Maria diangkat ke surga

Bacaan
Why 11:19a, 12:1.3-6a.10ab;
1Kor 15:20-26;
Luk 1:39-56

Homili
Allah kadang memberikan inspirasi kepada umat beriman untuk menerima suatu suatu pernyataan iman sebagai suatu kebenaran, sebelum gereja mengeluarkan suatu pernyataan resmi mengenai hal itu. Contohnya bisa kita lihat mengenai dogma tentang Maria yang diangkat ke surga.

Pada tanggal 1 November 1950, Paus Pius XII mengeluarkan suatu dogma – ajaran resmi gereja tentang Maria diangkat ke surga, dengan kata-kata berikut ini: “Bunda Allah yang tak bercela, perawan Maria, setelah mengakhiri hidup di dunia ini, diangkat dengan jiwa dan raganya ke dalam kemuliaan surgawi”

Pernyataan resmi gereja ini tentunya mengundang banyak pro dan kontra. Akan tetapi, pernyataan ini hanya merupakan suatu penegasan dari apa yang telah lama diyakini oleh umat beriman. Pada permulaan abad 7, Perayaan ini sudah dikenal di dalam gereja, baik gereja barat maupun gereja timur. Juga ada data yang membuktikan bahwa sejak awal abad 4 umat beriman sudah menerima keyakinan iman bahwa Maria diangkat ke ke surga. Jadi di sini kita bisa lihat bahwa ternyata dalam kehidupan sehari-hari, keyakinan umat beriman kadang-kadang mendahului suatu pernyataan resmi gereja.

Saya ambil contoh lain. Di dalam kongregasi kami ada tokoh yang dikenal sebagai pahlawan orang kusta yaitu Pater Damian. Oleh gereja dia masih diakui sebagai Beato, tetapi kalau di Flores orang sudah menyebutnya sebagai Santo. Rumah Sakit Kusta di Lembata, disebut sebagai Rumah Sakit Kusta Santo Damian. Santo Subito = Segera digelarkan Kudus.

Iman umat kadang mendahului apa yang ditetapkan oleh gereja secara resmi. Kalau kita renungan, dogma tentang pengkatan Maria ini memang tidak punya dasar dalam KS, tetapi mengapa Gereja bisa mengeluarkan pernyataan yang demikian?

Adalah pantas dan layak bahwa Maria yang dikandung tanpa noda dosa asal, diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya. Juga sangat masuk akal kalau Allah memuliahkan Maria sedemikian besar karena Ia telah melahirkan Putera Allah. Perayaan hari ini juga merupakan suatu bukti bahwa kita juga menghormati Maria sebagai ibu kita dan sebagai Murid Kristus yang pertama.

Seorang anak yang menolak ibunya berarti menolak dirinya sendiri. Akibatnya, bukan kebahagiaan dan keyakinan diri yang ditemukannya, melainkan hanya penderitaan dan kesulitan yang susul menyusul. Kita tentu ingat kisah legenda tentang Malingkundang. Seorang anak yang menolak ibunya. Akibatnya dia mendapat musibah.

Dibawah kaki salib, Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada kita. Kita diberi Maria, seorang ibu yang melambangkan Gereja itu sendiri - maka Gereja juga sering disebut sebagai ‘Bunda Gereja’- seorang ibu yang selalu siap sedia mendengarkan keluh kesah dan kesulitan kita. Menolak ibu rohani ini akhirnya juga sama dengan menolak jatidiri kita sendiri sebagai pengikut Yesus. Sebab, melalui ibu itu pula Yesus dilahirkan di tengah-tengah Gereja. Melalui dia, Yesus dibesarkan seperti kita manusia dan suatu saat membebaskan kita dari ketakutan akan sengsara dan maut.

Sosok ini, Maria, memang dipermasalahkan oleh banyak orang, juga oleh berbagai Gereja. Namun aneh, semakin Maria dipermasalahkan, justru semakin banyak yang terbantu oleh doa-doanya.

St. Yohanes Maria Vianey pernah berkata: “Meskipun Maria, sejak diangkat ke surga, hidup bahagia dan mulia, tetapi ia tidak akan beristirahat sampai akhir dunia.’ Mengapa? Karena semua anaknya di dunia ini memang belum bersatu dengannya. Itulah sebabnya, Maria selalu waspada, penuh perhatian terhadap kesengsaraan kita, ia berjaga, ia berdoa, ia menjadi pengantara”.

Begitu pula Hari Raya ini, Bunda Maria Diangkat ke Surga, muncul dan menjadi perdebatan banyak orang. Berbagai alasan dipakai, antara lain bahwa Kitab Suci tidak pernah membuktikan bahwa Maria memang diangkat ke surga. Akan tetapi, banyak juga yang lupa, atau sengaja lupa, bahwa seorang ibu takkan pernah berada jauh dari anaknya. Maria, bukan hanya ibu Yesus, tetapi juga murid-Nya! Ia yang telah melahirkan Yesus, kini menjadi milik Kristus!

Perayaan ini bukan berasal dari sebuah ajaran, tetapi dari sebuah penghormatan dan pengabdian. Perayaan ini adalah pujian Gereja sendiri kepada Sang Bunda yang sudah menolong begitu banyak orang yang harapannya hampir musnah. Gereja berpikir, bagaimana mungkin Bunda Maria tidak berada di surga, jika begitu banyak permohonan ternyata dikabulkan, begitu banyak mukjizat terjadi, begitu banyak orang diselamatkan dari keputusasaan, karena bantuan doanya?

