Memikul Salib: Tanda Cinta kepada Yesus

A_22nd Sunday OT_Tonny Blikon, SS.CC
St. Odilia Parish – citra Raya

Saudara dan saudariku
Dalam Bacaan Pertama tadi kita mendengar keluhan nabi Yeremiah: ‘Engkau telah memperdaya aku, ya Tuhan, dan aku telah tertipu…aku telah menjadi tertawaan orang sepanjang hari, semua mereka mengolok-olok dan menghina aku”

Yeremiah dihina karena pemberitaan firman yang ia sampaikan. Setiap kali dia harus berbicara dengan keras bahkan teriak’. Tetapi semuanya sia-sia. Tidak ada yang mendengarkannya. Akhirnya Yeremiah berpikir lebih baik berhenti mewartakan firman Allah daripada saya dijadikan bahan tertawaan orang. Lebih baik saya mengambil sikap diam terhadap segala sesuatu yang terjadi.’ Akan tetapi, ketika ia mengambil sikap diam, - pengakuan Yeremiah - “maka di dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dlam tulang-tulangku, aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup”

Inilah penderitaan atau salib yang dialami oleh nabi Yeremiah sebagai nabi Allah. Dalam Injil hari ini Yesus mengatakan: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku”

Bicara soal salib berarti bicara soal penderitaan. Dan tentu banyak orang tidak suka kalau bicara soal ini, dan tentu tidak mengharapkannya. Tetapi dalam kehidupan ini, sebagai pengikut Yesus, salib memang tidak bisa dihindari. Bahkan dikatakan sebagai hal yang mesti kita tanggung.

Saya mengajak kita untuk mendengarkan sebuah kisah ini: Ada seorang ibu yang ditinggalkan suaminya setelah 11 tahun hidup bersama sebagai suami-istri. Suami memutuskan untuk meninggalkan Tuhan dengan menjadi penganut agama lain supaya bisa menikah lagi. Berikut ini adalah sharing dari ibu itu: “Saya ditinggalkan bersama dengan ketiga anak saya yang masih kecil. Perasaan kecewa, marah, malu, terhina dan putus asa beradu menjadi satu. Belum lagi saya harus menghadapi anak pertama kami yang berumur 9 tahun, dimana anak itu menyimpan dendam dan kebencian yang mendalam kepada ayahnya. Saya juga harus membesarkan anak kedua yang baru berumur 4 tahun dan yang ketiga yang masih bayi.

Saat itu, masyarakat di sekitar tidak henti-hentinya bergossip bahwa semuanya itu terjadi karena kesalahan saya. Keputusan sang suami didukung dengan dalih beribadah ‘ala’ mereka. Saya disudutkan sebagai tersangka karena dianggap tidak becus melayani suami.

Hal yang paling menyakitkan adalah sikap dan perilaku tman-teman seiman. Mereka menghakimi saya karena pernikahan kami terpaksa harus diakhiri di pengadilan. Saya tahu bahwa perceraian semacam itu tidak diakui oleh gereja.

Tanpa menanyakan perasaan saya, mereka semua memvonis saya bahwa saya telah melanggar firman Tuhan.

Jujur...kalau boleh memilih, saya tentu lebih memilih sebagai istri yang dilindungi suami daripada harus menyandang status janda yang ditinggalkan. Lebih lanjut, orang-orang seiman pun menuduh saya sebagai istri yang tidak becus sehingga suami lari meninggalkan Tuhan dan keluarga. Mereka tidak mau melihat perjuangan saya dalam membesarkan ketiga anak saya. Mereka tidak bisa merasakan betapa sulitnya menghadapi anak-anak yang mengalami luka batin dan trauma yang berkepanjangan.”

Saudara dan saudariku
Ibu itu hampir saja meninggalkan imannya. Dia sudah mulai tidak ke gereja lagi. Hal ini berjalan selama beberapa tahun.

Menjalani hidup sebagai single parent tentu tidak mudah. Sang ibu mengalami kelelahan emosi. Rasanya beban hidup semakin berat. Dia berusaha untuk memungut dan merekatkan kembali serpihan-serpihan hati yang dialami oleh anak-anaknya, terutama anak pertama yang hatinya hancur karena tindakan kekerasan ayahnya. Tentang anak pertama ini: dia sempat kehilangan rasa percaya diri akibat perasaan ditolak dan dicampakan oleh ayahnya. Dan hal ini membuat si ibu harus benar-benar sabar dalam mendampinginya.

Belum lagi si bungsu yang memerlukan perhatian khusus. Sang ibu kewalahan menjawab pertanyaan-pertnyaannya. Si bungsu bertanya: “Siapakah ayahnya? Belum lagi kalau ia bertanya: ’Mengapa begitu banyak orang baik kepadanya tetapi tidak ada satupun yang dapat dipanggilnya ayah”

Anak-anak memang baik tetapi terkadang mereka berantem dan merebut perhatian. Mereka belum mengerti betapa beratnya ibu bekerja mencari uang untuk mereka. Ketika sang ibu lelah setelah seharian bekerja, anak-anak menyambutnya dengan persoalan mereka masing-masing.

Masalah biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak menjadi PR besar baginya. Sebetulnya ibu itu masih berharap agar sang suami dapat mengingat tentang ketiga anaknya. Dengan itu semoga dia sadar dan mau kembali. Tetapi semuanya itu adalah harapan yang kosong. Jangankan memberi bantuan keuangan, bertelepon atau sms untuk menyapa darah dagingnya sendiri pun tidak pernah.

Sudah lama sekali si ibu tidak ke gereja karena merasa kecewa dengan Tuhan. Pada suatu Sabtu sore (minggu), dia melihat tetangga-tetangganya ke gereja. Dalam hati kecilnya ada suara yang berkata: “coba sekali ini aja kamu datang datang ke gereja.” Nah...kebetulan bahwa pada saat itu dibawakan dibacakan bacaan-bacaan yang kita dengar tadi.

Dalam homilinya sang pastor berseru: “Bahkan Yesus sendiri pun harus memikul salib-Nya. Dalam penderitaan yang amat mendalam Dia berseru: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.

Apakah dengan seruan itu, Bapa datang membantu dan menolongnya pada saat itu? Seringkali dalam penderitaan hidup ketika Allah seakan tidak menjawab doa-doa kita, kita meresa kecewa. Kita kecewa karena Tuhan sering tidak datang pada saat kita mengharapkan kehadiranNya. Tetapi sungguhkah Tuhan itu telah tuli? Sungguhkah Tuhan bersikap masa bodoh dan tidak mau peduli pada harapan dan doa-doa kita?

Lebih lanjut Pastor berkata: ”Satu kalimat dalam Doa Bapa Kami yang setiap hari kita doakan adalah: “Jadilah kehendak-MU di atas bumi seperti di dalam surga.”. Kehendak Allah macam apakah yang kita harapkan? Bukankah kita selalu mengharapkan kehendak Allah yang baik-baik saja, yang menyenangkan dan membahagiakan kita? Hanya yang baik-baik sajalah yang membuat kita bisa bersyukur. Mengapa ketika kita mengalami peristiwa yang membuat kita berduka, yang menyakitkan dan memedihkan kita, tidak mampu kita terima sebagai satu anugerah-Nya juga?

Sang ibu tersentak dengan renungan itu. Dia merasa ditegur oleh Tuhan. Dalam hatinya dia seolah mendengar suara Tuhan yang berkata: “Semua yang terjadi dalam hidupmu itulah salibmu, maka pikullah!”

“Tetapi Tuhan....salib saya terlalu berat”, keluh sang ibu di dalam hatinya. Dan Tuhan menjawab: “Salibmu memang tidak ringan, tetapi coba lihatlah salib-Ku”. Pikiran sang ibu diajak untuk mengingat sengasara Kristus.... ketika dia berusaha untuk membayangkan penderitaan Yesus, satu per satu luka batinya pun terbalut.

Pada akhir homili sang Romo menyanyikan lagu “the Old Rugged Cross” – Saya yakin kita semua tahu lagu itu.

Pada bagian refrain diulang beberapa kali ...



Reff : Hendaklah kucinta salib-Nya
Sampaiku menghadap tahta-Nya
Tak lagi kulepas salib-Nya
Sampai kutrima mahkota-Nya

Sang ibu tadi tak kuasa menahan air mata, seraya berkata: “Tuhan, walaupun salib ini sungguh berat, tapi saya mau merengkunya demi mahkota kemulian-Mu”

Saudara dan saudariku.
Dari kisah ini saya mau mengajak kita untuk melihat dan bersikap positip terhadap salib hidup kita.

Jangan katakan, “kenapa masalah silih berganti!” tetapi bersyukurlah bahwa Tuhan selalu memberiku masalah, agar saya menjadi kreatif menemukan “solusinya”.

Jangan katakan, kenapa cobaan silih berganti datang, tetapi syukurlah bahwa Tuhan tidak pernah berhenti “mengejutkan” saya sampai terluka jiwaku, agar saya setia pada-Nya kapanpun & di manapun.

Jangan katakan, kenapa hidup rohaniku malah mengering sekarang ini, padahal aku sudah rajin berdoa setiap hari, siang dan malam! Tetapi katakanlah, Tuhan, syukur kepada-Mu Engkau memberiku kesempatan untuk berjalan di padang gurun, saat aku sulit menemukan sumber air. Saat tidak ada sumber air yang engkau cari, di situlah saatnya engkau menemukan sumber air yang sejati. Dialah Tuhan Sang Sumber Air sejati..!

Jangan katakan, kenapa salibku setiap hari selalu bertambah berat, tetapi semakin engkau merasakan beratnya salibmu, itulah pertanda bahwa Tuhan makin percaya padamu!

Dengan memanggul salib hidup, kita mengikuti nasihat santo Paulus dalam bacaan kedua tadi: “supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah”

Saudara-saudaraku.
Mari Saya mengajak kita untuk masuk dalam saat hening, sambil mempersembahkan kepada Tuhan, salib dan penderitaan hidup kita. Pengalaman ibu tadi bahwa ketika dia berusaha untuk membayangkan penderitaan Yesus, satu per satu luka batinya pun terbalut. Semoga ini juga menjadi pengalaman rohani kita pada saat ini.

Lagu: di bukit yang jauh.

Spoken:
Tuhan.....Janganlah aku berdoa agar diluputkan dari bahaya tetapi agar berani untuk menghadapinya. Janganlah aku mohon untuk dihindarkan dari kepedihan tetapi agar mampu menaklukkannya. Janganlah aku mencari teman senasib dalam pergumulan hidup ini tetapi agar mampu berjuang dengan daya upayaku sendiri untuk membangun persaudaraan yang sejati dengan siapa saja. Janganlah aku meminta agar diselamatkan dari keterasingan tetapi agar dengan sabar melangkah menuju ke kebebasanku. Semoga aku tidak menjadi pengecut: tidak hanya sanggup merasakan keagunganMu dalam keberhasilanku tetapi juga dapat merasakan genggamanMu di dalam kegagalanku.

