Senin Pekan Biasa 23
Bacaan
Injil Luk 6: 6-11
Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?" Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus
Renungan
Menarik kalau kita membayangkan peristiwa Injil hari ini. Pertama, Yesus berada di dalam Bait Allah dengan dikelilingi oleh banyak orang termasuk ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ada maksud jahat yang terselubung dalam diri para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari sabat supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan dia. Tekanannya terletak pada keinginan mereka untuk menjerat dan mempersalahkan Yesus karena tindakan pelayanan-Nya.
Yesus, yang mengetahui pikiran mereka, berdiri dan malahan menantang mereka, kataNya: 'Aku bertanya kepada kamu: manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?'. Yesus mengembalikan masalah kepada inti persoalannya. Mereka semua bungkam dan tak berani menjawab karena memang mereka semua sudah mengetahui jawabannya, mereka tahu apa yang harus mereka katakan dan mereka lakukan dengan pertanyaan Yesus tadi. Mereka diam, karena mereka malu.
Kedua, kepada orang yang sakit, Yesus berkata: 'Bangunlah dan berdirilah di tengah! .... 'Ulurkanlah tanganmu!'. Kita bisa membayangkan perasaan yang berkecamuk dalam batin orang sakit itu. Di hadapannya ada Yesus tetapi ia juga dikelilingi oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi; mereka yang notabene menduduki kursi Musa dan semua orang harus hormat dan tat kepada mereka (bdk Mat 23:2-3). Siapakah Yesus, yang tidak mempunyai posisi dan peran utama dalam struktur masyarakat pada waktu itu? Saat itu, Yesus seakan memberikan pilihan kepada orang sakit itu: manakah yang lebih baik bagi kamu: taat kepadaKu atau taat kepada mereka? kata Yesus kepada orang yang lumpuh tangannya itu. Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Dan ternyata orang itu bisa memilih yan terbaik di dalam hidupnya. Dia memilih Yesus yang mampu menyelamatkan.
Merenungkan pilihan orang sakit ini, kita teringat akan sabda Tuhan: “Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada. Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya. Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya” (Mzm 146: 2-5).
Kutipan sabda Tuhan ini, kiranya juga mengingatkan kita untuk senantiasa memilih Tuhan di selagi kita masih hidup. Kita mungkin tidak pernah mengalami pergumulan batin sebagaimana yang dialami oleh orang sakit tadi, karena semakin hari kita semakin mengerti bahwa Yesus adalah satu-satunya harapan keselamatan kita.
Meluangkan waktu untuk mengikuti ekaristi, berdoa, atau merenungkan sabda Tuhan merupakan langkah pilihan yang kita buat kepada Yesus. Yang perlu kita kerjakan sekarang adalah agar kita semakin hari semakin setia, karena memang kesempatan untuk semakin mengenal Dia semakin terbuka lebar. Usaha pengenalan dan kesetiaan kita hendaknya meneladan Paulus tentang usaha dan pergumulan dalam mengenal Kristus.
Apa yang bisa kita pelajari dari bacaan Injil hari ini? Marilah kita renungkan sabda Yesus kepada orang sakit tadi: ”Ulurkanlah tanganmu”. Ini merupakan suatu perintah yang biasa. Jika seorang dokter mau periksa tangan kita, dia pun pasti akan berkata: ”tangannya mana?, dengan maksud agar kita mengulurkan tangan kepadanya. Tetapi perintah yang sama pun dapat diberikan kepada kita yang tidak sakit tangan. Berarti ulurkanlah tanganmu untuk membantu orang miskin atau mereka yang membutuhkan. Juga ulurkanlah tanganmu kepada Tuhan, untuk memohon ampun atas segala dosa kita. Supaya kita disembuhkan, maka kita harus mengulurkan tangan. Tuhan telah mengulurkan tangan-Nya untuk menjamah kita dengan kasih-Nya yang menyembuhkan. Semoga kita pada gilirannya juga mengulurkan tangan untuk berbuat baik kepada orang yang membutuhkan bantuan kita. Semoga
Salib Katolik
“Mengapa kamu banyak sekali menggantung Salib? Hampir setiap kamar ada Salib. Seakan kamu menyalibkan Yesus dimana-mana.” Kata Andi kepada Beti ketika Andi berkunjung ke rumah Beti sahabat karibnya. Kebetulan Beti adalah seorang Katolik.
“Anehnya adalah mengapa Salib orang Katolik masih menggantungkan tubuh Yesus di Salib? Bukankah DIA sudah bangkit dan naik ke Surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa?” Andi melontarkan pertanyaan retoris kepada Beti. Sebenarnya Andi tahu bahwa Beti pun percaya hal yang sama.
“Orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus telah bangkit dan naik ke Surga. Itulah mengapa Salib orang Kristen tidak menggantungkan tubuh Yesus Kristus. Lagi pula kami tidak menggantung Salib di setiap kamar.” Lanjut Andi lagi seolah tidak memberi waktu kepada Beti untuk menjawab.
“Lihatlah, Salib-salib itu banyak sekali bentuknya. Ada yang terbuat dari kayu, ada yang dari besi, bahkan ada yang dari aluminium. Bukankah Salib Yesus itu terbuat dari kayu?” Celoteh Andi lagi sambil memegang Salib aluminium besar yang berdiri kokoh di sebuah meja sudut di ruang tamu. Kali ini Beti hanya tersenyum simpul menanggapi sahabatnya yang seorang Kristen itu.
Seminggu kemudian Beti berkunjung ke rumah Andi.
“Hai, ini foto pacar kamu?” tanya Beti ketika memandang sebuah foto seorang wanita cantik berukuran besar yang diberi bingkai kayu ukiran yang mewah.
“Hus… Ini ibuku!” bisik Andi sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya seolah menyuruh Beti untuk tidak berbicara keras-keras. Maklum Beti tadi bertanya dengan nada cukup tinggi.
“Ibu kamu cantik ya?” kata Beti lagi dengan suara lebih pelan.
“Hmm… Ya jelas dong. Ibu siapa dulu? Itu foto ibu ketika masih muda, mungkin waktu itu umurnya 25 tahun.” Kata Andi dengan bangga sambil membetulkan kerah bajunya yang sebenarnya tidak perlu dibetulkan baik lipatan maupun bentuknya.
“Sekarang umurnya berapa? Sekarang ibu kamu ada dimana?” Berondong Beti.
“Sekarang umurnya sudah 60 tahun. Kebetulan saat ini ibu sedang pergi belanja bersama ayah.” Jawab Andi dengan sabar menghadapi pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu.
“Lho, kok masih dipajang? Bukankah sekarang ibu sudah berumur 60 tahun? Bukankah sekarang ibu sedang pergi belanja? Kok kamu masih memajang fotonya ketika usianya masih 25 tahun?” Kali ini Beti lebih memberondong Andi dengan berbagai pertanyaannya.
“Emang kenapa? Apa yang salah dengan itu?” Andi bertanya balik sambil heran mengapa sahabatnya bertanya hal-hal yang demikian.
“Lho, kamu sendiri kan yang pernah tanya padaku? Waktu itu kamu bertanya: Mengapa Salib orang Katolik masih menggantung tubuh Yesus padahal Yesus telah bangkit dan naik ke Surga?” Beti menjawab dengan nada halus seolah berusaha mengingatkan Andi akan peristiwa 1 minggu sebelumnya di rumah Beti.
“Kalau begitu boleh dong aku sekarang bertanya hal yang sama tentang ibu kamu?” Beti bertanya lagi dengan nada lebih lembut. Kali ini Andi telah ingat beberapa pertanyaan yang dia lontarkan kepada Beti seminggu yang lalu.
“Iya ya?” Jawab Andi. “Kamu hebat Beti. Aku sekarang mengerti.” Andi lalu memeluk Beti sahabatnya.
—
Salib orang Katolik memang menggantungkan tubuh Yesus Kristus. Salib orang Katolik memang beragam bentuknya. Bahkan tidak hanya dari kayu, tetapi juga dari bahan lain seperti aluminium, besi, dan ada juga yang dari baja. Patungnya pun beragam bentuk dan posisi. Tetapi bukan itu esensinya. Salib bagi orang Katolik adalah sebuah media untuk mengingat kisah sengsara Yesus dalam karya keselamatan-Nya bagi umat manusia.
Justru Salib orang Katolik digantung tubuh Yesus Kristus agar kita tahu bahwa Salib itu memang benar Salib Yesus Kristus. Kita benar-benar menghormati kisah sengsara dan wafat Yesus di Salib itu. Di sanalah terbentang misteri keselamatan Allah.
Umat Katolik tidak menghormati kayu salib yang berupa 2 bilah kayu yang disusun bersilangan. Tetapi umat Katolik sangat menghormati kisah sengsara dan wafat Yesus di Salib. Itulah mengapa dalam memvisualisasikan salib, orang Katolik menggantungkan tubuh Yesus di sana. Justru formasi 2 bilah kayu pembentuk salib itu tidak akan ada artinya tanpa Yesus Kristus yang rela mati untuk menebus dosa manusia dengan disalib. Ingatkan bahwa Yesus disalib bersama 2 orang penjahat yang juga disalib di sisi kanan dan kiri-Nya? Jadi kalau ada orang yang hanya percaya kepada 2 bilah kayu bersilangan itu, kita patut bertanya padanya: “Ini salib siapa? Jangan-jangan salah satu salib dari 2 penjahat itu.”
Kalau ada orang yang ngotot berargumentasi dengan bertanya pada orang Katolik: “Bukankah Yesus telah bangkit dan naik ke Surga? Kita tidak perlu menggantungkan tubuh Yesus di Salib.”
Kita patut bertanya balik kepadanya: “Bukankah Yesus telah bangkit dan naik ke Surga? Tetapi mengapa kamu masih merayakan Natal (kelahiran Yesus)? Atau mengapa kamu masih merayakan Paskah (kisah sengsara Yesus)?”
Jadi jangan berpikiran sempit ya? Juga jangan berpikiran bahwa umat Katolik hanya menghormati kisah sengsara Yesus Kristus. Kami sangat menjunjung tinggi Yesus, Sang Sabda, Sang Putra Allah. Kami juga sangat menghormati setiap bagian hidupnya sebagai manusia: sejak dikandung, dilahirkan, hidup sebagai guru, hidup untuk memberitakan Kabar Baik sambil memberikan keselamatan (jasmani dan rohani), sampai saat Dia harus menderita, wafat di kayu Salib, bangkit dan naik ke Surga. Kami juga sangat mengharapkan kedatangan-Nya yang kedua kali untuk menjadi hakim atas dunia ini.
Salib dengan tubuh Yesus itu adalah media paling ampuh bagi kami untuk mengenangkan kisah sengsara Yesus dalam karya keselamatan-Nya. Salib itu juga mengingatkan kami agar kami mampu memikul salib kami yang sebenarnya sangat ringan dan enak. Salib kami tiada artinya jika dibandingkan dengan Salib Yesus Kristus.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:28-30).
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:38. Bandingkan: Matius 16:24, Markus 8:34, Lukas 9:23, Lukas 14:27)
Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Olah bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. (I Petrus 2:24).
sumber : agamaku.wordpress.com
“Anehnya adalah mengapa Salib orang Katolik masih menggantungkan tubuh Yesus di Salib? Bukankah DIA sudah bangkit dan naik ke Surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa?” Andi melontarkan pertanyaan retoris kepada Beti. Sebenarnya Andi tahu bahwa Beti pun percaya hal yang sama.
“Orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus telah bangkit dan naik ke Surga. Itulah mengapa Salib orang Kristen tidak menggantungkan tubuh Yesus Kristus. Lagi pula kami tidak menggantung Salib di setiap kamar.” Lanjut Andi lagi seolah tidak memberi waktu kepada Beti untuk menjawab.
“Lihatlah, Salib-salib itu banyak sekali bentuknya. Ada yang terbuat dari kayu, ada yang dari besi, bahkan ada yang dari aluminium. Bukankah Salib Yesus itu terbuat dari kayu?” Celoteh Andi lagi sambil memegang Salib aluminium besar yang berdiri kokoh di sebuah meja sudut di ruang tamu. Kali ini Beti hanya tersenyum simpul menanggapi sahabatnya yang seorang Kristen itu.
Seminggu kemudian Beti berkunjung ke rumah Andi.
“Hai, ini foto pacar kamu?” tanya Beti ketika memandang sebuah foto seorang wanita cantik berukuran besar yang diberi bingkai kayu ukiran yang mewah.
“Hus… Ini ibuku!” bisik Andi sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya seolah menyuruh Beti untuk tidak berbicara keras-keras. Maklum Beti tadi bertanya dengan nada cukup tinggi.
“Ibu kamu cantik ya?” kata Beti lagi dengan suara lebih pelan.
“Hmm… Ya jelas dong. Ibu siapa dulu? Itu foto ibu ketika masih muda, mungkin waktu itu umurnya 25 tahun.” Kata Andi dengan bangga sambil membetulkan kerah bajunya yang sebenarnya tidak perlu dibetulkan baik lipatan maupun bentuknya.
“Sekarang umurnya berapa? Sekarang ibu kamu ada dimana?” Berondong Beti.
“Sekarang umurnya sudah 60 tahun. Kebetulan saat ini ibu sedang pergi belanja bersama ayah.” Jawab Andi dengan sabar menghadapi pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu.
“Lho, kok masih dipajang? Bukankah sekarang ibu sudah berumur 60 tahun? Bukankah sekarang ibu sedang pergi belanja? Kok kamu masih memajang fotonya ketika usianya masih 25 tahun?” Kali ini Beti lebih memberondong Andi dengan berbagai pertanyaannya.
“Emang kenapa? Apa yang salah dengan itu?” Andi bertanya balik sambil heran mengapa sahabatnya bertanya hal-hal yang demikian.
“Lho, kamu sendiri kan yang pernah tanya padaku? Waktu itu kamu bertanya: Mengapa Salib orang Katolik masih menggantung tubuh Yesus padahal Yesus telah bangkit dan naik ke Surga?” Beti menjawab dengan nada halus seolah berusaha mengingatkan Andi akan peristiwa 1 minggu sebelumnya di rumah Beti.
“Kalau begitu boleh dong aku sekarang bertanya hal yang sama tentang ibu kamu?” Beti bertanya lagi dengan nada lebih lembut. Kali ini Andi telah ingat beberapa pertanyaan yang dia lontarkan kepada Beti seminggu yang lalu.
“Iya ya?” Jawab Andi. “Kamu hebat Beti. Aku sekarang mengerti.” Andi lalu memeluk Beti sahabatnya.
—
Salib orang Katolik memang menggantungkan tubuh Yesus Kristus. Salib orang Katolik memang beragam bentuknya. Bahkan tidak hanya dari kayu, tetapi juga dari bahan lain seperti aluminium, besi, dan ada juga yang dari baja. Patungnya pun beragam bentuk dan posisi. Tetapi bukan itu esensinya. Salib bagi orang Katolik adalah sebuah media untuk mengingat kisah sengsara Yesus dalam karya keselamatan-Nya bagi umat manusia.
Justru Salib orang Katolik digantung tubuh Yesus Kristus agar kita tahu bahwa Salib itu memang benar Salib Yesus Kristus. Kita benar-benar menghormati kisah sengsara dan wafat Yesus di Salib itu. Di sanalah terbentang misteri keselamatan Allah.
Umat Katolik tidak menghormati kayu salib yang berupa 2 bilah kayu yang disusun bersilangan. Tetapi umat Katolik sangat menghormati kisah sengsara dan wafat Yesus di Salib. Itulah mengapa dalam memvisualisasikan salib, orang Katolik menggantungkan tubuh Yesus di sana. Justru formasi 2 bilah kayu pembentuk salib itu tidak akan ada artinya tanpa Yesus Kristus yang rela mati untuk menebus dosa manusia dengan disalib. Ingatkan bahwa Yesus disalib bersama 2 orang penjahat yang juga disalib di sisi kanan dan kiri-Nya? Jadi kalau ada orang yang hanya percaya kepada 2 bilah kayu bersilangan itu, kita patut bertanya padanya: “Ini salib siapa? Jangan-jangan salah satu salib dari 2 penjahat itu.”
Kalau ada orang yang ngotot berargumentasi dengan bertanya pada orang Katolik: “Bukankah Yesus telah bangkit dan naik ke Surga? Kita tidak perlu menggantungkan tubuh Yesus di Salib.”
Kita patut bertanya balik kepadanya: “Bukankah Yesus telah bangkit dan naik ke Surga? Tetapi mengapa kamu masih merayakan Natal (kelahiran Yesus)? Atau mengapa kamu masih merayakan Paskah (kisah sengsara Yesus)?”
Jadi jangan berpikiran sempit ya? Juga jangan berpikiran bahwa umat Katolik hanya menghormati kisah sengsara Yesus Kristus. Kami sangat menjunjung tinggi Yesus, Sang Sabda, Sang Putra Allah. Kami juga sangat menghormati setiap bagian hidupnya sebagai manusia: sejak dikandung, dilahirkan, hidup sebagai guru, hidup untuk memberitakan Kabar Baik sambil memberikan keselamatan (jasmani dan rohani), sampai saat Dia harus menderita, wafat di kayu Salib, bangkit dan naik ke Surga. Kami juga sangat mengharapkan kedatangan-Nya yang kedua kali untuk menjadi hakim atas dunia ini.
Salib dengan tubuh Yesus itu adalah media paling ampuh bagi kami untuk mengenangkan kisah sengsara Yesus dalam karya keselamatan-Nya. Salib itu juga mengingatkan kami agar kami mampu memikul salib kami yang sebenarnya sangat ringan dan enak. Salib kami tiada artinya jika dibandingkan dengan Salib Yesus Kristus.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:28-30).
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:38. Bandingkan: Matius 16:24, Markus 8:34, Lukas 9:23, Lukas 14:27)
Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Olah bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. (I Petrus 2:24).
sumber : agamaku.wordpress.com
Teguran Kasih
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC
Homili Minggu Biasa XXIII
(Mateus 18:15-20)
Dalam sebuah museum, terdapat sebuah patung marmer yang sangat indah dan juga lantai marmer. Si lantai bertanya kepada si patung : “Kamu enak sekali ya, orang-orang datang ke museum ini pada memuji-muji kamu, sedangkan aku diinjak-injak orang. Padahal, kita kan dari gunung yang sama”. Si patung menjawab menjawab : “Kita memang dari gunung yang sama. Akan tetapi, kamu tidak mau dipahat oleh tukang pahat sehingga menjadi lantai saja. Aku mau dibentuk oleh tukang pahat walaupun sakitnya bukan kepalang sehingga menjadi patung yang dilihat banyak orang. Ada harga yang harus dibayar untuk menjadi indah”.
Tuhan ingin membentuk kita menjadi lebih indah dari hari ke hari. Tuhan membentuk kita dengan meminta kita untuk saling menasihati/menegor. Mau menegor dan ditegor perlu pengorbanan. Ditunjukkan kesalahan kita pasti menyakitkan, sedangkan menegor juga makan hati, yaitu perasaan takut dimarahin dan bahkan dimaki. Ketika mau melakukannya dengan tulus, kita akan menjadi semakin sempurna. Semakin sempurna adalah indah. Karena itu, Tuhan Yesus menasihati kita untuk menegur saudara kita yang bersalah dengan empat mata. Menegor dengan empat mata adalah manasihatinya dari hati ke hati. Menegor dari hati ke hati akan membuatnya termotivasi untuk berubah daripada menggosipkan kesalahannya. Menggosipkan kesalahannya akan membuatnya enggan berubah karena merasa sudah terlanjur malu. Permohonan mereka pun dikabulkan : “Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga” (Mateus 18:19). Permohonan yang dikabulkan adalah permohonan untuk berubah. Perubahan terjadi pada orang yang berbuat salah dan juga kita yang menegornya dengan mau mengampuni kesalahannya.
Ada sharing iman dari seorang remaja dalam sebuah retret. Ibunya meninggal dunia satu menit setelah melahirkannya karena kehabisan darah. Sejak itu, ia diasuh oleh tantenya (adik dari ibunya) yang belum menikah. Ketika ia berumur sepuluh tahun, ayahnya menikahi tantenya itu. Pernikahan ayahnya dengan tantenya memukul jiwanya. Ia merasa ayahnya bukan miliknya lagi, tetapi milik tantenya. Tekanan jiwanya semakin diperparah dengan kelahiran adiknya, hasil dari pernikahan ayah dan tantenya itu. Ia tidak berani bermanja-manja lagi dengan ayahnya. Ia mengalami kesepian di dunia yang ramai. Ia merasa diri sebagai anak yang paling menderita di dunia. Ia menyimpan segala kekecewaan di dalam hatinya sehingga ia menimbulkan penyakit lupus di lehernya. Ia sudah pergi ke mana-mana untuk memperoleh kesembuhan, tetapi kesembuhan tetap tinggal keinginan. Ketika doa pemulihan dikumandangkan, ia terbayang sebuah peristiwa. Pada suatu malam, tantenya memindahkan dia yang tertidur di sofa di depan televisi ke kamarnya dan menyelimutinya sambil berkata : “Nak, engkau harus tahu bahwa aku sangat menyayangimu”. Selama ini ia termakan dengan perasaannya sendiri sehingga tidak bisa melihat kasih tantenya. Ia dengan air mata bercucuran menuliskan sebuah untaian kata pada selembar kertas putih : “Tante, aku mohon maaf karena selama ini aku tidak melihat kasihmu. Terimakasih Tuhan, Engkau telah mencintaiku melalui tanteku”. Ketika bangun pagi, ia terkejut karena luka-luka dilehernya akibat lupus terkelupas dengan sendirinya. Ia disembuhkan karena bisa melihat kasih Allah yang selama ini tenggelam dalam kecurigaannya sendiri.
Teguran kasih persaudaraan harus kreatif. Tegoran tidak harus dengan kata-kata. Tegoran yang paling efektif adalah tidak lelah-lelahnya melakukan kebaikan kepada orang yang bersalah. Orang yang bersalah itu akan tersentuh hatinya. Orang yang tersentuh hatinya akan rela berubah. Tegoran kasih akhirnya berbuah. Buahnya : keindahan rohani, yaitu baik kita yang menegor dan yang ditegor bertumbuh di dalam belaskasihan. Karena itu, marilah kita memelihara ketulusan hati kita agar hati kita terus memancarkan keindahan hidup : “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amzal 4:23). Tuhan memberkati.