Masih tentang St. Yohanes Maria Vianney, ia pun pernah menulis: “Di surga, Maria senantiasa memohon kepada Puteranya, dan seakan-akan berkata: “Jangan lupa akan rahim yang mengandung-Mu, jangna lupa akan akan hamba-Mu, akan sekutu-Mu dalam sengasara dan kemuliaan. Ingatlah akan keluh kesah ibu-Mu ini. Maka dari itu, demi kasih sayang yang Kau limpahkan kepadaku, berbelaskasihlah kepada anak-anak berdosa yang telah Kau serahkan kepadaku. Dan ingatlah Puteraku, ketika di Kana mereka kehabisan anggur dan Engkau membantunya, kini banyak anak-anakku kehabisan anggur juga: anggur damai jiwa, anggur hidup abadi, anggur kasih Ilahi dalam jiwa mereka, anggur sukacita. Ya Puteraku, hendaklah tergeraklah hati-Mu”

Sungguh mengharukan bahwa sampai detik ini pun, Bunda Maria masih begitu sibuk membantu kita agar terus berdoa kepada putranya, masih terus mendorong supaya kita jangan kehilangan semangat, masih gampang dijumpai di mana-mana memberi jalan keluar kepada yang kecewa dan putus asa!

Berkaitan dengan perayaan kita hari ini, st. Paulus mengatakan dengan yakin, bahwa semua orang yang menjadi milik Kristus akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Mula-mula Kristus sendiri sebagai buah sulung, dan sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya! Maria, Ibu kita yang demikian dekat dengan Yesus, puteranya, tentu sudah mengalami kemuliaan bersama puteranya.

Seperti kata-kata Elisabet, Maria memang terpuji di antara manusia. Ia disebut "penuh rahmat" (gratia plena), namun tak ingin menahan rahmat itu untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, ia selalu bersedia membagi-bagikan rahmat itu kepada semua orang. Di antara kita ini, juga ada orang-orang yang begitu mudah membagikan rahmat yang diterimanya dari Tuhan. Orang-orang ini disebut berbahagia karena tak mau menyimpan rahmat itu untuk dirinya sendiri, tapi selalu murah hati, mudah memberi, selalu punya hati; jika perlu, mereka mau kehilangan, supaya yang lain itu kebagian. Bagaimana dengan kita?

Kalau kita sendiri belum begitu, mari belajar dari Ibu yang penuh rahmat itu, yang senantiasa membagi rahmat yang telah ia terima dari Allah. Amin.

Legio Mariae

Bila mengikuti Maria
Engkau takkan tersesat.

Bila memanggil Maria
Engkau takkan putus asa.

Bila memikirkan Maria
Engkau takkan keliru.

Bila dibantu Maria
Engkau takkan jatuh.

Bila dilindungi Maria
Engkau takkan takut.

Bila dibimbing Maria
Engkau takkan jemu.

Bila dikaruniai Maria
Engkau mencapai tujuanmu.


"Berkat perantaanmu, O Maria, kami dengan pasti memiliki janji kebangkitan kami."


(St.Ephraem)

Homili Minggu Biasa XIX - Tahun C - 2010


Bacaan
Keb 18:6-9
Ibr 11:1-2,8-19
Luk 12:35-40

Renungan
Saudara dan saudariku
Saya yakin bahwa kebanyakan dari kita pernah naik pesawat. Biasanya, sebelum pesawat yang kita tumpangi ini mengudara, ada sebuah pengumuman yang kira-kiranya bunyinya seperti ini: "Para penumpang yang terhormat, selamat datang di pesawat boing 474. Pimpinan penerbangan ini adalah kapten Felix Supranto. Pesawat ini dilengkapi dengan 2 pintu; satu di bagian depan dan satu di bagian belakang. Pesawat ini dilengkapi juga dengan jendela darurat. Dua di kabin bagian depan, dan dua di kabin bagian tengah. Para penumpang yang terhormat, sesuai dengan peraturan penerbangan, para awak kami akan memperagakan bagaimana memakai dan melepaskan sabuk pengaman, bagaimana mengunci dan membukanya. kantong pelampung ada di bawah kursi anda dan hanya digunakan untuk pendaratan darurat di air."

Inti dari semuanya itu adalah mempersiapkan para penumpang untuk suatu kejadian yang tak terduga. Tetapi jika kita memperhatikan bagaimana sikap para penumpang ketika penjelasan itu diberikan, tidak semuanya memperhatikan dengan serius. Ada yang mungkin merasa sudah terbiasa sehingga tidak terlalu memperhatikan hal-hal semacam itu.

Saudara dan saudariku
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus ibarat seorang pramugara yang menjelaskan beberapa penting yang harus kita perhatikan berkaitan dengan ‘pesawat kehidupan’ di mana kita semua adalah penumpang di dalamnya. Ia mengatakan untuk senantiasa berjaga untuk sesuatu yang tak terduga. Yesus mengajak kita untuk senantiasa berjaga dan siap sedia selalu, bukan dengan ketakutan tetapi dengan iman dan harapan.

Saudara dan saudariku
Kehidupan ini terus berjalan ke depan...semakin bertambah umur kita semakin menyadari bahwa betapa hidup ini rapuh. Seringkali kita merasa hidup ini seakan diombang-ambingkan oleh banyak peristiwa hidup yang kita alami. Kadang goncangan itu begitu keras, sehingga merasa shock dan hampir kehilangan harapan. Situasi semacam itu tercermin dalam penggalan lagu berikut ini:

Di tengah ombak dan arus pencobaan
Hampir terhilang tujuan arah hidupku
Bagaikan kapal yang slalu diombang ambingkan
Seolah-olah mengatasinya tiada mampu.