Maria Diangkat ke surga

HARI RAYA MARIA DIANGKAT KE SURGA

Why 11:19a; 12:1, 3-6a 1Kor 15:20-26 Luk 1:39-56

Saudara dan saudariku.

Pada hari ini, kita merayakan peristiwa iman: “Maria diangkat ke Surga”. Kita diajak untuk merenungkan perbuatan besar yang dikerjakan Allah bagi Maria, Bunda Kristus dan Bunda seluruh umat beriman. Kita percaya bahwa Maria telah dipilih Allah sejak awal mula untuk menjadi Bunda PuteraNya, Yesus Kristus. Untuk itu Allah menghindarkannya dari noda dosa asal dan mengangkatnya jauh di atas para malaikat dan orang kudus.

Gereja Katolik percaya bahwa Allah mengangkat Maria ke surga dengan jiwa dan badan, karena peranannya yang luar biasa dalam karya penyelamatan dan penebusan Kristus. Kebenaran iman ini dimaklumkan sebagai dogma dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus oleh Sri Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950.

Saudara dan saudariku
Memang, Maria “Diangkat ke Surga” tidak ada dalam Kitab Suci. Sebab itu, banyak kaum fundamentalis yang menafsirkan Kitab Suci secara harafiah akan mengalami kesulitan dalam memahami keyakinan ini. Nah…untuk bisa percaya akan hal ini, kita harus berdiam diri dan merenungkan peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan. Akan tetapi ada yang mengatakan: ’itukan kebetulan bahwa Allah memilih Maria. Allah bisa memilih siapa saja untuk melahirkan Yesus. Dalam hati saya menjawab: ’emang nenek loe yang dipilih.’ Dari kekal hingga kekal, Allah hanya menemukan seorang yang pantas dan layak untuk melahirkan Yesus yaitu Maria. Dalam bacaan Injil tadi, Maria mengagungkan karya keselamatan Allah yang dikerjakan melalui dia dengan mengatakan: ’Segala keturunan akan menyebut aku bahagia?

Saudara dan saudariku
Peran Maria dalam misteri keselamatan inilah yang menjadi dasar dari keyakinan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Saudara dan saudariku
Perlu kita ketahui bahwa Bunda Maria ‘diangkat’ ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga. ‘Diangkat’ berarti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus ‘naik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri.

Bagi kita orang Katolik, peristiwa Bunda Maria diangkat ke surga adalah peringatan akan pengharapan kita akan kebangkitan badan di akhir zaman, di mana kita sebagai orang beriman, jika hidup setia dan taat kepada Allah sampai akhir, maka kitapun akan mengalami kebangkitan jiwa dan raga ke dalam kemuliaan surgawi.

Maka, Dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk menghormati Maria, tetapi doktrin itu mau menunjukkan bahwa Maria adalah anggota Gereja yang pertama yang diangkat ke surga. Jika kita hidup setia melakukan perintah Allah dan bersatu dengan Kristus, seperti Bunda Maria, kitapun pada saat akhir jaman nanti akan diangkat ke surga, jiwa dan badan, seperti dia.

Saya yakin kita semua di sini ingin masuk surga. Masuk surga itu ’gampang-gampang susah.’ Yesus sendiri menegaskan: ”Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada seorang kaya masuk surga.”

Tadi saya katakan ’gampang-gampang susah’ artinya, walaupun sulit tetapi ada juga cara yang mudah. Ada yang tahu cara mudah untuk masuk surga? Saya akan menunjukkan cara yang paling mudah itu yaitu melalui persatuan dengan Maria dan membiarkan diri kita dibentuk oleh Maria.

Saya akan menjelaskan kebenaran iman ini melalui pandangan Maria sebagai Forma Dei. Tetapi sebelum itu, saya ingin bercerita tentang pengalaman saya.

Saya pernah mengunjungi sebuah tempat pembuatan patung di milik Bapak Alamsyah. Di sana saya melihat ada beberapa patung yang terpahat dari batu. Saya pernah bertanya: untuk apa patung-patung ini? Dia menjelaskan bahwa dulu ada beberapa pemahat yang melamar bekerja dan kepada masing-masing saya memberikan sebuah batu marmer yang besar untuk test. Mereka boleh memahat bentuk apapun yang mereka mau. ‘Dari 10 pemahat yang melamar saya hanya memilih satu orang, demikianlah penjelasannya.’

Saudara dan saudariku.
Ada dua cara jika seorang ingin membuat patung. Cara pertama adalah: pemahat dengan keahliannya, ketangkasnya, pengalamannya dan perkakas yang baik dapat memahat patung dari bahan yang keras tak berbentuk menjadi sebuah sosok. Cara yang ini tentu sangat sulit dan memakan waktu yang cukup lama. Sekali salah memahat, dapat merusak seluruh karyanya.

Sedangkan cara yang kedua adalah membuat formanya atau cetak ulangnya. Proses pembuatan forma ini sangat lama, tetapi setelah formanya sudah jadi dan sempurna maka bahan-bahan mudah melentur dituangkan ke dalamnya dan siap dibentuk sesuai dengan formanya itu.

Saudara dan saudariku.
Santo Agustinus mengatakan Maria adalah Forma Dei – cetak tuang Allah yang hidup. Santo Luis Marie de Monfort mengatakan: “Maria adalah ’cetakan Allah yang tak bernoda.”

Mengapa Maria disebut sebagai ’Forma Dei?’ Karena di dalam rahimnya Allah yang menjelma telah terbentuk sebagaimana mestinya tanpa kehilangan sedikit pun dari ke-allahan-Nya. Dan juga hanya dalam Maria, seorang manusia dapat dibentuk dalam Allah sebagaimana mestinya berkat rahmat Yesus Kristus.

Karena itu, tidak ada cara lain yang lebih mudah untuk masuk surga kalau kita sungguh bersatu dengan Maria.

Saudara dan saudariku.
Maria adalah ‘Forma Dei – Cetakan Allah, yang diciptakan oleh Roh Kudus untuk memberi bentuk alamiah kepada Sang Manusia Ilahi Yesus Kristus – dan juga Forma Dei yang memberi bentuk Ilahi kepada manusia lewat rahmat Allah. Maria adalah penuh rahmat.

Saya tertarik dengan doa untuk para imam yang seringkali kita pakai dalam novena Maria Pembantu Abadi: “Semoga Ibu-Mu, Maria, yang dahulu telah menjadi hadiah bagi murid yang Engkau kasihi, kini menjadi hadiah pula bagi setiap imam. Anugerahkanlah supaya dia yang telah membentuk Engkau menjadi wujud manusia, kiranya dapat membentuk mereka pula menjadi wujud Ilahi, oleh kuasa Roh-Mu, menuju kemuliaan Allah Bapa. Amin.”

Doa yang sama dapat kita pakai untuk diri kita sendiri: “Semoga Ibu-Mu, Maria, yang dahulu telah menjadi hadiah bagi murid yang Engkau kasihi, kini menjadi hadiah pula bagi setiap kami. Anugerahkanlah supaya dia yang telah membentuk Engkau menjadi wujud manusia, kiranya dapat membentuk mereka pula menjadi wujud Ilahi, oleh kuasa Roh-Mu, menuju kemuliaan Allah Bapa. Amin.”

Maria adalah ‘cetakan Allah yang sempurna. . Cetakan ini tidak mempunyai kekurangan apapun dari segi Ilahi. Apa saya yang dituangkan ke dalamnya dan mau dibentuk akan menerima ciri-ciri khas Yesus Kristus. Dan semuanya proses itu berjalan dengan lembut dengan memperhitungkan kelemahan manusiawi kita.

Ini adalah cara yang paling aman tanpa resiko menyimpang, karena setan tak pernah dan tak akan pernah menyentuh Maria. Maria adalah suci dan tak bernoda, tanpa cela dosa sedikit pun.

Jadi sekali lagi, agar dapat masuk dalam kemuliaan bersama Maria, kita harus bersatu dengan Maria dan membiarkan diri dibentuk oleh Maria.

Nah...cara untuk bersatu dengan Maria adalah merenungkan peristiwa-peristiwa keselamatan di dalam doa rosario. Doa Rosario adalah doa yang sangat sederhana. Tetapi mungkin karena terlalu sederhana inilah maka kita seringkali mengabaikannya.

Beato Yohanes Paulus II adalah orang yang sangat mencintai Bunda Maria. Dia pernah berkata: Rosary is my favourite prayer. Dalam ensikliknya: Rosarium Virginis Mariae, beliau mengatakan: Rosario adalah sekolah Maria. Melalui rosario, kita membiarkan diri kita dibentuk oleh Maria melalui misteri-misteri Yesus yang kita renungkan.

Saudara dan saudariku
Biasanya kalau kita doa rosario, setelah selesai peristiwa kelima, kita langsung tutup. Ok...sah-sah saja, tetapi di sini saya mau mengatakan bahwa ada sebuah doa yang seringkali tidak kita doakan setelah selesai mendaraskan doa rosario: “Ya Allah, Putera-Mu tunggal telah memperoleh bahagia kekal bagi kami dengan hidup, kematian, serta kebangkitan-Nya; semoga kami dalam merenungkan peristiwa-peristiwa itu dalam doa Rosario Suci Santa Perawan Maria, dapat meneladan isinya dan menerima yang dijanjikan-Nya, Dialah Kristus Tuhan kami.” – Doa ini menjadi bagian integral dari Doa Tesera Legio Mariae.

Saya ingin menggarisbawahi: “semoga kami dalam merenungkan peristiwa-peristiwa itu dalam doa Rosario Suci Santa Perawan Maria, dapat meneladan isinya dan menerima yang dijanjikan-Nya...” Kita berdoa rosario, bukan karena rosario adalah doa yang paling mudah, tetapi karena kita mau meneladan isinya. Hanya dengan cara inilah, kita akan menerima apa yang dijanjikan Tuhan. Melalui Rosario, kita membiarkan diri kita membiarkan diri kita dibentuk oleh Bunda Maria, agar kita pun mendapat kodrat Ilahi berkat rahmat Allah.

Saudara dan saudariku.
“Lihatlah Bundamu” Maria diangkat ke surga lebih merupakan suatu pengingat bagi Gereja bahwa Tuhan kita menghendaki agar mereka semua yang telah diberikan Bapa kepada-Nya dibangkitkan bersama-Nya. Dalam Maria yang diangkat ke surga, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.”

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga memberikan kepada masing-masing kita pengharapan besar akan masa depan kita bahwa kelak pun akan diangkat ke surga, asalkan selama hidup ini, kita mau membiarkan diri kita dibentuk oleh Bunda Maria.

