Kita tidak boleh diam saja terhadap kejahatan

PESAN PRAPASKAH KEPAUSAN 2012

"Marilah kita saling memperhatikan
supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik"
(Ibr. 10:24)

Saudara-saudari terkasih,
Masa Prapaska ini sekali lagi memberi kita suatu kesempatan untuk merefleksikan jantung kehidupan kristiani: amal kasih. Masa ini merupakan saat yang tepat untuk memperbarui perjalanan iman kita, baik secara perseorangan maupun sebagai suatu komunitas, dengan bantuan sabda Allah dan sakramen-sakramen. Perjalanan ini adalah perjalanan yang ditandai dengan doa dan saling berbagi, dengan keheningan dan puasa, sebagai antisipasi dari kegembiraan Paska.

Pada tahun ini saya ingin mengedepankan beberapa gagasan dalam terang sebuah kutipan singkat dari Alkitab yang diambil dari Surat kepada Orang Ibrani: "Marilah kita saling memperhatikan, supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik". Kata-kata ini adalah bagian dari sebuah perikop di mana Penulis Kudus menasehati kita untuk menaruh kepercayaan kepada Yesus Kristus, sebagai Sang Imam Agung, yang telah memperolehkan bagi kita pengampunan dan membuka jalan menuju Allah. Memeluk Kristus menghasilkan buah dalam suatu kehidupan yang didasarkan atas tiga keutamaan ilahi: hal itu berarti mendekat kepada Tuhan "dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh" (ay. 22), sambil tetap "teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan" (ay. 23), sambil tetap memperhatikan untuk menghayati suatu kehidupan "dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (ay. 24), bersama-sama dengan saudara dan saudari kita. Penulis surat itu menegaskan, bahwa untuk mempertahankan hidup ini tetap terbentuk oleh Injil, pentinglah mengambil bagian dalam liturgi dan doa bersama, sambil tetap mengingat tujuan eskatalogis yakni persekutuan penuh dengan Allah (ay. 25). Di sini saya ingin merenungkan ay. 24 yang memberikan kepada kita sebuah ajaran singkat, berharga dan tepat waktu tentang tiga aspek dalam kehidupan kristiani: perhatian kepada orang lain, saling membantu dan kekudusan pribadi.

1. "Marilah kita saling memperhatikan": tanggungjawab terhadap saudara dan saudari kita.
Aspek yang pertama ini adalah sebuah ajakan untuk "memperhatikan": kata Yunani yang dipergunakan di sini adalah katanoein, yang berarti ‘menyelidiki', ‘menaruh perhatian', ‘memperhatikan dengan cermat' dan ‘memperhitungkan sesuatu'. Kita menjumpai kata ini di alam Injil ketika Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk "memperhatikan" burung-burung gagak yang, meskipun tidak berusaha, tetap berada di pusat perhatian dan pemeliharaan Penyelenggaraan Ilahi (bdk. Luk. 12:24), dan untuk "memperhatikan" balok di mata kita sendiri sebelum kita melihat selumbar yang ada di mata saudara kita (bdk. Luk. 6:41). Dalam sebuah ayat lain dari Surat kepada orang Ibrani ini kita mendapatkan anjuran untuk "memandang Yesus, Rasul dan Imam Besar yang kita akui" (3:1). Demikianlah kata-kerja yang mengantar ajakan kita ini mengatakan kepada kita untuk melihat orang lain, pertama-tama kepada Yesus, untuk memperhatikan satu sama lain, dan untuk tidak tinggal terasing dan acuh-tak-acuh terhadap nasib saudara-saudari kita. Namun demikian, sangat sering sikap kita justru yang sebaliknya: suatu sikap auch-tak-acuh dan tidak ada perhatian karena perasaan egoisme dan diberi topeng sebagai penghormatan terhadap privasi. Dewasa ini pun suara Tuhan meminta kita untuk menjadi "penjaga" bagi saudara dan saudari kita (Kej, 4:9), untuk membangun relasi yang didasarkan atas saling mengingat dan saling menaruh perhatian kepada kesejahteraan, kesejahteraan yang integral dari orang lain. Perintah agung untuk saling mengasihi satu sama lain menuntut bahwa kita mengakui tanggungjawab kita terhadap mereka yang, seperti diri kita sendiri, adalah ciptaan dan anak-anak Allah. Menjadi saudara dan saudari dalam kemanusiaan, dan sering juga malah sebagai saudara-saudari dalam iman, seharusnya membantu kita untuk mengenal di dalam diri sesama kita suatu "saya yang lain" (alter ego), yang juga dikasihi Tuhan secara tidak terhingga. Apabila kita memupuk cara pandang seperti ini terhadap saudara dan saudari kita itu, maka solidaritas, keadilan, belas-kasihan dan bela-rasa akan dengan sendirinya memancar dari dalam hati kita. Hamba Allah Paus Paulus VI menegaskan, bahwa dunia kita dewasa ini sedang menderita terutama kekurangan rasa persaudaraan: "Masyarakat manusia sedang menderita sakit keras. Penyebabnya bukan pertama-tama karena menipisnya sumber-sumber daya alam, bukan pula karena pengaturannya yang dilaksanakan secara monopoli oleh segelntir orang-orang yang diistimewakan saja, tetapi terutama karena semakin melemahnya ikatan persaudaraan manusiawi di antara pribadi-pribadi dan bangsa-bangsa" (Populorum Progressio, 66).

Memperhatikan sesama berarti juga menghendaki yang baik bagi mereka itu dalam segala bidang: bidang jasmani, bidang moril dan bidang rohani. Budaya kontemporer kita ini sepertinya sudah kehilangan rasa terhadap yang baik dan yang jahat, kendatipun ada suatu kebutuhan yang nyata untuk menegaskan kembali, bahwa kebaikan sungguh ada dan akan menang, karena Allah "murah hati dan bertindak dengan murah hati juga" (Mzm. 119:68). Kebaikan adalah apa saja yang memberi, melindungi dan mengembangkan kehidupan, persaudaraan dan persekutuan. Maka tanggungjawab terhadap sesama berarti menghendaki dan bekerja bagi kebaikan orang lain, dengan harapan, bahwa merekapun akan suka menerima kebaikan itu bersama dengan tuntutan-tuntutannya. Memperhatikan orang lain berarti menyadari kebutuhan-kebutuhannya. Kitab Suci mengingatkan kita akan bahaya, bahwa hati kita akan dikeraskan oleh semacam "anestesi rohani", yang membuat kita mati-rasa terhadap penderitaan orang lain. Penginjil Lukas mengisahkan dua dari perumpamana-perumpamaan Yesus sebagai contohnya.

Dalam perumpaan tentang seorang Samaria yang baik, imam dan orang Lewi itu "melewati dari seberang jalan" dengan sikap acuh-tak-acuh terhadap kehadiran orang yang dirampok habis-habisan dan dipukuli oleh penyamun (lih. Luk. 10:30-32). Dan dalam perumpamaan tentang Orang Kaya dan Lazarus, si kaya itu tidak mengindahkan kemiskinan Lazarus yang hampir mati kelaparan tepat di depan pintu rumahnya (lih.Luk. 16:19). Kedua perumpamaan itu menunjukkan contoh yang sebaliknya dari "menaruh perhatian", sambil melihat orang lain dengan kasih dan bela-rasa. Lalu apa yang menghalangi kita memandang saudara-saudari kita dengan pandangan kemanusiaan dan penuh kasih itu? Sering penyebabnya adalah memiliki banyak kekayaan material dan rasa ketercukupan, akan tetapi bisa juga kecenderungan untuk menempatkan kepentingan dan masalah kita sendiri di atas semua yang lain. Kita tidak pernah boleh merasa tidak mampu "menunjukkan belas-kasih" kepada mereka yang menderita. Hati kita tidak pernah boleh tertutup oleh urusan dan masalah-masalah kita sendiri sedemikian, sehingga tidak mampu mendengarkan jeritan kaum papa. Kerendahan hati serta pengalaman pribadi sendiri atas penderitaan dapat membangkitkan di dalam diri kita perasaan bela-rasa dan simpati, "Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya" (Ams. 29:7). Maka kita bisa memahami sabda bahagia bagi mereka "yang berduka-cita" (Mat 5:4), mereka yang pada akhirnya mampu melihat lebih jauh dari pada dirinya sendiri serta memiliki bela-rasa terhadap penderitaan sesamanya. Mengulurkan tangan kepada orang lain dan membuka hati kita terhadap kebutuhan mereka dapat menjadi kesempatan untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan.

