Bacaan
Mal. 4:1-2; 2 2Tes. 3:7-12; Luk. 21:5-19
Pengantar
Saudara dan saudariku
Hari ini adalah hari minggu ke 33 dalam tahun liturgi. Minggu depan kita adalah akhir dari tahun liturgy yang ditandaikan dengan perayaan Kristus Raya semesta Alam. Mendekati akhir tahun litugi ini, gereja mengajak kita untuk berefleksi ataus suatu peristiwa yang pasti akan terjadi, tetapi mengenai waktu dan saatnya hanya Allah saja yang tahu; yaitu tentang akhir dunia. Tujuan dari refleksi atas peristiwa akhir zaman ini bukannya membuat kita takut, tetapi hendaknya membuat kita memilih apa yang tepat dalam hidup ini. Artinya suatu cara hidup yang akan membuat kita mampu menghadapi saat itu dengan penuh iman dan harapan, karena kita tahu bahwa yang akan menghakimi kita adalah Yesus yang kita puji dan sembah dalam perayaan ekaristi ini. Oleh karena itu, dalam perayaan ekaristi ini, marilah kita mohon rahmat untuk senantiasa bisa hidup dalam hadirat Allah. Artinya terus-menerus menyadari kehadiran Allah dalam segala aktivitas yang kita lakukan sehingga membawa kita semakin berkembang dalam hidup rohani. Semoga Tuhan menemukan kita dalam keadaan senantiasa berjaga, ketika ia datang mengambil kita untuk hidup bersamanya di surga.
Homili
Saudara dan saudariku
Bacaan-bacaan hari ini bicara tentang hari kiamat. Beberapa gereja protestan senang sekali dengan tema ini. Dulu pernah ada seminar di gereja tetangga kita tentang ”Kiamat 2012”.
Ada seroang nenek yang dulunya adalah seorang protestan tetapi kemudian menjadi katolik, memberikan wejangan kepada anak-anaknya sebelum ia meninggal dunia: “Sudah sejak saya masih kecil, saya mendengar akhir jaman dikhotbahkan dan ‘diramalkan’. Katanya sudah hampir datang, tetapi ternyata belum juga datang ya! Jadi lebih baik kita serahkan pada Tuhan, sedangkan bagian kita adalah rajin-rajin berdoa dan berbuat baik saja…”
Saya rasa pesan ini sangat bijaksana, sebab jika kita melihat, memang apa yang dikatakan oleh nenek saya itu ada benarnya. Lihat saja, sepanjang sejarah dunia banyak orang telah meneliti ayat-ayat Alkitab untuk menghitung tahun untuk ‘meramalkan’ akhir jaman, lalu muncullah perkiraan, mulai dari tahun 200, 380, 838, 1000, 1260, 1533, 1844, 1914, 1988… hanyalah sekedar contohnya, tetapi tak ada satupun yang benar. Memang akhir zaman adalah suatu misteri. Kita tak akan mungkin dapat mengetahuinya secara tepat, dan pasti tidak mungkin kita ketahui sampai pada saatnya. Namun, ada banyak hal yang dapat kita ketahui tentang kedatangan Yesus yang kedua ini, dan jangan sampai kita tidak mau tahu tentang hal ini.
Berkaitan dengan akhir zaman itu, Yesus dalam bacaan Injil hari ini berkata: ”Kalau kamu bertekun, kamu akan menyelamatkan hidupmu.”
Seringkali dalam hidup ini, kita menyampaikan maksud kita dengan mengungkapkan apa yang sebaliknya, atau dalam kalimat negasi. Saya kasih satu contoh kalimat negasi tersebut.
Seorang ibu berkata kepada anaknya: “Manda….kalau kamu belajar keras sepanjang tahun ini dan tahun depan lulus dengan nilai yang baik, maka mama akan membelikan kamu sepeda baru.”. Dengan kata lain, jika anak itu tidak belajar dengan baik dan tidak lulus dengan hasil yang memuaskan maka ia pasti tidak akan mendapat sepeda sebagai hadiah kelulusannya.
Saudara dan saudariku
Orang nampaknya lebih menangkap maksud dan isi suatu pesanan kalau itu dikatakan dalam suatu kalimat negasi atau kebalikannya. Berkaitan dengan itu, dalam Injil hari ini - sekali lagi - Yesus berkata: “Kalau kamu bertekun, kamu akan menyelamatkan hidupmu.” Di sini kita bisa menangkap maksud Yesus bahwa ‘jika kita tidak bertekun maka kita kehilangan hidup.
Saya ingin mengajak kita untuk memperhatikan perkataan Yesus tadi: “Kalau kamu bertekun, kamu akan menyelamatkan hidupmu.” Kalimat ini menggarisbawahi dua hal penting. Pertama, soal bertekun. Kedua, soal keselamatan jiwa. Hal yang pertama itu penting supaya yang kedua bisa terpenuhi.
Saudara dan saudariku
Apa saja yang perlu kita tekuni di dalam hidup ini agar bisa memperoleh keselamatan? Bacaan-bacaan hari ini menjawabi pertanyaan itu dan sama-sama memberikan penegasan soal pentingnya bertekun. Dalam bacaan I kita mendengar soal pentingnya tertekun di dalam kebenaran. Dalam bacaan II, kita mendengar soal pentingnya bertekun dalam meneladani orang-orang kudus. Dalam bacaan Injil menegaskan pentingnya bertekun dalam iman. Untuk merangkum semuanya itu, saya bisa mengatakan dalam satu kalimat: “Kita harus bertekun untuk hidup secara benar di dalam iman melalui teladan para kudus.
Saudara dan saudariku
Saya mau mengajak kita untuk melihat khusus bacaan II hari ini. Dalam bacaan II tadi
kita mendengar, rasul Paulus mengecam umat yang salah meniiru teladan orang-orang kudus. Nampaknya umat di Tesalonika percaya bahwa tidak lama lagi, akan datang hari kiamat sehingga mereka tidak mau lagi bekerja, tidak melakukan apa-apa lagi. Mereka hanya menunggu. Kepada mereka, Paulus berkata: “siapa yang tidak bekerja, janganlah ia makan.”
Bagi Paulus, hidup dalam kemalasan membuat hidup ini terasa membosankan. Orang yang tidak bekerja gampang terlibat dalam obrolan-obrolan yang tidak berguna, misalnya suka gossip, fitnah, dan menyebabkan perpecahan di dalam jemaat.
• Ams 26:14 = seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya.
• Ams 21:25 = si pemalas dibunuh oleh keinginannya karena tangannya enggan bekerja.
Dengan tidak bekerja, mereka mengabaikan kemuliaan Allah yang nampak dalam pekerjaan manusia.
Kepada orang-orang yang malas, Rasul Paulus memberikan peringatan dan nasihat dalam nama Yesus supaya tetap tenang melakukan pekerjaannya. Setiap orang harus hidup dari usahanya sendiri dan bukan dari pendapatan dan kekayaan orang lain.
Saudara dan saudariku
Apa yang harus kita lakukan jika akhir dunia itu datang esok hari? Mungkin ada baiknya kita mengingat kisah kuno yang sering dikaitkan dengan St. Fransiskus Assisi, walaupun mungkin ini hanya sekedar legenda. Ada orang yang bertanya kepadanya demikian, “Apa yang akan kamu lakukan kalau besok kiamat?” Pada waktu ia sedang mencabut alang-alang di kebunnya. Lalu ia menjawab dengan cepat, “Aku akan menyelesaikan mencabut alang-alang ini dari kebunku.” Ini adalah jawaban seseorang yang yakin bahwa ia telah berusaha melayani Tuhan, sehingga tidak takut menghadapi akhir dunia. Jika Tuhan Yesus datang kembali, ia hanya berharap akan mendengar Yesus berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” (Mat 25:21). Tentu, karena hidup St. Fransiskus yang selalu melaksanakan perbuatan yang ditugaskan kepadanya dengan setia, dengan mata hati terarah kepada Tuhan.
Saudara dan saudariku
Jawaban Fransiskus tadi: “Aku akan menyelesaikan mencabut alang-alang ini dari kebunku.” Apakah kita dapat mengatakan demikian, jika pertanyaan itu ditujukan pada kita. St. Fransiskus tidak mengatakan: ”Saya akan cepat-cepat ke kapel dan menghabiskan waktu yang tersisa ini dengan berdoa” Yang menjadi pertanyaannya adalah: Apakah kita sudah melakukan pekerjaan kita dengan setia sesuai dengan panggilan hidup kita? Apakah kita sudah berusaha melakukan kehendak Tuhan? Belajar dari St. Fransiskus, maka mari kita melakukan hal yang serupa, yaitu mencabut alang-alang dalam kebun hati kita, yaitu mencabut ajaran-ajaran yang keliru tentang akhir jaman, dan mengisinya dengan biji kebajikan, iman, pengharapan dan kasih. Semoga dengan demikian, kita dapat melihat akhir jaman dalam perspektif iman, sebab kita percaya, bahwa akhir jaman akan membawa kita, orang-orang yang percaya, kepada kepenuhan janji Kristus, yaitu keselamatan kekal dan persatuan dengan Allah yang tak terbatas. Maranatha, datanglah, ya Tuhan Yesus!
Minggu Biasa XXIX - Tahun C - 2010

Bacaan:
Kel 17: 8-13
2Tim 3:14 - 4:2
Luk 18:1-8
Renungan
Saudara dan saudariku
Beberapa minggu yang lalu, saya bertanya: Siapa yang doanya selalu dikabulkan Tuhan? Ada beberapa yang angkat tangan waktu itu. Saya yakin bahwa ketika memohon, mereka tidak hanya sekali memohon, tetapi berulang-ulang.
Dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar perumpamaan tentang hakim yang lalim. Perumpamaan itu disampaikan kepada murid-murid untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Intinya adalah adalah Yesus ingin mengajarkan kita mengenai cara berdoa yang baik dan yang berhasil.
