Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Saudara dan saudariku
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata bahwa: “domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan mereka mengikuti Aku”. Saya mengajak kita untuk hening sejenak dan merenungkan tentang sikap mau mendengarkan ini….pertanyaannya adalah apakah kita sungguh rela mendengarkan suara Tuhan?” Pada masa ini, mendengarkan suara Tuhan menjadi sesuatu yang sangat sulit karena di sekitar kita ada begitu banyak suara yang mencoba mengganggu konsentrasi kita. Bahkan ada yang lebih parah bahwa ada begitu banyak suara yang berusaha untuk menjadi ‘gembala kita”. Dalam kotbah saya 2 tahun yang lalu, pada hari Minggu Paskah ke-4 ini saya membuat Mzm untuk orang zaman ini tentang TV adalah gembalaku. Ada yang masih ingat?
TV itu adalah gembalaku, aku tak akan berkekurangan Ia membaringkan aku di sofa yang empuk dan membimbing aku untuk jauh dari Tuhan, Ia menghancurkan jiwa-ku.
Ia menuntun aku di jalan seks dan kekerasan atas nama iklan dan sensasi. Sekalipun berada dalam bayangan tugas dan tanggung jawab iman tidak akan ada yang mengganggu sebab TV selalu bersamaku.
Remote control itulah yang menghibur aku. Ia menuntun aku kepada acara kesukaanku. Ia mengurapi kepalaku sekularisme dan consumerisme. Dan ketamakanku semakin bertambah
Rasa tidak peduli dan kemalasan akan mengiringi aku sepajang hidupku. Aku akan tinggal di kamarku dengan TV bersamaku.
Saudara dan saudariku
Acara-acara di Televisi, terutama sinetron, Radio, HP, Facebook, Twiter dll… adalah suara-suara yang berusaha untuk menjadi gembala atau yang menuntun hidup kita pada zaman ini.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata bahwa domba-domba-Nya mendengarkan suara-Nya dan mengikuti Dia. Kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri: apakah kita sungguh mengikuti Yesus. Pertanyaan ini bukan hanya soal apakah kita selalu datang ke gereja pada hari minggu, tetapi lebih menyangkut hidup kita sehari-hari. Apakah kita mengikuti Yesus setiap hari? Apakah kita mencoba untuk mendengarkan suara-Nya melalui bacaan-bacaan rohani dan merenungkan apa yang Tuhan kehendaki dari diri kita? Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan seberapa banyaknya waktu yang kita gunakan setiap hari untuk hening dan mau mendengarkan suara Tuhan? Di dalam gereja ketika perayaan ekaristi sedang berlangsung, kita bahkan tidak bisa hening…apalagi dalam kehidupan kita sehari-hari? Adakah waktu bagi kita untuk merenungkan firman Tuhan?
Ada sebuah lagu yang syairnya kira-kira begini:
Adakah waktu di hidupmu untuk firman kehidupan..
rahmat dan kasih Tuhan bagimu sudikah kau terima.....
Sangat disayangkan bahwa hidup kita selalu dihiruk pikuki dengan berbagai macam hal dan persoalan, sehingga hampir tidak ada sempat untuk menyisihkan sedikit waktu untuk hening di hadapan Tuhan. Juga kalau kita minta untuk diam dan hening…kita mulai merasa tidak tenang karena kita tidak terbiasa. Dengan demikian kita tidak akan mampu mendengar suara Tuhan yang lembut menggema di dalam hati kita.
Saudara dan saudariku
Dalam hidup ini, kita membutuhkan saat-saat hening untuk mendengarkan suara Tuhan karena Tuhan berbicara kepada kita di dalam keheningan batin.
Selain itu, Tuhan juga memberikan kita para gembala (para pastor, para uskup dan Paus) yang bertugas untuk mewartakan kebenaran iman yang harus diikuti oleh kaum beriman melalui homily dan pengajaran-pengajaran. Tetapi seberapa jauh kita mau mendengarkan dan meresapkan pesan-pesan Injil yang dijabarkan di dalam homili? Yang ada terkadang hanyalah keluhan: kotbahnya lama, membosankan?
Keluhan-keluhan itu muncul boleh jadi karena orang tidak terbiasa untuk diam dan hening. Sehingga akhirnya orang menyibukan diri dengan HP bahkan di dalam gereja.
Saudara dan saudariku
Ada banyak suara yang berusaha menjadi ’gembala’ kita. Sudah saya sebutkan di atas tadi. Tanyakanlah pada dirimu sendiri: apakah suara-suara itu membimbingmu untuk semakin dekat dengan Yesus atau semakin jauh dengan Yesus? Saya yakin kita semua tahu jawabannya.
Saudara dan saudariku….
Ada banyak hal pernah saya katakan dalam homily-homily saya. Terkadang memang keras tetapi memang kebenaran itu harus diwartakan. ”Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun” (Ibr 4:12). Saya sendiri tidak takut kalau memang ada yang membenci saya karena homili-homili saya terkesan keras. Dalam bacaan I hari ini, Paulus dan Barnabas pun melakukan hal yang sama. Mereka mewartakan kebenaran dan mereka tidak gentar oleh siapapun.
Hal yang seringkali saya kritik adalah soal judi dan rentenir. Namun yang menjadi pergulatan saya adalah sejauh mana umat mau mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah dengan meninggalkan segala praktek pemiskinan terhadapan keluarga dan sesama itu?
Saya yakin bahwa Yesus tidak pernah diam melihat segala macam praktek itu? Yesus justru mau mengatakan apa yang terjadi dengan orang-orang semacam itu jika mereka tidak mau bertobat.
Beberapa hari yang lalu, Pak Karsono bertanya kepada saya, Rm ada yang telp tanya ”kalau kita katolik, boleh nda ya untuk menjalankan uang”. Yang bertanya itu saya harap hadir di sini dan inilah jawabannya. Saya menjawab dengan mengutip KS:
Yes 33: 14-15 berbunyi: "Siapakah di antara kita yang dapat tinggal dalam api yang membasmi? Siapakah di antara kita yang dapat tinggal di perapian yang abadi ?" Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, artinya yang tidak menjalankan rentenir.
Saudara dan saudariku
Hal lain yang juga seringkali saya singgung adalah sikap kita di dalam gereja ini, ketika Perayaan Ekaristi sedang berlangsung.
Saya mau tanya: pernah nonton Film ‘the passion of the Christ? Bagaimana perasaanmu? Apakah anda menghargai pengorbanan diri Yesus itu?
Nah...ekaristi adalah saat di mana kita menghadirkan kembali peristiwa pengurbanan diri Yesus yang Ia laksanakan di atas puncak gunung kalvari. Artinya peristiwa itu kembali terjadi sekali lagi hanya dengan cara yang berbeda itu melalui simbol dan tanda. Tapi bagaimanakah sikap kita? Kalau kita sungguh menghargai pengorbanan diri Yesus, maka kita pasti diam dan bersikap hormat ketika ekaristi sedang berlangsung.
Dalam perayaan ekaristi ini, Yesus sekali lagi mengobankan diri-Nya bagi kita agar kita memperoleh hidup yang kekal.
Karena itu pentinglah kita mempersiapkan diri dalam perayaan ekaristi. Jika ada dosa dan kesalahan yang berat maka baiklah kita datang kepada Yesus dalam sakramen rekonsiliasi. Janganlah kita berani menyambut komuni jika kita merasa ada dosa yang masih kita sembunyikan.
“Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (699).”
“Sungguh amat menyakitkan hati-Ku apabila jiwa-jiwa religius menerima Sakramen Cinta Kasih hanya karena kebiasaan belaka, seolah mereka tak mengenali santapan ini. Aku tak mendapati baik iman maupun kasih dalam hati mereka. Aku datang ke dalam jiwa-jiwa demikian dengan keengganan besar. Akan lebih baik seandainya mereka tak menerima Aku (1258)….”
Saudara dan saudariku
Dalam bacaan II hari ini, kita mendengar bahwa Anak Domba yang duduk di tengah-tengah tahta kemuliaan dan akan menuntun orang-orang kepada mata air kehidupan. Karena itu, kita perlu untuk mencari waktu untuk mendengarkan suara-Nya dan mengikuti-Nya. Suara Allah itu sudah tertulis di dalam KS dan dimaksudkan agar kita menjalankannya. Jangan pernah mengatakan bahwa anda tidak pernah tahu akan suatu perintah atau nasihat yang harus dijalankan. Dalam pengadilan terakhir, anda tidak bisa membela diri dengan mengatakan: ”oh..Rm kami nda pernah kotbah tentang hal itu” Yesus telah memberikan kita masing-masing Roh Kudus yang membimbing kita kepada kebenaran.
Karena itu pentinglah bahwa dalam hidup ini ada saat-saat dimana kita duduk hening untuk mendengarkan suara Tuhan yang menggema lembut di dalam hati kita. Bacaan-bacaan KS dapat membantu kita untuk masuk dalam keheningan dan berdialog dengan Tuhan. Dan setelah itu, kita harus mengikuti apa kata Tuhan untuk memastikan bahwa kita adalah domba-domba pengembalaan-Nya, sebagaimana dalam Injil hari ini, jelas dikatakan bahwa: “domba-domba-Ku mendengar-kan suara-Ku dan mereka mengikuti Aku”.
Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Pesta Kerahiman Ilahi

Pengantar
Saudara dan saudariku
Hari ini adalah minggu II Paskah yang juga dikenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. “Yesus, engkaulah andalanku,” Jesus, I trust in you” suatu ungkapan yang menyatakan sikap penyerahan diri yang hendaknya kita ungkapkan secara bersama kepada Yesus penyelamat kita karena kita menyadari kedosaan diri kita serta keinginan untuk mengalami pengampunan. Kita merayakan pesta Kerahiman ini, bukan saja karena permintaan Yesus sendiri melalui Sta. Maria Faustina, tetapi juga mengungkapkan kerinduan kita untuk mengalami Kerahiman Ilahi dan pengampunan Allah. Karena itu, baiklah pada awal perayaan ini kita mengungkapkan segala dosa dan kesalahan kita, sambil verharap dan percaya akan Kerahiman Ilahi.
Homily:
Saudara dan saudariku
Sebagaimana telah saya singgung pada pengantar tadi bahwa hari ini adalah Hari Minggu Kerahiman. Akan tetapi sebelum membicarakan hal ini, saya ingin mengajak kita untuk melihat sekilas tentang tradisi tentang hari minggu paskah kedua ini. Secara tradisional, hari ini dikenal dengan beberapa nama. Misalnya, Hari Minggu Kedua Paskah, Hari Minggu dalam oktaf paskah, Hari Minggu Thomas, Hari Minggu Putih, sekarang lebih dikenal sebagai hari minggu Kerahiman Ilahi. Setiap nama yang saya sebutkan tadi memfokuskan salah satu aspek dari perayaan kita hari ini.
Disebut sebagai hari minggu II paskah, dapat dengan mudah dipahami karena hari raya paskah kemarin adalah hari diangkap sebagai hari pertama paskah.
Disebut sebagai hari Minggu dalam oktaf paskah juga dapat dengan mudah dipahami kalau kita menghitung sejak hari minggu kemarin sampai hari ini yaitu hari ke delapan. Oktaf artinya ke delapan.
Disebut sebagai Hari Minggu Thomas karena bacaan Injil hari ini, berceritra tentang ketidakpercayaan rasul Thomas akan kebangkitan Yesus, sebelum ia mencucukan jari tangan ke dalam bekas paku pada lambung dan tangan Yesus. Kisah ingin mengatakan kepada kita bahwa kita pun seringkali mengalami keragu-raguan dalam iman dan kepercayaan kita, tetapi cinta Allah senantiasa memanggil kita untuk kembali kepada-Nya. Terberkatilah mereka yang sekalipun tidka melihat namun percaya. Kisah St. Thomas ini menawarkan kepada kita cara beriman yang lain. Bukan melihat baru percaya tetapi percaya sekalipun tidak melihat.
Disebut sebagai hari Minggu Putih, karena pada zaman dulu, orang-orang yang dibaptis pada malam paskah, selalu mengenakan pakaian putih sepanjang minggu ini, dan baru pada hari ini, mereka menanggalkan pakaian putih itu dalam perayaan ini. Tradisi ini tidak lagi dikenal pada zaman sekarang.
Untuk saat ini, hari ini lebih dikenal sebagai Hari Minggu Kerahiman. Ini merupakan pesta yang agak baru dan sangat menarik bagi saya, karena ini merupakan satu-satunya pesta yang didasarkan pada pewahyuan pribadi kepada St. Faustina. Yesus sendiri yang menghendaki agar hari ini dirayakan hari pesta Kerahiman Ilahi-Nya. Yesus sendiri menentukan bahwa Hari Minggu sesudah paskah, dirayakan sebagai Hari Minggu Kerahiman.
Saya mau Tanya: berapa dari umat yang mengadakan novena Kerahiman Ilahi yang dimulai pada hari Jumad Agung yang lalu?