"Memperhatikan satu sama lain" juga berarti menaruh perhatian kepada kesejahteraan rohani mereka. Di sini saya ingin menyebut salah satu aspek dari hidup kristiani, yang saya yakin telah cukup dilupakan: menegur secara persaudaraan dalam kaitan dengan keselamatan kekal. Dewasa ini, pada umumnya, kita merasa sangat peka terhadap gagasan tentang kasih dan pelayanan terhadap kesejahteraan jasmani dan material orang lain, tetapi kita hampir terdiam seribu bahasa mengenai tanggungjawab rohani kita terhadap saudara dan saudari kita. Padahal tidak demikian dengan Gereja Perdana atau dengan komunitas-komunitas yang sungguh-sungguh matang di dalam iman, mereka yang prihatin bukan saja terhadap kesehatan jasmani dari saudara dan saudari mereka, tetapi juga terhadap kesehatan rohani mereka serta terhadap tujuan akhir hidup mereka. Kitab Suci mengatakan kepada kita: "Kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya; berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak; ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah (Ams. 9:8ss). Kristus sendiri memerintahkan kita untuk menegur saudara kita yang berdosa (lih. Mat. 18:15). Kata-kerja yang dipergunakan untuk melukiskan teguran persaudaraan itu „Ÿelenchein„Ÿ adalah kata yang sama yang dipergunakan untuk menyatakan tugas perutusan kenabian seorang kristiani untuk berbicara melawan suatu angkatan yang melakukan kejahatan (lih, Ef. 5:11). Tradisi Gereja telah memasukkan juga "hal menegur para pendosa" ini di antara perbuatan-perbuatan kasih yang bersifat spiritual. Pentinglah memulihkan kembali dimensi kasih kristiani ini. Kita tidak boleh diam saja terhadap kejahatan. Saya ingat akan semua orang kristiani yang, hanya karena pertimbangan manusiawi atau hanya karena kecocokan dengan selera pribadi lebih mengadaptasi mentalitas yang sedang berlaku umum dari pada menegur saudara dan saudarinya untuk menentang cara berpikir dan bertindak yang bertentangan dengan kebenaran dan yang tidak mengikuti jalan kebaikan.

Teguran secara kristiani, dari pihaknya, tidak pernah dimotivasi oleh semangat menuduh atau menyalahkan. Selalulah dia digerakkan oleh cinta dan belas-kasih dan memancar keluar dari perhatian yang tulus bagi kebaikan orang lain. Seperti dikataan oleh Rasul Paulus: "Kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan" (Gal. 6:1). Dalam dunia yang dilanda dengan individualisme seperti ini, adalah sangat mendasar untuk menemukan kembali pentingnya menegur secara persaudaraan, agar supaya kita, bersama-sama dapat menempuh jalan menuju ke kesucian. Kitab Suci sendiri menyebutkan, bahwa bahkan sampai "tujuh kali orang benar jatuh" (Ams. 24:16); memang kita semua ini lemah dan tidak sempurna (lih. 1Yoh. 1:8). Oleh karena itu, sungguh merupakan suatu pelayanan yang besar membantu orang lain dan membiarkan mereka memnatu kita, sehingga kita dapat terbuka terhadap seluruh kebenran tentang diri kta sendiri, meningkatkan hidup kita dan berjalan dengan lebih tegak di jalan Tuhan. Pastilah akan senantiasa dibutuhkan adanya suatu pandangan yang mengasihi dan mengingatkan, yang memahami dan mengerti, yang penuh keprihatinan dan pengampunan (bdk. Luk. 22:61), sebagaimana Allah sendiri telah bertindak dan akan senantiasa bertindak sedemikian dengan masing-masing kita semua.

2. "Saling memperhatikan": anugerah sikap timbal-balik (resiprositas).
"Menjaga" orang lain seperti ini sungguh sangat bertentangan dengan mentalitas yang, dengan menurunkan nilai hidup secara terbatas hanya sampai pada dimensi duniawi saja, gagal untuk bisa melihatnya dalam perspektif eskatalogis dan bisa menerima pilihan moril manapun dengan mengatas-namakan kebebasan pribadi. Suatu masyarakat, seperti masyarakat kita ini, dapat menjadi buta terhadap penderitaan jasmani dan terhadap tuntutan-tuntutan yang besifat spiritual dan moral dari hidup itu. Yang seperti ini tidak boleh terjadi dalam suatu komunitas kristiani! Rasul Paulus mendorong kita untuk mengejar "apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun" (Rom. 14:19), demi kesejahteraan sesama kita "untuk membangunnya" (15"2), sambil mengupayakan, bukan keuntungan pribadi, melainkan "berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, supaya mereka beroleh selamat" (1Kor 10:33). Saling menegur dan mendorong seperti ini di dalam semangat kerendahan hati dan kasih, haruslah menjadi bagian dari hidup Komunitas Kristiani.
Murid-murid Tuhan, diperstukan dengan Dia melalui Ekaristi, hidup dalam persekutuan yang mengikat mereka satu sama lain sebagai anggota dari tubuh yang satu dan sama. Ini berarti bahwa orang lain adalah juga bagian dari saya, dan bahwa hidupnya, keselamatannya juga menyangkut hidup dan keselamatan saya sendiri. Di sini kita menyentuh suatu aspek yang mendalam dari persekutuan: keberadaan kita berkaitan dengan keberadaan orang lain, yang bisa membawa kebaikan, tetapi juga keburukan. Baik dosa-dosa kita maupun perbuatan-perbuatan kasih kita memiliki dimensi sosial. Saling keterikatan ini dapat dilihat di dalam Gereja, tubuh mistik Kristus: Komunitas ini senantiasa melakukan pertobatan dan mohon pengampunan bagi dosa anggota-anggotanya, tetapi juga secara jitu bersukacita di dalam contoh-contoh keutamaan dan kasih yang ada di tengah-tengahnya. Seperti dikatakan oleh Santo Paulus: "Supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan" (1Kor. 12:25), karena kita semua membentuk satu tubuh.

Perbuatan kasih terhadap saudara dan saudari kita, „Ÿseperti terungkap misalnya dalam memberi sedekah, suatu praktek yang bersama dengan doa dan puasa, mencirikhaskan masa Prapaskah„Ÿ berakar dalam hal persekutuan bersama ini. Umat kristiani dapat juga mengungkapkan keanggotaan mereka di dalam satu tubuh yang adalah Gereja itu dengan menaruh perhatian secara konkrit kepada yang termiskin dari yang mskin. Begitu juga halnya, perhatian satu sama lain ini berarti juga pengakuan terhadap kebaikan yang diperbuat oleh Tuhan kepada sesama kita itu dan juga merupakan ucapan syukur atas mukjijat-mukjijat rakhmat yang di dalam kebaikan-Nya tetap dikerjakan oleh Allah yang Mahakuasa itu di dalam diri anak-anak-Nya. Apabila seorang kristiani melihat Roh Kudus berkarya di dalam diri orang-orang lain, mereka tidak dapat bertindak lain kecuali bersukacita dan memuliakan Bapa yang di surga itu (bdk. Mat. 5:16).