Ketika merenungkan tentang kebenaran iman ini, saya tiba-tiba teringat akan sebuah lagu Maria. Lagu ini dalam bahasa Inggris. Beberapa katanya dalam Inggris klasik, tetapi artinya kira-kira begini:

Ya Ratu Surgawi yang suci
Di hadapanmu kami bersujud dan memohon
Buatlah kami mencintaimu.
Buatlah kami menjadi milikmu.

Ajarilah kami yang Bunda Suci.
Bagaimana seharusnya melawan godaan dosa.
Bagaimana seharusnya mencintai dan menolong sesama.
Bagaimana memenangkan kehidupan ini.

Kepadamu telah dianugerahkan seorang Putera
Dia lebih besar dari semua anak manusia.
Dia datang dari surga
Untuk menciptakan kembali dunia ini.

Lagu:

Holy Queen, we bend before thee,
Queen of purity divine.
Make us love thee, we implore thee
Make us truly to be thine.

Teach, O teach us, Holy Mother
How to conquer every sin,
How to love and help each other
How the price of life to win.

Thou to whom a child was given
Greater than the sons of men
Coming down from highest heaven
To create the world again.

Minggu Paskah V - Tahun A - 2011

Minggu Paskah ke-5 – Tahun A – 2011
Tonny Blikon

Kis 6:1-7 1 Petrus 2:4-9 Yohanes 14:1-12

Saudara dan saudariku.
Margaret Fishback, seorang guru sekolah dasar untuk anak-anak suku Indian di Kanada, pada suatu ketika menulis sebuah puisi yang telah menjadi inspirasi bagi banyak orang di dunia ini. Puisinya berjudul ‘Footprints on the sand’ Mungkin ada di antara kita yang pernah membaca atau mendengarnya:

Suatu malam seorang pemuda bermimpi. Dia bermimpi berjalan bersama Tuhan di sepanjang pantai. Ketika memandang ke langit, pemuda tersebut melihat tampilan perjalanan hidupnya. Setiap tampilan ia melihat ada dua pasang jejak kaki di pasir: satu adalah jejaknya, dan jejak lainnya adalah jejak Tuhan.

Ketika saat-saat terakhir kehidupannya tampil di hadapannya, dia melihat kembali jejak kaki yang ada di pasir. Dia menyadari bahwa beberapa bagiaan waktu dalam hidupnya hanya terdapat satu pasang jejak kaki. Dia juga menyadari bahwa hal itu terjadi ketika saat-saat paling buruk dan bermasalah dalam hidupnya.

Hal ini menggangu pikirannya dan ia bertanya kepada Tuhan tentang hal tersebut:

“Tuhan, Engkau mengatakan bahwa ketika aku memutuskan untuk mengikutimu, Kau selalu berjalan bersamaku sepanjang waktu. Tetapi aku menyadari bahwa selama masa dimana hidupku penuh dengan masalah dan penderitaan, di sana hanya terdapat satu jejak kaki. Aku tidak mengerti kenapa ketika saat-saat dimana aku membutuhkan Mu Engkau malah meninggalkanku.”

Tuhan menjawab: “Anakku yang aku sayangi, Aku mencintaimu dan Aku tidak pernah meninggalkanmu. Selama masa ujian dan penderitaan, ketika kau hanya melihat sepasang jejak kaki, saat itu Aku memikulmu.”

Saudara dan saudariku
Dari kisah ini saya mau mengatakan bahwa walaupun sebagai orang beriman ada saat-saat tertentu dimana kita merasa bahwa hidup ini berat dan seakan Tuhan jauh. Dalam situasi semacam itu, kita harus percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai kita, walaupun kita tidak merasakannya. Justru pada saat-saat itulah kita memerlukan iman.

Adalah lebih mudah untuk mengakui bahwa kita sungguh percaya kepada Tuhan apabila segala sesuatu di dalam hidup ini berjalan dengan baik sesuai dengan kehendak kita. Tetapi jika kita mengalami kegagalan atau krisis di dalam hidup maka disitulah iman kita diuji: seberapa besar atau seberapa dalam kepercayaan kita kepada Tuhan.

Tidak dapat disangkal bahwa ada beberapa orang yang beranggapan jika kita sungguh percaya kepada Tuhan. Atau jika Tuhan senantiasa menyertai kita maka hidup kita akan bahagia. Kita pasti akan dijauhkan dari masalah-masalah hidup. Orang yang demikian, ketika mengalami krisis atau badai dalam kehidupan ini, berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka. Akhirnya mereka pun meninggalkan Tuhan. Ada cukup banyak orang yang kehilangan iman karena beratnya situasi hidup yang mereka alami.

Saudara dan saudariku
Para murid, pada waktu perjamuam malam terakhir sedang mengalami krisis atau goncangan ketika Yesus mengatakan bahwa Ia akan mati disalibkan. Ketika mendengar hal itu, hati mereka mengalami kegelisahan dan ketakutan. Mereka takut akan masa depan. Yesus tahu situasi para murid-Nya sehingga Ia mempersiapkan mereka untuk mengalami beratnya kehidupan di masa yang akan datang. Yesus katakan: “Janganlah gelisah hatimu. Percayalah kepada Allah, percayalah kepada-Ku juga.” Dan karena para murid adalah orang-orang yang telah percaya kepada Yesus, maka sebetulnya pada waktu itu Yesus mengatakan hendaknya kamu semakin teguh percaya kepada Allah dan juga kepada-Ku.”

Saudara dan saudariku
Seorang imam menceritakan pengalaman pastoralnya berikut ini: Belum lama ini, ia mengujungi seorang ibu yang bertemu dengannya dua minggu yang lalu. Ibu itu berumur kira-kira 60 tahun. Romo itu sempat kaget karena melihat keadaan tempat tinggalnya. Ternyata selama ini ia bekerja sebagai tukang cuci di sebuah keluarga untuk membiayai suaminya yang sedang sakit. Ia baru saja berhenti dari pekerjaan itu karena marasa mata kirinya mulai buta. Ia tetap bergembira walaupun dalam keadaan tidak sehat. Sekarang ini ia menjual sayur-sayuran di rumahnya. Sambil menjajakan barang dagangannya ia mendendangkan sebuah lagu kesukaannya: “Pujilah Tuhan, Allah Bapa, Allah Putera, Allah Roh Kudus”. “Ibu, mengapa ibu masih sanggup bekerja dengan gembira walaupun ibu dalam keadaan sakit?”, tanya sang Romo. Jawaban yang tak terduga terlontar dari mulutnya: “Romo, Yesus adalah Tuhan Yang hidup dan Mahakuasa. Karena itu, saya tidak boleh takut dengan kehidupan!” Jawaban ibu yang sederhana itu jauh lebih jelas atas pertanyaan tentang Tuhan daripada uraian yang diberikan oleh banyak ahli Theologi, Kitab Suci dan Spiritualitas lulusan Roma.

Saudara dan saudariku.
Dari jawaban sang ibu tadi, kita bisa melihat contoh iman yang teguh kepada Allah. Iman itu terungkap dalam keikhlasan dan penyerahan dirinya kepada Tuhan. Iman itu teruji di dalam perjuangan hidup yang ia alami.

Ketika kita mengalami kesulitan hidup, tak ada yang dapat kita buat selain percaya teguh dan berharap kepada Allah. Dengan demikian, hidup yang seakan tak tertanggungkan itu akhirnya toh dapat dijalani dengan penuh semangat dan kegelapan yang kita alami semakin lama semakin bersinar.

Hidup ini tidak dapat dipahami dan tidak dapat ditanggung jika tanpa Allah. Itulah sebabnya iman adalah hal yang sangat penting di dalam hidup ini.

Orang yang memiliki iman akan juga memiliki sumber penghiburan dan inspirasi, terutama ketika masalah-masalah muncul di dalam hidup ini. Mereka tahu bahwa Allah akan berbuat baik kepada mereka diakhir perjuangan hidup baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Jadi, sebetulnya bukan kitalah yang memelihara iman tetapi imanlah yang memelihara kita.

Mahatma Gandi pernah berkata: ‘seorang yang memiliki iman kepada Allah tidak akan pernah putus asa karena ia percaya bahwa Allah akan membuat segala sesuatu menjadi baik.’

Kecemasan dan kekuatiran ini seringkali melanda hidup kita. Kekuatiran ini muncul karena iman kita lemah. Kita terlalu terfokus pada diri sendiri dan kurang mengandalkan Allah di dalam hidup ini sehingga banyak kali di dalam kitab suci dikatakan jangan cemas.

Saudara dan saudariku
Jika kita mengandalkan Yesus di dalam hidup ini, maka kita tidak akan terlalu cemas dan kuatir akan setiap persoalan yang kita hadapi. Allah memang tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita akan bebas dari persoalan-persoalan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan bagi orang yang berharap kepada-Nya.

Saudara dan saudariku
Terkadang kita berkata: “Tuhan, saya sudah cape dengan masalah yang terus bergantian”

Tetapi Yesus dalam Mat 11:28 mengatakan: “Datanglah kepada-Ku kalian semua yang letih lesuh dan berbeban berat, maka aku akan melegahkan kamu.”

Terkadang kita berkata: “Tuhan, saya sudah tidak bisa lagi bertahan dengan semua persoalan hidup ini.”

Tetapi Yesus berkata kepada kita, "Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."

Terkadang kita mengleuh kepada Tuhan tentang beratnya beban kehidupan.

Tetapi rasul Paulus mengatakan: “segala sesuatu dapat kutanggung dalam Dia yang memberikan aku kekuatan” Fil 4:13

Juga dalam Fil 4:19 rasul Paulus menulis: “Allahku akan memenuhi segala keperluan-mu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus”

Kadang kita mengatakan: “saya kuatir dan takut untuk menghadapi masa depan saya,

Tetapi dalam 2 Tim 1:7 kita baca: “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

Terkadang kita merasa seakan berjalan sendirian dan ditinggalkan oleh Tuhan sebagaiman dalam puisi footprints on the sand.

Tetapi di dalam Ibrani 13:5 Allah katakan: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Ketika merenungkan bacaan Injil hari ini untuk mempersiapkan renungan ini, saya teringat akan sebuah lagu yang ketika masih sebagai frater seringkali saya nyanyikan. Pada saat saya merasa berat untuk terus melangkah dijalan panggilan ini, ketika saya merasa sulit untuk berdoa, saya hanya datang ke kapel, menghidupkan organ dan menyanyikan lagu ini. Terkadang saya mengulangi lagu ini sampai beberapa kali dan tanpa saya sadari air mata menetes di pipi saya... semoga lagu ini juga menjadi sumber inspirasi bagi kalian semua untuk semakin teguh percaya dan berharap kepada Allah. Mari kita simak isi lagu ini.