Homili Minggu Biasa XXIII
(Mateus 18:15-20)
Dalam sebuah museum, terdapat sebuah patung marmer yang sangat indah dan juga lantai marmer. Si lantai bertanya kepada si patung : “Kamu enak sekali ya, orang-orang datang ke museum ini pada memuji-muji kamu, sedangkan aku diinjak-injak orang. Padahal, kita kan dari gunung yang sama”. Si patung menjawab menjawab : “Kita memang dari gunung yang sama. Akan tetapi, kamu tidak mau dipahat oleh tukang pahat sehingga menjadi lantai saja. Aku mau dibentuk oleh tukang pahat walaupun sakitnya bukan kepalang sehingga menjadi patung yang dilihat banyak orang. Ada harga yang harus dibayar untuk menjadi indah”.
Tuhan ingin membentuk kita menjadi lebih indah dari hari ke hari. Tuhan membentuk kita dengan meminta kita untuk saling menasihati/menegor. Mau menegor dan ditegor perlu pengorbanan. Ditunjukkan kesalahan kita pasti menyakitkan, sedangkan menegor juga makan hati, yaitu perasaan takut dimarahin dan bahkan dimaki. Ketika mau melakukannya dengan tulus, kita akan menjadi semakin sempurna. Semakin sempurna adalah indah. Karena itu, Tuhan Yesus menasihati kita untuk menegur saudara kita yang bersalah dengan empat mata. Menegor dengan empat mata adalah manasihatinya dari hati ke hati. Menegor dari hati ke hati akan membuatnya termotivasi untuk berubah daripada menggosipkan kesalahannya. Menggosipkan kesalahannya akan membuatnya enggan berubah karena merasa sudah terlanjur malu. Permohonan mereka pun dikabulkan : “Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga” (Mateus 18:19). Permohonan yang dikabulkan adalah permohonan untuk berubah. Perubahan terjadi pada orang yang berbuat salah dan juga kita yang menegornya dengan mau mengampuni kesalahannya.
Ada sharing iman dari seorang remaja dalam sebuah retret. Ibunya meninggal dunia satu menit setelah melahirkannya karena kehabisan darah. Sejak itu, ia diasuh oleh tantenya (adik dari ibunya) yang belum menikah. Ketika ia berumur sepuluh tahun, ayahnya menikahi tantenya itu. Pernikahan ayahnya dengan tantenya memukul jiwanya. Ia merasa ayahnya bukan miliknya lagi, tetapi milik tantenya. Tekanan jiwanya semakin diperparah dengan kelahiran adiknya, hasil dari pernikahan ayah dan tantenya itu. Ia tidak berani bermanja-manja lagi dengan ayahnya. Ia mengalami kesepian di dunia yang ramai. Ia merasa diri sebagai anak yang paling menderita di dunia. Ia menyimpan segala kekecewaan di dalam hatinya sehingga ia menimbulkan penyakit lupus di lehernya. Ia sudah pergi ke mana-mana untuk memperoleh kesembuhan, tetapi kesembuhan tetap tinggal keinginan. Ketika doa pemulihan dikumandangkan, ia terbayang sebuah peristiwa. Pada suatu malam, tantenya memindahkan dia yang tertidur di sofa di depan televisi ke kamarnya dan menyelimutinya sambil berkata : “Nak, engkau harus tahu bahwa aku sangat menyayangimu”. Selama ini ia termakan dengan perasaannya sendiri sehingga tidak bisa melihat kasih tantenya. Ia dengan air mata bercucuran menuliskan sebuah untaian kata pada selembar kertas putih : “Tante, aku mohon maaf karena selama ini aku tidak melihat kasihmu. Terimakasih Tuhan, Engkau telah mencintaiku melalui tanteku”. Ketika bangun pagi, ia terkejut karena luka-luka dilehernya akibat lupus terkelupas dengan sendirinya. Ia disembuhkan karena bisa melihat kasih Allah yang selama ini tenggelam dalam kecurigaannya sendiri.
Teguran kasih persaudaraan harus kreatif. Tegoran tidak harus dengan kata-kata. Tegoran yang paling efektif adalah tidak lelah-lelahnya melakukan kebaikan kepada orang yang bersalah. Orang yang bersalah itu akan tersentuh hatinya. Orang yang tersentuh hatinya akan rela berubah. Tegoran kasih akhirnya berbuah. Buahnya : keindahan rohani, yaitu baik kita yang menegor dan yang ditegor bertumbuh di dalam belaskasihan. Karena itu, marilah kita memelihara ketulusan hati kita agar hati kita terus memancarkan keindahan hidup : “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amzal 4:23). Tuhan memberkati.
Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik
Yesus mendirikan Gereja-Nya diatas Petrus berjanji (dalam Mat 16:18) bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja. Kitab Suci (dalam 1 Timotius 3:15) berkata bahwa Gereja adalah pilar dan dasar kebenaran. Roh Kebenaran akan membimbing Gereja dalam semua kebenaran (Yoh 16:13).Gereja diperintahkan untuk menjadikan semua bangsa muridnya, dan mengajar mereka sampai ujung bumi dan akhir jaman (Mat 28:19-20 dan Kis 1 : 8). Awalnya, perjanjian Allah adalah dengan individu-individu, kemudian pada keluarga, lalu suku, dan banyak suku, kemudian kepada bangsa, lalu pada semua bangsa atau κατα ολοι ["untuk semua" dalam bahasa Yunani Koine adalah "kata holoi" darinya nama katolik berasal] (Kis 1:8 & Mat 28:19) Oleh karena itu, καθολικος (KATOLIK).
Sejarawan Gereja Awal J.N.D. Kelly, seorang Protestan, menulis :”Kata ‘katolik’, makna aslinya adalah ‘universal’ atau ‘umum’…dalam pertengahan abad kedua, kita menemukan bahwa kata katolik membawa tanda bahwa Katolik adalh Gereja yang benar yang terpisah dari kongregasi heretik (sesat) (bdk, contohnya Muratorian Canon) … Apa yang Bapa Gereja bayangkan hampir bersifat empiris, masyarakat yang kelihatan; mereka memiliki sedikit atau tidak ada prasangka dalam distingsi yang kemudian menjadi penting antara Gereja yang kelihatan dan tidak kelihatan” (Early Christian Doctrines, 190–1).
Berikut ini adalah kutipan Bapa Gereja yang menunjukkan bahwa Gereja mula-mula adalah Gereja Katolik dan bukan gereja yang lain (Ortodox memisahkan diri dari Gereja Katolik tahun 1054, baca entri Catholic Encyclopedia Skisma Timur. Sedangkan Protestan sendiri baru muncul sekitar abad ke 16. Baca Sejarah Terjadinya Protestanisme).
Ignatius of Antioch
“Dimana ada para uskup, disitu juga ada umat, sama seperti dimanapun Yesus Kristus berada, disana ada Gereja Katolik” (Letter to the Smyrneans 8:2 [A.D. 110]).
The Martyrdom of Polycarp
“Dan dari yang terpilih, ia memang seorang martir Polycarp yang menakjubkan, yang pada masa kami adalah guru apostolik dan profetik, uskup Gereja Katolik di Smyrna. Karena setiap kat yang keluar dari mulutnya dipenuhi dan akan terpenuhi” ” (Martyrdom of Polycarp 16:2 [A.D. 155]).
The Muratorian Canon
“Selain Surat-Surat Paulus” ada satu surat kepada Filemon, dan kepada Titus, dan dua kepada Timotius, dalam kasih dan cinta, tapi dianggap sebagai kudus dalam Gerja Katolik, dalam penyusunan disiplin gerejawi. Juga ada surat kepada Laodiceans dan kepada Alexandrians, yang dipalsukan atas nama Paulus, dalam hubungannya dengan kesesatan Marcion, dan juga ada beberapa yang lain yang tidak diterima oleh Gereja, karena tidaklah pantas bahwa empedu dicampur dengan madu. Surat Jude, dan dua surat yang berasal dari Yohanes diterima oleh Gereja Katolik (Muratorian fragment [A.D. 177]).
Tertullian
Dimanakah heretik Marcian, shipmaster Pontus, murid Stoicisme yang tekun? Dimana Valentinus, murid Platonisme? Karena jelas bahwa orang-orang ini hidup tidak lama – dalam masa pemerintahan Antonius untuk sebagian besar – dan bahwa mereka pertamanya adalah umat beriman dalam ajaran Gereja Katolik, dalam Gereja Roma dibawah episkopat Eleutherius yang terberkati, sampai catatan tentang mereka yang aneh, yang dengannya mereka menginfeksi saudara-saudara, mereka lebih dari sekali dikeluarkan” (Demurrer Against the Heretics 30 [A.D. 200]).
Empat Tanda Gereja Sejati
Jika kita ingin menemukan Gereja yang didirikan Yesus, kita perlu menemukan bahwa Gereja yang memiliki empat tanda atau kualitas utama Gereja-Nya. Gereja yang kita cari haruslah satu, kudus, katolik dan apostolik.
Gereja itu Satu (Rom 12: 5, 1 Kor 10: 17, 12: 13, KGK 813-822)
Yesus hanya mendirikan satu Gereja, bukan sekumpulan gereja-gereja yang berbeda (Lutheran, Baptist, Anglican, dst). Kitab Suci berkata Gereja adalah mempelai Kristus (Ef 5: 23-32). Yesus hanya bisa memiliki satu mempelai, dan mempelainya adalah Gereja Katolik.
Gereja-Nya juga mengajarkan sekumpulan ajaran, yang pasti sama seperti yang diajarkan para rasul (Yudas 3). Inilah kesatuan kepercayaan yang kepadanya kitab suci memanggil kita (Phil 1: 27, 2:2)
Meskipun beberapa katolik tidak taat terhadap ajaran yang diajarkan secara resmi, guru-guru Gereja yang resmi – paus dan para uskup yang bersatu dengannya – tidak pernah mengubah ajaran apapun. Selama berabad-abad, ajaran-ajaran diperiksa sepenuhnya, Gereja memahaminya dengan lebih mendalam (Yoh 16 : 12-13), tapi tidak pernah dipahami untuk melawan apa yang sekali mereka pahami.
Gereja itu Kudus (Ef 2: 25-27, Wahyu 19 :7-8, KGK 823-829)
Melalui rahmat-Nya Yesus membuat Gereja kudus, karena Ia adalah kudus. Ini tidak berarti bahwa tiap anggotanya selalu kudus. Yesus berkata bahwa aka nada anggota yang baik dan buruk dalam Gereja (Yoh 6:70), dan tidak semuanya akan masuk surga (Mat 7: 21-23)
Tapi Gereja sendiri kudus karena Gereja adalah sumber kekudusan dan penjaga sarana rahmat special yang Yesus dirikan, yaitu sakramen-sakramen (bdk Ef 5 :26)
Gereja itu Katolik (Mat 28: 19-20, Wahyu 5:9-10, KGK 830-856)
Gereja Yesus disebut katolik (“universal dalam bahasa Yunani”) karena Gereja adalah hadiah bagi semua orang. Ia memberitahi para rasul untuk pergi ke seluruh duni dan menjadikan semua bangsa muridnya (Mat 28: 19-20)
Selama 2000 tahun Gereja Katolik telah membawa keluar misi ini, mengkhotbahkan kabar baik bahwa Kristis wafat demi semua manusia dan Ia ingin semuanya menjadi anggota keluarga universalnya (Gal 3: 28)
Sekarang Gereja Katolik ditemukan di setiap negara di dunia dan masih mengirim misionaris untuk “menjadikan semua bangsa muridnya” (Matt. 28:19).