Bagaimana cara berdoa yang baik? Cara berdoa yang baik; yaitu doa yang terus menerus, atau ’berdoa dengan tidak jemu-jemu”
Elmar Gulbert pernah berkata: ”doa dapat saya lakukan bukan dengan banyaknya kata-kata, meliankan dengan perulangan”. Kita berdoa hanya kalau kita berkali-kali berdoa, berulang-ulang berdoa atau berdoa dengan tidak jemu-jemu. Orang mencintai doa kalau ia kalau kita sering berdoa. Kalau kita hanya berdoa satu kali atau hanya satu-satu kali, maka kita sebetulnya belum berdoa. Orang yang berdoa hanay satu-satu kali, sebetulnya tidak mencintai doa sekalipun dengan ’borongan’ kata-kata. Berdoa satu kali dengan mengucapkan banyak kata belum berarti berdoa dengan sebenarnya. Berdoa yang sebenarnya atau berdoa yang baik adalah berulang-ulang kali, sekalipun dengan satu kata atau dengan kata-kata yang sama saja bunyinya seperti doa rosario atau taize....
Bagaimana cara doa yang berhasil. Berdoa yang berhasil adalah berdoa yang terus menerus, atau berdoa yang tidak jemu-jemunya. Bukan membacakan sebuah doa mujarab.
Ada yang datang dan mengeluh seperti ini: Pastor...mengapa doa-doa saja tidak dijawab oleh Tuhan? Bukankah Tuhan pernah berka-ta: ”Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau? (Yer 33:3); dan ”Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu? (Mat 7:7).
Pertanyaan-pertanyaan itu baik, bukan untuk menggugat Tuhan. Tetapi pertanyaan itu mengajak kita untuk merenungkan, adakah sesuatu yang keliru atau adalah sesuatu yang menghambat karya Tuhan dalam diri saya, sehingga doa-doa saya kok tidak dikabulkan?
Saya akan mengajak kita untuk melihat beberapa penyebab kegagalan dari doa atau hal yang membuat doa kita tidak berhasil.
Pertama, kita kurang bertekun. Seringkali kita mempunyai semangat berdoa pada saat-saat pertama. Sesudah itu, semangat mulai kendor, terutama ketika doa-doa kita belum terjawab. Dalam bacaan Injil hari ini, nampak bahwa ketekunan merupakan pangkal keberhasilan, termasuk tekun dalam doa.
Ada sebuah kisah. Bagi yang pernah menonton film ’Evan the Almighty” bisa membayangkan kisah ini. Pada suatu ketika Santo Petrus, marah-marah kepada serorang malaikat yang bekerja membantu Yesus pada bagian pengiriman paket ke bumi. Petrus marah karena melihat lorong-lorong surga penuh dengan paket. Para penghuni surga tidak lagi merasa nyaman melewati lorong-lorong itu. Petrus mendekati malaikat itu dan bertanya ’mengapa kamu meletakan paket-paket itu di lorong-lorong, bukankan kita mempunyai gudang yang cukup besar untuk menyimpan semuanya itu? Malaikat itu menjawab: ”Minta maaf Petrus, gudang kita sudah penuh”. Petrus tidak mau kalah. Dia balik menyerang: ”lantas mengapa kamu membuat paket yang begitu banyak?”. Malaikat itu menjelaskan: ”Yesus yang suruh”. Petrus hanya terdiam saja. Setelah itu Malaikat tadi pergi kepada Yesus. Sambi bersujud dia berkata: ”Salam yang Mulia, hamba telah membuat paket-paket sesuai dengan permintaan yang Mulia. Ke manakah paket-paket itu akan dikirim? Yesus menjawab: ”Hamba-Ku yang setia, saya juga jadi bingung nih...ke mana paket-paket itu akan dikirim. Para pemesan paket itu tidak lagi menghubungi saya dan mereka juga tidak minginggalkan alamat pada Saya.
Saudara dan saudariku...
Walaupun kisah ini mungkin dibuat-buat, tetapi pesannya sangat jelas bagi kita. Kita mesti memiliki ketekunan dalam memohon sesuatu pada Tuhan. Tuhan sesungguhnya telah menyediakan paket bagi kita, tetapi paket itu bisa tidak sampai kepada kita karena kita tidak tekun lagi menghubungi-Nya.
Kedua, kita salah berdoa. Kita bisa meminta apa saja kepada Tuhan. Tetapi perlu diingat bahwa berdoa memohon sesuatu bukan sekedar untuk memenuhi hasrat dan kebutuhan kita, melainkan agar kita semakin mampu menanggapi rencana Allah. St. Yakobus mengingatkan kita: ”Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yak 4:2-3). Orang-orang yang disapa oleh rasul Yakobus, dikatakan salah berdoa karena mereka dikendalikan oleh hasrat untuk memiliki sesuatu. Boleh saja kita memohon agar keinginan-keinginan kita tercapai. Tetapi yang terpenting adalah kita mengendalikan keinginan kita. Kerap kita tidak mengendalikan keinginan kita tetapi sebaliknya keinginan kita-lah yang mengendalikan kita. Mengenai hasrat dan keinginan ini, St. Yakobus mengingatkan kita: ”Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yak 1:14-15)
Orang-orang yang disapa oleh rasul Yakobus, juga tidak memiliki motivasi doa yang benar. Mereka memohon sesuatu hanya sekedar memenuhi kerinduan hari dan memuaskan nafsu mereka. Jika motivasi doa kita tidak benar, maka kita tidak perlu penasaran kalau doa-doa kita tidak terjawab.
Ketiga, mendahulukan kehendak sendiri. Hal ini nampak jelas dalam kitab nabi Hagai 1:3-11. Kisah tentang rombongan kedua umat Israel yang baru pulang dari pembuangan Babel di bawah pimpinan Zerubabel dan Yosua. Sebagai umat yang baru kembali dari pembuangan, masuk akal kalau mereka memikirkan hidup mereka: membangun rumah, bercocok tanam, mencari makanan, bekerja sebagai orang upahan, dll. Bukankah langkah yang diambil oleh umat Israel itu baik?
Kita bisa membayangkan seperti ini: Ada bencana alam...gunung meletus...kita semua mengungsi... letusan itu disertai dengan gempa bumi yang dasyat yang menghancurkan semuanya. Setelah kembali dari pengungsian, pastilah yang kita buat adalah, mencoba merapikan rumah dengan perabot-perabotnya dll. Bukankan langkah yang kita ambil itu baik? Demikian pun bangsa Israel. Langkah yang mereka ambil itu baik, tetapi Tuhan menghendaki lain. Tuhan meminta agar mereka lebih dahulu membangun Bait Suci. Artinya mereka harus menata hubungan mereka dengan Tuhan lebih dahulu.
Doa-doa kita seringkali tidak terjawab karena kita tidak lebih dahulu menata kembali hubungan kita dengan Tuhan. Misalnya melalui sakramen rekonsiliasi. Pelayanan Pengakuan Dosa setiap hari jumad masih sepih... yang datang ya orangnya itu-itu saja.
Keempat, memendam rasa benci dan dendam. Rasa benci dan dendam meracuni seluruh kehidupan kita. Benci dan dendam membuat doa kita tidak berdaya. Yesus sendiri pernah berkata: Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” (Mat 5: 23-24)
Kelima, masih menyimpan dosa. Pemazmur mengatakan: ”Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar” (Mzm 66:18). Sedangkan nabi Yesaya berkata: ”Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yes 59:1-2).
Selama kita masih masih menyimpan dosa dalam diri kita, selama itu pula hidup kita kehilangan rahmat. Rahmat itu baru bisa kita peroleh kembali kalau kita sudah bertobat.
Keenam, tidak memiliki belarasa. Beberapa minggu yang lalu, kita mendengar kisah tentang seorang kaya dan Lazarus yang miskin. (Luk 16:19-31). Ketika mereka sudah berada di alam baka, orang kaya itu menderita dan ia meminta Abraham untuk menyuruh Lazarus menyelupkan ujung jarinya ke dalam air. Dan juga ia meminta supaya Lazarus pergi ke rumah orang tuanya untuk mengingatkan orang tua dan saudara-saudaranya yang masih hidup. Permohonan itu tidak dikabulkan karena ia sendiri semasa hidupnya tidak memiliki belarasa terhada sesama khususnya yang menderita.
Kitab Amzal berkata: ”Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru” (Amz 21:13).
Ketujuh, bimbang. Menurut rasul Yakobus, doa yang disertai dengan sikap bimbang tidak bakal diterima oleh Tuhan. Maka ia menasihati orang bimbang dalam meminta sesuatu kepada Tuhan, demikian: ”Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan” (Yak 1:6-7).
Kedelapan, hanya berdoa tetapi tidak mendengar. Kita perlu mengakui bahwa kita berdoa hanya untuk memohon apa yang kita kehendaki dan lupa bertanya apa yang Tuhan kehendaki dari kita. Pertemuan dengan Tuhan dalam doa, kita kuasai. Kita terus menerus mengutarakan keinginan-keinginan dan keluhan-keluhan kita. Kita tidak berani diam. Ketika kita diam dan mendengar, saat itulah Tuhan menyatakan kehendak-Nya.
Saudara dan saudariku.
Mengapa doa kita tidak terjawab. Mungkin karena salah satu atau lebih dari hambatan-hambatan itu ada di dalam diri kita. Hambatan itu seringkali tidak kita kenali atau tersembunyi di dalam diri kita. Sebab itu, kita perlu meminta bantuan dari Tuhan untuk menunjukkan hambamtan mana yang ada di dalam diri kita. Dan setelah kita kenali, lebih lanjut kita memohon bantuan Tuhan untuk membebaskan kita dari hambatan-hambatan itu. Setelah hambatan-hambatan itu disingkirkan, barulah kita bisa memohon sesuatu dari Tuhan.
Sumber Inspirasi
1. Kitab Suci
2. Mengapa Novenaku belum terkabul?
Mingu Biasa XXVI - Tahun C - 2010
Bacaan
Amos 6:1a.4-7
1Tim 6:11-16
Luk 16:19-31
Homili
Saudara dan saudariku
Injil hari ini menggambarkan jurang yang amat dalam yang ada antara orang kaya dan miskin. Jurang itu nampaknya tak terseberangi. Lazarus, si miskin selalu berada di pintu rumah ornag kaya itu, tetapi selama hidupnya dia tidak pernah dipedulikan. dikatakan bahwa orang kaya itu dikatakan selalu berpakaian ungu dan kain halus. Pakaian ungu pada zaman itu adalah pakaian yang paling mahal. Harganya kira-kira 2 tahun kerja dengan upah normal. Sedangkan Lazarus, pastilah tidak berpakaian karena badannya penuh borok. Juga dikatakan juga bahwa orang kaya itu setiap hari hidup dalam kemewahan, sedangkan Lazarus, untuk makan saja harus menunggu sisa-sisa makanan yang dibuang oleh orang kaya itu. Ini adalah suatu gambaran tentang perpedaan yang mendalam antara orang kaya dan Lazarus yang miskin.