Bila kau melangkah dalam badai gelap
Teguhkanlah hatimu tetap.
Badai akan lenyap tampak langit terang
Suara unggas terdengar merdu.

Walau angin keras dan hujan yang deras
Segala harapan pudarlah
Langkahkan terus dan percayalah
Kau tak seorang dirilah…

Minggu Advent III-Tahun A-2010

Bacaan:
Yes 35:1-6a.10
Yak 5:7-10
Mat 11:2-11

Pengantar

Pada Minggu Ketiga Adven atau dikenal sebagai "Minggu Sukacita" - St Paulus mengajak kita untuk bersukacita. Dia mengingatkan kita untuk menyingkirkan dari hati kita segala kecemasan dan ketakutan, karena Tuhan sudah dekat

Dalam Injil nanti,, St Yohanes Pembaptis mendesak kita untuk bermurah hati, bersikap adil dan senantiasa mengarahkan pikiran kita kepada pelayanan. Inilah hal-hal praktis yang mesti kita bangun sebagai persiapan kita untuk menyambut Natal. Dalam masa penantian yang penuh harapan ini, marilah kita semakin bersikap terbuka untuk menyambut Yesus. Inilah sikap dasar yang paling penting, yang ingin Yesus temukan di dalam diri kita sehingga pada natal nanti, Ia dapat membawa suatu pembaharuan dalam diri kita; suatu kelahiran baru yang tentu sangat kita harapkan.

Homili

Saudara dan saudariku.
Dalam bacaan Injil tadi kita mendengar bahwa Yohanes Pembaptis telah dipenjarakan. Kita semua pasti tahu alasan mengapa ia dipenjarakan. Menurut sejarawan Yahudi, Yosefus Flavius, penjara itu berada di benteng istana Machaerus, yang dibangun oleh Herodes Agung yang letaknya di pegunungan curam Moab dekat dengan laut tengah pada pesisir Laut Mati. Ketika berada di dalam penjara, Yohanes Pembaptis terus mengikuti perkembangan Kerajaan Allah yang kedatangannya telah ia mulai. Ia mendengar banyak hal yang dilakukan oleh Yesus, sehingga ia mengirim para muridnya untuk kepada Yesus: “Engkaukah dia yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”

Yesus tidak menjawab pertanyaan itu hanya dengan mengatakan: “YA” atau “bukan” tetapi dia menjawab dengan sebuah cara dimana Yohanes Pembaptis dapat mengerti: “Pergilah dan katakankanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan apa yang kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang misin diberitakan kabar baik”

Setelah murid-murid Yohanes pergi, Yesus mulai berbicara tentang Yohanes dengan mengajukan pertanyaan kepada orang banyak: “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Apa yang ingin kalian lihat di padang gurun?

Tentu mereka ke sana untuk mendengarkan pewartaan Yohanes Pembaptis dan menerima pembaptisan demi pengampunan dosa.

Saudara dan saudariku
Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Apa yang ingin kalian lihat di padang gurun? Pertanyaan ini pernah ditanyakan lebih dari 2000 tahun yang lalu dan terus mengema hingga saat ini. Pertanyaan ini sangat penting untuk setiap kita saat ini.

Dalam konteks kita sekarang, untuk apa kamu datang ke gereja? Apa yang ingin kalian lihat? Apa yang ingin kalian dengar? Atau lebih jauh lagi, ketika memutuskan untuk mengikuti Kristus, apa sih yang kita cari?

Ada sebuah kutipan yang menarik untuk kita renungkan bersama:

When I say, I am a Christian, I am not shouting “I have been saved but I am whispering “I get lost that’s why I chose this way.

When I say, I am a Christian, I don’t say with human pride but I am confessing I stumble-needing God to be my guide.

When I say, I am a Christian, I am not trying to be strong but I am professing that I am weak and pray for strength to carry on.

When I say, I am a Christian, I don’t wish to judge. I have no authority… I only know that I am loved.


Saudara dan saudariku
Dengan dibaptis, tidak serta merta membuat anda dan saya menjadi seorang Kristen. Itu sama seperti memiliki sebuah piano di rumah tetapi anda bisa memainkannya.

Pagi tadi saya BBM seseorang, ‘apakah yang kamu cari sebagai murid Yesus? Dia menjawab: “Bisa mengikuti sikap sebagai murid Yesus yang baik”

Yesus berkata: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:31-32).Juga dalam Yoh 13: 35 Yesus berkata: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”.

Jadi menjadi murid Yesus berarti mengikuti ajaran Yesus. Dkl, orang Kristen itu berarti orang yang mempraktekan seluruh ajaran Yesus.

Saudara dan saudariku yang terkasih.
Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Apa yang ingin kalian lihat di padang gurun? Kita orang Katolik perlu bertanya kepada diri kita sendiri: Apa sih yang ingin saya dengar? Apa sih yang ingin saya cari dalam hidup ini?

Apakah kita ingin mendengar tentang kebenaran, apakah kita bersedia mengubah cara hidup kita secara radikal?

Apakah kita mau mendengar pewartaan Yohanes Pembaptis: “Bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat…. Ratakanlah jalan bagi Tuhan dan persiapkanlah jalan bagi-Nya” dan bersedia mengubah cara hidup kita?

Ataukah kita kita adalah orang tidak terlalu serius menanggapi pewartaan Yohanes Pembaptis. Sama seperti orang farisi dan ahli taurat yang juga pergi ke padang gurun tetapi tidak menanggapi dengan serius seruan Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis sebetulnya telah menegur mereka dan meminta mereka untuk bertobat tapi mereka tidak mau.

Saya tertarik dengan status FB dari seorang pada tanggal 27 November yang lalu: ”besok udh minggu adven 1..... kita sdh memasuki masa penantian dan tentu masa pertobatan untuk menyambut natal yang sukacita....... ayooooo bertobat."

Besar harapan saya bahwa kalimat itu tidak menjadi kalimat yang kosong.

Saudara dan saudariku
Kalau kita mau disebut sebagai pengikut Kristus, kalau kita mau disebut sebagai orang Kristen, Katolik...maka kita harus menjalani cara hidup yang kita sebut sebagai pertobatan yang terus menerus. Apakah kita mau menerima cara hidup ini?

Saudara dan saudariku
Sekarang saya mau bertanya: apakah anda mau mendengar suara nabi yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan baginya?

Mau?

Padang gurun itu adalah hatimu. Sang nabi berseru dari kedalaman hatimu : “bertobatlah" Suara itu berseru : Berbaliklah dari dosamu dan kembalilah kepada Tuhan. Suara itu berseru: carilah Tuhan dengan hati yang sabar.

Yesaya 55 :6 mengatakan “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya selama Ia dekat”

Saudara dan saudariku…
Jika kita mau melakukan semuanya ini maka sebagaimana nabi Yesaya dalam bacaan pertama tadi mengatakan: “padang gurun dan padang kering akan bergirang”

Inilah yang ingin gereja katakan kepada kita pada hari minggu ini, yang disebut sebagai Minggu sukacita…..karena itu, lilin advent yang ketiga.

Kita sudah berada di tengah masa advent ini....karena itu marilah kita menanggapi dengan serius seruan nabi ini, sehingga pada perayaan natal nanti, padang gurun hati kita yang kering boleh bersukacita menyambut Sang Raja di dalam hati kita. Amen.

Renungan Kedua Novena Bunda Pembantu Abadi

Bacaan
Lukas 1:26-38

Renungan
Dalam sejarah keselamatan Maria menempati peranan yang penting. Maria menempati posisi kunci yang menghantarkan Sang Putera untuk menebus manusia. Oleh karena posisinya yang sangat penting itulah mengapa Maria dipersiapkan sejak awal mula untuk mengandung YESUS yang adalah ALLAH. Hal ini berkaitan dengan perayaan hari rabu kemarin, yaitu Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa.

Dalam bacaan Injil tadi, Malaikat Gabriel berkata kepada Maria: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungimu; sebab itu Anak kudus yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” ( Luk 1:35). Roh tak bisa menaungi orang berdosa. Hanya Maria-lah satu-satunya manusia yang dinaungi oleh Roh Kudus. Inilah keistimewaan Maria. Keistimewaan itu didasarkan bahwa sejak awal mula Maria telah dipersiapkan untuk mengandung Yesus, yang adalah Allah. Untuk menyimpan sabda Allah orang memerlukan tempat yang terbaik, yang dipersiapkan sedemikan rupa. Maria adalah Tabut Perjanjian Baru.

Gereja Katolik percaya Maria dikandung tidak bernoda dosa asal karena Maria mengandung Yesus sang sabda yang menjadi Manusia. Kita tahu bahwa Allah tidak mungkin bersatu dengan dosa karena Allah adalah Kudus dan jika kita tidak suci maka kita tidak akan melihat Allah (Ibrani 12:14) apalagi Maria yang harus mengandung Allah yang menjelma menjadi manusia.

Pada Lukas 1:28 "engkau yang dikaruniai" menurut salah seorang Bapa Gereja yang bernama Origenes kata dikaruniai hanya diberikan kepada Maria hal itu dikarenakan Maria dibebaskan dari noda dosa sehingga ia layak menyandang gelar "yang dikaruniai" dosa asal dan dosa pribadi menghalangi orang untuk menerima Karunia sedangkan pada Maria mendapat gelar "yang dikaruniai".

Kalau kita selidiki KS, kata ‘yang dikaruniai’ ini hanya ada dalam Luk 1:28 dan itu hanya ditujukan kepada Maria. Martin Luther (Tokoh Reformasi Protestan) mengatakan: "She is full of grace, proclaimed to be entirely without sin - something exceedingly great. For God's grace fills her with everything good and makes her devoid of all evil." (Personal {"Little"} Prayer Book, 1522).

Artinya: "Maria adalah penuh rahmat, dan tanpa noda dosa. -. Sesuatu rahmat yang sangat besar karena kasih karunia Allah memenuhi dia dengan segala sesuatu yang baik dan membuat dia bebas dari segala kejahatan”

Oleh karena itu, gereja Katolik percaya bahwa Maria dipersiapkan dari awal mula untuk mengandung Yesus sang sabda. Dalam Yer 1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau…". Allah tentu telah mengenal dan mengetahui bahwa Maria akan mengandung sang Sabda tentunya Maria dipersiapkan sebaik mungkin oleh Allah.

