Yesus mendirikan Gereja-Nya diatas Petrus berjanji (dalam Mat 16:18) bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja. Kitab Suci (dalam 1 Timotius 3:15) berkata bahwa Gereja adalah pilar dan dasar kebenaran. Roh Kebenaran akan membimbing Gereja dalam semua kebenaran (Yoh 16:13).Gereja diperintahkan untuk menjadikan semua bangsa muridnya, dan mengajar mereka sampai ujung bumi dan akhir jaman (Mat 28:19-20 dan Kis 1 : 8). Awalnya, perjanjian Allah adalah dengan individu-individu, kemudian pada keluarga, lalu suku, dan banyak suku, kemudian kepada bangsa, lalu pada semua bangsa atau κατα ολοι ["untuk semua" dalam bahasa Yunani Koine adalah "kata holoi" darinya nama katolik berasal] (Kis 1:8 & Mat 28:19) Oleh karena itu, καθολικος (KATOLIK).
Sejarawan Gereja Awal J.N.D. Kelly, seorang Protestan, menulis :”Kata ‘katolik’, makna aslinya adalah ‘universal’ atau ‘umum’…dalam pertengahan abad kedua, kita menemukan bahwa kata katolik membawa tanda bahwa Katolik adalh Gereja yang benar yang terpisah dari kongregasi heretik (sesat) (bdk, contohnya Muratorian Canon) … Apa yang Bapa Gereja bayangkan hampir bersifat empiris, masyarakat yang kelihatan; mereka memiliki sedikit atau tidak ada prasangka dalam distingsi yang kemudian menjadi penting antara Gereja yang kelihatan dan tidak kelihatan” (Early Christian Doctrines, 190–1).
Berikut ini adalah kutipan Bapa Gereja yang menunjukkan bahwa Gereja mula-mula adalah Gereja Katolik dan bukan gereja yang lain (Ortodox memisahkan diri dari Gereja Katolik tahun 1054, baca entri Catholic Encyclopedia Skisma Timur. Sedangkan Protestan sendiri baru muncul sekitar abad ke 16. Baca Sejarah Terjadinya Protestanisme).
Ignatius of Antioch
“Dimana ada para uskup, disitu juga ada umat, sama seperti dimanapun Yesus Kristus berada, disana ada Gereja Katolik” (Letter to the Smyrneans 8:2 [A.D. 110]).
The Martyrdom of Polycarp
“Dan dari yang terpilih, ia memang seorang martir Polycarp yang menakjubkan, yang pada masa kami adalah guru apostolik dan profetik, uskup Gereja Katolik di Smyrna. Karena setiap kat yang keluar dari mulutnya dipenuhi dan akan terpenuhi” ” (Martyrdom of Polycarp 16:2 [A.D. 155]).
The Muratorian Canon
“Selain Surat-Surat Paulus” ada satu surat kepada Filemon, dan kepada Titus, dan dua kepada Timotius, dalam kasih dan cinta, tapi dianggap sebagai kudus dalam Gerja Katolik, dalam penyusunan disiplin gerejawi. Juga ada surat kepada Laodiceans dan kepada Alexandrians, yang dipalsukan atas nama Paulus, dalam hubungannya dengan kesesatan Marcion, dan juga ada beberapa yang lain yang tidak diterima oleh Gereja, karena tidaklah pantas bahwa empedu dicampur dengan madu. Surat Jude, dan dua surat yang berasal dari Yohanes diterima oleh Gereja Katolik (Muratorian fragment [A.D. 177]).
Tertullian
Dimanakah heretik Marcian, shipmaster Pontus, murid Stoicisme yang tekun? Dimana Valentinus, murid Platonisme? Karena jelas bahwa orang-orang ini hidup tidak lama – dalam masa pemerintahan Antonius untuk sebagian besar – dan bahwa mereka pertamanya adalah umat beriman dalam ajaran Gereja Katolik, dalam Gereja Roma dibawah episkopat Eleutherius yang terberkati, sampai catatan tentang mereka yang aneh, yang dengannya mereka menginfeksi saudara-saudara, mereka lebih dari sekali dikeluarkan” (Demurrer Against the Heretics 30 [A.D. 200]).
Empat Tanda Gereja Sejati
Jika kita ingin menemukan Gereja yang didirikan Yesus, kita perlu menemukan bahwa Gereja yang memiliki empat tanda atau kualitas utama Gereja-Nya. Gereja yang kita cari haruslah satu, kudus, katolik dan apostolik.
Gereja itu Satu (Rom 12: 5, 1 Kor 10: 17, 12: 13, KGK 813-822)
Yesus hanya mendirikan satu Gereja, bukan sekumpulan gereja-gereja yang berbeda (Lutheran, Baptist, Anglican, dst). Kitab Suci berkata Gereja adalah mempelai Kristus (Ef 5: 23-32). Yesus hanya bisa memiliki satu mempelai, dan mempelainya adalah Gereja Katolik.
Gereja-Nya juga mengajarkan sekumpulan ajaran, yang pasti sama seperti yang diajarkan para rasul (Yudas 3). Inilah kesatuan kepercayaan yang kepadanya kitab suci memanggil kita (Phil 1: 27, 2:2)
Meskipun beberapa katolik tidak taat terhadap ajaran yang diajarkan secara resmi, guru-guru Gereja yang resmi – paus dan para uskup yang bersatu dengannya – tidak pernah mengubah ajaran apapun. Selama berabad-abad, ajaran-ajaran diperiksa sepenuhnya, Gereja memahaminya dengan lebih mendalam (Yoh 16 : 12-13), tapi tidak pernah dipahami untuk melawan apa yang sekali mereka pahami.
Gereja itu Kudus (Ef 2: 25-27, Wahyu 19 :7-8, KGK 823-829)
Melalui rahmat-Nya Yesus membuat Gereja kudus, karena Ia adalah kudus. Ini tidak berarti bahwa tiap anggotanya selalu kudus. Yesus berkata bahwa aka nada anggota yang baik dan buruk dalam Gereja (Yoh 6:70), dan tidak semuanya akan masuk surga (Mat 7: 21-23)
Tapi Gereja sendiri kudus karena Gereja adalah sumber kekudusan dan penjaga sarana rahmat special yang Yesus dirikan, yaitu sakramen-sakramen (bdk Ef 5 :26)
Gereja itu Katolik (Mat 28: 19-20, Wahyu 5:9-10, KGK 830-856)
Gereja Yesus disebut katolik (“universal dalam bahasa Yunani”) karena Gereja adalah hadiah bagi semua orang. Ia memberitahi para rasul untuk pergi ke seluruh duni dan menjadikan semua bangsa muridnya (Mat 28: 19-20)
Selama 2000 tahun Gereja Katolik telah membawa keluar misi ini, mengkhotbahkan kabar baik bahwa Kristis wafat demi semua manusia dan Ia ingin semuanya menjadi anggota keluarga universalnya (Gal 3: 28)
Sekarang Gereja Katolik ditemukan di setiap negara di dunia dan masih mengirim misionaris untuk “menjadikan semua bangsa muridnya” (Matt. 28:19).
Gereja yang Yesus dirikan dikenal melalui gelar yang paling umum,”Gereja Katolik”, paling tidak seawal tahun 107, ketika Ignatius dari Antiokita menggunakan gelar itu untuk menggambarkan Gereja yang Yesus dirikan. Gelar ini dengan jelas berusia tua dalam masa Ignatius, yang artinya mungkin sekali kembali kepada masa para rasul.
Gereja itu Apostolik (Ef 2:19-20, KGK 857-865)
Gereja yang didirikan Yesus itu apostolik karena Ia menunjuk para rasul menjadi pemimpin pertama Gereja, dan penerus mereka menjadi pemimpin masa depannya. Para rasul adalah uskup pertama, dan sejak abad pertama, sudah ada garis yang tak terputuskan dari para uskup katolik yang dengan setia meneruskan apa yang para rasul ajarkan kepada umat Kristen pertama dalam Kitab Suci dan Tradisi Lisan (2 Tim 2:2).
Kepercayaan-kepercayaan ini termasuk Kebangkitan Tubuh Yesus, Kehadiran Nyata Yesus dalam Ekaristi, hakekat kurban Misa, pengampunan dosa melalui imam, regenerasi baptisan, keberadaan purgatory, peran khusus Maria, dan banyak lagi – dan bahkan ajaran suksesi apostolik.
Tulisan umat Kristen perdana membuktikan bahwa umat Kristen seluruhnya adalah katolik baik dalam kepercayaan dan praktek dan melihat penerus para rasul sebagai pemimpin mereka. Apa yang umat Kristen perdana percaya masih dipercaya oleh Gereja Katolik. Tidak ada Gereja lain yang bisa membuat klaim itu.
Jadi, alasan kita memilih Gereja Katolik adalah bahwa karena Yesus sendiri, yang adalah Allah, mendirikan Gereja Katolik – Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik – dan berjanji bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja-Nya. Dan Ia juga berjanji menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman.
Sumber: https://luxveritatis7.wordpress.com/2011/08/11/pd-mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/
Correctio Fraternal bukan bergossip
Renungan Minggu Biasa ke XXIII Tahun A
Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Bacaan :
Yeh 33:7-9
Roma 13:8-10
Matius 18:15-20
Renungan:
Dalam bacaan pertama tadi, kita mendengar Allah bersabda kepada nabi Yehezkiel: “Hai anak manusia, Aku mengangkat engkau menjadi penjaga kaum Israel” sedangkan dalam bacaan Injil tadi Yesus berbicara tentang apa yang harus kita buat jika melihat sesama kita melakukan kesalahan atau dosa.
Peranan sebagai ‘penjaga’ dan tugas untuk ‘correctio fraternal’ adalah hal yang tidak mudah. Tetapi ini adalah suatu tugas yang harus kita jalankan.
Ada seorang wanita – irma meninggalkan gereja ketika masih remaja. Selama 9 tahun dia tidak pernah ke gereja. Tapi syukur bahwa kasih Tuhan akhirnya mengantar dia kembali ke gereja. Suatu ketika Irma ini berceritra seperti ini: hal yang paling menyakitkan selama 9 tahun pengembaraannya adalah bahwa ketika ia tidak muncul lagi di gereja, atau jarang aktif lagi dalam lingkungan, tidak ada orang yang pernah berkontak dengan dia, bertanya “gimana kabarmu? Kok nda muncul-muncul lagi?”. Tidak ada orang yang bertelepon atau mengunjungi saya untuk menanyakan apakah saya ada masalah atau tidak? Seakan-akan semua orang tidak pernah merindukan kehadirannya. Saya mendapat kesan bahwa orang-orang gereja tidak membutuhkan saya.”
Saudara dan saudariku….. banyak umat paroki kita yang tidak aktif di lingkungan atau di paroki. Ada banyak alasan tentunya. Pertama, bisa jadi karena gereja terlalu jauh…ongkos ke gereja lebih mahal dari biaya hidup sehari. Kedua, bisa juga mereka pernah merasa sakit hati dengan orang-orang tertentu di di dalam suatu kelompok, sehingga mereka tidak mau muncul lagi. Terhadap situasi ini, apa yang harus kita buat? Apakah kita membela diri dengan mengatakan “Itukan bukan urusan saya?”
Mungkin ada yang bertanya, mengapa menjadi urusan saya? Kan itu urusan dia sendiri apakah dia mau aktif atau tidak. Ingat dalam bacaan pertama tadi, Allah berfirman: “Jika engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya....maka Aku akan menuntut pertanggung-jawaban dari padamu.”
Salah satu panggilan kita sebagai umat Kristen adalah sebagai nabi. Sebagai nabi kita dipanggil untuk menjadi “corong” Allah mengingatkan orang yang bersalah atau orang yang jarang aktif supaya mereka kembali.
Untuk merasakan daya atau kekuatan firman Allah dalam bacaan pertama tadi, saya mau membaca sekali lagi teks tadi tapi mau mengantikan dengan nama seseorang.
Tuhan bersabda demikian, “Hai Tony, Aku telah mengangkat engkau menjadi penjaga umat paroki St. Odilia – Citra Raya. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku …..dst
Kita bisa terapkan firman untuk diri kita masing-masing sesuai tugas dan fungsi kita di dalam gereja. Misalnya sebagai ketua lingkungan, Hai ibu Davi, Aku telah mengangkat engkau menjadi penjaga umat lingkungan St. Antonius – Paroki St Odilia …..
Jadi, saudara dan saudariku… kita tidak bisa mengatakan “itu bukan urusan saya, kalau dia mau aktif atau nggak!”
Pesan ini menjadi jelas dan sangat praktis dalam bacaan Injil hari ini: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawa empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali”
Kita harus agak hati-hati jika menegur sesama kita. Motivasi kita dalam ‘menegur atau memperingati’ mereka bukan untuk mempersalahkan dia tetapi untuk mendapat kembali mereka.
Bacaan Injil hari ini juga memberikan 3 tahap bagaimana menegur sesama: (1) Tegurlah dia secara pribadi. (2). Cobalah sekali lagi dengan mengajak orang-orang yang bisa dipercayai. (3). Bawalah masalah ini kepada jemaat.
Beberapa catatan untuk diperhatikan dalam ‘menegur”: Jika anda tidak mencintai orang itu, janganlah menegur dia, biarlah orang lain yang melakukannya. Sebab jangan sampai anda terbawa emosi.
Jangan suka membicarakan kesalahan atau dosa orang lain tanpa kehadiran orang itu. Itu namanya gossip. Gossip itu sesuatu yang sangat menyakitkan. Bukan baru zaman ini tetapi bahkan sejak abad ke 6 Bc, pemazmur telah memohon kepada Allah untuk melindungi dia dari orang-orang yang suka gossip:
Mzm 57 “Kiranya Ia mengirim utusan dari surga dan menyelamatkan aku dari orang yang suka menerkam anak-anak manusia yang giginya laksana tombak dan panah dan lidahnya laksana pedang tajam”
Mzm 64: “sembunyikanlah aku terhadap persepakatan orang jahat. Yang menajamkan lidahnya seperti pedang, yang membidikan kata yang pahit seperti panah”
Mzm 140: Luputkanlah aku, ya Tuhan dari manusia jahat, mereka yang menajamkan lidahnya seperti ular, bisa ular sendok ada di bawah bibirnya”
Tetapi zaman ini lebih parah lagi. Gossip malah masuk dalam tabloid atau acara-acara TV. Zaman ini orang merasa tidak salah kalau membicarakan kesalahan atau masalah orang lain. Bahkan di dalam gereja sendiri. Ada yang merasa bahwa mereka ‘telah diurapi’ untuk meng-ekspose kesalahan-kesalahan orang lain. Mereka merasa seakan memainkan peranan sebagai ‘nabi’
Saudara dan saudariku
Ketika Allah memilih Yehezkiel sebagai ‘penjaga’ atas umat Israel, Allah tidak memberikan dia ijin untuk menyebarkan gossip.
Kenyataannya..... gosip telah menghancurkan hidup banyak orang, menghancurkan perkawinan, membuat anggota-anggota tubuh Kristus saling memusuhi dan menimbulkan perselisihan dan perpecahan di dalam gereja.