3. ‘Supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik": berjalan bersama dalam kekudusan.
Kata-kata dari Surat kepada Orang Ibrani ini (10:24) mendorong kita untuk ber-refleksi tentang panggilan kepada semua orang untuk kekudusan, yakni perjalanan yang terus-menerus dari kehidupan rohani, sementara kita mengharapkan anugerah-anugerah rohani yang lebih besar dan pada kasih yang senantiasa lebih luhur dan menghasilkan buah (bdk. 1Kor. 12:31 - 13:13). Sikap memperhatikan satu sama lain ini seharusnya memacu kita untuk semakin lama semakin mengefektifkan kasih, yang "seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari" (Ams. 4:18), membuat kita menghayati setiap hari dalam hidup kita ini sebagai antisipasi dari hari keabadian yang sedang menantikan kita di dalam Allah.
Waktu yang diberikan Allah kepada kita dalam hidup ini sungguh berharga untuk menentukan dan melaksanakan perbuatan baik dalam kasih Allah. Dengan cara demikian Gereja sendiri senantiasa berkembang menuju ke kedewasaan Kristus secara penuh (bdk. Ef. 4:13). Nasehat-nasehat yang kita berikan untuk saling mendorong satu sama lain untuk mendapatkan kepenuhan kasih dan perbuatan baik itu ditempatkan di dalam dinamika perkembangan ke masa depan.

Sayangnya, selalu saja ada godaan untuk menjadi suam-suam kuku, untuk memadamkan Roh, untuk menolak menanamkan sebagai modal talenta yang kita terima, bagi kebaikan kita sendiri dan bagi kebaikan orang lain (bdk. Mat. 25:25ss.). Kita semua telah menerima kekayaan rohani dan jasmani yang dimaksudkan untuk dipergunakan bagi pemenuhan rencana Allah, bagi kebaikan Gereja dan bagi keselamatan kita sendiri secara pribadi (bdk Luk. 12:21b.; 1Tim. 6:18). Para pakar kehidupan rohani mengingatkan kita, bahwa di dalam kehidupan beriman, mereka yang tidak mengalami kemajuan, secara tak terelakkan sama dengan mengalami kemunduran.
Saudara-saudari terkasih, marilah kita terima ajakan, hari ini adalah hari yang paling tepat tiada duanya, untuk mencapai "standard yang tinggi dari hidup kristiani yang biasa itu" (Novo Millennio Ineunte, 31). Kebijaksanaan Gereja dalam mengakui dan memaklumkan orang-orang Kristiani tertentu yang menonjol sebagai Beato dan Santo juga dimaksudkan untuk memberi ilham kepada orang-orang lain untuk meneladan keutamaan-keutamaan mereka. Kepada kita Santo Paulus menasehatkan "untuk saling mendahului dalam memberi hormat" (Rom, 12:10).

Dalam dunia yang menuntut dari orang-orang Krisrtiani sebuah kesaksian yang terbarui akan kasih dan kesetiaan kepada Tuhan, kiranya kita semua ini merasakan mendesaknya kebutuhan untuk saling mendahului dalam amal-kasih, pelayanan dan perbuatan baik (bdk. Ibr. 6:10), Tuntutan ini secara khusus sungguh mendesak dalam masa kudus untuk mempersiapkan Paskah ini. Sambil mempersembahkan dalam doa harapan saya agar masa Prapaskah ini menjadi masa yang terberkati dan berbuah limpah, saya menyerahkan kalian semua dalam pengantaraan Bunda Maria tetap Perawan dan dengan tulus hati saya berikan kepada kalian semua Berkat Apostolik saya.
Dari Vatikan, 3 November 2011

Benediktus XVI, Paus

Membuka Kado Natal

Renungan
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Malam Natal yang berbeda. Aku bersama dengan Frater Rafael, Frater Rusdy, dan empat kawanku dengan antusias melangkah menuju sebuah tempat yang sederhana. Perjalanan dua jam tidak terasa melelahkan karena sejarah iman akan terukir di sana. Malam Natal pertama kalinya dirayakan di sana. Perayaan Natal dilaksanakan di bawah tenda yang di pasang di sebuah jalan yang tak rata. Kelahiran Yesus di kandang bukan sekedar kenangan, tetapi sungguh terwujud dalam kesederhanaan. Kesederhaan membuat pembaharuan kaulku dan Frater Rusdy, yaitu kaul kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan di malam natal menjadi lebih bermakna.

Ketiga kaul itu ternyata terwujud dalam kehidupan seorang ibu yang membawa anaknya yang menderita down syndrome (Kekurangan mental) ikut Misa malam. Ibu itu hidup dalam kemurnian hati, kemiskinan, dan ketaatan kepada Tuhan sehingga mengandalkan Dia dalam segala hal. Ibu itu memeluk anaknya yang berumur dua puluh tujuh tahun, tanpa malu sedikitpun. Anaknya itu merupakan hasil permohonannya kepada Tuhan selama lima tahun. Ia sempat tersentak dengan kelahiran anak satu-satunya yang menderita kekurangan mental. Anaknya yang kekurangan mental itu tentu memerlukan banyak biaya dibandingkan dengan anak-anak yang normal. Suaminya hanyalah seorang buruh pabrik dan ia sendiri bekerja sebagai tukang cuci pakaian para pekerja yang kost di sekitar rumahnya. Menurut ukuran manusia, ia tidak mungkin menghidupi anaknya itu. Ia tiba-tiba merasakan ada sebuah tangan yang membimbingnya untuk berdoa : “Tuhan, Engkau menitipkan anak-Mu ini kepadaku. Engkau pasti memenuhi kebutuhannya dengan cara-Mu sendiri. Aku taat kepada perintah-Mu”. Sejak kelahiran anaknya yang cacat itu, gaji suaminya naik seratus persen dan hasil dari cucian mencapai tiga kali lipat. Ia pun memasukkan anaknya ke asrama di sekolah luar biasa agar ia mampu mandiri dalam mengurus dirinya sendiri. Satu bulan sebelum natal, ia mengambil anaknya itu dari asrama karena ia akan mengurusnya sendiri. Setelah satu minggu anaknya hadir di dalam keluarganya, suaminya mengalami PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) karena perusahaan tempatnya bekerja baru saja bangkrut. Ia tidak menganggapnya sebagai sebuah kutukan, tetapi Tuhan menghendaki suaminya saat ini mempunyai waktu untuk anaknya yang memerlukan perhatian khusus. Tak terduga anaknya yang cacat itu memberikan kejutan yang tak pernah akan terlupakan pada pagi hari menjelang malam natal. Ia memberikan kepadanya sebuah tas kecil yang dibuatnya sendiri dari kardus bekas tempat nasi bungkus sebagai hadiah natal dengan tulisan cakar ayam : “Bu, aku cinta padamu”. Hatinya begitu trenyuh sehingga ia tak mampu membendung deraian air matanya : “Tuhan, terimakasih karena Engkau telah memberikan kepadaku seorang anak yang sangat mencintai aku. Engkau lahir sebagai bayi yang diletakkan dalam sebuah palungan yang merupakan lambang dari kekurangan. Engkaupun datang ke dunia dan tinggal dalam diri anakku yang cacat ini. Di dalam kekurangannya, anakku mampu menjadi terang dengan mengasihi secara sempurna”.
Ibu tersebut telah menemukan Tuhan Yesus dalam diri anaknya yang kekurangan dalam mental dan menyembah-Nya dengan mengasihinya sebagai persembahan bagi-Nya seperti tiga orang majus yang membawa emas, dupa, dan mur. Emas melambangkan Yesus sebagai Raja, dupa menunjuk pada matabat ilahi-Nya, dan mur menghubungkan pada wafat-Nya nanti. Tuhan Yesus senantisasa menampakkan diri, tetapi banyak anak Tuhan tidak mampu melihat bintang/bimbingan Tuhan karena disilaukan dengan berbagai kesenangan daging sehingga tidak ada ruangan bagi Mesias. Pembenaran diri bisa menjadi balok yang menutup hati terhadap kehadiran Sang Ilahi. Karena alasan Ekonomi, maka kerja tanpa mengenal waktu sehingga lupa anak dan istri. Katanya lelah melayani sana-sini sehingga memancing berhari-hari sebagai sarana untuk mengurangi beban hati, padahal banyak orang mati tanpa minyak suci. Lapangkan hati sehingga bimbingan Tuhan untuk menemukan Sang Mesias semakin terang. Ketika tanda kehadiran Tuhan mulai tampak, jangan banyak berdiskusi atau mengkritik, tetapi bergegaslah berlari menuju Gua yang sunyi sebagai lambang orang yang membutuhkan kasih. Mari, membuka kado natal, yaitu Yesus sendiri yang hadir dalam orang-orang yang memerlukan kasih. Yesus datang tidak untuk dikasihani, tetapi ingin memberkati. “Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu. Jejakmu mengeluarkan lemak” (Mazmur 65:12). Tuhan memberkati.