Sekalipun demikian, Maria tetapi menyadari bahwa dirinya tetap membutuhkan penyelamat. Itulah sebabnya di dalam magnificatnya ia mengatakan: "hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,"

Putera Puteri Maria yang terkasih.
Berbeda dengan Bunda Maria, kita semua sangat rentan untuk jatuh dalam dosa. Akibat dari dosa pertama adalah keterasingan dari Allah. Seperti Adam dan Hawa, orang akan meniru perilaku mereka yaitu bersembunyi tatkala jatuh dalam dosa dan melarikan diri dari Tuhan seperti domba yang tersesat. Padahal, Bapa kita di sorga tidak mau seorang pun dari anak-anak-Nya hilang (Mat 18:14).

Ada sebuah kisah nyata yang terjadi di Chili. Kisah ini saya ambil dari majalah Ave Maria. Kisahnya begini: Pada suatu hari, datanglah seorang ibu kepada seorang imam dan menceritakan kepada iman itu, bahwa tetangganya adalah seorang gadis muda yang miskin, hidup dalam dosa dengan seorang bajingan yang telah menggoda dia.

Pastor itu lalu memberi dia sebuah medali Bunda Maria Pembantu Abadi, dan menyuruh dia membawanya pada si pendosa yang malang itu, dan supaya berusaha sekuat tenaga untuk membawa si gadis yang malang itu kepadanya. Ia berharap agar Bunda Maria menarik jiwa itu dari jurang dosa.

Keesokan harinya, ibu itu datang lagi dan mengatakan kepada Pastor itu: “Pastor, gadis muda itu mengambil medali yang Pastor berikan dan aku telah membawa dia kepadamu, inilah dia orangnya.”

Pastor itu mengetahui dari seorang yang lain bahwa bahwa orang tua gadis itu tinggal cukup jauh, di kota lain dan juga bahwa gadis muda ini digoda oleh seorang yang malang yang telah mengikuti dia untuk waktu yang lama. Gadis itu lari dari rumah dan hidup tanpa kendali dengan pria itu di suatu tempat di mana ia tak dikenal, supaya ibunya tidak dapat menemukannya.

Pastor itu lalu meminta gadis itu berjanji untuk memikirkan jiwanya, untuk merubah hidupnya dan menjelaskan kepadanya, bahwa ia dapat saja menghindari usaha pencarian ibunya, tetapi Allah dapat melihatnya di mana-mana dan dari mata Allah ia tidak dapat menghindar.

Pastor itu akhirnya membujuk gadis itu untuk meninggalkan kehidupannya yang penuh dosa dan sekali lagi kembali kepada Allah, karena Bunda Maria Pembantu Abadi telah menyentuh hatinya.

Hanya satu kesulitan yang menghalangi dia, yaitu ketakutan untuk pulang ke rumah karena ia berpikir bahwa ibunya tidak akan mengampuni dia dan menerima dia kembali.

Pastor lalu memanggil ibu dari gadis tadi, sepertinya ia mempunyai sesuatu yang penting untuk disampaikan pada dia. Setelah menerima pesan, ibu itu datang pada pastor itu, dengan sangat sedih hati dan bingung.

Pastor menerangkan alasannya mengapa ia memanggilnya, pertama-tama si ibu yang malang itu hanya dapat menjawab dengan air mata saja dan sedu sedannya. Dan Pastor sangat terharu ketika ia mendengar si ibu berkata : “Pastor, ini benar-benar mukjizat dari Bunda Maria Pembantu Abadi. Putriku meninggalkan rumah, aku telah berusaha mencarinya, tetapi sia-sia. Aku lalu memohon kepada Bunda Maria Pembantu Abadi, ‘Bunda Pembantu Abadi, hanya engkaulah yang harus membawa anakku pulang. Engkau harus mengembalikannya kepadaku.’ Dan hari ini dia mengembalikanya kepadaku dan di sinilah, di tempat kudusnya.”

Gadis malang itu lalu mempersiapkan diri untuk melakukan pengakuan dosa yang baik, kemudian pulang ke rumah bersama ibunya. Keduanya sekarang penuh suka cita, bersyukur dan memuji Bunda Maria Pembantu Abadi yang dengan cara Ilahi telah mempersatukan mereka kembali.

Marilah kita memohon kepada Bunda Maria Pembantu Abadi agar berkenan mendoakan diri kita sehingga memperoleh kekuatan untuk kembali kepada Putera-nya melalui Sakramen Tobat. Maria, yang secara sempurna dibentuk oleh Allah dengan dikandung tanpa tercemar dosa sedikit pun, akan menolong kita memperbaiki dan merubah diri kita yang telah dinodai dosa.

Eksorsisme, Pengalaman yang Tak Terlupakan

Pengantar dari editor:

Terima kasih, Romo Santo. Alangkah luar biasa kesaksian Romo ini, dan kami bersyukur Romo mau membagikannya kepada kami semua. Kesaksian Romo semakin menguatkan iman kita, bahwa Tuhan hadir di dalam Gereja-Nya terutama di dalam Sakramen Maha Kudus. Secara khusus, Kristus menyertai para imam-Nya, dan sakramen Imamat yang diberikan kepada mereka merupakan rahmat tak ternilai yang diberikan kepada semua orang percaya. Sebab melalui para imamNya, Tuhan menjaga dan melindungi GerejaNya.

Pengalaman Romo Santo ini menjadi bukti akan sabda Tuhan kepada para murid-Nya, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surge. (Mat 18:18)….”Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu sampai kepada akhir jaman.” (Mat 28:20). Sungguh ada kuasa dalam nama Yesus, yang mematahkan segala ikatan kuasa jahat. Sebab “dalam nama Yesus, bertekuk lutut segala yang ada di langit dan di bumi, dan segala lidah mengaku “Yesus Kristus adalah Tuhan” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:11) Terpujilah Allah Bapa dan Putera Raja semesta alam, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, bersama semua para malaikat dan para orang kudus-Nya. Biarlah kekuatan surga dan kerajaan Allah semakin meraja di seluruh bumi!

Pengalaman tak terlupakan

Saudara-Saudari terkasih, dan para imam yang terhormat. Rasa hati saya masih menggelegak, bergetar, tremendum-fascinoscum oleh pengalaman pertama saya melakukan eksorsisme. Pertama-tema saya mengucapkan terima kasih kepada Bruder Yohanes FC yang telah pernah memposting teks resmi mengenai doa exorcism dari Vatikan ke milist komunikasi KAS. Saya sempat membacanya sambil lalu waktu itu, namun puji Tuhan, saya dapat ingat akan apa yang tertulis di postingan bruder ketika harus menghadapinya sendiri. Melalui pengalaman saya melakukan eksorsisme, sayapun semakin bersyukur atas rahmat Sakramen Imamat kepada Gereja, yang ternyata memang menjadi sasaran tembak utama setan namun sekaligus juga alasan ketakutan setan.

Panggilan menjelang tengah malam

Kisahnya demikian: Pada hari Sabtu, tanggal 27 November 2010, saya mendampingi rekoleksi OMK (Orang Muda Katolik) Stasi Tambun paroki Bekasi di Cipanas. Dewan Stasi dan Paroki turut mendampingi. Acara berlangsung dengan baik dan inspiratif sampai malam hari. Setelah acara api unggun, semua peserta dan penyelenggara bersiap untuk tidur. Sayapun masuk ke kamar saya. Baru saja saya jatuh tertidur, pintu kamar saya diketuk. Saudari Marta dan Anton serta beberapa orang yang lain memberitahu saya, bahwa di Cibulan di daerah bawah Cisarua, ada sekelompok Mahasiswa KAJ dekenat Timur yang sedang rekoleksi, dan mereka membutuhkan bantuan imam untuk menghadapi empat orang mahasiswi yang sedang kesurupan. Satu orang di antara mereka bahkan telah menghilang dan tidak ada di villa. Romo pendamping yakni Rm. Hari Sulistyo sudah pulang dan tidak akan kembali lagi ke sana.

Saya terhenyak. Pikiran saya langsung bekerja: jarak antara Cipanas hingga Cibulan adalah sekitar 15 Km. Cukup jauh. Menjelang pukul sebelas malam begini pula…. Namun hati saya tergerak untuk menolong. Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke sana disertai oleh Martha dan Anton. Sambil mengemudikan mobil, saya mengingat kembali postingan bruder Yohanes dalam milist, apakah ciri-ciri orang kerasukan setan dan perbedaannya dengan orang yang mengalami stress berat/depresi. Lalu saya berpikir, ah, jangan-jangan mereka hanya depresi saja. Biasanya perempuanlah yang suka kesurupan, dan benar juga, perempuanlah yang dikatakan kesurupan malam ini. Jujur saja, sebenarnya saya termasuk golongan orang yang skeptis dalam urusan semacam ini. Maksud saya datang hanyalah sekedar menenangkan anak-anak itu saja. Kehadiran pastoral sajalah, demikian pikir saya. Namun demikian, saya tetap mencoba mengingat- ingat kembali teks itu. Kebetulan handphone BB saya hang setelah tersiram air teh di gerbong kereta api saat saya kembali dari Jogja ke Jakarta hari Jumat dinihari kemarin. Karena itu, saya tidak dapat membuka kembali teks dari milist itu. Saat itu saya tak punya pilihan lain, selain berusaha mengingat- ingat sendiri saja, sambil berbincang-bincang dengan Anton dan Martha.

Villa tua, tempat si jahat beraksi

Sesampainya kami di villa tua itu, terlihat para “pasien” sudah terlentang dan tengkurap tidur. Mereka dipisahkan di tiga tempat. ’Pasien’ yang hilang sudah ditemukan. Menurut berita, ia kini berada di kamar atas. Dari keempat anak itu, ada satu orang yang kata mereka paling kuat. Karena villa itu tidak dikelola Gereja dan bukan tempat khusus retret, maka reaksi spontan orang sekitar villa adalah memanggil Pak Kiyai/dukun setempat. Mbah dukun itu sudah dipanggil sejak pukul tujuh malam tadi dan gagal, lalu pulang. Kata mbah dukun, jenis ini bukan yang dia ketahui. Mereka memanggil pula pak Pendeta Protestan dari gereja terdekat. Namun kata mereka, Pak pendeta juga menyatakan tak sanggup pula, lalu pulang. Terlihat para mahasiswa masih menggenggam rosario dan berdoa bersama. Ada salib besi tergeletak di sofa. Pasien terparah itu adalah seorang perempuan berperawakan kecil saja. Ia tergolek tengkurap di sofa, ditunggui oleh teman-temannya. ”Ia sudah tidur”, demikian kata mereka. Karena kondisi sudah tenang, saya spontan memutuskan: ”Ya sudah saya kembali saja, kan anaknya sudah tidur… ” Tetapi beberapa mahasiswa meminta saya melihat dulu kondisi gadis yang terparah itu. Kata mereka, tadi dia kuat sekali. Delapan orang mahasiswa lelaki yang kuat pun dia hempaskan. Rosario yang mereka kalungkan di lehernya ia putuskan, dan ia lemparkan ke halaman. Anehnya, rosario itu kemudian mereka temukan berada di WC villa. Salib besi itu juga telah ia ludahi. Kata mereka, suaranya pun berubah seperti bukan suara gadis itu. Hhmm… Masih dengan agak skeptis, saya mendekatinya.