Lalu matilah kedua orang itu. Si kaya masuk ke dalam neraka sedangkan Lazarus masuk surga. Apa yang membuat orang kaya itu masuk neraka? Dan apa yang membuat Lazarus itu masuk surga? Orang kaya itu masuk neraka bukan karena kekayaannnya. Juga Lazarus masuk surga, bukan karena kemiskinannya.
Secara hukum, orang kaya dalam kisah Injil tadi tidak melakukan kesalahan apapun. Dia tidak melukai Lazarus. Dia tidak pernah menganiaya, atau mengusirnya. Ia juga tidak marah-marah kepada Lazarus. Maka menurut semua prosedur hukum, orang kaya itu tidak bersalah sedikit pun.
Tetapi dari segi moral dan kehidupan agama, orang kaya itu bersalah, bukan karena ia melanggar hukum melainkan karena ia tidak berbuat apa-apa. Kita ingat apa yang dikatakan Yesus pada penghakiman terakhir: ”Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku” (Mat 25:42-43).
Saudara dan saudariku
Kita tidak dapat menyebut diri orang baik hanya dengan menghindari perbuatan-perbuaan jahat, melainkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Yesus sendiri pernah berkata: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Sekali lagi, orang kaya dalam kisah Injil tadi dipersalahkan bukan karena ia melakukan kejahatan melainkan karena ia tidak berbuat sesuatu untuk menolong sesamanya.
Lantas, mengapa Lazarus masuk surga? Itu pun bukan karena kemiskinannya, tetapi kita lihat bahwa walaupun dia miskin, dia tidak pernah mengeluh atau bahkan marah kepada Allah, melainkan senantiasa berharap kepada Allah. Nama Lazarus itu berarti: ”Allah-lah penolongku”.
Dari bacaan-bacaan hari ini, kita diingatkan bahwa hidup ini harus diisi dengan perbuatan-perbuatan yang mendatangkan kehidupan kekal bagi kita. Hal ini dengan jelas dikatakan dalam bacaan II hari ini: ”kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.”
Saudara dan saudariku
Saya akan mengakhiri renungan ini dengan sebuah kisah imajinatif. semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini.
Ada seorang yang sangat kaya. Pada suatu malam ia bermimpi. Mimpi itu sangat mengganggu. Di dalam mimpinya dia melihat ada begitu banyak pengemis, orang-orang timpang, orang sakit yang tidak bisa lagi berjalan, orang-orang kelaparan. Mereka semua berseru kepadanya untuk memohon bantuan.
Keesokan harinya, ketika ia bangun, ia mulai mengingat mimpinya yang semalam. Dan akhirnya dia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Segera dia bersiap...dan sambil mengendarai merecedes....dia ingin mendatangi panti-panti asuhan, rumah-rumah jompo untuk melihat apa yang bisa ia bantu.
Ketika ia keluar dari pintu gerbang rumahnya, dia melihat seorang pengemis duduk di tanah. Pengemis itu mengulurkan tangannya memohon bantuan. Orang kaya itu merasa kasihan dengan keadaan si pengemis itu. Awalnya dia tergerak untuk memberikan sesuatu kepada si pengemis itu, tetapi akhirnya dia menutup kaca jendela mobil dan menyuruh sopirnya untuk jalan terus. Dalam hatinya, dia berkata: ’ah...itu hanya satu orang...dalam mimpi saya semalam kan, terlihat banyak orang. Pasti ada banyak orang yang lebih membutuhkan bantuan saya dari hanya sekedar satu orang itu.
Sepanjang hari itu, orang kaya tadi berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain, dia mengunjugi semua panti asuhan, rumah jompo, rumah-rumah sakit, dll. Dia menyadari bahwa ternyata ada begitu banyak orang yang membutuhkan bantuan. Sore hari, ketika kembali ke rumahnya, pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam rencana dan program yang akan ia buat. Hanya saja, dia bingung...harus mulai dari mana. Apakah dia mulai dari panti asuhan? Apakah dia mulai dari rumah jompo? dst....
Ketika ia tiba di depan pintu gerbang rumahnya, dia melihat bahwa pengemis yang ia lihat pagi tadi itu, ternyata masih ada di tempat, masih dalam posisi duduk yang sama. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin orang itu sepanjang hari duduk di situ di bawah terik sinar matahari yang panas. Sekali lagi dia merasa iba terhadap pengemis itu, tetapi perasaan itu segera ia tepis.
Pada malam berikutnya dia bermimpi lagi. Inti dari mimpinya masih tetap sama, tetapi kali ini, bukan lagi banyak orang yang muncul dan memohon bantuannya, tetapi yang muncul hanyalah satu orang. Dan orang itu adalah pengemis yang duduk di depan pintu gerbang rumahnya. Ketika keesokan harinya dia bangun, dia tahu, mulai dari mana dia harus membantu orang.
Saudara dan saudariku
Ibu Teresa dari Kalkuta pernah berkata: ”cinta itu harus dimulai dari rumah” artinya cinta itu harus dimulai dari anggota-anggota keluarga kita, orang-orang dekat kita, baru setelah itu kepada orang-orang yang jauh. Marilah kita berusaha untuk menunjukkan kasih kita, dengan memulai dari orang-orang yang dekat dengan kita, anggota keluarga kita, rekan se-komunitas kita.......
Amos 6:1a.4-7
1Tim 6:11-16
Luk 16:19-31
Homili
Saudara dan saudariku
Injil hari ini menggambarkan jurang yang amat dalam yang ada antara orang kaya dan miskin. Jurang itu nampaknya tak terseberangi. Lazarus, si miskin selalu berada di pintu rumah ornag kaya itu, tetapi selama hidupnya dia tidak pernah dipedulikan. dikatakan bahwa orang kaya itu dikatakan selalu berpakaian ungu dan kain halus. Pakaian ungu pada zaman itu adalah pakaian yang paling mahal. Harganya kira-kira 2 tahun kerja dengan upah normal. Sedangkan Lazarus, pastilah tidak berpakaian karena badannya penuh borok. Juga dikatakan juga bahwa orang kaya itu setiap hari hidup dalam kemewahan, sedangkan Lazarus, untuk makan saja harus menunggu sisa-sisa makanan yang dibuang oleh orang kaya itu. Ini adalah suatu gambaran tentang perpedaan yang mendalam antara orang kaya dan Lazarus yang miskin.
Lalu matilah kedua orang itu. Si kaya masuk ke dalam neraka sedangkan Lazarus masuk surga. Apa yang membuat orang kaya itu masuk neraka? Dan apa yang membuat Lazarus itu masuk surga? Orang kaya itu masuk neraka bukan karena kekayaannnya. Juga Lazarus masuk surga, bukan karena kemiskinannya.
Secara hukum, orang kaya dalam kisah Injil tadi tidak melakukan kesalahan apapun. Dia tidak melukai Lazarus. Dia tidak pernah menganiaya, atau mengusirnya. Ia juga tidak marah-marah kepada Lazarus. Maka menurut semua prosedur hukum, orang kaya itu tidak bersalah sedikit pun.
Tetapi dari segi moral dan kehidupan agama, orang kaya itu bersalah, bukan karena ia melanggar hukum melainkan karena ia tidak berbuat apa-apa. Kita ingat apa yang dikatakan Yesus pada penghakiman terakhir: ”Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku” (Mat 25:42-43).
Saudara dan saudariku
Kita tidak dapat menyebut diri orang baik hanya dengan menghindari perbuatan-perbuaan jahat, melainkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Yesus sendiri pernah berkata: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Sekali lagi, orang kaya dalam kisah Injil tadi dipersalahkan bukan karena ia melakukan kejahatan melainkan karena ia tidak berbuat sesuatu untuk menolong sesamanya.
Lantas, mengapa Lazarus masuk surga? Itu pun bukan karena kemiskinannya, tetapi kita lihat bahwa walaupun dia miskin, dia tidak pernah mengeluh atau bahkan marah kepada Allah, melainkan senantiasa berharap kepada Allah. Nama Lazarus itu berarti: ”Allah-lah penolongku”.
Dari bacaan-bacaan hari ini, kita diingatkan bahwa hidup ini harus diisi dengan perbuatan-perbuatan yang mendatangkan kehidupan kekal bagi kita. Hal ini dengan jelas dikatakan dalam bacaan II hari ini: ”kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.”
Saudara dan saudariku
Saya akan mengakhiri renungan ini dengan sebuah kisah imajinatif. semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini.
Ada seorang yang sangat kaya. Pada suatu malam ia bermimpi. Mimpi itu sangat mengganggu. Di dalam mimpinya dia melihat ada begitu banyak pengemis, orang-orang timpang, orang sakit yang tidak bisa lagi berjalan, orang-orang kelaparan. Mereka semua berseru kepadanya untuk memohon bantuan.
Keesokan harinya, ketika ia bangun, ia mulai mengingat mimpinya yang semalam. Dan akhirnya dia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Segera dia bersiap...dan sambil mengendarai merecedes....dia ingin mendatangi panti-panti asuhan, rumah-rumah jompo untuk melihat apa yang bisa ia bantu.
Ketika ia keluar dari pintu gerbang rumahnya, dia melihat seorang pengemis duduk di tanah. Pengemis itu mengulurkan tangannya memohon bantuan. Orang kaya itu merasa kasihan dengan keadaan si pengemis itu. Awalnya dia tergerak untuk memberikan sesuatu kepada si pengemis itu, tetapi akhirnya dia menutup kaca jendela mobil dan menyuruh sopirnya untuk jalan terus. Dalam hatinya, dia berkata: ’ah...itu hanya satu orang...dalam mimpi saya semalam kan, terlihat banyak orang. Pasti ada banyak orang yang lebih membutuhkan bantuan saya dari hanya sekedar satu orang itu.
Sepanjang hari itu, orang kaya tadi berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain, dia mengunjugi semua panti asuhan, rumah jompo, rumah-rumah sakit, dll. Dia menyadari bahwa ternyata ada begitu banyak orang yang membutuhkan bantuan. Sore hari, ketika kembali ke rumahnya, pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam rencana dan program yang akan ia buat. Hanya saja, dia bingung...harus mulai dari mana. Apakah dia mulai dari panti asuhan? Apakah dia mulai dari rumah jompo? dst....