Gereja yang Yesus dirikan dikenal melalui gelar yang paling umum,”Gereja Katolik”, paling tidak seawal tahun 107, ketika Ignatius dari Antiokita menggunakan gelar itu untuk menggambarkan Gereja yang Yesus dirikan. Gelar ini dengan jelas berusia tua dalam masa Ignatius, yang artinya mungkin sekali kembali kepada masa para rasul.
Gereja itu Apostolik (Ef 2:19-20, KGK 857-865)
Gereja yang didirikan Yesus itu apostolik karena Ia menunjuk para rasul menjadi pemimpin pertama Gereja, dan penerus mereka menjadi pemimpin masa depannya. Para rasul adalah uskup pertama, dan sejak abad pertama, sudah ada garis yang tak terputuskan dari para uskup katolik yang dengan setia meneruskan apa yang para rasul ajarkan kepada umat Kristen pertama dalam Kitab Suci dan Tradisi Lisan (2 Tim 2:2).
Kepercayaan-kepercayaan ini termasuk Kebangkitan Tubuh Yesus, Kehadiran Nyata Yesus dalam Ekaristi, hakekat kurban Misa, pengampunan dosa melalui imam, regenerasi baptisan, keberadaan purgatory, peran khusus Maria, dan banyak lagi – dan bahkan ajaran suksesi apostolik.
Tulisan umat Kristen perdana membuktikan bahwa umat Kristen seluruhnya adalah katolik baik dalam kepercayaan dan praktek dan melihat penerus para rasul sebagai pemimpin mereka. Apa yang umat Kristen perdana percaya masih dipercaya oleh Gereja Katolik. Tidak ada Gereja lain yang bisa membuat klaim itu.
Jadi, alasan kita memilih Gereja Katolik adalah bahwa karena Yesus sendiri, yang adalah Allah, mendirikan Gereja Katolik – Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik – dan berjanji bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja-Nya. Dan Ia juga berjanji menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman.
Sumber: https://luxveritatis7.wordpress.com/2011/08/11/pd-mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/
Sejarawan Gereja Awal J.N.D. Kelly, seorang Protestan, menulis :”Kata ‘katolik’, makna aslinya adalah ‘universal’ atau ‘umum’…dalam pertengahan abad kedua, kita menemukan bahwa kata katolik membawa tanda bahwa Katolik adalh Gereja yang benar yang terpisah dari kongregasi heretik (sesat) (bdk, contohnya Muratorian Canon) … Apa yang Bapa Gereja bayangkan hampir bersifat empiris, masyarakat yang kelihatan; mereka memiliki sedikit atau tidak ada prasangka dalam distingsi yang kemudian menjadi penting antara Gereja yang kelihatan dan tidak kelihatan” (Early Christian Doctrines, 190–1).
Berikut ini adalah kutipan Bapa Gereja yang menunjukkan bahwa Gereja mula-mula adalah Gereja Katolik dan bukan gereja yang lain (Ortodox memisahkan diri dari Gereja Katolik tahun 1054, baca entri Catholic Encyclopedia Skisma Timur. Sedangkan Protestan sendiri baru muncul sekitar abad ke 16. Baca Sejarah Terjadinya Protestanisme).
Ignatius of Antioch
“Dimana ada para uskup, disitu juga ada umat, sama seperti dimanapun Yesus Kristus berada, disana ada Gereja Katolik” (Letter to the Smyrneans 8:2 [A.D. 110]).
The Martyrdom of Polycarp
“Dan dari yang terpilih, ia memang seorang martir Polycarp yang menakjubkan, yang pada masa kami adalah guru apostolik dan profetik, uskup Gereja Katolik di Smyrna. Karena setiap kat yang keluar dari mulutnya dipenuhi dan akan terpenuhi” ” (Martyrdom of Polycarp 16:2 [A.D. 155]).
The Muratorian Canon
“Selain Surat-Surat Paulus” ada satu surat kepada Filemon, dan kepada Titus, dan dua kepada Timotius, dalam kasih dan cinta, tapi dianggap sebagai kudus dalam Gerja Katolik, dalam penyusunan disiplin gerejawi. Juga ada surat kepada Laodiceans dan kepada Alexandrians, yang dipalsukan atas nama Paulus, dalam hubungannya dengan kesesatan Marcion, dan juga ada beberapa yang lain yang tidak diterima oleh Gereja, karena tidaklah pantas bahwa empedu dicampur dengan madu. Surat Jude, dan dua surat yang berasal dari Yohanes diterima oleh Gereja Katolik (Muratorian fragment [A.D. 177]).
Tertullian
Dimanakah heretik Marcian, shipmaster Pontus, murid Stoicisme yang tekun? Dimana Valentinus, murid Platonisme? Karena jelas bahwa orang-orang ini hidup tidak lama – dalam masa pemerintahan Antonius untuk sebagian besar – dan bahwa mereka pertamanya adalah umat beriman dalam ajaran Gereja Katolik, dalam Gereja Roma dibawah episkopat Eleutherius yang terberkati, sampai catatan tentang mereka yang aneh, yang dengannya mereka menginfeksi saudara-saudara, mereka lebih dari sekali dikeluarkan” (Demurrer Against the Heretics 30 [A.D. 200]).
Empat Tanda Gereja Sejati
Jika kita ingin menemukan Gereja yang didirikan Yesus, kita perlu menemukan bahwa Gereja yang memiliki empat tanda atau kualitas utama Gereja-Nya. Gereja yang kita cari haruslah satu, kudus, katolik dan apostolik.
Gereja itu Satu (Rom 12: 5, 1 Kor 10: 17, 12: 13, KGK 813-822)
Yesus hanya mendirikan satu Gereja, bukan sekumpulan gereja-gereja yang berbeda (Lutheran, Baptist, Anglican, dst). Kitab Suci berkata Gereja adalah mempelai Kristus (Ef 5: 23-32). Yesus hanya bisa memiliki satu mempelai, dan mempelainya adalah Gereja Katolik.
Gereja-Nya juga mengajarkan sekumpulan ajaran, yang pasti sama seperti yang diajarkan para rasul (Yudas 3). Inilah kesatuan kepercayaan yang kepadanya kitab suci memanggil kita (Phil 1: 27, 2:2)
Meskipun beberapa katolik tidak taat terhadap ajaran yang diajarkan secara resmi, guru-guru Gereja yang resmi – paus dan para uskup yang bersatu dengannya – tidak pernah mengubah ajaran apapun. Selama berabad-abad, ajaran-ajaran diperiksa sepenuhnya, Gereja memahaminya dengan lebih mendalam (Yoh 16 : 12-13), tapi tidak pernah dipahami untuk melawan apa yang sekali mereka pahami.
Gereja itu Kudus (Ef 2: 25-27, Wahyu 19 :7-8, KGK 823-829)
Melalui rahmat-Nya Yesus membuat Gereja kudus, karena Ia adalah kudus. Ini tidak berarti bahwa tiap anggotanya selalu kudus. Yesus berkata bahwa aka nada anggota yang baik dan buruk dalam Gereja (Yoh 6:70), dan tidak semuanya akan masuk surga (Mat 7: 21-23)
Tapi Gereja sendiri kudus karena Gereja adalah sumber kekudusan dan penjaga sarana rahmat special yang Yesus dirikan, yaitu sakramen-sakramen (bdk Ef 5 :26)
Gereja itu Katolik (Mat 28: 19-20, Wahyu 5:9-10, KGK 830-856)
Gereja Yesus disebut katolik (“universal dalam bahasa Yunani”) karena Gereja adalah hadiah bagi semua orang. Ia memberitahi para rasul untuk pergi ke seluruh duni dan menjadikan semua bangsa muridnya (Mat 28: 19-20)
Selama 2000 tahun Gereja Katolik telah membawa keluar misi ini, mengkhotbahkan kabar baik bahwa Kristis wafat demi semua manusia dan Ia ingin semuanya menjadi anggota keluarga universalnya (Gal 3: 28)
Sekarang Gereja Katolik ditemukan di setiap negara di dunia dan masih mengirim misionaris untuk “menjadikan semua bangsa muridnya” (Matt. 28:19).
Gereja yang Yesus dirikan dikenal melalui gelar yang paling umum,”Gereja Katolik”, paling tidak seawal tahun 107, ketika Ignatius dari Antiokita menggunakan gelar itu untuk menggambarkan Gereja yang Yesus dirikan. Gelar ini dengan jelas berusia tua dalam masa Ignatius, yang artinya mungkin sekali kembali kepada masa para rasul.
Gereja itu Apostolik (Ef 2:19-20, KGK 857-865)
Gereja yang didirikan Yesus itu apostolik karena Ia menunjuk para rasul menjadi pemimpin pertama Gereja, dan penerus mereka menjadi pemimpin masa depannya. Para rasul adalah uskup pertama, dan sejak abad pertama, sudah ada garis yang tak terputuskan dari para uskup katolik yang dengan setia meneruskan apa yang para rasul ajarkan kepada umat Kristen pertama dalam Kitab Suci dan Tradisi Lisan (2 Tim 2:2).
Kepercayaan-kepercayaan ini termasuk Kebangkitan Tubuh Yesus, Kehadiran Nyata Yesus dalam Ekaristi, hakekat kurban Misa, pengampunan dosa melalui imam, regenerasi baptisan, keberadaan purgatory, peran khusus Maria, dan banyak lagi – dan bahkan ajaran suksesi apostolik.
Tulisan umat Kristen perdana membuktikan bahwa umat Kristen seluruhnya adalah katolik baik dalam kepercayaan dan praktek dan melihat penerus para rasul sebagai pemimpin mereka. Apa yang umat Kristen perdana percaya masih dipercaya oleh Gereja Katolik. Tidak ada Gereja lain yang bisa membuat klaim itu.
Jadi, alasan kita memilih Gereja Katolik adalah bahwa karena Yesus sendiri, yang adalah Allah, mendirikan Gereja Katolik – Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik – dan berjanji bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja-Nya. Dan Ia juga berjanji menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman.
Sumber: https://luxveritatis7.wordpress.com/2011/08/11/pd-mengapa-kita-memilih-gereja-katolik/
Correctio Fraternal bukan bergossip
Renungan Minggu Biasa ke XXIII Tahun A
Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Bacaan :
Yeh 33:7-9
Roma 13:8-10
Matius 18:15-20
Renungan:
Dalam bacaan pertama tadi, kita mendengar Allah bersabda kepada nabi Yehezkiel: “Hai anak manusia, Aku mengangkat engkau menjadi penjaga kaum Israel” sedangkan dalam bacaan Injil tadi Yesus berbicara tentang apa yang harus kita buat jika melihat sesama kita melakukan kesalahan atau dosa.
Peranan sebagai ‘penjaga’ dan tugas untuk ‘correctio fraternal’ adalah hal yang tidak mudah. Tetapi ini adalah suatu tugas yang harus kita jalankan.