Kuncinya: jangan berkompromi dengan setan

Terlihat badan gadis itu tengkurap, mata terpejam separuh. Dari situ terlihat manik matanya…. melihat ke arah mata saya… Aneh… Saya agak tersinggung. Lha kok dia melirik ke saya terus. Kepalan tangannya menggenggam erat. Saya duduk di sofa yang sama, dekat punggungnya. Ia mengais punggung bawah sambil keluar bunyi desis dari mulutnya, sampai bajunya terlihat sobek sedikit. Desisnya berbunyi ”panasss” …..Lalu, saya nekad… Saya pegang tangannya. Ia memberontak. Saya buka genggaman tangannya, dia melawan dengan sebaliknya. Posisinya masih menelungkup. Saya ingat postingan teks dari bruder Yohanes. Ciri kerasukan setan yang membedakannya dari depresi antara lain adalah, jika disebut nama Malaikat Agung Santo Mikael, atau nama Para Kudus, juga Bunda Maria dan Tuhan Yesus Kristus, maka ia tentu akan bereaksi dengan keras. Agak skeptis, namun tetap dengan memegang erat jari-jari kaku yang mencekam dari anak itu, saya katakan dengan suara wajar namun jelas terdengar, ”Keluarlah dari badan anak ini! Dalam nama Yesus Kristus Tuhanmu, serta Malaikat Agung Santo Mikael yang kepadanya kamu membangkang, keluarlah”. Namun reaksi anak itu begitu mengejutkan kami semua, termasuk saya sendiri. Dengan gerakan cepat dan tak terpahami dari sudut mekanika badan manusia, ia berkelit langsung menatap wajahku, face to face, eyes to eyes….Ia mendesis menatap lurus ke mata saya, matanya penuh kebencian… Lalu dia berkata: ”Jangan sebut nama itu! Itu musuh kami!”. Dia bertanya : ”Apakah kamu takut, Bapa?” Saya menjawab, ”Kamulah yang takut!” Kemudian, dengan tatapannya yang tajam dia bertanya, ”Mengapa Bapa mengusir saya? Saya juga anak Tuhan. Kalau tidak, tentu saya tidak ada!” Segera kujawab, ”Kamu anak Tuhan yang tidak taat, sombong. Mengapa kamu memasuki anak ini?” Namun setan itu menjawab enteng saja, ”Tempat ini nyaman. Saya mau pergi asalkan anak ini kubawa. Saya telah menambah penyakit pada dirinya, meremas alat cernanya, dan membunuhnya. Itu salah Bapa kalau Bapa memaksakan kehendak”. Saya tidak mau diajak tawar menawar dengan setan. Maka saya menjawab: ”Tidak ada kompromi. Kamu tidak bisa membunuh anak ini dan tidak akan mampu membawa nyawanya”. Setan inipun menantang saya dengan mengatakan bahwa ia tidak takut pada imamNya, tidak takut pada Sakramen dan tidak takut pada Yesus, karena dia juga mengaku sebagai anakNya.

Pergumulan dari tengah malam sampai dini hari

Maka sejak pukul 23.45 hingga memasuki hari Minggu dini hari, saya dan para mahasiswa Katolik di sana bergumul untuk mengusir setan dari anak itu. Ia yang kesurupan itupun berubah dari waktu ke waktu. Kadang-kadang suaranya berubah menjadi lembut bak wanita cantik, namun kemudian menjadi ganas. Kadang ia tertawa ngikik, kadang menantang, kadang merunduk sok kalah. Kadangkala ia merajuk minta dikasihani. Anak itu muntah-muntah berkali-kali. Kadang setan melepaskan anak itu, lalu masuk lagi. Ketika anak itu dilepas, si anak mengeluh, ”Romo, saya tak kuat, badan saya dan usus serta lambung sakit semua. Saya mau mati saja, dan takut”. Kami menguatkan agar ia berani melawan. Ternyata si anak ini juga diberitahu oleh setan bahwa Romo akan dibunuhnya jika anak itu tidak taat padanya. Maka si anak merasa lemah, karena tak mau Romo diapa-apakan oleh setan.

Namun, yang paling mengejutkan ialah, walaupun setan itu dapat keluar meninggalkan anak itu tetapi selang beberapa menit, namun kemudian setan kembali memasuki anak itu dengan jumlah yang makin banyak. ”Kami ini Legion”, katanya jelas sekali. Ia fasih berbahasa Inggris dan Jawa. Hal ini terjadi ketika saya mengajak dia berdialog dalam bahasa Inggris dan Jawa, sekedar mengetes apakah itu benar-benar setan ataukah hanya ’acting’ anak itu. Saya tetap mengingat teks postingan bruder di milist itu, dan makin yakin akan kebenaran isinya. Saya katakan padanya, ”Kekuatanmu hanya seperempat. Masih ada Malaikat Agung Santo Mikael, serta Gabriel dan Rafael.” Mendengar ini, ia mundur dan melepaskan anak itu. Tiba-tiba ia masuk lagi dan berkata, ”You are stupid, Father”, lalu menghantam saya. Suatu saat ia terjatuh tepat di salib, dan kontan ia menjerit kepanasan. Maka para mahasiswa menempelkan salib-salib mereka. Ia berteriak kepanasan dan tersiksa. Begitulah, si setan itu pergi lagi. Namun dengan cepat ia kembali lagi, dengan membawa lebih banyak lagi setan bersamanya. Ia mau menguras kekuatan saya. ”Sampai kapan Bapa bisa bertahan? Akan kukuras tenagamu, Bapa!”. Saya menjawab sambil teringat Mzm 121:2, ”Kekuatanku datang dari Allah, yang menjadikan langit dan bumi”. Kami bertempur lagi. Si setan menjerit-jerit, dan kemudian ia lari lagi… Lalu saya mendengar berita bahwa ketiga mahasiswi lain sudah dilepaskan. Semua setan kemudian berpindah merasuki mahasiswi yang satu ini.


”Aku, Lucifer”


Ketika masuk lagi yang terakhir kali ke dalam anak itu, dia memeluk saya. Dengan seolah suara si mahasiswi, dia mengendus tengkuk saya sambil berbisik, ”Aku Lucifer”. Saya merinding. Terasa bulu kuduk saya berdiri dan ketakutan mendera. ”Kamu takut, Romo?” katanya dengan lembut di telinga saya. ”Aku akan mengincarmu terus sampai kapanpun”. Tiba- tiba bangkitlah keberanian saya. Saya berteriak kepada para mahasiswa: ”Kita mendapat kehormatan, sampai Lucifer sendiri, si penghulu Setan, datang!” Para mahasiswa terbawa emosi, mereka berdoa makin keras. Ada pula yang berteriak, ”Hancurkan saja… Sikat dia, Romo!”. Setan itu berkata, ”Paus Yohanes Paulus II memarahiku”. Kujawab, ”Tak hanya Paus Yohanes Paulus II, semua paus dan uskup, dan imam memarahimu, bahkan Tuhanmu Yesus dan Malaikat Agung Mikael atasan langsungmu! Taatlah kepadaNya!” ”Sayalah tuhan”, jawabnya sinis. Saya membanting dia, dan kami berpegangan tangan sambil saling melawan. Saya mulai berkeringat dan tenaga saya terkuras, tetapi tetap saja saya melawannya. Saya mengatakan, ”Kamulah yang ketakutan, melihat kami semua dan Tuhanmu! Lepaskan badan anak ini, karena dia sudah menerima Sakramen Ekaristi! ” Lucifer menjawab: ”Aih, itu hanya roti biasa! Dan kalian imam-imam semua bodoh!” Mendengar perkataannya, saya marah sekali. ”Kamu sudah melawan kuasa imamat rajawi Tuhan Yesus Kristus! Kamu mau melawan imamatNya?” Lalu ia menjawab dengan nada meremehkan, ”Aku tak takut, Romo, pada imamatmu!”

Ke kapel Lembah Karmel kami membawanya

Ketika Lucifer menantang imamat saya, saya marah. Saya minta tas saya kepada para mahasiswa. Saya melepaskan dia dulu untuk mengambil peralatan aspergil dan stola serta minyak suci, sementara dia ditahan oleh para mahasiswa yang ”menimbunnya”: dengan doa-doa Salam Maria, Bapa Kami, Aku Percaya, serta menindihnya dengan tubuh-tubuh kuat mereka. Ketika saya datang lagi, saya percikkan dia dengan air suci. Ia menjerit kepanasan, dan lari. Saat itu, saya berpikir, ini sudah dini hari, semua akan kacau jika tak diakhiri. Oleh karena itu, saya memerintahkan agar tubuh mahasiswi ini digotong dan dievakuasi. Mereka menggotongnya masuk ke mobil saya, lalu saya tancap gas dengan tujuan ke Lembah Karmel. Saya menelpon Mbak Sari dan Suster Lisa P Karm. Mbak Sari dengan sigap telah meminta Satpam membuka gerbang dan pintu kapel.

Si mahasiswi dipegangi oleh Martha, Anton dan Asrul. Ia berteriak, ”Cepat Romo, cepat… dia mengejar…” katanya panik. Kami tetap berdoa Aku Percaya, Bapa Kami, dan Salam Maria. Tiba-tiba suara mahasiswi berubah lagi, ”Haaa. Mau dibawa ke mana anak ini, Bapa? Aku telah menambah lagi penyakitnya. Aku meremas jerohannya… Anak ini hanya sampai dini hari ini, Bapa. Bapalah yang harus tanggungjawab atas kematiannya!” Kemudian, anak itu muntah-muntah di mobil. Anton, Asrul dan Marta tetap berdoa dengan memeganginya yang berontak ke sana kemari. Saya mengatakan kepada Setan itu, ”Kamulah yang harus bertanggungjawab. Jangan memutarbalik fakta, dasar setan! Kamu telah melecehkan Sakramen Mahakudus. Kamu akan kubawa ke hadapan Yesus, supaya tahu rasa kamu nanti. Mau lepaskan dia sekarang, atau nanti kamu makin sengsara di hadapan Raja Semesta Alam!” Lalu dia mulai merayu lagi, ”Sia-sia semua ini Bapa… Bapa besok banyak acara kan? Ditunggu banyak umat.. sudahlah Bapa kembali saja istirahat”. Saya jawab: “Acara satu-satunya imam Tuhan ialah mengenyahkan kamu ke neraka!” Di situlah selama perjalanan ia menawari saya apapun akan diberikan asalkan saya tunduk pada keinginannya. Namun, saya tak mau berkompromi. Saya katakan dengan tegas bahwa dia yang harus tunduk pada Kristus! Mendengar ini ia berkata, ”Sayalah tuhan, I am the Lord”. Saya tertawakan dia. Lalu ia mengancam akan menggulingkan mobil. Saya menjawab, ”Ini mobil para uskup Indonesia. Tak bakalan kau berhasil menggulingkannya!” Saya mengingatkannya akan Santo Yohanes Maria Vianney yang dia bakar tempat tidurnya gara-gara tak mampu mengalahkan imam kudus itu. Di hatiku aku berharap, Santo Yohanes Maria Vianney, kumohon agar engkau mendoakan aku untuk mengalahkan Setan ini…