Natal dan Ekaristi

Renungan berdasarkan bacaan misa pagi Hari Raya Natal
oleh Pastor Tony Blikon, SS.CC

Bacaan Misa Pagi
Yes 52:7-10 Ibrani 1:1-6 Yoh 1:1-18

Saudara dan saudariku
Setelah menjalani masa persiapan selama 4 minggu dengan berbagai bacam kesibukan: pendalaman iman advent, latihan koor, rapat-rapat panitia natal, pada akhirnya kita kini merayakan natal di gereja paroki kita.

Hari-hari ini kalau kita jalan ke mall, banyak toko menawarkan discount. Kalau kita nonton TV, juga pasti menyajikan acara-acara natal. Semuanya itu mencoba untuk memberikan kegembiraan natal kepada kita. Atau saya yakin bahwa ada dari antara kalian yang siang tadi mungkin makan bersama keluarga untuk merayakan kegembiraan natal. Semua itu baik! Saya harap bahwa semua kalian mengalami kebahagiaan pada natal kali ini. Tetapi ada suatu kebahagiaan yang jauh lebih dalam yang hendaknya kita rasakan juga pada natal kali ini. Apa itu? Bahwa Allah mencintai kita dengan cara yang sangat khusus dan Ia juga menghendaki agar kita membalas kasih-Nya itu dengan cara yang khusus pula. Cinta Allah yang khusus dan istimewa itu nampak dalam pengutusan Sabda-Nya ke bumi untuk tinggal bersama dengan kita. Sabda Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.

Saudara dan saudariku.
Berdasarkan bacaan Injil hari ini saya coba membangun homili ini dengan tema Natal dan Ekaristi. Dalam konteks perayaan Ekaristi saya membayangkan begini: Saat ini – mulai dari awal ekaristi sampai dengan liturgy sabda - kita seakan berada bersama Maria dan Yosep di dalam gereja ini dan beberapa saat lagi yaitu dalam komuni kudus nanti, Yesus Putera Allah akan datang kepada kita. Ia lahir kembali bagi kita.

Kalau dulu Yesus Putera Allah datang kepada kita melalui seorang wanita Yahudi. Bapa pengasuhnya adalah seorang tukang kayu. Ia lahir di dalam kandang Bethlehen dan para gembala serta kambing domba adalah saksi dari peristiwa agung itu. Dalam bayi mungil Bethlehem, Allah datang dengan cara yang tersembunyi di dalam malam yang sepi di pada Ephrata. Tetapi hari ini di dalam ekaristi, jauh di dalam lubuk hati dan jiwa kita, Yesus datang sekali lagi kepada kita, tersamar dalam rupa roti dan anggur.

Saudara dan saudariku
Cara Allah mendatangi manusia selalu terselubung oleh misteri. Kalau dulu, Allah mendatangi umat manusia – terselubung dalam misteri penjelmaan Putera-Nya yang lahir dalam kandang Bethlehem, dan saat ini sekali lagi dalam cara yang tersembunyi Allah ingin memberikan dirinya kepada kita – terselubung dalam rupa roti dan anggur. Dan sudah selama 2000 tahun lebih Allah terus mendatangi kita dengan cara seperti ini. Dalam setiap perayaan ekaristi, Allah berulangkali datang kepada kita dengan cara yang sederhana. O…betapa menakjubkan misteri yang akan kita rayakan nanti.

Saudara dan saudariku
Kedatangan Yesus telah mengubah segalanya. Kedatangan Yesus mengubah hidup manusia menjadi hidup ilahi. Allah menyatakan diri dan cinta-Nya di dalam kemanusiaan kita. Dalam ekaristi nanti, dalam roti dan anggur yang telah disucikan oleh Roh Kudus – dalam apa yang kelihatan, Allah kembali masuk ke dalam kita ciptaan-Nya.

Sebelum kelahiran dan kematian Yesus, kehidupan manusia ini adalah suatu kehampaan. Yang ada hanyalah kegelapan akibat dosa. Dalam Injil tadi dikatakan: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunai tidak mengenal-Nya” Bagi Yohanes, kata ‘dunia’ mengacu pada tempat beradanya kekuatan-kekuatan gelap yang melawan kehadiran Ilahi. Ke tempat seperti inilah terang ilahi tadi bersinar dan terangnya tak dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan gelap.

Namun berkat kelahiran dan kematian Yesus, hidup manusia mendapat jaminan keselamatan kekal. Sebelum kelahiran Yesus, orang melihat Allah sebagai Dia yang jauh dan menggetarkan tetapi sekarang setelah kelahiran Yesus, Allah menjadi dekat dan menjadi bagian dari diri kita. Inilah suatu kabar sukacita yang pantas kita renungkan selalu.

Saudara dan saudariku
Hal menarik lainnya yang patut kita renungkan pada peristiwa ini adalah dengan kedatangan Yesus, kekudusan bukanlah menjadi sebuah ide yang jauh, menggetarkan dan sekaligus menakutkan tetapi kekudusan itu kini berada di dalam hati kita. Allah memberkati kita dengan daya ilahi-Nya. Nah…tugas kita adalah menjaga agar keilahian itu tidak dinodai. Tugas kita adalah terus membersihkan diri dari noda dosa supaya jati diri kita yang sebenarnya itu dapat terungkap dengan jelas. Jati diri sebagaimana Allah lihat di dalam diri kita, jati diri dalam mana Allah memanggil kita secara pribadi dengan nama kita sendiri. Dan hal ini tidak bisa kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri melainkan kita harus bekerja sama dengan rahmat Allah.

Saudara dan saudariku
Pada bagian awal tadi saya mengatakan: Allah telah mencintai kita dengan cara yang unik dan khusus serta mengharapkan agar kita pun membalas cinta-Nya dengan cara yang khusus pula. Pilihan ini – entah kita mau membalas kasih Allah itu atau tidak - mempunyai konsekuensi. Konsekuensi ini bukan hanya untuk hidup sekarang ini, tetapi berdampak pada kehidupan yang kekal. Allah telah menawarkan diri-Nya dan sekarang kita harus menanggapi pemberian diri Allah ini. Semuanya itu tergantung pada kualitas tanggapan kita terhadap rahmat Allah yang kita lakukan dari hari ke hari.



Saudara dan saudariku.
Setiap kita ini penting dan berharga bagi Allah. Sebelum anda dan saya lahir ke dalam dunia ini, masing-masing kita telah ada di dalam pikiran Allah. Firman Allah dalam Yer 1:5 “ Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau kelaur dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau….” – Firman Allah ini berlaku bagi setiap kita.

