Refleksi Pastoral
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC.
Sore itu aku menyetir mobil sendirian menuju sebuah rumah panggung yang telah tua usianya. Rumah panggung ini merupakan rumah kas orang Chinese Benteng pada jaman dahulu. Di depan rumah itu terdapat beberapa pohon mangga yang tinggi dan besar, tetapi rimbun yang menandakannya sudah berumur ratusan tahun. Rumah itu terletak di tanah luas yang ditumbuhi banyak pohon-pohon liar. Ada suasana mistik yang membuat bulu kuduk berdiri bagi orang yang baru pertama kali mendatanginya.
Rumah itu sepi sekali. Aku ketok pintunya berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Aku kelilingi rumah itu sambil mengucapkan “Shalloom”. Hatiku riang sekali melihat sebuah jendela rumah itu terbuka. Aku melihat dari jendela itu seorang ibu yang kelihatan sudah tua walaupun baru berumur lima puluh lima tahun. Ia pernah bertemu denganku pada Misa pagi. Dengan kaca mata “plus” produksi lama, ia asyik sekali menjahit sebuah baju dengan mesin jahit yang sudah tua. Ia menjahit sambil menyanyikan lagu rohani “Ku Tak Dapat Jalan Sendiri” dan sekali-kali membuka Kitab Suci. Menyanyikan lagu-lagu rohani dan membaca Kitab Suci merupakan doanya untuk meminta berkat dari Tuhan. Berkat Tuhan mengalir baginya melalui mesin jahit tuanya. Mesin jahit itu menopang kehidupan keluarganya. Mesin jahit itu telah menghidupi dan menyekolahkan putera satu-satunya sampai lulus akademi pariwisata. Puteranya itu lahir ketika ia berusia tiga puluh tahun. Suaminya itu menderita sakit jiwa, tidak lama setelah kelahiran puteranya. Orangtuanya membawanya pulang ke rumahnya sampai sekarang agar mendapatkan ketenangan. Di dalam kesederhanaannya, ia pantang meminta-minta atau meminjam uang ke mana-mana untuk memenuhi kebutuhannya. “Romo, aku tidak akan pernah meminta-minta karena aku tidak pernah merasa kekurangan. Meminta-minta kepada manusia akan menghambat berkat Tuhan. Hanya kepada Tuhan aku memohon apa yang aku butuhkan karena Dialah gudang berkat bagi anak-anak-Nya”, katanya dengan hati yang mantap. Tuhan memang luar biasa. Walaupun sekarang ini tukang jahit kurang laku, banyak karyawan meminta tolong kepadanya untuk memperbaiki kancing baju atau kancing celana yang rusak.
Hatinya sekarang sedang galau karena puteranya itu akan menikah dengan seorang gadis dari keluarga yang sangat kaya. Ia akan tinggal bersama mertuanya di tempat yang berbeda. Perasaan minder, perasaan kehilangan, dan perasaan takut kesepian bercampur aduk menjadi satu. Satu-satunya yang dapat melegakan hatinya adalah mengiringi pernikahan anaknya dengan doa. Setelah ibadat singkat bagi anak dan calon menantunya, ia menyampaikan ungkapan hatinya : “Segala sesuatu di dunia ini akan sirna, hanya Tuhanlah yang kekal. Hidup di dunia ini hanya sementara. Aku yakin surga yang aku cita-citakan sudah di depan mata. Kunciku untuk masuk Rumah Bapa adalah mesin jahit tua. Melalui mesin jahit tua ini, aku telah memuji Tuhan dan mengabdi sesama. Tuhan telah mengubah mesin jahitku yang sederhana menjadi luar biasa”. Tuhan telah memulihkan kepercayaan dirinya.
Perjumpaanku dengan ibu yang luar biasa itu telah membawaku masuk ke wilayah iman. Tuhan telah melakukan banyak hal yang luar biasa. Yang biasa akan diubah menjadi luar biasa oleh Tuhan. Tuhan menciptakan aku bukan hanya untuk menjadi manusia tipe standard, biasa-biasa saja, tetapi menjadi manusia yang luar biasa. Luar biasa bukan untuk kemuliaan diri, tetapi untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Tuhan telah memperlengkapi aku dengan apa yang aku butuhkan untuk menjadi manusia yang luar biasa. Cinta akan Tuhan dan sesama merupakan kunci untuk membuka perlengkapan-pelengkapan yang ada. Karena itu, hinaan dan kegagalan tidak akan membuatku minder atau terkapar karena Tuhan menyertaiku untuk menjadi manusia yang luar biasa : “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu; janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi” (Yosua 1:9). Pesan spiritual : Jangan puas menjadi istri biasa-biasa, menjadi suami biasa-biasa, orangtua biasa-biasa, anak biasa-biasa, umat katolik biasa-biasa, pastor biasa-biasa, tetapi jadilah istri yang luar biasa, suami yang luar biasa, anak yang luar biasa, umat katolik yang luar biasa, pastor yang luar biasa. Intinya : Jangan puas menjadi manusia biasa, tetapi jadilah manusia yang luar biasa untuk memancarkan Tuhan yang luar biasa. Tuhan memberkati.
Tuhan Memegang Tanganku
Sharing Pastoral
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC
Hari itu merupakan hari yang melelahkan sekali. Konseling memenuhi agendaku pagi itu. Tak lama kemudian seorang ketua lingkungan memintaku membawa seorang ibu yang sangat sederhana ke rumah sakit karena pendarahan hebat. Suaminya bekerja sebagai buruh pabrik di Cikarang dan seminggu sekali baru pulang ke rumah. Setelah menyelesaikan urusan dengan rumah sakit itu, aku harus mengirim sembako bagi umat yang membutuhkan. Pada siang harinya aku memimpin Misa pelepasan jenasah seorang bapak yang aku kenal di Bandung pada waktu aku masih frater. Dalam keadaan lelah, godaan manusiawi muncul dalam diriku : “Apakah orang-orang yang aku layani ini nanti masih mengingat aku ketika aku sudah rapuh karena penyakit menggerogotiku dan tidak mempunyai apa-apa lagi untuk ditawarkan kepada mereka ?” Aku pun tertidur di meja kerjaku. Tuhan muncul dalam mimpiku sore itu. Ia menepok bahuku : “Jangan pikirkan apakah orang mengingat apa yang engkau lakukan supaya semangat pelayananmu tidak goyah !”. Mimpi itu mengambil bebanku. Kejernihan pikiran spiritualku dipulihkan. Aku sadar bahwa iblis ingin membunuh antusiasme dalam pelayananku dengan menyodorkan perntanyaan apakah yang aku lakukan ini ada artinya. Aku kini hanya ingin melayani sesamaku sebaik-baiknya agar mereka mengalami diri berharga di mata Tuhan. Kalaupun ada yang mengingatku, itu adalah bonus dan bukan tujuan pelayananku.
Bonus dari Tuhan itu datang saat itu juga. Sepasang suami istri dari Paroki Santa Maria Tangerang ingin bertemu denganku. Mereka berjualan kain di pasar Cikupa. Aku menikahkan mereka lima tahun silam. Aku membantunya dalam persiapan upacara pernikahan mereka karena sang istri adalah satu-satunya yang beragama katolik sehingga tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Keterlibatanku dalam persiapan upacara pernikahan mereka rupanya mengesankan mereka sehingga mereka sudah bertahun-tahun mencoba dengan berbagai cara untuk menemukan keberadaanku. Mereka ingin menyampaikan kabar gembira kepadaku bahwa sang suami telah menjadi katolik seperti dijanjikannya sebelum pernikahan. Kami dipenuhi dengan kegembiraan sehingga tidak terasa kami ngobrol selama dua jam. Kesaksian tentang pergumulan iman sang istri menjadi fokus obrolan kami.
Ia lahir dan bertumbuh di dalam keluarga yang sangat sederhana, tanpa ayah. Ayahnya meninggal dunia ketika adiknya yang ketujuh lahir ke dunia karena penyakit komplikasi. Ia tidak mengalami indahnya masa remaja karena harus membantu ibunya membuat kue untuk dijajakan keliling. Dalam kesulitan hidup, ia bersyukur dianugerahi seorang ibu yang tulus dan tegar dalam berjuang untuk menghidupi dan menyekolahkan ketujuh anaknya. Krisis moneter pada tahun 1998 membuat ekonomi keluarganya semakin sulit. Pada waktu itu, ia duduk di kelas dua SMP. Jualan kuenya terus merugi. Ibunya terpaksa mengkontrakkan rumahnya untuk menopang kehidupan keluarganya. Hasil dari kontrakan rumahnya tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Tanpa sepengetahuan ibunya, ia bekerja setelah pulang sekolah, seperti tanpa malu-malu menawarkan diri untuk membersihkan rumah tetangganya. Tuhan memberkati hatinya yang tulus. Ia mendapatkan beasiswa, yaitu bebas biaya sekolah sejak SMP sampai lulus universitas. Refleksinya dari petualangan imannya sangat indah : “Tuhan selalu membantu umat-Nya yang berserah diri kepadaNya. Ketika badai menerjang kehidupan dan hidup sudah berada dalam jurang, Dia senantiasa memegang tangan kita. Ia menopang semua beban berat kita. Dia adalah Bapa yang peduli terhadap anak-Nya. Karena itu, jangan kuatir akan hari esok karena Dia mempunyai rencana yang indah dan terbaik bagi kita”.