Ketika ia tiba di depan pintu gerbang rumahnya, dia melihat bahwa pengemis yang ia lihat pagi tadi itu, ternyata masih ada di tempat, masih dalam posisi duduk yang sama. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin orang itu sepanjang hari duduk di situ di bawah terik sinar matahari yang panas. Sekali lagi dia merasa iba terhadap pengemis itu, tetapi perasaan itu segera ia tepis.
Pada malam berikutnya dia bermimpi lagi. Inti dari mimpinya masih tetap sama, tetapi kali ini, bukan lagi banyak orang yang muncul dan memohon bantuannya, tetapi yang muncul hanyalah satu orang. Dan orang itu adalah pengemis yang duduk di depan pintu gerbang rumahnya. Ketika keesokan harinya dia bangun, dia tahu, mulai dari mana dia harus membantu orang.
Saudara dan saudariku
Ibu Teresa dari Kalkuta pernah berkata: ”cinta itu harus dimulai dari rumah” artinya cinta itu harus dimulai dari anggota-anggota keluarga kita, orang-orang dekat kita, baru setelah itu kepada orang-orang yang jauh. Marilah kita berusaha untuk menunjukkan kasih kita, dengan memulai dari orang-orang yang dekat dengan kita, anggota keluarga kita, rekan se-komunitas kita.......
Anda tak dapat mengabdi kepada Allah dan juga kepada kekayaan

Minggu Biasa ke 25 Tahun C 2010
Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Bacaan
Amos 8: 4-7
1 Tim 2: 1-8
Luk 16: 1-13
Saudara dan saudariku
Melalui bacaan-bacaan hari ini, kita bisa melihat bahwa cinta akan uang membuat orang jatuh dalam dosa. Dalam media electronic atau koran, sering kali kita mendengar kasus tentang korupsi. Penanganan mengenai kasus ini pun tidak jelas akhirnya karena orang yang menangangi kasus itu pun nampaknya dibayar dengan jumlah rupiah tertentu. Mereka dibungkam dengan uang.
Dalam bacaan I tadi, nabi Amos mengutuk orang-orang yang rajin ke Bait Allah pada hari Sabbath, tetapi dalam hari-hari selanjutnya mereka justru ‘mencekik’ orang-orang miskin. Nabi Amos mengatakan: “dengarkanlah ini, kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri dini dan perpikir, ‘kapan bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandung dan kapan hari Sabath berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengcilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu……”
Kapan bulan baru berlalu….kapan hari sabat berlalu. Dalam tradisi Isreal, hari pertama dalam bulan dan hari sabat adalah hari yang dikuduskan bagi Tuhan. Orang tidak boleh bekerja pada hari itu.
Bagi orang-orang yang dikecam oleh nabi Amos tadi, dua hari ini bukan merupakan hari yang menyenangkan...untuk memuji dan memuliahkan Allah, tetapi dua hari yang membosankan. Mengapa? Karena mereka tidak bisa melakukan bisnis kotor mereka.
Berkaitan dengan bacaan pertama hari ini, point pertama yang ingin saya angkat sebagai bahan refleksi kita bersama adalah motivasi kita datang ke gereja ini. Pertanyaannya adalah bagaimana kita telah menggunakan hari-hari khusus yang dikuduskan bagi Tuhan; misalnya hari Minggu dan hari-hari raya sepanjang tahun. Lantas apa motivasi kita untuk datang ke gereja pada hari minggu? Karena kewajiban kah? Masih ingatkan kalian akan pengajaran saya pada hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, tentang pengalaman mistik yang dialami oleh Catalina? Bagaimana Bunda Maria menegur dia karena dia datang ke gereja pada hari minggu karena suatu kebiasaan atau karena peraturan.
Bunda Maria mengatakan: ”mengapa kalian semua harus tiba di saat-saat terakhir? Kalian seharusnya tiba lebih awal agar kalian dapat berdoa dan memohon Tuhan mengutus Roh Kudus-Nya agar Roh Kudus menganugerahi kamu roh damai dan membersihkan kalian dari roh duniawi, kekuatiran, masalah, distraksi agar kalian dapat mengalami saat yang begitu sakral. Tetapi engkau tiba nyaris perayaan hendak dimulai, dan ikut ambil bagian dalam misa seolah misa adalah peristiwa yang biasa, tanpa ada persiapan rohani.”
Motivasi kita datang ke gereja bukan karena 10 perintah Allah, Kuduskanlah hari Tuhan, atau 5 perintah gereja, ”rayakanlah hari yang disamakan dengan hari minggu” tetapi hendaknya kita digerakan oleh rasa cinta yang mendalam akan Allah yang telah lebih dahulu mengasihi kita selama sepekan yang lalu.
Memang...ada banyak umat kita yang tidak bisa datang ke gereja pada hari Minggu, karena mungkin tinggal terlalu jauh dan karena situasi ekonomi..... tetapi ada cukup banyak umat juga yang sebenarnya mampu, malahan punya kendaraan sendiri tetapi hari minggu dijadikan sebagai hari untuk tidur panjang.
Sekali lagi....” Kapan bulan baru berlalu….kapan hari sabat berlalu” mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita telah menggunakan hari-hari yang dikhususkan bagi Tuhan, selama ini.
Point kedua yang ingin saya angkat adalah orang-orang yang dikecam oleh nabi Amos dalam bacaan pertama tadi. Mereka yang mencekik orang miskin. Situasi ini sampai sekarang pun masih terus ada, dengan praktek rentenir. Sudah berulangkali saya sampaikan dari mimbar ini, tetapi nampaknya belum banyak yang berubah. Ada yang pernah SMS saya setelah saya berkotbah tentang rentenir itu. Intinya dia merasa tersinggung....dia mempertanyakan mengapa Rm tidak panggil saya saja? Dan saya coba kontak balik dengan maksud untuk bicara dan menanyakan alamatnya, tetapi dia tidak pernah mau angkat...dan hp dimatikan.
Kalau anda ada di sini, atau siapapun yang melakukan ’pencekikan’ terhadap orang-orang miskin dengan praktek rentenir, Allah bersabda untukmu hari ini melalui nabi Amos: ”Aku tidak akan melupakan unuk seterusnya segala perbuatan mereka”. Apakah anda merasa disapa oleh sabda Tuhan ini? Atau anda bersikap masa bodoh terhadap sabda Tuhan ini.
Dalam kursus KS hari jumad yang lalu saya mengawali dengan sebuah kutipan dari St. Hironimus: ’ignorance of the scripture is ignorance of the Christ’ artinya, kalau anda mengabaikan sabda Tuhan, maka anda sebenarnya mengabaikan Allah. Yesus dalam Injil hari ini mengatakan: ”tak seorang pun dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon’
Cinta akan uang, membuat orang jatuh dalam dosa. Hal ini nampak jelas juga dalam bacaan Injil hari ini.
Ada sebuah kisah. Pada suatu hari seorang yang kaya raya datang kepada seorang rabbi untuk meminta doa dan berkat. Orang itu sekalipun kaya wajahnya lesu. Sang rabbi menyapa dia dengan ramah dan membawa dia masuk ke dalam ruang tamu. Orang kaya itu mensharingkan semua persoalan hidupnya. Setelah itu, sang rabbi membawanya ke lantai dua dan mengajak dia untuk melihat ruangan-ruangan yang ada. Mereka tiba pada suatu jendela. Dari situ mereka bisa melihat pemandangan yang ada di luar. Sang rabbi bertanya kepadanya, apa yang anda lihat di luar sana? Ia menjawab: ’saya melihat ada banyak orang berjalan lewat. Lalu, sang rabbi mengambil sebuah kertas perak dan meletakan di balik kaya itu jendela itu. Kembali sang rabbi bertanya: ’apa yang anda lihat?’ ’saya melihat diri saya’, kata orang itu. Lalu sang rabbi berkata: ’saudaraku yang terkasih, kaya yang kita gunakan ini tetap sama. Tetapi hasilnya sangat berbeda. Ketika tadi anda melihat melalui kaya polos, maka anda melihat orang lain, tetapi jika anda melihat melalui kaya yang sudah dilapisi dengan perak, maka anda melihat diri anda sendiri. Ketika di dalam hidup ini, anda hanya memikirkan soal uang, maka anda hanya memikirkan diri anda sendiri dan tidak melihat orang lain.
Saudara dan saudariku.
Melalui bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita bahwa arti hidup ini tidak ditentukan oleh banyaknya barang yang kita miliki. Secara ekstrim kita bisa mengatakan bahwa barang-barang yang kita miliki sebetulnya bukanlah milik kita. Barang-barang itu adalah milik Allah. Nilai sesungguhnya barang-barang itu tidak terletak dalam mengumpulkannya sebanyak-banyaknya tetapi terletak pada bagaimana kita menggunakan barang-barang itu untuk memperoleh hidup yang kekal. Karena itu kekayaan yang sebenarnya bukan terletak pada apa yang kita miliki melainkan pada apa yang kita berikan kepada orang lain. Membahagiakan orang lain, memberikan arti kepada kehidupan kita.
Marilah sekarang kita mencoba merenungkan makna sabda Tuhan ini dalam kehidupan kita sehari-hari.
Mau jadi kucing atau kerbau?
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC
Mengapa kucing dan anjing itu bermusuhan ? Ceriteranya adalah dahulu kucing dan anjing itu berteman akrab. Pada suatu hari kucing menipu anjing dan membuat anjing marah. Sejak itu, anjing membenci kucing. Kucing pun menjadi takut kepada anjing. Agar anjing tidak dapat mengendus jejak kucing dengan penciumannya yang tajam, sejak itu kucing selalu mengubur kotorannya.
Pesan dari ceritera tersebut adalah dosa membuat kita tidak bahagia. Hidup kita dipenuhi dengan kemarahan dan kecurigaan. Ketika kita membiarkan kemarahan dan kecurigaan, kita semakin menjauh dari sesama. Orang segan bergaul dengan kita yang gampang marah dan gampang curiga. Kita yang membiarkan hidup kita dalam dosa juga akan menjauh dari Tuhan karena merasa tidak bisa berdoa dan tidak pantas mendekatkan diri pada Tuhan.