Menurut ilmu kedokteran, setiap orang punya DNA yang berbeda dengan orang lain. Berarti setiap orang itu unik. Tidak pernah seseorang mempunyai DNA yang sama dengan nenek moyangnya atau siapa pun. Berarti bahwa anda dan saya itu unik.

Karena Anda itu unik maka Allah pun ingin dicintai oleh anda secara pribadi. Hanya Anda yang dapat mencintai Allah sebagaimana dirimu sendiri. Anda penting dan berharga di hadapan Allah. Anda adalah obyek cinta Allah yang unik dan special. Allah menciptakan anda untuk dicintai sebagaimana adanya dirimu. Sebelum kita kita dilahirkan, kita telah dicintai oleh Allah dan sekarang pun kita tetap dicintai oleh Allah.

Inti perayaan natal adalah: Allah mengutus Yesus Kristus Putera-Nya yang terlahir dari perawan Maria untuk mencintaimu yang juga terlahir dari seorang ibu. Kelahiranmu menjadi sangat penting karena kelahiran Yesus. Maka ketika Anda melihat gambar atau patung Maria yang mengendong bayi Yesus, haruslah mengingatkan anda akan ibumu yang telah melahirkan dan mengendong kita. Ada pesan Allah yang ingin disampaikan tentang siapakan anda sebenarnya melalui gambar atau patung itu.

Santo Yohanes dalam Injilnya berbicara tentang Sabda Allah yang telah menjadi daging – menjadi manusia sama seperti anda dan saya. Lebih lanjut ia mengatakan: “segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” – artinya bahwa anda dan saya menjadi manusia – menjadi daging karena Sabda Allah. Lebih lanjut Yohanes pun berbicara tentang manusia yang menolak dan menerima Sabda Allah yang menjadi manusia itu. Yohanes mengatakan: “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keingnan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.”

Saudara dan saudariku.
Dari kutipan Injil hari ini, hendaknya kita renungkan bahwa Anda dan saya terlahir ke dalam dunia ini karena cinta Allah. Anda dan saya hidup di dunia ini karena keputusan dan kehendak Allah. Dan setelah kita lahir, Allah malahan memberikan kita hidup Ilahi Putera-Nya. Dan dalam ekaristi nanti, Allah sekali lagi ingin memberikan hidup dan daya Ilahi Puteranya kepada kita. Inilah kebahagiaan natal yang jauh lebih besar daripada penawaran discount natal yang diberikan diberbagai pusat perbelajaan. Dan ini harus mendatangkan sukacita bagi kita.

Saudara dan saudariku
Setiap perayaan ekaristi adalah sebuah natal yang lain. Setiap Ekaristi merupakan suatu kesempatan bagi kita untuk menjadi seperti para gembala yang mendengar nyanyian para malaikat. Setiap ekaristi merupakan kesempatan bagi kita untuk menjadi seperti para majus…. Setiap kita dipanggil untuk mengikuti jejak mereka untuk menemukan bunda Maria dan Yesus Puteranya – yang dikandung oleh kuasa Roh Kudus. Setiap ekaristi adalah saat di mana kita datang untuk menerima hadiah terbesar dari Allah. Hadiah itu adalah Yesus Kristus. Dialah Allah sekaligus manusia seperti kita.

Saudara dan saudariku
Nanti dalam komuni kudus, Yesus Putera Allah sekali lagi datang memasuki hidup kita. Jangan katakan bahwa anda tidak punya apa-apa yang dapat anda berikan kepada-Nya, jangan katakan bahwa anda tidak berarti karena hidupmu bergelimangan dosa. Betapa panjang dan lebarnya kasih Allah itu. Ia datang kepadamu untuk mencari balasan cintamu kepada-Nya.

Saya hanya membayangkan Yesus menyapa setiap kita yang ada di sini seperti ini:
AKU mencintaimu sebagaimana adanya engkau. Setiap kali kau gagal dalam hidup ini, gagal hidup menurut perintah-Ku, mengapa kau lalu mengira bahwa AKU kurang mencintaimu?
AKU mencintaimu sebagaimana adanya engkau…dengan segala kelebihan dan kekuranganmu.

Aku mengenal kerapuhanmu….pergumulanmu…kekurangan dan kelebihanmu. Sekalipun demikian AKU tetap mencintai engkau. Karena itu, CINTAILAH AKU SEBAGAIMANA ADANYA ENGKAU. Demikianlah AKU menghendakimu. Jangan engkau minder dan takut karena merasa tidak pantas. Kalau engkau menunggu sampai engkau merasa sempurna lalu berusaha mencintai AKU, maka engkau tidak akan pernah mencintai AKU. Sekali lagi Kuminta: CINTAILAH AKU SEBAGAIMANA ADANYA ENGKAU.


Saudara dan saudariku
Tidak ada hadiah terbesar yang dapat anda berikan kepada Allah yang hadir dalam diri bayi mungil Bethlehem selain balasan cintamu kepada-Nya.

Kutipan lagu natal:

O come let us adore Him (3X)
Christ the Lord.


Datanglah dan sembahlah Dia. Nanti sesudah misa kita bisa berdoa di depan kadang natal ini, mungkin hanya dengan terus mengulangi doa seperti ini: Yesus, aku mencintaimu. Tambahkanlah cintaku kepada-Mu. Amin.

Juruselamat telah lahir bagi kita

Renungan Malam Natal_2011
by Tonny Blikon, SS.CC

”Bangsa yang berjalan dalam telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.”

Saudara dan saudarku…
Natal berarti merayakan anugerah Allah. Anugerah apa itu? Yakni Yesus Kristus, Juruselamat kita. Dialah anugerah allah. Dia telah menyerahkan diri-Nya untuk membebaskan kita dari segala kejahatan. Bukan itu saja. Yesus datang untuk membentuk kita menjadi satu umat, satu persaudaraan di dalam Dia. Dia datang menyelamatkan umat manusia.

Lantas, apa artinya anugerah ini bagi kita yang percaya? Berarti anugerah Allah yang kita rayakan pada malam hari ini harus mendidik kita untuk hidup bijaksana, adil, dan peduli terhadap dunia ini.

Tema natal kali ini adalah: “Bangsa yang berjalan dalam kegelapan, telah melihat terang yang besar” – kegelapan yang dimaksudkan adalah kegelapan nurani, yang mengakibatkan kerusakan masyarakat dan dunia. Dalam hal ini, kerusakan bumi adalah salah satu tanda dari kegelapan bangsa itu.

Bumi sudah rusak. Karena kegelapan nurani manusia. Perintah kepada manusia untuk ‘menguasai’ alam dirafsirkan berlebihan, karena lupa untuk menjada dan memeliharanya. Hutan rusak, sungai kotor, bumi yang panas dan lubang ozon yang bolong mengancam manusia sendiri, adalah contoh dari tanda-tanda kegelapan itu.

Ketidakpedulian pada lingkungan adalah dosa ekologis. Karena itu, sangat bisa dimengerti kalau kedatangan Yesus kecil pun membawa terang untuk memperbaiki sikap manusia juga terhadap alam ini. Dengan kata lain, Yesus pun mengajak untuk melakukan pertobatan ekologis, melalui kepedulian kecil yang kita lakukan terhadap alam pula. Yesus datang bukan hanya untuk kebaikan umat manusia, melainkan juga alam seluruhnya, yang nota-bene adalah ciptaan Bapa-Nya. Dulu, semua diciptakan ‘baik adanya,’ tetapi, sekarang ini dunia sudah tidak seindah warna aslinya. Kita diajak untuk kembali menciptakan kebaikan alam itu.