Lalu si Setan lalu merajuk lagi, ”Ah kenapa tenagaku melemah, tak sekuat tadi”. Anak-anak mahasiswa ikut menjawab, ”Rasain lu.” Dia mendamprat : ”Apa lo, bocah kemarin sore!” Saya menjawabnya, ”Mereka bukan bocah kemarin sore. Mereka anak-anak Tuhan semesta alam”. Sepanjang jalan kami berdebat dengan bahasa Inggris, Jawa, dan Indonesia. Mobil bagaikan terbang… dalam setengah jam kami mendekati Lembah Karmel, dan semakin mendekati Sakramen Mahakudus. Lagi- lagi, Setan itu mulai menendang dan berontak. Kukatakan padanya, ”No place for evil, you know!” Kutantang dia, ”Kenapa kau kuasai anak ini. Apa salahnya?” Dia menjawab, “Bukan salah anak ini, tetapi ayahnya”. Kujawab: “Ya, aku tahu, berarti ayahnya mengikat perjanjian kegelapan denganmu. Nanti acara kita di rumah Tuhan hanya satu, ialah memutus perjanjian leluhur anak ini dengan Lucifer keparat ini!” Kemudian dia mengikik mirip nenek Lampir dalam film Misteri Gunung Merapi, atau mirip kuntilanak. Dia katakan: “Bukan, bukan begitu imam bodoh. Kamu memang imam munafik dan pendosa!” Aku menjawab, “Aku memang pendosa, namun tidak memberontak kepada Tuhan seperti kamu!”. Dia menjawab lagi, “Ayahnyalah yang mempersembahkan diri kepadaku, Bodooh!” Kupancing dia, “Jadi, ayahnya mengikat perjanjian denganmu bukan?” Dia jawab: “Bukan, bodoh! Kamu keliru, imam bodoh. Ayahnya mempersembahkan diri kepada Kristus. Leluhurnyalah yang mempersembahkan diri kepadaku”. Dia tertawa ngekek lagi. Saya juga, mentertawakan kekeliruan saya. Jadinya kami terkekeh bersama. Namun dengan tegas kukatakan: “Kamu setan bodoh. Gampang dipancing ya hahaha… Maka acara kita satu-satunya di depan Sakramen Mahakudus nanti hanyalah memutuskan perjanjian itu dan kamu akan mengalami sengsara kekal. Go to hell! Kalau kamu ingin bahagia, ajaklah anak buahmu dan dirimu sendiri bertobat, kembali menyembah Allah yang benar! Jangan iri lagi karena Putra-Allah menjadi Manusia”… Mendengar perkataan ini, dia meradang, ”I hate you.. I hate all priests of Christ…!!!” Namun, setelah mendengar betapa ia membenci para imam, saya merasa mendapatkan kekuatan dan keharuan. Sebab itu artinya kami berada di pihak yang benar, sehingga kerenanya, Setan membenci kami. Saya membayangkan jajaran imam Tuhan dan uskup yang berada di pihak saya. Sungguh itu menguatkan batin saya.

Setan kalah di hadapan Kristus dalam Sakramen Mahakudus

Sementara itu pohon-pohon bambu Lembah Karmel sudah mulai tampak… Si Setan berteriak lagi, ”Rumah jelek! Mosok Tuhan mau tinggal di rumah jelek! Akulah tuhan.” Aku menjawabnya, ”Itulah bedanya Kristus dengamu, Jelek! Dia mau merendahkan diri, sedangkan kamu malah menyombongkan diri! Rasakan akibatnya, kebencian abadi bersamamu sajalah!’ Lalu kudengar ia merajuk lagi, ”Romo, ini saya, saya sudah sadar… saya mau pulang ke Bekasi, ke Jatibening, ini mau dibawa ke mana?” Tak terpengaruh atas rajukannya, saya menjawab, ”Sadar gundulmu kuwi! Kami mau membawamu ke hadapan Sakramen Mahakudus, Raja Semesta Alam yang penuh kuasa. Hanya kepadaNya semua lidah mengaku dan segala lutut bertelut, termasuk kamu!”
Pak Satpam membuka gerbang. Ia mengawal kami sampai ke samping kapel kecil (yang sebenarnya besar sekali). Mobil berhenti di jalan menanjak di samping kapel, di depan wisma St. Antonius. Tubuh mahasiswi itu kami bopong keluar mobil. Aneh sekali, badan yang kecil itu mempunyai bobotnya berlipat-lipat. Dia tertawa ngikik. Mengerikan sekali. Melihat pak Satpam yang tinggi besar, dia berkata seolah suara mahasiswi itu : ”Wah, ini dia bapakku”. Tapi segera dia mendesis-desis dan mengikik ketika kami bopong ke kapel, ” Kalian tak kan berhasil… tak kan berhasil kikikiiiiikkk….” Tubuh kecil namun berbobot itu kami baringkan di depan panti imam, di bawah altar, di lantai sebelum trap pertama. Jika dilihat dari ruang umat, kepalanya kami letakkan di sebelah kiri. Anton, Asrul dan Martha memegangi tangan dan kakinya. Saya minta dipinjamkan korek api dari pak Satpam untuk menyalakan lilin di kanan kiri tabernakel. Pak Satpam menyalakan lampu di patung Bunda Maria. Suasana temaram, dan dingin dini hari menggigit. Pukul 03.45. Saya berlutut di hadapan tabernakel. Saya memohon kekuatan dari Tuhan sendiri. Lalu saya turun, berlutut lagi di trap di sisi kiri si mahasiswi. Saya mengajak anak-anak mahasiswa itu berdoa. Saya berdoa: ”Tuhan Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, dengan rendah hati kami bawa ke hadapanmu tubuh anakMu yang sedang dirasuki si Jahat. Kami tidak sanggup mengusirnya dengan kekuatan kami sendiri. Bertindaklah Tuhan atas dia, utuslah malaikat agungMu dan balatentara sorgawi membebaskan dia. Amin”. Lalu saya menghadapi tubuh mahasiswi itu dari trap, membelakangi altar dan Sakramen Mahakudus. Dengan duduk karena lelah, saya angkat tangan kanan saya di atasnya dan membuat gerakan tanda salib berkat dengan berkata (saya heran mengapa saya bisa mengatakan ini): ”Atas kuasa imamat rajawi yang diberikan Tuhan Yesus Kristus kepada GerejaNya dan kepadaku, aku melepaskan ikatan perjanjian kegelapan antara kamu dengan leluhur anak ini. Dalam Nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus, Amin.”

Tubuh anak yang berbaring itu tiba-tiba terjungkit, duduk, melengos ke depan, menatap tajam ke Asrul yang memegangi kakinya, lalu menoleh menatap tajam ke kiri menatap langsung ke mata saya….. Sedetik kemudian terkulailah tubuh si mahasiswi ini… Si jahat sudah keluar dari tubuhnya. Si mahasiswi ini lalu merintih : ”Romo, itu Tuhan Yesus… ooo Tuhan”, tangan kiri dan tangannya nya menggapai ke arah altar. Tapi kami bawa keluar dengan dituntun. Tapi ia melihat ke atas, ”Ooo… malaikat banyak sekali… oooh.. Romo, lihat?.. Ooo… Dia yang terjelek, hitam, telah diborgol… dimasukkan ke dalam kereta… Ooo Malaikat Agung Santo Mikael… ooh.. Sampai di pintu utama, anak itu minta kembali ke dalam, ”Romo, teman-teman, saya harus kembali… Itu Tuhan…” Dia kutuntun, dan dengan tangannya ia menggapai ke arah Tabernakel…” Sampai di panti imam, di samping kanan altar ia mencium patung kaki Kristus… Lalu menuju tabernakel, ia memeluk tabernakel itu erat-erat. ”Tuhan Yesus terima kasih.. Syukur kepadamu.. ” lalu ia menangis di situ beberapa saat. Setelah selesai, ia ke altar Bunda Maria, ia memeluk kaki patung Bunda Maria dan menangis: “Bunda, terima kasih atas doamu. Aku tak akan meninggalkan engkau dan putramu”…

Iman lebih kuat daripada segala yang jahat

Pak Satpam menyerahkan kunci wisma Antonius. Anak itu mulai mengeluh lapar dan haus. Pak Satpam menggendongnya. Kini ia tidak berat lagi. Dia membersihkan diri di wisma, sementara teman-teman yang lain membelikan makanan dan minuman di warung yang memang agak jauh, karena dapur rumah retret belum buka. Hari masih pukul 04.30 pagi. Setelah makan minum, anak itu bercerita kepada kami tentang kejadian semalam. Bahwa setelah makan malam, ia masuk kamar di villa, dan melihat dua orang manusia bertanduk. Ia takut, lalu menceritakan hal ini kepada temannya. Kedua makhluk itu marah karena diceritakan keberaadaannya kepada orang lain. Mereka mengancam akan merasuki semua peserta Rekoleksi KMK KAJ itu. Si mahasiswi menawar, karena ketakutan serta kasihan kalau semua peserta kesurupan, maka spontan dia mempersilakan mahluk itu merasuki dirinya saja. Ketika di depan altar itulah, sebenarnya dia hampir saja mengikuti kehendak Lucifer untuk mengikutinya. Pasalnya, Lucifer mengancam, jika ia tidak mau ikut, maka imam itulah yang akan dibunuhnya. Karena kasihan pada Romo, ia akan ikut saja. Tetapi melesat ada malaikat yang membisikinya, ”Romo itu baik-baik saja, maka lawanlah Lucifer, sementara kami akan menariknya keluar dari tubuhmu.” Maka ia berani melawan, dan Lucifer ditarik oleh balatentara malaikat, diborgol lalu dimasukkan ke dalam kereta yang melesat membuangnya ke neraka. Setelah itu tinggal Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang memeluk dan mendukungnya. Begitulah kesaksiannya. Namun bagi saya, ini juga adalah suatu kejadian iman melawan kuasa jahat di awal masa Adven 2010, tepat di Minggu pertama.