Mungkin ada yang belum pernah dengar atau dengar hanya sekilas tentang Devosi Kerahiman Ilahi ini. Memang devosi ini relative agak baru. Adalah Paus Yohanes Paulus II-lah yang menetapkan bahwa Hari ini adalah Hari Minggu Kerahiman ini berdasarkan kehendak Yesus sendiri. Sebelum itu, devosi Kerahiman Ilahi ini dilarang oleh gereja terutama oleh uskup setempat di mana Sta. Faustina hidup. Tetapi setelah Kardinal Karol Wojtyla terpilih, dia merasa terpanggil untuk memperkenalkan devosi ini. Dan setelah terpilih menjadi Paus, ia justru memperkenalkan devosi ini kepada seluruh gereja. Tergerak oleh permenungan akan Allah sebagai Bapa yang Maharahim, maka beliau menghendaki agar sejak saat ditetapkannya, Minggu Paskah II secara resmi dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi oleh segenap Gereja semesta. Hal ini dimaklumkan beliau pada tanggal 30 April 2000, tepat pada hari kanonisasi St Faustina Kowalska.
Saudara dan saudariku
Terdorong oleh semangat yang berkobar untuk menggairahkan semaksimal mungkin praktek Devosi Kerahiman Ilahi dalam diri umat Kristiani dengan harapan mendatangkan buah-buah rohani yang berguna bagi kaum beriman, maka pada tanggal 13 Juni 2002, Almarhum Yohanes Paulus II memaklumkan bahwa Gereja memberikan indulgensi, baik indulgensi penuh maupun sebagian, kepada mereka yang mempraktekkan Devosi Kerahiman Ilahi dengan syarat-syarat seperti yang ditetapkan Gereja.
Saudara dan saudariku
Tentang Pesta yang kita rayakan hari ini, Yesus sendiri mengatakan:
“Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasih-Ku yang paling lemah lembut (420)…. Adalah kehendak-Ku agar pesta ini dirayakan dengan khidmad pada hari Minggu pertama sesudah Paskah.… Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku (699)”
Saudara dan saudariku
Dari permintaan Yesus di atas, kita bisa meliht bahwa inilah hari di mana Kasih Allah dilimpahkan ke dalam hati kita dengan cara yang lebih istimewa. Yesus berjanji untuk menganugerahkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman pada Pesta Kerahiman Ilahi, seperti dicatat sebanyak 3 kali dalam Buku Catatan Harian Sta. Faustina. Setiap kali dengan cara berbeda.
“Aku akan menganugerahkan pengampunan penuh kepada jiwa-jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus pada Pesta Kerahiman Ilahi (1109).”
“Jiwa yang menghampiri Sumber Hidup pada hari ini akan dianugerahi pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (300).”
“Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (699).”
Lebih lanjut Yesus mengatakan:
Yesus sendiri memberikan janji itu. Dia katakan: “Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku. Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman. Pada hari itu seluruh pintu-pintu rahmat Ilahi dari mana rahmat-rahmat mengalir akan dibuka (699).”
Saudara dan saudariku.
Dari kutipan-kutipan dari catatan harian Sta. Faustina di atas, Nampak bahwa Tuhan kita menunjukkan dengan jelas apa yang Ia tawarkan kepada kita dalam Komuni Kudus dan betapa amat melukai hati-Nya apabila kita acuh tak acuh terhadap kehadiran-Nya. Tentang hal ini, Yesus katakan dalam beberapa kutipan berikut ini:
“Sukacita-Ku yang besar adalah mempersatukan DiriKu dengan jiwa-jiwa. Apabila Aku datang ke dalam hati manusia dalam Komuni Kudus, tangan-tangan-Ku penuh dengan segala macam rahmat yang ingin Aku limpahkan atas jiwa. Namun, jiwa-jiwa bahkan tak mengindahkan Aku; mereka mengacuhkan DiriKu dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Oh, betapa sedih Aku sebab jiwa-jiwa tak mengenali Kasih! Mereka memperlakukan-Ku bagaikan suatu benda mati (1385)….”
“Sungguh amat menyakitkan hati-Ku apabila jiwa-jiwa religius menerima Sakramen Cinta Kasih hanya karena kebiasaan belaka, seolah mereka tak mengenali santapan ini. Aku tak mendapati baik iman maupun kasih dalam hati mereka. Aku datang ke dalam jiwa-jiwa demikian dengan keengganan besar. Akan lebih baik seandainya mereka tak menerima Aku (1258)….”
“Betapa menyakitkan Aku bahwa jiwa-jiwa begitu jarang mempersatukan dirinya dengan-Ku dalam Komuni Kudus. Aku menanti jiwa-jiwa, dan mereka acuh tak acuh terhadap-Ku. Aku ingin mencurahkan rahmat-rahmat-Ku atas mereka, tetapi mereka tak hendak menerimanya. Mereka memperlakukan-Ku bagaikan suatu benda mati, padahal Hati-Ku penuh cinta dan belas kasih. Agar engkau dapat memahami setidak-tidaknya sedikit rasa sakit-Ku, bayangkanlah seorang ibu yang paling lembut hati, yang amat mengasihi anak-anaknya, namun anak-anaknya itu menolak kasihnya. Bayangkan betapa pilu hatinya. Tak seorang pun akan mampu menghibur hatinya. Begitulah, gambaran akan kasih-Ku (1447).”
Saudara dan saudariku
Janji Yesus akan pengampunan penuh merupakan suatu peringatan sekaligus panggilan. Suatu peringatan bahwa Ia nyata hadir dan nyata hidup dalam Ekaristi, berlimpah kasih bagi kita, menanti kita datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan. Suatu panggilan bagi kita semua untuk dibasuh bersih dalam Kasih-Nya melalui Sakramen Tobat dan Komuni Kudus - dan kita memulai hidup baru kembali. Yesus menawarkan kepada kita suatu permulaan yang baru, suatu lembaran yang bersih.
Kita renungkan pesan-pesan Yesus ini dan bertanya dalam diri kita sendiri, bagaimana kita mempersiapkan diri untuk perayaan ekaristi dan bagaimana kita bersikap selama ekaristi sedang berlangsung?
Minggu III Prapaskah - Tahun C - 2010

Tonny Blikon, SS.CC
Kel 3:1-8, 13-15 I Kor 10:1-6, 10-12 Luk 13:1-9
Saudara dan saudariku
Tema minggu pengajaran pada bulan Maret ini adalah Sakramen Rekonsiliasi. Akan tetapi sebelum berbicara mengenai hal itu, saya ingin mengajak kita untuk melihat bacaan pertama hari ini; tentang penampakan Allah kepada Musa. Dalam permenungan saya, ada 2 hal menarik yang kiranya perlu mendapat perhatian kita bersama.
Pertama, penampakan itu terjadi bukan dalam Bait Allah atau di suatu tempat ibadat tertentu, tetapi di padang gurun – salah satu tempat yang sangat profan – kalau kita mau membedakan antara ‘yang kudus’ dan ‘yang profan’.
Kedua, penampakan itu terjadi bukan pada saat Musa berdoa tetapi ketika ia sedang melakukan pekerjaannya sehari-hari; menggembalakan kawanan domba milik Yitro, mertuanya.
Jadi, Allah menampakan diri-Nya kepada Musa di tempat yang sangat biasa – profan dan ketika ia sedang sibuk melakukan tugas kesehariannya.
Saudara dan saudariku.
Manusia zaman ini semakin kehilangan cita rasa akan kekudusan dan kehadiran Allah dalam dunia. Dunia telah menjadi tempat yang sangat profan. Di dalam gereja saja, yang notabene sebagai tempat kudus, yang dikhususkan bagi doa dan ibadat orang ribut dan lari ke sana ke mari. Atau sesudah misa, orang menjadikan tempat ini sebagai tempat ngobrol, bergossip ria …. apalagi kalau di luar gereja atau tempat ibadat lainnya. Singkatnya manusia mulai kehilangan cita rasa akan kekudusan dan kehadiran Allah dalam dunia.
Dengan ilmu pengetahuan, manusia merasa bisa menjelaskan segala sesuatu yang terjadi tanpa mau mengakui peranan Allah di balik setiap peristiwa yang terjadi. Untuk orang zaman ini, istilah ‘misteri’ itu tidak terlalu dipandang karena sesuatu yang belum bisa terungkap itu hanya tinggal menunggu waktu saja. Manusia merasa bahwa semua peristiwa alam maupun sosial bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Hal ini berakibat bahwa manusia sudah sangat sulit untuk mengenal kehadiran Allah dalam setiap peristiwa alam atau peristiwa hidupnya setiap hari. Orang tidak lagi mengakui kehadiran Allah dalam kesibukannya setiap hari atau orang tidak lagi mengikutsertakan Allah dalam kesibukannya setiap hari.
Namun dalam bacaan I hari ini kita mendengar bahwa Allah justru membuat diri-Nya dikenal dalam dunia yang sangat profan dan ketika Musa sibuk dengan ruthinitas hariannya. Perbedaan antara ’yang profan’ dan ’yang kudus’ itu hanyalah kategori manusia tetapi bagi Allah semua tempat adalah kudus. Allah tidak hanya hadir di gereja dan pada hari minggu atau ketika kita sedang berdoa saja tetapi Allah dapat membuat diri-Nya hadir dan dikenal dalam situasi yang sangat biasa. Bacaan pertama hari ini mengajak kita untuk mengenal Allah dalam ruthinitas harian kita. Kita diajak untuk mengenal gerakan roh Kudus yang membimbing kita dalam setiap tindakan harian.
Saudara dan saudariku
Tadi dikatakan bahwa ketika Musa diliputi oleh kekaguman akan semak berduri yang bernyala tetapi tidak terbakar itu, ia ingin mendekat dan melihat apa yang terjadi. Tetapi Allah berfirman kepadanya: ”Musa! Musa! Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkan kasutmu dari kakimu, sebab tempat, dimana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus.”
Allah mengatakan bahwa tanah di mana Musa berdiri adalah tanah yang kudus. Suatu pertanyaan untuk kita: Mengapa sejengkal tanah di mana Musa berdiri itu adalah tanah yang kudus? Apa yang membuat tanah itu menjadi tanah yang kudus?
Karena Kehadiran Allah. Kehadiran Allah-lah yang membuat tanah di mana Musa berdiri itu adalah tanah yang kudus.
Kita semua yang hadir sekarang ini sedang berdiri di atas tanah yang kudus karena kehadirian Allah yang memenuhi tempat ini. Kalau orang tidak lagi menyadari bahwa gereja ini adalah tempat yang kudus, itu berarti ia tidak lagi menyadari kehadiran Allah di dalam gereja ini.
Saudara dan saudariku
Kalau tempat di mana kita berdiri atau duduk sekarang ini adalah tempat yang kudus, lantas apa yang harus kita lakukan? Kita memang tidak perlu menanggalkan kasut seperti Musa dalam bacaan I tadi atau seperti orang muslim yang mau masuk Masjid, tetapi satu hal yang harus kita miliki sebelum masuk ke dalam gereja atau selama berada di dalam gereja adalah rasa hormat. Rasa hormat karena kehadiran Allah yang memenuhi tempat ini. Allah sungguh hadir di tempat ini... tetapi hendaknya kita juga ingat – seperti dalam bacaan I tadi – bahwa Allah hadir tidak hanya di tempat ini, tetapi Allah bisa dijumpai di mana saja. Artinya bahwa di mana pun kita berada, kita berdiri di atas tanah yang kudus karena bagi Allah seluruh dunia ini adalah tempat yang kudus.
Saudara dan saudariku
Hari ini Allah menyapa setiap kita dengan mengatakan: ”....tempat di mana engkau berdiri adalah kudus”. Seluruh dunia yang telah Allah berikan kepada kita adalah tanah yang kudus. Hal ini berarti bahwa kita harus memperlakukan lingkungan di mana kita tinggal sebagai tempat di mana kita bisa berjumpa dengan Allah.
Saudara dan saudariku
Berbicara tentang ’tanah yang kudus’ bukanlah sesuatu yang berada di luar diri kita tetapi pertama dan terutama adalah sesuatu yang ada di dalam diri kita.
Pertama adalah Tubuh. Tubuh kita adalah ’tanah’ yang kudus karena tubuh adalah karya Allah. Oleh karena itu, kita harus menghormati dan menjaga tubuh kita. St. Paulus memberikan alasan mengapa kita harus menghargai tubuh kita dengan mengatakan: ”tubuhmu adalah kenisah Roh Kudus yang telah diberikan Allah” (1 Kor 6:19)
Kedua adalah pikiran. Pikiran kita adalah ’tanah yang kudus.’ Banyak orang suka mengisi pikiran mereka setiap hari dengan hal-hal yang kotor yang diterima dari televisi, radio, majalah, internet dll. Setiap hari pikiran kita dicecokin dengan berita-berita tentang kejahatan, ketidakadilan, gossip, pornografi dll. Acara TV yang paling diminati oleh kaum ibu adalah gossip, silet, kabar-kabari.... St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi mengatakan: ”Pikirkanlah selalu tentang segala yang benar, kudus, adil, murni, yang indah dan luhur. Perhatikanlah segala yang patut dipuji dan dikagumi” (Flp 4:8). Sekali lagi, pikiran kita adalah ’tanah yang kudus; oleh karena itu baiklah kita mengikuti nasihat St. Paulus di atas.