Iman dan harapannya sedang dipertajam dengan kesabaran. Ia belum dikaruniai anak walaupun usia pernikahannya sudah menginjak lima tahun. Kista sepanjang 3,5 cm menjadi penghambat kehamilannya. Ia menjalani operasi laparascopy (operasi tanpa sayatan). Walaupun paska operasinya sudah berlangsung satu tahun, tanda-tanda kehamilan belum tampak padanya. Ia tetap percaya akan rencana terbaik Tuhan. Hadiah yang terindah adalah suaminya menjadi seorang katolik setelah mengikuti persiapan yang panjang. “Aku yakin bahwa Tuhan akan memberikan anak supaya dididik dalam jalan-Nya pada keluarga katolik. Harapanku akan terwujud ketika aku tetap beriman. Buah kesabaran adalah sukacita”, katanya penuh keyakinan.
Tuhan pada waktunya akan meratakan jalan kehidupan . Kehidupan yang sulit tiba-tiba terasa mudah. Kebuntuan tiba-tiba ada jalannya. Aku merasakan beban hidupku diangkat dan hidupku pun ringan. Aku adalah harta kesayangan Tuhan sehingga Ia mengurapiku dengan minyak : “Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak ; pialaku penuh melimpah” (Mazmur 23:5). MinyakTuhan adalah kasih-Nya yang membersihkan karat-karat kehidupan, seperti penderitaan dan kesulitan, sehingga jalan menuju kehidupan yang lebih baik semakin hari akan semakin lebih mudah atau lebih licin. Tetaplah berpegang pada iman, tidak menyerah dengan keadaan, maka cita-cita dan harapan akan menjadi kenyataan. Berkat Tuhan akan mengikuti sepanjang masa. Pelayanan kepada sesama merupakan ungkapan syukur atas apa yang diterima dari Tuhan, tanpa mengharapkan untuk diingat karena semuanya adalah milik-Nya. Itulah kunci kebahagiaan. Tuhan memberkati.
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC
Hari itu merupakan hari yang melelahkan sekali. Konseling memenuhi agendaku pagi itu. Tak lama kemudian seorang ketua lingkungan memintaku membawa seorang ibu yang sangat sederhana ke rumah sakit karena pendarahan hebat. Suaminya bekerja sebagai buruh pabrik di Cikarang dan seminggu sekali baru pulang ke rumah. Setelah menyelesaikan urusan dengan rumah sakit itu, aku harus mengirim sembako bagi umat yang membutuhkan. Pada siang harinya aku memimpin Misa pelepasan jenasah seorang bapak yang aku kenal di Bandung pada waktu aku masih frater. Dalam keadaan lelah, godaan manusiawi muncul dalam diriku : “Apakah orang-orang yang aku layani ini nanti masih mengingat aku ketika aku sudah rapuh karena penyakit menggerogotiku dan tidak mempunyai apa-apa lagi untuk ditawarkan kepada mereka ?” Aku pun tertidur di meja kerjaku. Tuhan muncul dalam mimpiku sore itu. Ia menepok bahuku : “Jangan pikirkan apakah orang mengingat apa yang engkau lakukan supaya semangat pelayananmu tidak goyah !”. Mimpi itu mengambil bebanku. Kejernihan pikiran spiritualku dipulihkan. Aku sadar bahwa iblis ingin membunuh antusiasme dalam pelayananku dengan menyodorkan perntanyaan apakah yang aku lakukan ini ada artinya. Aku kini hanya ingin melayani sesamaku sebaik-baiknya agar mereka mengalami diri berharga di mata Tuhan. Kalaupun ada yang mengingatku, itu adalah bonus dan bukan tujuan pelayananku.
Bonus dari Tuhan itu datang saat itu juga. Sepasang suami istri dari Paroki Santa Maria Tangerang ingin bertemu denganku. Mereka berjualan kain di pasar Cikupa. Aku menikahkan mereka lima tahun silam. Aku membantunya dalam persiapan upacara pernikahan mereka karena sang istri adalah satu-satunya yang beragama katolik sehingga tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Keterlibatanku dalam persiapan upacara pernikahan mereka rupanya mengesankan mereka sehingga mereka sudah bertahun-tahun mencoba dengan berbagai cara untuk menemukan keberadaanku. Mereka ingin menyampaikan kabar gembira kepadaku bahwa sang suami telah menjadi katolik seperti dijanjikannya sebelum pernikahan. Kami dipenuhi dengan kegembiraan sehingga tidak terasa kami ngobrol selama dua jam. Kesaksian tentang pergumulan iman sang istri menjadi fokus obrolan kami.
Ia lahir dan bertumbuh di dalam keluarga yang sangat sederhana, tanpa ayah. Ayahnya meninggal dunia ketika adiknya yang ketujuh lahir ke dunia karena penyakit komplikasi. Ia tidak mengalami indahnya masa remaja karena harus membantu ibunya membuat kue untuk dijajakan keliling. Dalam kesulitan hidup, ia bersyukur dianugerahi seorang ibu yang tulus dan tegar dalam berjuang untuk menghidupi dan menyekolahkan ketujuh anaknya. Krisis moneter pada tahun 1998 membuat ekonomi keluarganya semakin sulit. Pada waktu itu, ia duduk di kelas dua SMP. Jualan kuenya terus merugi. Ibunya terpaksa mengkontrakkan rumahnya untuk menopang kehidupan keluarganya. Hasil dari kontrakan rumahnya tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Tanpa sepengetahuan ibunya, ia bekerja setelah pulang sekolah, seperti tanpa malu-malu menawarkan diri untuk membersihkan rumah tetangganya. Tuhan memberkati hatinya yang tulus. Ia mendapatkan beasiswa, yaitu bebas biaya sekolah sejak SMP sampai lulus universitas. Refleksinya dari petualangan imannya sangat indah : “Tuhan selalu membantu umat-Nya yang berserah diri kepadaNya. Ketika badai menerjang kehidupan dan hidup sudah berada dalam jurang, Dia senantiasa memegang tangan kita. Ia menopang semua beban berat kita. Dia adalah Bapa yang peduli terhadap anak-Nya. Karena itu, jangan kuatir akan hari esok karena Dia mempunyai rencana yang indah dan terbaik bagi kita”.
Iman dan harapannya sedang dipertajam dengan kesabaran. Ia belum dikaruniai anak walaupun usia pernikahannya sudah menginjak lima tahun. Kista sepanjang 3,5 cm menjadi penghambat kehamilannya. Ia menjalani operasi laparascopy (operasi tanpa sayatan). Walaupun paska operasinya sudah berlangsung satu tahun, tanda-tanda kehamilan belum tampak padanya. Ia tetap percaya akan rencana terbaik Tuhan. Hadiah yang terindah adalah suaminya menjadi seorang katolik setelah mengikuti persiapan yang panjang. “Aku yakin bahwa Tuhan akan memberikan anak supaya dididik dalam jalan-Nya pada keluarga katolik. Harapanku akan terwujud ketika aku tetap beriman. Buah kesabaran adalah sukacita”, katanya penuh keyakinan.
Tuhan pada waktunya akan meratakan jalan kehidupan . Kehidupan yang sulit tiba-tiba terasa mudah. Kebuntuan tiba-tiba ada jalannya. Aku merasakan beban hidupku diangkat dan hidupku pun ringan. Aku adalah harta kesayangan Tuhan sehingga Ia mengurapiku dengan minyak : “Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak ; pialaku penuh melimpah” (Mazmur 23:5). MinyakTuhan adalah kasih-Nya yang membersihkan karat-karat kehidupan, seperti penderitaan dan kesulitan, sehingga jalan menuju kehidupan yang lebih baik semakin hari akan semakin lebih mudah atau lebih licin. Tetaplah berpegang pada iman, tidak menyerah dengan keadaan, maka cita-cita dan harapan akan menjadi kenyataan. Berkat Tuhan akan mengikuti sepanjang masa. Pelayanan kepada sesama merupakan ungkapan syukur atas apa yang diterima dari Tuhan, tanpa mengharapkan untuk diingat karena semuanya adalah milik-Nya. Itulah kunci kebahagiaan. Tuhan memberkati.
Mengampuni berarti menyembuhkan diri sendiri
Renungan Minggu Biasa XXIV – Tahun A
Oleh Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Bacaan:
Sir 27:30 - 28:9
Roma 14:7-9
Matius 18: 21-35
Renungan:
Saudara dan saudariku
Dalam cerita silat, salah satu tema yang menonjol adalah balas dendam. Sebuah kalimat yang seringkali muncul adalah: "Aku akan mati dengan tenang sesudah dendamku usai terbalas."
Inilah yang seringkali terjadi dalam kehidupan ini. Banyak orang berpegang pada kebencian, mereka menimbun rasa dendam terhadap orang yang menyakiti mereka dan suatu hari nanti mereka akan membalasnya. Namun yang sebenarnya adalah: jika kita tidak mengampuni orang maka kita sedang menghukum dalam diri kita sendiri. Tidak mengampuni merupakan penghalang bagi kita untuk merasa damai. Kita harus menyingkirkan penghalang itu, membuka lebar pintu dan memberikan pengampunan kepada orang. Di saat hati terbuka maka kita dapat melepaskan sakit hati, penderitaan dan memberikan kesembuhan.
Dalam Injil hari ini, Petrus bertanya kepada Yesus : "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawab Yesus : "Sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali artinya mengampuni secara tuntas, tanpa bekas.