Saya pernah mengalami ketika tahun 2005 ketika naik Adam Air dari Batam menuju Jakarta. Waktu itu hujan sangat deras dan cuaca sangat gelap. Tetapi pesawat itu tetap nekad terbang. Sampai pada ketinggian tertentu, pesawat itu seakan tidak punya kekuatan untuk menembusi awan yang begitu tebal. Akhirnya pesawat itu seakan jatuh...kira-kira 1-2 km ke bawah terus naik lagi. Semua penumpang termasuk saya seakan kehabisan napas....jantung terasa seakan copot. Iya...hidup ini bisa diambil dari kita dalam sekejab mata. Namun singkatnya dan kerapuhan hidup ini hendaknya membuat kita menyadari bahwa betapa hidup ini berharga.

Hidup ini adalah suatu anugera yang berharga tetapi diliputi dengan suatu ketidakpastian kapan akan berakir. Yesus sadar betul akan ketidakpastian hidup ini. Di dalam perumpamaan Injil tadi, Ia coba memberikan penekanan pada fakta bahwa fakta bahwa kematian bisa datang setiap saat. Bukan karena Allah mau menjebak kita seperti pencuri yang datang pada waktu yang tidak disangka-sangka. Yang mengambil merampas kehidupan dari kita adalah kematian dan bukan Allah.

Allah sebenarnya tidak menghendaki adanya kematian. Hal ini nampak jelas ketika kematian Lazarus, dimaka di katakan baha Yesus menangis. Mengapa Yesus menangis atas kematian Lazarus itu? Karena Ia tahu bahwa sejak awal mula, Allah tidak menghendaki kematian bagi manusia. Tetapi mengapa manusia harus mati? St. Paulus menjawab: Upah maut adalah dosa (Rom 6:23), tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Melalui Yesus, Allah menganugerahkan kehidupan kekal bagi kita.

Saudara dan saudariku
Ketidakpastian hidup ini jangan sampai membuat kita tidak mau menikmati hidup sekarang ini. Saya kira, semua kita ini menghendaki agar ketika kita mati, semua tugas dan karya yang ingin kita lakukan, semua sudah selesai. Tetapi kita tidak tahu apakah kita punya kesempatan untuk itu.

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat misa arwah di Oasis untuk seorang ayah yang belum lama menikah. Ia meninggal dalam keadaan yang tak disangka-sangka. Baru saja ia kembali Badminton pada malam hari...sebelum mandi istirahat sebentar....eh...ternyata meninggal.... kita bisa membayangkan betapa sedihnya keluarga yang ditinggalkan itu.

Saudara dan saudariku
Kita tidak tahu apakah kita punya kesempatan untuk menyelesaikan semua tugas kita, setelah itu baru meningggal. Tetapi kita semua ini punya kesempatan untuk setia dalam tugas dan tanggung jawab kita setiap hari, seperti hamba dalam bacaan Injil tadi.

Saudara dan saudariku
Ada sebuah kisah, pada zaman dahulu hiduplah seorang badut dalam sebuah istana kerajaan. Tugasnya adalah untuk melawak..membuat orang terhibur dan tertawa pada acara-acara besar kerajaan. Sang raja senang sekali dan merasa terhibur atas lelucon-lelucon yang ia bawakan. Semuanya selalu baru. Pada sautu hari, sang badut ini melakukan suatu kesalaha yang besar yang menyebabkan bahwa ia harus dihukum mati. Ia melakukan perselingkuhan dengan seorang putri raja. Sebelum human mati itu dijalankan, sang raja memanggil dia dan berkata: ”saya mengingkat kembali lelucon-lelucon yang pernah engkau bawakan selama ini dan bagaimana engkau membuat saya terhibur dengan semuanya itu. Karena itu saya ingin supaya engkau memilih sendiri dengan cara apa engkau ingin dihukum mati.

Sang badut itu berpikir sebentar dan menjawab: ”Tuanku raja, jika ini berkenan kepadamu, saya memilih untuk mati pada umur tua.” Raja itu merasa lucu atas jawaban itu. Jawaban itu sendiri membuat raja tertawa sehingga akhirnya sang raja mengabulkan permohonan sang badut itu. Dia dibiarkan hidup dan terus bekerja di lingkungan istana.

Saudara dan saudariku
Banyak dari kita pasti ingin meninggal pada umur tua. Namun kita tidak tahu, apakah kita memiliki kesempatan untuk itu.

Kita semua ini adalah pelayan Tuhan. Dalam Injil tadi Yesus mengatakan: ”Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang”. Hamba yang setia dan bertanggung jawab tidak akan takut soal kapan tuannya itu akan datang. Hamba yang tidak setia melihat itu sebagai sebuah kemalangan, tetapi hamba yang setia melihat saat itu sebagai waktu yang baik.