Ada seorang wanita – irma meninggalkan gereja ketika masih remaja. Selama 9 tahun dia tidak pernah ke gereja. Tapi syukur bahwa kasih Tuhan akhirnya mengantar dia kembali ke gereja. Suatu ketika Irma ini berceritra seperti ini: hal yang paling menyakitkan selama 9 tahun pengembaraannya adalah bahwa ketika ia tidak muncul lagi di gereja, atau jarang aktif lagi dalam lingkungan, tidak ada orang yang pernah berkontak dengan dia, bertanya “gimana kabarmu? Kok nda muncul-muncul lagi?”. Tidak ada orang yang bertelepon atau mengunjungi saya untuk menanyakan apakah saya ada masalah atau tidak? Seakan-akan semua orang tidak pernah merindukan kehadirannya. Saya mendapat kesan bahwa orang-orang gereja tidak membutuhkan saya.”
Saudara dan saudariku….. banyak umat paroki kita yang tidak aktif di lingkungan atau di paroki. Ada banyak alasan tentunya. Pertama, bisa jadi karena gereja terlalu jauh…ongkos ke gereja lebih mahal dari biaya hidup sehari. Kedua, bisa juga mereka pernah merasa sakit hati dengan orang-orang tertentu di di dalam suatu kelompok, sehingga mereka tidak mau muncul lagi. Terhadap situasi ini, apa yang harus kita buat? Apakah kita membela diri dengan mengatakan “Itukan bukan urusan saya?”
Mungkin ada yang bertanya, mengapa menjadi urusan saya? Kan itu urusan dia sendiri apakah dia mau aktif atau tidak. Ingat dalam bacaan pertama tadi, Allah berfirman: “Jika engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya....maka Aku akan menuntut pertanggung-jawaban dari padamu.”
Salah satu panggilan kita sebagai umat Kristen adalah sebagai nabi. Sebagai nabi kita dipanggil untuk menjadi “corong” Allah mengingatkan orang yang bersalah atau orang yang jarang aktif supaya mereka kembali.
Untuk merasakan daya atau kekuatan firman Allah dalam bacaan pertama tadi, saya mau membaca sekali lagi teks tadi tapi mau mengantikan dengan nama seseorang.
Tuhan bersabda demikian, “Hai Tony, Aku telah mengangkat engkau menjadi penjaga umat paroki St. Odilia – Citra Raya. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku …..dst
Kita bisa terapkan firman untuk diri kita masing-masing sesuai tugas dan fungsi kita di dalam gereja. Misalnya sebagai ketua lingkungan, Hai ibu Davi, Aku telah mengangkat engkau menjadi penjaga umat lingkungan St. Antonius – Paroki St Odilia …..
Jadi, saudara dan saudariku… kita tidak bisa mengatakan “itu bukan urusan saya, kalau dia mau aktif atau nggak!”
Pesan ini menjadi jelas dan sangat praktis dalam bacaan Injil hari ini: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawa empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali”
Kita harus agak hati-hati jika menegur sesama kita. Motivasi kita dalam ‘menegur atau memperingati’ mereka bukan untuk mempersalahkan dia tetapi untuk mendapat kembali mereka.
Bacaan Injil hari ini juga memberikan 3 tahap bagaimana menegur sesama: (1) Tegurlah dia secara pribadi. (2). Cobalah sekali lagi dengan mengajak orang-orang yang bisa dipercayai. (3). Bawalah masalah ini kepada jemaat.
Beberapa catatan untuk diperhatikan dalam ‘menegur”: Jika anda tidak mencintai orang itu, janganlah menegur dia, biarlah orang lain yang melakukannya. Sebab jangan sampai anda terbawa emosi.
Jangan suka membicarakan kesalahan atau dosa orang lain tanpa kehadiran orang itu. Itu namanya gossip. Gossip itu sesuatu yang sangat menyakitkan. Bukan baru zaman ini tetapi bahkan sejak abad ke 6 Bc, pemazmur telah memohon kepada Allah untuk melindungi dia dari orang-orang yang suka gossip:
Mzm 57 “Kiranya Ia mengirim utusan dari surga dan menyelamatkan aku dari orang yang suka menerkam anak-anak manusia yang giginya laksana tombak dan panah dan lidahnya laksana pedang tajam”
Mzm 64: “sembunyikanlah aku terhadap persepakatan orang jahat. Yang menajamkan lidahnya seperti pedang, yang membidikan kata yang pahit seperti panah”
Mzm 140: Luputkanlah aku, ya Tuhan dari manusia jahat, mereka yang menajamkan lidahnya seperti ular, bisa ular sendok ada di bawah bibirnya”
Tetapi zaman ini lebih parah lagi. Gossip malah masuk dalam tabloid atau acara-acara TV. Zaman ini orang merasa tidak salah kalau membicarakan kesalahan atau masalah orang lain. Bahkan di dalam gereja sendiri. Ada yang merasa bahwa mereka ‘telah diurapi’ untuk meng-ekspose kesalahan-kesalahan orang lain. Mereka merasa seakan memainkan peranan sebagai ‘nabi’
Saudara dan saudariku
Ketika Allah memilih Yehezkiel sebagai ‘penjaga’ atas umat Israel, Allah tidak memberikan dia ijin untuk menyebarkan gossip.
Kenyataannya..... gosip telah menghancurkan hidup banyak orang, menghancurkan perkawinan, membuat anggota-anggota tubuh Kristus saling memusuhi dan menimbulkan perselisihan dan perpecahan di dalam gereja.
Rasul Yakobus membandingkan lidah manusia dengan api yang bila dibiarkan tidak terkontrol akan dinyalakan dan dikobarkan oleh iblis. Rasul Yakobus berkata, "Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar" (Yak 3:5-6). Lidah yang diserahkan kepada gosip adalah seperti api liar yang menjalar ke dalam hutan membawa pengrusakan. Gosip adalah akar dari perselisihan. Ketika kita menghentikan gosip, kekacauan dan perselisihan akan berhenti juga. Sebagai pendengar firman Allah, langkah berikut yang mesti kita ambil adalah melaksanakannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Amen.
Pastor Tonny Blikon, SS.CC
Bacaan :
Yeh 33:7-9
Roma 13:8-10
Matius 18:15-20
Renungan:
Dalam bacaan pertama tadi, kita mendengar Allah bersabda kepada nabi Yehezkiel: “Hai anak manusia, Aku mengangkat engkau menjadi penjaga kaum Israel” sedangkan dalam bacaan Injil tadi Yesus berbicara tentang apa yang harus kita buat jika melihat sesama kita melakukan kesalahan atau dosa.
Peranan sebagai ‘penjaga’ dan tugas untuk ‘correctio fraternal’ adalah hal yang tidak mudah. Tetapi ini adalah suatu tugas yang harus kita jalankan.
Ada seorang wanita – irma meninggalkan gereja ketika masih remaja. Selama 9 tahun dia tidak pernah ke gereja. Tapi syukur bahwa kasih Tuhan akhirnya mengantar dia kembali ke gereja. Suatu ketika Irma ini berceritra seperti ini: hal yang paling menyakitkan selama 9 tahun pengembaraannya adalah bahwa ketika ia tidak muncul lagi di gereja, atau jarang aktif lagi dalam lingkungan, tidak ada orang yang pernah berkontak dengan dia, bertanya “gimana kabarmu? Kok nda muncul-muncul lagi?”. Tidak ada orang yang bertelepon atau mengunjungi saya untuk menanyakan apakah saya ada masalah atau tidak? Seakan-akan semua orang tidak pernah merindukan kehadirannya. Saya mendapat kesan bahwa orang-orang gereja tidak membutuhkan saya.”
Saudara dan saudariku….. banyak umat paroki kita yang tidak aktif di lingkungan atau di paroki. Ada banyak alasan tentunya. Pertama, bisa jadi karena gereja terlalu jauh…ongkos ke gereja lebih mahal dari biaya hidup sehari. Kedua, bisa juga mereka pernah merasa sakit hati dengan orang-orang tertentu di di dalam suatu kelompok, sehingga mereka tidak mau muncul lagi. Terhadap situasi ini, apa yang harus kita buat? Apakah kita membela diri dengan mengatakan “Itukan bukan urusan saya?”
Mungkin ada yang bertanya, mengapa menjadi urusan saya? Kan itu urusan dia sendiri apakah dia mau aktif atau tidak. Ingat dalam bacaan pertama tadi, Allah berfirman: “Jika engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya....maka Aku akan menuntut pertanggung-jawaban dari padamu.”
Salah satu panggilan kita sebagai umat Kristen adalah sebagai nabi. Sebagai nabi kita dipanggil untuk menjadi “corong” Allah mengingatkan orang yang bersalah atau orang yang jarang aktif supaya mereka kembali.
Untuk merasakan daya atau kekuatan firman Allah dalam bacaan pertama tadi, saya mau membaca sekali lagi teks tadi tapi mau mengantikan dengan nama seseorang.
Tuhan bersabda demikian, “Hai Tony, Aku telah mengangkat engkau menjadi penjaga umat paroki St. Odilia – Citra Raya. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku …..dst
Kita bisa terapkan firman untuk diri kita masing-masing sesuai tugas dan fungsi kita di dalam gereja. Misalnya sebagai ketua lingkungan, Hai ibu Davi, Aku telah mengangkat engkau menjadi penjaga umat lingkungan St. Antonius – Paroki St Odilia …..
Jadi, saudara dan saudariku… kita tidak bisa mengatakan “itu bukan urusan saya, kalau dia mau aktif atau nggak!”
Pesan ini menjadi jelas dan sangat praktis dalam bacaan Injil hari ini: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawa empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali”
Kita harus agak hati-hati jika menegur sesama kita. Motivasi kita dalam ‘menegur atau memperingati’ mereka bukan untuk mempersalahkan dia tetapi untuk mendapat kembali mereka.
Bacaan Injil hari ini juga memberikan 3 tahap bagaimana menegur sesama: (1) Tegurlah dia secara pribadi. (2). Cobalah sekali lagi dengan mengajak orang-orang yang bisa dipercayai. (3). Bawalah masalah ini kepada jemaat.
Beberapa catatan untuk diperhatikan dalam ‘menegur”: Jika anda tidak mencintai orang itu, janganlah menegur dia, biarlah orang lain yang melakukannya. Sebab jangan sampai anda terbawa emosi.
Jangan suka membicarakan kesalahan atau dosa orang lain tanpa kehadiran orang itu. Itu namanya gossip. Gossip itu sesuatu yang sangat menyakitkan. Bukan baru zaman ini tetapi bahkan sejak abad ke 6 Bc, pemazmur telah memohon kepada Allah untuk melindungi dia dari orang-orang yang suka gossip:
Mzm 57 “Kiranya Ia mengirim utusan dari surga dan menyelamatkan aku dari orang yang suka menerkam anak-anak manusia yang giginya laksana tombak dan panah dan lidahnya laksana pedang tajam”
Mzm 64: “sembunyikanlah aku terhadap persepakatan orang jahat. Yang menajamkan lidahnya seperti pedang, yang membidikan kata yang pahit seperti panah”
Mzm 140: Luputkanlah aku, ya Tuhan dari manusia jahat, mereka yang menajamkan lidahnya seperti ular, bisa ular sendok ada di bawah bibirnya”
Tetapi zaman ini lebih parah lagi. Gossip malah masuk dalam tabloid atau acara-acara TV. Zaman ini orang merasa tidak salah kalau membicarakan kesalahan atau masalah orang lain. Bahkan di dalam gereja sendiri. Ada yang merasa bahwa mereka ‘telah diurapi’ untuk meng-ekspose kesalahan-kesalahan orang lain. Mereka merasa seakan memainkan peranan sebagai ‘nabi’
Saudara dan saudariku
Ketika Allah memilih Yehezkiel sebagai ‘penjaga’ atas umat Israel, Allah tidak memberikan dia ijin untuk menyebarkan gossip.