Ini pengajaran yang bagus, tetapi sulit untuk dilaksanakan karena memberikan pengampunan tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak orang berkata, "Aku tidak memaafkan dia, hatiku sudah terlanjur sakit. Kok enak, dia sudah berbuat jahat dan menyakiti aku, kok saya yang harus mengampuni dia?" Harus kita akui bahwa hal mengampuni ini memang hal yang tidak mudah untuk dilakukan, terlebih lagi jika orang yang menyakiti dan berbuat jahat kepada kita adalah orang-orang terdekat atau orang yang kita kasihi. Tetapi sebetulnya jika kita mengampuni maka kita berada pada posisi sebagai pemenang.
Saya punya suatu film yang bagus sekali, ”Karol: a Man who became Pope.” Film ini dibuat oleh para actor-aktris Polandia dalam rangka penghormatan bagi salah seorang pemimpin terbaik kereja, bahkan salah seorang pemimpin dunia terbaik, yang banyak kita kenal keteladanan pribadinya: Paus Yohanes Paulus II.
Dikisahkan bahwa ketika masih sebagai dosen di sebuah universitas di Polandia, Karol mempunyai seorang mahasiswa yang sangat dekat dengannya yang bernama. Karol tidak menyadari atau mencurigai bahwa sebenarnya mahasiswa itu adalah mata-mata yang dikirim oleh Parta Komunis yang berkuasa saat itu. Adam menyamar sebagai mahasiswa dan bersahabat dengan Karol dengan maksud mencari kesalahan-kesalahan yang bisa dipakai untuk menangkap Karol.
Dalam film itu, terlihat bahwa Adam Zielinski memasang alat rekam suara di mana-mana bahkan sampai di ruang pengakuan. Namun sepanjang pengamatannya, Adam tidak menemukan hal-hal subversif yang dilakukan oleh Karol Woytila sebagai bukti untuk menangkapnya. Yang terjadi justru sebaliknya. Ia makin mengenal Karol Woytila sebagai seorang hamba Tuhan yang sungguh mendedikasikan hidupnya bagi Tuhan, bangsa dan negaranya. Adam sendiri tidak tahan mendengar penderitaan orang yang datang berkonsultasi. Dia akhirnya mengakui dan meminta maaf di hadapan gurunya itu.
Melihat dan mendengar pengakuan Adam Zielinski yang mengakui kesalahannya dengan menyesal dan hancur hati, Karol Woytila mengatakan: ’if you made mistakes, you already paid for them’, maksudnya, penyesalannya yang diungkapkan itu sudah cukup untuk membayar kesalahannya. Karol Wojtyla, dengan gampang sekali mengampuninya, ia sama sekali tidak bertanya mengapa ia melakukan perbuatan jahat kepadanya, apa latar belakangnya, ataupun jengkel, marah dan dendam. Adam Zielinski tak pernah menduga bahwa ia mendapatkan maaf dan ampun dari gurunya segampang itu, padahal dialah yang selama ini menyebabkan gurunya itu menderita kesulitan akibat tekanan-tekanan partai komunis. Mengapa Karol Wojtyla begitu mudah mengampuninya? Sebab, harga dari jiwa yang menyesal itu lebih mahal, dan rasa dendam sama sekali tidak sebanding dengan indahnya pertobatan.
Saudara dan saudariku
Di saat hati terbuka untuk mau mengampuni maka kita dapat melepaskan sakit hati, penderitaan dan memberikan kesembuhan. Bila kita bisa mengampuni dengan tuntas maka yang kita dapatkan adalah kesembuhan dalam jiwa kita, bebas dari marah, benci, dendam dan tentu saja berkat Tuhan untuk kita tidak terhalang. Pertumbuhan hidup rohani sangat erat terkait dengan kesediaan untuk mengampuni. Bila seseorang tidak mampu atau tidak mau mengampuni orang yang bersalah dengannya itu berarti dia menutup kesempatan bagi rohaninya untuk bertumbuh. Jadi, kalau mau bertumbuh maka belajarlah untuk mengampuni.
Kesaksian:
Saya adalah seorang biarawati dari tarekat CB yang berkarya di Kupang NTB, nama saya Suster Marietha, CB (umur 37 tahun). Tiga tahun yang lalu saya divonis oleh dokter di RS Panti Rapih Jogja bahwa saya menderita Kanker Payudara stadium 1B. Selama 1 tahun lebih saya berusaha minum obat-obatan tradisionil dan teh hijau, tapi setelah 1 tahun saya check kembali ke dokter di Panti Rapih, stadium bertambah menjadi 2B, kemudian oleh seorang ibu di Semarang, saya dianjurkan ke Romo Yohanes Indrakusuma, O Carm di Cikanyere, Puncak, Jawa Barat untuk didoakan.
Pada waktu tangan Romo Yohanes menumpangkan tangan di atas kepala saya,dia berkata: "Suster pasti menyimpan dendam yang sudah lama kepada seseorang di hati suster."
Mendengar itu saya menangis tersedu-sedu dan saya katakan kepada romo: "Benar romo, saya memang membenci ayah saya sejak saya di SMP, karena ayah saya telah mengkhianati ibu, 2 kakak saya dan saya. Kami diusir dari rumah kami, kemudian ayah dan seorang wanita menempati rumah yang sudah bertahun-tahun kami tempati itu. Sejak saat itu ibu saya sakit-sakitan dan akhirnya meninggalkan kami selama-lamanya. Dan sejak itu saya memendam kebencian terhadap ayah."
Setelah mendengarkan cerita saya, Romo Yohanes berkata: "Ya, itulah BIANG dari penyakit suster, selama suster tidak mau mengampuni ayah, obat apapun tidak akan menyembuhkan suster. Dan mengampuni bukan hanya dengan kata-kata tapi harus dibuktikan dengan perbuatan."
Setelah itu saya minta ijin cuti selam 6 bulan pada suster provinciaL CB untuk menengok dan merawat ayah, karena saya dengar dari saudara ayah kalau ayah terkena stroke. Selama 6 bulan itu saya merawat ayah dengan cinta kasih yang tulus. Selama bersama ayah saya tidak minum obat apapun.
Setelah selesai masa cuti, sebelum kembali ke Kupang, saya ke RS Panti Rapih di Jogja untuk check up, dokter yang merawat saya sangat heran dan bertanya: "Suster minum obat apa selama ini?" Saya jawab kalau tidak minum apa2, dan saya balik bertanya ada apa dokter?
Dokter menjawab dari hasil pemeriksaan, baik darah maupun USG semuanya NEGATIVE. Langsung saya jawab obatnya PENGAMPUNAN. Dokter heran dan bertanya apa maksud suster? Saya ceritakan semuanya, kemudian dokter berkata wah kalau begitu kepada pasien-pasien saya yang menderita kanker, saya akan bertanya apakah anda punya perasaan dendam atau benci terhadap seseorang. Kalau jawabannya ya, saya akan suruh berdamai dan memberikan pengampunan seperti suster, sambil tertawa si dokter menepuk pundak saya.
Demikianlah pengalaman yang saya alami bisa dibagikan kepada saudara-saudari semua, bahwa PENGAMPUNAN itu sangat besar faedahnya, tidak hanya untuk jasmani tapi juga rohani kita. (kisah Sr. Marietha, CB di sharingkan via Timothy Wibowo)
Saudara dan saudariku.
Marilah kita semua berlutut dan berdoa mohon rahmat pengampunan. Kita bisa berdoa bagi diri kita sendiri, juga bagi orang lain yang kita tahu bahwa sampai saat ini masih sulit untuk mengampuni.
Meditasi (Music)
Bayangkan segala sakti hati, dendam yang masih mempengaruhimu sampai saat ini. Bayangkan juga wajah orang yang telah menyakitimu itu. Dia datang kepadamu untuk meminta maaf.
Dari dalam dirimu sadarilah bahwa tidak ada gunanya menyimpan rasa sakit hati. Dengan mengampuni maka hidup jadi lebih ringan. Mintalah rahmat dari Tuhan: rahmat untuk mengampuni.
Hayatilah perasaan yang terluka dan berduka itu. Yesus berjanji: Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Ingatlah bagaimana Allah telah mengampuni Anda. Dalam imaginasimu…pandanglah salib Kristus, hampirilah salib itu. Anda akan mendapat keadilan dan kekuatan.
Mintalah karunia dan kuasa untuk mengampuni. Mungkin batin kita berontak, ’Aku tidak mungkin mengampuninya” – tidak apa-apa. Ceritakan saja pada Yesus. Dia pasti bisa mengerti.
Dari atas salib, Yesus telah mengajar kita sebuah doa yang sangat indah: ”Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan” – jadikanlah doa ini sebagai doamu saat ini.
Lagu: Mengampuni lebih sungguh.
Mengasihi, mengasihi lebih sungguh (2x)
Tuhan lebih dulu mengasihi kepadaku
Mengasihi, mengasihi lebih sungguh.
Melayani, melayani lebih sungguh (2x)
Tuhan lebih dulu melayani kepadaku
Melayani, melayani lebih sungguh.
Mengampuni, mengampuni lebih sungguh (2x)
Tuhan lebih dulu mengampuni kepadaku
Mengampuni, mengampuni lebih sungguh.
Oleh Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Bacaan:
Sir 27:30 - 28:9
Roma 14:7-9
Matius 18: 21-35
Renungan:
Saudara dan saudariku
Dalam cerita silat, salah satu tema yang menonjol adalah balas dendam. Sebuah kalimat yang seringkali muncul adalah: "Aku akan mati dengan tenang sesudah dendamku usai terbalas."