Ketiga adalah hati. Hati merupakan tanah yang paling kudus yang terdapat di dalam diri kita. Manusia zaman ini lebih mementingkan penampilan luar. Mereka lebih memperhatikan kebersihan luar yang bisa dilihat tetapi mengabaikan kebersihan dan kemurnian dari dalam yaitu kemurnian hati. Yesus pernah berkata: ”tidak ada sesuatu pun dari luar yang masuk ke dalam manusia dapat menajikannya. Apa yang yang keluar dari manusia, itulah menajikan. Sebab pikiran jahat keluar dari hati” (Mrk 7: 15, 21).
Segala pikiran, perkataan dan perbuatan kita berasal dari hati. Hati merupakan inti kepribadian seseorang. Hati itu bagaikan sumber mata air tersembunyi yang mengalirkan hasrat, keinginan, perkatan dan tindakan kita. Jika sumber itu bersih maka semua yang berasal dari padanya akan bersih pula.
Karena itu saudara dan saudariku marilah kita berusaha untuk menjaga hati kita agar tetap bersih dan murni supaya kita bisa berjumpa dan mengalami Allah. Yesus pernah berkata: ”berbahagialah orang yang murni hatinya karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8)
Nah bagaimana menjaga hati kita agar tetap bersih dan murni? Yaitu melalui sakramen rekonsiliasi; sakramen yang paling tidak populer di kalangan orang katolik sendiri.
Saya akan mengajak kita untuk melihat tradisi pertobatan ini dalam sejarah gereja Katolik. Konsili Nicea I tahun 325 menegaskan bahwa ”Orang Kristen yang berdosa berat tetap diterima sebagai warga gereja walaupun mereka dilarang menerima Komuni dalam perayaan Ekaristi. Mereka baru di ijinkan mererima Komuni lagi setelah menjalani suatu proses pertobatan yang cukup lama dan berat.”
Saya kira ajaran klasik ini perlu ditekankan kembali. Kenyataan banyak umat menerima komuni suci dalam keadaan tidak berahmat. Hal ini disebabkan karena hilangnya cita rasa akan kekudusan dan cita rasa akan dosa.
Konsili Toledo III (tahun 589) mempertahankan tradisi lama dalam hal pertobatan ini dimana seorang pendosa berat harus menjalani masa penitensi yang cukup lama dan berat. Selama masa penitensi, ia dilarang menerima Komuni dalam perayaan ekaristi, baru setelah ia mendapat ABOLUSI didepan seluruh umat, dan diijinkan menerima komuni lagi sebagai lambang bahwa ia diterima kembali menjadi warga penuh dalam jemaat.
Konsili Lateran IV mengajarkan bahwa setiap orang Kristen yang sudah menggunakan akal wajib melaksanakan pertobatan dan menerima pengampunan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.
Pertobatan tersebut harus dilakukan secara rahasia di hadapan pastornya masing-masing.... Dalam Konsili tersebut, juga ditegaskan bahwa imam punya kewajiban berat untuk merahasiakan apapun yang ia ketahui dari pengakuan dosa yang dilayaninya. Imam yang membocorkan rahasia pengakuan dosa akan mendapat sanksi berat dari pimpinan gereja, yakni di jebloskan ke biara tertutup untuk melakukan penitensi seumur hidup.
Saudara dan saudariku.
Ada yang pernah mempersoalkan: ”mengapa kita harus mengaku dosa ke pastor? Bukankah pastor juga adalah manusia?
Saudara dan saudariku
Setiap sakramen baru sah dan berdaya guna atau berbuah kalau mempunyai dua unsur yang penting di dalamnya yaitu Forma dan Materi. Misalnya sakramen baptis: Materi: air; sedangkan Forma: Aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
Atau sakramen perkawinan, materi: seorang pria dan seorang wanita yang belum pernah menikah atau tidak terhalang oleh hukum gereja. Sedangkan Forma: di hadapan imam dan dua orang saksi.
Demikian pun sakramen rekonsiliasi. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita bisa langsung mengaku begitu saja kepada Allah seperti kaum protestan. Sekali lagi setiap sakramen itu baru punya daya kalau memiliki dua unsur di dalamnya yaitu Forma dan Materi.
Apakah yang menjadi Forma dan Materi dari sakramen rekonsiliasi?
Dalam konsili Florence tahun 1439 ditegaskan bahwa quasi-materia dari sakramen tersebut adalah hal-hal yang dilakukan penitent, yakni : Contritio (sesal sempurna atas dosa-dosa dan niat untuk tidak berdosa lagi), Confessio (pengakuan dosa secara utuh di depan seorang imam), Satisfactio (perbuatan-perbuatan silih yang sesuai dengan beratnya dosa, seperti disarankan imam pelayan sakramen ini dan biasanya terdiri dari doa, puasa dan derma). Sedangkan Formanya adalah kata-kata absolusi: ”Yesus telah memberikan kuasa kepada para murid-Nya untuk mengampuni dosa dengan mengatakan: ”apa yang kamu ikat di bumi akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di bumi akan terlepas di surga. Melalui kuasa Roh Kudus dalam urapan imamat, saya mewarisi kuasa tersebut, maka kini atas nama gereja saya melepaskan engkau dari belenggu dosa-dosamu itu.......
Jika demikian maka buah dari sakramen itu adalah pengampunan atas dosa-dosa yang diakui tadi.
Saudara dan saudariku
Tadi sudah saya singgung soal pandangan orang protestan tentang tidak perlunya mengakui dosa kepada para imam. Mereka mengatakan pengampunan dosa, bukanlah sebuah sakramen. Hal ini muncul pada abad 16.
Untuk menanggapi pandangan itu, para uskup berkumpul dalam Konsili Trente tahun 1551 dan menegaskan kembali soal ajaran tradisional tentang sakramen tobat. Mereka mengatakan: Sakramen tobat sungguh sungguh perlu bagi semua ornag yang telah melakukan dosa berat agar ia kembali memperoleh rahmat dan pembenaran. Jadi bukan sekali baptis dan beres karena sudah dibenarkan dalam iman.
Hal lain yang dikatakan oleh para uskup pada saat itu adalah: pada saat Tuhan Yesus masih hidup di dunia, pertobatan memang belum menjadi sakramen, tetapi setelah kebangkitan-Nya, Ia menciptakan sakramen tobat dengan cara menghembusi para rasul dengan bersabda: ”Terimalah Roh Kudus, Jika kamu mengampuni dosa seseorang, ia diampuni, Jika kamu tidak mengampuni dosa seseorang, iapun tidak diampuni.” Yoh 20:22-23.
Saudara dan saudariku
Sudah beberapa kali saya sampaikan apa yang dikatakan oleh Yesus dalam suatu penampakan-Nya kepada Sta. Maria Faustina: Yesus bahkan mendesak St. Faustina untuk mengatakan hal ini: “Katakanlah kepada jira-jiwa yang Madang untuk datang kepada kerahiman-Ku. Datanglah kepada-Ku di kamar pengakuan. Untukmu telah Ku-dirikan tahkta kerahiman-Ku di dunia ini – yaitu sakramen rekonsiliasi. Yang kamu jumpai di sana bukanlah seorang manusia, tetapi Aku sendirilah yang akan bertindak. Aku akan mencurahkan kerahiman-Ku selebar-lebarnya bagi jira yang datang kepada kerahiman-Ku dengan penuh kepercayaan”
Saudara dan saudariku.
Masa prapaskah ini merupakan masa penuh rahmat di mana kita semua diajak untuk bertobat dan membarui relasi kita dengan Allah dan sesama.
Dalam dekrit Misericordiam Suam (Introduksi tata ibadat tobat) dikatakan bahwa waktu terbaik untuk pelayanan sakramen ini adalah masa Pra-Paskah. Karena itu marilah kita gunakan saat penuh rahmat ini dengan baik. Untuk itu mulai minggu ini, satu jam sebelum misa, kami para imam stand by di kamar pengakuan. Umat bisa datang untuk boleh mengalami kasih dan Kerahiman Yesus yang mengalir dari sana.
Minggu Prapaskah I - Tahun C - 2010
Bacaan
Ulangan 26:4-10
Roma 10:8-13
Lukas 4:1-13
Pengantar
Saudara dan saudariku
Bacaan injil hari ini berbicara tentang cobaan yang dialami oleh Yesus. Dikatakan bahwa: ”setelah setan tidak berhasil menggoda Yesus, ia mengundurkan diri menunggu waktu yang tepat”. Hal ini mengingatkan bahwa hidup kita merupakan suatu perjuangan tanpa henti melawan kejahatan. Dengan rahmat Allah, kita tentu berharap dapat mengalahkan kejahatan. Yesus yang dapat mengalahkan kejahatan memberikan kita kekuatan bahwa kita pun dapat mengalahkan kejahatan itu, terutama kejahatan di dalam diri kita.
Renungan
Saya akan mengawali permenungan kali ini dengan sebuah kisah imajinatif: ada seorang rahib yang amat suci dan terkenal. Dia ingin sekali mengetahui apa yang ada di dalam hati orang dan mencoba melakukan test sejauh mana orang-orang itu itu mengenal diri sendiri. Dia berdiri di depan pintu biara dan ada beberapa orang yang lewat di depannya. Orang pertama yang lewat, dia panggil dan mengundang masuk ke dalam pondoknya. Kemudian rabbi itu bertanya: “Seandainya anda menemukan sebuah dompet dengan jumlah uang yang banyak, kira-kira 2 juta rupiah. Apa yang akan anda lakukan?"
Orang pertama itu menjawab: “Saya pasti akan segera mengembalikan dompet beserta isinya itu kepada pemiliknya. Saya pasti akan bisa menemukan pemilik dompet tersebut karena di dalam dompet itu pasti ada kartu identitas dan alamatnya. Saya pasti akan mencarinya.”
“Bodoh, kamu”, kata rabbi itu.
Kemudian datanglah orang yang lain. Dengan cara yang sama, Rabbi itu mengundang dia masuk ke dalam pondoknya. Pertanyaan yang sama diajukan: “Seandainya anda menemukan sebuah dompet dengan jumlah uang yang banyak, kira-kira 2 juta rupiah. Apa yang akan anda lakukan?"
Orang kedua itu menjawab: “Saya tidak akan mengembalikan dompet dan uang itu. Saya tidak bodoh untuk membiarkan rejeki yang datang itu berlalu begitu saja”.
Mendengar jawaban orang kedua tadi, rabbi itu menjawab: “bajingan, kamu”.
Kemudian lewatlah orang yang ketiga. Sekali lagi Rabbi itu mengundang dia untuk masuk ke dalam pondoknya. Pertanyaan yang sama diajukan: “Seandainya anda menemukan sebuah dompet dengan jumlah uang yang banyak, kira-kira 2 juta rupiah. Apa yang akan anda lakukan?”
Orang ketiga itu menjawab: “Saya bingung tentang apa yang harus saya lakukan dalam situasi seperti itu. Yang pasti, setan pasti akan menggoda saya untuk tidak mengembalikan dompet tersebut. Dapatkah saya mengalahkan godaan si jahat itu? Saya tidak tahu. Tetapi jika Allah memberikan saya rahmat kekuatan untuk mengalahkan bujukan dosa itu, maka saya pasti akan mengembalikan dompet beserta isinya kepada pemiliknya.”
Mendengar jawaban orang ketiga itu, sang Rabbi menjawab: “Kata-katamu sangat indah. Kamu sungguh orang yang bijaksana”
Saudara dan saudariku
Rabbi tadi menyebut orang yang pertama: “Bodoh” mengapa? Karena orang itu nampaknya tidak mengenal dirinya sendiri. Orang pertama tadi merasa bahwa dengan kekuatannya sendiri dia dapat mengalahkan godaan atau kejahatan yang ada di dalam dirinya. Setiap kita dapat jatuh ke dalam dosa. Manusia jatuh ke dalam dosa, bukan karena dia lemah, tetapi karena ia merasa bahwa ia kuat.
Lantas, terhadap orang kedua tadi, sang Rabbi berkata: ”Bajingan, kamu” karena orang itu tidak lagi punya kesadaran akan moralitas yang benar. Dia mempersiapkan diri untuk mengambil atau mencuri sesuatu yang bukan dari dirinya. Dan nampaknya hal itu telah ia lakukan selama itu. untuk orang semacam itu, godaan dilihat sebagai kesempatan untuk memperkaya diri sendiri. Ia hidup dari keringat orang lain. Kalau di paroki kita, bukan orang menemukan uang sebanyak itu, tetapi masuk kamar pastor dan mencurinya. Nah itu lebih kurang ajar lagi.