Saudara dan saudariku
Saya mengajak kita untuk merenungkan perkataan Mother Teresa berikut ini: ”Kita tidak dipanggil untuk menjadi sukses, tetapi untuk setia

Saya mengakhiri renungan ini dengan sebuah kutipan: "Hidup Kristiani adalah seperti sebuah pesawat. Jika anda berhenti maka anda akan jatuh"

Homili Minggu Biasa XVIII - Tahun C - 2010

Bacaan
Pengkotbah 1:2; 2:21-23 Kol 3:1-5, 9-11 Luk 12:13-21

Homili
Salah satu penyataaan Martin Luther yang popular dan salah dimengerti oleh kaum reformis adalah: “God does not save people who are only fictitious sinners. Be a sinner and sin boldly, but believe and rejoice in Christ even more boldly.” Ungkapan ini terdapat dalam suratnya kepada Phillip Melacnhthon pada tahun 1521. (dikutip dari buku Karya Martin Luther, weimars, ed 2 hl.371.) Artinya: ‘Allah tidak menyelamatkan orang yang melakukan dosa asal-asalan, karena itu jadilah seorang pendosa yang sungguh, tetapi harus lebih sungguh percaya dan bersukacita di dalam Kristus.’ Aneh ya? Sebenarnya Martin Luther mau menunjukkan betapa berkuasanya Darah Kristus sehingga bisa menebus dosa manusia sebesar dan sebanyak apapun dosa manusia itu. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, pernyataan ini disalah tafsirkan sehingga orang berpikir bahwa “apa yang kita lakukan secara fisik, tidak akan mempengarahi keadaan jiwa kita di hadapan Allah, asalkan kita percaya kepada-Nya”. Doktrin sola fide (hanya iman saja) mengambil bentuk ekstrim dari pernyataan Luther ini.

Dalam bacaan 2 hari ini, St. Paulus melawan pemahaman iman yang demikian yang hidup di dalam jemaat di Kolose: “Saudara-saudara, kamu telah dibangkitkan bersama Kristus. Maka carilah yang di atas, di mana Kristus berada dan duduk di sisi kanan Allah. Pikirkanlah perkaraya yang di atas, bukan yang di bumi.’

Umat di Kolose memang percaya sungguh bahwa melalui pembaptisan mereka telah mati terhadap dosa dan telah dibangkitkan untuk menerima hidup baru bersama Kristus. Memang itu benar. Tetapi nampaknya dalam kehidupan sehari-hari mereka gagal untuk mengenakan manusia baru itu. Mereka bangga sebagai orang kristiani. Mereka bangga bahwa melalui pembaptisan mereka adalah anggota tubuh mistik Kristus tetapi dalam kehidupan nyata, mereka sama saja dengan orang-orang yang tidak beriman. Jadi ada dikotomi (keterpisahan) antara iman dan perbuatan. St. Paulus mengatakan dalam bacaan II hari ini: jika demikian, maka mereka bukanlah sungguh orang kristiani. Manusia baru yang kita terima melalui pembaptisan itu harusnya nampak dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu jika perhatikan bacaan II tadi, Paulus menggunakan 4 kata atau kalimat yang tegas sebagai sebuah perintah tentang apa yang harus mereka usahakan berkaitan dengan iman kepada Kristus itu. 4 kata perintah itu adalah: carilah… pikirkanlah… matikanlah… dan ‘jangan lagi kamu saling mendustai…”

Saya mengajak kita untuk melihat 4 hal itu. Dua perintah yang pertama: ”carilah yang di atas, di mana Kristus berada … (Kol 3:1) dan “pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi” (Kol 3:2). Dua perintah ini sebenarnya ingin menyampaikan satu hal yang sama dengan cara yang berbeda. Dua perintah ini tidak menunjuk pada suatu tindakan konkret tertentu tetapi lebih menyangkut cara berpikir dan disposisi hati dan pikiran.

Iman bukanlah sebuah pernyataan bahwa kita telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat kita. Tetapi iman adalah sesuatu yang hidup di dalam kita....terus berkembang dan mengubah hidup kita dari dalam agar memperoleh pengetahuan yang benar tentang Allah.

Dua perintah yang terakhir “Matikanlah….dan janganlah mendustai…” menunjuk pada tindakan konkret.

Dalam versi Vulgata, kata Latin yang dipakai untuk menerjemahkan ’matikanlah’ adalah ’mortificate’ berasal dari kata mortifacare yang berarti matiraga. Jadi kata: ”matikanlah di dalam dirimu”…lebih berbicara mengenai penyangkalan diri. Di sini Paulus menegaskan bahwa kecendrungan-kecendrungan manusiawi kita dapat menyebabkan kita jatuh ke dalam dosa. Paulus menyebutkan apa saja yang harus dimatikan atau disangkal, ditolak di dalam diri kita: “percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala”

Menarik bahwa Paulus menyebutkan bahwa keserakahan itu sama dengan penyembahan berhala. Hal ini nampak jelas dalam kisah tentang orang muda yang kaya dalam Injil Lukas 18:18 dst. Keserakahan atau keterikatan batin kepada kekayaan akan membuat seseorang sulit untuk mendengar dan memperhatikan sabda Allah di dalam hidup ini.

Sebuah contoh kisah: ada seorang pengkotbah yang ketika mewartakan sabda Allah, melihat bahwa ada seorang ibu setengah baya menangis. Pengkotbah itu merasa bahwa kotbahnya telah membuat ibu itu tersentuh maka dia pun makin bersemangat. Semakin lama, ibu tadi tidak bisa lagi menyembunyikan tangisannya. Pada akhir kotbah, biasanya ada kesaksian. Pengkotbah tadi mendekati ibu tadi dan berkata: ”ibu..tadi ketika sedang berkotbah saya melihat bahwa ibu meneteskan air mata, boleh jadi ibu merasa tersentuh oleh sabda Allah tadi. Bolehkan sekarang ibu memberikan kesaksian untuk kami semua ayat manakah yang membuat ibu tergerak hati? Ibu itu agak ragu-ragu dan malu tetapi karena pengkotbah itu agak memaksanya sehingga akhirnya dia pun tampil ke depan. Dia memegang mike dan mulai menangis lagi.... akhirnya dengan suara terbata-bata dia mulai memberi kesaksian. Dia bilang: ”tahun lalu, saya kehilangan anjing kesayangan. Anjing itu adalah satu-satunya milik yang berharga bagi saya. Saya menangis ketika ia mati...tetapi lama saya sudah melupakan hal itu.... tetapi tadi ketika melihat anda mulai berkotbah, saya melihat janggutmu...dan itu mengingatkan saya akan anjing kesayangan saya. Setiap kali mengingat dia, saya menangis”..... ibu tadi ternyata tidak ingat akan satu kata pun dari firman Allah yang disampaikan...ia hanya ingat akan anjing miliknya yang berharga baginya.