Inilah yang seringkali terjadi dalam kehidupan ini. Banyak orang berpegang pada kebencian, mereka menimbun rasa dendam terhadap orang yang menyakiti mereka dan suatu hari nanti mereka akan membalasnya. Namun yang sebenarnya adalah: jika kita tidak mengampuni orang maka kita sedang menghukum dalam diri kita sendiri. Tidak mengampuni merupakan penghalang bagi kita untuk merasa damai. Kita harus menyingkirkan penghalang itu, membuka lebar pintu dan memberikan pengampunan kepada orang. Di saat hati terbuka maka kita dapat melepaskan sakit hati, penderitaan dan memberikan kesembuhan.
Dalam Injil hari ini, Petrus bertanya kepada Yesus : "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawab Yesus : "Sampai tujuh puluh kali tujuh kali." Mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali artinya mengampuni secara tuntas, tanpa bekas.
Ini pengajaran yang bagus, tetapi sulit untuk dilaksanakan karena memberikan pengampunan tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak orang berkata, "Aku tidak memaafkan dia, hatiku sudah terlanjur sakit. Kok enak, dia sudah berbuat jahat dan menyakiti aku, kok saya yang harus mengampuni dia?" Harus kita akui bahwa hal mengampuni ini memang hal yang tidak mudah untuk dilakukan, terlebih lagi jika orang yang menyakiti dan berbuat jahat kepada kita adalah orang-orang terdekat atau orang yang kita kasihi. Tetapi sebetulnya jika kita mengampuni maka kita berada pada posisi sebagai pemenang.
Saya punya suatu film yang bagus sekali, ”Karol: a Man who became Pope.” Film ini dibuat oleh para actor-aktris Polandia dalam rangka penghormatan bagi salah seorang pemimpin terbaik kereja, bahkan salah seorang pemimpin dunia terbaik, yang banyak kita kenal keteladanan pribadinya: Paus Yohanes Paulus II.
Dikisahkan bahwa ketika masih sebagai dosen di sebuah universitas di Polandia, Karol mempunyai seorang mahasiswa yang sangat dekat dengannya yang bernama. Karol tidak menyadari atau mencurigai bahwa sebenarnya mahasiswa itu adalah mata-mata yang dikirim oleh Parta Komunis yang berkuasa saat itu. Adam menyamar sebagai mahasiswa dan bersahabat dengan Karol dengan maksud mencari kesalahan-kesalahan yang bisa dipakai untuk menangkap Karol.
Dalam film itu, terlihat bahwa Adam Zielinski memasang alat rekam suara di mana-mana bahkan sampai di ruang pengakuan. Namun sepanjang pengamatannya, Adam tidak menemukan hal-hal subversif yang dilakukan oleh Karol Woytila sebagai bukti untuk menangkapnya. Yang terjadi justru sebaliknya. Ia makin mengenal Karol Woytila sebagai seorang hamba Tuhan yang sungguh mendedikasikan hidupnya bagi Tuhan, bangsa dan negaranya. Adam sendiri tidak tahan mendengar penderitaan orang yang datang berkonsultasi. Dia akhirnya mengakui dan meminta maaf di hadapan gurunya itu.
Melihat dan mendengar pengakuan Adam Zielinski yang mengakui kesalahannya dengan menyesal dan hancur hati, Karol Woytila mengatakan: ’if you made mistakes, you already paid for them’, maksudnya, penyesalannya yang diungkapkan itu sudah cukup untuk membayar kesalahannya. Karol Wojtyla, dengan gampang sekali mengampuninya, ia sama sekali tidak bertanya mengapa ia melakukan perbuatan jahat kepadanya, apa latar belakangnya, ataupun jengkel, marah dan dendam. Adam Zielinski tak pernah menduga bahwa ia mendapatkan maaf dan ampun dari gurunya segampang itu, padahal dialah yang selama ini menyebabkan gurunya itu menderita kesulitan akibat tekanan-tekanan partai komunis. Mengapa Karol Wojtyla begitu mudah mengampuninya? Sebab, harga dari jiwa yang menyesal itu lebih mahal, dan rasa dendam sama sekali tidak sebanding dengan indahnya pertobatan.
Saudara dan saudariku
Di saat hati terbuka untuk mau mengampuni maka kita dapat melepaskan sakit hati, penderitaan dan memberikan kesembuhan. Bila kita bisa mengampuni dengan tuntas maka yang kita dapatkan adalah kesembuhan dalam jiwa kita, bebas dari marah, benci, dendam dan tentu saja berkat Tuhan untuk kita tidak terhalang. Pertumbuhan hidup rohani sangat erat terkait dengan kesediaan untuk mengampuni. Bila seseorang tidak mampu atau tidak mau mengampuni orang yang bersalah dengannya itu berarti dia menutup kesempatan bagi rohaninya untuk bertumbuh. Jadi, kalau mau bertumbuh maka belajarlah untuk mengampuni.
Kesaksian:
Saya adalah seorang biarawati dari tarekat CB yang berkarya di Kupang NTB, nama saya Suster Marietha, CB (umur 37 tahun). Tiga tahun yang lalu saya divonis oleh dokter di RS Panti Rapih Jogja bahwa saya menderita Kanker Payudara stadium 1B. Selama 1 tahun lebih saya berusaha minum obat-obatan tradisionil dan teh hijau, tapi setelah 1 tahun saya check kembali ke dokter di Panti Rapih, stadium bertambah menjadi 2B, kemudian oleh seorang ibu di Semarang, saya dianjurkan ke Romo Yohanes Indrakusuma, O Carm di Cikanyere, Puncak, Jawa Barat untuk didoakan.
Pada waktu tangan Romo Yohanes menumpangkan tangan di atas kepala saya,dia berkata: "Suster pasti menyimpan dendam yang sudah lama kepada seseorang di hati suster."
Mendengar itu saya menangis tersedu-sedu dan saya katakan kepada romo: "Benar romo, saya memang membenci ayah saya sejak saya di SMP, karena ayah saya telah mengkhianati ibu, 2 kakak saya dan saya. Kami diusir dari rumah kami, kemudian ayah dan seorang wanita menempati rumah yang sudah bertahun-tahun kami tempati itu. Sejak saat itu ibu saya sakit-sakitan dan akhirnya meninggalkan kami selama-lamanya. Dan sejak itu saya memendam kebencian terhadap ayah."
Setelah mendengarkan cerita saya, Romo Yohanes berkata: "Ya, itulah BIANG dari penyakit suster, selama suster tidak mau mengampuni ayah, obat apapun tidak akan menyembuhkan suster. Dan mengampuni bukan hanya dengan kata-kata tapi harus dibuktikan dengan perbuatan."
Setelah itu saya minta ijin cuti selam 6 bulan pada suster provinciaL CB untuk menengok dan merawat ayah, karena saya dengar dari saudara ayah kalau ayah terkena stroke. Selama 6 bulan itu saya merawat ayah dengan cinta kasih yang tulus. Selama bersama ayah saya tidak minum obat apapun.
Setelah selesai masa cuti, sebelum kembali ke Kupang, saya ke RS Panti Rapih di Jogja untuk check up, dokter yang merawat saya sangat heran dan bertanya: "Suster minum obat apa selama ini?" Saya jawab kalau tidak minum apa2, dan saya balik bertanya ada apa dokter?
Dokter menjawab dari hasil pemeriksaan, baik darah maupun USG semuanya NEGATIVE. Langsung saya jawab obatnya PENGAMPUNAN. Dokter heran dan bertanya apa maksud suster? Saya ceritakan semuanya, kemudian dokter berkata wah kalau begitu kepada pasien-pasien saya yang menderita kanker, saya akan bertanya apakah anda punya perasaan dendam atau benci terhadap seseorang. Kalau jawabannya ya, saya akan suruh berdamai dan memberikan pengampunan seperti suster, sambil tertawa si dokter menepuk pundak saya.
Demikianlah pengalaman yang saya alami bisa dibagikan kepada saudara-saudari semua, bahwa PENGAMPUNAN itu sangat besar faedahnya, tidak hanya untuk jasmani tapi juga rohani kita. (kisah Sr. Marietha, CB di sharingkan via Timothy Wibowo)
Saudara dan saudariku.
Marilah kita semua berlutut dan berdoa mohon rahmat pengampunan. Kita bisa berdoa bagi diri kita sendiri, juga bagi orang lain yang kita tahu bahwa sampai saat ini masih sulit untuk mengampuni.
Meditasi (Music)
Bayangkan segala sakti hati, dendam yang masih mempengaruhimu sampai saat ini. Bayangkan juga wajah orang yang telah menyakitimu itu. Dia datang kepadamu untuk meminta maaf.
Dari dalam dirimu sadarilah bahwa tidak ada gunanya menyimpan rasa sakit hati. Dengan mengampuni maka hidup jadi lebih ringan. Mintalah rahmat dari Tuhan: rahmat untuk mengampuni.
Hayatilah perasaan yang terluka dan berduka itu. Yesus berjanji: Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Ingatlah bagaimana Allah telah mengampuni Anda. Dalam imaginasimu…pandanglah salib Kristus, hampirilah salib itu. Anda akan mendapat keadilan dan kekuatan.
Mintalah karunia dan kuasa untuk mengampuni. Mungkin batin kita berontak, ’Aku tidak mungkin mengampuninya” – tidak apa-apa. Ceritakan saja pada Yesus. Dia pasti bisa mengerti.
Dari atas salib, Yesus telah mengajar kita sebuah doa yang sangat indah: ”Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan” – jadikanlah doa ini sebagai doamu saat ini.
Lagu: Mengampuni lebih sungguh.
Mengasihi, mengasihi lebih sungguh (2x)
Tuhan lebih dulu mengasihi kepadaku
Mengasihi, mengasihi lebih sungguh.
Melayani, melayani lebih sungguh (2x)
Tuhan lebih dulu melayani kepadaku
Melayani, melayani lebih sungguh.