Saudara dan saudariku
Kalau kita lihat, kandang natal tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kandang ini sangat sederhana terbuat dari sampah. Kelahiran Yesus di tengah bumi yang penuh dengan sampah ini merupakan kesadaran ekosistem dari Allah.

Dengan kata lain, Yesus pun mengajak untuk melakukan pertobatan ekologis, melalui kepedulian kecil yang kita lakukan terhadap alam pula. Yesus datang bukan hanya untuk kebaikan umat manusia, melainkan juga alam seluruhnya, yang nota-bene adalah ciptaan Bapa-Nya. Dulu, semua diciptakan ‘baik adanya,’ tetapi, sekarang ini dunia sudah tidak seindah warna aslinya. Kita diajak untuk kembali menciptakan kebaikan alam itu.

Saudara dan saudariku
Saya teringat akan sebuah puisi yang ditulis ketika masih di seminari menengah, pada menjelang suatu perayaan Natal:

TITIPAN DI HARI NATAL

Gerimis panjang menghalau kemarau
Tunas-tunas tumbuh di bulan Desember
Bersama kedamaian awal musim yang merayapi bumi
Ingin kutitipkan: Salam Damai Natal untukmu

Sepi berbunga di bumi
Alam berpesta
Langit mengubah pujian
Atas nama keadilan Tuhan
Malam-malam gerimis pun memberkah
Melipur bumi yang dahaga

Damai bertahta di hati insani
Atas nama kasih sayang
Menyibak keraguan di pucuk kemarau yang lelah
Mengertilah bumi....
Allah itu kasih
Istana sejuta pengertian

Niatkan lagi sulur rindumu ke langit
Alirkan sungai iman
Tinggalkan kemarau musim kemarin
Alpahkan tunas-tunas yang kandas menjenguk langit
Lepaskan rindu yang meranggas patah

Ulurkanlah hatimu sahabat
Nyanyikan kembali kidung penyerahan
Tuangkan harapan
Untuk satu kelahiran baru
Karena Ia telah datang
Menabur hujan berkah
Untukmu yang tengadah rindu
Di bumi pengharapan.


Nah, hari-hari ini, ketika merenungkan teman natal dan anjuran Bapak uskup tahun ini tentang membangun kesadaran ekosistem, saya teringat kembali coretan itu. Saya coba membaca lagi dan bertanya dalam hati: masih relevankah kalimat-kalimat itu? Misalnya kalimat awal dari puisi tadi:

Gerimis panjang menghalau kemarau
Tunas-tunas tumbuh di bulan Desember
Bersama kedamaian awal musim yang merayapi bumi
Ingin kutitipkan: Salam Damai Natal untukmu
Sepi berbunga di bumi
Alam berpesta....


Kalau sekarang, mungkin kalimat itu harus berbunyi:
“Gerimis panjang mendatangkan kekuatiran
sebab banjir bakal terjadi di mana-mana.
Orang-orang Jakarta kuatir jika datang musim hujan.
Tidak ada lagi kedamaian
Saat ini, alam pun menangis karena kekeringan.


Saudara dan saudariku
Perayaan natal hendaknya memberikan kepada kita kesadaran baru akan kasih Allah. Kesadaran ini mencapai suatu tingkatanan yang sangat tinggi dalam diri Santo Paulus sebagaimana ia tulis dalam Rm 8:31-37 :

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”

Kasih Allah itu sudah nyata dalam diri Tuhan kita Yesus Kristu yang menyerahkan diri-Nya untuk menyelamatkan semua manusia dan segenap ciptaan ini.

Pertanyaannya: percayakah anda sungguh-sungguh akan kasih Allah ini? Jika kita sungguh percaya, maka kita harus menyerahkan diri bagi sesama dan terdorong untuk meninggalkan keinginan-keinginan duniawi kita. Jika kita sungguh percaya, maka kita harus meninggalkan manusia lama kita dan mulai hidup secara baru. Cara hidup baru bisa kita mulai dengan hal yang kecil misalnya menghargai alam. Taruhlah sampah, jadikan berkah.

Nah, selamat Natal. Tuhan sungguh mencintai Anda, maka mari kita tebarkan juga cinta ini pada sesama dan dunia sekitar kita, termasuk hewan, tanaman, udara, air, tanah, dan, juga sampah! Mereka layak mendapatkan limpahan rahmat penebusan melalui tangan-tangan kita!

Homili Minggu Advent IV-tahun B 2011

Oleh Pastor Tony Blikon, SS.CC

Bacaan
2Sam. 7:1-5, 8b-12, 14a, 16;
Rom. 16:25-27;
Luk. 1:26-38

Renungan:

Saudara dan saudariku
Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk berrefleksi mengenai kepenuhan janji keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Bahwa melalui Yesus Allah akan mendirikan Kerajaan-Nya yang akan bertahan sampai pada akhir zaman.

Mulai dari bacaan I yang diambil dari kitab 2 Sam, kita mendengar kisah tentang Daud yang menjadi raja atas bangsa Israel. Allah telah mengarunikan keamanan kepadanya terhadap semua musuh di sekelilingnya.

Karena itu, sebagai tanda baktinya kepada Allah, Daud ingin melakukan sesuatu bagi Allah. Dia mendatangi nabi Nathan dan mengungkapkan maksud baiknya: “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu arah, padahal tabut Allah diam di bawah tenda” – dulu boleh jadi umat tinggal di tenda tetapi sekarang kan mereka sudah punya rumah, masa sih tabut Allah tetap tinggal di tenda? Karena itu saya mau bangun sesuatu yang lebih pantas daripada sekedar tenda.

Mendengar maksud baik raja Daud, nabi Natan berkata: “Baiklah, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab Tuhan menyertai engkau”

Tetapi nampaknya Allah punya rencana lain. Karena itu pada malam itu juga, datanglah firman Tuhan kepada Nathan untuk disampaikan kepada Daud. Intinya bahwa Allah menolak rencana baik Daud itu. Mengapa? Mendirikan rumah bagi Allah itu tidak cukup. Tetapi harus mendirikan Kerajaan Allah. Dan tidak ada yang bisa mendirikan Kerajaan Allah selain Allah sendiri.

Karena itu, dengan mempertimbangkan niat baik dan tulus dari Daud untuk menyediakan tempat yang pantas bagi Allah, maka Allah membuat sebuah janji.

Janji Allah yang panjang itu kita dengar dalam bacaan I tadi. Pada bagian akhir dari janji Allah terhadap Daud itu, Allah bersabda: “Aku akan membangkitkan keturunanmu dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Aku akan menjadi Bapanya, dan Ia akan menjadi anak-KU.

Di sini kita dapat mengatakan bahwa Allah telah berbicara mengenai Yesus karena Allah adalah Bapa bagi Yesus dan Yesus adalah Anak Allah. Aku akan menjadi Bapanya, dan Ia akan menjadi anak-KU.

Melalui Yesuslah keluarga dan kerajaan Daud itu akan untuk selama-lamanya dan tahta kerajaan Daud akan kokoh selama-lamanya.

Dari bacaan pertama tadi, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pada peristiwa inkarnasi, Allah memenuhi janji-Nya kepada Daud: “Kerajaan dan keluargamu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, tahtamu akan kokoh untuk selama-lamanya”

Dalam bacaan II, kita mendengar rasul Paulus berkata: “Allah mampu menguatkan kita di dalam Roh kebenaran.” Kebenaran apa? Bahwa apa yang telah menjadi rahasia berabad-abad lamanya, dan yang telah diramalkan oleh para nabi kini telah dinyatakan kepada kita orang yang percaya bahwa Yesus adalah Hikmat Allah. Hikmat dan Kebijaksanaan Allah itu telah menjadi daging sama seperti kita supaya dia dapat mengajar kita untuk taat kepada Allah. Oleh Yesus Kristus, segala kemuliaan sampai selama-lamanya.