Sedangkan kepada orang yang ketika sang Rabbi memujinya sebagai orang yang baik dan bijaksana. Mengapa? Karena orang ketiga tadi nampaknya sangat mengenal kelemahan yang ada di dalam dirinya. Dia berharap bahwa ketiga mengalami godaan, dia bisa mengatasi godaan tersebut dengan melakukan hal yang benar. Dan dia tahu, bahwa untuk melakukan hal yang benar, dia tidak bisa mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi dia berharap akan rahmat Allah. Dan karena itu, orang ketiga tadi nampkanya senantiasa mendekatkan dirinya pada Allah untuk memohonkan kekuatan ketika mengalami godaan.
Saudara dan saudariku.
Setiap kita ini lemah dan sangat rentan akan kejahatan. Tidak ada orang yang kuat terhadap godaan atau kejahatan. Ini adalah suatu kebenaran yang mungkin selalu menggusik kita. Saya kira persoalan terbesar orang zaman ini adalah gagal mengenal diri sendiri untuk mengakui kejahatan yang ada di dalam dirinya dan bagaimana menyikapi hal itu.
Kita memang harus melawan kejahatan. Pertama, kejahatan yang ada dalam masyarakat. Kedua, kejahatan yang ada di dalam diri kita sendiri; dan ini adalah usaha yang paling sulit.
Pertama, soal kejahatan yang ada di dalam masyarakat. Salah satu kejahatan yang ada di dalam masyarakat yang menjadi sorotan kita tahun ini adalah kemiskinan. Tema APP kita adalah: ”Mari bekerja sama melawan kemiskinan”
Paus Benediktus XVI dalam ensikliknya yang kedua ”Caritas in Veritate” mengatakan bahwa ”semua usaha di bidang ekonomi dan keuangan tidak bisa tidak harus juga mempertimbangkan untuk kebaikan banyak orang, dan tidak untuk diri sendiri.
Selama masa prapaskah ini kita diajak untuk menyangkal diri, berarti kita tidak boleh hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga memikirkan kesejahteraan orang lain. Kesejahteraan itu tidak berarti terpenuhinya segala kebutuhan kita. Tetapi Paus menegaskan bahwa tidak ada kesejahteraan yang sejati jika masih ada orang lain di sekitar kita yang tidak sejahtera! Karena itu, Bapak Uskup kita tahun ini mengajak kita semua: ”Mari bekerja sama melawan kemiskinan”. Melalui bahan-bahan pendalaman APP, semoga iman kita bertumbuh dalam suatu tindakan yang nyata.
Salah satu tindakan melawan kemiskinan yaitu bermatiraga dengan menyisihkan sebagian dana dari kebutuhan harian kita dengan memasukan untuk kebutuhan orang miskin. Itu kita lakukan melalui amplop Paskah. Akan tetapi umat selalu mengisih amplop paskah itu pada akhir masa prapaskah jika ketua lingkungan mulai mengumpulkannya. Nah ini bukan maksudnya, tetapi dana itu harus disisihkan setiap hari.
Kedua, soal kejahatan yang ada di dalam diri kita sendiri. Setiap kita terlahir dalam keadaan berdosa. Mzm 51: 7 ”Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” sehingga melakukan sesuatu yang baik dan benar adalah hal yang tidak mudah. Hal yang paling sulit adalah mengalahkan diri sendiri.
Bacaan Injil hari ini menampilkan kisah tentang godaan yang dialami oleh Yesus. Godaan yang dialami oleh Yesus adalah godaan setiap umat Kristiani sepanjang zaman: yaitu godaan untuk hidup dengan mengandalkan barang-barang materi, godaan untuk mencari kemuliaan sendiri daripada kemuliaan Allah dan godaan untuk tidak beribadah kepada Allah tetapi menyembah kepada kekuatan-kekuatan duniawi atau bahkan kekuatan-kekuatan jahat.
Dalam Injil tadi dikatakan bahwa setelah tidak berhasil menggoda Yesus, setan mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang tepat.
Rasul Petrus mengingakan kita: ”Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh..." (1 Pet 5: 8-9).
Nah...bagaimana kita dapat mimiliki iman yang teguh kalau kita tidak pernah berdoa? Orang ketiga dalam kisah imajinatif tadi, dipuji oleh Rabbi sebagai orang yang bijaksana karena dia tahu kelemahannya dan karena itu dia senantiasa berusaha untuk dekat dengan Tuhan agar diberi kekuatan. Demikianpun hendaknya kita. Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan kita sendiri.
Saudara dan saudariku
Allah senantiasa ada bersama dengan kita dalam perjuangan dan pergulatan kita melawan kejahatan. Dia akan mau membantu kita jika kita mohon kepadanya. Semoga bersama St. Paulus, kita pun dapat berkata: ”Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:13). Amin.
Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Paroki Sta. Odilia - Citra Raya - Tangerang
Ulangan 26:4-10
Roma 10:8-13
Lukas 4:1-13
Pengantar
Saudara dan saudariku
Bacaan injil hari ini berbicara tentang cobaan yang dialami oleh Yesus. Dikatakan bahwa: ”setelah setan tidak berhasil menggoda Yesus, ia mengundurkan diri menunggu waktu yang tepat”. Hal ini mengingatkan bahwa hidup kita merupakan suatu perjuangan tanpa henti melawan kejahatan. Dengan rahmat Allah, kita tentu berharap dapat mengalahkan kejahatan. Yesus yang dapat mengalahkan kejahatan memberikan kita kekuatan bahwa kita pun dapat mengalahkan kejahatan itu, terutama kejahatan di dalam diri kita.
Renungan
Saya akan mengawali permenungan kali ini dengan sebuah kisah imajinatif: ada seorang rahib yang amat suci dan terkenal. Dia ingin sekali mengetahui apa yang ada di dalam hati orang dan mencoba melakukan test sejauh mana orang-orang itu itu mengenal diri sendiri. Dia berdiri di depan pintu biara dan ada beberapa orang yang lewat di depannya. Orang pertama yang lewat, dia panggil dan mengundang masuk ke dalam pondoknya. Kemudian rabbi itu bertanya: “Seandainya anda menemukan sebuah dompet dengan jumlah uang yang banyak, kira-kira 2 juta rupiah. Apa yang akan anda lakukan?"
Orang pertama itu menjawab: “Saya pasti akan segera mengembalikan dompet beserta isinya itu kepada pemiliknya. Saya pasti akan bisa menemukan pemilik dompet tersebut karena di dalam dompet itu pasti ada kartu identitas dan alamatnya. Saya pasti akan mencarinya.”
“Bodoh, kamu”, kata rabbi itu.
Kemudian datanglah orang yang lain. Dengan cara yang sama, Rabbi itu mengundang dia masuk ke dalam pondoknya. Pertanyaan yang sama diajukan: “Seandainya anda menemukan sebuah dompet dengan jumlah uang yang banyak, kira-kira 2 juta rupiah. Apa yang akan anda lakukan?"
Orang kedua itu menjawab: “Saya tidak akan mengembalikan dompet dan uang itu. Saya tidak bodoh untuk membiarkan rejeki yang datang itu berlalu begitu saja”.
Mendengar jawaban orang kedua tadi, rabbi itu menjawab: “bajingan, kamu”.
Kemudian lewatlah orang yang ketiga. Sekali lagi Rabbi itu mengundang dia untuk masuk ke dalam pondoknya. Pertanyaan yang sama diajukan: “Seandainya anda menemukan sebuah dompet dengan jumlah uang yang banyak, kira-kira 2 juta rupiah. Apa yang akan anda lakukan?”
Orang ketiga itu menjawab: “Saya bingung tentang apa yang harus saya lakukan dalam situasi seperti itu. Yang pasti, setan pasti akan menggoda saya untuk tidak mengembalikan dompet tersebut. Dapatkah saya mengalahkan godaan si jahat itu? Saya tidak tahu. Tetapi jika Allah memberikan saya rahmat kekuatan untuk mengalahkan bujukan dosa itu, maka saya pasti akan mengembalikan dompet beserta isinya kepada pemiliknya.”
Mendengar jawaban orang ketiga itu, sang Rabbi menjawab: “Kata-katamu sangat indah. Kamu sungguh orang yang bijaksana”
Saudara dan saudariku
Rabbi tadi menyebut orang yang pertama: “Bodoh” mengapa? Karena orang itu nampaknya tidak mengenal dirinya sendiri. Orang pertama tadi merasa bahwa dengan kekuatannya sendiri dia dapat mengalahkan godaan atau kejahatan yang ada di dalam dirinya. Setiap kita dapat jatuh ke dalam dosa. Manusia jatuh ke dalam dosa, bukan karena dia lemah, tetapi karena ia merasa bahwa ia kuat.
Lantas, terhadap orang kedua tadi, sang Rabbi berkata: ”Bajingan, kamu” karena orang itu tidak lagi punya kesadaran akan moralitas yang benar. Dia mempersiapkan diri untuk mengambil atau mencuri sesuatu yang bukan dari dirinya. Dan nampaknya hal itu telah ia lakukan selama itu. untuk orang semacam itu, godaan dilihat sebagai kesempatan untuk memperkaya diri sendiri. Ia hidup dari keringat orang lain. Kalau di paroki kita, bukan orang menemukan uang sebanyak itu, tetapi masuk kamar pastor dan mencurinya. Nah itu lebih kurang ajar lagi.
Sedangkan kepada orang yang ketika sang Rabbi memujinya sebagai orang yang baik dan bijaksana. Mengapa? Karena orang ketiga tadi nampaknya sangat mengenal kelemahan yang ada di dalam dirinya. Dia berharap bahwa ketiga mengalami godaan, dia bisa mengatasi godaan tersebut dengan melakukan hal yang benar. Dan dia tahu, bahwa untuk melakukan hal yang benar, dia tidak bisa mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi dia berharap akan rahmat Allah. Dan karena itu, orang ketiga tadi nampkanya senantiasa mendekatkan dirinya pada Allah untuk memohonkan kekuatan ketika mengalami godaan.
Saudara dan saudariku.
Setiap kita ini lemah dan sangat rentan akan kejahatan. Tidak ada orang yang kuat terhadap godaan atau kejahatan. Ini adalah suatu kebenaran yang mungkin selalu menggusik kita. Saya kira persoalan terbesar orang zaman ini adalah gagal mengenal diri sendiri untuk mengakui kejahatan yang ada di dalam dirinya dan bagaimana menyikapi hal itu.
Kita memang harus melawan kejahatan. Pertama, kejahatan yang ada dalam masyarakat. Kedua, kejahatan yang ada di dalam diri kita sendiri; dan ini adalah usaha yang paling sulit.
Pertama, soal kejahatan yang ada di dalam masyarakat. Salah satu kejahatan yang ada di dalam masyarakat yang menjadi sorotan kita tahun ini adalah kemiskinan. Tema APP kita adalah: ”Mari bekerja sama melawan kemiskinan”
Paus Benediktus XVI dalam ensikliknya yang kedua ”Caritas in Veritate” mengatakan bahwa ”semua usaha di bidang ekonomi dan keuangan tidak bisa tidak harus juga mempertimbangkan untuk kebaikan banyak orang, dan tidak untuk diri sendiri.
Selama masa prapaskah ini kita diajak untuk menyangkal diri, berarti kita tidak boleh hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga memikirkan kesejahteraan orang lain. Kesejahteraan itu tidak berarti terpenuhinya segala kebutuhan kita. Tetapi Paus menegaskan bahwa tidak ada kesejahteraan yang sejati jika masih ada orang lain di sekitar kita yang tidak sejahtera! Karena itu, Bapak Uskup kita tahun ini mengajak kita semua: ”Mari bekerja sama melawan kemiskinan”. Melalui bahan-bahan pendalaman APP, semoga iman kita bertumbuh dalam suatu tindakan yang nyata.
Salah satu tindakan melawan kemiskinan yaitu bermatiraga dengan menyisihkan sebagian dana dari kebutuhan harian kita dengan memasukan untuk kebutuhan orang miskin. Itu kita lakukan melalui amplop Paskah. Akan tetapi umat selalu mengisih amplop paskah itu pada akhir masa prapaskah jika ketua lingkungan mulai mengumpulkannya. Nah ini bukan maksudnya, tetapi dana itu harus disisihkan setiap hari.
Kedua, soal kejahatan yang ada di dalam diri kita sendiri. Setiap kita terlahir dalam keadaan berdosa. Mzm 51: 7 ”Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” sehingga melakukan sesuatu yang baik dan benar adalah hal yang tidak mudah. Hal yang paling sulit adalah mengalahkan diri sendiri.
Bacaan Injil hari ini menampilkan kisah tentang godaan yang dialami oleh Yesus. Godaan yang dialami oleh Yesus adalah godaan setiap umat Kristiani sepanjang zaman: yaitu godaan untuk hidup dengan mengandalkan barang-barang materi, godaan untuk mencari kemuliaan sendiri daripada kemuliaan Allah dan godaan untuk tidak beribadah kepada Allah tetapi menyembah kepada kekuatan-kekuatan duniawi atau bahkan kekuatan-kekuatan jahat.
Dalam Injil tadi dikatakan bahwa setelah tidak berhasil menggoda Yesus, setan mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang tepat.
Rasul Petrus mengingakan kita: ”Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh..." (1 Pet 5: 8-9).