Mengampuni, mengampuni lebih sungguh (2x)
Tuhan lebih dulu mengampuni kepadaku
Mengampuni, mengampuni lebih sungguh.
Manisnya Pengampunan
Renungan Minggu Biasa ke 24 Tahun A
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC
Bacaan:
Sir 27:30 - 28:9
Roma 14:7-9
Matius 18: 21-35
Renungan:
Pengampunan mengingatkan kita akan lagu “Madu dan Racun” yang dinyanyikan oleh Arie Wibowo : “Madu di tangan kananmu, Racun di tangan kirimu, Aku tak tahu mana yang akan kau berikan padaku”. Madu adalah simbol manisnya pengampunan dan racun adalah lambang pahitnya kebencian. Mengampuni memang tidak mudah, apalagi mengampuni orang yang sama. Lebih mudah mengampuni seratus kali kepada orang yang berbeda daripada sepuluh kali kepada orang yang sama. Menyimpan kebencian berarti menyebarkan racun yang mematikan diri kita sendiri. Membuang kebencian mendatangkan kelegaan. Ilustrasi ini indah sekali.
Seorang ibu guru meminta murid-murid-Nya membawa satu kantong plastik dan kentang sejumlah orang yang dibencinya. Masing-masing kentang diberi nama berdasarkan orang yang dibencinya. Ada yang membawa kantong plastik berisi satu kentang, ada yang dua, ada yang tiga, bahkan ada yang lima. Murid-murid itu harus membawanya kemana saja mereka pergi selama satu minggu. Hari berganti hari, kentang-kentang itu mulai membusuk. Mereka mengeluh, apalagi yang membawa lima buah kentang, selain berat, baunya juga tidak sedap. Pada hari ketujuh semua murid merasa lega setelah membuang kantong plastik berisi kentang-kentang kebencian itu ke tempat sampah. Inti dari ceritera itu : tidak enak membawa kebencian dalam hidup kita. Menyimpan kebancian bisa menimbulkan penyakit. Tidak ada jalan lain agar kita mengalami kelegaan, yaitu melepaskan pengampunan kepada orang yang melakukan kesalahan kepada kita. Kemarahan yang disimpan adalah sampah dan racun bagi jiwa ! Karena itu, buanglah kemarahan dan lepaskanlah pengampunan bagi siapapun juga.
Ada sebuah kesaksian tentang pengampunan di antara suami dan istri dalam sebuah retret. Kesucian pernikahan mereka telah dinodai dengan perselingkuhan suami. Perselingkuhan sang suami dengan pembantu rumah tangganya sendiri tertangkap basah oleh istri. Hati sang istri terluka sekali. Tidak ada kata “maaf” sampai mati. .Ia mempertahankan perkawinannya ini hanya demi anak-anak yang membutuhkan “papi”, walaupun ia harus makan hati. Situasi rumah tangga sudah menjadi seperti api neraka. Pertengkaran terjadi setiap hari. Pertengkaran yang berakar dari kecurigaan. Istri tidak percaya lagi dengan suami. Suami diam-diam memata-matai istri. Ia takut istrinya membalas perbuatannya selama ini. Setiap malam ia memeriksa handphone istri untuk melihat apakah ada kata-kata “romantis” dari pria lain yang mengungkapkan “jatuh hati”. Kecurigaan telah melenyapkan kenyamanan hati suami dan istri. Dalam doa pemulihan dan adorasi, mereka merasakan sebungkah es pelan-pelan melelehi hati. Air mata pun tertumpah di pipi. Mereka saling memandang, tetapi tidak ada yang berani mengatakan “maaf” karena gengsi. Getaran handphone yang hampir bersamaan di dalam saku celana mereka telah mengubah keadaaan. Tak terduga getaran handphone itu berisi SMS dari puterinya yang berumur tujuh tahun : “Papi dan mami, jangan lupa besok ulang tahunku ! Aku tak mau tas baru sebagai hadiah ulang tahunku. Janji ya….. sebagai hadiah ulang tahunku adalah papi dan mami tidak boleh bertengkar lagi !”. SMS dari anak kecilnya ini mampu membuat mereka tersenyum. Senyuman membawa mereka pada pembaharuan janji pernikahan. Janji pernikahan membuat mereka berjalan sambil berangkulan dengan meninggalkan aku bengong sendirian di kamar makan ha…. ha…..ha….
Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa ia harus mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali. Pengampunan bukan sekedar jumlah atau sekedar melupakan kesalahan. Pengampunan merupakan panggilan untuk menghadirkan kerajaan Allah. Menghadirkan Kerajaan Allah berarti menghadirkan belaskasihan Allah yang tak terhingga kepada umat-Nya. Dengan mengampuni, kita memperoleh kedamaian di hati karena terlepaskan dari belenggu balas dendam, kemarahan, dan kebencian. Pengampunan tidak pernah rugi. Menyimpan kesalahan membikin sakit hati, batin tertekan, perasaan tidak nyaman, muka muram, dan senyuman menjadi hambar. Pengampunan akan memulihkan perasaan tidak nyaman menjadi menyenangkan. Trauma pun akan hilang. “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolese 3:13). Tuhan memberkati.
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC
Bacaan:
Sir 27:30 - 28:9
Roma 14:7-9
Matius 18: 21-35
Renungan:
Pengampunan mengingatkan kita akan lagu “Madu dan Racun” yang dinyanyikan oleh Arie Wibowo : “Madu di tangan kananmu, Racun di tangan kirimu, Aku tak tahu mana yang akan kau berikan padaku”. Madu adalah simbol manisnya pengampunan dan racun adalah lambang pahitnya kebencian. Mengampuni memang tidak mudah, apalagi mengampuni orang yang sama. Lebih mudah mengampuni seratus kali kepada orang yang berbeda daripada sepuluh kali kepada orang yang sama. Menyimpan kebencian berarti menyebarkan racun yang mematikan diri kita sendiri. Membuang kebencian mendatangkan kelegaan. Ilustrasi ini indah sekali.
Seorang ibu guru meminta murid-murid-Nya membawa satu kantong plastik dan kentang sejumlah orang yang dibencinya. Masing-masing kentang diberi nama berdasarkan orang yang dibencinya. Ada yang membawa kantong plastik berisi satu kentang, ada yang dua, ada yang tiga, bahkan ada yang lima. Murid-murid itu harus membawanya kemana saja mereka pergi selama satu minggu. Hari berganti hari, kentang-kentang itu mulai membusuk. Mereka mengeluh, apalagi yang membawa lima buah kentang, selain berat, baunya juga tidak sedap. Pada hari ketujuh semua murid merasa lega setelah membuang kantong plastik berisi kentang-kentang kebencian itu ke tempat sampah. Inti dari ceritera itu : tidak enak membawa kebencian dalam hidup kita. Menyimpan kebancian bisa menimbulkan penyakit. Tidak ada jalan lain agar kita mengalami kelegaan, yaitu melepaskan pengampunan kepada orang yang melakukan kesalahan kepada kita. Kemarahan yang disimpan adalah sampah dan racun bagi jiwa ! Karena itu, buanglah kemarahan dan lepaskanlah pengampunan bagi siapapun juga.
Ada sebuah kesaksian tentang pengampunan di antara suami dan istri dalam sebuah retret. Kesucian pernikahan mereka telah dinodai dengan perselingkuhan suami. Perselingkuhan sang suami dengan pembantu rumah tangganya sendiri tertangkap basah oleh istri. Hati sang istri terluka sekali. Tidak ada kata “maaf” sampai mati. .Ia mempertahankan perkawinannya ini hanya demi anak-anak yang membutuhkan “papi”, walaupun ia harus makan hati. Situasi rumah tangga sudah menjadi seperti api neraka. Pertengkaran terjadi setiap hari. Pertengkaran yang berakar dari kecurigaan. Istri tidak percaya lagi dengan suami. Suami diam-diam memata-matai istri. Ia takut istrinya membalas perbuatannya selama ini. Setiap malam ia memeriksa handphone istri untuk melihat apakah ada kata-kata “romantis” dari pria lain yang mengungkapkan “jatuh hati”. Kecurigaan telah melenyapkan kenyamanan hati suami dan istri. Dalam doa pemulihan dan adorasi, mereka merasakan sebungkah es pelan-pelan melelehi hati. Air mata pun tertumpah di pipi. Mereka saling memandang, tetapi tidak ada yang berani mengatakan “maaf” karena gengsi. Getaran handphone yang hampir bersamaan di dalam saku celana mereka telah mengubah keadaaan. Tak terduga getaran handphone itu berisi SMS dari puterinya yang berumur tujuh tahun : “Papi dan mami, jangan lupa besok ulang tahunku ! Aku tak mau tas baru sebagai hadiah ulang tahunku. Janji ya….. sebagai hadiah ulang tahunku adalah papi dan mami tidak boleh bertengkar lagi !”. SMS dari anak kecilnya ini mampu membuat mereka tersenyum. Senyuman membawa mereka pada pembaharuan janji pernikahan. Janji pernikahan membuat mereka berjalan sambil berangkulan dengan meninggalkan aku bengong sendirian di kamar makan ha…. ha…..ha….
Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa ia harus mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali. Pengampunan bukan sekedar jumlah atau sekedar melupakan kesalahan. Pengampunan merupakan panggilan untuk menghadirkan kerajaan Allah. Menghadirkan Kerajaan Allah berarti menghadirkan belaskasihan Allah yang tak terhingga kepada umat-Nya. Dengan mengampuni, kita memperoleh kedamaian di hati karena terlepaskan dari belenggu balas dendam, kemarahan, dan kebencian. Pengampunan tidak pernah rugi. Menyimpan kesalahan membikin sakit hati, batin tertekan, perasaan tidak nyaman, muka muram, dan senyuman menjadi hambar. Pengampunan akan memulihkan perasaan tidak nyaman menjadi menyenangkan. Trauma pun akan hilang. “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolese 3:13). Tuhan memberkati.
Happy Birthday to our Lady
Bacaan
Roma 8:28-30
Matius 1:1-16,18-23
Renungan
oleh Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Dalam bacaan pertama hari ini, apa yang dikatakan rasul Paulus kepada jemaat di Roma, juga dikatakan kepada kita semua: “orang-orang yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya”
Jika kita coba menempatkan kalimat ini dalam konteks bacaan Injil hari ini, kita melihat bahwa silsilah Yesus Kristus itu berawal dari Abraham, Ishak dan Yakub. Dari keturunan merekalah Mesias akan dilahirkan. Allah tahu dari suka manakah akan terlahir seorang yang akan melahirkan juruselamat.
Merayakan hari kelahiran bunda Maria, mengingatkan kita akan apa yang dikatakan oleh Paulus kepada jemaat di Galatia: ”setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan....” (Gal 4:4).
Kutipan dari ini saya kira penting untuk kita renungkan bahwa bahwa Allah sejak keabadian, telah menerencakan penciptaan kita masing-masing, menempatkan kita pada suatu tempat tertentu untuk maksud dan tujuan tertentu sesuai dengan kehendak Allah. Kehadiran kita di dunia ini bukanlah merupakan suatu kebetulan. Juga bukan atas kehendak orang tua kita masing-masing. Hari dan jam kelahiran kita telah diketahui oleh Allah. Demikian pun kelahiran bunda Maria. Sekali lagi saya membaca kutipan dari surat rasul Paulus di atas: “setelah genap waktunya maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang wanita….” Kebenaran yang berlaku bagi Yesus dan Maria, juga berlaku bagi kita semua.
Karena itu, merayakan ulang tahun Bunda Maria adalah satu kegembiraan karena hanya dialah satu-satunya manusia yang hidup sesuai dengan maksud dan rencana Allah. Kita bergembira karena dengan kelahiran Bunda Maria maka telah dekatlah keselamatan yang datang dari Allah itu.
Saya membayangkan begini. Ketika bunda Maria dilahirkan, semua malaikat bersukacita karena dekatnya keselamatan bagi umat manusia.
Hadiah apakah yang pantas kita berikan kepada Maria pada perayaan ulang tahunnya ini? Kita bisa membayangkan begini: jika seorang anak bertanya kepada ibunya yang merayakan ulang tahun: ‘mama…mau hadiah apa? Mama itu menjawab: “Yang penting adalah kamu jadi anak yang baik.”
Hari ini ketika kita merayakan ulang tahun bunda Maria, kita boleh bertanya: “bunda mau hadiah apa? Maka Maria pasti akan menjawab: yang terpenting adalah kamu menjadi anakku yang baik. Karena itu, marilah kita berusaha untuk hidup sebagai anak Maria yang baik, meneladani bunda Maria yang dikandung tanpa noda dosa dengan menjauhkan segala perbuatan dosa.
Saya ingin menyanyikan lagu ini untuk bunda Maria
On this day o beautiful Mother
On this day we give thee our love
Near the madona fondly we hover
Trusting thy gentle care to prove.
On this day we ask to share
Dearest mother thy sweet care
Aid us ere our feet astray
Wander from thy guiding way
Queen of angels, deign to hear
Lisping children’s humble prayer
Youg heart gain, o virgin pure
Sweetly to thyself allure.
Roma 8:28-30
Matius 1:1-16,18-23
Renungan
oleh Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Dalam bacaan pertama hari ini, apa yang dikatakan rasul Paulus kepada jemaat di Roma, juga dikatakan kepada kita semua: “orang-orang yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya”
Jika kita coba menempatkan kalimat ini dalam konteks bacaan Injil hari ini, kita melihat bahwa silsilah Yesus Kristus itu berawal dari Abraham, Ishak dan Yakub. Dari keturunan merekalah Mesias akan dilahirkan. Allah tahu dari suka manakah akan terlahir seorang yang akan melahirkan juruselamat.
Merayakan hari kelahiran bunda Maria, mengingatkan kita akan apa yang dikatakan oleh Paulus kepada jemaat di Galatia: ”setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan....” (Gal 4:4).
Kutipan dari ini saya kira penting untuk kita renungkan bahwa bahwa Allah sejak keabadian, telah menerencakan penciptaan kita masing-masing, menempatkan kita pada suatu tempat tertentu untuk maksud dan tujuan tertentu sesuai dengan kehendak Allah. Kehadiran kita di dunia ini bukanlah merupakan suatu kebetulan. Juga bukan atas kehendak orang tua kita masing-masing. Hari dan jam kelahiran kita telah diketahui oleh Allah. Demikian pun kelahiran bunda Maria. Sekali lagi saya membaca kutipan dari surat rasul Paulus di atas: “setelah genap waktunya maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang wanita….” Kebenaran yang berlaku bagi Yesus dan Maria, juga berlaku bagi kita semua.
Karena itu, merayakan ulang tahun Bunda Maria adalah satu kegembiraan karena hanya dialah satu-satunya manusia yang hidup sesuai dengan maksud dan rencana Allah. Kita bergembira karena dengan kelahiran Bunda Maria maka telah dekatlah keselamatan yang datang dari Allah itu.
Saya membayangkan begini. Ketika bunda Maria dilahirkan, semua malaikat bersukacita karena dekatnya keselamatan bagi umat manusia.
Hadiah apakah yang pantas kita berikan kepada Maria pada perayaan ulang tahunnya ini? Kita bisa membayangkan begini: jika seorang anak bertanya kepada ibunya yang merayakan ulang tahun: ‘mama…mau hadiah apa? Mama itu menjawab: “Yang penting adalah kamu jadi anak yang baik.”
Hari ini ketika kita merayakan ulang tahun bunda Maria, kita boleh bertanya: “bunda mau hadiah apa? Maka Maria pasti akan menjawab: yang terpenting adalah kamu menjadi anakku yang baik. Karena itu, marilah kita berusaha untuk hidup sebagai anak Maria yang baik, meneladani bunda Maria yang dikandung tanpa noda dosa dengan menjauhkan segala perbuatan dosa.
Saya ingin menyanyikan lagu ini untuk bunda Maria
On this day o beautiful Mother
On this day we give thee our love
Near the madona fondly we hover
Trusting thy gentle care to prove.
On this day we ask to share
Dearest mother thy sweet care
Aid us ere our feet astray
Wander from thy guiding way
Queen of angels, deign to hear
Lisping children’s humble prayer
Youg heart gain, o virgin pure
Sweetly to thyself allure.
Tuhan mendengarkan
Sharing pastoral oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC.
“Romo, doakan aku supaya aku tidak menjadi anak nakal”, pinta seorang anak kecil, berusia tiga tahun, dengan polosnya. Ketika aku mendoakannya, ia mengikutinya dengan khusyuknya. Ia memejamkan matanya dan melipatkan kedua telapak tangannya di dada seperti gambar seorang kudus yang dipajang di dinding rumah-rumah orang beriman. “Tanda Salib” yang diterima di dahinya membuatnya sangat bahagia. Ia kemudian berlari sambil menari-nari menuju ibunya. Kepolosan seorang anak sering mengundang kerinduan untuk hidup di dalam kesucian.
Ibunya mensharingkan pengalaman imannya tentang kelahiran anaknya. Anaknya ini merupakan anugerah dari doa novenanya yang sangat panjang, selama empat tahun lamanya. Kehamilannya membuatnya sangat bahagia. Impiannya menjadi kenyataan. Ia menjaga kandungannya dengan baik agar bayinya lahir dengan selamat. Ia sudah sering bermimpi menggendong bayinya dengan bangga. Panggilan kepadanya “mama” menjadi kerinduannya. Kerinduannya hampir sirna karena kecelakaan lalu lintas. Ia jatuh dari sepeda motor ketika akan menuju gereja untuk mengikuti Misa. Ia mengalami pendarahan yang hebat. Bayi dalam kendungannya dalam keadaan bahaya. Secara medis bayi itu akan meninggal dunia beberapa hari kemudian. Banyak orang menyarankannya agar membersihkan kandungannya demi keselamatan nyawanya. Ia menampung semua saran manusia, tetapi ia percaya bahwa Tuhan mampu melakukan sesuatu di luar logika manusia. “Bagi orang beriman tidak ada istilah menyerah dengan keadaaan walaupun solusi tampaknya tidak ada”, katanya penuh keyakinan. Ia yakin bahwa anaknya akan selamat ketika ibunya menyelimutinya dengan doa. Ia pun rela menjalani bed rest selama enam bulan demi bayinya. Ia rela melepaskan karir dalam pekerjaan yang telah dirintis dan dicita-citakannya sejak kuliah. Semuanya rela dikorbankannya, bahkan nyawanya demi keselamatan bayi yang berada dalam kandungannya. Ia menderita bukan karena tubuhnya yang kaku karena tidak bergerak sangat lama, tetapi karena kekuatiran yang dibisikkan oleh setan jahanam. Ia kadang-kadang kuatir bahwa anaknya belum tentu hidup dan mungkin lahir cacat. Kekuatiran itu menggodainya untuk mengambil keputusan menurut pertimbangan ekonomis, untung rugi, dalam kaca mata manusia. Semakin ia menggunakan pertimbangan manusia, ia semakin gelisah. Ia pun berputar arah. Ia tidak lagi memusatkan diri pada kekuatiran, tetapi kepada Tuhan, Sang Pencipta Kehidupan. Ketika kekuatiran datang, ia akan berdoa : “Tuhan, nyawaku dan nyawa bayi di dalam kandunganku adalah satu. Aku akan menjaganya. Aku serahkan diriku dan bayiku dalam kebijaksanaan-Mu. Terpujilah nama-Mu kini dan sepanjang masa”. Doa itu memberikan ketenangan yang mendalam kepadanya. Ia mengalami bahwa Tuhan semakin dekat dengannya. Ia berhasil menjadikan kekuatiran dan kecemasannya sebagai doanya kepada Tuhan. Tuhan memenuhi janjinya. Ia melahirkan dengan lancar dan normal. Ia tidak merasakan sakit sama sekali ketika melahirkan. Peristiwa ini diyakininya sebagai hadiah dari Tuhan atas kerelaannya menanggung penderitaan yang cukup lama dengan iman. Bayinya lahir dengan sempurna. Bayi ini sangat antusias dengan hal-hal spiritual. Tangan bayi ini akan melambai-lambai kegirangan pada waktu diperdengarkan musik-musik rohani. Sekarang ia tidak bisa tidur kalau belum berdoa bersama. Keluarganya pun semakin akrab satu sama lain. “Semoga anakku terus menjadi pujian bagi Tuhan”, harapnya dengan penuh kebanggaan.