Saudara dan saudariku
Harta milik itu penting untuk hidup. Akan tetapi harta milik seringkali mengambil tempat begitu penting dalam hidup seseorang. Ketika kita menjadi begitu terikat dengan harta milik maka kita sulit untuk mendengar panggilan yang mendesak dan penting dari Allah. Orang semacam itu nampak dalam bacaan Injil hari ini yang meminta Yesus supaya memohon saudaranya untuk membagikan harta warisan keluarga.

Yesus tidak keberatan kalau orang itu memiliki harta benda, Yesus juga memang menghendaki keadilan di dalam hidup ini, tetapi nampaknya Yesus sangat kecewa dengan orang itu.

Kita bisa membayangkan seperti ini. Yesus sedang memberikan pengajaran khusus kepada para muridnya tentang janganlah kuatir akan hidup… bahwa Bapa di surga tahu akan semua yang kamu perlukan…tentang bagaimana harus percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi…eh…tiba-tiba muncul seseorang dengan persoalan seperti ini. Nampaknya…orang itu tidak peduli dengan apa yang disampaikan oleh Yesus. Fokus perhatiannya hanya kepada harta warisan. Sama seperti wanita dalam kisah di atas tadi..tidak mengingat satu kata pun dari firman Allah karena dia hanya memikirkan anjingnya.

Dalam kisah injil tadi, Yesus nampaknya menduga bahwa boleh jadi ada beberapa yang demikian di antara orang banyak itu, sehingga Ia berpaling dan berkata: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.”

‘Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan.’ Ketamakan? Apa itu ketamakan? Orang dalam Injil tadi tamak nda? Orang tadi kan hanya minta keadilan. Bukankah itu sesuatu yang baik? Yesus mengingatkan kita bahwa ketamakan itu dapat menyamar dalam berbagai bentuk. Bahkan dengan kedok keadilan, orang itu menyatakan bahwa sebenarnya ia rakus dan tamak terhadap harta benda.

Untuk menjelaskan hal ini, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Ketika kita membaca teks ini bertanya dimanakah letak kesalahan orang itu? Coba pikirkan. Orang kaya itu kerja keras dan jujur. Tanahnya memberikan banyak hasil akhirnya orang itu memutuskan untuk membangun lumbung yang lebih besar supaya bisa menyimpan semua hasil tanahnya sehingga ia bisa hidup tenang. Sayang…orang kaya itu tidak tahu bahwa hidupnya hanya tinggal kurang dari 24 jam.

Yesus menggunakan ilustrasi ini untuk menunjukkan ketamakan orang kaya tadi. Ketamakannya tidak terletak pada ia mencuri, atau melakukan kesalahan, tetapi ketamakannya terletak pada hidup santai dan bermalas-malasan. Seorang politikus Inggris Sir Fred Catherwood mencoba mendefenisikan ketamakan itu sebagai berikut: "keyakinan bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Kita mencoba mengambil apa yang dapat kita ambil, tetapi kemudian kita sendiri sulit untuk menggenggam semuanya itu”. Hal ini nampak jelas dalam bacaan I tadi. Pada waktu itu, orang-orang Israel tidak yakin bahwa ada kehidupan yang akan datang atau tidak. akhirnya mereka berusaha untuk meraih segala sesuatu yang bisa di dapat dalam hidup ini. Terhadap sikap hidup yang demikian, sang pengkotbah mengatakan bahwa 'segalanya adalah sia-sia"

Itulah Yesus bersikap sangat tegas terhadap segala bentuk ketamakan. Dalam bacaan II hari rasul Paulus mengatakan ketamakan atau keserakahan itu sama dengan menyembah berhala.

Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk percaya bahwa hanyalah Yesus lah yang dapat memberikan kehidupan kekal dan bukannya harta benda.

Kita kembali pada bacaan II, pada perintah ke-4 rasul Paulus kepada jemaat di Kolose. ’Jangan lagi kamu saling mendustai,…’ Umat di Kolose nampaknya saling mengajar satu sama lain, bahwa yang penting kita telah dibaptis…peduli amat dengan perilaku hidup kita. Dosa yang kita lakukan tidak mempengaruhi keadaan jiwa kita asalkan kita tetap percaya kepada Yesus.’ Ini adalah ajaran yang sesat. Ajaran sesat adalah suatu kebohongan dan Paulus menghendaki agar umat berhenti dari kebiasaan ini.

Pertanyaan refleksi untuk kita: apakah kita pun seringkali mengatakan hal yang sama, membohongi diri kita hanya untuk membenarkan suatu tindakan dosa? Misalnya: “Allah kan Maharahim dan Mahakasih, pasti Dia akan mengampuni saya’. Sementara itu kita tetap mau mengakui bahwa kita adalah murid Yesus? Pesannya jelas dan tegas bagi kita: Stop it. Berhentilah membohongi diri sendiri. Rasul Yakobus berkata: “Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:26).