Rasul Yakobus membandingkan lidah manusia dengan api yang bila dibiarkan tidak terkontrol akan dinyalakan dan dikobarkan oleh iblis. Rasul Yakobus berkata, "Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar" (Yak 3:5-6). Lidah yang diserahkan kepada gosip adalah seperti api liar yang menjalar ke dalam hutan membawa pengrusakan. Gosip adalah akar dari perselisihan. Ketika kita menghentikan gosip, kekacauan dan perselisihan akan berhenti juga. Sebagai pendengar firman Allah, langkah berikut yang mesti kita ambil adalah melaksanakannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Amen.
Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Bacaan :
Yeh 33:7-9
Roma 13:8-10
Matius 18:15-20
Renungan:
Dalam bacaan pertama tadi, kita mendengar Allah bersabda kepada nabi Yehezkiel: “Hai anak manusia, Aku mengangkat engkau menjadi penjaga kaum Israel” sedangkan dalam bacaan Injil tadi Yesus berbicara tentang apa yang harus kita buat jika melihat sesama kita melakukan kesalahan atau dosa.
Peranan sebagai ‘penjaga’ dan tugas untuk ‘correctio fraternal’ adalah hal yang tidak mudah. Tetapi ini adalah suatu tugas yang harus kita jalankan.
Ada seorang wanita – irma meninggalkan gereja ketika masih remaja. Selama 9 tahun dia tidak pernah ke gereja. Tapi syukur bahwa kasih Tuhan akhirnya mengantar dia kembali ke gereja. Suatu ketika Irma ini berceritra seperti ini: hal yang paling menyakitkan selama 9 tahun pengembaraannya adalah bahwa ketika ia tidak muncul lagi di gereja, atau jarang aktif lagi dalam lingkungan, tidak ada orang yang pernah berkontak dengan dia, bertanya “gimana kabarmu? Kok nda muncul-muncul lagi?”. Tidak ada orang yang bertelepon atau mengunjungi saya untuk menanyakan apakah saya ada masalah atau tidak? Seakan-akan semua orang tidak pernah merindukan kehadirannya. Saya mendapat kesan bahwa orang-orang gereja tidak membutuhkan saya.”
Saudara dan saudariku….. banyak umat paroki kita yang tidak aktif di lingkungan atau di paroki. Ada banyak alasan tentunya. Pertama, bisa jadi karena gereja terlalu jauh…ongkos ke gereja lebih mahal dari biaya hidup sehari. Kedua, bisa juga mereka pernah merasa sakit hati dengan orang-orang tertentu di di dalam suatu kelompok, sehingga mereka tidak mau muncul lagi. Terhadap situasi ini, apa yang harus kita buat? Apakah kita membela diri dengan mengatakan “Itukan bukan urusan saya?”
Mungkin ada yang bertanya, mengapa menjadi urusan saya? Kan itu urusan dia sendiri apakah dia mau aktif atau tidak. Ingat dalam bacaan pertama tadi, Allah berfirman: “Jika engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya....maka Aku akan menuntut pertanggung-jawaban dari padamu.”
Salah satu panggilan kita sebagai umat Kristen adalah sebagai nabi. Sebagai nabi kita dipanggil untuk menjadi “corong” Allah mengingatkan orang yang bersalah atau orang yang jarang aktif supaya mereka kembali.
Untuk merasakan daya atau kekuatan firman Allah dalam bacaan pertama tadi, saya mau membaca sekali lagi teks tadi tapi mau mengantikan dengan nama seseorang.
Tuhan bersabda demikian, “Hai Tony, Aku telah mengangkat engkau menjadi penjaga umat paroki St. Odilia – Citra Raya. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku …..dst
Kita bisa terapkan firman untuk diri kita masing-masing sesuai tugas dan fungsi kita di dalam gereja. Misalnya sebagai ketua lingkungan, Hai ibu Davi, Aku telah mengangkat engkau menjadi penjaga umat lingkungan St. Antonius – Paroki St Odilia …..
Jadi, saudara dan saudariku… kita tidak bisa mengatakan “itu bukan urusan saya, kalau dia mau aktif atau nggak!”
Pesan ini menjadi jelas dan sangat praktis dalam bacaan Injil hari ini: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawa empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali”
Kita harus agak hati-hati jika menegur sesama kita. Motivasi kita dalam ‘menegur atau memperingati’ mereka bukan untuk mempersalahkan dia tetapi untuk mendapat kembali mereka.
Bacaan Injil hari ini juga memberikan 3 tahap bagaimana menegur sesama: (1) Tegurlah dia secara pribadi. (2). Cobalah sekali lagi dengan mengajak orang-orang yang bisa dipercayai. (3). Bawalah masalah ini kepada jemaat.
Beberapa catatan untuk diperhatikan dalam ‘menegur”: Jika anda tidak mencintai orang itu, janganlah menegur dia, biarlah orang lain yang melakukannya. Sebab jangan sampai anda terbawa emosi.
Jangan suka membicarakan kesalahan atau dosa orang lain tanpa kehadiran orang itu. Itu namanya gossip. Gossip itu sesuatu yang sangat menyakitkan. Bukan baru zaman ini tetapi bahkan sejak abad ke 6 Bc, pemazmur telah memohon kepada Allah untuk melindungi dia dari orang-orang yang suka gossip:
Mzm 57 “Kiranya Ia mengirim utusan dari surga dan menyelamatkan aku dari orang yang suka menerkam anak-anak manusia yang giginya laksana tombak dan panah dan lidahnya laksana pedang tajam”
Mzm 64: “sembunyikanlah aku terhadap persepakatan orang jahat. Yang menajamkan lidahnya seperti pedang, yang membidikan kata yang pahit seperti panah”
Mzm 140: Luputkanlah aku, ya Tuhan dari manusia jahat, mereka yang menajamkan lidahnya seperti ular, bisa ular sendok ada di bawah bibirnya”
Tetapi zaman ini lebih parah lagi. Gossip malah masuk dalam tabloid atau acara-acara TV. Zaman ini orang merasa tidak salah kalau membicarakan kesalahan atau masalah orang lain. Bahkan di dalam gereja sendiri. Ada yang merasa bahwa mereka ‘telah diurapi’ untuk meng-ekspose kesalahan-kesalahan orang lain. Mereka merasa seakan memainkan peranan sebagai ‘nabi’
Saudara dan saudariku
Ketika Allah memilih Yehezkiel sebagai ‘penjaga’ atas umat Israel, Allah tidak memberikan dia ijin untuk menyebarkan gossip.
Kenyataannya..... gosip telah menghancurkan hidup banyak orang, menghancurkan perkawinan, membuat anggota-anggota tubuh Kristus saling memusuhi dan menimbulkan perselisihan dan perpecahan di dalam gereja.
Rasul Yakobus membandingkan lidah manusia dengan api yang bila dibiarkan tidak terkontrol akan dinyalakan dan dikobarkan oleh iblis. Rasul Yakobus berkata, "Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar" (Yak 3:5-6). Lidah yang diserahkan kepada gosip adalah seperti api liar yang menjalar ke dalam hutan membawa pengrusakan. Gosip adalah akar dari perselisihan. Ketika kita menghentikan gosip, kekacauan dan perselisihan akan berhenti juga. Sebagai pendengar firman Allah, langkah berikut yang mesti kita ambil adalah melaksanakannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Amen.
Bangga sebagai Katolik
Homili Minggu Biasa XXI Tahun A - 2011
Tonny Blikon, SS.CC
Saudara dan saudariku
Renungan saya kali ini lebih bersifat apologetik, artinya pembelaan iman. Ada satu hal, yang mendasari permenungan saya ini: beberapa hari yang lalu, saya mendapat berita bahwa ada anak katolik di sekolah negeri tidak bisa mendapatkan pendidikan iman katolik secara benar karena tidak ada yang mau mengajar. Dan lebih parah lagi, salah seorang katekis mengatakan: ’Biar aja mereka ngikuti pelajaran agama Kristen, kan sama saja.’
• Ada yang setuju dengan pendapat ini?
• Apakah antara Katolik dan Protestan itu sama saja? Kalau memang, sama, ngapain kami sibuk cari dana untuk bangun gedung pastoral ini?
• Apa yang membedakan kita orang Katolik dengan teman-teman kita dari Protestan?
Tentu masih banyak lagi perbedaannya, terutama menyangkut sumber kebenaran iman. Kalau kita bahas satu per satu maka akan menjadi bahan kuliah satu semester. Kesempatan ini saya hanya membahas beberapa point.
Saudara dan saudariku
Inti dari ajaran Protenstantisme adalah: Sola Scriptura, Sola Fide dan Sola Gratia. Artinya, hanya Kitab Suci sebagai dasar iman dan hanya imanlah yang menjadi dasar keselamatan.
Nah....hal ini bertentangan sendiri dengan kitab suci sendiri karena Santo Yakobus mengatakan: “Iman tanpa perbuatan adalah mati”. Pandangan ini bertentangan juga apa yang dikatakan oleh Paulus: “sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (1Kor 13:2)
Ajaran selanjutnya adalah "Sola gratia" (hanya rahmat). Menurut mereka, keselamatan bukan tergantung pada usaha manusia melainkan hanya dari rahmat dan belas kasihan Allah. karena itu, percaya saja (memiliki iman) yang berdasarkan Kitab Suci saja sudah menjamin keselamatan.
Hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Katolik. Menurut ajaran Katolik, rahmat tetap penting tapi keselamatan adalah soal perjuangan pribadi setiap orang.
Mungkin kalimat ini bisa menjelaskan maksudku; "Ketika Allah menciptakanmu, Ia tidak pernah bertanya: Kamu nanti mau dikasih nama siapa ya? Kamu mau rupamu seperti apa nanti? Kamu mau lahir di mana? Kamu mau dilahirkan dalam keluarga seperti apa? Tetapi ketika Allah mau menyelamatkanmu (rahmat) maka Ia akan bertanya kepadamu, apakah anda mau diselamatkan?”
Ajaran ini menekankan betapa kebebasan manusia sangat dihargai oleh Allah. Allah tidak perlu memberikan kebebasan kepada manusia, kalau keselamatan otomatis diterima ketika kita percaya kepada-Nya.
Saudara dan saudariku.
Apakah anda bangga sebagai orang Katolik? Apa yang membuat anda bangga sebagai orang Katolik?
Saya memberikan satu alasan mengapa kita harus berbangga sebagai orang Katolik karena hanya gereja Katolik-lah yang didirikan oleh Yesus di atas batu karang, yaitu Petrus dan kuasa itu diteruskan kepada para penggantinya sampai kepada Paus kita sekarang ini.
Kalau kita bertanya: siapakah pendiri gerejamu? Kaum Protestan dengan berbagai macam aliran tidak bisa berkata bahwa Yesus yang mendirikan. Seorang Protestan akan berkata: pendiri gerejaku adalah MARTIN LUHTER; Seorang sekte Marmons akan berkata: Pendiriku, JOSEPH SMITH; seorang Methodis akan berkata: "JOHN WESLEY"; Seorang Anglikan akan berkata: "Raja HENRY VIII"; Gereja Babtis akan berkata: "JOHN SMITH"; Jehova: "CHARLES TAZE RUSELL".
Saudara dan saudariku.
Kita boleh berbangga bahwa gereja Katolik adalah satu-satunya gereja yang mewarisi tahta santu Petrus, namun tahukan anda bahwa betapa banyak orang yang membenci gereja Katolik? Banyak yang mengatakan bahwa gereja Katolik itu sesat. Banyak yang mengatakan bahwa orang katolik itu akan masuk neraka. Banyak yang menghojat Bunda Maria dan juga banyak yang mengatakan dan meyakini bahwa Paus itu adalah pengikut setan.
Point terakhir ini akan mendapat penekanan saya. Pertama, karena hal itu berkaitan dengan bacaan Injil hari ini. Kedua, karena hal inilah yang sekarang ini gencar diajarkan di mana-mana. Para orang tua yang anaknya sekolah di UPH, harap berhati-hati karena anakmu dituntut untuk mengikuti pendidikan agama Kristen Evangelis, salah satu pointnya adalah memperkarakan soal primat atau kuasa Paus ini.
Saudara dan saudariku....
”Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini akan kudirikan gereja-Ku”. Orang-orang yang membenci Katolik akan mengatakan: ”Batu karang itu bukan Petrus melainkan Yesus.”
Saya mengajak kita untuk melihat pendasaran bagi issue ini sehingga bisa dipertanggung jawabkan. Bahwa Yesus memang menghendaki gereja-Nya di didirikan di atas batu karang Petrus.
Dalam Injil tadi (Mat 16:18-19) jelas dikatakan: “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkaulah Petrus (kefas) dan di atas BATU KARANG ini Aku akan mendirikan Jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia akan terlepas di surga.”
Saya mau bertanya: yang dimaksudkan dengan batu karang di situ siapa?
Anti Katolik menafsirkan kata BATU KARANG adalah bukan Petrus melainkan kepada Yesus sendiri (kita bisa lihat ketidak-logisan cara berpikir mereka). Saya kira, anak kecil pun akan mengerti dengan baik perkataan Yesus ini. Yesus tidak berbicara kepada dirinya sendiri melainkan kepada Simon, “engkau adalah Petrus” (batu karang) dan di atasmu Aku akan mendirikan gereja-Ku. Jadi, di sini batu karang adalah Petrus dan bukan Yesus.
Kalimat berikut (ayat 19) semakin memperjelas penjelasan ini bahwa “Aku akan memberikan kepadamu kunci Kerajaan Sorga, . Apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia akan terlepas di surga.”
Untuk membingungkan umat, maka para anti Katolik mengutip semua kutipan yang berbicara tentang baru karang atau dari mana kata itu berasal. Biasanya mereka menggunakan 1 Kor 10:3-5 – ”sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu adalah Kristus.”
Nah...kata-kata dalam teks ini sebetulnya berada di luar konteks, sehingga tidak bisa diterapkan dalam perintah Yesus yang tertulis dalam dalam Mat 16 tadi.
Lebih dari itu, kalau pun kita menerima apa yang tertulis dalam 1 Kor 10: 3-5 maka itu sama sekali tidak berlawanan dengan posisi Petrus. Orang Katolik selalu percaya bahwa Yesus adalah kepala Gereja yang tak kelihatan dan sebenarnya atau batu karang spiritual dari Gereja yang didirikannya. Akan tetapi, Gereja ini tidak dibawa ke Surga. Gereja ini ada, tumbuh dan hidup di dunia di mana setan akan bisa menghancurkannya setiap saat. Oleh karena itu, kuasa Petrus menjadi sangat penting untuk menjaga Gereja Kristus.
Lalu bagaimana dengan Paus sebagai kepala yang kelihatan dari Gereja Kristus? Perlu diingat bahwa ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, Ia menjadikan Abraham sebagai bapa sekalian bangsa, tetapi itu tidak merongrong atau menggantikan peranan Allah sebagai Bapa segala bangsa/segala ciptaan. Allah tetap menjadi Bapa spiritual umat untuk selamanya.