Tuhan memintaku untuk menghadirkan kuasa-Nya dengan tak jemu-jemunya berdoa. Tuhan berjanji akan mendengarkan doa anaknya : “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya” (Mazmur 18:7). Tuhan memperhatikan doa yang dipanjatkan dengan tak henti-hentinya, dari hati yang jujur, dan dengan penuh iman : “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin” (Yakobus 1:6). Pesannya : “Jangan puas hanya titip doa kepada orang yang dianggap luar biasa, tetapi yakinlah bahwa doa anda akan penuh kuasa yang membawa pembaharuan. Jangan banyak bicara kepada manusia karena hanya akan menambah masalah, tetapi banyak bicaralah kepada Tuhan karena akan memberikan banyak berkat”. Tuhan memberkati.
“Romo, doakan aku supaya aku tidak menjadi anak nakal”, pinta seorang anak kecil, berusia tiga tahun, dengan polosnya. Ketika aku mendoakannya, ia mengikutinya dengan khusyuknya. Ia memejamkan matanya dan melipatkan kedua telapak tangannya di dada seperti gambar seorang kudus yang dipajang di dinding rumah-rumah orang beriman. “Tanda Salib” yang diterima di dahinya membuatnya sangat bahagia. Ia kemudian berlari sambil menari-nari menuju ibunya. Kepolosan seorang anak sering mengundang kerinduan untuk hidup di dalam kesucian.
Ibunya mensharingkan pengalaman imannya tentang kelahiran anaknya. Anaknya ini merupakan anugerah dari doa novenanya yang sangat panjang, selama empat tahun lamanya. Kehamilannya membuatnya sangat bahagia. Impiannya menjadi kenyataan. Ia menjaga kandungannya dengan baik agar bayinya lahir dengan selamat. Ia sudah sering bermimpi menggendong bayinya dengan bangga. Panggilan kepadanya “mama” menjadi kerinduannya. Kerinduannya hampir sirna karena kecelakaan lalu lintas. Ia jatuh dari sepeda motor ketika akan menuju gereja untuk mengikuti Misa. Ia mengalami pendarahan yang hebat. Bayi dalam kendungannya dalam keadaan bahaya. Secara medis bayi itu akan meninggal dunia beberapa hari kemudian. Banyak orang menyarankannya agar membersihkan kandungannya demi keselamatan nyawanya. Ia menampung semua saran manusia, tetapi ia percaya bahwa Tuhan mampu melakukan sesuatu di luar logika manusia. “Bagi orang beriman tidak ada istilah menyerah dengan keadaaan walaupun solusi tampaknya tidak ada”, katanya penuh keyakinan. Ia yakin bahwa anaknya akan selamat ketika ibunya menyelimutinya dengan doa. Ia pun rela menjalani bed rest selama enam bulan demi bayinya. Ia rela melepaskan karir dalam pekerjaan yang telah dirintis dan dicita-citakannya sejak kuliah. Semuanya rela dikorbankannya, bahkan nyawanya demi keselamatan bayi yang berada dalam kandungannya. Ia menderita bukan karena tubuhnya yang kaku karena tidak bergerak sangat lama, tetapi karena kekuatiran yang dibisikkan oleh setan jahanam. Ia kadang-kadang kuatir bahwa anaknya belum tentu hidup dan mungkin lahir cacat. Kekuatiran itu menggodainya untuk mengambil keputusan menurut pertimbangan ekonomis, untung rugi, dalam kaca mata manusia. Semakin ia menggunakan pertimbangan manusia, ia semakin gelisah. Ia pun berputar arah. Ia tidak lagi memusatkan diri pada kekuatiran, tetapi kepada Tuhan, Sang Pencipta Kehidupan. Ketika kekuatiran datang, ia akan berdoa : “Tuhan, nyawaku dan nyawa bayi di dalam kandunganku adalah satu. Aku akan menjaganya. Aku serahkan diriku dan bayiku dalam kebijaksanaan-Mu. Terpujilah nama-Mu kini dan sepanjang masa”. Doa itu memberikan ketenangan yang mendalam kepadanya. Ia mengalami bahwa Tuhan semakin dekat dengannya. Ia berhasil menjadikan kekuatiran dan kecemasannya sebagai doanya kepada Tuhan. Tuhan memenuhi janjinya. Ia melahirkan dengan lancar dan normal. Ia tidak merasakan sakit sama sekali ketika melahirkan. Peristiwa ini diyakininya sebagai hadiah dari Tuhan atas kerelaannya menanggung penderitaan yang cukup lama dengan iman. Bayinya lahir dengan sempurna. Bayi ini sangat antusias dengan hal-hal spiritual. Tangan bayi ini akan melambai-lambai kegirangan pada waktu diperdengarkan musik-musik rohani. Sekarang ia tidak bisa tidur kalau belum berdoa bersama. Keluarganya pun semakin akrab satu sama lain. “Semoga anakku terus menjadi pujian bagi Tuhan”, harapnya dengan penuh kebanggaan.
Tuhan memintaku untuk menghadirkan kuasa-Nya dengan tak jemu-jemunya berdoa. Tuhan berjanji akan mendengarkan doa anaknya : “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya” (Mazmur 18:7). Tuhan memperhatikan doa yang dipanjatkan dengan tak henti-hentinya, dari hati yang jujur, dan dengan penuh iman : “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin” (Yakobus 1:6). Pesannya : “Jangan puas hanya titip doa kepada orang yang dianggap luar biasa, tetapi yakinlah bahwa doa anda akan penuh kuasa yang membawa pembaharuan. Jangan banyak bicara kepada manusia karena hanya akan menambah masalah, tetapi banyak bicaralah kepada Tuhan karena akan memberikan banyak berkat”. Tuhan memberkati.
Kardinal Suenens: Saya mencintai Legio Mariae karena keberaniannya

Selasa Pekan 23 Tahun A
Bacaan:
Kol 2: 6-15 + Mzm 145 + Luk 6: 12-19
Homily:
Para legioner yang terkasih.
Kita merayakan ekaristi ini sebagai perayaan syukur. Ada banyak hal yang membuat kita bersyukur kepada Tuhan. Kita dapat bersyukur kepada Tuhan karena pengalaman kebaikan Tuhan yang kita alami baik secara pribadi maupun secara kolektif / bersama. Hari ini kita ingin bersyukur kepada Tuhan karena pengalaman bersama ini: bimbingan Tuhan selama 90 tahun atas karya kerasulan legio Mariae di seluruh dunia.
Ketika merenungkan perayaan 90 tahun ini dan bagaimana karya kerasulan Legio Mariae yang tersebar hampir ke seluruh dunia, saya teringat akan peristiwa yang dikisahkan di dalam Kisah Para Rasul 5 dimana para rasul dihadapkan kepada Mahkama Agama dan Imam Besar mengatakan: "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami." Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.....” Setelah itu terjadi keributan besar. Tetapi Gamaliel seorang Farisi yang sangat dihormati di dalam Mahkama Agama itu, meminta supaya para rasul di keluarkan sebentar dari ruang sidang." Dan setelah itu dia berkata kepada sidang: "Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik-baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya seorang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan cerai-berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu pendaftaran penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah.”
Saya ingin mengarisbawahi perkataan Gamaliel tersebut: ”Kalau maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah.”
Saya berani mengatakan bahwa Legio Mariae merupakan suatu gerakan kerasulan awam yang berasal dari Allah sendiri. Toh kenyataannya adalah Legio Mariae merupakan suatu buah dari devosi yang sangat mendalam kepada Bunda Maria dan ekaristi oleh Frank Duff.
Karena devosi yang mendalam inilah maka, Allah mengilhami dia sebuah pengertian yang mendalam tentang misteri gereja sebagai Tubuh Kristus dan peranan Maria dalam misteri Kristus dan gereja.