Akar dari dosa sebenarnya kita tidak mengerti Kitab Suci dan Kuasa Allah : "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah (Markus 12:24)." Banyak di antara kita jatuh dalam dosa karena kita belum menghayati dan menyerap Firman Allah ke dalam kehidupan kita agar Firman itu mengubah kita. Kita hanya dapat mengerti Firman Allah dengan bantuan Roh Kudus sehingga kita dapat dan rela melakukan-Nya. Ketika kita melaksanakan Firman-Nya, kita mengetahui kuasa Allah yang begitu besar.
Firman Allah yang kita mengerti itu mendorong kita untuk mohon pengampunan Tuhan karena kita yakin bahwa Allah adalah kasih. Kasih dan kebaikan Allah itu diceriterakan dalam Injil bahwa Yesus mencari domba yang hilang sampai dapat menemukannya kembali. Sekalipun kita sudah tersesat, sekalipun kita sudah sangat jauh, Allah tetap mencari kita. Hati-Nya selalu tertuju pada kita. Ia tetap mempedulikan kita. Mungkin orang lain sudah tidak lagi menaruh harapan pada kita, tetapi Allah akan terus mencari kita. "Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut” (Mikha 7:18-19)." Allah adalah Allah yang Maha Pengampun. Ia selalu merindukan kita. Dan Ia akan mengampuni kita.
Syarat supaya dapat diampuni dosa kita adalah pertobatan. Bertobat berarti mengubah cara hidup yang tidak menyenangkan Tuhan. Pengampunan dan kasih Allah bertujuan untuk membawa kita kepada pertobatan.
Kapan kita harus bertobat ? Jangan menunggu sudah tua atau sudah bau tanah baru bertobat. Bisa-bisa kita terlambat. Pertobatan harus terjadi sekarang ini. Sikap kerbau dan kucing bisa menggambarkan sikap kita tentang pertobatan. Kerbau senang berlama-lama di kubangan lumpur. Kucing akan cepat-cepat melompat ketika menginjakkan kakinya sedikit saja ke lumpur. Ketika kita masih senang berlama-lama dalam kubangan dosa, kita disebut Katolik kerbau. Ketika kita cepat-cepat meninggalkan dosa, kita adalah katolik kucing.
Pesan injil hari ini adalah marilah kita menjadi seorang Katolik kucing. Kita tidak membiarkan dosa sekecil apapun melekat dalam diri kita. Kita membersihkan dosa itu dengan menerima Sakramen Pengampunan dosa. Kita hanya dapat bertobat kalau kita mengerti Kitab Suci. Supaya kita mengerti Kitab Suci, saya mengundang seluruh umat untuk mengikuti kursus Kitab Suci yang membahas sembilan Kitab Perjanjian Baru dalam empat pertemuan yang akan saya berikan bersama dengan Pastor Toni, SS.CC (Pastor Paroki St. Odilia – Citra Raya). Kursus Kitab Suci diadakan di Gereja St. Odilia setiap Jumat jam 19.30 sd 21.30 mulai tanggal 17 September – 15 Oktober. Ingat ketika kita bertobat, kita memperoleh sukacita surgawi : "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Lukas 15:7). Tuhan memberkati.
Mengapa kucing dan anjing itu bermusuhan ? Ceriteranya adalah dahulu kucing dan anjing itu berteman akrab. Pada suatu hari kucing menipu anjing dan membuat anjing marah. Sejak itu, anjing membenci kucing. Kucing pun menjadi takut kepada anjing. Agar anjing tidak dapat mengendus jejak kucing dengan penciumannya yang tajam, sejak itu kucing selalu mengubur kotorannya.
Pesan dari ceritera tersebut adalah dosa membuat kita tidak bahagia. Hidup kita dipenuhi dengan kemarahan dan kecurigaan. Ketika kita membiarkan kemarahan dan kecurigaan, kita semakin menjauh dari sesama. Orang segan bergaul dengan kita yang gampang marah dan gampang curiga. Kita yang membiarkan hidup kita dalam dosa juga akan menjauh dari Tuhan karena merasa tidak bisa berdoa dan tidak pantas mendekatkan diri pada Tuhan.
Akar dari dosa sebenarnya kita tidak mengerti Kitab Suci dan Kuasa Allah : "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah (Markus 12:24)." Banyak di antara kita jatuh dalam dosa karena kita belum menghayati dan menyerap Firman Allah ke dalam kehidupan kita agar Firman itu mengubah kita. Kita hanya dapat mengerti Firman Allah dengan bantuan Roh Kudus sehingga kita dapat dan rela melakukan-Nya. Ketika kita melaksanakan Firman-Nya, kita mengetahui kuasa Allah yang begitu besar.
Firman Allah yang kita mengerti itu mendorong kita untuk mohon pengampunan Tuhan karena kita yakin bahwa Allah adalah kasih. Kasih dan kebaikan Allah itu diceriterakan dalam Injil bahwa Yesus mencari domba yang hilang sampai dapat menemukannya kembali. Sekalipun kita sudah tersesat, sekalipun kita sudah sangat jauh, Allah tetap mencari kita. Hati-Nya selalu tertuju pada kita. Ia tetap mempedulikan kita. Mungkin orang lain sudah tidak lagi menaruh harapan pada kita, tetapi Allah akan terus mencari kita. "Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut” (Mikha 7:18-19)." Allah adalah Allah yang Maha Pengampun. Ia selalu merindukan kita. Dan Ia akan mengampuni kita.
Syarat supaya dapat diampuni dosa kita adalah pertobatan. Bertobat berarti mengubah cara hidup yang tidak menyenangkan Tuhan. Pengampunan dan kasih Allah bertujuan untuk membawa kita kepada pertobatan.
Kapan kita harus bertobat ? Jangan menunggu sudah tua atau sudah bau tanah baru bertobat. Bisa-bisa kita terlambat. Pertobatan harus terjadi sekarang ini. Sikap kerbau dan kucing bisa menggambarkan sikap kita tentang pertobatan. Kerbau senang berlama-lama di kubangan lumpur. Kucing akan cepat-cepat melompat ketika menginjakkan kakinya sedikit saja ke lumpur. Ketika kita masih senang berlama-lama dalam kubangan dosa, kita disebut Katolik kerbau. Ketika kita cepat-cepat meninggalkan dosa, kita adalah katolik kucing.
Pesan injil hari ini adalah marilah kita menjadi seorang Katolik kucing. Kita tidak membiarkan dosa sekecil apapun melekat dalam diri kita. Kita membersihkan dosa itu dengan menerima Sakramen Pengampunan dosa. Kita hanya dapat bertobat kalau kita mengerti Kitab Suci. Supaya kita mengerti Kitab Suci, saya mengundang seluruh umat untuk mengikuti kursus Kitab Suci yang membahas sembilan Kitab Perjanjian Baru dalam empat pertemuan yang akan saya berikan bersama dengan Pastor Toni, SS.CC (Pastor Paroki St. Odilia – Citra Raya). Kursus Kitab Suci diadakan di Gereja St. Odilia setiap Jumat jam 19.30 sd 21.30 mulai tanggal 17 September – 15 Oktober. Ingat ketika kita bertobat, kita memperoleh sukacita surgawi : "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Lukas 15:7). Tuhan memberkati.
Sucakita Rohani
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC
Sukacita rohani semakin terasa dalam lubuk hatiku ketika aku usai ikut memberikan retret pengutusan bagi peserta Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) Paroki St. Monika Serpong. Banyak email dan sms yang aku terima dari peserta yang mensharingkan pengalaman akan kemahakusaan dan kebaikan Tuhan. Banyak orang mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui jamahan-Nya, melalui penyembuhan-Nya, melalui ketenangan rohani dalam “Resting in the Spirit/Istirahat di dalam Tuhan”, karunia berbahasa Roh. Aku selama ini termasuk seorang yang mencurigai pengalaman-pengalaman itu sebagai kebohongan dan kesintingan belaka. Tuhan sekarang mencelikkan mataku dengan memperbolehkan aku mengalami sendiri peristiwa-peristiwa ilahi itu. “Tuhan, ampunilah aku karena aku selama ini sok intelektual sehingga tidak mau mengakui bahwa Engkau sanggup melakukan karya-karya diluar pikiran manusia”, itulah kata-kata ungkapan pertobatanku.
Sharing akan anugerah ajaib dari Tuhan yang dituangkan dalam sms dari seorang ibu yang sudah tua dan sangat sederhana (yang tidak pernah mengikuti Persekutuan Doa Kharismatik) sungguh membuka mata imanku. Sharingnya sangat indah dan polos sehingga aku akan merasa berdosa kalau menganggapnya sebagai sebuah rekaan belaka. “Kasih setia-Mu yang kurasakan lebih tinggi dari langit biru. Kebaikan-Mu yang tlah Kaunyatakan lebih dalam dari lautan. Berkat-Mu yang telah kuterima, sempat membuatku terpesona. Apa yang tak pernah kupikirkan, itu yang Kausediakan bagiku. Siapakah aku ini Tuhan. Jadi biji mata-Mu. Dengan apakah kubalas Tuhan. Slain puji dan sembah Kau. Selamat pagi Romo. Saya adalah Elisabeth Is, pengikut retret KEP kemarin yang menerima nyala lilin yang pertama. Romo mencari siapa yang sudah disembuhkan ? Itulah saya Romo yang baru saya sadari jam tiga pagi waktu saya ke belakang sudah tidak ada lagi benjolan yang muncul dari perut saya. Sebetulnya kemarin saya sudah merasakan ada yang aneh di tubuh saya tapi saya kurang pasti . Maaf Romo atas iman saya yang kecil ini yang baru mengetahui kesembuhan saya dari sakit mioma (tumor di dalam perut) dari Tuhan. Semoga Romo Felix sudi kabarkan kabar gembira ini pada umat yang lain dan mohon berkatnya pula besok saya mau pulang ke Yogya. Saya tinggal di Paroki St. Yakobus Bantul dan setiap pagi saya bisa datang Misa tapi belum kenal sama romonya karena dia masih baru. Maafkan saya Romo karena sudah membiarkan Romo mencari saya padahal saya berdiri di samping Romo. Gbu (SMS 30 Agustus 2010 Pukul 5.27 pagi). SMS ibu Elisabeth tanggal 02 September 2010. Romo ini kabar baik. Terimakasih. Saya tidak akan meragukan lagi dengan apa yang terjadi dengan diri saya kemarin. Kemarin begitu saya sampai Bantul siang hari saya pergi ke Rumah Sakit Elisabeth Ganjuran periksa ke dokter Ana dan menyarankan agar saya mengimani apa yang terjadi pada diri saya dengan baik. Hari ini saya pergi ke dokter spesialis kandungan Rumah Sakit Ludiro Husodo dan dokter mengatakan posisi kandungan saya sudah baik. Amin. Tuhan memberkati.