Kenyataannya..... gosip telah menghancurkan hidup banyak orang, menghancurkan perkawinan, membuat anggota-anggota tubuh Kristus saling memusuhi dan menimbulkan perselisihan dan perpecahan di dalam gereja.
Rasul Yakobus membandingkan lidah manusia dengan api yang bila dibiarkan tidak terkontrol akan dinyalakan dan dikobarkan oleh iblis. Rasul Yakobus berkata, "Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar" (Yak 3:5-6). Lidah yang diserahkan kepada gosip adalah seperti api liar yang menjalar ke dalam hutan membawa pengrusakan. Gosip adalah akar dari perselisihan. Ketika kita menghentikan gosip, kekacauan dan perselisihan akan berhenti juga. Sebagai pendengar firman Allah, langkah berikut yang mesti kita ambil adalah melaksanakannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Amen.
Bangga sebagai Katolik
Homili Minggu Biasa XXI Tahun A - 2011
Tonny Blikon, SS.CC
Saudara dan saudariku
Renungan saya kali ini lebih bersifat apologetik, artinya pembelaan iman. Ada satu hal, yang mendasari permenungan saya ini: beberapa hari yang lalu, saya mendapat berita bahwa ada anak katolik di sekolah negeri tidak bisa mendapatkan pendidikan iman katolik secara benar karena tidak ada yang mau mengajar. Dan lebih parah lagi, salah seorang katekis mengatakan: ’Biar aja mereka ngikuti pelajaran agama Kristen, kan sama saja.’
• Ada yang setuju dengan pendapat ini?
• Apakah antara Katolik dan Protestan itu sama saja? Kalau memang, sama, ngapain kami sibuk cari dana untuk bangun gedung pastoral ini?
• Apa yang membedakan kita orang Katolik dengan teman-teman kita dari Protestan?
Tentu masih banyak lagi perbedaannya, terutama menyangkut sumber kebenaran iman. Kalau kita bahas satu per satu maka akan menjadi bahan kuliah satu semester. Kesempatan ini saya hanya membahas beberapa point.
Saudara dan saudariku
Inti dari ajaran Protenstantisme adalah: Sola Scriptura, Sola Fide dan Sola Gratia. Artinya, hanya Kitab Suci sebagai dasar iman dan hanya imanlah yang menjadi dasar keselamatan.
Nah....hal ini bertentangan sendiri dengan kitab suci sendiri karena Santo Yakobus mengatakan: “Iman tanpa perbuatan adalah mati”. Pandangan ini bertentangan juga apa yang dikatakan oleh Paulus: “sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (1Kor 13:2)
Ajaran selanjutnya adalah "Sola gratia" (hanya rahmat). Menurut mereka, keselamatan bukan tergantung pada usaha manusia melainkan hanya dari rahmat dan belas kasihan Allah. karena itu, percaya saja (memiliki iman) yang berdasarkan Kitab Suci saja sudah menjamin keselamatan.
Hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Katolik. Menurut ajaran Katolik, rahmat tetap penting tapi keselamatan adalah soal perjuangan pribadi setiap orang.
Mungkin kalimat ini bisa menjelaskan maksudku; "Ketika Allah menciptakanmu, Ia tidak pernah bertanya: Kamu nanti mau dikasih nama siapa ya? Kamu mau rupamu seperti apa nanti? Kamu mau lahir di mana? Kamu mau dilahirkan dalam keluarga seperti apa? Tetapi ketika Allah mau menyelamatkanmu (rahmat) maka Ia akan bertanya kepadamu, apakah anda mau diselamatkan?”
Ajaran ini menekankan betapa kebebasan manusia sangat dihargai oleh Allah. Allah tidak perlu memberikan kebebasan kepada manusia, kalau keselamatan otomatis diterima ketika kita percaya kepada-Nya.
Saudara dan saudariku.
Apakah anda bangga sebagai orang Katolik? Apa yang membuat anda bangga sebagai orang Katolik?
Saya memberikan satu alasan mengapa kita harus berbangga sebagai orang Katolik karena hanya gereja Katolik-lah yang didirikan oleh Yesus di atas batu karang, yaitu Petrus dan kuasa itu diteruskan kepada para penggantinya sampai kepada Paus kita sekarang ini.
Kalau kita bertanya: siapakah pendiri gerejamu? Kaum Protestan dengan berbagai macam aliran tidak bisa berkata bahwa Yesus yang mendirikan. Seorang Protestan akan berkata: pendiri gerejaku adalah MARTIN LUHTER; Seorang sekte Marmons akan berkata: Pendiriku, JOSEPH SMITH; seorang Methodis akan berkata: "JOHN WESLEY"; Seorang Anglikan akan berkata: "Raja HENRY VIII"; Gereja Babtis akan berkata: "JOHN SMITH"; Jehova: "CHARLES TAZE RUSELL".
Saudara dan saudariku.
Kita boleh berbangga bahwa gereja Katolik adalah satu-satunya gereja yang mewarisi tahta santu Petrus, namun tahukan anda bahwa betapa banyak orang yang membenci gereja Katolik? Banyak yang mengatakan bahwa gereja Katolik itu sesat. Banyak yang mengatakan bahwa orang katolik itu akan masuk neraka. Banyak yang menghojat Bunda Maria dan juga banyak yang mengatakan dan meyakini bahwa Paus itu adalah pengikut setan.
Point terakhir ini akan mendapat penekanan saya. Pertama, karena hal itu berkaitan dengan bacaan Injil hari ini. Kedua, karena hal inilah yang sekarang ini gencar diajarkan di mana-mana. Para orang tua yang anaknya sekolah di UPH, harap berhati-hati karena anakmu dituntut untuk mengikuti pendidikan agama Kristen Evangelis, salah satu pointnya adalah memperkarakan soal primat atau kuasa Paus ini.
Saudara dan saudariku....
”Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini akan kudirikan gereja-Ku”. Orang-orang yang membenci Katolik akan mengatakan: ”Batu karang itu bukan Petrus melainkan Yesus.”
Saya mengajak kita untuk melihat pendasaran bagi issue ini sehingga bisa dipertanggung jawabkan. Bahwa Yesus memang menghendaki gereja-Nya di didirikan di atas batu karang Petrus.
Dalam Injil tadi (Mat 16:18-19) jelas dikatakan: “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkaulah Petrus (kefas) dan di atas BATU KARANG ini Aku akan mendirikan Jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia akan terlepas di surga.”
Saya mau bertanya: yang dimaksudkan dengan batu karang di situ siapa?
Anti Katolik menafsirkan kata BATU KARANG adalah bukan Petrus melainkan kepada Yesus sendiri (kita bisa lihat ketidak-logisan cara berpikir mereka). Saya kira, anak kecil pun akan mengerti dengan baik perkataan Yesus ini. Yesus tidak berbicara kepada dirinya sendiri melainkan kepada Simon, “engkau adalah Petrus” (batu karang) dan di atasmu Aku akan mendirikan gereja-Ku. Jadi, di sini batu karang adalah Petrus dan bukan Yesus.
Kalimat berikut (ayat 19) semakin memperjelas penjelasan ini bahwa “Aku akan memberikan kepadamu kunci Kerajaan Sorga, . Apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia akan terlepas di surga.”
Untuk membingungkan umat, maka para anti Katolik mengutip semua kutipan yang berbicara tentang baru karang atau dari mana kata itu berasal. Biasanya mereka menggunakan 1 Kor 10:3-5 – ”sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu adalah Kristus.”
Nah...kata-kata dalam teks ini sebetulnya berada di luar konteks, sehingga tidak bisa diterapkan dalam perintah Yesus yang tertulis dalam dalam Mat 16 tadi.
Lebih dari itu, kalau pun kita menerima apa yang tertulis dalam 1 Kor 10: 3-5 maka itu sama sekali tidak berlawanan dengan posisi Petrus. Orang Katolik selalu percaya bahwa Yesus adalah kepala Gereja yang tak kelihatan dan sebenarnya atau batu karang spiritual dari Gereja yang didirikannya. Akan tetapi, Gereja ini tidak dibawa ke Surga. Gereja ini ada, tumbuh dan hidup di dunia di mana setan akan bisa menghancurkannya setiap saat. Oleh karena itu, kuasa Petrus menjadi sangat penting untuk menjaga Gereja Kristus.
Lalu bagaimana dengan Paus sebagai kepala yang kelihatan dari Gereja Kristus? Perlu diingat bahwa ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, Ia menjadikan Abraham sebagai bapa sekalian bangsa, tetapi itu tidak merongrong atau menggantikan peranan Allah sebagai Bapa segala bangsa/segala ciptaan. Allah tetap menjadi Bapa spiritual umat untuk selamanya.
Saudara dan saudariku.
Satu hal yang bisa kita pelajari dari Santo Petrus adalah kesetiannya kepada Yesus. Kalau kita baca ayat-ayat selanjutnya dari kutipan Injil tadi, Petrus justru ditegus dengan sangat keras oleh Yesus. Ketika Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
Setelah mendengar itu, apakah Petrus sakit dan meninggalkan Yesus? Sakit hati pasti iya.... apalagi ditegur di depan umum. Tetapi dia tetap mengikuti Yesus.
Dari pribadi Petrus kita bisa belajar bahwa di dalam hidup bersama sebagai umat, tentu ada saat-saat di mana kita merasa sakit hati karena teguran atau perkataan dari sahabat atau dari kami para imam. Banyak orang ketika mengalami hal itu, mengambil sikap untuk ’mutung’ artinya tidak mau aktif. Tetapi itu sikap yang bukan ditunjukkan oleh rasul Petrus.
Melalui pengajaran hari ini kita juga bisa belajar bahwa setia kepada Yesus berarti setia kepada gereja Roma Katolik. Sekali Katolik tetap Katolik. Jangan hanya karena pernikahan atau apapun alasannya, kita lantas meninggalkan gereja yang benar, yang satu, kudus dan apostolik ini.
Tonny Blikon, SS.CC
Saudara dan saudariku
Renungan saya kali ini lebih bersifat apologetik, artinya pembelaan iman. Ada satu hal, yang mendasari permenungan saya ini: beberapa hari yang lalu, saya mendapat berita bahwa ada anak katolik di sekolah negeri tidak bisa mendapatkan pendidikan iman katolik secara benar karena tidak ada yang mau mengajar. Dan lebih parah lagi, salah seorang katekis mengatakan: ’Biar aja mereka ngikuti pelajaran agama Kristen, kan sama saja.’
• Ada yang setuju dengan pendapat ini?
• Apakah antara Katolik dan Protestan itu sama saja? Kalau memang, sama, ngapain kami sibuk cari dana untuk bangun gedung pastoral ini?
• Apa yang membedakan kita orang Katolik dengan teman-teman kita dari Protestan?
Tentu masih banyak lagi perbedaannya, terutama menyangkut sumber kebenaran iman. Kalau kita bahas satu per satu maka akan menjadi bahan kuliah satu semester. Kesempatan ini saya hanya membahas beberapa point.
Saudara dan saudariku
Inti dari ajaran Protenstantisme adalah: Sola Scriptura, Sola Fide dan Sola Gratia. Artinya, hanya Kitab Suci sebagai dasar iman dan hanya imanlah yang menjadi dasar keselamatan.