Homili Minggu Biasa XVII - Tahun C - 2010


Bacaan:
Kej 18:20-32
Kol 2:12-14
Luk 11:1-13

Homili

Saudara dan saudariku
Dalam bacaan-bacaan hari ini, paling tidak dalam bacaan I dan Injil, kita dapat belajar sesuatu mengenai doa dan bagaimana kita harus bertekun dalam permohonan yang kita anggap benar dan sesuai dengan kehendak Allah. Dalam bacaan I tadi kita mendengar sebuah kisah yang bagi saya sangat menarik karena nampaknya Abraham sebagai manusia ternyata lebih benar dan berbelaskasih dari pada Allah sendiri. Kisah ini bagi saya berbicara mengenai sesuatu yang terdalam di dalam diri kita.

Seringkali di dalam kehidupan ini, kita tidak melibatkan Allah dalam segala hal karena kita merasa dapat mengatasi beberapa situasi hidup kita dengan kekuatan sendiri. Akibat dari sikap yang demikian, maka akan sulit bagi kita untuk menerima kegagalan atau penderitaan yang tak beralasan. Singkatnya, jika mengharapkan sesuatu yang baik terjadi, maka itu harus terjadi.

Tetapi seringkali kita mengharapkan bahwa apa yang baik yang kita harapkan itu tidak mesti akan terjadi. Terkadang kita harus belajar untuk memahami kehendak Allah....bahwa Allah terkadang membiarkan sesuatu yang buruk terjadi atas diri kita supaya kita belajar rendah hati.

Dalam bacaan I tadi kita mendengar bahwa Abraham sangat yakin dengan apa yang ia mohonkan kepada Allah. Ia memohon supaya Allah tidak menjatuhkan hukuman kepada atas orang yang benar bersamaan dengan orang yang jahat. Ia katakan: ”Jauhilah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang yang benar bersama-sama dengan orang gasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Masakan Hakin segenap bumi tidak menghukum dengan adil? Akhirnya Tuhan mendengarkan permohonan Abraham.

Saudara dan saudariku
Keyakinan iman Abraham ini hendaknya juga kita miliki dalam doa-doa harian kita. Terkadang kita terus bertekun dalam doa-doa yang nampaknya mustahil. Apa yang kita mohonkan itu benar.... tetapi memang kita harus bertekun. Dalam bacaan I tadi juga Nampak bahwa Abraham terus bertekun dengan mengadakan penawaran kepada Allah. Ia yakin bahwa apa yang Ia minta itu baik di hadapan Allah.

Bagaimana dengan kita? Seringkali kita mudah putus asa. Kita merasa Allah seakan tidak menjawab doa kita. Akibatnya kita berhenti memohon. Terkadang kita butuh ketekunan, artinya tawar menawar dengan Allah agar situasi hidup kita berubah. Dengan kata lain, kita harus ’mendesak’ atau mendorong’ agar Allah mengabulkan permohonan kita. Ada suatu singkatan yang menarik dalam bahasa Inggris.

Mendorong: PUSH : Pray until something happen.

Dalam bacaan Injil hari ini, penginjil Lukas mengajarkan untuk tetap bertekun dalam doa-doa kita dan jangan mudah putus asa. Allah menghendaki agar kita terus meminta dengan sikap rendah hati atas apa yang butuhkan. Dari bacaan I tadi kita tahu intensi doa yang nampaknya tidak akan ditolak oleh Allah adalah momohon kasih dan pengampunan. Nah...memohon kasih dan pengampunan inilah yang menjadi inti doa Bapa Kami, sebagaimana kita dengar dalam bacaan Injil hari ini.

Berkaitan dengan itu, pertanyaannya adalah sikap doa seperti apakah yang paling pas ketika mendoakan Bapa Kami? Ada yang merentangkan tangan dan ada yang terkatub. Mana yang kiranya paling pas?

Semua sikap itu bisa dibenarkan tetapi coba kita lihat inti dari doa Bapa Kami itu. Intinya adalah permohonan atas belaskasih dan pengampunan dari Allah. Dan sikap batin yang paling tepat adalah menyadari kehinaan kita, dkl sikap rendah hati. Karena itu, sikap doa yang pas adalah seperti Bunda Maria, dengan tangan terkatub di dada. ”Ungkapan fiat Maria yang terkenal: ”Aku ini hamba Tuhan, terjadilah pada-Ku menurut perkataan-Mu itu?”.

Pertanyaannya mengapa imam kok merentangkan tangan? Dasarnya itu ada dalam kitab Kel 17 dalam kisah tentang orang Israel yang berperang melawan orang Amalek. Dalam ayat 11 dikatakan: “dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.” Nah...imam merentangkan tangan karena ia adalah pemimpin umat yang pada saat itu bertindak seperti Musa yang berdoa bagi kebutuhan umat. Tetapi sebagai umat, hendaklah kita menyampaikan permohonan itu dengan sikap doa seperti Bunda Maria.; dengan tangan terkatub di depan dada seperti bunda Maria.

Saudara dan saudariku...
Marilah di dalam perayaan ekaristi ini kita memohon apa saja yang kita butuhkan...memohon dengan penuh iman. Marilah kita memohon dengan tekun sampai kita mendapatkan. Semoga Roh Kudus menganugerahkan kita iman dan ketekunan.

Minggu Biasa XV-Tahun C-2010



Bacaan
Ul 30:10-14 Kol 1;15-20 Luk 10:25-37

Saudara dan saudariku
Dalam kisah tentang penciptaan dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. ‘Menurut gambar dan rupa-Nya’ bukan soal tampang luar, tetapi secara rohani-apa yang ada dalam diri kita. Itu berarti bahwa Allah telah menanamkan dalam diri kita Cinta dan belaskasihan-Nya. Ingat, rasul Yohanes mengatakan Allah adalah kasih. Juga dalam diri kita, Allah menempatkan hukum-Nya. Hukum Allah itu berkaitan dengan yang baik dan yang jahat.