Pengalaman-pengalaman rohani itu tentu mengubah hidup mereka, paling tidak mereka semakin dekat dengan Tuhan dan Tuhan pun hidup di dalam diri mereka. Aku pun semakin mencintai imamatku karena imamatku dianugerahkan Tuhan untuk menyatakan kebaikan-Nya. Imamat semakin bermakna di dalam hidupku.
Perubahan hidup berkat sukacita rohani ini mengingatkan aku akan perkataan Bunda Maria yang kelima : “Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami ? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (Lukas 2:48) dan Sabda Yesus yang kelima di Kalvari : “Aku haus!” (Yohanes 19:28). Pencarian Bunda Maria akan Yesus menggambarkan ciptaan mencari Tuhan. Sementara itu, peristiwa Tuhan Yesus mengalami kehausan di salib menunjukkan bahwa Penciptalah yang mencari manusia (Uskup Agung Fulton J. Sheen. Misteri Tujuh Sabda. Obor. Hlm. 68). Anugerah-anugerah ilahi dalam bentuk apapun merupakan sarana Tuhan mendapatkan jiwa-jiwa umat-Nya. Pertobatan dan kedekatan ciptaan dengan Sang Pencipta memuaskan dahaga Tuhan Yesus “Aku haus!”. Sapaan-sapaan Tuhan memuaskan kerinduan manusia akan Dia.
Aku sekarang tidak akan lagi meremehkan, apalagi melecehkan fenomena-fenomena ilahi yang dipercayai sebagai mujijat Tuhan. Aku lebih baik mensyukuri bahwa banyak umat masih mengalami tindakan-tindakan dasyat Tuhan daripada terjerumus dalam diskusi egois yang menguras energi. Yang penting Nama Tuhan semakin dimuliakan dengan semakin banyaknya orang mengenal dan mengalami kasih-Nya sehingga dapat mengasihi dan melayani Dia dalam diri sesama (Bdk. Kerry & Christ. One Month To Live. Andi. Yogyakarta. Hlm. 7). Satu hal yang aku yakini bahwa Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) merupakan salah satu sarana re-evangelisasi/penginjilan kembali yang efektif di dalam Gereja Katolik. Masalahnya : apakah kita semua mau direpotkan demi kemuliaan Tuhan dan anugerah sukacita rohani ? Jawabannya adalah tergantung pada refleksi yang dilakukan dengan rendah hati. Tuhan memberkati.
Bacaan Rohani
1. Kerry & Christ. One Month To Live. Andi. Yogyakarta. 2008.
2. Uskup Agung Fulton J. Sheen. Misteri Tujuh Sabda. Obor. Jakarta. 2008.
Sukacita rohani semakin terasa dalam lubuk hatiku ketika aku usai ikut memberikan retret pengutusan bagi peserta Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) Paroki St. Monika Serpong. Banyak email dan sms yang aku terima dari peserta yang mensharingkan pengalaman akan kemahakusaan dan kebaikan Tuhan. Banyak orang mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui jamahan-Nya, melalui penyembuhan-Nya, melalui ketenangan rohani dalam “Resting in the Spirit/Istirahat di dalam Tuhan”, karunia berbahasa Roh. Aku selama ini termasuk seorang yang mencurigai pengalaman-pengalaman itu sebagai kebohongan dan kesintingan belaka. Tuhan sekarang mencelikkan mataku dengan memperbolehkan aku mengalami sendiri peristiwa-peristiwa ilahi itu. “Tuhan, ampunilah aku karena aku selama ini sok intelektual sehingga tidak mau mengakui bahwa Engkau sanggup melakukan karya-karya diluar pikiran manusia”, itulah kata-kata ungkapan pertobatanku.
Sharing akan anugerah ajaib dari Tuhan yang dituangkan dalam sms dari seorang ibu yang sudah tua dan sangat sederhana (yang tidak pernah mengikuti Persekutuan Doa Kharismatik) sungguh membuka mata imanku. Sharingnya sangat indah dan polos sehingga aku akan merasa berdosa kalau menganggapnya sebagai sebuah rekaan belaka. “Kasih setia-Mu yang kurasakan lebih tinggi dari langit biru. Kebaikan-Mu yang tlah Kaunyatakan lebih dalam dari lautan. Berkat-Mu yang telah kuterima, sempat membuatku terpesona. Apa yang tak pernah kupikirkan, itu yang Kausediakan bagiku. Siapakah aku ini Tuhan. Jadi biji mata-Mu. Dengan apakah kubalas Tuhan. Slain puji dan sembah Kau. Selamat pagi Romo. Saya adalah Elisabeth Is, pengikut retret KEP kemarin yang menerima nyala lilin yang pertama. Romo mencari siapa yang sudah disembuhkan ? Itulah saya Romo yang baru saya sadari jam tiga pagi waktu saya ke belakang sudah tidak ada lagi benjolan yang muncul dari perut saya. Sebetulnya kemarin saya sudah merasakan ada yang aneh di tubuh saya tapi saya kurang pasti . Maaf Romo atas iman saya yang kecil ini yang baru mengetahui kesembuhan saya dari sakit mioma (tumor di dalam perut) dari Tuhan. Semoga Romo Felix sudi kabarkan kabar gembira ini pada umat yang lain dan mohon berkatnya pula besok saya mau pulang ke Yogya. Saya tinggal di Paroki St. Yakobus Bantul dan setiap pagi saya bisa datang Misa tapi belum kenal sama romonya karena dia masih baru. Maafkan saya Romo karena sudah membiarkan Romo mencari saya padahal saya berdiri di samping Romo. Gbu (SMS 30 Agustus 2010 Pukul 5.27 pagi). SMS ibu Elisabeth tanggal 02 September 2010. Romo ini kabar baik. Terimakasih. Saya tidak akan meragukan lagi dengan apa yang terjadi dengan diri saya kemarin. Kemarin begitu saya sampai Bantul siang hari saya pergi ke Rumah Sakit Elisabeth Ganjuran periksa ke dokter Ana dan menyarankan agar saya mengimani apa yang terjadi pada diri saya dengan baik. Hari ini saya pergi ke dokter spesialis kandungan Rumah Sakit Ludiro Husodo dan dokter mengatakan posisi kandungan saya sudah baik. Amin. Tuhan memberkati.
Pengalaman-pengalaman rohani itu tentu mengubah hidup mereka, paling tidak mereka semakin dekat dengan Tuhan dan Tuhan pun hidup di dalam diri mereka. Aku pun semakin mencintai imamatku karena imamatku dianugerahkan Tuhan untuk menyatakan kebaikan-Nya. Imamat semakin bermakna di dalam hidupku.
Perubahan hidup berkat sukacita rohani ini mengingatkan aku akan perkataan Bunda Maria yang kelima : “Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami ? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (Lukas 2:48) dan Sabda Yesus yang kelima di Kalvari : “Aku haus!” (Yohanes 19:28). Pencarian Bunda Maria akan Yesus menggambarkan ciptaan mencari Tuhan. Sementara itu, peristiwa Tuhan Yesus mengalami kehausan di salib menunjukkan bahwa Penciptalah yang mencari manusia (Uskup Agung Fulton J. Sheen. Misteri Tujuh Sabda. Obor. Hlm. 68). Anugerah-anugerah ilahi dalam bentuk apapun merupakan sarana Tuhan mendapatkan jiwa-jiwa umat-Nya. Pertobatan dan kedekatan ciptaan dengan Sang Pencipta memuaskan dahaga Tuhan Yesus “Aku haus!”. Sapaan-sapaan Tuhan memuaskan kerinduan manusia akan Dia.
Aku sekarang tidak akan lagi meremehkan, apalagi melecehkan fenomena-fenomena ilahi yang dipercayai sebagai mujijat Tuhan. Aku lebih baik mensyukuri bahwa banyak umat masih mengalami tindakan-tindakan dasyat Tuhan daripada terjerumus dalam diskusi egois yang menguras energi. Yang penting Nama Tuhan semakin dimuliakan dengan semakin banyaknya orang mengenal dan mengalami kasih-Nya sehingga dapat mengasihi dan melayani Dia dalam diri sesama (Bdk. Kerry & Christ. One Month To Live. Andi. Yogyakarta. Hlm. 7). Satu hal yang aku yakini bahwa Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) merupakan salah satu sarana re-evangelisasi/penginjilan kembali yang efektif di dalam Gereja Katolik. Masalahnya : apakah kita semua mau direpotkan demi kemuliaan Tuhan dan anugerah sukacita rohani ? Jawabannya adalah tergantung pada refleksi yang dilakukan dengan rendah hati. Tuhan memberkati.
Bacaan Rohani
1. Kerry & Christ. One Month To Live. Andi. Yogyakarta. 2008.
2. Uskup Agung Fulton J. Sheen. Misteri Tujuh Sabda. Obor. Jakarta. 2008.
C_Minggu Biasa ke 22 - 2010 Kerendahan hati
Ada sebuah kisah tentang Albert Einstein: Sebagai orang pintar dia seringkali diundang ke mana-mana untuk memberikan ceramah tentang teori baru yang ditemukannya, yaitu teori relativitas. Ke mana-mana dia selalu membawa seorang sopir. Setelah mendengar ceramah yang tentang pokok yang sama terus menerus, pada suatu hari sopirnya berkata: “saya yakin, saya sudah tau apa yang akan tuan jelaskan. Apa bisa kita menukar posisi. Saya jadi penceramah dan tuan menjadi sopir. Tuan bertindak seolah-olah sebagai sopir sedangkan saya sendiri akan bertidak sebagai seorang ahli”
Einstein ternyata tidak keberatan. Mereka ganti posisi. Ketika sang sopir berlagak ahli memasuki ruangan, semua orang berdiri untuk memberikan hormat. Selama ceramah berlangsung, dengan gampang ia menjelaskan teori relativitas Albert Einstein. Namun, ketika seorang pendengar menyampaikan sebuah pertanyaan, dia kewalahan. Untungnya, dia tidak kehilangan akal. Dengan dengan ia menjawab:, “Wah… pertanyaan anda itu terlalu sederhana bahkan sopir saja pun bisa menjawab pertanyaan itu”. Lalu ia mempersilakan Albert Einstein yang telah berlaku sebagai sopir menjawab pertanyaan itu.