Nah...bagaimana kita dapat mimiliki iman yang teguh kalau kita tidak pernah berdoa? Orang ketiga dalam kisah imajinatif tadi, dipuji oleh Rabbi sebagai orang yang bijaksana karena dia tahu kelemahannya dan karena itu dia senantiasa berusaha untuk dekat dengan Tuhan agar diberi kekuatan. Demikianpun hendaknya kita. Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan kita sendiri.
Saudara dan saudariku
Allah senantiasa ada bersama dengan kita dalam perjuangan dan pergulatan kita melawan kejahatan. Dia akan mau membantu kita jika kita mohon kepadanya. Semoga bersama St. Paulus, kita pun dapat berkata: ”Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:13). Amin.
Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Paroki Sta. Odilia - Citra Raya - Tangerang
Minggu Biasa V - Tahun C - 2010
Bacaan
Yes 6:1-2,3-8 1 Kor 15:1-11 Luk 5:1-11
Renungan:
Saya akan mengawali permenungan saya atas bacaan-bacaan hari ini dengan sebuah kisah imajinatif. Tetapi sebelum bercerita, saya ingin bertanya: bagaimana perasaanmu kalau saat ini, juga Yesus menampakan diri-Nya kepadamu?
Ada seorang yang bergabung dalam sebuah kelompok koor dalam sebuah paroki. Orang itu memang tidak bisa menyanyi sama sekali. Setiap kali dia menyanyi pasti mengundang orang tertawa karena suaranya memang out of tune. Pada suatu ketika, pemimpin koor mendekati orang itu dan mengatakan “anda lebih baik tidak bergabung dengan koor ini karena anda tidak bisa membaca not dengan tepat”. Tetapi ada beberapa anggota mengusulkan agar orang itu diberi kesempatan lagi untuk berlatih lebih banyak. Jadi ada pro dan kontra di dalam koor itu. Akhirnya pemimpin koor itu datang kepada pastor kepala untuk mengeluh. Dia bahkan mengatakan: “Tolong pastor…minta orang itu supaya jangan bergabung dengan koor kami soalnya suaranya seperti kaleng pecah. Saya akan (mutung) berhenti melatih koor kalau masih ada dia”. Akhirnya pastor itu datang kepada orang tadi dan mengatakan: ”Saudariku yang baik. Saya kira mungkin lebih baik anda tidak lagi bergabung dalam koor ini.” Orang itu kaget mendengar perkataan sang pastor tadi dan balik bertanya: ”mengapa saya harus meninggalkan koor?” Sang Pastor menjawab: ”ada cukup banyak orang mengatakan bahwa anda tidak bisa menyanyi dengan baik. Suaramu cempreng dan sangat mengganggu”. Lantas orang itu menjawab: “Oh…itu tidak apa-apa pastor dibandingkan dengan hal yang satu ini. Ada cukup banyak umat yang mengatakan bahwa “anda tidak bisa berkotbah dengan baik. Setiap kali misa, anda selalu membawa buku kotbah orang lain dan membacanya”. [Kisah ini tidak terjadi di paroki kita, meskipun ada pastor kita yang selalu baca buku kotbah orang lain].
Saudara dan saudariku
Bacaan-bacaan hari ini menunjukkan bahwa Allah bisa menggunakan siapa saja untuk melaksanakan kehendak Ilahi-Nya. Dalam bacaan pertama tadi kita mendengar kisah tentang panggilan nabi Yesaya. Dalam bacaan kedua, tentang panggilan Paulus dan dalam bacaan Injil kita mendengar kisah tentang panggilan Petrus dan rasul-rasul yang lain. Kita lihat bagaimana reaksi orang-orang ini ketika menyadari bahwa mereka tengah berada dalam kemuliaan Allah? Semuanya merasa sebagai orang yang tidak mampu dan pantas di hadapan Allah.
Dalam Yes 6:5, kita baca reaksi Yesaya ketika ia melihat kemuliaan Allah: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."
Rasul Paulus mengakui dalam 1 Kor 15: 9: “….aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” Sedangkan Petrus dalam bacaan injil tadi mengatakan: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." (Luk 5:8) (komentar atas perasaan orang)
Saudara dan saudariku
Perasaan tidak pantas di hadapan Allah boleh jadi merupakan suatu tanda jiwa seseorang telah merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Atau perasaan tidak pantas merupakan tanda bahwa jiwa seseorang telah menyadari akan panggilan Tuhan di dalam dirinya. Itulah sebabnya, kerendahan hati merupakan kebajikan utama yang penting dalam menjalankan sebuah panggilan rohani. Kerendahan hati itu tidak sama dengan rendah diri. Orang yang selalu merasa rendah diri, boleh jadi merupakan tanda bahwa orang itu tidak pernah mengalami kehadiran Allah di dalam hidupnya. Atau tidak pernah menyadari panggilan Tuhan di dalam dirinya.
Saudara dan saudariku.
Suatu hal yang pasti adalah ketika kita mengakui keberdosaan dan ketidakpantasan di hadapan Allah, maka Allah akan mengulurkan kasih-Nya, menjamah kita serta memampukan kita untuk menjalankan kehendak Sabda-Nya.
Dalam peristiwa panggilan Yesaya dikatakan bahwa setelah Yesaya mengakui ketidakpantasan dan keberdosaannya di hadapan Allah, Allah justru mengambil inisiatif. Dikatakan bahwa “seorang Serafim terbang mendapatkan dia. Di tangan Serafim itu ada bara api dan menyentuhkan pada mulut Yesaya serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni." (Yes 6:6-7).
Dalam peristiwa panggilan Petrus dan para murid yang lain, Yesus mengatakan: “Jangan takut, sebab mulai sekarang engkau akan menjala manusia”. Jadi kita bisa melihat bahwa baik Yesaya maupun Petrus dipanggil untuk suatu tugas pelayanan yang suci bukan karena kemampuan yang ada pada diri mereka, melainkan semata karena rahmat dari Allah. Itulah sebabnya, rasul Paulus dapat berkata: “karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang,” (1 Kor 15:10).
Saudara dan saudariku.
Selain kerendahan hati sebagai kebajikan yang utama dalam menjalankan suatu panggilan rohani, dalam ketiga bacaan hari ini, kita bisa melihat adanya kesamaan di antara Yesaya, St. Paulus dan Rasul Petrus dipanggil untuk suatu tugas yang suci, yaitu kesediaan untuk menjalankan tugas itu dan juga bersedia dibimbing oleh Yesus. Dalam panggilan Yesaya, setelah ia mendengar suara yang mengatakan: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka jawab Yesaya: "Ini aku, utuslah aku!" (Yes 6:8).
Dalam panggilan rasul Petrus dan murid-murid yang lain, dikatakan bahwa “mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus” (Luk 5:11). Mereka tidak lagi menoleh ke belakang. Sedangkan rasul Paulus, yang banyak berjerih lelah demi injil, melebihi rasul-rasul yang lain yang telah dipanggil lebih dahulu, mengatakan dengan jujur: “…. bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (1 Kor 10:15).
Jadi saudara dan saudariku, perasaan tidak pantas dan tidak layak tidak cukup membuat seseorang dapat menjalankan sebuah tugas perutusan. Tetapi perasaan tidak pantas itu harus diikuti dengan kesediaan diri untuk diutus. Nah…yang sering terjadi di paroki kita, terutama dalam hal pemilihan ketua lingkungan atau seksi-seksi, orang seringkali hanya berhenti pada rasa tidak layak dan pantas. Hanya sampai di situ saja. Mereka tidak mau berlangkah pada tahap yang berikut adalah menyediakan diri. Kalau soal pantas dan tidak pantas, siapa sih yang pantas di hadapan Allah? Tidak ada orang. Yesaya, Paulus dan Petrus mengakui hal itu. Tetapi mereka mau memberi diri bagi tugas perutusan yang dipercayakan kepada mereka. Mereka mau membiarkan diri dibimbing oleh Sabda Tuhan. Dan kita tahu hasilnya: Luar biasa.
Hal ini dapat kita lihat dalam bacaan Injil tadi. Petrus dan rasul-rasul yang lain telah bekerja sepanjang malam tetapi tidak mendapatkan seekor ikan pun. Mereka bekerja keras dengan mengandalkan kemampuan dan kemahiran mereka. Tetapi ternyata tidak sesekor pun yang mereka tangkap. Seakan-akan tidak ada sesekor ikan pun yang hidup di dalam danau itu. Lantas, pada pagi hari mereka berjumpa dengan Yesus. Yesus menyuruh Petrus untuk melemparkan jalanya. Sesuatu yang aneh sebetulnya.
Bagi yang suka mancing di laut pasti tahu bahwa waktu yang tepat untuk mancing adalah pada malam hari. ini. Sebagai seorang nelayan, Petrus pasti tahu bahwa pagi atau siang hari merupakan saat yang tidak tepat untuk menebarkan jala. Tetapi Petrus tetap saya melakukan apa yang Yesus perintahkan. Ia berkata: ”...tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga". Ini adalah suatu lompatan iman. Petrus berani melakukan apa yang berada di luar pemikiran manusia. Dan memang hasilnya luar biasa.
Saudara dan saudariku…
Hari-hari ini dalam paroki kita, ketika masa kepengurusan Dewan Harian dan seksi-seksinya hampir berakhir, Allah terus bertanya kepada setiap kita: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”. Tuhan masih terus membutuhkan orang-orang yang bersedia diutus seperti Yesaya untuk mewartakan Sabda Allah di kalangan sendiri. Atau seperti Paulus, yang diutus untuk mewartakan kabar sukacita kepada segala bangsa. Atau seperti Petrus, yang memberi kesaksian tentang Yesus di tempat ia berkarya, kepada rekan-rekan kerjanya agar mereka pun mengenal dan mengikuti Yesus.
“Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”. Jika anda merasa pantas, maka ketahuilah bahwa Allah dapat menggunakan anda. Hanya saja, anda harus mengambil konseskuensi dari tugas perutusan itu dengan menjawab: ”Ini aku, utuslah aku”. Tuhan memang tahu bahwa anda dan saya tidak mampu dan tidak pantas, tetapi dia akan memberikan kita kemampuan untuk menjalankan tugas perutusan kita sebagaimana ia lakukan kepada Yesaya, St. Paulus dan St. Petrus. Amin.
Yes 6:1-2,3-8 1 Kor 15:1-11 Luk 5:1-11
Renungan:
Saya akan mengawali permenungan saya atas bacaan-bacaan hari ini dengan sebuah kisah imajinatif. Tetapi sebelum bercerita, saya ingin bertanya: bagaimana perasaanmu kalau saat ini, juga Yesus menampakan diri-Nya kepadamu?
Ada seorang yang bergabung dalam sebuah kelompok koor dalam sebuah paroki. Orang itu memang tidak bisa menyanyi sama sekali. Setiap kali dia menyanyi pasti mengundang orang tertawa karena suaranya memang out of tune. Pada suatu ketika, pemimpin koor mendekati orang itu dan mengatakan “anda lebih baik tidak bergabung dengan koor ini karena anda tidak bisa membaca not dengan tepat”. Tetapi ada beberapa anggota mengusulkan agar orang itu diberi kesempatan lagi untuk berlatih lebih banyak. Jadi ada pro dan kontra di dalam koor itu. Akhirnya pemimpin koor itu datang kepada pastor kepala untuk mengeluh. Dia bahkan mengatakan: “Tolong pastor…minta orang itu supaya jangan bergabung dengan koor kami soalnya suaranya seperti kaleng pecah. Saya akan (mutung) berhenti melatih koor kalau masih ada dia”. Akhirnya pastor itu datang kepada orang tadi dan mengatakan: ”Saudariku yang baik. Saya kira mungkin lebih baik anda tidak lagi bergabung dalam koor ini.” Orang itu kaget mendengar perkataan sang pastor tadi dan balik bertanya: ”mengapa saya harus meninggalkan koor?” Sang Pastor menjawab: ”ada cukup banyak orang mengatakan bahwa anda tidak bisa menyanyi dengan baik. Suaramu cempreng dan sangat mengganggu”. Lantas orang itu menjawab: “Oh…itu tidak apa-apa pastor dibandingkan dengan hal yang satu ini. Ada cukup banyak umat yang mengatakan bahwa “anda tidak bisa berkotbah dengan baik. Setiap kali misa, anda selalu membawa buku kotbah orang lain dan membacanya”. [Kisah ini tidak terjadi di paroki kita, meskipun ada pastor kita yang selalu baca buku kotbah orang lain].
Saudara dan saudariku
Bacaan-bacaan hari ini menunjukkan bahwa Allah bisa menggunakan siapa saja untuk melaksanakan kehendak Ilahi-Nya. Dalam bacaan pertama tadi kita mendengar kisah tentang panggilan nabi Yesaya. Dalam bacaan kedua, tentang panggilan Paulus dan dalam bacaan Injil kita mendengar kisah tentang panggilan Petrus dan rasul-rasul yang lain. Kita lihat bagaimana reaksi orang-orang ini ketika menyadari bahwa mereka tengah berada dalam kemuliaan Allah? Semuanya merasa sebagai orang yang tidak mampu dan pantas di hadapan Allah.