Saudara dan saudariku.
Satu hal yang bisa kita pelajari dari Santo Petrus adalah kesetiannya kepada Yesus. Kalau kita baca ayat-ayat selanjutnya dari kutipan Injil tadi, Petrus justru ditegus dengan sangat keras oleh Yesus. Ketika Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
Setelah mendengar itu, apakah Petrus sakit dan meninggalkan Yesus? Sakit hati pasti iya.... apalagi ditegur di depan umum. Tetapi dia tetap mengikuti Yesus.
Dari pribadi Petrus kita bisa belajar bahwa di dalam hidup bersama sebagai umat, tentu ada saat-saat di mana kita merasa sakit hati karena teguran atau perkataan dari sahabat atau dari kami para imam. Banyak orang ketika mengalami hal itu, mengambil sikap untuk ’mutung’ artinya tidak mau aktif. Tetapi itu sikap yang bukan ditunjukkan oleh rasul Petrus.
Melalui pengajaran hari ini kita juga bisa belajar bahwa setia kepada Yesus berarti setia kepada gereja Roma Katolik. Sekali Katolik tetap Katolik. Jangan hanya karena pernikahan atau apapun alasannya, kita lantas meninggalkan gereja yang benar, yang satu, kudus dan apostolik ini.
Tonny Blikon, SS.CC
Saudara dan saudariku
Renungan saya kali ini lebih bersifat apologetik, artinya pembelaan iman. Ada satu hal, yang mendasari permenungan saya ini: beberapa hari yang lalu, saya mendapat berita bahwa ada anak katolik di sekolah negeri tidak bisa mendapatkan pendidikan iman katolik secara benar karena tidak ada yang mau mengajar. Dan lebih parah lagi, salah seorang katekis mengatakan: ’Biar aja mereka ngikuti pelajaran agama Kristen, kan sama saja.’
• Ada yang setuju dengan pendapat ini?
• Apakah antara Katolik dan Protestan itu sama saja? Kalau memang, sama, ngapain kami sibuk cari dana untuk bangun gedung pastoral ini?
• Apa yang membedakan kita orang Katolik dengan teman-teman kita dari Protestan?
Tentu masih banyak lagi perbedaannya, terutama menyangkut sumber kebenaran iman. Kalau kita bahas satu per satu maka akan menjadi bahan kuliah satu semester. Kesempatan ini saya hanya membahas beberapa point.
Saudara dan saudariku
Inti dari ajaran Protenstantisme adalah: Sola Scriptura, Sola Fide dan Sola Gratia. Artinya, hanya Kitab Suci sebagai dasar iman dan hanya imanlah yang menjadi dasar keselamatan.
Nah....hal ini bertentangan sendiri dengan kitab suci sendiri karena Santo Yakobus mengatakan: “Iman tanpa perbuatan adalah mati”. Pandangan ini bertentangan juga apa yang dikatakan oleh Paulus: “sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (1Kor 13:2)
Ajaran selanjutnya adalah "Sola gratia" (hanya rahmat). Menurut mereka, keselamatan bukan tergantung pada usaha manusia melainkan hanya dari rahmat dan belas kasihan Allah. karena itu, percaya saja (memiliki iman) yang berdasarkan Kitab Suci saja sudah menjamin keselamatan.
Hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Katolik. Menurut ajaran Katolik, rahmat tetap penting tapi keselamatan adalah soal perjuangan pribadi setiap orang.
Mungkin kalimat ini bisa menjelaskan maksudku; "Ketika Allah menciptakanmu, Ia tidak pernah bertanya: Kamu nanti mau dikasih nama siapa ya? Kamu mau rupamu seperti apa nanti? Kamu mau lahir di mana? Kamu mau dilahirkan dalam keluarga seperti apa? Tetapi ketika Allah mau menyelamatkanmu (rahmat) maka Ia akan bertanya kepadamu, apakah anda mau diselamatkan?”
Ajaran ini menekankan betapa kebebasan manusia sangat dihargai oleh Allah. Allah tidak perlu memberikan kebebasan kepada manusia, kalau keselamatan otomatis diterima ketika kita percaya kepada-Nya.
Saudara dan saudariku.
Apakah anda bangga sebagai orang Katolik? Apa yang membuat anda bangga sebagai orang Katolik?
Saya memberikan satu alasan mengapa kita harus berbangga sebagai orang Katolik karena hanya gereja Katolik-lah yang didirikan oleh Yesus di atas batu karang, yaitu Petrus dan kuasa itu diteruskan kepada para penggantinya sampai kepada Paus kita sekarang ini.
Kalau kita bertanya: siapakah pendiri gerejamu? Kaum Protestan dengan berbagai macam aliran tidak bisa berkata bahwa Yesus yang mendirikan. Seorang Protestan akan berkata: pendiri gerejaku adalah MARTIN LUHTER; Seorang sekte Marmons akan berkata: Pendiriku, JOSEPH SMITH; seorang Methodis akan berkata: "JOHN WESLEY"; Seorang Anglikan akan berkata: "Raja HENRY VIII"; Gereja Babtis akan berkata: "JOHN SMITH"; Jehova: "CHARLES TAZE RUSELL".
Saudara dan saudariku.
Kita boleh berbangga bahwa gereja Katolik adalah satu-satunya gereja yang mewarisi tahta santu Petrus, namun tahukan anda bahwa betapa banyak orang yang membenci gereja Katolik? Banyak yang mengatakan bahwa gereja Katolik itu sesat. Banyak yang mengatakan bahwa orang katolik itu akan masuk neraka. Banyak yang menghojat Bunda Maria dan juga banyak yang mengatakan dan meyakini bahwa Paus itu adalah pengikut setan.
Point terakhir ini akan mendapat penekanan saya. Pertama, karena hal itu berkaitan dengan bacaan Injil hari ini. Kedua, karena hal inilah yang sekarang ini gencar diajarkan di mana-mana. Para orang tua yang anaknya sekolah di UPH, harap berhati-hati karena anakmu dituntut untuk mengikuti pendidikan agama Kristen Evangelis, salah satu pointnya adalah memperkarakan soal primat atau kuasa Paus ini.
Saudara dan saudariku....
”Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini akan kudirikan gereja-Ku”. Orang-orang yang membenci Katolik akan mengatakan: ”Batu karang itu bukan Petrus melainkan Yesus.”
Saya mengajak kita untuk melihat pendasaran bagi issue ini sehingga bisa dipertanggung jawabkan. Bahwa Yesus memang menghendaki gereja-Nya di didirikan di atas batu karang Petrus.
Dalam Injil tadi (Mat 16:18-19) jelas dikatakan: “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkaulah Petrus (kefas) dan di atas BATU KARANG ini Aku akan mendirikan Jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia akan terlepas di surga.”
Saya mau bertanya: yang dimaksudkan dengan batu karang di situ siapa?
Anti Katolik menafsirkan kata BATU KARANG adalah bukan Petrus melainkan kepada Yesus sendiri (kita bisa lihat ketidak-logisan cara berpikir mereka). Saya kira, anak kecil pun akan mengerti dengan baik perkataan Yesus ini. Yesus tidak berbicara kepada dirinya sendiri melainkan kepada Simon, “engkau adalah Petrus” (batu karang) dan di atasmu Aku akan mendirikan gereja-Ku. Jadi, di sini batu karang adalah Petrus dan bukan Yesus.
Kalimat berikut (ayat 19) semakin memperjelas penjelasan ini bahwa “Aku akan memberikan kepadamu kunci Kerajaan Sorga, . Apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia akan terlepas di surga.”
Untuk membingungkan umat, maka para anti Katolik mengutip semua kutipan yang berbicara tentang baru karang atau dari mana kata itu berasal. Biasanya mereka menggunakan 1 Kor 10:3-5 – ”sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu adalah Kristus.”
Nah...kata-kata dalam teks ini sebetulnya berada di luar konteks, sehingga tidak bisa diterapkan dalam perintah Yesus yang tertulis dalam dalam Mat 16 tadi.
Lebih dari itu, kalau pun kita menerima apa yang tertulis dalam 1 Kor 10: 3-5 maka itu sama sekali tidak berlawanan dengan posisi Petrus. Orang Katolik selalu percaya bahwa Yesus adalah kepala Gereja yang tak kelihatan dan sebenarnya atau batu karang spiritual dari Gereja yang didirikannya. Akan tetapi, Gereja ini tidak dibawa ke Surga. Gereja ini ada, tumbuh dan hidup di dunia di mana setan akan bisa menghancurkannya setiap saat. Oleh karena itu, kuasa Petrus menjadi sangat penting untuk menjaga Gereja Kristus.
Lalu bagaimana dengan Paus sebagai kepala yang kelihatan dari Gereja Kristus? Perlu diingat bahwa ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, Ia menjadikan Abraham sebagai bapa sekalian bangsa, tetapi itu tidak merongrong atau menggantikan peranan Allah sebagai Bapa segala bangsa/segala ciptaan. Allah tetap menjadi Bapa spiritual umat untuk selamanya.
Saudara dan saudariku.
Satu hal yang bisa kita pelajari dari Santo Petrus adalah kesetiannya kepada Yesus. Kalau kita baca ayat-ayat selanjutnya dari kutipan Injil tadi, Petrus justru ditegus dengan sangat keras oleh Yesus. Ketika Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
Setelah mendengar itu, apakah Petrus sakit dan meninggalkan Yesus? Sakit hati pasti iya.... apalagi ditegur di depan umum. Tetapi dia tetap mengikuti Yesus.
Dari pribadi Petrus kita bisa belajar bahwa di dalam hidup bersama sebagai umat, tentu ada saat-saat di mana kita merasa sakit hati karena teguran atau perkataan dari sahabat atau dari kami para imam. Banyak orang ketika mengalami hal itu, mengambil sikap untuk ’mutung’ artinya tidak mau aktif. Tetapi itu sikap yang bukan ditunjukkan oleh rasul Petrus.
Melalui pengajaran hari ini kita juga bisa belajar bahwa setia kepada Yesus berarti setia kepada gereja Roma Katolik. Sekali Katolik tetap Katolik. Jangan hanya karena pernikahan atau apapun alasannya, kita lantas meninggalkan gereja yang benar, yang satu, kudus dan apostolik ini.
Badai Kehidupan
A_Minggu Biasa XIX_2011_Tonny Blikon
Saudara dan Saudariku
Gelombang adalah suatu kata yang sangat dipahami oleh kita semua yang hadir di sini. Kalau mendengar kata ‘gelombang’ apa yang anda pikirkan? Pada umumnya orang berbicara tentang gelombang laut. Ada juga gelombang pasir- kalau itu terjadi di padang gurun.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kata ‘gelombang’ ternyata mempunyai arti yang simbolik. Dalam arti yang simbolik ini orang berbicara tentang gelombang hidup. Jika seseorang sedang mengalami gelombang cinta berarti ia sedang mengalami jatuh cinta setengah mati. Jika seseorang sedang dilanda gelombang hidup berarti ia sedang mengalami suatu tantangan hidup atau penderitaan.
Kejadian yang dialami oleh murid-murid Yesus dalam Injil tadi merupakan gambaran mengenai badai yang sering kita alami dalam kehidupan kita. Sampai-sampai ada lagu diberi judul: “di tengah ombak”. – di tengah ombak dan arus pencobaan, hampir terhilang, tujuan arah hidupku. Bagaikan kapal yang diombang ambingkan – seolah olah mengatasinya tiada mampu”
Dalam menyeberangi lautan kehidupan tidak selamanya kita menghadapi cuaca yang cerah. Ada kalanya badai datang menerpa hidup kita. Dan sebagaimana yang dialami oleh murid-murid Yesus, badai yang datang merupakan suatu hal yang dapat membuat kita semua gentar dan goyah dalam iman kita.
Contohnya adalah Nabi Elia, yang kita dengar dalam bacaan pertama tadi. Ia sedang mengalami gelombang hidup yang dasyat yang hampir saja membuatnya putus harapan dan iman. Sedikit tentang kehidupan nabi Elia. Ia adalah seorang nabi pejuang, habi politik, yang dengan berani menentang raja Ahab, yang menyebarkan kekafiran di Israel dengam memperbolehkan pemujaan dewa Baal dan Dewi Asyera. Nabi Elia dengan gigih menentang kekairan pada umat Allah yang justru disebabkan oleh raja Ahab. Maka ia mengadakan konfrontasi langsung dengan raja ahab, mengecamnya habis-habisan. Akibatnya bahwa ia dibenci oleh raja Abad dan semua elit politik di Israel, serta para nabi dari dewa Baal dan dewi Asyera. pada waktu itu. Meskipun Elia berhasil melenyapkan seluruh nabi-nabi dewa Bal dan dewi Ayera, namun ia tidak lupun dari ancaman kematina, karena Izebel, Isteri raja Ahab mengancam untuk membunuhnya. Elia merasa tergoncang dan putus asa karena perjuangannya seakan gagal total. Maka ia melarikan diri dari Israel dan dari Tuhan, dan mengarungi gelombang pasir di gurun, lalu bersembunyi di dalam sebauah gua di gunung Horeb.
Untung bahwa Alla tak membiarkan Elia menguburkan dirinya dalam gua gelap karena keputus-asaan. Allah mengulurkna tangan-Nya dengan menyurus Elia keluar, bahkan memberikannya makan dan minum. Allah tidak membiarkan Elia terbenal dalam gelombang keputus-asaan dan seelah memberikan peneguhan, Allah mengutusnya untuk kembali ke tengah Israel untuk mengurapi raja baru yan telah dipilih oleh Tuhan. Pada saat yang tepat, Allah selalu mengurulkan tangan-nya kepada siapa saja yang telah berbut baik, meskpun sempat hampir tewas diremukan oleh gelombang kehidupan yang keras.
Rasul Petrus dalam bacaan Injil tadi mengalami suatu ‘tiupan angin kencang’ yang membuatnya hampir tenggelam di danau Galilea.
Sedikit cacatan tambahan menarik untuk kita perhatikan. Dalam Injil tadi dikatakan: “Kira-kira jam tiga malam, datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.” Pencatatan jam ini penting karena dalam teologi kita, jam 3 pagi adalah jam di mana para setan mulai beraksi. Kebalikan dari jam 3 sore di mana saat Yesus wafat. Dengan berjalan di atas air, penginjil Matius ingin menonjolkan superioritas Yesus atas kuasa lain yang sering membuat manusia hampir tenggelam. Semangat Petrus untuk meniru sang Guru menaklukkan kejahatan, tak mencukupi, bahka ia sendiri hampir digulung oleh gelombang kekuatan jatah. Untunglah di saat yang kristis ia masih sempat berteriak, ”Tuhan, tolonglah aku” – dan Yesus pun segera mengulurkan tangan-Nya.
Ada beberapa Legioner yang selalu berdoa Kerahiman Ilahi atau doa lainnya pada jam 3 pagi. Itu tentu dengan maksud supaya pada saat itu, ketika setan mulai beraksi, kita mohon kekuatan dari Yesus karena kita percaya bahwa hanya Yesuslah yang sanggup mengalahkan kekuatan si jahat.