Saudara dan saudariku
Bacaan-bacaan hari ini berbicara tentang kerendahan hati. Dalam bacaan pertama tadi dikatakan: “anakku, lakukanlah tugasmu dengan lembah lembut, maka engkau akan lebih disayangi daripada orang yang ramah-tamah.” Tertanya lemah lembut itu jauh lebih dihargai Tuhan daripada keramahan, karena orang bisa saja berpura-pura ramah. Lebih lanjut, dalam bacaan I tadi dikatakan: “Makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu, supaya mendapat rahmat di hadapan Tuhan.”
Sedangkan dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengkritik orang-orang Farisi yang ingin mencari tempat terhormat di dalam masyarakat.
Apa itu rendah hati? Dari akar katanya kerendahan hati dalam bahasa Inggris adalah ‘humility‘ berasal dari kata ‘humus‘ (Latin), artinya tanah/ bumi. Jadi, kerendahan hati maksudnya adalah menempatkan diri ‘membumi’ ke tanah.
Kerendahan hati adalah kebajikan yang paling mendasar dari semua kebajikan kristiani. Santo Agustinus bahkan mengatakan ada tiga jalan yang pasti membawa orang kepada Allah. Pertama, kerendahan hati. Kedua, kerendahan hati. Ketiga, kerendahan hati. Dengan cara ini, St. Agustinus menekankan pentingnya kerendahan hati untuk mencapai kesempurnaan rohani.
Dalam spiritualitas, kesempurnaan berarti kekudusan, sehingga untuk menjadi kudus, kita harus pertama-tama menjadi orang yang rendah hati. Kerendahan hati adalah dasar dari semua kebajikan yang lain, sebab tanpa kerendahan hati, kita tidak dapat sungguh-sungguh memiliki kebajikan-kebajikan yang lain. Kerendahan hati juga disebut sebagai ‘ibu’ dari semua kebajikan, sebab ia melahirkan ketaatan, takut akan Tuhan, dan penghormatan kepada-Nya, kesabaran, kesederhanaan, kelemah-lembutan dan damai.
Saudara dan saudariku
Saya tertarik dengan defenisi kerendahan hati yang diberikan oleh St. Theresia Avila. Dia berkata, rendah hati berarti hidup sesuai dengan kebenaran.
Kita dianjurkan untuk hidup sesuai kebenaran, di dalam relasi dengan Allah, dengan diri kita sendiri dan dengan sesama.
Dalam relasi dengan Allah, hal yang mesti kita sadari adalah bahwa kita adalah makluk ciptaan. Karena itu, hidup sesuai dengan kebenaran dalam relasi dengan Allah atau kerendahan hati dalam relasi dengan Allah berarti bersikap taat karena cinta kepada Allah.
Dalam relasi dengan diri sendiri, hidup dalam kebenaran atau bersikap rendah hati berarti tidak sombong atau berpura-pura menjadi apa yang bukan diri kita. Dalam kisah di atas tadi, sang sopir tidak bersikap rendah hati karena dia berpura-pura menjadi seorang Albert Einstein. Dia berpura-pura untuk menjadi bukan dirinya.
Sedangkan dalam relasi dengan sesama, hidup dalam kebenaran atau bersikap rendah hati berarti bersikap saling menghargai, ramah dan saling menerima satu sama lain. Jadi agar dapat mengasihi, kita harus rendah hati di dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan.
St. Ignatius mengajarkan sesuatu tentang kerendahan yang merupakan perjuangan bagi kita semua: Pertama, kerendahan hati di dalam pikiran adalah kita tidak boleh cemburu atau iri, jika orang lain dipuji, kita harus melihat kebaikan dalam diri orang lain, dan kita harus bergembira atas kebaikan dan kesuksesan orang lain.
Ada komentar orang seperti ini: “kenapa sih, Cor Unum kok exist banget?” Ya…mereka exist karena mereka mau terlibat dalam pelayanan, terutama membantu kami dalam seminar-seminar, rekoleksi atau retret. Anda tidak tahu bagaimana mereka sendiri jatuh bangun dalam mengikuti jadwal pelayanan dan tuntutan dari kami sendiri. “Kenapa sih, Cor Unum kok exist banget?” Bagi saya komentar semacam itu adalah muncul dari kesombongan diri yang tidak disadari. Kita harus selalu menyadari bahwa kita hanya semata-mata alat di tangan Tuhan, untuk memuji dan memuliakan Allah.
Kedua, kita tidak boleh bicara yang buruk tentang siapapun dan bicara yang baik-baik tentang diri sendiri, atau lebih tepatnya, sebaiknya kita membatasi pembicaraan tentang diri kita sendiri supaya kita tidak jatuh dalam perangkap kesombongan.
Ketiga, di dalam perbuatan kita harus mau mengambil tempat yang rendah/ tidak utama, dan tidak menginginkan untuk diperlakukan istimewa. Dalam segala sesuatu kita tidak mencari pujian, tetapi mencari bagaimana agar dapat melakukan sesuatu yang berguna, untuk kebaikan. Kita juga harus siap meminta maaf, untuk segala kesalahan yang kita lakukan, baik terhadap Tuhan dan orang lain, dan rajin untuk mengucap syukur untuk segala karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Sikap seperti ini adalah sikap seorang pelayan, oleh karena itu, kerendahan hati menjadi dasar dari pelayanan Kristiani.
Saudara dan saudariku
Kerendahan hati adalah sebuah rahmat. Karena itu hendaknya kita memohon kepada Allah untuk itu. Selain itu di dalam kehidupan kita sehari-hari hendaknya kita juga belajar untuk bersikap rendah hati. Semakin banyak kita berlatih untuk bersikap rendah hati maka kita pun akan menjadi orang yang rendah hati.
Menurut mother Teresa, ada 14 cara yang bisa kita lakukan untuk memperoleh kerendahan hati:
1. Berbicara sedikit mungkin tentang diri sendiri.
2. Uruslah sendiri persoalan-persoalan pribadi, tidak perlu menceritakan ke orang lain untuk menunjukkan betapa beratnya persoalan pribadi kita.
3. Hindari rasa ingin tahu. Lebih baik menahan diri untuk bertanya dan memberikan pendapat kalau tidak ditanya.
4. Janganlah mencampuri urusan orang lain.
5. Terimalah pertentangan dengan gembira.
6. Jangan memusatkan perhatian kepada kesalahan orang lain.
7. Terimalah hinaan dan caci maki.
8. Terimalah perasaan tak diperhatikan, dilupakan dan dipandang rendah.
9. Mengalah terhadap kehendak orang lain.
10. Terimalah celaan walaupun anda tidak layak menerimanya
11. Bersikap sopan dan peka, sekalipun seseorang memancing amarah anda
12. Janganlah mencoba agar dikagumi dan dicintai. Termasuk kalau nama kita tidak disebutkan/ditulis dalam kepanityaan, padahal kerjanya paling sibuk.
13. Bersikap mengalah dalam perbedaan pendapat, walaupun anda yg benar.
14. Pilihlah selalu yang tersulit. Saat tidak ada orang yang bersedia mengerjakan sesuatu ,ambilah tanggung jawab tersebut.
Ke-14 cara yang dianjurkan ini, bukanlah cara yang mudah tetapi sangat sulit. Dengan itu kita sadar bahwa ternyata kerendahan hati adalah suatu kebajikan yang sulit untuk didapatkan. Benyamin Franklin, pernah menulis: “Salah satu keinginan terdalam manusia yang sulit di atasi adalah kesombongan diri. Walaupun saya berusaha untuk mengatasinya atau bahkan mematikannya, kesombongan diri itu tetap ada. Bahkan ketika saya yakin bahwa saya telah mengatasinya, tetapi bisa saja muncul dalam sikap kebanggaan atas sikap kerendahan hati yang saya miliki.”
Beberapa kutipan ayat kitab suci yang dapat membantu kita untuk merenungkan tentang pentingnya sikap rendah hati.
Maz 149: 4 "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan."
1 Pet 5:5: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati”.
Fil 2:3 “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
Kerendahan hati ini begitu penting bagi Allah, sehingga menempati urutan pertama dari Delapan Sabda Bahagia: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga “ (Mat 5:3).
Saudara dan saudariku
Apa yang dapat kita buat untuk mencapai kerendahan hati? Paling tidak langkah awal untuk mencapai kerendahan hati itu.
Menurut St. Franciskus de Sales, langkah pertama kerendahan hati adalah pemeriksaan batin yang baik. Jika kita rajin melakukannya setiap hari, latihan ini akan membimbing kita mencapai pengenalan diri sendiri, dan terutama, mengenal kesombongan diri kita.
Langkah kedua adalah meditasi. Meditasi merupakan sarana untuk mencapai pengenalan diri sendiri. Dengan merenungkan kematian kita, penghakiman terakhir, neraka, surga, dan kehidupan Yesus Penebus kita, kita akan sampai pada kesadaran akan siapa diri kita di hadapan Allah. Tips dari St. Franciskus: “Renungkanlah betapa besar kasih yang Tuhan sudah berikan kepadamu, dan berapa banyak dosa yang sudah engkau perbuat melawan Dia. Dan saat engkau menghitung dosamu, hitunglah juga belas kasihan-Nya!”
Langkah ketiga adalah melalui pertobatan. Melalui pertobatan yang terus menerus dan latihan-latihan rohani seperti ini, kita mengembangkan di dalam hati kita rasa benci akan kesombongan kita. Bersyukurlah, kita dapat selalu kembali kepada Tuhan melalui Sakramen Pengakuan Dosa.
Saudara dan saudariku
Inti dari kekristenan adalah berbuat baik kepada orang-orang lain dalam semangat kerendahan hati. Marilah kita sekali lagi mencamkan apa yang pernah Yesus katakan: ”Barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri akan ditinggikan (Luk 14:11). Amin.