Dengan kata lain, rasul Paulus mau mengatakan bahwa kita harus mendengarkan, patuh dan setia kepada sabda Yesus, karena hanya melalui Dialah kita dapat mencapai keselamatan kekal.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bacaan Injil hari ini memberikan jawaban.

Allah mengutus malaikat Gabriel ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunganang densang seorang bernama Yosep dari keluarga Daud. Nama perawan itu Maria.

Mengapa Lukas menyebutkan dengan lengkap bahwa malaikat Gabriel datang kepada "seorang perawan yang bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf dari keluarga Daud. Nama perawan itu Maria." ? Lukas merasa perlu merasa perlu menampilkan profil Maria sebagai tunangan Yusuf, orang keturunan Daud. Dengan demikian menjadi jelas bahwa berkat kedua orang inilah, Yesus nantinya menjadi keturunan Daud dan dengan demikian berhak mendapat kepenuhan janji Tuhan kepada nenek moyang dahulu. Hal ini akan ditegaskan kembali dalam silsilah Yesus (Luk 3:23-38). Dengan menyebut Maria dalam kedudukan ini, Lukas ingin mengajak pembaca melihat bahwa Gabriel memang diutus mendatangi seorang yang memungkinkan Yesus nanti lahir dalam garis keturunan Daud. Ini yang pokok. Sehingga kita tidak bisa mengatakan: “Oh…Allah memilih maria itu kan hanya kebetulan. Allah bisa memilih siapa saya wanita di dunia ini?”

Ketika Malaikat masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang penuh rahmat, Tuhan menyertai engkau.”

Coba bayangkan kalau seorang malaikat dan menampakan diri kepada anda dan mengatakan hal yang sama. Mungkin kita anda dan saya akan kaget dan berkata: ‘apa-apaan ini? Sebagai manusia, tetapi bebas dari segala noda dosa, Bunda Maria juga kaget, tetapi ia bertanya dalam hatinya: ‘Apakah artinya salam itu?

Dan Malaikat menjawab: “Jangan takut Maria sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapa Allah.” – kalimat ‘beroleh kasih karunia di hadapan Allah’ berarti rahmat Allah menyertai engkau atau Allah telah memilih engkau’

Lanjut malaikat Gabriel: ”Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang putera dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. ia akan menajadi besar dan akan disebut Putera Allah yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya tahta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Secara manusiawi, orang akan berpikir bahwa Yesus putera Maria ini tidak akan mati sehingga dia dapat menjadi raja sampai pada keabadian.

Tetapi bagi orang Yahudi, sabda Tuhan dalam bacaan I tadi tidak dimengerti bahwa Allah akan mendirikan suatu kerjaan duniawi, tetapi lebih sebagai sebuah kerajaan surgawi.

“Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” Tanya Maria. Dan malaikat menjawab: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu putera yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Putera Allah.”

Suatu tanda diberikan Allah supaya Maria percaya akan peristiwa itu adalah Elisabeth pun sedang mengandung seorang anak pada hari tuanya.

Akhirnya Maria pun menjawab: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” – Maria sebagai seorang gadis Yahudi yang saleh sangat akrab dengan kitab suci. Dia tahu betul akan semua hal besar yang telah dikerjakan Allah bagi bangsanya: membebaskan mereka dari perbudakan Mesir, membimbing mereka melewati laut merah, mengantar mereka masuk ke tanah terjanji, dll
Setelah itu Malaikat itu meninggalkan Maria.

Saudara dan saudariku.
Bacaan-bacaan mewahyukan kepada kita bahwa Kerajaan Allah yang didirikan oleh Yesus, tidak akan berakhir.

Minggu depan kita akan merayakan Natal, - pesta kelahiran Yesus – sang Messias yang dijanjikan. Dialah yang akan mengokohkan kerajaan Daud sampai selama-lamanya – kerajaan bukan dalam arti duniawi tetapi kerajaan rohani.

Ketika nanti kita melanjutkan ekaristi ini, hendaklah kita tetap ingat bahwa Yesus Kristus ada bersama kita saat ini, sedang membangun kerajaaan rohani yang anggotanya adalah kita. Semoga kita tetap ingat dan sadar bahwa dengan mengambil bagian dalam ekaristi ini, kita ternyata sedang mengambil bagian dalam perjamuan surgawi yang tak dapat kita lihat dengan kasat mata.

Kesulitan, 'teman' Perjalananku

Refleksi Pastoral
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Cahaya mentari minggu pagi itu sangat cerah. Cerahnya cahaya pagi itu memulihkan kembali tenagaku setelah melakukan banyak pelayanan sehari sebelumnya, seperti memberkati pernikahan seorang satpam gereja, memberkati sebuah warung makan, merayakan Misa di Gereja, dan dilanjutkan Misa Requem untuk umat paroki yang meninggal dunia dan sekaligus mendoakan tiga jenasah lain yang disemayamkan di Rumah Duka Oasis Lestari. Tiba-tiba terasa ada kekuatan baru yang membuatku bersemangat untuk memberikan rekoleksi bagi delapan puluh suami dan istri dari Lingkungan Santa Angela IV, Paroki St. Agustinus – Karawaci di Rumah Retret Cannosian. Rekoleksi bertemakan “Keluarga, Pekerjaan, dan Pelayanan” menambah sukacita sehingga senyuman bahagia terlukis di bibir mereka. Senyuman yang terlontar karena adanya semangat baru untuk berhasil dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Keberhasilan sebagai hasil dari kasih yang memberi dan berkorban. Segala sesuatu pun disyukurinya sebagai anugerah Tuhan.

Sebelum makan siang, aku duduk di luar di samping meja makan sambil meminum secangkir kopi. Tiba-tiba seorang bapak dengan air mata berderai berkata : “Romo, aku akan mensharingkan pengalaman imanku”. Setelah menikah, bapak itu memohon kepada Tuhan agar menganugerahi anak. Tuhan menggembirakan keluarganya dengan kehadiran seorang bayi laki-laki yang sehat dan tampan. Setelah dua bulan kelahirannya, ia terkejut dengan datangnya kabar buruk yang menimpa bayinya. Jantung bayinya itu bocor sejak lahir. Ia mengusahakan kesembuhan bayinya walaupun belum bisa dilaksanakan tindakan operasi jantungnya. Ia sampai sempat mengalami trauma. Ia takut bertemu dengan dokter. Ia takut mendengar bahwa jantung bayinya lebih parah atau ada penyakit-penyakit lain mungkin akan ditemukan. Mujikzat Tuhan diimaninya. Anaknya itu kini berusia lima tahun. Ia bertumbuh sangat sehat dan tidak menampakkan ada kebocoran di jantungnya. Doanya kini : “Tuhan berikanlah kekuatan kepadaku untuk mengalahkan kekuatiran”. Kekuatirannya mulai lenyap dan imannya semakin berkualitas : “Tuhan, Engkau adalah Pemilik kehidupan atas anak tunggalku. Hidup anakku dalam pemeliharan-Mu”. Sekarang ia siap membawa anaknya ke dokter untuk mendapatkan tindakan operasi jantungnya. Hidupnya sekarang bahagia dalam iman karena ia yakin bahwa mujikzat Tuhan pasti terjadi bagi anaknya dan nama-Nya akan semakin dimuliakan melalui anaknya, dirinya, dan istrinya. Yang jelas ia semakin menghargai kehidupan.