Saudara dan saudariku.
Kita kembali pada tema kita ’gelombang kehidupan.” Sesungguhnya gelombang hidup ini, penderitaan dan kesulitan yang kita alami hanyalah sebuah godaan yang memang bisa menghancurkan kita bila kita terlalu terfokus padanya. Semua kesulitan, bahkan penderitan hidup, hanyalah pernak pernik kehidupan yang harus ada namun sebenarnya hanyalah sebuah pelengkap. Tak seharusnya mata dan hati kita tertancap tajam pada relalitas negatif hidup kita tetapi sebaliknya hendaknya mata dan hati kita tetap terpaut pada Yesus yang adalah sumber kebahagiaan kita. Yang sering kita alami dalam hidup adlah bahwa kesadaran akan penderitaaan begitubsar, sementara ksadaran akan rahmat, keterikatan kepada Kristus begitu tipis dan lemah. Padhal, andaikata kita lebih terfokus pada Kristus, maka kita akan makin peka bahwa Kristus senantiasa mengulurkan tangan-Nya untuk menolong kita sehingga kita aman dari gelombang hidup yang dapat menghanyutkan kita.
Kisah berikut ini kiranya memberikan kita inspirasi: pada suatu pagi yang cerah dan tenang, seorang anak remaja ikut naik ke sebuah perahu layar untuk mulai belajar menjadi seorang pelaut. Setelah berlayar beberapa hari, terlihat tanda-tanda bahwa badai akan dantang. Anak remaja itu disuruh memanjat tinag layar sampai ke atas untuk memperhatikan datangnya arus badai. Ia lalu memanjat dengan mudah sampai ke bagian tengah dan ketika itu matanya terakra ke atas, melihat ke langit. Namun setiapnya di bagian tengah tiang itu, ia melakukan kesalahan. Ia memandang ke bawah, ke atau laut yang sedang bergemuruh. Ia lalu ketakutan dan hampir saja terjatuh karena perasaan ngeri. Seorang pelaut lain yang sudah berpengalaman berteriak kepadanya: ”Lihat ke ats.... lihat ke atas..... anak itu mengalikan pandannya kembali ke langit, dan ia selamat sampai di punyak tiang layar.
Jadi saat badai menerpa, arahkan hati agar takut pada Allah. Tunduklah oleh tuntunanNya. Maka kita berjalan dan melayang-layang diatas badai.
1 Sam 12:24
“Hanya takutlah akan Tuhan dan setialah beribadah kepadaNya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah, betapa besarnya hal-hal yang dilakukanNya di antara kamu.”
Ibrani 13:6
Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"
I Petrus 5:7
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Roma 8:28
Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,
Saudara dan Saudariku
Gelombang adalah suatu kata yang sangat dipahami oleh kita semua yang hadir di sini. Kalau mendengar kata ‘gelombang’ apa yang anda pikirkan? Pada umumnya orang berbicara tentang gelombang laut. Ada juga gelombang pasir- kalau itu terjadi di padang gurun.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kata ‘gelombang’ ternyata mempunyai arti yang simbolik. Dalam arti yang simbolik ini orang berbicara tentang gelombang hidup. Jika seseorang sedang mengalami gelombang cinta berarti ia sedang mengalami jatuh cinta setengah mati. Jika seseorang sedang dilanda gelombang hidup berarti ia sedang mengalami suatu tantangan hidup atau penderitaan.
Kejadian yang dialami oleh murid-murid Yesus dalam Injil tadi merupakan gambaran mengenai badai yang sering kita alami dalam kehidupan kita. Sampai-sampai ada lagu diberi judul: “di tengah ombak”. – di tengah ombak dan arus pencobaan, hampir terhilang, tujuan arah hidupku. Bagaikan kapal yang diombang ambingkan – seolah olah mengatasinya tiada mampu”
Dalam menyeberangi lautan kehidupan tidak selamanya kita menghadapi cuaca yang cerah. Ada kalanya badai datang menerpa hidup kita. Dan sebagaimana yang dialami oleh murid-murid Yesus, badai yang datang merupakan suatu hal yang dapat membuat kita semua gentar dan goyah dalam iman kita.
Contohnya adalah Nabi Elia, yang kita dengar dalam bacaan pertama tadi. Ia sedang mengalami gelombang hidup yang dasyat yang hampir saja membuatnya putus harapan dan iman. Sedikit tentang kehidupan nabi Elia. Ia adalah seorang nabi pejuang, habi politik, yang dengan berani menentang raja Ahab, yang menyebarkan kekafiran di Israel dengam memperbolehkan pemujaan dewa Baal dan Dewi Asyera. Nabi Elia dengan gigih menentang kekairan pada umat Allah yang justru disebabkan oleh raja Ahab. Maka ia mengadakan konfrontasi langsung dengan raja ahab, mengecamnya habis-habisan. Akibatnya bahwa ia dibenci oleh raja Abad dan semua elit politik di Israel, serta para nabi dari dewa Baal dan dewi Asyera. pada waktu itu. Meskipun Elia berhasil melenyapkan seluruh nabi-nabi dewa Bal dan dewi Ayera, namun ia tidak lupun dari ancaman kematina, karena Izebel, Isteri raja Ahab mengancam untuk membunuhnya. Elia merasa tergoncang dan putus asa karena perjuangannya seakan gagal total. Maka ia melarikan diri dari Israel dan dari Tuhan, dan mengarungi gelombang pasir di gurun, lalu bersembunyi di dalam sebauah gua di gunung Horeb.
Untung bahwa Alla tak membiarkan Elia menguburkan dirinya dalam gua gelap karena keputus-asaan. Allah mengulurkna tangan-Nya dengan menyurus Elia keluar, bahkan memberikannya makan dan minum. Allah tidak membiarkan Elia terbenal dalam gelombang keputus-asaan dan seelah memberikan peneguhan, Allah mengutusnya untuk kembali ke tengah Israel untuk mengurapi raja baru yan telah dipilih oleh Tuhan. Pada saat yang tepat, Allah selalu mengurulkan tangan-nya kepada siapa saja yang telah berbut baik, meskpun sempat hampir tewas diremukan oleh gelombang kehidupan yang keras.
Rasul Petrus dalam bacaan Injil tadi mengalami suatu ‘tiupan angin kencang’ yang membuatnya hampir tenggelam di danau Galilea.
Sedikit cacatan tambahan menarik untuk kita perhatikan. Dalam Injil tadi dikatakan: “Kira-kira jam tiga malam, datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.” Pencatatan jam ini penting karena dalam teologi kita, jam 3 pagi adalah jam di mana para setan mulai beraksi. Kebalikan dari jam 3 sore di mana saat Yesus wafat. Dengan berjalan di atas air, penginjil Matius ingin menonjolkan superioritas Yesus atas kuasa lain yang sering membuat manusia hampir tenggelam. Semangat Petrus untuk meniru sang Guru menaklukkan kejahatan, tak mencukupi, bahka ia sendiri hampir digulung oleh gelombang kekuatan jatah. Untunglah di saat yang kristis ia masih sempat berteriak, ”Tuhan, tolonglah aku” – dan Yesus pun segera mengulurkan tangan-Nya.
Ada beberapa Legioner yang selalu berdoa Kerahiman Ilahi atau doa lainnya pada jam 3 pagi. Itu tentu dengan maksud supaya pada saat itu, ketika setan mulai beraksi, kita mohon kekuatan dari Yesus karena kita percaya bahwa hanya Yesuslah yang sanggup mengalahkan kekuatan si jahat.
Saudara dan saudariku.
Kita kembali pada tema kita ’gelombang kehidupan.” Sesungguhnya gelombang hidup ini, penderitaan dan kesulitan yang kita alami hanyalah sebuah godaan yang memang bisa menghancurkan kita bila kita terlalu terfokus padanya. Semua kesulitan, bahkan penderitan hidup, hanyalah pernak pernik kehidupan yang harus ada namun sebenarnya hanyalah sebuah pelengkap. Tak seharusnya mata dan hati kita tertancap tajam pada relalitas negatif hidup kita tetapi sebaliknya hendaknya mata dan hati kita tetap terpaut pada Yesus yang adalah sumber kebahagiaan kita. Yang sering kita alami dalam hidup adlah bahwa kesadaran akan penderitaaan begitubsar, sementara ksadaran akan rahmat, keterikatan kepada Kristus begitu tipis dan lemah. Padhal, andaikata kita lebih terfokus pada Kristus, maka kita akan makin peka bahwa Kristus senantiasa mengulurkan tangan-Nya untuk menolong kita sehingga kita aman dari gelombang hidup yang dapat menghanyutkan kita.
Kisah berikut ini kiranya memberikan kita inspirasi: pada suatu pagi yang cerah dan tenang, seorang anak remaja ikut naik ke sebuah perahu layar untuk mulai belajar menjadi seorang pelaut. Setelah berlayar beberapa hari, terlihat tanda-tanda bahwa badai akan dantang. Anak remaja itu disuruh memanjat tinag layar sampai ke atas untuk memperhatikan datangnya arus badai. Ia lalu memanjat dengan mudah sampai ke bagian tengah dan ketika itu matanya terakra ke atas, melihat ke langit. Namun setiapnya di bagian tengah tiang itu, ia melakukan kesalahan. Ia memandang ke bawah, ke atau laut yang sedang bergemuruh. Ia lalu ketakutan dan hampir saja terjatuh karena perasaan ngeri. Seorang pelaut lain yang sudah berpengalaman berteriak kepadanya: ”Lihat ke ats.... lihat ke atas..... anak itu mengalikan pandannya kembali ke langit, dan ia selamat sampai di punyak tiang layar.
Jadi saat badai menerpa, arahkan hati agar takut pada Allah. Tunduklah oleh tuntunanNya. Maka kita berjalan dan melayang-layang diatas badai.
1 Sam 12:24
“Hanya takutlah akan Tuhan dan setialah beribadah kepadaNya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah, betapa besarnya hal-hal yang dilakukanNya di antara kamu.”
Ibrani 13:6
Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"
I Petrus 5:7
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Roma 8:28
Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,
Memikul Salib: Tanda Cinta kepada Yesus
A_22nd Sunday OT_Tonny Blikon, SS.CC
St. Odilia Parish – citra Raya
Saudara dan saudariku
Dalam Bacaan Pertama tadi kita mendengar keluhan nabi Yeremiah: ‘Engkau telah memperdaya aku, ya Tuhan, dan aku telah tertipu…aku telah menjadi tertawaan orang sepanjang hari, semua mereka mengolok-olok dan menghina aku”
Yeremiah dihina karena pemberitaan firman yang ia sampaikan. Setiap kali dia harus berbicara dengan keras bahkan teriak’. Tetapi semuanya sia-sia. Tidak ada yang mendengarkannya. Akhirnya Yeremiah berpikir lebih baik berhenti mewartakan firman Allah daripada saya dijadikan bahan tertawaan orang. Lebih baik saya mengambil sikap diam terhadap segala sesuatu yang terjadi.’ Akan tetapi, ketika ia mengambil sikap diam, - pengakuan Yeremiah - “maka di dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dlam tulang-tulangku, aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup”
Inilah penderitaan atau salib yang dialami oleh nabi Yeremiah sebagai nabi Allah. Dalam Injil hari ini Yesus mengatakan: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku”
Bicara soal salib berarti bicara soal penderitaan. Dan tentu banyak orang tidak suka kalau bicara soal ini, dan tentu tidak mengharapkannya. Tetapi dalam kehidupan ini, sebagai pengikut Yesus, salib memang tidak bisa dihindari. Bahkan dikatakan sebagai hal yang mesti kita tanggung.
Saya mengajak kita untuk mendengarkan sebuah kisah ini: Ada seorang ibu yang ditinggalkan suaminya setelah 11 tahun hidup bersama sebagai suami-istri. Suami memutuskan untuk meninggalkan Tuhan dengan menjadi penganut agama lain supaya bisa menikah lagi. Berikut ini adalah sharing dari ibu itu: “Saya ditinggalkan bersama dengan ketiga anak saya yang masih kecil. Perasaan kecewa, marah, malu, terhina dan putus asa beradu menjadi satu. Belum lagi saya harus menghadapi anak pertama kami yang berumur 9 tahun, dimana anak itu menyimpan dendam dan kebencian yang mendalam kepada ayahnya. Saya juga harus membesarkan anak kedua yang baru berumur 4 tahun dan yang ketiga yang masih bayi.
Saat itu, masyarakat di sekitar tidak henti-hentinya bergossip bahwa semuanya itu terjadi karena kesalahan saya. Keputusan sang suami didukung dengan dalih beribadah ‘ala’ mereka. Saya disudutkan sebagai tersangka karena dianggap tidak becus melayani suami.
Hal yang paling menyakitkan adalah sikap dan perilaku tman-teman seiman. Mereka menghakimi saya karena pernikahan kami terpaksa harus diakhiri di pengadilan. Saya tahu bahwa perceraian semacam itu tidak diakui oleh gereja.
Tanpa menanyakan perasaan saya, mereka semua memvonis saya bahwa saya telah melanggar firman Tuhan.
Jujur...kalau boleh memilih, saya tentu lebih memilih sebagai istri yang dilindungi suami daripada harus menyandang status janda yang ditinggalkan. Lebih lanjut, orang-orang seiman pun menuduh saya sebagai istri yang tidak becus sehingga suami lari meninggalkan Tuhan dan keluarga. Mereka tidak mau melihat perjuangan saya dalam membesarkan ketiga anak saya. Mereka tidak bisa merasakan betapa sulitnya menghadapi anak-anak yang mengalami luka batin dan trauma yang berkepanjangan.”
Saudara dan saudariku
Ibu itu hampir saja meninggalkan imannya. Dia sudah mulai tidak ke gereja lagi. Hal ini berjalan selama beberapa tahun.
Menjalani hidup sebagai single parent tentu tidak mudah. Sang ibu mengalami kelelahan emosi. Rasanya beban hidup semakin berat. Dia berusaha untuk memungut dan merekatkan kembali serpihan-serpihan hati yang dialami oleh anak-anaknya, terutama anak pertama yang hatinya hancur karena tindakan kekerasan ayahnya. Tentang anak pertama ini: dia sempat kehilangan rasa percaya diri akibat perasaan ditolak dan dicampakan oleh ayahnya. Dan hal ini membuat si ibu harus benar-benar sabar dalam mendampinginya.
Belum lagi si bungsu yang memerlukan perhatian khusus. Sang ibu kewalahan menjawab pertanyaan-pertnyaannya. Si bungsu bertanya: “Siapakah ayahnya? Belum lagi kalau ia bertanya: ’Mengapa begitu banyak orang baik kepadanya tetapi tidak ada satupun yang dapat dipanggilnya ayah”
Anak-anak memang baik tetapi terkadang mereka berantem dan merebut perhatian. Mereka belum mengerti betapa beratnya ibu bekerja mencari uang untuk mereka. Ketika sang ibu lelah setelah seharian bekerja, anak-anak menyambutnya dengan persoalan mereka masing-masing.