Nah....hal ini bertentangan sendiri dengan kitab suci sendiri karena Santo Yakobus mengatakan: “Iman tanpa perbuatan adalah mati”. Pandangan ini bertentangan juga apa yang dikatakan oleh Paulus: “sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (1Kor 13:2)
Ajaran selanjutnya adalah "Sola gratia" (hanya rahmat). Menurut mereka, keselamatan bukan tergantung pada usaha manusia melainkan hanya dari rahmat dan belas kasihan Allah. karena itu, percaya saja (memiliki iman) yang berdasarkan Kitab Suci saja sudah menjamin keselamatan.
Hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Katolik. Menurut ajaran Katolik, rahmat tetap penting tapi keselamatan adalah soal perjuangan pribadi setiap orang.
Mungkin kalimat ini bisa menjelaskan maksudku; "Ketika Allah menciptakanmu, Ia tidak pernah bertanya: Kamu nanti mau dikasih nama siapa ya? Kamu mau rupamu seperti apa nanti? Kamu mau lahir di mana? Kamu mau dilahirkan dalam keluarga seperti apa? Tetapi ketika Allah mau menyelamatkanmu (rahmat) maka Ia akan bertanya kepadamu, apakah anda mau diselamatkan?”
Ajaran ini menekankan betapa kebebasan manusia sangat dihargai oleh Allah. Allah tidak perlu memberikan kebebasan kepada manusia, kalau keselamatan otomatis diterima ketika kita percaya kepada-Nya.
Saudara dan saudariku.
Apakah anda bangga sebagai orang Katolik? Apa yang membuat anda bangga sebagai orang Katolik?
Saya memberikan satu alasan mengapa kita harus berbangga sebagai orang Katolik karena hanya gereja Katolik-lah yang didirikan oleh Yesus di atas batu karang, yaitu Petrus dan kuasa itu diteruskan kepada para penggantinya sampai kepada Paus kita sekarang ini.
Kalau kita bertanya: siapakah pendiri gerejamu? Kaum Protestan dengan berbagai macam aliran tidak bisa berkata bahwa Yesus yang mendirikan. Seorang Protestan akan berkata: pendiri gerejaku adalah MARTIN LUHTER; Seorang sekte Marmons akan berkata: Pendiriku, JOSEPH SMITH; seorang Methodis akan berkata: "JOHN WESLEY"; Seorang Anglikan akan berkata: "Raja HENRY VIII"; Gereja Babtis akan berkata: "JOHN SMITH"; Jehova: "CHARLES TAZE RUSELL".
Saudara dan saudariku.
Kita boleh berbangga bahwa gereja Katolik adalah satu-satunya gereja yang mewarisi tahta santu Petrus, namun tahukan anda bahwa betapa banyak orang yang membenci gereja Katolik? Banyak yang mengatakan bahwa gereja Katolik itu sesat. Banyak yang mengatakan bahwa orang katolik itu akan masuk neraka. Banyak yang menghojat Bunda Maria dan juga banyak yang mengatakan dan meyakini bahwa Paus itu adalah pengikut setan.
Point terakhir ini akan mendapat penekanan saya. Pertama, karena hal itu berkaitan dengan bacaan Injil hari ini. Kedua, karena hal inilah yang sekarang ini gencar diajarkan di mana-mana. Para orang tua yang anaknya sekolah di UPH, harap berhati-hati karena anakmu dituntut untuk mengikuti pendidikan agama Kristen Evangelis, salah satu pointnya adalah memperkarakan soal primat atau kuasa Paus ini.
Saudara dan saudariku....
”Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini akan kudirikan gereja-Ku”. Orang-orang yang membenci Katolik akan mengatakan: ”Batu karang itu bukan Petrus melainkan Yesus.”
Saya mengajak kita untuk melihat pendasaran bagi issue ini sehingga bisa dipertanggung jawabkan. Bahwa Yesus memang menghendaki gereja-Nya di didirikan di atas batu karang Petrus.
Dalam Injil tadi (Mat 16:18-19) jelas dikatakan: “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkaulah Petrus (kefas) dan di atas BATU KARANG ini Aku akan mendirikan Jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia akan terlepas di surga.”
Saya mau bertanya: yang dimaksudkan dengan batu karang di situ siapa?
Anti Katolik menafsirkan kata BATU KARANG adalah bukan Petrus melainkan kepada Yesus sendiri (kita bisa lihat ketidak-logisan cara berpikir mereka). Saya kira, anak kecil pun akan mengerti dengan baik perkataan Yesus ini. Yesus tidak berbicara kepada dirinya sendiri melainkan kepada Simon, “engkau adalah Petrus” (batu karang) dan di atasmu Aku akan mendirikan gereja-Ku. Jadi, di sini batu karang adalah Petrus dan bukan Yesus.
Kalimat berikut (ayat 19) semakin memperjelas penjelasan ini bahwa “Aku akan memberikan kepadamu kunci Kerajaan Sorga, . Apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia akan terlepas di surga.”
Untuk membingungkan umat, maka para anti Katolik mengutip semua kutipan yang berbicara tentang baru karang atau dari mana kata itu berasal. Biasanya mereka menggunakan 1 Kor 10:3-5 – ”sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu adalah Kristus.”
Nah...kata-kata dalam teks ini sebetulnya berada di luar konteks, sehingga tidak bisa diterapkan dalam perintah Yesus yang tertulis dalam dalam Mat 16 tadi.
Lebih dari itu, kalau pun kita menerima apa yang tertulis dalam 1 Kor 10: 3-5 maka itu sama sekali tidak berlawanan dengan posisi Petrus. Orang Katolik selalu percaya bahwa Yesus adalah kepala Gereja yang tak kelihatan dan sebenarnya atau batu karang spiritual dari Gereja yang didirikannya. Akan tetapi, Gereja ini tidak dibawa ke Surga. Gereja ini ada, tumbuh dan hidup di dunia di mana setan akan bisa menghancurkannya setiap saat. Oleh karena itu, kuasa Petrus menjadi sangat penting untuk menjaga Gereja Kristus.
Lalu bagaimana dengan Paus sebagai kepala yang kelihatan dari Gereja Kristus? Perlu diingat bahwa ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, Ia menjadikan Abraham sebagai bapa sekalian bangsa, tetapi itu tidak merongrong atau menggantikan peranan Allah sebagai Bapa segala bangsa/segala ciptaan. Allah tetap menjadi Bapa spiritual umat untuk selamanya.
Saudara dan saudariku.
Satu hal yang bisa kita pelajari dari Santo Petrus adalah kesetiannya kepada Yesus. Kalau kita baca ayat-ayat selanjutnya dari kutipan Injil tadi, Petrus justru ditegus dengan sangat keras oleh Yesus. Ketika Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
Setelah mendengar itu, apakah Petrus sakit dan meninggalkan Yesus? Sakit hati pasti iya.... apalagi ditegur di depan umum. Tetapi dia tetap mengikuti Yesus.
Dari pribadi Petrus kita bisa belajar bahwa di dalam hidup bersama sebagai umat, tentu ada saat-saat di mana kita merasa sakit hati karena teguran atau perkataan dari sahabat atau dari kami para imam. Banyak orang ketika mengalami hal itu, mengambil sikap untuk ’mutung’ artinya tidak mau aktif. Tetapi itu sikap yang bukan ditunjukkan oleh rasul Petrus.
Melalui pengajaran hari ini kita juga bisa belajar bahwa setia kepada Yesus berarti setia kepada gereja Roma Katolik. Sekali Katolik tetap Katolik. Jangan hanya karena pernikahan atau apapun alasannya, kita lantas meninggalkan gereja yang benar, yang satu, kudus dan apostolik ini.
Badai Kehidupan
A_Minggu Biasa XIX_2011_Tonny Blikon
Saudara dan Saudariku
Gelombang adalah suatu kata yang sangat dipahami oleh kita semua yang hadir di sini. Kalau mendengar kata ‘gelombang’ apa yang anda pikirkan? Pada umumnya orang berbicara tentang gelombang laut. Ada juga gelombang pasir- kalau itu terjadi di padang gurun.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kata ‘gelombang’ ternyata mempunyai arti yang simbolik. Dalam arti yang simbolik ini orang berbicara tentang gelombang hidup. Jika seseorang sedang mengalami gelombang cinta berarti ia sedang mengalami jatuh cinta setengah mati. Jika seseorang sedang dilanda gelombang hidup berarti ia sedang mengalami suatu tantangan hidup atau penderitaan.
Kejadian yang dialami oleh murid-murid Yesus dalam Injil tadi merupakan gambaran mengenai badai yang sering kita alami dalam kehidupan kita. Sampai-sampai ada lagu diberi judul: “di tengah ombak”. – di tengah ombak dan arus pencobaan, hampir terhilang, tujuan arah hidupku. Bagaikan kapal yang diombang ambingkan – seolah olah mengatasinya tiada mampu”
Dalam menyeberangi lautan kehidupan tidak selamanya kita menghadapi cuaca yang cerah. Ada kalanya badai datang menerpa hidup kita. Dan sebagaimana yang dialami oleh murid-murid Yesus, badai yang datang merupakan suatu hal yang dapat membuat kita semua gentar dan goyah dalam iman kita.
Contohnya adalah Nabi Elia, yang kita dengar dalam bacaan pertama tadi. Ia sedang mengalami gelombang hidup yang dasyat yang hampir saja membuatnya putus harapan dan iman. Sedikit tentang kehidupan nabi Elia. Ia adalah seorang nabi pejuang, habi politik, yang dengan berani menentang raja Ahab, yang menyebarkan kekafiran di Israel dengam memperbolehkan pemujaan dewa Baal dan Dewi Asyera. Nabi Elia dengan gigih menentang kekairan pada umat Allah yang justru disebabkan oleh raja Ahab. Maka ia mengadakan konfrontasi langsung dengan raja ahab, mengecamnya habis-habisan. Akibatnya bahwa ia dibenci oleh raja Abad dan semua elit politik di Israel, serta para nabi dari dewa Baal dan dewi Asyera. pada waktu itu. Meskipun Elia berhasil melenyapkan seluruh nabi-nabi dewa Bal dan dewi Ayera, namun ia tidak lupun dari ancaman kematina, karena Izebel, Isteri raja Ahab mengancam untuk membunuhnya. Elia merasa tergoncang dan putus asa karena perjuangannya seakan gagal total. Maka ia melarikan diri dari Israel dan dari Tuhan, dan mengarungi gelombang pasir di gurun, lalu bersembunyi di dalam sebauah gua di gunung Horeb.
Untung bahwa Alla tak membiarkan Elia menguburkan dirinya dalam gua gelap karena keputus-asaan. Allah mengulurkna tangan-Nya dengan menyurus Elia keluar, bahkan memberikannya makan dan minum. Allah tidak membiarkan Elia terbenal dalam gelombang keputus-asaan dan seelah memberikan peneguhan, Allah mengutusnya untuk kembali ke tengah Israel untuk mengurapi raja baru yan telah dipilih oleh Tuhan. Pada saat yang tepat, Allah selalu mengurulkan tangan-nya kepada siapa saja yang telah berbut baik, meskpun sempat hampir tewas diremukan oleh gelombang kehidupan yang keras.