Einstein ternyata tidak keberatan. Mereka ganti posisi. Ketika sang sopir berlagak ahli memasuki ruangan, semua orang berdiri untuk memberikan hormat. Selama ceramah berlangsung, dengan gampang ia menjelaskan teori relativitas Albert Einstein. Namun, ketika seorang pendengar menyampaikan sebuah pertanyaan, dia kewalahan. Untungnya, dia tidak kehilangan akal. Dengan dengan ia menjawab:, “Wah… pertanyaan anda itu terlalu sederhana bahkan sopir saja pun bisa menjawab pertanyaan itu”. Lalu ia mempersilakan Albert Einstein yang telah berlaku sebagai sopir menjawab pertanyaan itu.
Saudara dan saudariku
Bacaan-bacaan hari ini berbicara tentang kerendahan hati. Dalam bacaan pertama tadi dikatakan: “anakku, lakukanlah tugasmu dengan lembah lembut, maka engkau akan lebih disayangi daripada orang yang ramah-tamah.” Tertanya lemah lembut itu jauh lebih dihargai Tuhan daripada keramahan, karena orang bisa saja berpura-pura ramah. Lebih lanjut, dalam bacaan I tadi dikatakan: “Makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu, supaya mendapat rahmat di hadapan Tuhan.”
Sedangkan dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengkritik orang-orang Farisi yang ingin mencari tempat terhormat di dalam masyarakat.
Apa itu rendah hati? Dari akar katanya kerendahan hati dalam bahasa Inggris adalah ‘humility‘ berasal dari kata ‘humus‘ (Latin), artinya tanah/ bumi. Jadi, kerendahan hati maksudnya adalah menempatkan diri ‘membumi’ ke tanah.
Kerendahan hati adalah kebajikan yang paling mendasar dari semua kebajikan kristiani. Santo Agustinus bahkan mengatakan ada tiga jalan yang pasti membawa orang kepada Allah. Pertama, kerendahan hati. Kedua, kerendahan hati. Ketiga, kerendahan hati. Dengan cara ini, St. Agustinus menekankan pentingnya kerendahan hati untuk mencapai kesempurnaan rohani.
Dalam spiritualitas, kesempurnaan berarti kekudusan, sehingga untuk menjadi kudus, kita harus pertama-tama menjadi orang yang rendah hati. Kerendahan hati adalah dasar dari semua kebajikan yang lain, sebab tanpa kerendahan hati, kita tidak dapat sungguh-sungguh memiliki kebajikan-kebajikan yang lain. Kerendahan hati juga disebut sebagai ‘ibu’ dari semua kebajikan, sebab ia melahirkan ketaatan, takut akan Tuhan, dan penghormatan kepada-Nya, kesabaran, kesederhanaan, kelemah-lembutan dan damai.
Saudara dan saudariku
Saya tertarik dengan defenisi kerendahan hati yang diberikan oleh St. Theresia Avila. Dia berkata, rendah hati berarti hidup sesuai dengan kebenaran.
Kita dianjurkan untuk hidup sesuai kebenaran, di dalam relasi dengan Allah, dengan diri kita sendiri dan dengan sesama.
Dalam relasi dengan Allah, hal yang mesti kita sadari adalah bahwa kita adalah makluk ciptaan. Karena itu, hidup sesuai dengan kebenaran dalam relasi dengan Allah atau kerendahan hati dalam relasi dengan Allah berarti bersikap taat karena cinta kepada Allah.
Dalam relasi dengan diri sendiri, hidup dalam kebenaran atau bersikap rendah hati berarti tidak sombong atau berpura-pura menjadi apa yang bukan diri kita. Dalam kisah di atas tadi, sang sopir tidak bersikap rendah hati karena dia berpura-pura menjadi seorang Albert Einstein. Dia berpura-pura untuk menjadi bukan dirinya.
Sedangkan dalam relasi dengan sesama, hidup dalam kebenaran atau bersikap rendah hati berarti bersikap saling menghargai, ramah dan saling menerima satu sama lain. Jadi agar dapat mengasihi, kita harus rendah hati di dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan.
St. Ignatius mengajarkan sesuatu tentang kerendahan yang merupakan perjuangan bagi kita semua: Pertama, kerendahan hati di dalam pikiran adalah kita tidak boleh cemburu atau iri, jika orang lain dipuji, kita harus melihat kebaikan dalam diri orang lain, dan kita harus bergembira atas kebaikan dan kesuksesan orang lain.
Ada komentar orang seperti ini: “kenapa sih, Cor Unum kok exist banget?” Ya…mereka exist karena mereka mau terlibat dalam pelayanan, terutama membantu kami dalam seminar-seminar, rekoleksi atau retret. Anda tidak tahu bagaimana mereka sendiri jatuh bangun dalam mengikuti jadwal pelayanan dan tuntutan dari kami sendiri. “Kenapa sih, Cor Unum kok exist banget?” Bagi saya komentar semacam itu adalah muncul dari kesombongan diri yang tidak disadari. Kita harus selalu menyadari bahwa kita hanya semata-mata alat di tangan Tuhan, untuk memuji dan memuliakan Allah.
Kedua, kita tidak boleh bicara yang buruk tentang siapapun dan bicara yang baik-baik tentang diri sendiri, atau lebih tepatnya, sebaiknya kita membatasi pembicaraan tentang diri kita sendiri supaya kita tidak jatuh dalam perangkap kesombongan.
Ketiga, di dalam perbuatan kita harus mau mengambil tempat yang rendah/ tidak utama, dan tidak menginginkan untuk diperlakukan istimewa. Dalam segala sesuatu kita tidak mencari pujian, tetapi mencari bagaimana agar dapat melakukan sesuatu yang berguna, untuk kebaikan. Kita juga harus siap meminta maaf, untuk segala kesalahan yang kita lakukan, baik terhadap Tuhan dan orang lain, dan rajin untuk mengucap syukur untuk segala karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Sikap seperti ini adalah sikap seorang pelayan, oleh karena itu, kerendahan hati menjadi dasar dari pelayanan Kristiani.
Saudara dan saudariku
Kerendahan hati adalah sebuah rahmat. Karena itu hendaknya kita memohon kepada Allah untuk itu. Selain itu di dalam kehidupan kita sehari-hari hendaknya kita juga belajar untuk bersikap rendah hati. Semakin banyak kita berlatih untuk bersikap rendah hati maka kita pun akan menjadi orang yang rendah hati.
Menurut mother Teresa, ada 14 cara yang bisa kita lakukan untuk memperoleh kerendahan hati:
1. Berbicara sedikit mungkin tentang diri sendiri.
2. Uruslah sendiri persoalan-persoalan pribadi, tidak perlu menceritakan ke orang lain untuk menunjukkan betapa beratnya persoalan pribadi kita.
3. Hindari rasa ingin tahu. Lebih baik menahan diri untuk bertanya dan memberikan pendapat kalau tidak ditanya.
4. Janganlah mencampuri urusan orang lain.
5. Terimalah pertentangan dengan gembira.
6. Jangan memusatkan perhatian kepada kesalahan orang lain.
7. Terimalah hinaan dan caci maki.
8. Terimalah perasaan tak diperhatikan, dilupakan dan dipandang rendah.
9. Mengalah terhadap kehendak orang lain.
10. Terimalah celaan walaupun anda tidak layak menerimanya
11. Bersikap sopan dan peka, sekalipun seseorang memancing amarah anda
12. Janganlah mencoba agar dikagumi dan dicintai. Termasuk kalau nama kita tidak disebutkan/ditulis dalam kepanityaan, padahal kerjanya paling sibuk.
13. Bersikap mengalah dalam perbedaan pendapat, walaupun anda yg benar.
14. Pilihlah selalu yang tersulit. Saat tidak ada orang yang bersedia mengerjakan sesuatu ,ambilah tanggung jawab tersebut.
Ke-14 cara yang dianjurkan ini, bukanlah cara yang mudah tetapi sangat sulit. Dengan itu kita sadar bahwa ternyata kerendahan hati adalah suatu kebajikan yang sulit untuk didapatkan. Benyamin Franklin, pernah menulis: “Salah satu keinginan terdalam manusia yang sulit di atasi adalah kesombongan diri. Walaupun saya berusaha untuk mengatasinya atau bahkan mematikannya, kesombongan diri itu tetap ada. Bahkan ketika saya yakin bahwa saya telah mengatasinya, tetapi bisa saja muncul dalam sikap kebanggaan atas sikap kerendahan hati yang saya miliki.”
Beberapa kutipan ayat kitab suci yang dapat membantu kita untuk merenungkan tentang pentingnya sikap rendah hati.
Maz 149: 4 "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan."
1 Pet 5:5: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati”.
Fil 2:3 “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
Kerendahan hati ini begitu penting bagi Allah, sehingga menempati urutan pertama dari Delapan Sabda Bahagia: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga “ (Mat 5:3).
Saudara dan saudariku
Apa yang dapat kita buat untuk mencapai kerendahan hati? Paling tidak langkah awal untuk mencapai kerendahan hati itu.
Menurut St. Franciskus de Sales, langkah pertama kerendahan hati adalah pemeriksaan batin yang baik. Jika kita rajin melakukannya setiap hari, latihan ini akan membimbing kita mencapai pengenalan diri sendiri, dan terutama, mengenal kesombongan diri kita.
Langkah kedua adalah meditasi. Meditasi merupakan sarana untuk mencapai pengenalan diri sendiri. Dengan merenungkan kematian kita, penghakiman terakhir, neraka, surga, dan kehidupan Yesus Penebus kita, kita akan sampai pada kesadaran akan siapa diri kita di hadapan Allah. Tips dari St. Franciskus: “Renungkanlah betapa besar kasih yang Tuhan sudah berikan kepadamu, dan berapa banyak dosa yang sudah engkau perbuat melawan Dia. Dan saat engkau menghitung dosamu, hitunglah juga belas kasihan-Nya!”
Langkah ketiga adalah melalui pertobatan. Melalui pertobatan yang terus menerus dan latihan-latihan rohani seperti ini, kita mengembangkan di dalam hati kita rasa benci akan kesombongan kita. Bersyukurlah, kita dapat selalu kembali kepada Tuhan melalui Sakramen Pengakuan Dosa.
Saudara dan saudariku
Inti dari kekristenan adalah berbuat baik kepada orang-orang lain dalam semangat kerendahan hati. Marilah kita sekali lagi mencamkan apa yang pernah Yesus katakan: ”Barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri akan ditinggikan (Luk 14:11). Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)