Boleh jadi kita tidak terlalu menyadari akan rahmat pengetahuan ini karena kita adalah orang yang beriman. Tetapi seringkali seorang Atheist pun mampu menangkap kehadiran Ilahi dalam suatu tindakan kasih yang sederhana. Misalnya kesaksian hidup Mother Teresa, membuat banyak orang termasuk orang atheis menyadari kehadiran Ilahi dalam suatu tindakan sederhana.

Dalam bacaan I hari ini, yang diambil dari kitab Ulangan menunjukkan bahwa telah menempatkan pengetahuan ini dalam diri setiap orang dan bukan hanya kepada bangsa terpilih. Pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu bukanlah sesuatu yang berada di luar diri kita, tetapi dikatakan tertulis di dalam hati kita. Hal ini tidak berarti kita tidak perlu berusaha untuk memahami pengetahuan yang telah diberikan oleh Allah dalam hati kita itu. Akan tetapi kita justru harus berjuang keras untuk memahami kehendak Allah di dalam hati kita. Untuk memahami kehendak Allah itu, biasanya kita harus merenung melalui meditasi dan juga menggunakan akal sehat untuk memahami apa yang ada di dalam hati kita. Kita harus berusaha keras untuk memahami suara-suara yang ada di dalam hati kita karena ternyata ada banyak suara yang ada di sana.

Salah satu hasil dari usaha manusia untuk memahami apa yang benar dan apa yang salah adalah: hendaknya kita memperlakukan sesama kita sebagaimana kita harapkan orang lain berbuat kepada kita. Saya kira ini suatu kebenaran umum yang juga diakui oleh orang yang tak beragama sekalipun. Dengan kata lain, jika kita tidak ingin orang melakukan suatu tindakan tertentu kepada kita, maka janganlah lakukan itu kepada orang lain.

Ini adalah suatu kebenaran umum yang seringkali sulit sekali kita lakukan. Kita lihat dalam bacaan Injil hari ini: Seorang ahli Taurat berusaha membenarkan diri di hadapan Yesus dengan bertanya: ‘Siapakah sesamaku manusia?”. Yesus memberikan jawaban yang jelas. Inti dari jawaban Yesus adalah: Setiap orang yang pernah hadir dalam hidupku adalah sesamaku. Setiap orang yang membutuhkan bantuan adalah sesamaku. Setiap orang yang kita jumpai adalah sesama kita. Setiap orang yang peduli dan mencintaiku adalah sesamaku.

Yesus tidak berbicara tentang orang yang tinggal bersebelahan dengan kita atau tetangga kita tetapi semua orang.

Dalam bacaan II tadi dikatakan: “Kristus adalah gambar Allah, yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu yang ada …” Jika merenungkan kutipan ini, kita akan mudah melihat bahwa ternyata Kristus hadir dalam setiap ciptaan tetapi pertama dan terutama Ia hadir dalam setiap manusia. Dalam kisah tentang Pengadilan Terakhir, Yesus mengatakan: “apapun yang kau lakukan bagi sesamamu, itu kau lakukan untuk Aku” (Mat 25:40). Artinya, jika kita melakukan sesuatu yang jahat kepada sesama kita, maka itu kita lakukan bagi Kristus. Jika kita melakukan sesuatu yang baik kepada sesama berarti itu kita lakukan bagi Kristus. Pada tataran pengetahuan, kita semua pasti tahu akan hal ini, tetapi sayang bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita justru gagal melakukan hal ini.

Oleh karena itu, saya mengajak kita untuk melihat secara lebih detail bacaan Injil hari ini. Ketika seorang ahli taurat bertanya kepada Yesus, Ia menjawab dalam sebuah perumpamaan:

Ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yeriko. Yesus tidak menyebut orang itu dari golongan mana, apakah ia seorang Farisi, ahli Taurat atau rakyat jelata. Atau dia dari suku apa tidak dikatakan. Hal yang pasti bahwa orang itu adalah orang Yahudi. Apakah orang itu baik atau tidak, punya kedudukan penting atau bukan? Hal itu tidak penting bagi Yesus. Yang penting adalah bahwa dia seorang manusia.

Ia jatuh ke tangan penyamun. Kasihan banget orang itu. Beberapa minggu yang lalu saya ke Oasis dan di sana saya ketemu dengan salah seorang umat kita yang keluarganya meninggal karena mutilasi. Penyamun dalam dunia sekarang dapat kita bayangkan sebagai aktor mutilasi tersebut. Di sini Yesus berbicara tentang sesuatu yang nyata karena Ia pun hidup di dunia ini. Yesus tahu bahwa ada orang-orang semacam itu.

Kebetulan ada seorang imam dan kemudian juga seorang Levi melewati jalan yang sama. Dalam Taurat Musa, yang berhak menjadi imam adalah kaum keturunan Levi. Jadi imam dan Levi itu adalah orang-orang beragama. Tetapi aneh bahwa hati mereka tidak tergerak oleh belaskasihan oleh peristiwa itu. Berkaitan dengan ini saya mau mengatakan bahwa beriman dan berbelaskasih adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Jika hati kita tidak merasa iba atau berbelaskasih karena suatu peristiwa sedih maka kita tidak dapat menyebut diri kita sebagai manusia sejati betapapun kita rajin berdoa.