Hidup merupakan anugerah Tuhan yang terindah, lebih indah daripada permata. Jalan kehidupan harus dihargai. Penghargaan terhadap hidup mendatangkan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak berarti terbebaskan dari kesulitan seperti penyakit, tetapi menghayatinya sebagai jalan meningkatkan mutu imannya. .Kebahagiaan didapatkan dengan menyandarkan diri kepada Tuhan. Menyandarkan diri kepada Tuhan memerlukan hati yang sederhana. Hati yang sederhana adalah hati yang tetap percaya kepada Tuhan di tengah kesulitan. Tidak ada berkat tanpa kesulitan, tidak ada kesembuhan tanpa penyakit, tak ada mukjizat tanpa musibah. Karena itu, jangan pandang kesulitan sebagai kesulitan, tetapi pandanglah kesulitan sebagai karunia yang akan mengubah kehidupan menjadi lebih mulia dan lebih sempurna! Keramik baru menjadi keramik setelah melewati proses pembakaran. Kabahagiaan hidup baru menjadi kebahagiaan setelah mengalami cambukan-cambukan. Jangan jadikan kesulitan sebagai pengganggu kehidupan, tetapi sebagai teman perjalanan sehingga hidup kita senantiasa bahagia! Ingatlah disetiap kesulitan ada rencana Tuhan yang menanti. Tetap setia kepada Tuhan akan memberikan mahkota kehidupan : “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita ! Sesungguhnya iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati dan aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2:10). Tuhan memberkati.





Pengetahuan Dasar Iman Katolik

Mengapa Bayi Dibaptis ?

Praktek pembaptisan bayi dalam Gereja Katolik dilakukan sejak abad kedua Masehi. Pada abad kedua itu pasti masih banyak saksi-saksi hidup yang melihat pembaptisan seluruh keluarga yang dilakukan oleh para rasul sebagai sebuah kebiasaan. Contoh: Lidia dibaptis bersama seluruh keluarganya oleh Paulus (Kis 16:15) dan kepala penjara bersama keluarganya memberi diri dibaptis (Kisah Para Rasul 16:33). Ketika ada bayi dalam keluarga, bayi itu tentu dibaptis bersama orangtuanya.

Para orang tua kini berkewajiban agar mengusahakan bayi-bayi mereka dipermandikan sesegera mungkin setelah kelahirannya. Orang tua selalu ingin memberikan yang terbaik dalam segala hal, termasuk iman, kepada anak-anaknya. Orang tua harus mewariskan imannya yang dipercayai sebagai yang paling benar dan sebagai jalan keselamatan kepada mereka. Tugas orang tua dan dibantu oleh wali permandian adalah terus menerus mengajar iman kepada anak-anak mereka, baik dengan perkataan dan teladan, sehingga iman warisan orangtua itu pada akhirnya menjadi milik mereka sendiri. Bayi pun bisa menerima rahmat keselamatan tanpa harus melakukan apapun sebagai sebuah syarat. Tuhan memberkati. (Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC).

Tugu Iman

Refleksi Pastoral
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC


Ruangan duka Oasis Lestari dipenuhi dengan umat siang itu, tetapi suasananya begitu hening, tanpa satu katapun terdengar. Hampir semua wajah tertunduk dengan mata memerah karena dilanda kesedihan dan sekaligus keharuan. Seorang bapak yang tidur didalam peti jenasah berbicara banyak tentang ‘kasih dan pengabdian’ ketika ia sudah menghadap Bapa daripada pada waktu ia masih berjiarah di dunia fana. Peti jenasahnya menarik banyak orang untuk tenggelam dalam kenangan yang indah akan kebaikan hidupnya seperti pesannya selagi ia masih hidup agar abunya nanti harap disimpan supaya menjadi tugu iman bagi yang mengenalnya. Tugu iman yang didirikan dengan kedermawanannya terhadap anak-anak terlantar. Ia menghadap Bapa setelah melakukan penggalangan dana untuk pembangunan Gereja Santa Maria Imakulata, Paroki Trinitas, Cengkareng di Gereja Hati Maria Tak Bernoda Tangerang. Ia meninggal dunia dengan masih memakai baju seragam PPG (Panitia Pembangunan Gereja Tuhan) kebanggaannya.

Surga merupakan kerinduan jiwanya. Kerinduan jiwanya itu terungkap dengan kelopak matanya terbuka setelah dua bulan tertutup ketika mendengarkan lagu ‘Jiwaku Terbuka untukMu Tuhan’ dan ketika aku memberikan sebuah rosario kepadanya. Aku yakin jiwanya layak menikmati Gereja Abadi, yaitu surga yang telah dirintisnya di dunia dengan iringan Bunda Maria tercinta. Kebahagiaan surga dilambangkan dengan kegembiraan pesta pengantin. Untuk memasuki perjamuan perkawinan, orang harus mengenakan pakaian pesta. Jenasahnya dikremasi pada tanggal 26 Oktober 2011. Kremasi melambangkan penyucian jiwanya dengan api Roh Kudus. Aku kaget ternyata tanggal 27 Oktober (satu hari setelah kremasi) merupakan ulang tahun (anniversary) perkawinannya yang ke 22 tahun. Setelah disucikan oleh Roh Kudus dengan api cinta Tuhan, ia kini berpesta di surga. Karena itu, amanatnya terhadap istrinya agar tidak menghantarkan jenasahnya ke krematorium supaya ia tidak larut dalam kesedihan. Ia tidak mati, tetapi hidup. Ia hidup secara baru. Kejadian-kejadian rohani yang mengiringi kepergiannya ke surga bukanlah sebuah kebetulan, tetapi karena selama hidupnya dibimbing oleh Roh : “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah kita juga dipimpin oleh Roh (Galatia 5:25). Abunya tidak bisu, tetapi menjadi pewartaan iman bagi semua yang masih berjuang untuk mendapatkan mahkota kemenangan surga. Aku dan anak-anaknya menyanyikan lagu-lagu sambil memegang peti jenasahnya sebagai ungkapan terimakasih dan kebanggaan akan dia karena telah meninggalkan warisan teladan hidup di jalan Tuhan.

Kepergiannya ke Tahta Allah membuat hidup ini menarik karena ada tujuannya. Surga merupakan tujuan hidup : “…. Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia” ( 2Kor 5:1). Semua umat yang setia kepada Tuhan ingin memilikinya. Surga merupakan kata yang indah dan menyejukkan, bukan hanya sekedar di angan-angan, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan dengan seluruh keberadaannya. Surga menjadi sumber penghiburan dan pengharapan sehingga kesulitan yang ada tidak sebanding dengan mahkota kemuliaan yang dianugerahkan bagi yang mampu melewatinya.

Jangan sia-siakan kesempatan hidup ini dengan melakukan sesuatu yang tidak berarti, tetapi kumpulkan sebanyak mungkin harta surgawi : “Buatlah pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dn yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Lukas 12:33-34). Kehidupan surgawi dapat dicapai dengan kesediaan dipimpin oleh Roh. Hidup dalam Roh adalah mengijinkan Sabda Tuhan dan segala kekayaannya diam di dalam kehidupan (Kolose 3:16). Hati dan jiwa perlahan-lahan, tetapi pasti akan sejalan dengan hati dan jiwa Kristus. Hidup di dunia pun telah memancarkan percikan kehidupan surgawi, yaitu penuh dengan ucapan syukur, puji-pujian, dan sukacita (Efesus 5:18-20). Karena itu, arahkanlah senantiasa segala segi kehidupan kepada keindahan surga sehingga hidup ini terasa bermakna dan jangan arahkan hidup ini pada kenikmatan dunia yang hanya membuatnya berantakan dan mendatangkan malapetaka baik sekarang maupun pada akhir jaman. Godaan terbesar bagi orang yang ingin menyucikan diri adalah memanipulasi pelayanan dan kegiatan rohani demi kesenangan diri seperti membangun persahabatan yang tidak asli karena bisa menyiksa dan menghancurkan diri. Maka dari itu hati-hati ! Tuhan memberkati.