Sebelum konsili Vatican II, gereja identik dengan kaum berjubah. Tetapi pendiri kita Frank Duff mendapat pengertian yang lain tentang misteri gereja ini. Dia ingin membagi-bagikan pengertian itu kepada orang lain bahwa gereja bukanlah kaum berjubah, tetapi gereja adalah seluruh kaum beriman. Karena itulah ia mendirikan Legio Mariae sebagai tanda cinta kasih Bunda Maria bagi dunia dan sebagai sarana untuk melibatkan semua orang yang telah dibaptis dalam tugas gereja mewartakan Injil.
Konsili Vatican II baru terjadi pada tahun 1960-an. Salah satu dekrit konsili Vatican II adalah dekrit tentang Kerasulan Kaum Awam. Konsili ini baru terjadi pada tahun 1960-an, tetapi sudah sejak tahun 1921 atau bahkan sebelumnya, Bapak Frank Duff telah mendapat pengertian bawah gereja bukanlah identik dengan kaum berjubah, tetapi gereja adalah semua murid Kristus. Karena itu kaum awam pun harus terlibat dalam kehidupan menggereja.
Saudara dan saudariku
Merenungkan tentang keterlibatan kaum awam, terutama Legio Mariae di dalam hidup menggereja, saya kira bacaan-bacaan hari ini menyodorkan kepada kita beberapa point menarik untuk kita renungkan bersama.
Bacaan Injil hari ini berbicara tentang Yesus yang memanggil murid-murid-Nya dan memilih dari antara mereka 12 rasul. Nampaknya pemilihan 12 orang itu tanpa kualifikasi atau test terlebih dahulu: ada Simon Petrus yang menyangkal sang Guru, ada Yakobus dan Yohanes yang meminta kedudukan yang mapan dalam kerajaan surga, ada Thomas yang meminta bukti kebangkitan-Nya dan juga ada Yudas Iskariot yang menjadi pengkhianat.
Apa makna Injil bagi kita hari ini, terutama bagi para legioner. Pertama, sebagai Legioner, anda terpilih dan terpanggil bukan karena kehebatanmu, tetapi semata karena kasih Tuhan. Tuhan mau supaya anda berkembang dalam rahmat kekudusan melalui kelompok kerasulan awam ini. Tujuan Legio adalah kemuliaan Allah melalui pengudusan anggotanya yang dikembangkan dengan doa dan kerjasama yang aktif. Legio menawarkan kepada kita suatu sistem, yang bila diikuti dan dihayati dalam maka sistem itu akan membentuk kepribadian kita. Yesus memilih 12 rasul untuk dibimbing dan melalui merekalah pewartaan Kerajaan Allah itu berkembang ke seluruh dunia. demikian pun Legioner adalah orang-orang yang sering berkumpul bersama pastor paroki sebagai pembimbing rohani. Legioner harus terbuka terhadap bimbimbingan dan arahan pembimbing rohani agar karya cinta kasih Allah semakin berkembang.
Kedua, Yesus memilih para rasul, bukan sebagai pengawal, preman atau bodyguard, yang siap membentengi Yesus kalau terjadi masalah> Legio Mariae bukanlah bodyguard dari pastor paroki walaupun beberapa dari kalian sudah lulus ujian tarung derajat. Kebaikan Petrus untuk melindungi Yesus pun ditolak. Legioner adalah orang-orang yang terpanggil dan terpilih untuk menjadi ’tangan kanan’ pastor paroki dalam mengembangkan tugasnya di suatu paroki. Tanpa Legio Mariae, karya kerasulan di sebuah paroki tidak akan berhasil karena hanya mengandalkan pastor paroki.
Ketiga, dalam Injil tadi dikatakan bahwa Yesus pergi ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Sebagai seorang manusia, layak dan wajarlah kalau Yesus berdoa dan terus berdoa. Akan terasa aneh kalau seorang manusia tidak pernah berdoa. Manusia yang tidak pernah berdoa tidak jauh berbeda dengan binatang. Karena binatang tidak pernah menyadari penciptanya sedangkan manusia menyadarinya. Apalagi kalau kita sudah beriman kepada Yesus, kebangetan kalau kita tidak pernah berdoa.
Nah....legio Mariae menawarkan kepada kita suatu spiritualitas hidup yang memadukan doa dan karya.
Legioner yang tercinta
Kardinal Suenens dari Belgia adalah orang yang gigih dalam hierarki yang memberikan dukungan kepada Legio Maria. Dia menulis buku ’Theologi Kerasulan Legio Mariae, kehidupan Edel Quinn – seorang utusan Legio yang berkarya di Afrika, dan atas desakannya Konsili Vatican II mengajukan Perawan Maria sebagai model kerasulan.
Ketika ditanyai: Apa yang membuat anda begitu mencintai Legio Maria? Dia menjawab: "Saya harus mengatakan dengan jujur bahwa hal yang membuat saya mencintai Legio Mariae adalah keberanian mereka." Para legioner menunjukkan keberanian ketika setiap minggu mereka dengan sederhana menawarkan diri untuk menjadi alat/ instrument rahmat dan membuat sesuatu menjadi mungkin bagi Tuhan untuk melakukan karya ajaib-Nya.
Sebagai Legioner, anda tidak hanya berbicara tetapi anda berharap dan mempunyai iman yang kuat untuk pergi keluar dan “berjalan di atas air”. Itulah keajaiban Legio Maria, semangat imannya dan keberaniannya, tugas apostoliknya dan ketekunannya.
Para Legioner yang terkasih
Dalam Instruksi tetap ketiga yang dibacakan setiap awal bulan: “Agar ia melakukan sejumlah kegiatan pekerjaan Legio dalam semangat iman dan dalam persatuan dengan Maria, sedemikian rupa sehingga mereka yang tersangkut dalam pekerjaan itu dan dalam para legioner sendiri dapat melihat kepribadian Kristus lagi sebagai yang diabdi”
Haruslah kita ingat bahwa Bapak Frank Duff menulis kalimat ini dengan penuh perhatian, kata demi kata sehingga membentuk suatu kalimat yang menjadi prinsip legio.
Ini harus menjadi tugas legioner, yang diserahkan kepada presidium untuk mengaturnya. Jadi bukan melakukan pekerjaan sendiri. Dalam intruksi ketiga itu terungkap suatu perasaan bahwa legioner harus senantiasa bertugas dan didorong untuk melakukan karya apostolik kapan saja dan di mana saja.
Dalam kalimat itu juga terungkap bahwa tujuan utama Legio adalah membentuk dalam diri mereka dan sesama suatu kekudusan, tetapi karakter spesifik kekudusan legioner adalah karakter apostoliknya.
Legioner bukan hanya sekeder bertemu tiap minggu berdoa bersama untuk membentuk kesucian pribadi atau untuk membangun sebuah etalase rohani: 'o ini etalase Cermin Kekudusan, o ini etalase Penghibur Orang yang Berduka cita, O ini etalase Pintu Surga, O ini etalase Ratu Para Malaikat. Bukan untuk itu. Kalau hanya sekeder datang doa bersama, maka tidak perlu menjadi legioner. Doa hendaknya tidak terpisahkan dari kehidupan apostolik. Devosi kita kepada Maria hanya akan menjadi rangkaian kata-kata di bibir saja apabila kita tidak melakukan karya kerasulan bagi keselamatan jiwa-jiwa.
Karena itu adalah tugas presidium untuk bertanya paling tidak sebulan sekali: apakah kita sungguh-sungguh melakukan tugas-tugas untuk keselaatan jiwa-jiwa? Dapatkan kita melakukannya dengan lebih baik lagi tugas luhur ini?
Karya harus jelas: dua jam seminggu dan dilakukan dalam persatuan dengan Maria. Tugas-tugas Legio adalah suatu karya yang mendalam dan suatu praktek dari Bakti Sejati Kepada Maria.
Saya ingin menggarisbawahi kalimat terakhir: ”...dalam persatuan dengan Maria, sedemikian rupa sehingga mereka yang tersangkut dalam pekerjaan itu dalam dalam para legioner sendiri dapat melihat kepribadian Kristus lagi sebagai yang diabdi.”
Ini berarti, memberikan seluruh kehidupan kita kepada Maria sehingga ia dapat mencintai Yesus melallui kita dan melayani Kristus dalam diri Legioner dan kepada siapa saja yang kita jumpai dalam karya kerasulan kita.
Buku pegangan justru mengatakan bahwa anggota aktif yang tidak menjalankan karya kerasulan, tidak pantas untuk menyandang nama sebagai legioner. Latihan-latihan rohani, seperti doa rosario, offisi, adorasi, jumad pertama, tidak cukup untuk memenuhi kewajiban legioner sebagai anggota aktif. Tentu sana sini kita merasa gagal. Misalnya, saya mau hanya hadiri rapat aja, tetapi nda bisa kalau soal kunjungan..... bagi orang semacam itu, baiklah ia berdoa untuk menohon rahmat menemukan spirit legio yang benar.
Saya berharap agar legioner di paroki santa Odilia menyambut dengan sukacita suatu karya aktif yang jelas dna mendasar setiap minggu dengan semangat apostolik yang khas, karena di dalam karya-karya itulah terdapat sumber rahmat dan hadiah terbaik yang akan Allah anugerahkan kepada kalian semua.
Santo Paulus dalam bacaan I hari ini mengajak kita untuk bersyukur karena kita telah diselamatkan. Ia mengatakan: ”Kamu telah menerima Kristus Yesus, tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam dia.” Hidup di dalam Yesus berarti juga terlibat di dalam karya perutsannya. Legio Maria dipanggil bukan saja menjadi sekolah untuk menjadi orang kudus, tetapi juga menjadi orang yang hebat dalam karya kerasulan.
Ave Maria
Langganan:
Postingan (Atom)