Sampai Minggu sore tak habis-habisnya saya, Asrul, Anton, Martha membicarakan hal ini. Juga teman-teman peserta rekoleksi KMK-KAJ Dekenat Timur dan OMK Wilayah Mikael Malaikat Agung dan St. Andreas. Semua membuahkan satu kenyataan: bahwa iman lebih kuat daripada kebencian, apalagi setan. Saya sendiri merasa dikuatkan dalam iman dan imamat saya, dan disadarkan akan kelemahan diri serta pertobatan. Saya makin yakin dan percaya bahwa alam maut tak akan menguasai Gereja sampai kapanpun sesuai dengan janji Tuhan. ”Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18). Sungguh, kuasa Allah mengatasi segalanya. Berbahagialah semua orang yang percaya yang bersandar kepada-Nya dan mengandalkan Dia.

”Tuhan Yesus, hamba-Mu bersyukur atas pengalaman yang tak terlupakan ini. Aku semakin teguh mengimani kehadiran-Mu di dalam sakramen- sakramen-Mu. Syukur tak terkira untuk kuasa-Mu di dalam Sakramen Maha Kudus dan Imamat yang Engkau karuniakan kepadaku. Segala hormat, pujian dan syukur, kusampaikan kepada-Mu, Ya Tuhan Raja semesta alam. Amin.”

Terima kasih kepada semua yang telah membaca kisah sharing ini. Semoga kesaksian ini berguna bagi iman, harapan, dan kasih para pembaca, kepada Allah pencipta langit dan bumi.

Salam saya,
Yohanes Dwi Harsanto Pr.

dikutip dari http://katolisitas.org/2010/12/01/eksorsisme-pengalaman-yang-tak-terlupakan/

Minggu Biasa XXXIII_Tahun C_2010

Bacaan

Mal. 4:1-2; 2 2Tes. 3:7-12; Luk. 21:5-19


Pengantar

Saudara dan saudariku
Hari ini adalah hari minggu ke 33 dalam tahun liturgi. Minggu depan kita adalah akhir dari tahun liturgy yang ditandaikan dengan perayaan Kristus Raya semesta Alam. Mendekati akhir tahun litugi ini, gereja mengajak kita untuk berefleksi ataus suatu peristiwa yang pasti akan terjadi, tetapi mengenai waktu dan saatnya hanya Allah saja yang tahu; yaitu tentang akhir dunia. Tujuan dari refleksi atas peristiwa akhir zaman ini bukannya membuat kita takut, tetapi hendaknya membuat kita memilih apa yang tepat dalam hidup ini. Artinya suatu cara hidup yang akan membuat kita mampu menghadapi saat itu dengan penuh iman dan harapan, karena kita tahu bahwa yang akan menghakimi kita adalah Yesus yang kita puji dan sembah dalam perayaan ekaristi ini. Oleh karena itu, dalam perayaan ekaristi ini, marilah kita mohon rahmat untuk senantiasa bisa hidup dalam hadirat Allah. Artinya terus-menerus menyadari kehadiran Allah dalam segala aktivitas yang kita lakukan sehingga membawa kita semakin berkembang dalam hidup rohani. Semoga Tuhan menemukan kita dalam keadaan senantiasa berjaga, ketika ia datang mengambil kita untuk hidup bersamanya di surga.

Homili

Saudara dan saudariku
Bacaan-bacaan hari ini bicara tentang hari kiamat. Beberapa gereja protestan senang sekali dengan tema ini. Dulu pernah ada seminar di gereja tetangga kita tentang ”Kiamat 2012”.

Ada seroang nenek yang dulunya adalah seorang protestan tetapi kemudian menjadi katolik, memberikan wejangan kepada anak-anaknya sebelum ia meninggal dunia: “Sudah sejak saya masih kecil, saya mendengar akhir jaman dikhotbahkan dan ‘diramalkan’. Katanya sudah hampir datang, tetapi ternyata belum juga datang ya! Jadi lebih baik kita serahkan pada Tuhan, sedangkan bagian kita adalah rajin-rajin berdoa dan berbuat baik saja…”

Saya rasa pesan ini sangat bijaksana, sebab jika kita melihat, memang apa yang dikatakan oleh nenek saya itu ada benarnya. Lihat saja, sepanjang sejarah dunia banyak orang telah meneliti ayat-ayat Alkitab untuk menghitung tahun untuk ‘meramalkan’ akhir jaman, lalu muncullah perkiraan, mulai dari tahun 200, 380, 838, 1000, 1260, 1533, 1844, 1914, 1988… hanyalah sekedar contohnya, tetapi tak ada satupun yang benar. Memang akhir zaman adalah suatu misteri. Kita tak akan mungkin dapat mengetahuinya secara tepat, dan pasti tidak mungkin kita ketahui sampai pada saatnya. Namun, ada banyak hal yang dapat kita ketahui tentang kedatangan Yesus yang kedua ini, dan jangan sampai kita tidak mau tahu tentang hal ini.

Berkaitan dengan akhir zaman itu, Yesus dalam bacaan Injil hari ini berkata: ”Kalau kamu bertekun, kamu akan menyelamatkan hidupmu.”

Seringkali dalam hidup ini, kita menyampaikan maksud kita dengan mengungkapkan apa yang sebaliknya, atau dalam kalimat negasi. Saya kasih satu contoh kalimat negasi tersebut.

Seorang ibu berkata kepada anaknya: “Manda….kalau kamu belajar keras sepanjang tahun ini dan tahun depan lulus dengan nilai yang baik, maka mama akan membelikan kamu sepeda baru.”. Dengan kata lain, jika anak itu tidak belajar dengan baik dan tidak lulus dengan hasil yang memuaskan maka ia pasti tidak akan mendapat sepeda sebagai hadiah kelulusannya.

Saudara dan saudariku
Orang nampaknya lebih menangkap maksud dan isi suatu pesanan kalau itu dikatakan dalam suatu kalimat negasi atau kebalikannya. Berkaitan dengan itu, dalam Injil hari ini - sekali lagi - Yesus berkata: “Kalau kamu bertekun, kamu akan menyelamatkan hidupmu.” Di sini kita bisa menangkap maksud Yesus bahwa ‘jika kita tidak bertekun maka kita kehilangan hidup.

Saya ingin mengajak kita untuk memperhatikan perkataan Yesus tadi: “Kalau kamu bertekun, kamu akan menyelamatkan hidupmu.” Kalimat ini menggarisbawahi dua hal penting. Pertama, soal bertekun. Kedua, soal keselamatan jiwa. Hal yang pertama itu penting supaya yang kedua bisa terpenuhi.

Saudara dan saudariku
Apa saja yang perlu kita tekuni di dalam hidup ini agar bisa memperoleh keselamatan? Bacaan-bacaan hari ini menjawabi pertanyaan itu dan sama-sama memberikan penegasan soal pentingnya bertekun. Dalam bacaan I kita mendengar soal pentingnya tertekun di dalam kebenaran. Dalam bacaan II, kita mendengar soal pentingnya bertekun dalam meneladani orang-orang kudus. Dalam bacaan Injil menegaskan pentingnya bertekun dalam iman. Untuk merangkum semuanya itu, saya bisa mengatakan dalam satu kalimat: “Kita harus bertekun untuk hidup secara benar di dalam iman melalui teladan para kudus.

Saudara dan saudariku
Saya mau mengajak kita untuk melihat khusus bacaan II hari ini. Dalam bacaan II tadi
kita mendengar, rasul Paulus mengecam umat yang salah meniiru teladan orang-orang kudus. Nampaknya umat di Tesalonika percaya bahwa tidak lama lagi, akan datang hari kiamat sehingga mereka tidak mau lagi bekerja, tidak melakukan apa-apa lagi. Mereka hanya menunggu. Kepada mereka, Paulus berkata: “siapa yang tidak bekerja, janganlah ia makan.”

Bagi Paulus, hidup dalam kemalasan membuat hidup ini terasa membosankan. Orang yang tidak bekerja gampang terlibat dalam obrolan-obrolan yang tidak berguna, misalnya suka gossip, fitnah, dan menyebabkan perpecahan di dalam jemaat.

• Ams 26:14 = seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya.
• Ams 21:25 = si pemalas dibunuh oleh keinginannya karena tangannya enggan bekerja.
Dengan tidak bekerja, mereka mengabaikan kemuliaan Allah yang nampak dalam pekerjaan manusia.


Kepada orang-orang yang malas, Rasul Paulus memberikan peringatan dan nasihat dalam nama Yesus supaya tetap tenang melakukan pekerjaannya. Setiap orang harus hidup dari usahanya sendiri dan bukan dari pendapatan dan kekayaan orang lain.

Saudara dan saudariku
Apa yang harus kita lakukan jika akhir dunia itu datang esok hari? Mungkin ada baiknya kita mengingat kisah kuno yang sering dikaitkan dengan St. Fransiskus Assisi, walaupun mungkin ini hanya sekedar legenda. Ada orang yang bertanya kepadanya demikian, “Apa yang akan kamu lakukan kalau besok kiamat?” Pada waktu ia sedang mencabut alang-alang di kebunnya. Lalu ia menjawab dengan cepat, “Aku akan menyelesaikan mencabut alang-alang ini dari kebunku.” Ini adalah jawaban seseorang yang yakin bahwa ia telah berusaha melayani Tuhan, sehingga tidak takut menghadapi akhir dunia. Jika Tuhan Yesus datang kembali, ia hanya berharap akan mendengar Yesus berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” (Mat 25:21). Tentu, karena hidup St. Fransiskus yang selalu melaksanakan perbuatan yang ditugaskan kepadanya dengan setia, dengan mata hati terarah kepada Tuhan.

Saudara dan saudariku
Jawaban Fransiskus tadi: “Aku akan menyelesaikan mencabut alang-alang ini dari kebunku.” Apakah kita dapat mengatakan demikian, jika pertanyaan itu ditujukan pada kita. St. Fransiskus tidak mengatakan: ”Saya akan cepat-cepat ke kapel dan menghabiskan waktu yang tersisa ini dengan berdoa” Yang menjadi pertanyaannya adalah: Apakah kita sudah melakukan pekerjaan kita dengan setia sesuai dengan panggilan hidup kita? Apakah kita sudah berusaha melakukan kehendak Tuhan? Belajar dari St. Fransiskus, maka mari kita melakukan hal yang serupa, yaitu mencabut alang-alang dalam kebun hati kita, yaitu mencabut ajaran-ajaran yang keliru tentang akhir jaman, dan mengisinya dengan biji kebajikan, iman, pengharapan dan kasih. Semoga dengan demikian, kita dapat melihat akhir jaman dalam perspektif iman, sebab kita percaya, bahwa akhir jaman akan membawa kita, orang-orang yang percaya, kepada kepenuhan janji Kristus, yaitu keselamatan kekal dan persatuan dengan Allah yang tak terbatas. Maranatha, datanglah, ya Tuhan Yesus!