Lalu datanglah seorang Samaria. Ketika melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belaskasihan dan segera menolong korban itu. Dia tidak peduli tentang masalah yang mungkin akan mengacam dia karena boleh jadi para penyamun itu masih berada di sekitar situ. Ia juga tidak peduli bahwa ternyata korban itu adalah orang Yahudi. Pada saat itu, Orang Yahudi dan Orang Samaria saling bermusuhan karena perpedaan dalam hal keagamaan.

Saudara dan saudariku
Kisah ini tidak menyebutkan siapakah Imam, levi atau orang Samaria itu tetapi paling tidak sedikit mengungkapan kepada kita orang seperti apakah mereka. Imam dan Levi tadi adalah orang yang egositik. Ketika bahaya mengancam, yang diutamakan adalah keselamatan diri sendiri. Sedangkan orang Samaria adalah orang yang peduli. Dia selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.

Pertanyaan: Imam dan Levi itu berdosa atau tidak? Melakukan dosa kelalaian. Lalai adalah kegagalan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan.

Pandangan moral katolik mengatakan: ”Kelalaian adalah pelanggaran melawan hukum moral karena seseorang tidak bertindak dalam situasi yang sebenarnya ia dapat dan harus bertindak.” Menurut St. Thomas Aquinas, kelalaian yang dilakukan secara sengaja adalah dosa. Misalnya, jika kita melihat seorang buta yang ingin menyeberang tapi kita pura-pura berjalan terus, atau jika kita melihat suatu kecelakaan dan kita pura-pura berjalan terus. Mungkin karena prinsip yang kita anggap terbaik adalah: sebisa mungkin menghindari masalah atau kalau bisa sebanyak mungkin menghindari tanggung jawab.

Saudara dan saudariku
Dosa kelalaian ini boleh jadi merupakan dosa yang seringkali kita lakukan. Kita berpikir yang penting saya tidak melakukan apapun yang menyakiti orang. Kisah Yesus tentang orang Yahudi yang dirampok habis-habisan dan terkapar setengah mati di tepi jalan, adalah kisah bagi zaman ini. Kisah ironis yang mempertemukan kita dengan sikap menghindari yang berlebihan. Memang kisah Yesus ini sebenarnya bicara tentang sebuah "kebetulan". Sekurang-kurangnya ada beberapa kebetulan di sana. Kebetulan seorang imam melalui jalan itu. Kebetulan seorang Lewi melaluinya juga. Namun, 'kebetulan' inilah yang sekarang menjadi sebuah teguran bagi kita. Mungkin kita agak meremehkan keadaan-keadaan yang juga kebetulan kita alami. Padahal dalam keadaan-keadaan yang sangat situasional itu, ditunggu sebuah tanggapan dan tindakan yang tepat dari diri kita.

Mungkin kita ingat saja pengalaman kita kalau sedang bepergian. Apalagi kalau kita sedang berjalan atau berkendaraan, untuk hadir di sebuah acara atau datang tepat waktu di kantor. Di kepala kita hanya ada tempat yang kita tuju itu.

Dalam hati, kita berkata, "saya tidak mau diganggu", atau "saya tidak mengharapkan kejutan di tengah jalan". Sama persis dengan imam dan orang Lewi itu, punya tujuan sendiri, tak mau diganggu siapapun. Kita berdoa supaya jangan terjadi sesuatu pun di jalan, sekalipun sesuatu itu adalah orang tak dikenal yang sedang celaka dan menderita! (Jangan-jangan anggota keluarga sendiri yang sedang menderita pun bisa dianggap gangguan?).

Itulah keadaan ketika kita tidak mengenali siapa sesama itu. Itulah keadaan ketika kita tidak memperhitungkan sesosok manusia di depan mata sebagai sesama. Waktu itu, kita tidak suka bertemu apa atau siapapun secara kebetulan. Padahal Yesus mengatakan, sesama kita adalah mereka yang 'kebetulan' kita jumpai! Jadi, karena takut dengan segala sesuatu yang kebetulan itu, kita pun menjadi buta dan berbuat sesuatu keliru di mata Yesus. Tanggapan kita jadi keliru karena juga keliru mengira 'siapa' sesama itu. Bagi Yesus, sesama itu justru mereka yang tidak kita kenal, tidak kita harapkan, barangkali juga musuh kita, tapi yang sedang celaka dan keadaannya mengganggu hati kecil kita. Siapapun yang tidak kita kenal akan menjadi 'sesama' karena kondisinya menuntut jawaban yang segera dari diri kita. Dan hanya orang Samaria itu, yang juga sedang dalam perjalanan, yang berani melepaskan tujuannya sendiri, berhenti, dan mau terlibat dengan kesusahan orang tak dikenal itu!

Mungkin tujuan kita akan gagal, atau kita terlambat sampai ke tujuan jika kita menuruti kata hati kita, jika kita berhenti dan terlibat dengan penderitaan seseorang yang kebetulan kita temui. Akan tetapi, yang kita lakukan demi orang itu akan sangat mulia di mata Tuhan. Tuhan akan banyak berbicara melalui hati kecil kita. Ia akan bicara dengan sangat perlahan dan begitu lembut. Kalau tak diperhatikan sungguh-sungguh, kita akan mudah mengabaikannya.

Percayalah, tidak ada kebetulan yang sungguh-sungguh hanya kebetulan. Kalau suatu kali, perjalanan kita seolah-olah 'terganggu' oleh sebuah kebetulan (seseorang yang mengalami kesulitan), mari kita justru berhenti, lupakan tujuan kita sendiri, dan ikuti kata hati kita saat itu. Amin.