Dalam Yes 6:5, kita baca reaksi Yesaya ketika ia melihat kemuliaan Allah: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."
Rasul Paulus mengakui dalam 1 Kor 15: 9: “….aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” Sedangkan Petrus dalam bacaan injil tadi mengatakan: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." (Luk 5:8) (komentar atas perasaan orang)
Saudara dan saudariku
Perasaan tidak pantas di hadapan Allah boleh jadi merupakan suatu tanda jiwa seseorang telah merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Atau perasaan tidak pantas merupakan tanda bahwa jiwa seseorang telah menyadari akan panggilan Tuhan di dalam dirinya. Itulah sebabnya, kerendahan hati merupakan kebajikan utama yang penting dalam menjalankan sebuah panggilan rohani. Kerendahan hati itu tidak sama dengan rendah diri. Orang yang selalu merasa rendah diri, boleh jadi merupakan tanda bahwa orang itu tidak pernah mengalami kehadiran Allah di dalam hidupnya. Atau tidak pernah menyadari panggilan Tuhan di dalam dirinya.
Saudara dan saudariku.
Suatu hal yang pasti adalah ketika kita mengakui keberdosaan dan ketidakpantasan di hadapan Allah, maka Allah akan mengulurkan kasih-Nya, menjamah kita serta memampukan kita untuk menjalankan kehendak Sabda-Nya.
Dalam peristiwa panggilan Yesaya dikatakan bahwa setelah Yesaya mengakui ketidakpantasan dan keberdosaannya di hadapan Allah, Allah justru mengambil inisiatif. Dikatakan bahwa “seorang Serafim terbang mendapatkan dia. Di tangan Serafim itu ada bara api dan menyentuhkan pada mulut Yesaya serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni." (Yes 6:6-7).
Dalam peristiwa panggilan Petrus dan para murid yang lain, Yesus mengatakan: “Jangan takut, sebab mulai sekarang engkau akan menjala manusia”. Jadi kita bisa melihat bahwa baik Yesaya maupun Petrus dipanggil untuk suatu tugas pelayanan yang suci bukan karena kemampuan yang ada pada diri mereka, melainkan semata karena rahmat dari Allah. Itulah sebabnya, rasul Paulus dapat berkata: “karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang,” (1 Kor 15:10).
Saudara dan saudariku.
Selain kerendahan hati sebagai kebajikan yang utama dalam menjalankan suatu panggilan rohani, dalam ketiga bacaan hari ini, kita bisa melihat adanya kesamaan di antara Yesaya, St. Paulus dan Rasul Petrus dipanggil untuk suatu tugas yang suci, yaitu kesediaan untuk menjalankan tugas itu dan juga bersedia dibimbing oleh Yesus. Dalam panggilan Yesaya, setelah ia mendengar suara yang mengatakan: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka jawab Yesaya: "Ini aku, utuslah aku!" (Yes 6:8).
Dalam panggilan rasul Petrus dan murid-murid yang lain, dikatakan bahwa “mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus” (Luk 5:11). Mereka tidak lagi menoleh ke belakang. Sedangkan rasul Paulus, yang banyak berjerih lelah demi injil, melebihi rasul-rasul yang lain yang telah dipanggil lebih dahulu, mengatakan dengan jujur: “…. bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (1 Kor 10:15).
Jadi saudara dan saudariku, perasaan tidak pantas dan tidak layak tidak cukup membuat seseorang dapat menjalankan sebuah tugas perutusan. Tetapi perasaan tidak pantas itu harus diikuti dengan kesediaan diri untuk diutus. Nah…yang sering terjadi di paroki kita, terutama dalam hal pemilihan ketua lingkungan atau seksi-seksi, orang seringkali hanya berhenti pada rasa tidak layak dan pantas. Hanya sampai di situ saja. Mereka tidak mau berlangkah pada tahap yang berikut adalah menyediakan diri. Kalau soal pantas dan tidak pantas, siapa sih yang pantas di hadapan Allah? Tidak ada orang. Yesaya, Paulus dan Petrus mengakui hal itu. Tetapi mereka mau memberi diri bagi tugas perutusan yang dipercayakan kepada mereka. Mereka mau membiarkan diri dibimbing oleh Sabda Tuhan. Dan kita tahu hasilnya: Luar biasa.
Hal ini dapat kita lihat dalam bacaan Injil tadi. Petrus dan rasul-rasul yang lain telah bekerja sepanjang malam tetapi tidak mendapatkan seekor ikan pun. Mereka bekerja keras dengan mengandalkan kemampuan dan kemahiran mereka. Tetapi ternyata tidak sesekor pun yang mereka tangkap. Seakan-akan tidak ada sesekor ikan pun yang hidup di dalam danau itu. Lantas, pada pagi hari mereka berjumpa dengan Yesus. Yesus menyuruh Petrus untuk melemparkan jalanya. Sesuatu yang aneh sebetulnya.
Bagi yang suka mancing di laut pasti tahu bahwa waktu yang tepat untuk mancing adalah pada malam hari. ini. Sebagai seorang nelayan, Petrus pasti tahu bahwa pagi atau siang hari merupakan saat yang tidak tepat untuk menebarkan jala. Tetapi Petrus tetap saya melakukan apa yang Yesus perintahkan. Ia berkata: ”...tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga". Ini adalah suatu lompatan iman. Petrus berani melakukan apa yang berada di luar pemikiran manusia. Dan memang hasilnya luar biasa.
Saudara dan saudariku…
Hari-hari ini dalam paroki kita, ketika masa kepengurusan Dewan Harian dan seksi-seksinya hampir berakhir, Allah terus bertanya kepada setiap kita: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”. Tuhan masih terus membutuhkan orang-orang yang bersedia diutus seperti Yesaya untuk mewartakan Sabda Allah di kalangan sendiri. Atau seperti Paulus, yang diutus untuk mewartakan kabar sukacita kepada segala bangsa. Atau seperti Petrus, yang memberi kesaksian tentang Yesus di tempat ia berkarya, kepada rekan-rekan kerjanya agar mereka pun mengenal dan mengikuti Yesus.
“Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”. Jika anda merasa pantas, maka ketahuilah bahwa Allah dapat menggunakan anda. Hanya saja, anda harus mengambil konseskuensi dari tugas perutusan itu dengan menjawab: ”Ini aku, utuslah aku”. Tuhan memang tahu bahwa anda dan saya tidak mampu dan tidak pantas, tetapi dia akan memberikan kita kemampuan untuk menjalankan tugas perutusan kita sebagaimana ia lakukan kepada Yesaya, St. Paulus dan St. Petrus. Amin.
Jumad Pertama Februari 2010
Bacaan:
Sirach 47:2-11.
Injil Mark 6:14-29
RENUNGAN
Dalam bacaan-bacaan hari ini, kita lihat ada 3 cara manusia bersikap atas dosa. Cara pertama, kita lihat dalam pribadi dan cara Herodias. Herodias terlibat dalam perselingkuhan dengan Herodes. Dia tahu bahwa itu salah, tetapi dia tidak mau bertobat. Ada orang yang menegur dia tentang dosa dan kesalahan yang telah ia lakukan, yaitu Yohanes Pembaptis. Akan tetapi Herodias malah berusaha untuk menyingkirkan Yohanes Pembaptis, supaya hati kecilnya tidak selalu diganggu. Dengan demikian dia mau menunjukkan bahwa apa yang ia lakukan itu benar. Herodias seakan berkata: “saya akan menyngkirkan Yohanes Pembaptis maka tidak ada orang yang akan mengatakan bahwa apa yang saya lakukan ini adalah salah”.
Cara kedua, dapat kita lihat dalam pribadi Herodes. Dia tahu bahwa apa yang ia lakukan itu salah, tetapi ia tidak suka bahwa Yohanes Pembaptis menegur dia. Dia tahu bahwa apa yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis itu benar, tetapi ia tidak mau kalau kebenaran itu mengganggu dia. Ia sungguh menikmati perselingkuhan itu, maka dia tidak mau menggubah cara hidupnya. Hatinya terjebak di antara cinta diri dan kenikmatan.
Saya yakin bahwa di dalam hati dan pikiran Herodes ada pergulatan seperti ini: “apakah saya harus melakukan apa yang benar? Atau saya terus melanjutkan apa yang telah salah saya lakukan selama ini? Saya tahu bahwa sebetulnya saya ingin melakukan apa yang benar.....tetapi saya sungguh menikmati kesalahan yang telah saya lakukan.......”
Dari pergulatan itu, Herodes akhirnya mengambil jalan untuk tetap melakukan dosa sekalipun hal itu tetap mengganggu kesadaran dan suara hatinya. Dan apa yang terjadi di kemudian hari? Kesadaran dan suara hatiya menjadi tumpul sehingga ia tidak lagi peduli dengan apa yang disebut sebagai kebenaran.
Cara ketiga, kita dengar dalam bacaan I tadi yaitu tentang Daud. Daud ingin sekali melayani Tuhan. Kita tahu bahwa Daud telah melakukan banyak kesalahan dan dosa di hadapan Tuhan.
Dalam bacaan hari rabu kemarin dari 2 Sam 24: 2, 9-17; di katakan bahwa Daud mulai menunjukan sikap kurang percaya kepada Allah. Ia tidak percaya bahwa Allah akan memberikan bantuan dalam hal apapun yang ia perlukan termasuk bisa penyediakan pasukan bagi Daud. Daud memerintahkan untuk menghitung berapa jumlah orang yang layak menjadi tentara. Hal ini sebenarnya dilarang oleh Allah karena melakukan hal itu berarti tidak lagi percaya kepada Allah. Akibat dari dosa Daud ini dirasakan oleh seluruh rakyat. Dosa Daud yang sangat memalukan adalah mengambil Betsheba, Istri Uria, untuk dijadikan selirnya.
Tetapi dalam bacaan I tadi kita mendengar bahwa semua dosa dan kesalahan Daud itu diampuni oleh Tuhan? Mengapa? Karena Daud bertobat. Dan setelah bertobat, Daud lebih sungguh-sungguh lagi ingin melayani Tuhan.
Saudara dan saudariku….
Tiga cara bersikap atas dosa yang saya jelaskan tadi, bisa merupakan 3 kemungkinan cara kita pun bersikap atas dosa.
Pertama, ketika kita berdosa, kita bisa saja berkata: “Saya memang telah berdosa, tetapi peduli amat. Malah kita berusaha untuk mencari pembenaran atas dosa itu. Ada banyak orang yang setelah melakukan kesalahan dan dosa, berusaha untuk melakukan pembenaran atas tindakan dosa mereka itu. Sama seperti Herodias tadi.
Kedua, ketika kita berdosa dan ada orang menegur kita, tetapi kita berkata: “anda benar…apa yang saya lakukan ini salah…” Kita mengakui bahwa kita salah tetapi tidak mau berhenti berdosa. Hal ini nampak dalam sikap Herodes.
Ketiga, ketika kita berdosa…ada yang memperingati kita, dan kita pun dengan menyesal berkata: “Anda benar….saya telah berdosa, saya perlu bertobat. Inilah yang dilakukan oleh Daud.
Inilah 3 kemungkinan cara kita dapat bersikap atas dosa. Mau pilih yang mana? Kita mungkin akan menjawab, yang ketiga. Tetapi kalau jujur terhadap diri kita sendiri, maka kita dapat menemukan bahwa ketiga cara bersikap atas dosa ini, juga kita lakukan dalam hidup kita.
Kalau kita lihat tentang dosa yang dilakukan oleh Daud adalah sangat memalukan. Seorang raja berselingkuh. Hari jumad kemarin saya memberi retret kepada anak-anak SMK St. Maria Mediatrix, dan banyak dari mereka adalah non Kristen. Dan kebetulan bacaan I adalah kisah tentang Daud dan Bersyeba. Ketika bacaan I dibawakan, dalam hati, saya merasa malu. Pikiran saya, aduh...bisa-bisa yang non Kristen akan berkata....masa sih KS orang Kristen berisi tentang perselingkuhan? Sekali lagi, sangat memalukan, tetapi semuanya itu diampuni.
Saudara dan saudariku
Jika dosa Daud itu bisa diampuni karena ia jujur mengungkapkannya dan bertobat maka dosa kita pun pasti bisa diampuni, asalkan kita mengungkapkannya dengan jujur dan setelah itu bertobat. Di sinilah pentingnya sakramen rekonsiliasi – yang tidak sangat popular bagi orang Katolik.