Masalah biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak menjadi PR besar baginya. Sebetulnya ibu itu masih berharap agar sang suami dapat mengingat tentang ketiga anaknya. Dengan itu semoga dia sadar dan mau kembali. Tetapi semuanya itu adalah harapan yang kosong. Jangankan memberi bantuan keuangan, bertelepon atau sms untuk menyapa darah dagingnya sendiri pun tidak pernah.
Sudah lama sekali si ibu tidak ke gereja karena merasa kecewa dengan Tuhan. Pada suatu Sabtu sore (minggu), dia melihat tetangga-tetangganya ke gereja. Dalam hati kecilnya ada suara yang berkata: “coba sekali ini aja kamu datang datang ke gereja.” Nah...kebetulan bahwa pada saat itu dibawakan dibacakan bacaan-bacaan yang kita dengar tadi.
Dalam homilinya sang pastor berseru: “Bahkan Yesus sendiri pun harus memikul salib-Nya. Dalam penderitaan yang amat mendalam Dia berseru: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.
Apakah dengan seruan itu, Bapa datang membantu dan menolongnya pada saat itu? Seringkali dalam penderitaan hidup ketika Allah seakan tidak menjawab doa-doa kita, kita meresa kecewa. Kita kecewa karena Tuhan sering tidak datang pada saat kita mengharapkan kehadiranNya. Tetapi sungguhkah Tuhan itu telah tuli? Sungguhkah Tuhan bersikap masa bodoh dan tidak mau peduli pada harapan dan doa-doa kita?
Lebih lanjut Pastor berkata: ”Satu kalimat dalam Doa Bapa Kami yang setiap hari kita doakan adalah: “Jadilah kehendak-MU di atas bumi seperti di dalam surga.”. Kehendak Allah macam apakah yang kita harapkan? Bukankah kita selalu mengharapkan kehendak Allah yang baik-baik saja, yang menyenangkan dan membahagiakan kita? Hanya yang baik-baik sajalah yang membuat kita bisa bersyukur. Mengapa ketika kita mengalami peristiwa yang membuat kita berduka, yang menyakitkan dan memedihkan kita, tidak mampu kita terima sebagai satu anugerah-Nya juga?
Sang ibu tersentak dengan renungan itu. Dia merasa ditegur oleh Tuhan. Dalam hatinya dia seolah mendengar suara Tuhan yang berkata: “Semua yang terjadi dalam hidupmu itulah salibmu, maka pikullah!”
“Tetapi Tuhan....salib saya terlalu berat”, keluh sang ibu di dalam hatinya. Dan Tuhan menjawab: “Salibmu memang tidak ringan, tetapi coba lihatlah salib-Ku”. Pikiran sang ibu diajak untuk mengingat sengasara Kristus.... ketika dia berusaha untuk membayangkan penderitaan Yesus, satu per satu luka batinya pun terbalut.
Pada akhir homili sang Romo menyanyikan lagu “the Old Rugged Cross” – Saya yakin kita semua tahu lagu itu.
Pada bagian refrain diulang beberapa kali ...
Reff : Hendaklah kucinta salib-Nya
Sampaiku menghadap tahta-Nya
Tak lagi kulepas salib-Nya
Sampai kutrima mahkota-Nya
Sang ibu tadi tak kuasa menahan air mata, seraya berkata: “Tuhan, walaupun salib ini sungguh berat, tapi saya mau merengkunya demi mahkota kemulian-Mu”
Saudara dan saudariku.
Dari kisah ini saya mau mengajak kita untuk melihat dan bersikap positip terhadap salib hidup kita.
Jangan katakan, “kenapa masalah silih berganti!” tetapi bersyukurlah bahwa Tuhan selalu memberiku masalah, agar saya menjadi kreatif menemukan “solusinya”.
Jangan katakan, kenapa cobaan silih berganti datang, tetapi syukurlah bahwa Tuhan tidak pernah berhenti “mengejutkan” saya sampai terluka jiwaku, agar saya setia pada-Nya kapanpun & di manapun.
Jangan katakan, kenapa hidup rohaniku malah mengering sekarang ini, padahal aku sudah rajin berdoa setiap hari, siang dan malam! Tetapi katakanlah, Tuhan, syukur kepada-Mu Engkau memberiku kesempatan untuk berjalan di padang gurun, saat aku sulit menemukan sumber air. Saat tidak ada sumber air yang engkau cari, di situlah saatnya engkau menemukan sumber air yang sejati. Dialah Tuhan Sang Sumber Air sejati..!
Jangan katakan, kenapa salibku setiap hari selalu bertambah berat, tetapi semakin engkau merasakan beratnya salibmu, itulah pertanda bahwa Tuhan makin percaya padamu!
Dengan memanggul salib hidup, kita mengikuti nasihat santo Paulus dalam bacaan kedua tadi: “supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah”
Saudara-saudaraku.
Mari Saya mengajak kita untuk masuk dalam saat hening, sambil mempersembahkan kepada Tuhan, salib dan penderitaan hidup kita. Pengalaman ibu tadi bahwa ketika dia berusaha untuk membayangkan penderitaan Yesus, satu per satu luka batinya pun terbalut. Semoga ini juga menjadi pengalaman rohani kita pada saat ini.
Lagu: di bukit yang jauh.
Spoken:
Tuhan.....Janganlah aku berdoa agar diluputkan dari bahaya tetapi agar berani untuk menghadapinya. Janganlah aku mohon untuk dihindarkan dari kepedihan tetapi agar mampu menaklukkannya. Janganlah aku mencari teman senasib dalam pergumulan hidup ini tetapi agar mampu berjuang dengan daya upayaku sendiri untuk membangun persaudaraan yang sejati dengan siapa saja. Janganlah aku meminta agar diselamatkan dari keterasingan tetapi agar dengan sabar melangkah menuju ke kebebasanku. Semoga aku tidak menjadi pengecut: tidak hanya sanggup merasakan keagunganMu dalam keberhasilanku tetapi juga dapat merasakan genggamanMu di dalam kegagalanku.
St. Odilia Parish – citra Raya
Saudara dan saudariku
Dalam Bacaan Pertama tadi kita mendengar keluhan nabi Yeremiah: ‘Engkau telah memperdaya aku, ya Tuhan, dan aku telah tertipu…aku telah menjadi tertawaan orang sepanjang hari, semua mereka mengolok-olok dan menghina aku”
Yeremiah dihina karena pemberitaan firman yang ia sampaikan. Setiap kali dia harus berbicara dengan keras bahkan teriak’. Tetapi semuanya sia-sia. Tidak ada yang mendengarkannya. Akhirnya Yeremiah berpikir lebih baik berhenti mewartakan firman Allah daripada saya dijadikan bahan tertawaan orang. Lebih baik saya mengambil sikap diam terhadap segala sesuatu yang terjadi.’ Akan tetapi, ketika ia mengambil sikap diam, - pengakuan Yeremiah - “maka di dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dlam tulang-tulangku, aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup”
Inilah penderitaan atau salib yang dialami oleh nabi Yeremiah sebagai nabi Allah. Dalam Injil hari ini Yesus mengatakan: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku”
Bicara soal salib berarti bicara soal penderitaan. Dan tentu banyak orang tidak suka kalau bicara soal ini, dan tentu tidak mengharapkannya. Tetapi dalam kehidupan ini, sebagai pengikut Yesus, salib memang tidak bisa dihindari. Bahkan dikatakan sebagai hal yang mesti kita tanggung.
Saya mengajak kita untuk mendengarkan sebuah kisah ini: Ada seorang ibu yang ditinggalkan suaminya setelah 11 tahun hidup bersama sebagai suami-istri. Suami memutuskan untuk meninggalkan Tuhan dengan menjadi penganut agama lain supaya bisa menikah lagi. Berikut ini adalah sharing dari ibu itu: “Saya ditinggalkan bersama dengan ketiga anak saya yang masih kecil. Perasaan kecewa, marah, malu, terhina dan putus asa beradu menjadi satu. Belum lagi saya harus menghadapi anak pertama kami yang berumur 9 tahun, dimana anak itu menyimpan dendam dan kebencian yang mendalam kepada ayahnya. Saya juga harus membesarkan anak kedua yang baru berumur 4 tahun dan yang ketiga yang masih bayi.
Saat itu, masyarakat di sekitar tidak henti-hentinya bergossip bahwa semuanya itu terjadi karena kesalahan saya. Keputusan sang suami didukung dengan dalih beribadah ‘ala’ mereka. Saya disudutkan sebagai tersangka karena dianggap tidak becus melayani suami.
Hal yang paling menyakitkan adalah sikap dan perilaku tman-teman seiman. Mereka menghakimi saya karena pernikahan kami terpaksa harus diakhiri di pengadilan. Saya tahu bahwa perceraian semacam itu tidak diakui oleh gereja.
Tanpa menanyakan perasaan saya, mereka semua memvonis saya bahwa saya telah melanggar firman Tuhan.
Jujur...kalau boleh memilih, saya tentu lebih memilih sebagai istri yang dilindungi suami daripada harus menyandang status janda yang ditinggalkan. Lebih lanjut, orang-orang seiman pun menuduh saya sebagai istri yang tidak becus sehingga suami lari meninggalkan Tuhan dan keluarga. Mereka tidak mau melihat perjuangan saya dalam membesarkan ketiga anak saya. Mereka tidak bisa merasakan betapa sulitnya menghadapi anak-anak yang mengalami luka batin dan trauma yang berkepanjangan.”
Saudara dan saudariku
Ibu itu hampir saja meninggalkan imannya. Dia sudah mulai tidak ke gereja lagi. Hal ini berjalan selama beberapa tahun.
Menjalani hidup sebagai single parent tentu tidak mudah. Sang ibu mengalami kelelahan emosi. Rasanya beban hidup semakin berat. Dia berusaha untuk memungut dan merekatkan kembali serpihan-serpihan hati yang dialami oleh anak-anaknya, terutama anak pertama yang hatinya hancur karena tindakan kekerasan ayahnya. Tentang anak pertama ini: dia sempat kehilangan rasa percaya diri akibat perasaan ditolak dan dicampakan oleh ayahnya. Dan hal ini membuat si ibu harus benar-benar sabar dalam mendampinginya.
Belum lagi si bungsu yang memerlukan perhatian khusus. Sang ibu kewalahan menjawab pertanyaan-pertnyaannya. Si bungsu bertanya: “Siapakah ayahnya? Belum lagi kalau ia bertanya: ’Mengapa begitu banyak orang baik kepadanya tetapi tidak ada satupun yang dapat dipanggilnya ayah”
Anak-anak memang baik tetapi terkadang mereka berantem dan merebut perhatian. Mereka belum mengerti betapa beratnya ibu bekerja mencari uang untuk mereka. Ketika sang ibu lelah setelah seharian bekerja, anak-anak menyambutnya dengan persoalan mereka masing-masing.
Masalah biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak menjadi PR besar baginya. Sebetulnya ibu itu masih berharap agar sang suami dapat mengingat tentang ketiga anaknya. Dengan itu semoga dia sadar dan mau kembali. Tetapi semuanya itu adalah harapan yang kosong. Jangankan memberi bantuan keuangan, bertelepon atau sms untuk menyapa darah dagingnya sendiri pun tidak pernah.
Sudah lama sekali si ibu tidak ke gereja karena merasa kecewa dengan Tuhan. Pada suatu Sabtu sore (minggu), dia melihat tetangga-tetangganya ke gereja. Dalam hati kecilnya ada suara yang berkata: “coba sekali ini aja kamu datang datang ke gereja.” Nah...kebetulan bahwa pada saat itu dibawakan dibacakan bacaan-bacaan yang kita dengar tadi.
Dalam homilinya sang pastor berseru: “Bahkan Yesus sendiri pun harus memikul salib-Nya. Dalam penderitaan yang amat mendalam Dia berseru: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.
Apakah dengan seruan itu, Bapa datang membantu dan menolongnya pada saat itu? Seringkali dalam penderitaan hidup ketika Allah seakan tidak menjawab doa-doa kita, kita meresa kecewa. Kita kecewa karena Tuhan sering tidak datang pada saat kita mengharapkan kehadiranNya. Tetapi sungguhkah Tuhan itu telah tuli? Sungguhkah Tuhan bersikap masa bodoh dan tidak mau peduli pada harapan dan doa-doa kita?
Lebih lanjut Pastor berkata: ”Satu kalimat dalam Doa Bapa Kami yang setiap hari kita doakan adalah: “Jadilah kehendak-MU di atas bumi seperti di dalam surga.”. Kehendak Allah macam apakah yang kita harapkan? Bukankah kita selalu mengharapkan kehendak Allah yang baik-baik saja, yang menyenangkan dan membahagiakan kita? Hanya yang baik-baik sajalah yang membuat kita bisa bersyukur. Mengapa ketika kita mengalami peristiwa yang membuat kita berduka, yang menyakitkan dan memedihkan kita, tidak mampu kita terima sebagai satu anugerah-Nya juga?
Sang ibu tersentak dengan renungan itu. Dia merasa ditegur oleh Tuhan. Dalam hatinya dia seolah mendengar suara Tuhan yang berkata: “Semua yang terjadi dalam hidupmu itulah salibmu, maka pikullah!”
“Tetapi Tuhan....salib saya terlalu berat”, keluh sang ibu di dalam hatinya. Dan Tuhan menjawab: “Salibmu memang tidak ringan, tetapi coba lihatlah salib-Ku”. Pikiran sang ibu diajak untuk mengingat sengasara Kristus.... ketika dia berusaha untuk membayangkan penderitaan Yesus, satu per satu luka batinya pun terbalut.
Pada akhir homili sang Romo menyanyikan lagu “the Old Rugged Cross” – Saya yakin kita semua tahu lagu itu.
Pada bagian refrain diulang beberapa kali ...
Reff : Hendaklah kucinta salib-Nya
Sampaiku menghadap tahta-Nya
Tak lagi kulepas salib-Nya
Sampai kutrima mahkota-Nya
Sang ibu tadi tak kuasa menahan air mata, seraya berkata: “Tuhan, walaupun salib ini sungguh berat, tapi saya mau merengkunya demi mahkota kemulian-Mu”
Saudara dan saudariku.
Dari kisah ini saya mau mengajak kita untuk melihat dan bersikap positip terhadap salib hidup kita.
Jangan katakan, “kenapa masalah silih berganti!” tetapi bersyukurlah bahwa Tuhan selalu memberiku masalah, agar saya menjadi kreatif menemukan “solusinya”.
Jangan katakan, kenapa cobaan silih berganti datang, tetapi syukurlah bahwa Tuhan tidak pernah berhenti “mengejutkan” saya sampai terluka jiwaku, agar saya setia pada-Nya kapanpun & di manapun.
