini, dan baru pada hari ini, mereka menanggalkan pakaian putih itu dalam perayaan ini. Tradisi ini tidak lagi dikenal pada zaman sekarang.

Untuk saat ini, hari ini lebih dikenal sebagai Hari Minggu Kerahiman. Ini merupakan pesta yang agak baru dan sangat menarik bagi saya, karena ini merupakan satu-satunya pesta yang didasarkan pada pewahyuan pribadi kepada St. Faustina. Yesus sendiri yang menghendaki agar hari ini dirayakan hari pesta Kerahiman Ilahi-Nya. Yesus sendiri menentukan bahwa Hari Minggu sesudah paskah, dirayakan sebagai Hari Minggu Kerahiman.

Saya mau Tanya: berapa dari umat yang mengadakan novena Kerahiman Ilahi yang dimulai pada hari Jumad Agung yang lalu?

Mungkin ada yang belum pernah dengar atau dengar hanya sekilas tentang Devosi Kerahiman Ilahi ini. Memang devosi ini relative agak baru. Adalah Paus Yohanes Paulus II-lah yang menetapkan bahwa Hari ini adalah Hari Minggu Kerahiman ini berdasarkan kehendak Yesus sendiri. Sebelum itu, devosi Kerahiman Ilahi ini dilarang oleh gereja terutama oleh uskup setempat di mana Sta. Faustina hidup. Tetapi setelah Kardinal Karol Wojtyla terpilih, dia merasa terpanggil untuk memperkenalkan devosi ini. Dan setelah terpilih menjadi Paus, ia justru memperkenalkan devosi ini kepada seluruh gereja. Tergerak oleh permenungan akan Allah sebagai Bapa yang Maharahim, maka beliau menghendaki agar sejak saat ditetapkannya, Minggu Paskah II secara resmi dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi oleh segenap Gereja semesta. Hal ini dimaklumkan beliau pada tanggal 30 April 2000, tepat pada hari kanonisasi St Faustina Kowalska.

Saudara dan saudariku
Terdorong oleh semangat yang berkobar untuk menggairahkan semaksimal mungkin praktek Devosi Kerahiman Ilahi dalam diri umat Kristiani dengan harapan mendatangkan buah-buah rohani yang berguna bagi kaum beriman, maka pada tanggal 13 Juni 2002, Almarhum Yohanes Paulus II memaklumkan bahwa Gereja memberikan indulgensi, baik indulgensi penuh maupun sebagian, kepada mereka yang mempraktekkan Devosi Kerahiman Ilahi dengan syarat-syarat seperti yang ditetapkan Gereja.

Saudara dan saudariku
Tentang Pesta yang kita rayakan hari ini, Yesus sendiri mengatakan:

“Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasih-Ku yang paling lemah lembut (420)…. Adalah kehendak-Ku agar pesta ini dirayakan dengan khidmad pada hari Minggu pertama sesudah Paskah.… Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku (699)”

Saudara dan saudariku
Dari permintaan Yesus di atas, kita bisa meliht bahwa inilah hari di mana Kasih Allah dilimpahkan ke dalam hati kita dengan cara yang lebih istimewa. Yesus berjanji untuk menganugerahkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman pada Pesta Kerahiman Ilahi, seperti dicatat sebanyak 3 kali dalam Buku Catatan Harian Sta. Faustina. Setiap kali dengan cara berbeda.

“Aku akan menganugerahkan pengampunan penuh kepada jiwa-jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus pada Pesta Kerahiman Ilahi (1109).”

“Jiwa yang menghampiri Sumber Hidup pada hari ini akan dianugerahi pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (300).”

“Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (699).”

Lebih lanjut Yesus mengatakan:
Yesus sendiri memberikan janji itu. Dia katakan: “Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku. Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman. Pada hari itu seluruh pintu-pintu rahmat Ilahi dari mana rahmat-rahmat mengalir akan dibuka (699).”

Saudara dan saudariku.
Dari kutipan-kutipan dari catatan harian Sta. Faustina di atas, Nampak bahwa Tuhan kita menunjukkan dengan jelas apa yang Ia tawarkan kepada kita dalam Komuni Kudus dan betapa amat melukai hati-Nya apabila kita acuh tak acuh terhadap kehadiran-Nya. Tentang hal ini, Yesus katakan dalam beberapa kutipan berikut ini:

“Sukacita-Ku yang besar adalah mempersatukan DiriKu dengan jiwa-jiwa. Apabila Aku datang ke dalam hati manusia dalam Komuni Kudus, tangan-tangan-Ku penuh dengan segala macam rahmat yang ingin Aku limpahkan atas jiwa. Namun, jiwa-jiwa bahkan tak mengindahkan Aku; mereka mengacuhkan DiriKu dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Oh, betapa sedih Aku sebab jiwa-jiwa tak mengenali Kasih! Mereka memperlakukan-Ku bagaikan suatu benda mati (1385)….”

“Sungguh amat menyakitkan hati-Ku apabila jiwa-jiwa religius menerima Sakramen Cinta Kasih hanya karena kebiasaan belaka, seolah mereka tak mengenali santapan ini. Aku tak mendapati baik iman maupun kasih dalam hati mereka. Aku datang ke dalam jiwa-jiwa demikian dengan keengganan besar. Akan lebih baik seandainya mereka tak menerima Aku (1258)….”

“Betapa menyakitkan Aku bahwa jiwa-jiwa begitu jarang mempersatukan dirinya dengan-Ku dalam Komuni Kudus. Aku menanti jiwa-jiwa, dan mereka acuh tak acuh terhadap-Ku. Aku ingin mencurahkan rahmat-rahmat-Ku atas mereka, tetapi mereka tak hendak menerimanya. Mereka memperlakukan-Ku bagaikan suatu benda mati, padahal Hati-Ku penuh cinta dan belas kasih. Agar engkau dapat memahami setidak-tidaknya sedikit rasa sakit-Ku, bayangkanlah seorang ibu yang paling lembut hati, yang amat mengasihi anak-anaknya, namun anak-anaknya itu menolak kasihnya. Bayangkan betapa pilu hatinya. Tak seorang pun akan mampu menghibur hatinya. Begitulah, gambaran akan kasih-Ku (1447).”

Saudara dan saudariku
Janji Yesus akan pengampunan penuh merupakan suatu peringatan sekaligus panggilan. Suatu peringatan bahwa Ia nyata hadir dan nyata hidup dalam Ekaristi, berlimpah kasih bagi kita, menanti kita datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan. Suatu panggilan bagi kita semua untuk dibasuh bersih dalam Kasih-Nya melalui Sakramen Tobat dan Komuni Kudus - dan kita memulai hidup baru kembali. Yesus menawarkan kepada kita suatu permulaan yang baru, suatu lembaran yang bersih.

Kita renungkan pesan-pesan Yesus ini dan bertanya dalam diri kita sendiri, bagaimana kita mempersiapkan diri untuk perayaan ekaristi dan bagaimana kita bersikap selama ekaristi sedang berlangsung?