Sudah seringkali saya mengatakan dari mimbar sini, apa yang saya kutip dari catatan harian St. Maria Faustina. Dalam suatu penampakan-Nya, Yesus mendesak St. Faustina untuk mengatakan hal ini kepada kita semua: ”Hai pendosa, janganlah engkau takut pada Penyelamatmu. Akulah yang pertama berinisiatif datang kepadamu karena Aku tahu bahwa dengan kekuatanmu sendiri, engkau tak dapat datang kepada-Ku. Anakku...janganlah menjauhkan dirimu dari Bapamu. Jujurlah berbicara dengan Aku. Aku ingin berbicara denganmu tentang pengampunan. Aku ingin mencurahkan rahmat-Nya atas dirimu. Betapa Aku mengasihi jiwamu. Aku telah menuliskan engkau pada telapak tangan-Ku. Namamu terpahat dalam pada luka Hati-Ku. .... Anak-Ku...apakah engkau takut pada Allahmu yang Maharahim? Kekudusan-Ku tidak menghalangi Aku menunjukkan kerahiman-Ku kepadamu. Lihatlah...untukmu Aku telah mendirikan suatu tahta kerahiman di dunia ini – Sakramen Rekonsiliasi – dari sana Aku rindu memasuki hatimu. Engkau bisa datang kepada-Ku setiap saat dan kapanpun engkau mau. Aku ingin berbicara kepadamu. Aku rindu mencurahkan rahmat pengampunan kepadamu....”
Saudara dan saudariku.
Jika kita tidak peduli atas dosa-dosa kita atau mencoba untuk menutupi dosa-dosa itu, maka tidak akan ada pengampunan karena kita belum bertobat. Dosa yang tidak dapat diampuni adalah dosa sikap keras hati yang tidak mau bertobat. Kita menolak untuk menerima kerahiman Allah, maka itu adalah dosa melawan Roh Kudus, dan kita tidak akan diampuni jika kita tidak mau bertobat. Saya kira, tidak begitu banyak orang datang kepada sakramen rekonsiliasi karena kurangnya kesadaran orang untuk bertobat.
Saudara dan saudariku.
Kembali kepada bacaan-bacaan hari ini. Kita bisa bertanya kepada diri sendiri: seberapa dalamkah kita rindu untuk melayani Allah? Apakah hati kita terjebak dalam kenikmatan dosa, sehingga tidak mau bertobat? Atau apakah kita memang tidak mau peduli sama sekali dengan dosa dan salah kita?
Ada begitu banyak orang Katolik yang menggunakan alat kontrasepsi dan tidak mau mengakui bahwa itu adalah dosa. Mereka berusaha untuk mencari pembenaran melalui ilmu pengetahuan dengan mengatakan gereja harus berubah dalam ajaran moralnya. Mereka seperti Herodias yang berusaha untuk mencari pembenaran diri. Atau ada orang yang berusaha mencari pembenaran diri dengan mengatakan ini: ”Pastor juga kan manusia?” Benar itu. Saya mengakui bahwa kami adalah manusia dan tetap manusia. Kami seperti bejana tanah liat yang rapuh yang mudah pecah, tetapi di dalam diri kami terkandung sebuah harta surgawi. St. Yohanes Maria Vianney, pada suatu kesempatan menunjuk kepada Bapa pengakuannya dan mengatakan ini: ”itulah dia, orang yang membukakan pintu surga bagi saya”
Yesus sendiri dalam penampakan kepada St. Maria Faustina, mengatakan: ”yang kamu hadapi di sana bukanlah seorang manusia, tetapi Aku sendirilah yang akan bertindak melalui imam-Ku. Aku akan mencurahkan pintu kerahiman-Ku selebar-lebarnya bagi jiwa yang datang kepada-Ku dengan penuh kepercayaan”. Jadi, jangan berusaha untuk mencari pembenaran diri atas dosa.
Atau ada yang seperti Herodes. Kita tahu bahwa kita telah melakukan dosa, tetapi kita mengakuinya dengan sikap setengah-setengah karena kita sebenarnya tidak mau bertobat.
Ada yang seperti Daud. Dia tahu bahwa dia telah berdosa, tetapi dia bertobat dan dengan sungguh mengarahkan hatinya kepada Allah.
Saudara dan saudariku.
Tak peduli seberapa besarnya dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan, tetapi jika ingin bertobat dan ingin melayani Tuhan dengan sepenuh hati, maka dosa kita pun akan diampuni. Dengan demikian, kita akan semakin mampu memuji dan memuliakan Allah. Kita akhirnya dapat mengakui bahwa hidup kita ini semata-mata karena kasih dan kerahiman dari Allah sehingga kita semakin dapat mencintai-Nya dengan segenap hati, dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi kita. Amin.
Sirach 47:2-11.
Injil Mark 6:14-29
RENUNGAN
Dalam bacaan-bacaan hari ini, kita lihat ada 3 cara manusia bersikap atas dosa. Cara pertama, kita lihat dalam pribadi dan cara Herodias. Herodias terlibat dalam perselingkuhan dengan Herodes. Dia tahu bahwa itu salah, tetapi dia tidak mau bertobat. Ada orang yang menegur dia tentang dosa dan kesalahan yang telah ia lakukan, yaitu Yohanes Pembaptis. Akan tetapi Herodias malah berusaha untuk menyingkirkan Yohanes Pembaptis, supaya hati kecilnya tidak selalu diganggu. Dengan demikian dia mau menunjukkan bahwa apa yang ia lakukan itu benar. Herodias seakan berkata: “saya akan menyngkirkan Yohanes Pembaptis maka tidak ada orang yang akan mengatakan bahwa apa yang saya lakukan ini adalah salah”.
Cara kedua, dapat kita lihat dalam pribadi Herodes. Dia tahu bahwa apa yang ia lakukan itu salah, tetapi ia tidak suka bahwa Yohanes Pembaptis menegur dia. Dia tahu bahwa apa yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis itu benar, tetapi ia tidak mau kalau kebenaran itu mengganggu dia. Ia sungguh menikmati perselingkuhan itu, maka dia tidak mau menggubah cara hidupnya. Hatinya terjebak di antara cinta diri dan kenikmatan.
Saya yakin bahwa di dalam hati dan pikiran Herodes ada pergulatan seperti ini: “apakah saya harus melakukan apa yang benar? Atau saya terus melanjutkan apa yang telah salah saya lakukan selama ini? Saya tahu bahwa sebetulnya saya ingin melakukan apa yang benar.....tetapi saya sungguh menikmati kesalahan yang telah saya lakukan.......”
Dari pergulatan itu, Herodes akhirnya mengambil jalan untuk tetap melakukan dosa sekalipun hal itu tetap mengganggu kesadaran dan suara hatinya. Dan apa yang terjadi di kemudian hari? Kesadaran dan suara hatiya menjadi tumpul sehingga ia tidak lagi peduli dengan apa yang disebut sebagai kebenaran.
Cara ketiga, kita dengar dalam bacaan I tadi yaitu tentang Daud. Daud ingin sekali melayani Tuhan. Kita tahu bahwa Daud telah melakukan banyak kesalahan dan dosa di hadapan Tuhan.
Dalam bacaan hari rabu kemarin dari 2 Sam 24: 2, 9-17; di katakan bahwa Daud mulai menunjukan sikap kurang percaya kepada Allah. Ia tidak percaya bahwa Allah akan memberikan bantuan dalam hal apapun yang ia perlukan termasuk bisa penyediakan pasukan bagi Daud. Daud memerintahkan untuk menghitung berapa jumlah orang yang layak menjadi tentara. Hal ini sebenarnya dilarang oleh Allah karena melakukan hal itu berarti tidak lagi percaya kepada Allah. Akibat dari dosa Daud ini dirasakan oleh seluruh rakyat. Dosa Daud yang sangat memalukan adalah mengambil Betsheba, Istri Uria, untuk dijadikan selirnya.
Tetapi dalam bacaan I tadi kita mendengar bahwa semua dosa dan kesalahan Daud itu diampuni oleh Tuhan? Mengapa? Karena Daud bertobat. Dan setelah bertobat, Daud lebih sungguh-sungguh lagi ingin melayani Tuhan.
Saudara dan saudariku….
Tiga cara bersikap atas dosa yang saya jelaskan tadi, bisa merupakan 3 kemungkinan cara kita pun bersikap atas dosa.
Pertama, ketika kita berdosa, kita bisa saja berkata: “Saya memang telah berdosa, tetapi peduli amat. Malah kita berusaha untuk mencari pembenaran atas dosa itu. Ada banyak orang yang setelah melakukan kesalahan dan dosa, berusaha untuk melakukan pembenaran atas tindakan dosa mereka itu. Sama seperti Herodias tadi.
Kedua, ketika kita berdosa dan ada orang menegur kita, tetapi kita berkata: “anda benar…apa yang saya lakukan ini salah…” Kita mengakui bahwa kita salah tetapi tidak mau berhenti berdosa. Hal ini nampak dalam sikap Herodes.
Ketiga, ketika kita berdosa…ada yang memperingati kita, dan kita pun dengan menyesal berkata: “Anda benar….saya telah berdosa, saya perlu bertobat. Inilah yang dilakukan oleh Daud.
Inilah 3 kemungkinan cara kita dapat bersikap atas dosa. Mau pilih yang mana? Kita mungkin akan menjawab, yang ketiga. Tetapi kalau jujur terhadap diri kita sendiri, maka kita dapat menemukan bahwa ketiga cara bersikap atas dosa ini, juga kita lakukan dalam hidup kita.
Kalau kita lihat tentang dosa yang dilakukan oleh Daud adalah sangat memalukan. Seorang raja berselingkuh. Hari jumad kemarin saya memberi retret kepada anak-anak SMK St. Maria Mediatrix, dan banyak dari mereka adalah non Kristen. Dan kebetulan bacaan I adalah kisah tentang Daud dan Bersyeba. Ketika bacaan I dibawakan, dalam hati, saya merasa malu. Pikiran saya, aduh...bisa-bisa yang non Kristen akan berkata....masa sih KS orang Kristen berisi tentang perselingkuhan? Sekali lagi, sangat memalukan, tetapi semuanya itu diampuni.
Saudara dan saudariku
Jika dosa Daud itu bisa diampuni karena ia jujur mengungkapkannya dan bertobat maka dosa kita pun pasti bisa diampuni, asalkan kita mengungkapkannya dengan jujur dan setelah itu bertobat. Di sinilah pentingnya sakramen rekonsiliasi – yang tidak sangat popular bagi orang Katolik.
Sudah seringkali saya mengatakan dari mimbar sini, apa yang saya kutip dari catatan harian St. Maria Faustina. Dalam suatu penampakan-Nya, Yesus mendesak St. Faustina untuk mengatakan hal ini kepada kita semua: ”Hai pendosa, janganlah engkau takut pada Penyelamatmu. Akulah yang pertama berinisiatif datang kepadamu karena Aku tahu bahwa dengan kekuatanmu sendiri, engkau tak dapat datang kepada-Ku. Anakku...janganlah menjauhkan dirimu dari Bapamu. Jujurlah berbicara dengan Aku. Aku ingin berbicara denganmu tentang pengampunan. Aku ingin mencurahkan rahmat-Nya atas dirimu. Betapa Aku mengasihi jiwamu. Aku telah menuliskan engkau pada telapak tangan-Ku. Namamu terpahat dalam pada luka Hati-Ku. .... Anak-Ku...apakah engkau takut pada Allahmu yang Maharahim? Kekudusan-Ku tidak menghalangi Aku menunjukkan kerahiman-Ku kepadamu. Lihatlah...untukmu Aku telah mendirikan suatu tahta kerahiman di dunia ini – Sakramen Rekonsiliasi – dari sana Aku rindu memasuki hatimu. Engkau bisa datang kepada-Ku setiap saat dan kapanpun engkau mau. Aku ingin berbicara kepadamu. Aku rindu mencurahkan rahmat pengampunan kepadamu....”
Saudara dan saudariku.
Jika kita tidak peduli atas dosa-dosa kita atau mencoba untuk menutupi dosa-dosa itu, maka tidak akan ada pengampunan karena kita belum bertobat. Dosa yang tidak dapat diampuni adalah dosa sikap keras hati yang tidak mau bertobat. Kita menolak untuk menerima kerahiman Allah, maka itu adalah dosa melawan Roh Kudus, dan kita tidak akan diampuni jika kita tidak mau bertobat. Saya kira, tidak begitu banyak orang datang kepada sakramen rekonsiliasi karena kurangnya kesadaran orang untuk bertobat.
Saudara dan saudariku.
Kembali kepada bacaan-bacaan hari ini. Kita bisa bertanya kepada diri sendiri: seberapa dalamkah kita rindu untuk melayani Allah? Apakah hati kita terjebak dalam kenikmatan dosa, sehingga tidak mau bertobat? Atau apakah kita memang tidak mau peduli sama sekali dengan dosa dan salah kita?