Jangan katakan, kenapa hidup rohaniku malah mengering sekarang ini, padahal aku sudah rajin berdoa setiap hari, siang dan malam! Tetapi katakanlah, Tuhan, syukur kepada-Mu Engkau memberiku kesempatan untuk berjalan di padang gurun, saat aku sulit menemukan sumber air. Saat tidak ada sumber air yang engkau cari, di situlah saatnya engkau menemukan sumber air yang sejati. Dialah Tuhan Sang Sumber Air sejati..!
Jangan katakan, kenapa salibku setiap hari selalu bertambah berat, tetapi semakin engkau merasakan beratnya salibmu, itulah pertanda bahwa Tuhan makin percaya padamu!
Dengan memanggul salib hidup, kita mengikuti nasihat santo Paulus dalam bacaan kedua tadi: “supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah”
Saudara-saudaraku.
Mari Saya mengajak kita untuk masuk dalam saat hening, sambil mempersembahkan kepada Tuhan, salib dan penderitaan hidup kita. Pengalaman ibu tadi bahwa ketika dia berusaha untuk membayangkan penderitaan Yesus, satu per satu luka batinya pun terbalut. Semoga ini juga menjadi pengalaman rohani kita pada saat ini.
Lagu: di bukit yang jauh.
Spoken:
Tuhan.....Janganlah aku berdoa agar diluputkan dari bahaya tetapi agar berani untuk menghadapinya. Janganlah aku mohon untuk dihindarkan dari kepedihan tetapi agar mampu menaklukkannya. Janganlah aku mencari teman senasib dalam pergumulan hidup ini tetapi agar mampu berjuang dengan daya upayaku sendiri untuk membangun persaudaraan yang sejati dengan siapa saja. Janganlah aku meminta agar diselamatkan dari keterasingan tetapi agar dengan sabar melangkah menuju ke kebebasanku. Semoga aku tidak menjadi pengecut: tidak hanya sanggup merasakan keagunganMu dalam keberhasilanku tetapi juga dapat merasakan genggamanMu di dalam kegagalanku.
Maria Diangkat ke surga
HARI RAYA MARIA DIANGKAT KE SURGA
Why 11:19a; 12:1, 3-6a 1Kor 15:20-26 Luk 1:39-56
Saudara dan saudariku.
Pada hari ini, kita merayakan peristiwa iman: “Maria diangkat ke Surga”. Kita diajak untuk merenungkan perbuatan besar yang dikerjakan Allah bagi Maria, Bunda Kristus dan Bunda seluruh umat beriman. Kita percaya bahwa Maria telah dipilih Allah sejak awal mula untuk menjadi Bunda PuteraNya, Yesus Kristus. Untuk itu Allah menghindarkannya dari noda dosa asal dan mengangkatnya jauh di atas para malaikat dan orang kudus.
Gereja Katolik percaya bahwa Allah mengangkat Maria ke surga dengan jiwa dan badan, karena peranannya yang luar biasa dalam karya penyelamatan dan penebusan Kristus. Kebenaran iman ini dimaklumkan sebagai dogma dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus oleh Sri Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950.
Saudara dan saudariku
Memang, Maria “Diangkat ke Surga” tidak ada dalam Kitab Suci. Sebab itu, banyak kaum fundamentalis yang menafsirkan Kitab Suci secara harafiah akan mengalami kesulitan dalam memahami keyakinan ini. Nah…untuk bisa percaya akan hal ini, kita harus berdiam diri dan merenungkan peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan. Akan tetapi ada yang mengatakan: ’itukan kebetulan bahwa Allah memilih Maria. Allah bisa memilih siapa saja untuk melahirkan Yesus. Dalam hati saya menjawab: ’emang nenek loe yang dipilih.’ Dari kekal hingga kekal, Allah hanya menemukan seorang yang pantas dan layak untuk melahirkan Yesus yaitu Maria. Dalam bacaan Injil tadi, Maria mengagungkan karya keselamatan Allah yang dikerjakan melalui dia dengan mengatakan: ’Segala keturunan akan menyebut aku bahagia?
Saudara dan saudariku
Peran Maria dalam misteri keselamatan inilah yang menjadi dasar dari keyakinan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.
Saudara dan saudariku
Perlu kita ketahui bahwa Bunda Maria ‘diangkat’ ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga. ‘Diangkat’ berarti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus ‘naik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri.
Bagi kita orang Katolik, peristiwa Bunda Maria diangkat ke surga adalah peringatan akan pengharapan kita akan kebangkitan badan di akhir zaman, di mana kita sebagai orang beriman, jika hidup setia dan taat kepada Allah sampai akhir, maka kitapun akan mengalami kebangkitan jiwa dan raga ke dalam kemuliaan surgawi.
Maka, Dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk menghormati Maria, tetapi doktrin itu mau menunjukkan bahwa Maria adalah anggota Gereja yang pertama yang diangkat ke surga. Jika kita hidup setia melakukan perintah Allah dan bersatu dengan Kristus, seperti Bunda Maria, kitapun pada saat akhir jaman nanti akan diangkat ke surga, jiwa dan badan, seperti dia.
Saya yakin kita semua di sini ingin masuk surga. Masuk surga itu ’gampang-gampang susah.’ Yesus sendiri menegaskan: ”Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada seorang kaya masuk surga.”
Tadi saya katakan ’gampang-gampang susah’ artinya, walaupun sulit tetapi ada juga cara yang mudah. Ada yang tahu cara mudah untuk masuk surga? Saya akan menunjukkan cara yang paling mudah itu yaitu melalui persatuan dengan Maria dan membiarkan diri kita dibentuk oleh Maria.
Saya akan menjelaskan kebenaran iman ini melalui pandangan Maria sebagai Forma Dei. Tetapi sebelum itu, saya ingin bercerita tentang pengalaman saya.
Saya pernah mengunjungi sebuah tempat pembuatan patung di milik Bapak Alamsyah. Di sana saya melihat ada beberapa patung yang terpahat dari batu. Saya pernah bertanya: untuk apa patung-patung ini? Dia menjelaskan bahwa dulu ada beberapa pemahat yang melamar bekerja dan kepada masing-masing saya memberikan sebuah batu marmer yang besar untuk test. Mereka boleh memahat bentuk apapun yang mereka mau. ‘Dari 10 pemahat yang melamar saya hanya memilih satu orang, demikianlah penjelasannya.’
Saudara dan saudariku.
Ada dua cara jika seorang ingin membuat patung. Cara pertama adalah: pemahat dengan keahliannya, ketangkasnya, pengalamannya dan perkakas yang baik dapat memahat patung dari bahan yang keras tak berbentuk menjadi sebuah sosok. Cara yang ini tentu sangat sulit dan memakan waktu yang cukup lama. Sekali salah memahat, dapat merusak seluruh karyanya.
Sedangkan cara yang kedua adalah membuat formanya atau cetak ulangnya. Proses pembuatan forma ini sangat lama, tetapi setelah formanya sudah jadi dan sempurna maka bahan-bahan mudah melentur dituangkan ke dalamnya dan siap dibentuk sesuai dengan formanya itu.
Saudara dan saudariku.
Santo Agustinus mengatakan Maria adalah Forma Dei – cetak tuang Allah yang hidup. Santo Luis Marie de Monfort mengatakan: “Maria adalah ’cetakan Allah yang tak bernoda.”
Mengapa Maria disebut sebagai ’Forma Dei?’ Karena di dalam rahimnya Allah yang menjelma telah terbentuk sebagaimana mestinya tanpa kehilangan sedikit pun dari ke-allahan-Nya. Dan juga hanya dalam Maria, seorang manusia dapat dibentuk dalam Allah sebagaimana mestinya berkat rahmat Yesus Kristus.
Karena itu, tidak ada cara lain yang lebih mudah untuk masuk surga kalau kita sungguh bersatu dengan Maria.
Saudara dan saudariku.
Maria adalah ‘Forma Dei – Cetakan Allah, yang diciptakan oleh Roh Kudus untuk memberi bentuk alamiah kepada Sang Manusia Ilahi Yesus Kristus – dan juga Forma Dei yang memberi bentuk Ilahi kepada manusia lewat rahmat Allah. Maria adalah penuh rahmat.
Saya tertarik dengan doa untuk para imam yang seringkali kita pakai dalam novena Maria Pembantu Abadi: “Semoga Ibu-Mu, Maria, yang dahulu telah menjadi hadiah bagi murid yang Engkau kasihi, kini menjadi hadiah pula bagi setiap imam. Anugerahkanlah supaya dia yang telah membentuk Engkau menjadi wujud manusia, kiranya dapat membentuk mereka pula menjadi wujud Ilahi, oleh kuasa Roh-Mu, menuju kemuliaan Allah Bapa. Amin.”
Doa yang sama dapat kita pakai untuk diri kita sendiri: “Semoga Ibu-Mu, Maria, yang dahulu telah menjadi hadiah bagi murid yang Engkau kasihi, kini menjadi hadiah pula bagi setiap kami. Anugerahkanlah supaya dia yang telah membentuk Engkau menjadi wujud manusia, kiranya dapat membentuk mereka pula menjadi wujud Ilahi, oleh kuasa Roh-Mu, menuju kemuliaan Allah Bapa. Amin.”
Maria adalah ‘cetakan Allah yang sempurna. . Cetakan ini tidak mempunyai kekurangan apapun dari segi Ilahi. Apa saya yang dituangkan ke dalamnya dan mau dibentuk akan menerima ciri-ciri khas Yesus Kristus. Dan semuanya proses itu berjalan dengan lembut dengan memperhitungkan kelemahan manusiawi kita.
Ini adalah cara yang paling aman tanpa resiko menyimpang, karena setan tak pernah dan tak akan pernah menyentuh Maria. Maria adalah suci dan tak bernoda, tanpa cela dosa sedikit pun.
Jadi sekali lagi, agar dapat masuk dalam kemuliaan bersama Maria, kita harus bersatu dengan Maria dan membiarkan diri dibentuk oleh Maria.
Nah...cara untuk bersatu dengan Maria adalah merenungkan peristiwa-peristiwa keselamatan di dalam doa rosario. Doa Rosario adalah doa yang sangat sederhana. Tetapi mungkin karena terlalu sederhana inilah maka kita seringkali mengabaikannya.
Beato Yohanes Paulus II adalah orang yang sangat mencintai Bunda Maria. Dia pernah berkata: Rosary is my favourite prayer. Dalam ensikliknya: Rosarium Virginis Mariae, beliau mengatakan: Rosario adalah sekolah Maria. Melalui rosario, kita membiarkan diri kita dibentuk oleh Maria melalui misteri-misteri Yesus yang kita renungkan.
Saudara dan saudariku
Biasanya kalau kita doa rosario, setelah selesai peristiwa kelima, kita langsung tutup. Ok...sah-sah saja, tetapi di sini saya mau mengatakan bahwa ada sebuah doa yang seringkali tidak kita doakan setelah selesai mendaraskan doa rosario: “Ya Allah, Putera-Mu tunggal telah memperoleh bahagia kekal bagi kami dengan hidup, kematian, serta kebangkitan-Nya; semoga kami dalam merenungkan peristiwa-peristiwa itu dalam doa Rosario Suci Santa Perawan Maria, dapat meneladan isinya dan menerima yang dijanjikan-Nya, Dialah Kristus Tuhan kami.” – Doa ini menjadi bagian integral dari Doa Tesera Legio Mariae.
Saya ingin menggarisbawahi: “semoga kami dalam merenungkan peristiwa-peristiwa itu dalam doa Rosario Suci Santa Perawan Maria, dapat meneladan isinya dan menerima yang dijanjikan-Nya...” Kita berdoa rosario, bukan karena rosario adalah doa yang paling mudah, tetapi karena kita mau meneladan isinya. Hanya dengan cara inilah, kita akan menerima apa yang dijanjikan Tuhan. Melalui Rosario, kita membiarkan diri kita membiarkan diri kita dibentuk oleh Bunda Maria, agar kita pun mendapat kodrat Ilahi berkat rahmat Allah.
Saudara dan saudariku.
“Lihatlah Bundamu” Maria diangkat ke surga lebih merupakan suatu pengingat bagi Gereja bahwa Tuhan kita menghendaki agar mereka semua yang telah diberikan Bapa kepada-Nya dibangkitkan bersama-Nya. Dalam Maria yang diangkat ke surga, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.”
Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga memberikan kepada masing-masing kita pengharapan besar akan masa depan kita bahwa kelak pun akan diangkat ke surga, asalkan selama hidup ini, kita mau membiarkan diri kita dibentuk oleh Bunda Maria.
Ketika merenungkan tentang kebenaran iman ini, saya tiba-tiba teringat akan sebuah lagu Maria. Lagu ini dalam bahasa Inggris. Beberapa katanya dalam Inggris klasik, tetapi artinya kira-kira begini:
Ya Ratu Surgawi yang suci
Di hadapanmu kami bersujud dan memohon
Buatlah kami mencintaimu.
Buatlah kami menjadi milikmu.
Ajarilah kami yang Bunda Suci.
Bagaimana seharusnya melawan godaan dosa.
Bagaimana seharusnya mencintai dan menolong sesama.
Bagaimana memenangkan kehidupan ini.
Kepadamu telah dianugerahkan seorang Putera
Dia lebih besar dari semua anak manusia.
Dia datang dari surga
Untuk menciptakan kembali dunia ini.
Lagu:
Holy Queen, we bend before thee,
Queen of purity divine.
Make us love thee, we implore thee
Make us truly to be thine.
Teach, O teach us, Holy Mother
How to conquer every sin,
How to love and help each other
How the price of life to win.
Thou to whom a child was given
Greater than the sons of men
Coming down from highest heaven
To create the world again.
Why 11:19a; 12:1, 3-6a 1Kor 15:20-26 Luk 1:39-56
Saudara dan saudariku.
Pada hari ini, kita merayakan peristiwa iman: “Maria diangkat ke Surga”. Kita diajak untuk merenungkan perbuatan besar yang dikerjakan Allah bagi Maria, Bunda Kristus dan Bunda seluruh umat beriman. Kita percaya bahwa Maria telah dipilih Allah sejak awal mula untuk menjadi Bunda PuteraNya, Yesus Kristus. Untuk itu Allah menghindarkannya dari noda dosa asal dan mengangkatnya jauh di atas para malaikat dan orang kudus.
Gereja Katolik percaya bahwa Allah mengangkat Maria ke surga dengan jiwa dan badan, karena peranannya yang luar biasa dalam karya penyelamatan dan penebusan Kristus. Kebenaran iman ini dimaklumkan sebagai dogma dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus oleh Sri Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950.
Saudara dan saudariku
Memang, Maria “Diangkat ke Surga” tidak ada dalam Kitab Suci. Sebab itu, banyak kaum fundamentalis yang menafsirkan Kitab Suci secara harafiah akan mengalami kesulitan dalam memahami keyakinan ini. Nah…untuk bisa percaya akan hal ini, kita harus berdiam diri dan merenungkan peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan. Akan tetapi ada yang mengatakan: ’itukan kebetulan bahwa Allah memilih Maria. Allah bisa memilih siapa saja untuk melahirkan Yesus. Dalam hati saya menjawab: ’emang nenek loe yang dipilih.’ Dari kekal hingga kekal, Allah hanya menemukan seorang yang pantas dan layak untuk melahirkan Yesus yaitu Maria. Dalam bacaan Injil tadi, Maria mengagungkan karya keselamatan Allah yang dikerjakan melalui dia dengan mengatakan: ’Segala keturunan akan menyebut aku bahagia?