Rasul Petrus dalam bacaan Injil tadi mengalami suatu ‘tiupan angin kencang’ yang membuatnya hampir tenggelam di danau Galilea.
Sedikit cacatan tambahan menarik untuk kita perhatikan. Dalam Injil tadi dikatakan: “Kira-kira jam tiga malam, datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.” Pencatatan jam ini penting karena dalam teologi kita, jam 3 pagi adalah jam di mana para setan mulai beraksi. Kebalikan dari jam 3 sore di mana saat Yesus wafat. Dengan berjalan di atas air, penginjil Matius ingin menonjolkan superioritas Yesus atas kuasa lain yang sering membuat manusia hampir tenggelam. Semangat Petrus untuk meniru sang Guru menaklukkan kejahatan, tak mencukupi, bahka ia sendiri hampir digulung oleh gelombang kekuatan jatah. Untunglah di saat yang kristis ia masih sempat berteriak, ”Tuhan, tolonglah aku” – dan Yesus pun segera mengulurkan tangan-Nya.
Ada beberapa Legioner yang selalu berdoa Kerahiman Ilahi atau doa lainnya pada jam 3 pagi. Itu tentu dengan maksud supaya pada saat itu, ketika setan mulai beraksi, kita mohon kekuatan dari Yesus karena kita percaya bahwa hanya Yesuslah yang sanggup mengalahkan kekuatan si jahat.
Saudara dan saudariku.
Kita kembali pada tema kita ’gelombang kehidupan.” Sesungguhnya gelombang hidup ini, penderitaan dan kesulitan yang kita alami hanyalah sebuah godaan yang memang bisa menghancurkan kita bila kita terlalu terfokus padanya. Semua kesulitan, bahkan penderitan hidup, hanyalah pernak pernik kehidupan yang harus ada namun sebenarnya hanyalah sebuah pelengkap. Tak seharusnya mata dan hati kita tertancap tajam pada relalitas negatif hidup kita tetapi sebaliknya hendaknya mata dan hati kita tetap terpaut pada Yesus yang adalah sumber kebahagiaan kita. Yang sering kita alami dalam hidup adlah bahwa kesadaran akan penderitaaan begitubsar, sementara ksadaran akan rahmat, keterikatan kepada Kristus begitu tipis dan lemah. Padhal, andaikata kita lebih terfokus pada Kristus, maka kita akan makin peka bahwa Kristus senantiasa mengulurkan tangan-Nya untuk menolong kita sehingga kita aman dari gelombang hidup yang dapat menghanyutkan kita.
Kisah berikut ini kiranya memberikan kita inspirasi: pada suatu pagi yang cerah dan tenang, seorang anak remaja ikut naik ke sebuah perahu layar untuk mulai belajar menjadi seorang pelaut. Setelah berlayar beberapa hari, terlihat tanda-tanda bahwa badai akan dantang. Anak remaja itu disuruh memanjat tinag layar sampai ke atas untuk memperhatikan datangnya arus badai. Ia lalu memanjat dengan mudah sampai ke bagian tengah dan ketika itu matanya terakra ke atas, melihat ke langit. Namun setiapnya di bagian tengah tiang itu, ia melakukan kesalahan. Ia memandang ke bawah, ke atau laut yang sedang bergemuruh. Ia lalu ketakutan dan hampir saja terjatuh karena perasaan ngeri. Seorang pelaut lain yang sudah berpengalaman berteriak kepadanya: ”Lihat ke ats.... lihat ke atas..... anak itu mengalikan pandannya kembali ke langit, dan ia selamat sampai di punyak tiang layar.
Jadi saat badai menerpa, arahkan hati agar takut pada Allah. Tunduklah oleh tuntunanNya. Maka kita berjalan dan melayang-layang diatas badai.
1 Sam 12:24
“Hanya takutlah akan Tuhan dan setialah beribadah kepadaNya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah, betapa besarnya hal-hal yang dilakukanNya di antara kamu.”
Ibrani 13:6
Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"
I Petrus 5:7
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Roma 8:28
Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,
Saudara dan Saudariku
Gelombang adalah suatu kata yang sangat dipahami oleh kita semua yang hadir di sini. Kalau mendengar kata ‘gelombang’ apa yang anda pikirkan? Pada umumnya orang berbicara tentang gelombang laut. Ada juga gelombang pasir- kalau itu terjadi di padang gurun.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kata ‘gelombang’ ternyata mempunyai arti yang simbolik. Dalam arti yang simbolik ini orang berbicara tentang gelombang hidup. Jika seseorang sedang mengalami gelombang cinta berarti ia sedang mengalami jatuh cinta setengah mati. Jika seseorang sedang dilanda gelombang hidup berarti ia sedang mengalami suatu tantangan hidup atau penderitaan.
Kejadian yang dialami oleh murid-murid Yesus dalam Injil tadi merupakan gambaran mengenai badai yang sering kita alami dalam kehidupan kita. Sampai-sampai ada lagu diberi judul: “di tengah ombak”. – di tengah ombak dan arus pencobaan, hampir terhilang, tujuan arah hidupku. Bagaikan kapal yang diombang ambingkan – seolah olah mengatasinya tiada mampu”
Dalam menyeberangi lautan kehidupan tidak selamanya kita menghadapi cuaca yang cerah. Ada kalanya badai datang menerpa hidup kita. Dan sebagaimana yang dialami oleh murid-murid Yesus, badai yang datang merupakan suatu hal yang dapat membuat kita semua gentar dan goyah dalam iman kita.
Contohnya adalah Nabi Elia, yang kita dengar dalam bacaan pertama tadi. Ia sedang mengalami gelombang hidup yang dasyat yang hampir saja membuatnya putus harapan dan iman. Sedikit tentang kehidupan nabi Elia. Ia adalah seorang nabi pejuang, habi politik, yang dengan berani menentang raja Ahab, yang menyebarkan kekafiran di Israel dengam memperbolehkan pemujaan dewa Baal dan Dewi Asyera. Nabi Elia dengan gigih menentang kekairan pada umat Allah yang justru disebabkan oleh raja Ahab. Maka ia mengadakan konfrontasi langsung dengan raja ahab, mengecamnya habis-habisan. Akibatnya bahwa ia dibenci oleh raja Abad dan semua elit politik di Israel, serta para nabi dari dewa Baal dan dewi Asyera. pada waktu itu. Meskipun Elia berhasil melenyapkan seluruh nabi-nabi dewa Bal dan dewi Ayera, namun ia tidak lupun dari ancaman kematina, karena Izebel, Isteri raja Ahab mengancam untuk membunuhnya. Elia merasa tergoncang dan putus asa karena perjuangannya seakan gagal total. Maka ia melarikan diri dari Israel dan dari Tuhan, dan mengarungi gelombang pasir di gurun, lalu bersembunyi di dalam sebauah gua di gunung Horeb.
Untung bahwa Alla tak membiarkan Elia menguburkan dirinya dalam gua gelap karena keputus-asaan. Allah mengulurkna tangan-Nya dengan menyurus Elia keluar, bahkan memberikannya makan dan minum. Allah tidak membiarkan Elia terbenal dalam gelombang keputus-asaan dan seelah memberikan peneguhan, Allah mengutusnya untuk kembali ke tengah Israel untuk mengurapi raja baru yan telah dipilih oleh Tuhan. Pada saat yang tepat, Allah selalu mengurulkan tangan-nya kepada siapa saja yang telah berbut baik, meskpun sempat hampir tewas diremukan oleh gelombang kehidupan yang keras.
Rasul Petrus dalam bacaan Injil tadi mengalami suatu ‘tiupan angin kencang’ yang membuatnya hampir tenggelam di danau Galilea.
Sedikit cacatan tambahan menarik untuk kita perhatikan. Dalam Injil tadi dikatakan: “Kira-kira jam tiga malam, datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.” Pencatatan jam ini penting karena dalam teologi kita, jam 3 pagi adalah jam di mana para setan mulai beraksi. Kebalikan dari jam 3 sore di mana saat Yesus wafat. Dengan berjalan di atas air, penginjil Matius ingin menonjolkan superioritas Yesus atas kuasa lain yang sering membuat manusia hampir tenggelam. Semangat Petrus untuk meniru sang Guru menaklukkan kejahatan, tak mencukupi, bahka ia sendiri hampir digulung oleh gelombang kekuatan jatah. Untunglah di saat yang kristis ia masih sempat berteriak, ”Tuhan, tolonglah aku” – dan Yesus pun segera mengulurkan tangan-Nya.
Ada beberapa Legioner yang selalu berdoa Kerahiman Ilahi atau doa lainnya pada jam 3 pagi. Itu tentu dengan maksud supaya pada saat itu, ketika setan mulai beraksi, kita mohon kekuatan dari Yesus karena kita percaya bahwa hanya Yesuslah yang sanggup mengalahkan kekuatan si jahat.
Saudara dan saudariku.
Kita kembali pada tema kita ’gelombang kehidupan.” Sesungguhnya gelombang hidup ini, penderitaan dan kesulitan yang kita alami hanyalah sebuah godaan yang memang bisa menghancurkan kita bila kita terlalu terfokus padanya. Semua kesulitan, bahkan penderitan hidup, hanyalah pernak pernik kehidupan yang harus ada namun sebenarnya hanyalah sebuah pelengkap. Tak seharusnya mata dan hati kita tertancap tajam pada relalitas negatif hidup kita tetapi sebaliknya hendaknya mata dan hati kita tetap terpaut pada Yesus yang adalah sumber kebahagiaan kita. Yang sering kita alami dalam hidup adlah bahwa kesadaran akan penderitaaan begitubsar, sementara ksadaran akan rahmat, keterikatan kepada Kristus begitu tipis dan lemah. Padhal, andaikata kita lebih terfokus pada Kristus, maka kita akan makin peka bahwa Kristus senantiasa mengulurkan tangan-Nya untuk menolong kita sehingga kita aman dari gelombang hidup yang dapat menghanyutkan kita.
Kisah berikut ini kiranya memberikan kita inspirasi: pada suatu pagi yang cerah dan tenang, seorang anak remaja ikut naik ke sebuah perahu layar untuk mulai belajar menjadi seorang pelaut. Setelah berlayar beberapa hari, terlihat tanda-tanda bahwa badai akan dantang. Anak remaja itu disuruh memanjat tinag layar sampai ke atas untuk memperhatikan datangnya arus badai. Ia lalu memanjat dengan mudah sampai ke bagian tengah dan ketika itu matanya terakra ke atas, melihat ke langit. Namun setiapnya di bagian tengah tiang itu, ia melakukan kesalahan. Ia memandang ke bawah, ke atau laut yang sedang bergemuruh. Ia lalu ketakutan dan hampir saja terjatuh karena perasaan ngeri. Seorang pelaut lain yang sudah berpengalaman berteriak kepadanya: ”Lihat ke ats.... lihat ke atas..... anak itu mengalikan pandannya kembali ke langit, dan ia selamat sampai di punyak tiang layar.
Jadi saat badai menerpa, arahkan hati agar takut pada Allah. Tunduklah oleh tuntunanNya. Maka kita berjalan dan melayang-layang diatas badai.
1 Sam 12:24
“Hanya takutlah akan Tuhan dan setialah beribadah kepadaNya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah, betapa besarnya hal-hal yang dilakukanNya di antara kamu.”
Ibrani 13:6
Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"
I Petrus 5:7
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Roma 8:28
Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,
Langganan:
Postingan (Atom)