Ada begitu banyak orang Katolik yang menggunakan alat kontrasepsi dan tidak mau mengakui bahwa itu adalah dosa. Mereka berusaha untuk mencari pembenaran melalui ilmu pengetahuan dengan mengatakan gereja harus berubah dalam ajaran moralnya. Mereka seperti Herodias yang berusaha untuk mencari pembenaran diri. Atau ada orang yang berusaha mencari pembenaran diri dengan mengatakan ini: ”Pastor juga kan manusia?” Benar itu. Saya mengakui bahwa kami adalah manusia dan tetap manusia. Kami seperti bejana tanah liat yang rapuh yang mudah pecah, tetapi di dalam diri kami terkandung sebuah harta surgawi. St. Yohanes Maria Vianney, pada suatu kesempatan menunjuk kepada Bapa pengakuannya dan mengatakan ini: ”itulah dia, orang yang membukakan pintu surga bagi saya”
Yesus sendiri dalam penampakan kepada St. Maria Faustina, mengatakan: ”yang kamu hadapi di sana bukanlah seorang manusia, tetapi Aku sendirilah yang akan bertindak melalui imam-Ku. Aku akan mencurahkan pintu kerahiman-Ku selebar-lebarnya bagi jiwa yang datang kepada-Ku dengan penuh kepercayaan”. Jadi, jangan berusaha untuk mencari pembenaran diri atas dosa.
Atau ada yang seperti Herodes. Kita tahu bahwa kita telah melakukan dosa, tetapi kita mengakuinya dengan sikap setengah-setengah karena kita sebenarnya tidak mau bertobat.
Ada yang seperti Daud. Dia tahu bahwa dia telah berdosa, tetapi dia bertobat dan dengan sungguh mengarahkan hatinya kepada Allah.
Saudara dan saudariku.
Tak peduli seberapa besarnya dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan, tetapi jika ingin bertobat dan ingin melayani Tuhan dengan sepenuh hati, maka dosa kita pun akan diampuni. Dengan demikian, kita akan semakin mampu memuji dan memuliakan Allah. Kita akhirnya dapat mengakui bahwa hidup kita ini semata-mata karena kasih dan kerahiman dari Allah sehingga kita semakin dapat mencintai-Nya dengan segenap hati, dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi kita. Amin.
Rabu Pekan III Masa Biasa
Bacaan
2 Sam 7: 4-17
Mark 4: 1-20
Renungan
Para murid bingung mendengar perumpamaan Yesus tentang penabur, karena terkesan bahwa orang yang menaburkan benih itu seakan menghambur-hamburkan benih begitu saja. Karena kebingunan itu, ketika Yesus dan para murid-Nya sendirian, mereka bertanya kepada-Nya apa artinya perumpamaan itu. Dan Jawaban Yesus lebih membingungkan lagi: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya….” di sini Yesus mengutip dari Yesaya 6:9-10: “sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun”
Pertanyaannya adalah: apakah Yesus mau supaya hanya sedikit orang yang mengerti tentang rahasia Kerajaan Allah, dkl…. Apakah Yesus mau supaya hanya sedikit orang saja yang diselamatkan?
Saya kira tidak! Yesus mau supaya setiap orang mendengar dan mengerti dan mengikuti ajaran-Nya. Dia tidak mengatakan bahwa Allah mewahyukan misteri Kerajaan-Nya hanya kepada segelintir orang dan sengaja menyembunyikannya bagi orang lain. Allah justru mau supaya semua orang mengerti tentang misteri Kerajaan-Nya. Hal ini nampak jelas dalam tindakan ’menabur benih tadi’. Tindakan Allah yang kesannya sembarangan menaburkan benih di sembarang tempat itu mau menegaskan bahwa tawaran keselamata Allah itu bersifat umum dan bebas. Allah tidak mau memilih orang atau kelompok tertentu saja. Warta keselamatan oti diperuntukan bagi semua orang tanpa memandang suku, bangsa, agama atau warna kulit.
Tetapi Yesus tahu bahwa setiap orang punya kehendak bebas. Hal ini tampak dalam berbagai jenis tanah yang disebut dalam injil hari ini: tanah dipinggir jalan, tanah yang berbatu, tanah di tengah semak duri dan tanah yang baik. Setiap tanah memiliki kemampuan yang berbeda dalam menerima benih yang ditaburkan di atasnya.
Yesus tahu tahu bahwa beberapa orang akan menanggapi Sabda Allah dengan iman sedangkan yang lain akan menutup hati mereka terhadap sabda Allah tersebut. Yesus juga tahu bahwa jika kita menutup telinga kita….tidak mau mendengarkan Dia…maka akan datang waktunya di mana kita tidak akan bisa mendengar Dia sama sekali.
Yes 6: 9-10 “sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun”
Dalam Mzm 119: 105 dikatakan “firmanmu adalah pelita bagi langkahku dan terang bagi jalanku”
Kalau kita tidak mampu mendengar dan mengerti firman Allah maka hidup kita akan dibimbing oleh kuasa lain yang akan membimbing kita kepada kebinasaan. Bagaimana supaya kita bisa terhidar dari malapetaka ini, (tidak mampu mendengar suara Allah sama sekali).= bagaimana caranya menjadi tanah yang baik bagi firman Allah? Salah satu caranya adalah melalui pertobatan yang terus menerus.
Banyak orang beranggapan bahwa sacrament rekonsiliasi adalah suatu bentuk penyiksaan diri. Ruang pengakuan bukanlah tempat dimana kita mengutuki diri sendiri tetapi lebih sebagai tempat penyembuhan dan pembaharuan jiwa. Ketika kita berhadapan dengan kasih dan kerahiman Allah, maka kita akan diubah…jika tidak lagi takut akan penghakiman Allah…tetapi kita bergembira karena apa yang telah dilimpahkan kepada kita dari sana: “minyak sukacita dikaruniakan kepada kita sebagai ganti kain berkabung” (Yes 61: 3)
Saya yakin kita semua ini ingin menjadi hati kita sebagai tanah yang baik dan subur. Hanya ada satu orang dalam pengalaman saya sebagai iman yang terang-terangan mengatakan kepada saya, via sms, “biarlah saya disebut sebagai anak yang jahat.” Atau masih ada yang lain? Kita semua ini telah menerima tawaran bebas warta keselamatan Allah itu secara bebas pula pada waktu pembaptisan. Karena itu, tidak ada pilihan lain selain berusaha untuk menjadikan hati kita sebagai tanah yang subur untuk sabda-Nya. Bagaimana caranya? Yaitu melalui bacaan KS setiap hari dan merenungkannya. Membiarkan sabda Allah itu meresap dalam kehidupan kita sehingga hidup kita dalam segala aspeknya, misalnya dalam cara berpikir, cara berkata-kata, cara kita melakukan sesuatu diinspirasikan oleh sabda Allah.
Kita bisa belajar dari bunda Maria yang senantiasa menyimpan dan merenungkan sabda Allah di dalam hatinya.
Allah menghedaki buah dari hidup kita. Dan buah yang diharapkan adalah ‘kekudusan’. Memang untuk mencapai kekudusan itu, kita tidak bisa berjuang sendirian. Roh Kudus pasti akan membantu kita tetapi dari pihak kita harus ada kerja sama. Jika tidak ada kerja sama dari kita, maka kita seakan menciptakan batas-batas tertentu. Hati kita seakan tanah yang berbatu. Sikap kerja sama itu bisa kita tunjukan, pertama dalam bentuk rajin dan setia membaca dan merenungkan sabda Tuhan. Kedua, kita harus bertekun dalam doa. Agar kita memperoleh cinta yang mendalam kepada Yesus. Adalah suatu kebohongan kalau orang mengatakan: saya bisa menjadi kudus tanpa harus berdoa. Ketiga, kita harus hidup dalam suatu spiritualitas ‘miskin dalam roh serta penyangkalan diri”. Melalui tiga bentuk kerja sama kita ini, maka saya yakin kita akan menghasilkan buah yang diharapkan Allah dalam hidup kita yaitu kekudusan.
2 Sam 7: 4-17
Mark 4: 1-20
Renungan
Para murid bingung mendengar perumpamaan Yesus tentang penabur, karena terkesan bahwa orang yang menaburkan benih itu seakan menghambur-hamburkan benih begitu saja. Karena kebingunan itu, ketika Yesus dan para murid-Nya sendirian, mereka bertanya kepada-Nya apa artinya perumpamaan itu. Dan Jawaban Yesus lebih membingungkan lagi: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya….” di sini Yesus mengutip dari Yesaya 6:9-10: “sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun”
Pertanyaannya adalah: apakah Yesus mau supaya hanya sedikit orang yang mengerti tentang rahasia Kerajaan Allah, dkl…. Apakah Yesus mau supaya hanya sedikit orang saja yang diselamatkan?
Saya kira tidak! Yesus mau supaya setiap orang mendengar dan mengerti dan mengikuti ajaran-Nya. Dia tidak mengatakan bahwa Allah mewahyukan misteri Kerajaan-Nya hanya kepada segelintir orang dan sengaja menyembunyikannya bagi orang lain. Allah justru mau supaya semua orang mengerti tentang misteri Kerajaan-Nya. Hal ini nampak jelas dalam tindakan ’menabur benih tadi’. Tindakan Allah yang kesannya sembarangan menaburkan benih di sembarang tempat itu mau menegaskan bahwa tawaran keselamata Allah itu bersifat umum dan bebas. Allah tidak mau memilih orang atau kelompok tertentu saja. Warta keselamatan oti diperuntukan bagi semua orang tanpa memandang suku, bangsa, agama atau warna kulit.
Tetapi Yesus tahu bahwa setiap orang punya kehendak bebas. Hal ini tampak dalam berbagai jenis tanah yang disebut dalam injil hari ini: tanah dipinggir jalan, tanah yang berbatu, tanah di tengah semak duri dan tanah yang baik. Setiap tanah memiliki kemampuan yang berbeda dalam menerima benih yang ditaburkan di atasnya.
Yesus tahu tahu bahwa beberapa orang akan menanggapi Sabda Allah dengan iman sedangkan yang lain akan menutup hati mereka terhadap sabda Allah tersebut. Yesus juga tahu bahwa jika kita menutup telinga kita….tidak mau mendengarkan Dia…maka akan datang waktunya di mana kita tidak akan bisa mendengar Dia sama sekali.
Yes 6: 9-10 “sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun”
Dalam Mzm 119: 105 dikatakan “firmanmu adalah pelita bagi langkahku dan terang bagi jalanku”
Kalau kita tidak mampu mendengar dan mengerti firman Allah maka hidup kita akan dibimbing oleh kuasa lain yang akan membimbing kita kepada kebinasaan. Bagaimana supaya kita bisa terhidar dari malapetaka ini, (tidak mampu mendengar suara Allah sama sekali).= bagaimana caranya menjadi tanah yang baik bagi firman Allah? Salah satu caranya adalah melalui pertobatan yang terus menerus.
Banyak orang beranggapan bahwa sacrament rekonsiliasi adalah suatu bentuk penyiksaan diri. Ruang pengakuan bukanlah tempat dimana kita mengutuki diri sendiri tetapi lebih sebagai tempat penyembuhan dan pembaharuan jiwa. Ketika kita berhadapan dengan kasih dan kerahiman Allah, maka kita akan diubah…jika tidak lagi takut akan penghakiman Allah…tetapi kita bergembira karena apa yang telah dilimpahkan kepada kita dari sana: “minyak sukacita dikaruniakan kepada kita sebagai ganti kain berkabung” (Yes 61: 3)
Saya yakin kita semua ini ingin menjadi hati kita sebagai tanah yang baik dan subur. Hanya ada satu orang dalam pengalaman saya sebagai iman yang terang-terangan mengatakan kepada saya, via sms, “biarlah saya disebut sebagai anak yang jahat.” Atau masih ada yang lain? Kita semua ini telah menerima tawaran bebas warta keselamatan Allah itu secara bebas pula pada waktu pembaptisan. Karena itu, tidak ada pilihan lain selain berusaha untuk menjadikan hati kita sebagai tanah yang subur untuk sabda-Nya. Bagaimana caranya? Yaitu melalui bacaan KS setiap hari dan merenungkannya. Membiarkan sabda Allah itu meresap dalam kehidupan kita sehingga hidup kita dalam segala aspeknya, misalnya dalam cara berpikir, cara berkata-kata, cara kita melakukan sesuatu diinspirasikan oleh sabda Allah.
Kita bisa belajar dari bunda Maria yang senantiasa menyimpan dan merenungkan sabda Allah di dalam hatinya.
Allah menghedaki buah dari hidup kita. Dan buah yang diharapkan adalah ‘kekudusan’. Memang untuk mencapai kekudusan itu, kita tidak bisa berjuang sendirian. Roh Kudus pasti akan membantu kita tetapi dari pihak kita harus ada kerja sama. Jika tidak ada kerja sama dari kita, maka kita seakan menciptakan batas-batas tertentu. Hati kita seakan tanah yang berbatu. Sikap kerja sama itu bisa kita tunjukan, pertama dalam bentuk rajin dan setia membaca dan merenungkan sabda Tuhan. Kedua, kita harus bertekun dalam doa. Agar kita memperoleh cinta yang mendalam kepada Yesus. Adalah suatu kebohongan kalau orang mengatakan: saya bisa menjadi kudus tanpa harus berdoa. Ketiga, kita harus hidup dalam suatu spiritualitas ‘miskin dalam roh serta penyangkalan diri”. Melalui tiga bentuk kerja sama kita ini, maka saya yakin kita akan menghasilkan buah yang diharapkan Allah dalam hidup kita yaitu kekudusan.
Langganan:
Postingan (Atom)