Saudara dan saudariku
Peran Maria dalam misteri keselamatan inilah yang menjadi dasar dari keyakinan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.
Saudara dan saudariku
Perlu kita ketahui bahwa Bunda Maria ‘diangkat’ ke surga, dan bukan ‘naik’ ke surga. ‘Diangkat’ berarti bukan karena kekuatannya sendiri melainkan diangkat oleh kuasa Allah, sedangkan Yesus ‘naik’ ke surga oleh kekuatan-Nya sendiri.
Bagi kita orang Katolik, peristiwa Bunda Maria diangkat ke surga adalah peringatan akan pengharapan kita akan kebangkitan badan di akhir zaman, di mana kita sebagai orang beriman, jika hidup setia dan taat kepada Allah sampai akhir, maka kitapun akan mengalami kebangkitan jiwa dan raga ke dalam kemuliaan surgawi.
Maka, Dogma Maria diangkat ke surga, bukan semata-mata doktrin untuk menghormati Maria, tetapi doktrin itu mau menunjukkan bahwa Maria adalah anggota Gereja yang pertama yang diangkat ke surga. Jika kita hidup setia melakukan perintah Allah dan bersatu dengan Kristus, seperti Bunda Maria, kitapun pada saat akhir jaman nanti akan diangkat ke surga, jiwa dan badan, seperti dia.
Saya yakin kita semua di sini ingin masuk surga. Masuk surga itu ’gampang-gampang susah.’ Yesus sendiri menegaskan: ”Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada seorang kaya masuk surga.”
Tadi saya katakan ’gampang-gampang susah’ artinya, walaupun sulit tetapi ada juga cara yang mudah. Ada yang tahu cara mudah untuk masuk surga? Saya akan menunjukkan cara yang paling mudah itu yaitu melalui persatuan dengan Maria dan membiarkan diri kita dibentuk oleh Maria.
Saya akan menjelaskan kebenaran iman ini melalui pandangan Maria sebagai Forma Dei. Tetapi sebelum itu, saya ingin bercerita tentang pengalaman saya.
Saya pernah mengunjungi sebuah tempat pembuatan patung di milik Bapak Alamsyah. Di sana saya melihat ada beberapa patung yang terpahat dari batu. Saya pernah bertanya: untuk apa patung-patung ini? Dia menjelaskan bahwa dulu ada beberapa pemahat yang melamar bekerja dan kepada masing-masing saya memberikan sebuah batu marmer yang besar untuk test. Mereka boleh memahat bentuk apapun yang mereka mau. ‘Dari 10 pemahat yang melamar saya hanya memilih satu orang, demikianlah penjelasannya.’
Saudara dan saudariku.
Ada dua cara jika seorang ingin membuat patung. Cara pertama adalah: pemahat dengan keahliannya, ketangkasnya, pengalamannya dan perkakas yang baik dapat memahat patung dari bahan yang keras tak berbentuk menjadi sebuah sosok. Cara yang ini tentu sangat sulit dan memakan waktu yang cukup lama. Sekali salah memahat, dapat merusak seluruh karyanya.
Sedangkan cara yang kedua adalah membuat formanya atau cetak ulangnya. Proses pembuatan forma ini sangat lama, tetapi setelah formanya sudah jadi dan sempurna maka bahan-bahan mudah melentur dituangkan ke dalamnya dan siap dibentuk sesuai dengan formanya itu.
Saudara dan saudariku.
Santo Agustinus mengatakan Maria adalah Forma Dei – cetak tuang Allah yang hidup. Santo Luis Marie de Monfort mengatakan: “Maria adalah ’cetakan Allah yang tak bernoda.”
Mengapa Maria disebut sebagai ’Forma Dei?’ Karena di dalam rahimnya Allah yang menjelma telah terbentuk sebagaimana mestinya tanpa kehilangan sedikit pun dari ke-allahan-Nya. Dan juga hanya dalam Maria, seorang manusia dapat dibentuk dalam Allah sebagaimana mestinya berkat rahmat Yesus Kristus.
Karena itu, tidak ada cara lain yang lebih mudah untuk masuk surga kalau kita sungguh bersatu dengan Maria.
Saudara dan saudariku.
Maria adalah ‘Forma Dei – Cetakan Allah, yang diciptakan oleh Roh Kudus untuk memberi bentuk alamiah kepada Sang Manusia Ilahi Yesus Kristus – dan juga Forma Dei yang memberi bentuk Ilahi kepada manusia lewat rahmat Allah. Maria adalah penuh rahmat.
Saya tertarik dengan doa untuk para imam yang seringkali kita pakai dalam novena Maria Pembantu Abadi: “Semoga Ibu-Mu, Maria, yang dahulu telah menjadi hadiah bagi murid yang Engkau kasihi, kini menjadi hadiah pula bagi setiap imam. Anugerahkanlah supaya dia yang telah membentuk Engkau menjadi wujud manusia, kiranya dapat membentuk mereka pula menjadi wujud Ilahi, oleh kuasa Roh-Mu, menuju kemuliaan Allah Bapa. Amin.”
Doa yang sama dapat kita pakai untuk diri kita sendiri: “Semoga Ibu-Mu, Maria, yang dahulu telah menjadi hadiah bagi murid yang Engkau kasihi, kini menjadi hadiah pula bagi setiap kami. Anugerahkanlah supaya dia yang telah membentuk Engkau menjadi wujud manusia, kiranya dapat membentuk mereka pula menjadi wujud Ilahi, oleh kuasa Roh-Mu, menuju kemuliaan Allah Bapa. Amin.”
Maria adalah ‘cetakan Allah yang sempurna. . Cetakan ini tidak mempunyai kekurangan apapun dari segi Ilahi. Apa saya yang dituangkan ke dalamnya dan mau dibentuk akan menerima ciri-ciri khas Yesus Kristus. Dan semuanya proses itu berjalan dengan lembut dengan memperhitungkan kelemahan manusiawi kita.
Ini adalah cara yang paling aman tanpa resiko menyimpang, karena setan tak pernah dan tak akan pernah menyentuh Maria. Maria adalah suci dan tak bernoda, tanpa cela dosa sedikit pun.
Jadi sekali lagi, agar dapat masuk dalam kemuliaan bersama Maria, kita harus bersatu dengan Maria dan membiarkan diri dibentuk oleh Maria.
Nah...cara untuk bersatu dengan Maria adalah merenungkan peristiwa-peristiwa keselamatan di dalam doa rosario. Doa Rosario adalah doa yang sangat sederhana. Tetapi mungkin karena terlalu sederhana inilah maka kita seringkali mengabaikannya.
Beato Yohanes Paulus II adalah orang yang sangat mencintai Bunda Maria. Dia pernah berkata: Rosary is my favourite prayer. Dalam ensikliknya: Rosarium Virginis Mariae, beliau mengatakan: Rosario adalah sekolah Maria. Melalui rosario, kita membiarkan diri kita dibentuk oleh Maria melalui misteri-misteri Yesus yang kita renungkan.
Saudara dan saudariku
Biasanya kalau kita doa rosario, setelah selesai peristiwa kelima, kita langsung tutup. Ok...sah-sah saja, tetapi di sini saya mau mengatakan bahwa ada sebuah doa yang seringkali tidak kita doakan setelah selesai mendaraskan doa rosario: “Ya Allah, Putera-Mu tunggal telah memperoleh bahagia kekal bagi kami dengan hidup, kematian, serta kebangkitan-Nya; semoga kami dalam merenungkan peristiwa-peristiwa itu dalam doa Rosario Suci Santa Perawan Maria, dapat meneladan isinya dan menerima yang dijanjikan-Nya, Dialah Kristus Tuhan kami.” – Doa ini menjadi bagian integral dari Doa Tesera Legio Mariae.
Saya ingin menggarisbawahi: “semoga kami dalam merenungkan peristiwa-peristiwa itu dalam doa Rosario Suci Santa Perawan Maria, dapat meneladan isinya dan menerima yang dijanjikan-Nya...” Kita berdoa rosario, bukan karena rosario adalah doa yang paling mudah, tetapi karena kita mau meneladan isinya. Hanya dengan cara inilah, kita akan menerima apa yang dijanjikan Tuhan. Melalui Rosario, kita membiarkan diri kita membiarkan diri kita dibentuk oleh Bunda Maria, agar kita pun mendapat kodrat Ilahi berkat rahmat Allah.
Saudara dan saudariku.
“Lihatlah Bundamu” Maria diangkat ke surga lebih merupakan suatu pengingat bagi Gereja bahwa Tuhan kita menghendaki agar mereka semua yang telah diberikan Bapa kepada-Nya dibangkitkan bersama-Nya. Dalam Maria yang diangkat ke surga, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.”
Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga memberikan kepada masing-masing kita pengharapan besar akan masa depan kita bahwa kelak pun akan diangkat ke surga, asalkan selama hidup ini, kita mau membiarkan diri kita dibentuk oleh Bunda Maria.
Ketika merenungkan tentang kebenaran iman ini, saya tiba-tiba teringat akan sebuah lagu Maria. Lagu ini dalam bahasa Inggris. Beberapa katanya dalam Inggris klasik, tetapi artinya kira-kira begini:
Ya Ratu Surgawi yang suci
Di hadapanmu kami bersujud dan memohon
Buatlah kami mencintaimu.
Buatlah kami menjadi milikmu.
Ajarilah kami yang Bunda Suci.
Bagaimana seharusnya melawan godaan dosa.
Bagaimana seharusnya mencintai dan menolong sesama.
Bagaimana memenangkan kehidupan ini.
Kepadamu telah dianugerahkan seorang Putera
Dia lebih besar dari semua anak manusia.
Dia datang dari surga
Untuk menciptakan kembali dunia ini.
Lagu:
Holy Queen, we bend before thee,
Queen of purity divine.
Make us love thee, we implore thee
Make us truly to be thine.
Teach, O teach us, Holy Mother
How to conquer every sin,
How to love and help each other
How the price of life to win.
Thou to whom a child was given
Greater than the sons of men
Coming down from highest heaven
To create the world again.
Minggu Paskah V - Tahun A - 2011
Minggu Paskah ke-5 – Tahun A – 2011
Tonny Blikon
Kis 6:1-7 1 Petrus 2:4-9 Yohanes 14:1-12
Saudara dan saudariku.
Margaret Fishback, seorang guru sekolah dasar untuk anak-anak suku Indian di Kanada, pada suatu ketika menulis sebuah puisi yang telah menjadi inspirasi bagi banyak orang di dunia ini. Puisinya berjudul ‘Footprints on the sand’ Mungkin ada di antara kita yang pernah membaca atau mendengarnya:
Suatu malam seorang pemuda bermimpi. Dia bermimpi berjalan bersama Tuhan di sepanjang pantai. Ketika memandang ke langit, pemuda tersebut melihat tampilan perjalanan hidupnya. Setiap tampilan ia melihat ada dua pasang jejak kaki di pasir: satu adalah jejaknya, dan jejak lainnya adalah jejak Tuhan.
Ketika saat-saat terakhir kehidupannya tampil di hadapannya, dia melihat kembali jejak kaki yang ada di pasir. Dia menyadari bahwa beberapa bagiaan waktu dalam hidupnya hanya terdapat satu pasang jejak kaki. Dia juga menyadari bahwa hal itu terjadi ketika saat-saat paling buruk dan bermasalah dalam hidupnya.
Hal ini menggangu pikirannya dan ia bertanya kepada Tuhan tentang hal tersebut:
“Tuhan, Engkau mengatakan bahwa ketika aku memutuskan untuk mengikutimu, Kau selalu berjalan bersamaku sepanjang waktu. Tetapi aku menyadari bahwa selama masa dimana hidupku penuh dengan masalah dan penderitaan, di sana hanya terdapat satu jejak kaki. Aku tidak mengerti kenapa ketika saat-saat dimana aku membutuhkan Mu Engkau malah meninggalkanku.”
Tuhan menjawab: “Anakku yang aku sayangi, Aku mencintaimu dan Aku tidak pernah meninggalkanmu. Selama masa ujian dan penderitaan, ketika kau hanya melihat sepasang jejak kaki, saat itu Aku memikulmu.”
Saudara dan saudariku
Dari kisah ini saya mau mengatakan bahwa walaupun sebagai orang beriman ada saat-saat tertentu dimana kita merasa bahwa hidup ini berat dan seakan Tuhan jauh. Dalam situasi semacam itu, kita harus percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai kita, walaupun kita tidak merasakannya. Justru pada saat-saat itulah kita memerlukan iman.
Adalah lebih mudah untuk mengakui bahwa kita sungguh percaya kepada Tuhan apabila segala sesuatu di dalam hidup ini berjalan dengan baik sesuai dengan kehendak kita. Tetapi jika kita mengalami kegagalan atau krisis di dalam hidup maka disitulah iman kita diuji: seberapa besar atau seberapa dalam kepercayaan kita kepada Tuhan.
Tidak dapat disangkal bahwa ada beberapa orang yang beranggapan jika kita sungguh percaya kepada Tuhan. Atau jika Tuhan senantiasa menyertai kita maka hidup kita akan bahagia. Kita pasti akan dijauhkan dari masalah-masalah hidup. Orang yang demikian, ketika mengalami krisis atau badai dalam kehidupan ini, berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka. Akhirnya mereka pun meninggalkan Tuhan. Ada cukup banyak orang yang kehilangan iman karena beratnya situasi hidup yang mereka alami.
Saudara dan saudariku
Para murid, pada waktu perjamuam malam terakhir sedang mengalami krisis atau goncangan ketika Yesus mengatakan bahwa Ia akan mati disalibkan. Ketika mendengar hal itu, hati mereka mengalami kegelisahan dan ketakutan. Mereka takut akan masa depan. Yesus tahu situasi para murid-Nya sehingga Ia mempersiapkan mereka untuk mengalami beratnya kehidupan di masa yang akan datang. Yesus katakan: “Janganlah gelisah hatimu. Percayalah kepada Allah, percayalah kepada-Ku juga.” Dan karena para murid adalah orang-orang yang telah percaya kepada Yesus, maka sebetulnya pada waktu itu Yesus mengatakan hendaknya kamu semakin teguh percaya kepada Allah dan juga kepada-Ku.”
Saudara dan saudariku
Seorang imam menceritakan pengalaman pastoralnya berikut ini: Belum lama ini, ia mengujungi seorang ibu yang bertemu dengannya dua minggu yang lalu. Ibu itu berumur kira-kira 60 tahun. Romo itu sempat kaget karena melihat keadaan tempat tinggalnya. Ternyata selama ini ia bekerja sebagai tukang cuci di sebuah keluarga untuk membiayai suaminya yang sedang sakit. Ia baru saja berhenti dari pekerjaan itu karena marasa mata kirinya mulai buta. Ia tetap bergembira walaupun dalam keadaan tidak sehat. Sekarang ini ia menjual sayur-sayuran di rumahnya. Sambil menjajakan barang dagangannya ia mendendangkan sebuah lagu kesukaannya: “Pujilah Tuhan, Allah Bapa, Allah Putera, Allah Roh Kudus”. “Ibu, mengapa ibu masih sanggup bekerja dengan gembira walaupun ibu dalam keadaan sakit?”, tanya sang Romo. Jawaban yang tak terduga terlontar dari mulutnya: “Romo, Yesus adalah Tuhan Yang hidup dan Mahakuasa. Karena itu, saya tidak boleh takut dengan kehidupan!” Jawaban ibu yang sederhana itu jauh lebih jelas atas pertanyaan tentang Tuhan daripada uraian yang diberikan oleh banyak ahli Theologi, Kitab Suci dan Spiritualitas lulusan Roma.
Saudara dan saudariku.
Dari jawaban sang ibu tadi, kita bisa melihat contoh iman yang teguh kepada Allah. Iman itu terungkap dalam keikhlasan dan penyerahan dirinya kepada Tuhan. Iman itu teruji di dalam perjuangan hidup yang ia alami.
Ketika kita mengalami kesulitan hidup, tak ada yang dapat kita buat selain percaya teguh dan berharap kepada Allah. Dengan demikian, hidup yang seakan tak tertanggungkan itu akhirnya toh dapat dijalani dengan penuh semangat dan kegelapan yang kita alami semakin lama semakin bersinar.
Hidup ini tidak dapat dipahami dan tidak dapat ditanggung jika tanpa Allah. Itulah sebabnya iman adalah hal yang sangat penting di dalam hidup ini.
Orang yang memiliki iman akan juga memiliki sumber penghiburan dan inspirasi, terutama ketika masalah-masalah muncul di dalam hidup ini. Mereka tahu bahwa Allah akan berbuat baik kepada mereka diakhir perjuangan hidup baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Jadi, sebetulnya bukan kitalah yang memelihara iman tetapi imanlah yang memelihara kita.
Mahatma Gandi pernah berkata: ‘seorang yang memiliki iman kepada Allah tidak akan pernah putus asa karena ia percaya bahwa Allah akan membuat segala sesuatu menjadi baik.’
Kecemasan dan kekuatiran ini seringkali melanda hidup kita. Kekuatiran ini muncul karena iman kita lemah. Kita terlalu terfokus pada diri sendiri dan kurang mengandalkan Allah di dalam hidup ini sehingga banyak kali di dalam kitab suci dikatakan jangan cemas.
Saudara dan saudariku
Jika kita mengandalkan Yesus di dalam hidup ini, maka kita tidak akan terlalu cemas dan kuatir akan setiap persoalan yang kita hadapi. Allah memang tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita akan bebas dari persoalan-persoalan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan bagi orang yang berharap kepada-Nya.
Saudara dan saudariku
Terkadang kita berkata: “Tuhan, saya sudah cape dengan masalah yang terus bergantian”
Tetapi Yesus dalam Mat 11:28 mengatakan: “Datanglah kepada-Ku kalian semua yang letih lesuh dan berbeban berat, maka aku akan melegahkan kamu.”
Terkadang kita berkata: “Tuhan, saya sudah tidak bisa lagi bertahan dengan semua persoalan hidup ini.”
Tetapi Yesus berkata kepada kita, "Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."
Terkadang kita mengleuh kepada Tuhan tentang beratnya beban kehidupan.
Tetapi rasul Paulus mengatakan: “segala sesuatu dapat kutanggung dalam Dia yang memberikan aku kekuatan” Fil 4:13
Juga dalam Fil 4:19 rasul Paulus menulis: “Allahku akan memenuhi segala keperluan-mu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus”
Kadang kita mengatakan: “saya kuatir dan takut untuk menghadapi masa depan saya,
Tetapi dalam 2 Tim 1:7 kita baca: “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
Terkadang kita merasa seakan berjalan sendirian dan ditinggalkan oleh Tuhan sebagaiman dalam puisi footprints on the sand.
Tetapi di dalam Ibrani 13:5 Allah katakan: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
Ketika merenungkan bacaan Injil hari ini untuk mempersiapkan renungan ini, saya teringat akan sebuah lagu yang ketika masih sebagai frater seringkali saya nyanyikan. Pada saat saya merasa berat untuk terus melangkah dijalan panggilan ini, ketika saya merasa sulit untuk berdoa, saya hanya datang ke kapel, menghidupkan organ dan menyanyikan lagu ini. Terkadang saya mengulangi lagu ini sampai beberapa kali dan tanpa saya sadari air mata menetes di pipi saya... semoga lagu ini juga menjadi sumber inspirasi bagi kalian semua untuk semakin teguh percaya dan berharap kepada Allah. Mari kita simak isi lagu ini.
Bila kau melangkah dalam badai gelap
Teguhkanlah hatimu tetap.
Badai akan lenyap tampak langit terang
Suara unggas terdengar merdu.
Walau angin keras dan hujan yang deras
Segala harapan pudarlah
Langkahkan terus dan percayalah
Kau tak seorang dirilah…
Tonny Blikon
Kis 6:1-7 1 Petrus 2:4-9 Yohanes 14:1-12
Saudara dan saudariku.
Margaret Fishback, seorang guru sekolah dasar untuk anak-anak suku Indian di Kanada, pada suatu ketika menulis sebuah puisi yang telah menjadi inspirasi bagi banyak orang di dunia ini. Puisinya berjudul ‘Footprints on the sand’ Mungkin ada di antara kita yang pernah membaca atau mendengarnya:
Suatu malam seorang pemuda bermimpi. Dia bermimpi berjalan bersama Tuhan di sepanjang pantai. Ketika memandang ke langit, pemuda tersebut melihat tampilan perjalanan hidupnya. Setiap tampilan ia melihat ada dua pasang jejak kaki di pasir: satu adalah jejaknya, dan jejak lainnya adalah jejak Tuhan.
Ketika saat-saat terakhir kehidupannya tampil di hadapannya, dia melihat kembali jejak kaki yang ada di pasir. Dia menyadari bahwa beberapa bagiaan waktu dalam hidupnya hanya terdapat satu pasang jejak kaki. Dia juga menyadari bahwa hal itu terjadi ketika saat-saat paling buruk dan bermasalah dalam hidupnya.
Hal ini menggangu pikirannya dan ia bertanya kepada Tuhan tentang hal tersebut:
“Tuhan, Engkau mengatakan bahwa ketika aku memutuskan untuk mengikutimu, Kau selalu berjalan bersamaku sepanjang waktu. Tetapi aku menyadari bahwa selama masa dimana hidupku penuh dengan masalah dan penderitaan, di sana hanya terdapat satu jejak kaki. Aku tidak mengerti kenapa ketika saat-saat dimana aku membutuhkan Mu Engkau malah meninggalkanku.”
Tuhan menjawab: “Anakku yang aku sayangi, Aku mencintaimu dan Aku tidak pernah meninggalkanmu. Selama masa ujian dan penderitaan, ketika kau hanya melihat sepasang jejak kaki, saat itu Aku memikulmu.”
Saudara dan saudariku
Dari kisah ini saya mau mengatakan bahwa walaupun sebagai orang beriman ada saat-saat tertentu dimana kita merasa bahwa hidup ini berat dan seakan Tuhan jauh. Dalam situasi semacam itu, kita harus percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai kita, walaupun kita tidak merasakannya. Justru pada saat-saat itulah kita memerlukan iman.
Adalah lebih mudah untuk mengakui bahwa kita sungguh percaya kepada Tuhan apabila segala sesuatu di dalam hidup ini berjalan dengan baik sesuai dengan kehendak kita. Tetapi jika kita mengalami kegagalan atau krisis di dalam hidup maka disitulah iman kita diuji: seberapa besar atau seberapa dalam kepercayaan kita kepada Tuhan.
Tidak dapat disangkal bahwa ada beberapa orang yang beranggapan jika kita sungguh percaya kepada Tuhan. Atau jika Tuhan senantiasa menyertai kita maka hidup kita akan bahagia. Kita pasti akan dijauhkan dari masalah-masalah hidup. Orang yang demikian, ketika mengalami krisis atau badai dalam kehidupan ini, berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka. Akhirnya mereka pun meninggalkan Tuhan. Ada cukup banyak orang yang kehilangan iman karena beratnya situasi hidup yang mereka alami.
Saudara dan saudariku
Para murid, pada waktu perjamuam malam terakhir sedang mengalami krisis atau goncangan ketika Yesus mengatakan bahwa Ia akan mati disalibkan. Ketika mendengar hal itu, hati mereka mengalami kegelisahan dan ketakutan. Mereka takut akan masa depan. Yesus tahu situasi para murid-Nya sehingga Ia mempersiapkan mereka untuk mengalami beratnya kehidupan di masa yang akan datang. Yesus katakan: “Janganlah gelisah hatimu. Percayalah kepada Allah, percayalah kepada-Ku juga.” Dan karena para murid adalah orang-orang yang telah percaya kepada Yesus, maka sebetulnya pada waktu itu Yesus mengatakan hendaknya kamu semakin teguh percaya kepada Allah dan juga kepada-Ku.”
Saudara dan saudariku
Seorang imam menceritakan pengalaman pastoralnya berikut ini: Belum lama ini, ia mengujungi seorang ibu yang bertemu dengannya dua minggu yang lalu. Ibu itu berumur kira-kira 60 tahun. Romo itu sempat kaget karena melihat keadaan tempat tinggalnya. Ternyata selama ini ia bekerja sebagai tukang cuci di sebuah keluarga untuk membiayai suaminya yang sedang sakit. Ia baru saja berhenti dari pekerjaan itu karena marasa mata kirinya mulai buta. Ia tetap bergembira walaupun dalam keadaan tidak sehat. Sekarang ini ia menjual sayur-sayuran di rumahnya. Sambil menjajakan barang dagangannya ia mendendangkan sebuah lagu kesukaannya: “Pujilah Tuhan, Allah Bapa, Allah Putera, Allah Roh Kudus”. “Ibu, mengapa ibu masih sanggup bekerja dengan gembira walaupun ibu dalam keadaan sakit?”, tanya sang Romo. Jawaban yang tak terduga terlontar dari mulutnya: “Romo, Yesus adalah Tuhan Yang hidup dan Mahakuasa. Karena itu, saya tidak boleh takut dengan kehidupan!” Jawaban ibu yang sederhana itu jauh lebih jelas atas pertanyaan tentang Tuhan daripada uraian yang diberikan oleh banyak ahli Theologi, Kitab Suci dan Spiritualitas lulusan Roma.
Saudara dan saudariku.
Dari jawaban sang ibu tadi, kita bisa melihat contoh iman yang teguh kepada Allah. Iman itu terungkap dalam keikhlasan dan penyerahan dirinya kepada Tuhan. Iman itu teruji di dalam perjuangan hidup yang ia alami.
Ketika kita mengalami kesulitan hidup, tak ada yang dapat kita buat selain percaya teguh dan berharap kepada Allah. Dengan demikian, hidup yang seakan tak tertanggungkan itu akhirnya toh dapat dijalani dengan penuh semangat dan kegelapan yang kita alami semakin lama semakin bersinar.
Hidup ini tidak dapat dipahami dan tidak dapat ditanggung jika tanpa Allah. Itulah sebabnya iman adalah hal yang sangat penting di dalam hidup ini.
Orang yang memiliki iman akan juga memiliki sumber penghiburan dan inspirasi, terutama ketika masalah-masalah muncul di dalam hidup ini. Mereka tahu bahwa Allah akan berbuat baik kepada mereka diakhir perjuangan hidup baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Jadi, sebetulnya bukan kitalah yang memelihara iman tetapi imanlah yang memelihara kita.
Mahatma Gandi pernah berkata: ‘seorang yang memiliki iman kepada Allah tidak akan pernah putus asa karena ia percaya bahwa Allah akan membuat segala sesuatu menjadi baik.’
Kecemasan dan kekuatiran ini seringkali melanda hidup kita. Kekuatiran ini muncul karena iman kita lemah. Kita terlalu terfokus pada diri sendiri dan kurang mengandalkan Allah di dalam hidup ini sehingga banyak kali di dalam kitab suci dikatakan jangan cemas.
Saudara dan saudariku
Jika kita mengandalkan Yesus di dalam hidup ini, maka kita tidak akan terlalu cemas dan kuatir akan setiap persoalan yang kita hadapi. Allah memang tidak pernah menjanjikan bahwa hidup kita akan bebas dari persoalan-persoalan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan bagi orang yang berharap kepada-Nya.
Saudara dan saudariku
Terkadang kita berkata: “Tuhan, saya sudah cape dengan masalah yang terus bergantian”
Tetapi Yesus dalam Mat 11:28 mengatakan: “Datanglah kepada-Ku kalian semua yang letih lesuh dan berbeban berat, maka aku akan melegahkan kamu.”
Terkadang kita berkata: “Tuhan, saya sudah tidak bisa lagi bertahan dengan semua persoalan hidup ini.”
Tetapi Yesus berkata kepada kita, "Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."
Terkadang kita mengleuh kepada Tuhan tentang beratnya beban kehidupan.
Tetapi rasul Paulus mengatakan: “segala sesuatu dapat kutanggung dalam Dia yang memberikan aku kekuatan” Fil 4:13
Juga dalam Fil 4:19 rasul Paulus menulis: “Allahku akan memenuhi segala keperluan-mu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus”
Kadang kita mengatakan: “saya kuatir dan takut untuk menghadapi masa depan saya,
Tetapi dalam 2 Tim 1:7 kita baca: “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
Terkadang kita merasa seakan berjalan sendirian dan ditinggalkan oleh Tuhan sebagaiman dalam puisi footprints on the sand.
Tetapi di dalam Ibrani 13:5 Allah katakan: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”
Ketika merenungkan bacaan Injil hari ini untuk mempersiapkan renungan ini, saya teringat akan sebuah lagu yang ketika masih sebagai frater seringkali saya nyanyikan. Pada saat saya merasa berat untuk terus melangkah dijalan panggilan ini, ketika saya merasa sulit untuk berdoa, saya hanya datang ke kapel, menghidupkan organ dan menyanyikan lagu ini. Terkadang saya mengulangi lagu ini sampai beberapa kali dan tanpa saya sadari air mata menetes di pipi saya... semoga lagu ini juga menjadi sumber inspirasi bagi kalian semua untuk semakin teguh percaya dan berharap kepada Allah. Mari kita simak isi lagu ini.
Bila kau melangkah dalam badai gelap
Teguhkanlah hatimu tetap.
Badai akan lenyap tampak langit terang
Suara unggas terdengar merdu.
Walau angin keras dan hujan yang deras
Segala harapan pudarlah
Langkahkan terus dan percayalah
Kau tak seorang dirilah…
Langganan:
Postingan (Atom)